IPBSDGS12

  • Manajemen Pergudangan dalam Sistem Logistik Pakan

    Dalam sistem logistik pakan, salah satu faktor penting yang harus diperhatikan adalah penyimpanan dan pergudangan. Hal tersebut bertujuan untuk menjaga karakteristik, baik fisik maupun kimia, yang dimiliki bahan pakan selama waktu penyimpanan setelah proses pemanenan dan pengeringan. Hal itu disampaikan oleh Pengajar Fakultas Peternakan IPB Dr. Heri Ahmad Sukria dalam sebuah pelatihan tentang manajemen logistik pakan yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI) di Kampus IPB Darmaga, pada 26-27 Maret 2019.

    Perhatikan pula faktor-faktor penyebab terjadinya kehilangan kualitas dan kuantitas Bahan selama penyimpanan seperti jamur (fungi), serangga (insects), rodent (rat and mice), respirasi dan migrasi uap air (moisture migration). Beberapa hal yang mempengaruhi pertumbuhan jamur yakni Kadar air, temperatur bahan baku pakan, kondisi biji-bijian yang disimpan, material asing dalam bahan baku, serta keberadaan mikroorganisme lain dalam bahan baku seperti serangga dan kutu. Untuk menghindari tumbuhnya jamur, maka suhu optimum dalam gudang sebaiknya berkisar 25-30 derajat celcius dengan kelembaban RH : 65% - 93%. Pengendalian jamur, tambah Heri dapat dilakukan dengan secara kimia ataupun fisik. Cara kimia dapat dilakukan dengan menggunakan asam propionate dan asam asetat, sedangkan cara fisik selain mengontrol suhu dan kelembaban, juga dapat dilakukan dengan melepas gas tertentu ke dalam gudang.

    Dalam mengoperasikan penyimpanan pada sistem pergudangan, beberapa prinsip berikut ini perlu dijadikan pegangan demi tercapainya sistem pergudangan yang efisien. Prinsip-prinsip itu yakni menjaga dan menjalankan prinsip first in first out (FIFO), tumpukan barang disususn dengan aman, membuat layout (plan layout) barang untuk akses dan menemukan barang, pencatatan semua perpindahan barang, kehilangan (losses) pada form yang sesuai dan benar, pengarsipan segera semua dokumen dan catatan (record), melakukan perencanaan: barang/staf/transport yang dibutuhkan, menjaga keamanan barang, menjaga kebersihan gudang (harian/mingguan/bulanan), membuang segera barang yang rusak, selalu berkomunikasi secara efektif dengan pihak terkait, serta melakukan cek persedian (inventory) barang secara regular. (agropustaka.com)

     

  • Tantangan Industri Olahan Susu di Era 4.0

    Salah satu industri olahan hasil ternak, yakni industri persusuan nasional telah mengalami perubahan nyata baik dalam hal populasi maupun produksinya dalam 7 tahun terakhir. Menurut catatan Dewan Persusuan Nasional, produksi susu segar pada 2012 berjumlah 700 ton dengan produktifitas rata-rata 3300 liter per masa laktasi. Adapun pada kondisi di 2020, diprediksi produksinya mencapai 3000 ribu ton, dengan tingkat produktifitas mencapai 4500 liter per masa laktasi.

    Terdapat empat peluang utama pengembangan produk susu. Peluang itu yakni, "dapat dikonsumsi semua kelompok usia, sejak bayi sampai manula. Produk susu juga bisa merupakan produk pangan umum maupun untuk kebutuhan khusus," kata Guru Besar Fakultas Peternakan IPB Prof Dr. Irma Isnafia Arief dalam Workshop Penerapan Teknologi 4.0 pada Rantai Pasok Industri Olahan Hasil Ternak di Kantor Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor pada 2 Mei 2019 lalu. Acara diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI), dan diikuti oleh para praktisi, akademisi dan pemerhati bidang logistik produk olahan hasil ternak dari berbagai daerah.

    Peluang lain, jelas Irma yakni susu bisa menjadi produk utama maupun produk tambahan dalam sebuah produk makanan dan minuman. Aneka macam produk olahan susu terus berkembang dengan berbagai variasi jenis olahan susu, baik berbentuk minuman dan makanan dengan susu. Produk susu juga terus berkembang dengan aneka inovasi produk turunannya, mulai dari susu cair, susu bubuk, susu skim, whey, krim (lemak susu), keju, yogurt, kasein, kalsium.

    Berbagai peluang dan tantangan produk olahan susu tersebut harus ditopang dengan kesiapan industri domestik dalam memasuki era industri 4.0. Tidak hanya peralatan serta sarana dan prasarana yang harus dipersiapkan, namun juga sumber daya manusianya pun senantiasa ditingkatkan ketrampilannya sehingga tidak gagap dalam menapaki revolusi industri 4.0.

  • Bakteri asam laktat (BAL) sebagai bahan alami untuk meningkatkan nilai tambah produk hasil ternak Indonesia

    Potensi pertumbuhan industri pengolahan susu mencapai 7% per tahun sementara prospek pertumbuhan industri daging mencapai 10% pada 2020. Pertumbuhan ini jauh lebih tinggi dari tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia sehingga industri susu dan daging berpeluang besar untuk menciptakan lebih banyak lapangan kerja (Asosiasi Industri Pengolah Susu)

    Nilai tambah yang lainnya adalah potensi untuk mengembangkan produk hasil ternak lokal yang lebih aman dan menyehatkan dibanding produk-produk hasil ternak impor. Potensi ini dilandaskan pada hasil riset ilmiah yang telah dilakukan oleh Prof. Irma yang sejak 2008 telah meneliti bakteri asam laktat (BAL) dan bahan alami untuk meningkatkan nilai tambah produk hasil ternak Indonesia.

    Penggunaan bakteri asam laktat saat ini tengah menjadi tren di Indonesia. Apabila kita mengunjungi minimarket dan supermarket terdekat, akan banyak ditemukan produk susu dan olahan susu, salah satunya adalah yogurt baik hasil produksi dalam negeri maupun produk impor.

    Yogurt adalah produk probiotik yang mengandung mikroorganisme hidup yang bila dikonsumsi dalam jumlah yang cukup akan bermanfaat bagi kesehatan manusia. Mikroorganisme ini adalah bakteri asam laktat (BAL).

    Daging adalah produk pangan hewani yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber isolasi bakteri asam laktat ini. Dari tahun 2008-2010, para peneliti Indonesia berhasil mengidentifikasi dan mengisolasi 20 bakteri asam laktat dari daging sapi lokal Indonesia, dari bangsa peranakan ongole.

    Namun tidak semua bakteri asam laktat yang berhasil diisolasi memiliki sifat probiotik, yang bermanfaat bagi kesehatan. Dalam penelitiannya Prof. Irma berhasil mengidentifikasi dan mengisolasi 10 bakteri asam laktat dari 20 bakteri asam laktat dalam hasil ternak lokal Indonesia yang memiliki karakteristik ini.

    Karakteristik probiotik dalam penelitian sebelumnya digambarkan dengan kemampuannya untuk mencegah diare yang salah satunya disebabkan oleh infeksi bakteri Escherichia coli, atau biasa disingkat E. coli, salah satu jenis spesies utama bakteri gram negatif atau bakteri jahat yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

    Pencemaran E. coli ini marak terjadi di Indonesia. Informasi dari Kementerian Kesehatan menyebutkan, gejala penyakit ini berupa sakit perut seperti kram dan diare yang pada sebagian kasus bahkan dapat mengeluarkan diare berdarah (haemorrhagic colitis). Juga dapat timbul demam dan muntah.

  • FLPI GELAR PELATIHAN MANAJEMEN LOGISTIK PAKAN

    Forum Logistik dan Peternakan Indonesia (FLPI) bekerjasama dengan PT Charoen Pokphand Indonesia, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI) menyelenggarakan pelatihan Manajemen Logistik Pakan, yang didukung Direktorat Pakan, Kementerian Pertanian.

    Pelatihan diselenggarakan di Ruang Sidang Fakultas Peternakan IPB Dramaga Bogor, 26-27 Maret 2019. Kegiatan dihadiri Ketua FLPI Prof Luki Abdullah, Ketua AINI Prof Nahrowi Ramli dan Wakil Dekan Bidang Sumberdaya, Kerjasama dan Pengembangan Fakultas Peternakan IPB Dr Rudi Afnan.

    Rudi Afnan, dalam sambutannya memberi apresiasi FLPI yang terus mengedukasi insan peternakan. Kali ini FLPI menyasar insan peternakan soal pakan unggas. “Kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan untuk berbagi informasi,” katanya.

    Pelatihan menghadirkan tiga narasumber, yakni Kasubdit Bahan Pakan Direktorat Pakan Diner YE Saragih, perwakilan PT Charoen Pokphand Indonesia Istiadi dan dari Laboratorium Industri Pakan, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan IPB Dr Heri Ahmad Sukria.

    Pelatihan diikuti oleh peternak, praktisi dan akademisi terkait pakan ternak, khususnya ternak unggas. Diakhir kegiatan, panitia mengajak peserta mengunjungi PT Charoen Pokphand Indonesia, di Balaraja, Tenggerang, Banten. Kunjungan bertujuan untuk memberi informasi nyata kepada peserta mengenai manajemen logistik pakan, penyimpanan dan pergudangannya. (majalahinfovet.com)

  • Meminimalkan Risiko Turunnya Kualitas Produk Pakan

    Manajemen logistik yang sembarangan bisa mengakibatkan buruknya kualitas pakan yang diterima peternak. Turunnya kualitas pakan yang diproduksi dapat terjadi misalnya karena adanya kontaminasi mikrobia merugikan seperti kontaminasi salmonella, escericia colli, clostridia, listeria dan camphylobacter yang bisa berefek pada kejadian penyakit pada manusia (food borne disease) yang mengonsumsi daging atau telur ayam yang pakannya terkontaminasi mikroba merugikan tersebut.

    Untuk meminimalkan risiko itu, General Manager PT Charoen Pokphand Indonesia Istiadi dalam sebuah pelatihan tentang manajemen logistik pakan yang diselenggarakan di Kampus IPB Darmaga Bogor menjelaskan ada beberapa hal yang harus diantisipasi dalam hal manajemen logistik pakan ini. Acara diselienggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI) di Kampus IPB Darmaga, pada 26-27 Maret 2019.

    Beberapa upaya yang disarankan Istiadi antara lain kemasan pakan yang dipakai harus higienis, selalu menjaga kebersihan truk atau sarana transportasi pakan yang lain, penerapan biosekuriti yang ketat antar lokasi produksi dan pergudangan pakan, senantiasa menjaga higiene dan sanitasi gudang, serta penerapan prinsip first in first out (FIFO) pakan. Pakan yang dikeluarkan atau dikirim ke konsumen adalah yang paling awal masuk gudang, bukan malahan sebaliknya. Selain menjaga agar tidak terjadi banyak risiko kontaminasi mikrobia merugikan, penerapan FIFO juga dimaksudkan untuk menjaga kesegaran produk pakan yang diterima konsumen.

    Sumber-sumber risiko munculnya kontaminasi harus dapat diidentifikasi sehingga dapat diminimalkan kemunculannya. Hal ini disebabkan sumber-sumber kontaminasi bisa berasal dari mana saja, seperti dari bahan baku pakan itu sendiri, gudang yang tidak bersih, atau sumber daya manusia yang menangani bahan baku yang tidak menjaga higiene dan sanitasi.

    Proses distribusi bahan baku pakan ke pabrik atau dalam proses produksi pakan juga dapat terjadi kontaminasi mikrobia berbahaya, yang berasal dari debu yang bertebangan, tikus, serangga, burung-burung liar ataupun hewan peliharaan seperti anjing dan kucing. (livestockreview.com)

  • Menilai Kualitas Daging

    Penilaian mutu fisik daging dilakukan pada karkas setelah mengalami proses chilling selama 24 – 48 jam. Penilaian dilakukan dengan seksama pada irisan melintang rusuk ke 12 (musculus longissimmus dorsi) dari setiap karkas bagian kanan.

    Menurut penjelasan Dr Hennny Nuraini dari Departemen Ilmu Produksi & Teknologi Peternakan Fakultas Peternakan IPB dalam sebuah pelatihan tentang penanganan daging yang berkualitas, karkas yang diperiksa tidak boleh ditemukan adanya penyimpangan kualitas daging yang telah distandarkan.

    Pelatihan tersebut diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) di Kampus IPB Darmaga tersebut dilaksanakan di Bogor pada 29-30 April 2019 lalu, dan dilanjutkan dengan kunjungan dan demo praktek pengolahan daging yang sehat dan berkualitas di toko daging di kawasan Kalimalang, Jakarta.

    Lebih jauh Henny menjelaskan, dalam hal penilaian warna daging dapat dilakukan dengan melihat warna permukaan otot mata rusuk dengan bantuan cahaya senter dan mencocokannya dengan standar warna. Nilai skor warna ditentukan berdasarkan skor standar warna yang paling sesuai dengan warna daging. “Standar warna daging terdiri atas 9 skor mulai dari warna merah muda hingga merah tua,” katanya.

    Adapun untuk penilaian warna lemak dapat dilakukan dengan melihat warna lemak subkutis dengan bantuan cahaya senter, dan mencocokkannya dengan standar warna lemak. Nilai skor warna ditentukan berdasarkan skor standar warna yang paling sesuai dengan warna lemak. “Standar warna lemak mulai dari warna putih hingga kuning,” jelas Henny.

    Sedangkan untuk penilaian marbling atau lemak intramusculer, dilakukan dengan melihat intensitas marbling pada permukaan otot mata rusuk dengan bantuan cahaya senter dan mencocokannya dengan standar nilai marbling. Nilai skor marbling ditentukan berdasarkan skor standar marbling yang paling sesuai dengan intensitas marbling otot mata rusuk. “Standar marbling terdiri mulai dari yang praktis tidak ada marbling, hingga yang banyak marbling,” kata Henny.(livestockreview.com)

  • Menjaga Higiene dan Sanitasi Daging

    Untuk menjaga keamanan pangan produk daging, maka program persyaratan dasar keamanan pangan harus selalu diterapkan. Program tersebut dijabarkan dalam Standard Operating Procedures (SOP) atau Prosedur Operasional Baku (POB). Program persyaratan dasar keamanan pangan tersebut pada prinsipnya yakni praktik-praktik dan kondisi yang diperlukan sebelum dan selama pelaksanaan jaminan keamanan pangan yang sangat esensial untuk produksi pangan yang aman.

    Menurut Pengajar FKH IPB Dr Denny W Lukman dalam sebuah pelatihan tentang penanganan daging yang berkualitas, program persyaratan dasar tersebut bersifat wajib dan secara konsisten dijalankan sebelum penerapan sistem jaminan keamanan pangan di unit usaha produksi pangan. Acara yang dilangsungkan di Bogor pada 29 April 2019 tersebut diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) di Kampus IPB Darmaga, dan dilanjutkan dengan kunjungan dan demo praktek pengolahan daging yang sehat dan berkualitas di toko daging di kawasan Kalimalang, Jakarta.

    Lebih lanjut Denny memaparkan, dalam sebuah rantai pangan, setiap tahapan dalam rantai mesti menerapkan good practices atau praktik yang baik dalam rangka penjaminan keamanan pangan dalam sistem rantai pangan. Secara umum, "Good Practices adalah aktivitas jaminan mutu yang menjamin produk pangan dan proses pengolahannya konsisten dan terkendali," tandas Denny.(kulinologi.co.id)

  • Pelatihan “Manajemen dan Sistem Penjaminan Mutu RPH Unggas serta Kunjungan ke RPH Unggas PT Ciomas Adisatwa"

    Bogor(18/11), Fakultas Peternakan IPB bekerjasama dengan FLPI menyelenggarakan Pelatihan "Manajemen dan Sistem Penjaminan Mutu RPH Unggas serta Kunjungan ke RPH Unggas PT Ciomas Adisatwa (JAPFA)". Kegiatan berlangsung selama dua hari , mulai tanggal 17-18 Januari 2019.

    Pelatihan hari pertama pada tanggal 17 Januari 2019 dilaksanakan di ruang sidang Fakultas Peternakan IPB. Kegiatan diawali dengan materi "Manajemen RPH Unggas yang Berdayasaing" yang disampaikan oleh Dr.Ir. Niken Ulupi, M.Si ,dosen Departemen Iptp Fapet Ipb. Materi kedua mengenai "Sanitasi Higiene dan Sertifikasi NKV" yang disampaikan oleh drh.Ira Firgorita selaku Kepala Subdit Higiene Sanitasi dan Penerapan, Kesmavet Ditjen PKH. Materi ketiga tentang "Teknik Pemotongan Halal dan Sertifikasi Halal" disampaikan oleh drh.Supratikno,MPaVET dari Halal Science Center IPB. Materi keempat mengenai " Rantai Dingin di RPHU" disampaikan oleh Ir.Hasanuddin Yasni, MM selaku ketua Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI).

    Kegiatan pelatihan kedua pada tanggal 18 Januari 2019 berupa kunjungan ke RPH Unggas PT Ciomas Adisatwa (JAPFA). Peserta pelatihan dibagi dua kelompok secara bergantian untuk memperoleh materi di kelas dan melihat secara langsung praktek terkait manajemen dan sistem penjaminan mutu RPH Unggas di PT Ciomas Adisatwa, Parung-Bogor. Materi didalam ruang kelas disampaikan oleh Galih Gumilar,ST selaku Quality Control Head di RPHU tersebut.

    Kegiatan pelatihan diikuti oleh 14 peserta yang penuh antusias dan semangat. Mereka berasal dari kalangan bisnis ( PT.Cibadak Indah Sari Farm, PT Intan Sinar Abadi, RPA Nusantara, PT Sucofindo), akademisi (STIE Pelita Bangsa), pemerintah (Dinas Peternakan Provinsi NTT, LPPOM MUI Kota Bogor) dan perseorangan. Kegiatan ini terselenggara atas dukungan dan kerjasama yang baik dengan PT Ciomas Adisatwa (JAPFA)-Parung dan media partner antara lain Majalah Poultry Indonesia, Livestockreview.com dan Agropustaka. (flpi-alin.net)

  • Pelatihan Logistik Rantai Dingin pada Produk Daging dan Kunjungan ke Cold Storage

    FLPI bersama Fapet IPB dan Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI) menyelenggarakan Pelatihan Logistik Rantai Dingin pada Produk Daging dan Kunjungan ke Cold Storage. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari pada tanggal 21 -22 Februari 2019.

    Kegiatan hari pertama pada kamis 21 Februari 2019 dilaksanakan di Ruang Sidang Fakultas Peternakan IPB, Kampus Darmaga IPB.Pelatihan dibuka oleh Bapak Dr.Rudi Afnan, SPt, MScAgr selaku Wakil Dekan Fakultas Peternakan IPB. "Pelatihan ini bertujuan untuk membangun kapasitas SDM yang terkait dengan penerapan rantai dingin pada produk daging sapi dan unggas yang diharapkan memberikan edukasi terhadap multistakeholder", jelas Rudi.

    Materi pelatihan diselenggarakan mulai jam 08.30 hingga 15.30 yang terdiri dari empat sesi materi yang masing-masing sesi dilanjutkan dengan diskusi. Pada sesi pertama tentang logistik dan manajemen rantai pasok daging sapi. Materi ini di sampaikan oleh Ibu Prof.Dr.Irma Isnafia Arief, SPt,MSi selaku Ketua Departemen IPTP,Fakultas Peternakan IPB. Sesi kedua tentang logistik dan manajemen rantai pasok daging unggas. Materi ini disampaikan oleh Bapak Sudarno selaku Head Logistics di PT Sierad Produce Indonesia, Tbk. Sesi ketiga tentang Logistik Rantai Dingin Produk Daging di Indonesia baik raw material maupun finished goods nya. Materi ini disampaikan oleh Ibu Irene Natasha selaku General Manager PT Adib Logistics Indonesia menggantikan suami beliau, Bapak Jimmi Krismiadhi yang berhalangan hadir. Sesi keempat tentang logistik halal pada rantai dingin. Materi ini disampaikan oleh Bapak Raden Didiet Rachmat Hidayat, MSi.

    Kegiatan pada hari kedua berupa kunjungan beserta diskusi di PT Adib Cold Logistics Indonesia di Narogong-Bekasi yang merupakan anggota ARPI. Kegiatan kunjungan dibuka oleh Bapak Eki Kurniawan selaku Managing Director PT Adib Logistics Indonesia yang saat ini telah melaksanakan joint ventures menjadi bagian dari keluarga PT Samudera Indonesia dan JWD.

    Kegiatan pelatihan diikuti secara antusias oleh 25 peserta yang berasal dari multistakeholder (akademisi, bisnis, pemerintah dan komunitas) dari berbagai wilayah Indonesia. Kegiatan ini berlangsung lancar juga atas dukungan kerjasama dengan majalah Infovet, Food Review Indonesia dan Agropustaka.id selaku media partner. (flpi-alin.net)

  • Pelatihan Penanganan Daging yang Sehat dan Berkualitas

    Pelatihan Penanganan Daging yang Sehat dan Berkualitas dilaksanakan selama dua hari atas kerjasama FLPI-Fapet IPB-Chef Halal Indonesia- Toko Daging Joinhed. Kegiatan hari pertama pada tgl 29 April 2019 dilaksanakan di Ruang Sidang Fapet IPB. Kegiatan pelatihan dibuka langsung oleh Dr.Rudi Afnan, S.Pt, MSc.Agr selaku Wakil Dekan Fakultas Peternakan IPB. Sesi pertama pelatihan disampaikan oleh Dr.drh.Denny Widaya Lukman, M.Si tentang sanitasi dan higiene daging beku dan segar. Sesi kedua pelatihan disampaikan oleh Dr.Ir.Henny Nuraini, MSi tentang metode penanganan daging dan teknik klasifikasi pemotongan daging.

    Pada hari kedua pelatihan tanggal 30 April 2019 dilaksanakan kunjungan ke Toko Daging Joinhed (Kalimalang, Jakarta). Kegiatan kunjungan difasilitasi oleh tim Bapak Achmad Hadi selaku pemilik Toko Daging Joinhed. Selain kunjungan, demo cooking halal juga dilaksanakan oleh Chef Halal Indonesia di Toko Daging Joinhed. Teknik pengolahan daging dengan berbagai jenis kualitas daging disampaikan oleh Chef R.Muhammad Suherman selaku Ketua Chef Halal Indonesia.

    Pelatihan diikuti oleh sejumlah peserta multistakeholder antara lain berasal dari RPH Pegirian Surabaya, Universitas Jambi, PT Cianjur Artamakmur, PT Maradeka Karya Semesta, Toko Daging Sedulur 99 Indramayu, PPHNak Ditjen PKH Kementan, PD Dharma Jaya, UD Prima Bro dan perorangan lainnya.

    "Praktek pengolahan daging dan konsep Toko Daging Joinhed yang dipadukan dengan restoran Jepang menjadi inspirasi bagi pengembangan bisnis toko daging kami ke depan", jelas drh.Evia Kirana selaku peserta pelatihan.
    Kegiatan diikuti penuh antusias oleh para peserta. "Bagi saya, dua hari pelatihan ini sangat banyak memberikan ilmu dan pengetahuan baru yang akan saya share ke para mahasiswa", jelas Ibu Dr.Sri Ernita dosen Universitas Jambi salah satu peserta pelatihan. Kegiatan ini juga didukung media partner Majalah Poultry, livestockreview.com, Agro Pustaka

  • Perlu Upaya Ekstra untuk Memanfaatkan Limbah Pertanian sebagai Pakan Ternak

    Berdasarkan hasil penelitian Prof. Erika B Laconi, Guru Besar Tetap Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan tim, limbah pertanian dan perkebunan memiliki faktor pembatas jika dijadikan sebagai pakan ternak. Yaitu komponen lignoselulosa yang sulit dicerna dalam saluran pencernaan ruminansia dan menyebabkan produktivitas hewan rendah. Oleh karena itu, penting untuk melakukan teknik pengolahan tertentu pada limbah untuk meningkatkan kualitas nutrisi dan pada gilirannya akan berkontribusi pada peningkatan produktivitas hewan. Teknik pengolahan untuk limbah pertanian dan perkebunan sendiri terdiri dari teknik fisik, kimia dan biologi. 

    Salah satu riset mahasiswa program doktoral IPB, Sari Putri Dewi, berjudul Increasing the Quality of Agricultural and Plantation Residues Using Combination of Fiber Cracking Technology and Urea for Ruminant Feeds ini terungkap bahwa teknologi yang bernama Fiber Cracking Technology (FCT) mampu menurunkan fraksi serat dan meningkatkan kecernaan pada ternak ruminansia. 

    Menurut lulusan Terbaik Doktor pada wisuda Januari 2019 ini, penurunan fraksi serat ditunjukkan dari kerusakan ikatan lignoselulosa jelas terbukti pada metode Scanning Electron Microscopy (SEM), X-Ray Difraction (XRD) dan metode spektroskopi Fourier Transform Infrared (FTIR). 

    Sari dan tim pembimbing yang terdiri dari Dr. Anuraga  Jayanegara,  Dr. M. Ridla, Prof. Erika B Laconi ini membuat inovasi baru berupa teknologi FCT. Alat ini berguna untuk memecah serat pada bahan berserat tinggi yang biasanya terdapat dalam produk hasil ikutan pertanian dan perkebunan. Seperti jerami padi, pelepah sawit, tandan kosong sawit, kulit buah kakao, kulit kopi, jerami jagung klobot jagung, tongkol jagung, pucuk tebu dan ampas tebu. 

    “Eksperimen ini bertujuan untuk mengevaluasi efek teknologi FCT dan penambahan urea pada nilai gizi jerami padi, daun kelapa sawit, tandan kosong kelapa sawit, kakao dan sekam kopi,” ujarnya. 

    Dalam penelitian sebelumnya telah diketahui bahwa kombinasi antara suhu tinggi, tekanan tinggi dan urea telah terbukti meningkatkan nilai gizi jerami padi dan tandan kosong kelapa sawit. Urea lebih disukai daripada amonia karena aman, mudah digunakan dan mudah diperoleh. 

    “Eksperimen ini adalah kelanjutan dari studi sebelumnya untuk menjelaskan mekanisme lebih dalam mengenai peningkatan nilai gizi limbah pertanian dan perkebunan menggunakan kombinasi suhu tinggi, tekanan tinggi dan urea. Berdasarkan hasil penelitian dalam disertasi saya, saya yakin inovasi ini akan berguna bagi masyarakat bahwa hasil ikutan (by-product) pertanian dan perkebunan dapat digunakan sebagai pakan alternatif bagi ternak ruminansia,” imbuhnya. (ipb.ac.id)

  • Saatnya Terapkan Sistem Cold Chain untuk Daging Berkualitas

    Produk hewan merupakan salah satu sumber pangan yang kaya akan protein yang dibutuhkan untuk membangun masyarakat yang sehat dan cerdas. “Namun demikian, produk pangan asal hewan merupakan salah satu produk yang dikategorikan sebagai produk yang mudah rusak dan berpotensi membawa bahaya bagi kesehatan konsumen. Oleh karena itu harus diperhatikan penanganan kesehatan daging mulai dari hulu sampai ke hilir melalui rantai suplai yang cukup panjang dengan  baik, sehat dan berkualitas,” kata Wakil Dekan Bidang Sumberdaya, Kerjasama dan Pengembangan, Fakultas Peternakan  Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Rudy Afnan.

    Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) bekerjasama dengan Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan  Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI) mengadakan pelatihan dengan tema "Logistik Rantai Dingin pada Daging  dan  Kunjungan ke Cold Storage”, Kamis-Jum’at (21-22/2) di Kampus IPB Dramaga, Bogor.

    Lebih lanjut Dr. Rudy menyampaikan, tujuan kegiatan ini adalah sebagai bentuk edukasi dan sosialisasi dalam penanganan daging beku yang sehat dan berkualitas, sehingga diperlukan pelatihan atau sosialisasi tentang  cara dan langkah  penerapan rantai dingin pada daging beku serta prospek usahanya bagi para pemangku kepentingan yang berminat. Maka produk pangan asal hewan selain harus dipikirkan ketersediaanya, juga harus ditangani dengan baik untuk dapat menjadi bermanfaat dan terjamin sehat dan aman untuk dikonsumsi.
     
    Dr. Rudy menambahkan, kemampuan pengelolaan cold chain diperlukan untuk menghindari kerugian yang tinggi akibat kerusakan produk hasil ternak, serta untuk mempertahankan mutu produk yang semakin menjadi tuntutan dalam era globalisasi. “Salah satu sarana penyimpanan yang harus tersedia untuk menjaga mutu komoditas perishable adalah cold storage. Sistem cold chain ini juga mampu menjaga supply daging sepanjang tahun ketika angka produksi relatif stabil dan dapat diprediksi. Jika produksi berlebih, surplusnya dapat disimpan beku dan dikeluarkan saat permintaan meningkat,” kata Dr. Rudy.
     
    Harapannya dengan pelatihan ini dapat meningkatkan kemampuan pengelolaan cold chain atau rantai daging pada produk daging sehingga menghasilkan  daging beku yang sehat dan berkualitas bagi kepentingan konsemen.
     
    Sementara narasumber dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP) Fapet IPB,  Prof. Dr. Irma Isnafia Arief menjelaskan mengenai supply chain produk daging sapi. Daging bukan hanya komoditas pertanian yang punya nilai ekonomi, melainkan juga esensial bagi pemenuhan kebutuhan gizi rakyat Indonesia, terutama generasi muda bangsa. Namun, kepedulian konsumen akan kesehatan daging masih belum terbangun dengan baik dan benar. Daging sehat adalah daging yang berasal dari pola budidaya ternak yang sehat, tidak mencemari lingkungan, dan disembelih secara manusiawi.

  • Sistem Rantai Dingin di Indonesia Semakin Berkembang

    Sistem rantai dingin merupakan penerapan suhu dingin selama produksi, penyimpanan dan distribusi daging dan produk olahan dengan penyimpanan di bawah suhu 4 derajad celcius. Potensi peningkatan kebutuhan cold chain atau rantai dingin di Indonesia sangat besar.

    Mengutip laporan dari International Trading Administration (ITA), Pimpinan PT Adib Cold Logistics Indonesia Irene Natasha memaparkan terdapat potensi kebutuhan akan sistem rantai dingin di Indonesia, terutama di industri farmasi, produk pertanian, produk unggas dan daging sapi, serta bidang perikanan. 

    Hal tersebut diuraikan Irene dalam dalam sebuah pelatihan tentang manajemen rantai dingin produk daging yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) di Kampus IPB Darmaga Bogor pada 21 Februari lalu. 

    Irene menjelaskan, di industri farmasi, perputaran ekonomi di bisnis tersebut mencapai 6 milyar dollar AS pada 2015, dan penjualan produk farmasi diperkirakan mencapai 9,7 dollar AS pada 2020. Untuk pasar produk pertanian di Indonesia, pertumbuhannya diperkirakan mencapai 200 dollar AS pada 2020. Adapun unggas dan daging sapi, akan meningkat pertumbuhannya sebesar 3-5% per tahun hingga 2020, sementara konsumsinya tumbuh mencapai 4-6% per tahun. (agropustaka.id)

     

  • Terapkan Higiene dan Sanitasi dalam Pengolahan pangan Asal Hewan

    Pangan asal hewan memiliki keunggulan antara lain bernilai gizi tinggi, yakni adanya protein (asam amino esensial), lemak, vitamin, mineral dan karbohidrat. Namun di sisi lain, bahan pangan tersebut mudah busuk, rentan rusak, dan berpotensi berbahaya bagi. Untuk menekan munculnya risiko berbahaya, maka penanganan pangan asal hewan sebaiknya dilakukan dengan penerapan good hygiene practices (GHP), penerapan sistem rantai dingin cold chain system, dan penerapan jaminan keamanan pangan – yang implementasinya dapat berupa NKV, sistem Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP), atau ISO 22000:2018.

    Hal itu dijelaskan oleh Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Syamsul Maarif dalam Pelatihan Manajemen dan Sistem Penjaminan mutu Ruminansia yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) di Bogor pada 15 Juli 2019 di Kampus IPB Darmaga, Bogor. Kegiatan tersebut berlangsung dua hari, dengan acara hari ke-2 adalah kunjungan ke RPH Pramana Pangan Utama.

    Dalam proses produksi pangan asal hewan sejak dari kandang hingga ke meja makan harus selalu menjaga higiene dan sanitasi. Samsul menjelaskan, higiene pada prinsipnya merupakan seluruh tindakan untuk mencegah atau mengurangi kejadian penyakit yang merugikan kesehatan. Adapun sanitasi yakni upaya menciptakan segala sesuatu yang higienis dan kondisi yang menyehatkan. “Higiene menyangkut pangan dan personal yang menangani produk pangan asal hewan, sedangkan sanitasi menyangkut tentang lingkungan sekitar pangan,” jelas Syamsul.

    Aspek higiene dan sanitasi ini merupakan aspek penting dalam penilaian pemberian nomor kontrol veteriner (NKV). Pemberian NKV dimaksudkan sebagai upaya penjaminan pangan yang aman sehat utuh dan halal, meningkatkan daya saing produk serta perluasan pasar, dan untuk kemudahan dalam penelusuran produk pangan asal hewan. (agropustaka.id)

  • Workshop Penerapan Teknologi 4.0 rantai pasok industri olahan hasil ternak

    FLPI bekerjasama dengan Fapet IPB dan Asosiasi Industri Pengolahan Daging Indonesia (NAMPA Indonesia) melaksanakan kegiatan workshop Penerapan Teknologi 4.0 rantai pasok industri olahan  hasil ternak pada  pada Kamis, 02 Mei 2019. Kegiatan workshop dilaksanakan di Puslitbangnak, Kota Bogor. Kegiatan workshop ini bertujuan untuk menambah pengetahuan para pelaku industri olahan hasil ternak terkait pemanfaatan teknologi 4.0 dalam meningkatkan efisiensi rantai pasok industri. Selain itu juga workshop ini sebagai ajang membuka dialog untuk saling berbagi terkait peluang dan tantangan yang dihadapi dalam mengimplementasikan teknologi 4.0 di industri olahan hasil ternak.

    Kegiatan workshop dilaksanakan pada 02 Mei 2019 dibuka oleh Prof.Dr.Irma Isnafia Arief, S.Pt,M.Si selaku ketua Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB. “Sudah menjadi suatu keharusan bagi industri olahan hasil ternak dalam menerapkan 4.0 karena adanya perkembangan teknologi saat ini”, jelas Irma.

    Sesi pertama workshop disampaikan oleh Ir. Iken Retnowulan, MT selaku Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Industri Agro, Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. Materi yang disampaikan terkait kebijakan dan regulasi bagi industri olahan hasil ternak di era industri 4.0. Sesi kedua disampaikan oleh Prof.Dr.Irma Isnafia Arief, S.Pt,M.Si terkait Tren Masa Depan Rantai Pasok Industri Olahan Hasil Ternak. Sesi ketiga disampaikan oleh Prof.Dr.Ir. Yandra Arkeman, M.Eng selaku akademisi dari Fakultas Teknologi Pertanian IPB yang menyampaikan materi tentang Pemanfaatan Teknologi 4.0 (IoT, Block Chain dan Artificial Intelligence) pada Rantai Pasok Industri Olahan Hasil Ternak. Sesi keempat disampaikan oleh Ir. Kunikawati Sumadji, ME selaku Government Relations Manager PT Greenfields Indonesia yang menyampaikan materi tentang implementasi teknologi 4.0 pada rantai pasok industri olahan susu di Indonesia. Sesi kelima disampaikan oleh Haniwar Syarief selaku Direktur Eksekutif NAMPA-Indonesia terkait materi tentang peluang dan tantangan penerapan teknologi 4.0 pada rantai pasok industri olahan hasil ternak (daging) di Indonesia.

    Setelah penyampaian materi dari 5 pembicara, kegiatan workshop dilanjutkan dengan diskusi panel yang dipandu oleh moderator Dr.Tuti Suryati,S.Pt,M.Si selaku Sekretaris Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB. Workshop dihadiri sekitar 50 orang peserta yang sebagian besar peserta adalah para pelaku industri olahan hasil ternak, sejumlah birokrat pemerintah dan akademisi. Kegiatan ini juga didukung oleh media Majalah Poultry Indonesia, Livestockrevew.com dan Agropustaka.


Lihat Semua Berita >>

Pemira Dekan Fakultas Peternakan IPB 2020-2025

Protocol Kesehatan Covid-19 saat WFO Fapet IPB

Tips & Kegiatan Selama WFH