Research&Innovation

  • Bakteri asam laktat (BAL) sebagai bahan alami untuk meningkatkan nilai tambah produk hasil ternak Indonesia

    Potensi pertumbuhan industri pengolahan susu mencapai 7% per tahun sementara prospek pertumbuhan industri daging mencapai 10% pada 2020. Pertumbuhan ini jauh lebih tinggi dari tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia sehingga industri susu dan daging berpeluang besar untuk menciptakan lebih banyak lapangan kerja (Asosiasi Industri Pengolah Susu)

    Nilai tambah yang lainnya adalah potensi untuk mengembangkan produk hasil ternak lokal yang lebih aman dan menyehatkan dibanding produk-produk hasil ternak impor. Potensi ini dilandaskan pada hasil riset ilmiah yang telah dilakukan oleh Prof. Irma yang sejak 2008 telah meneliti bakteri asam laktat (BAL) dan bahan alami untuk meningkatkan nilai tambah produk hasil ternak Indonesia.

    Penggunaan bakteri asam laktat saat ini tengah menjadi tren di Indonesia. Apabila kita mengunjungi minimarket dan supermarket terdekat, akan banyak ditemukan produk susu dan olahan susu, salah satunya adalah yogurt baik hasil produksi dalam negeri maupun produk impor.

    Yogurt adalah produk probiotik yang mengandung mikroorganisme hidup yang bila dikonsumsi dalam jumlah yang cukup akan bermanfaat bagi kesehatan manusia. Mikroorganisme ini adalah bakteri asam laktat (BAL).

    Daging adalah produk pangan hewani yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber isolasi bakteri asam laktat ini. Dari tahun 2008-2010, para peneliti Indonesia berhasil mengidentifikasi dan mengisolasi 20 bakteri asam laktat dari daging sapi lokal Indonesia, dari bangsa peranakan ongole.

    Namun tidak semua bakteri asam laktat yang berhasil diisolasi memiliki sifat probiotik, yang bermanfaat bagi kesehatan. Dalam penelitiannya Prof. Irma berhasil mengidentifikasi dan mengisolasi 10 bakteri asam laktat dari 20 bakteri asam laktat dalam hasil ternak lokal Indonesia yang memiliki karakteristik ini.

    Karakteristik probiotik dalam penelitian sebelumnya digambarkan dengan kemampuannya untuk mencegah diare yang salah satunya disebabkan oleh infeksi bakteri Escherichia coli, atau biasa disingkat E. coli, salah satu jenis spesies utama bakteri gram negatif atau bakteri jahat yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

    Pencemaran E. coli ini marak terjadi di Indonesia. Informasi dari Kementerian Kesehatan menyebutkan, gejala penyakit ini berupa sakit perut seperti kram dan diare yang pada sebagian kasus bahkan dapat mengeluarkan diare berdarah (haemorrhagic colitis). Juga dapat timbul demam dan muntah.

  • Cegah Kelumpuhan Kalkun, Mahasiswa IPB University Manfaatkan Tanaman Dandelion

    Kalkun berpotensi dikembangkan sebagai alternatif sumber protein hewani. Kalkun ini memiliki kandungan kolesterol yang lebih rendah jika dibandingkan dengan daging sapi. Akan tetapi pada usia 4-6 bulan, kalkun sering mengalami kelumpuhan yang disebabkan oleh kekurangan nutrisi, penyakit dan obesitas.

    Tiga mahasiswa dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP) Fakultas Peternakan IPB University yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian (PKMPE) D-Melion ini melakukan riset dalam upaya mencegah kelumpuhan kalkun dengan pemberian dandelion. Tim yang terdiri dari Husnul Dwi Setianingsih Tadjudin, Syarifah Aini dan Maya Shofiah ini dibimbing oleh Dr. Ir. Widya Hermana. Penamaan D-Melion bermakna sumber vitamin D untuk kalkun (Meleagris gallopavo) dari tanaman dandelion (Taraxacum officinale) sebagai pakan kaya antioksidan pencegah kelumpuhan.

    Husnul menuturkan bahwa tanaman dandelion masih jarang dimanfaatkan. Tanaman dandelion ini memiliki bunga menarik dan indah serta tumbuh di daerah dingin. Tanaman ini memiliki kandungan vitamin D yang tinggi yang dapat mencegah kelumpuhan pada tulang kaki kalkun akibat obesitas.

    Dandelion tersebut diberikan dalam bentuk segar dicampur dengan pakan dedak, pakan komersil dan eceng gondok. Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa kalkun yang diberi pakan tanpa penambahan dandelion mengalami tanda-tanda kelumpuhan. Sementara kalkun yang diberi pakan dengan penambahan dandelion tidak menunjukkan tanda-tanda kelumpuhan.

    "Sampai akhir pemeliharaan, pengamatan tingkah laku menunjukkan kalkun mengalami tanda kelumpuhan pada P0 (tanpa penambahan dandelion), sementara yang diberi penambahan dandelion tidak menunjukkan tanda-tanda kelumpuhan. Tim kami sebelumnya juga telah memastikan adanya kandungan bahan vitamin dan mineral pada tanaman yang kami gunakan dalam memperbaiki kekuatan tulang pada kalkun,” tandasnya (ipb.ac.id)

  • Gagas Aplikasi Limosim, Mahasiswa IPB University Raih Juara 3 Kompetisi Nasional

    Sektor peternakan memegang peranan penting dalam perekonomian nasional. Pemeliharaan ternak yang dilakukan peternak rakyat saat ini masih bersifat tradisional dan produktivitasnya masih tergolong rendah. Salah satu komoditi hasil perternakan yang memiliki permintaan tinggi di Indonesia adalah susu. Sayangnya, produksi susu di Indonesia hanya tumbuh sebesar 2 persen sangat kecil jika dibandingkan dengan permintaan susu yaitu 14,01 persen selama periode tahun 2002-2007. Kesenjangan antara pertumbuhan konsumsi dengan produksi tersebut menyebabkan jumlah impor susu Indonesia terus meningkat. Hal tersebut disebabkan oleh kondisi manajemen budidaya yang baik dan benar belum diterapkan oleh peternak.

    Hal ini mendorong tiga mahasiswa dari Fakultas Peternakan IPB University yaitu M. Farhan, Rechsa Amberty, dan Kodarusman untuk mengagas aplikasi bernama Limosim (Livestock Monitoring System) dalam Kompetisi Esai Nasional yang bertemakan ‘Inovasi Generasi Milenial Menghadapi Tantangan Global dalam Upaya Wujudkan Indonesia Emas 2045’.

    Limosim merupakan sebuah aplikasi berbasis teknologi digital di bidang peternakan yang ditujukan sebagai media pemantauan peternakan rakyat terutama peternakan sapi perah. Limosim hadir dengan membawa konsep pemantauan yang tepat, akurat, dan efisien. Dengan adanya pemanfaatan teknologi digital sebagai alat untuk pengolahan data, diharapkan dapat menciptakan strategi manajemen perkembangan peternakan rakyat yang cepat dan real time.

    “Jadi, Aplikasi Limosim ini sebagai penghubung antara peternak rakyat sapi perah dengan pihak ahli peternakan untuk membantu dalam pengembangan usaha peternakan rakyat,” jelas Rechsa.

    Lebih lanjut Rechsa menjelaskan Aplikasi Limosim yang mereka gagas ini akan menyediakan berbagai sumberdaya informasi yang penting mengenai peternakan sapi perah sekaligus manajemen budidayanya. Dengan adanya sistem seperti itu diharapkan peternakan rakyat tidak mengalami kekurangan sumberdaya informasi yang mengakibatkan peternak menjadi rugi bahkan gulung tikar. Sumberdaya informasi tersebut dapat berupa tata cara penanganan sapi bunting, penanganan sapi yang sakit, cara membuat ransum, sumberdaya permodalan dan informasi peternakan penting lainnya.

    Agar tujuan dari aplikasi ini dapat terlaksana, tim ini telah melengkapi aplikasi Limosim dengan berbagai fitur yang akan menunjang kinerja sistem aplikasi. Fitur-fitur tersebut adalah beranda, profil, diskusi, dan monitoring. Adapun fitur utama yang menjadi fokus Limosim adalah fitur monitoring. “Fitur ini akan memfasilitasi para peternak untuk menginput data perkembangan produksi peternakan sapi perah beserta data lainnya, tujuannya agar perkembangan usaha dapat terpantau untuk memutusan suatu sistem manajemen yang tepat dan akurat,” jelas Rechsa.

    Gagasan ini berhasil menghantarkan tim yang sama-sama berasal dari Fakultas Peternakan IPB University ini meraih juara 3 dalam Kompetisi Esai National Economic Management Creative di Universitas Negeri Semarang (6/10).

    Kelompok ini berencana akan mengembangkan gagasan ini  ke dalam bentuk aplikasi sebenarnya dengan menjalin kerjasama dengan fakultas lain di IPB University. Kelompok ini juga berharap gagasan ini dapat menjadikan Indonesia swasembada susu dan mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045 (ipb.ac.id)

  • Inovasi Mahasiswa IPB University, Pelepah Sawit untuk Pakan Ternak di Musim Kemarau

    Indonesia memiliki dua musim yakni musim penghujan dan kemarau. Kedua musim ini cukup memberikan dampak bagi sejumlah sektor pekerjaan. Salah satunya sektor peternakan. Pada musim kemarau, sebagian besar peternak di Indonesia sering mengalami permasalahan terkait pemberian pakan bagi hewan ternaknya. Daerah yang mengalami permasalahan tersebut merupakan daerah yang mengalami kekeringan dan tidak memiliki tanah yang subur di sekitarnya. Guna mengatasi permasalahan tersebut, mahasiswa IPB  University menggagas solusi untuk pakan ternak.

    Mahasiswa IPB University yang terdiri dari: Ananda Putri, Enita Indah, Ika Jenri, dan Farisky Adi Nugroho membuat sebuah produk dari pelepah sawit sebagai pakan ternak. Produk pakan ini berupa olahan pelepah sawit dicampur dengan tumbuhan indigofera yang dibentuk menjadi pellet. Pakan olahan ini merupakan  Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) dengan judul “Pellet Sandiago (Pellet Pelepah Sawit dan Indigofera sp): Solusi Pakan Spesial pada Musim Kemarau” di bawah bimbingan dosen IPB, Prof. Dr. Ir. Nahrowi, M.Sc.

    “Di Indonesia masih mengalami banyak kekeringan saat musim kemarau, sehingga para peternak tidak bisa mencari rumput hijau saat musim. Maka dari itu, muncullah ide untuk membuat pakan ini dari pelepah sawit karena Indonesia memiliki banyak pohon kelapa sawit yang belum diolah dengan baik,” tutur Ananda selaku Ketua Tim Pellet Sandiago ini.

    Guna memperkaya nutrisi dari pelepah sawit, ditambahkan tumbuhan indigofera yang memiliki kandungan protein tinggi. Proses pembuatan yang dilakukan pun dimulai dengan mencacah pelepah sawit dan indigofera, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari dalam jangka waktu sekitar satu minggu untuk selanjutnya digiling menggunakan mesin. Usai digiling, pelepah sawit dan indigofera dicampurkan dengan bahan perekat dan tahap terakhir yang dilakukan adalah proses pelleting.

    “Sejauh ini, sasaran dari produk kami yakni peternak kecil maupun industri besar. Lalu, sistem penjualan kami lakukan dengan cara penjualan langsung kepada para peternak dengan harga Rp 3.000,- per kilogram,” tambah Ananda.

    Bahan utama dari produk ini yakni pelepah sawit yang digunakan karena ketersediaannya sepanjang tahun dan produksinya cukup melimpah di Indonesia. Selain itu, pelepah sawit memiliki kandungan sumber energi yang tinggi bagi hewan ternak. Dengan begitu, produk Pellet Sandiago diharapkan dapat membantu para peternak yang kesulitan mencari pakan saat musim kemarau tiba. “Selain itu, produk ini diharapkan mampu menjadi inovasi dan pakan baru di bidang peternakan untuk memenuhi kebutuhan hewan ternak,” tutup Ananda (ipb.ac.id)

  • Kurangi Bau Amis pada Itik, Mahasiswa IPB University Manfaatkan Kayu Apu

    Itik merupakan salah satu komoditas peternakan yang cukup dikenal di Indonesia. Kandungan lemak yang tinggi pada bagian bawah kulitnya menyebabkan bau amis sehingga permintaan daging itik menjadi rendah. Tiga mahasiswa IPB University yaitu Binda Octa Rosa Pramesty dan Evri Choiriyah Al Firdaus dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan serta Lelli Hapsari Romadhoni dari Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, melakukan riset untuk menurunkan kandungan lemak pada itik melalui pakan yang diberi nama water plant dietary.

    Binda selaku Ketua Kelompok menjelaskan kandungan lemak pada daging paha itik berumur delapan minggu sekitar 8.47 persen sedangkan kandungan lemak pada daging paha ayam broiler berumur enam minggu berkisar 6.54 persen. Lemak jenuh yang tinggi akan menyebabkan kandungan kolesterol juga tinggi dan menyebabkan bau amis sehingga akan mempengaruhi permintaan konsumen yang menjadi rendah. 

    Untuk itu tim riset Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian (PKMPE) 2019 ini membuat terobosan pakan untuk mengurangi kandungan lemak tersebut. "Water plant dietary merupakan ransum yang ditambahkan dengan tanaman air yaitu kayu apu. Kami menggunakan tanaman air ini dicampurkan ke pakan komersial yang sering digunakan masyarakat. Pakan komersial yang kami gunakan adalah pakan komersial BR-11,” ujarnya.

    Itik dapat mencerna makanan yang tinggi serat jika dibandingkan dengan ayam. Kayu apu merupakan tanaman air yang sering dianggap menjadi gulma dan tidak memiliki nilai ekonomis. Kayu apu memiliki kandungan serat yang cukup tinggi yang diharapkan dapat mengikat kolesterol pada daging itik. 

    "Kayu apu juga dapat berkembang biak dengan cepat dan kontinyu sehingga tidak akan mengalami kekurangan dan tidak akan bersaing dengan manusia. Yang paling penting kayu apu disukai oleh unggas air,” ungkapnya.

    Saat ini penelitian yang dibimbing oleh Dr Ir Widya Hermana M.Si ini berada pada tahap penentuan dosis penambahan kayu apu yang efektif untuk penurunan kadar lemak dan kolesterol pada daging itik. 

    "Keutamaan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan daging itik yang rendah lemak dan kolesterol namun tidak mengurangi rasa khas yang ada. Selain itu, agar tanaman kayu apu yang awal mulanya dianggap gulma perairan dan tidak memiliki nilai ekonomis dapat dimanfaatkan dengan baik,” tandasnya. (ipb.ac.id)

  • Mahasiswa IPB University Ciptakan Kandang Bebas Bau dengan Nanopartikel Perak

    Sebagian besar pemeliharaan ayam broiler di Indonesia masih menggunakan sistem kandang terbuka dan kurang memperhatikan sistem pembuangan dan pengolahan limbah kotoran. Sistem kandang terbuka pada peternakan tradisional menghasilkan bau berupa gas yang mencemari lingkungan, yaitu amonia. Gas amonia lebih dari 25 ppm akan berbahaya pada kesehatan, produktivitas, dan lingkungan kandang ayam.

    Mahasiswa IPB University, Ones Putra Hulu, Martina Sihombing dan Rios Hendri Saputro juga merasakan dan menyadari masalah tersebut. Kampung Sajira Barat dan Binjai Hulu adalah dua daerah dari sekian banyak daerah yang terkena pencemaran bau amonia peternakan. Para warga di sana protes dan menuntut ditutupnya peternakan tersebut.

    Berawal dari tukar pikiran dengan teknisi Fakultas Peternakan, ketiganya menemukan ide untuk menggunakan nanopartikel perak (AgNPs) sebagai solusi bau kandang. Tujuan pemberian AgNPs yaitu agar amonia sumber bau di kandang dapat dihilangkan dan ternak serta pekerja bisa merasa nyaman.

    “Berdasarkan informasi yang telah diperoleh, penelitian menggunakan nanopartikel perak masih jarang diteliti di Indonesia, terutama untuk ternak. Sementara beberapa peternakan sering digusur akibat bau kandang yang mencemari lingkungan selalu terjadi. Akhirnya kami mendapatkan informasi bahwa nanopartikel perak memiliki potensi untuk menghilangkan amonia itu,” ujar Ones.

    Rios menambahkan bahwa faktor pengaruh amonia adalah suhu, kelembapan, dan bakteri gram negatif penghasil enzim urease. Aplikasi nanoteknologi memungkinkan silver dibentuk menjadi ukuran nano sehingga mempunyai kemampunan anti mikrobia yang tinggi.
    Sebagai informasi, AgNPs biasanya dimanfaatkan sebagai suplemen multifungsi seperti antibiotik, antibakteri, antimikroba, antiseptik, densinfektan, dan penjernih air. Ada pula yang dapat meningkatkan performa ayam dan produksi telur. Fungsi lainnya adalah mampu membunuh berbagai macam bakteri, proses penyembuhan cepat terhadap penyakit tertentu. 

    “Kami mencoba menerapkan nanopartikel perak ini dengan dua bentuk, cairan dan kabut. Bentuk cairan diberikan sebagai minum ayam, sementara bentuk kabut disemprotkan di kandang saat siang hari. Alat kabut dimodifikasi agar dapat diterapkan di kandang ayam,” tutur Martina.

    Dari penelitian yang dilakukan Ones dan kedua rekannya, didapatkan hasil bahwa pemberian air minum dengan AgNPs 2 ppm adalah yang terbaik menurunkan amonia. Ketiganya menargetkan penerbitan jurnal sambil terus mengembangkan penelitian mereka. (ipb.ac.id)

  • Mahasiswa IPB University Manfaatkan Ulat Hongkong untuk Susu Bubuk Tinggi Protein

    Biasanya ulat hongkong dikenal para pecinta burung kicauan. Ulat hongkong banyak dimanfaatkan sebagai pakan burung yang konon bisa meningkatkan stamina burung kicau agar kuat dalam mengikuti kontes berkicau.

    Namun hal berbeda dilakukan Irfan Nugraha. Mahasiswa IPB University ini justru memiliki ide memanfaatkan ulat hongkong menjadi isolat protein yang digunakan sebagai penambah bahan campuran susu bubuk. Bersama dua rekannya, Ernawa Sindu Sutowo dan Rahmadi Gawana Putra, Irfan mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2019 untuk merealisasikan idenya.

    “Penelitian yang kami lakukan yaitu mengisolasi protein ulat hongkong (Tenebrio molitor) kemudian isolat tersebut ditambahkan kepada susu bubuk. Tujuannya agar memperkaya kandungan protein susu bubuk,” ujar Irfan.

    Berbekal dari hasil penelitian sebelumnya, Irfan mengungkapkan bahwa ulat hongkong memiliki kandungan protein yang tinggi yang sangat cocok untuk fortifikasi susu bubuk. Menurutnya, hadirnya isolat protein dari ulat hongkong ini diharapkan dapat menggantikan whey protein yang selama ini menjadi tambahan protein pada susu bubuk. Karena sebagian besarnya whey protein diperoleh dengan impor.

    “Berdasarkan penelitian, ulat hongkong memiliki kandungan nutrisi diantaranya 48 persen protein kasar, 40 persen lemak kasar, 3 persen kadar abu, 57 persen kadar air. Selain memiliki protein yang tinggi, ulat hongkong juga dari segi pemeliharaan tidak membutuhkan tempat yang luas dan itu sangat bermanfaat di masa depan dimana lahan peternakan akan semakin berkurang,” tutur Irfan.

    Penerapan fortifikasi pada susu bubuk dapat menjadi solusi untuk memenuhi asupan protein masyarakat. Karena pada dasarnya, susu bubuk kini tidak sulit untuk didapatkan. Selain itu, dengan memanfaatkan bahan lokal seperti ulat hongkong, masyarakat mudah mendapatkan protein.
     
    “Satu hal yang menjadi tantangan kami adalah menghilangkan pigmen warna coklat pada isolat protein ulat hongkong ini. Selain itu dari segi flavor diharapkan dapat berbeda daripada susu bubuk komersil karena kandungan asam amino glutamat yang cukup tinggi dari ulat hongkong yaitu 45143.50 miligram/kilogram sehingga harapannya dapat memberikan cita rasa khas gurih,” ucap Irfan (ipb.ac.id)

  • Manfaatkan Ulat Hongkong, Mahasiswa IPB University Teliti Metode Pengurai Styrofoam

    Di alam, kemasan plastik dan styrofoam sulit diurai. Penggunaan plastik dan styrofoam masih sangat tinggi, terutama di kota-kota besar di Indonesia.  Styrofoam merupakan jenis plastik yang paling berbahaya dan tidak ramah lingkungan.  Selain tidak ramah lingkungan karena sifatnya yang tidak dapat diurai sama sekali, proses produksi styrofoam sendiri menghasilkan limbah yang tidak sedikit.  Menurut Environmental Protection Agency (EPA), Indonesia termasuk sebagai penghasil limbah berbahaya kelima terbesar di dunia.

    Novica Febriyani, Fiona Salfadila dan Indri Destriany, tiga mahasiswa IPB University melalui Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Penelitian Eksakta (PKM-PE) 2019  mencoba meneliti penggunaan ulat hongkong sebagai agen biologis yang bisa mendegradasi styrofoam. Penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengisolasi bakteri dari ulat hongkong dari Indonesia yang bisa mendegradasi styrofoam ini dilakukan di bawah bimbingan Cahyo Budiman, SPt, MEng, PhD.

    “Berdasarkan penelitian ilmiah sebelumnya ditemukan mekanisme degradasi polystyrene menggunakan vektor biodegradasi yaitu ulat hongkong atau mealworms jenis Tenebrio molitor. Ulat hongkong tersebut telah terbukti mampu untuk mendegradasi polystyrene sebagai komponen penyusun styrofoam,” tutur Novica.

    Dalam penelitian tersebut, Novica menambahkan bahwa populasi mikroorganisme dalam perut ulat hongkong erat dengan lingkungan atau habitat ulat tersebut. Hal tersebut mengindikasikan bahwa jenis mikroorganisme dalam ulat hongkong yang dikembangbiakkan di kondisi subtropis Tiongkok akan berbeda dengan ulat yang dibiakkan di kondisi wilayah tropis Indonesia. Itu juga yang mendorong kemungkinan adanya isolat bakteri baru dari ulat hongkong di Indonesia yang bisa mendegradasi polimer polystyrene.

    “Pada mulanya, ulat hongkong kami pelihara dengan diberi pakan tunggal styrofoam. Lalu bagian usus ulat hongkong tersebut kami jadikan sebagai Stok Larutan Ulat Hongkong (SLUH). Kemudian SLUH tersebut ditumbuhkan pada media agar yang sudah ditambahkan styrofoam. Setelah itu, bakteri yang didapatkan, diidentifikasi dan simpan dalam glycerol stock. Kandidat isolat yang diperoleh kemudian diberikan styrofoam yang telah ditentukan. Kemampuan isolat dalam mendegradasi styrofoam diuji dengan cara melihat permukaan Styrofoam dengan menggunakan Scanning Electron Microscopy (SEM),” jelas Novica.

    Novica berharap, ke depannya mereka bisa mengaplikasikan ini pada skala yang lebih besar. Ia juga berencana dalam pengaplikasian bakteri pada limbah styrofoam ini bisa menghilangkan kesan jijik, sehingga pemanfaatannya dapat dilakukan oleh masyarakat luas (ipb.ac.id)

  • Strategi Triple Helix Dukung Komersialisasi Telur Omega 3

    Peneliti IPB University, Prof Iman Rahayu HS dan Dr Komari menciptakan telur omega 3-IPB yang memiliki kandungan asam lemak omega 3 yang lebih tinggi dibanding telur biasa. Telur ini mengandung Docosahexaenoic acid (DHA), Eicosapentaenoic acid (EPA) dan asam lemak omega 3 lainnya yang sangat baik bagi kesehatan tubuh terutama untuk perkembangan otak balita dan pencegahan penyakit degeneratif manula. “Telur ini diharapkan dapat memberikan peluang peningkatan kualitas gizi masyarakat. Sebab, telur merupakan salah satu sumber protein yang digemari masyarakat. Harganya yang relatif murah serta mudah didapat menjadi alasannya, baik sebagai lauk pauk maupun bahan olahan pangan lainnya,” papar Prof Iman.

    Menurut Prof Iman, telur omega 3-IPB merupakan telur yang berasal dari ayam petelur yang diberikan tambahan pakan berupa suplemen omega-3. Penambahan suplemen tersebut terbukti dapat meningkatkan kandungan DHA hingga sepuluh kali lipat dan EPA 2,4 kali lipat lebih tinggi dari telur biasa, serta kandungan kolesterolnya 50 persen lebih rendah. “Suplemen yang ditambahkan berasal dari limbah industri perikanan. Yaitu minyak ikan hasil limbah industri ikan lemuru serta hasil fermentasi dari ampas tahu. Hal ini  mengurangi pencemaran lingkungan dan mengurangi biaya produksi,” kata Prof Iman.

    Lanjut Guru Besar IPB University ini, dalam pengembangan telur omega 3-IPB ini perlu dukungan dan kerjasama berbagai pihak yang terangkum dalam konsep triple helix. Konsep ini mempertemukan pihak akademisi, industri dan pemerintah. Dalam konsep tersebut kontribusi dari pihak-pihak yang terkait akan menghasilkan suatu kolaborasi yang dapat membuat produk dapat dikenal oleh masyarakat luas. Ketiga pihak yang berperan dalam konsep ini harus selalu bergerak melakukan sirkulasi serta saling berintegrasi demi tercapainya tujuan bersama. 

    “Dari konsep triple helix ini dilakukan komersialisasi telur omega 3-IPB. Komersialisasi telur omega 3-IPB skala kecil dimulai dengan skim Satuan Usaha Akademik dari Direktorat Bisnis dan Kemitraan IPB pada tahun 2009, lalu berlanjut sampai telur omega-3-IPB dijual di gerai Serambi Botani. Selain itu, masyarakat dapat membeli telur omega 3-IPB langsung di Fakultas Peternakan,” jelas dosen IPB University ini.

    Agar produk dapat menyebar lebih luas, pada tahun 2013 diadakan hubungan kemitraan dengan distributor telur CV Tirta Super Telur (TST) dalam bentuk joint venture. Kerja sama tersebut berhasil mengkomersialisasikan telur kaya DHA hingga 4.000 butir per minggu dengan populasi ayam yang dipelihara sekitar 750 ekor. Namun, Pada tahun 2018-2019 hasil penjualan menunjukkan penurunan total penerimaan dikarenakan kebijakan produsen untuk mengurangi populasi ayam akibat jenuhnya pasar, sehingga akan dilakukan evaluasi keseluruhan dari aspek produksi, pengemasan produk, pengembangan strategi pemasaran secara online/e-sale, serta pembenahan manajemen pengelolaan.

    Pemerintah juga punya peran penting dalam pengembangan telur omega 3-IPB ini. Salah satunya melalui pendanaan program Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) selama tiga tahun (2017-2019).  “Komitmen dan kerja sama dari ketiga pihak dalam konsep triple helix sangat berperan dalam pengembangan produk inovasi telur omega 3 ini. Ketiga pihak tesebut harus tetap bersinergi agar produk inovasi yang telah dikembangkan hingga saat ini dapat terus dikomersilkan dan juga dapat diproduksi oleh peternak lain. Serta, agar manfaat produk ini dapat terus dirasakan oleh masyrakat, terutama dalam meningkatkan gizi masyarakat sebagai pangan fungsional,” jelasnya. (ipb.ac.id)


Lihat Semua Berita >>

Pemira Dekan Fakultas Peternakan IPB 2020-2025

Protocol Kesehatan Covid-19 saat WFO Fapet IPB

Tips & Kegiatan Selama WFH