IPBSDG9

  • Industri Logistik Peternakan Membutuhkan Teknologi Digital Lebih Banyak

    Menanggapi hadirnya era Revolusi Industri 4.0, Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) menggelar Konferensi Nasional yang bertemakan “Aplikasi Teknologi Digital pada Industri Logistik Peternakan 4.0” yang digelar di ICE BSD Tangerang, Rabu (18/9).

    Prof. Yandra Arkeman, narasumber pada acara tersebut, mengatakan bahwa penerapan teknologi 4.0 pada bidang peternakan sangat memungkinkan untuk dilakukan, misalnya mengenai sapi yang diberi anting untuk memudahkan penelusuran (tracking). Penerapan Elektronik ID (E-ID) yang merupakan bentuk digitalisasi peternakan akan memudahkan pembeli untuk mengetahui riwayat sapi tersebut.

    “Memang untuk saat ini penerapannya masih belum mudah, harga sapi yang memiliki anting justru murah karena dianggap merupakan sapi bantuan pemerintah. Akan tetapi ke depannya, sapi yang memiliki anting yang justru akan mahal karena riwayat pemeliharaanya jelas, dari keturunan jenis apa, diberi pakan apa dan sebagainya,” ungkap Peneliti di Blockchain, Robotics, and Artificial Intelligence Network IPB (BRAIN IPB) ini.

    Penerapan teknologi 4.0 pada peternakan unggas pun juga bisa dilakukan, misalnya mengenai teknologi menentukan jenis kelamin DOC jantan dan betina. Melalui gradasi suara tertentu misalnya, mana DOC jantan dan betina akan bisa diketahui dengan jauh lebih cepat.

    “Kecanggihan teknologi ini sangat memungkinkan diterapkan di semua bidang, hanya saja mau dilakukan apa tidak. Selain karena berbiaya tinggi, tentu butuh dukungan semua pihak baik pemerintah, akademisi, pengusaha dan juga masyarakat,” jelasnya.

    Sedangkan Audy Joinaldy, dalam paparannya mengatakan tidak dipungkiri bahwa teknologi 4.0 sangat memungkinkan diterapkan pada sektor perunggasan. Misalnya, bagaimana mengukur tingkat kematian saat distribusi DOC dari pabrik penetasan (hatchery) hingga menuju ke kandang budi daya.

    “Sejauh ini hanya berdasarkan perkiraan saja, memang sudah seharusnya ada teknologi digital yang mampu mendeteksi penyebab kematian itu karena apa. Hal ini merupakan tantangan bersama untuk mewujudkannya” jelas Chairman of Perkasa Group yang juga merupakan Ketua Umum Himpunan Alumni Fakultas Peternakan (poultryindonesia.com)

  • Optimalisasi Kapal Ternak pada Sistem Logistik Peternakan

    Kapal ternak menjadi salah satu fasilitas logistik peternakan terus diupayakan optimalisasinya melalui perbaikan fisik maupun layanan. Kapal ini dibangun dengan landasan pemikiran untuk menyediakan angkutan ternak antar pulau yang nyaban bagi ternak, sehingga penyusutan bobot badan selama perjalan dapat ditekan. Peluncuran pertama dilakukan pada Desember 2015 dengan nama kapal Camara Nusantara 1, dilanjutkan dengan peluncuran Camara Nusantara 2.  

    Pada Tahun 2018, generasi terbaru dari kapal ternak yang dibangun oleh pemerintah Indonesia ini diperkenalkan dengan nama Camara Nusantara 3. Sementara itu, PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) memegang kendali penuh dalam pengoperasian kapal. Menurut rencana, kapal ternak akan ditambah sehingga total menjadi 6 unit. Namun, sepertinya masih ada beberapa hal yang harus diteliti mengenai bagaimana transportasi ternak menggunakan kapal Camara Nusantara ini berdampak pada ternak itu sendiri.

    Penelitian dilakukan oleh ALIN (Animal Logistics Indonesia Netherlands), proyek logistik peternakan yang digagas pertama kali tahun 2015 oleh Insitut Pertanian Bogor (IPB) bekerja sama dengan Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI), Animal Logistics Indonesia Netherlands (ALIN), Netherlands Universities Foundation for International Cooporation, Maastricht School of Management (MSM), dan AERES Groep, serta Universitas Wageningen, Belanda.

    Hasil akhir penelitian itu dilaporkan pada Kamis (4/7) di Swiss-Bell Hotel, Bogor, Jawa Barat. acara ini dihadiri oleh 97 peserta, yang merupakan mahasishwa pasca sarjana Minat Logistik Peternakan IPB, Kementrian Pertanian RI, serta Kementrian Perhubungan RI. Hadir pula Rektor IPB, Arif Satria, Meinhard Gans (Direktur proyek ALIN dari konsorsium Belanda), Huub Mudde (perwakilan MSM), dan Luki Abdullah selaku Direktur proyek ALIN, Fakultas Peternakan IPB dan Pemimpin FLPI. Ada beberapa hal yang diteliti, yakni mengenai traceability, live animal transportation, feed logistic, animal products, dan human resources yang seluruhnya dilakukan diatas kapal Camara Nusantara.

    Pada seminar ini, salah satu peneliti yaitu Galuh Mutdaman Toharmat menyampaikan beberapa perbedaan antara kapal ternak milik Austalia dengan kapal ternak milik Indonesia. Perbedaan yang paling mencolok adalah dari segi kapasitas, jika kapal ternak Australia mampu mengangkut 2.000 hingga 16.000 ekor ternak, kapal ternak Indonesia hanya mampu mengangkut 500 ekor saja.

    Luki Abdullah, mengungkapkan bahwa pihaknya sudah melayangkan rekomendasi kepada pemerintah agar kondisi fisik kapal Camara Nusantara dibenahi. “Saya ingin mengucapkan terimakasih kepada teman-teman dari Kementrian Perhubungan (Kemenhub) yang selama ini sangat kooperatif dan memberikan informasi-informasi teknis,” tambahnya.

    Sementara itu, Arif Satria berharap bahwa teknologi dapat diserap sebaik mungkin dan nantinya bisa berguna. “Saya mengaharapkan bahwa setelah seminar ini usai, peserta yang hadir di ruangan ini dapat menerapkan tekonologi baru yang telah kita miliki saat ini,” kata dia (trobos.com).


Lihat Semua Berita >>

Pemira Dekan Fakultas Peternakan IPB 2020-2025

Protocol Kesehatan Covid-19 saat WFO Fapet IPB

Tips & Kegiatan Selama WFH