News

Hiauan pakan merupakan pakan utama ternak ruminansia dan faktor terpenting untuk menunjang budidaya ternak karena berdampak pada peningkatan bobot badan ternak. Namun kendala di Indonesia adalah rendahnya ketersediaan hijauan pada musim kemarau dan berlimpah pada musim hujan. Pemberian hijauan pada saat musim kemarau dapat diatasi dengan pengunaan pakan alternatif dari limbah sayuran pasar seperti limbah tauge.

Tiga orang peneliti dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (Fapet IPB) yaitu Sri Rahayu, H. Sunando, dan M. Baihaqi melakukan riset untuk melihat tingkah dan pertumbuhan domba garut jantan muda dengan pemeliharaan intensif yang diberi ransum limbah tauge pada waktu pemberian yang berbeda.

“Potensi limbah tauge di kota Bogor sekitar 1,5 ton per hari. Pakan hijauan yang bergizi dapat menentukan pertumbuhan, reproduksi dan kesehatan ternak. Pakan hijauan dari hasil limbah tauge diharapkan dapat memenuhi nutrisi yang dibutuhkan oleh domba garut,” ungkap Sri.

Peneliti memelihara domba garut jantan yang berumur rata-rata 5-7 bulan dalam kandang perlakuan. Mereka memberi perlakuan pakan berbeda, diantaranya ditambahkan limbah tauge dan waktu pemberian yang berbeda yaitu pagi dan sore hari.

“Pemberian 40 persen limbah tauge dalam ransum domba Garut dengan waktu pemberian pakan yang berbeda dapat meningkatkan performa pertumbuhan dan pasca panen. Pertambahan bobot badan harian (pbbh) domba dengan ransum limbah tauge (140.94g/ek/h) lebih tinggi dari pada yang diberi ransum rumput (76.61g/ek/hr),” terangnya.

Performa pasca panen menunjukkan bahwa pemberian ransum limbah tauge memberikan pengaruh yang lebih baik pada kualitas karkas dan daging, kecuali kandungan lemak dibandingkan ransum rumput. Namun waktu pemberian pakan sore hari cenderung menurunkan kadar lemak karkas maupun daging. Kandungan asam lemak, terutama asak lemak tak jenuh (PUFA) lebih tinggi pada domba yang diberi ransum rumput, sebaliknya asam lemak jenuh SFA lebih tinggi pada domba yang diberi limbah tauge.

“Kadar kolesterol daging domba yang diberi ransum limbah tauge pada sore hari cenderung lebih rendah pada daging domba yang diberi ransum limbah tauge pagi hari dan yang diberi ransum rumput pada pagi dan sore hari,” ungkapnya.

Secara ekonomi, pemberian ransum limbah tauge dengan waktu pemberian pakan sore hari pada domba Garut mampu menekan biaya pakan, tenaga kerja dan biaya lainnya. Sehingga secara keseluruhan mampu  meningkatkan pendapatan maupun keuntungan. 

“Limbah tauge secara fisik maupun kandungan nutrien berpotensi sebagai pakan ternak yang baik, terutama untuk ternak domba. Pemanfaatan limbah tauge dalam ransum dengan waktu pemberian pakan sore hari, mampu meningkatkan produktivitas domba garut tanpa mengurangi tingkat kesejahteraannya,” tandasnya.(ipb.ac.id)

Kondisi tubuh kekurangan zat besi, menandakan tubuh menderita anemia. Anemia defisiensi besi adalah salah satu jenis anemia yang paling umum ditemui. Kondisi ini terjadi ketika darah kekurangan jumlah sel darah merah yang sehat. Sel darah merah bertugas untuk membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Sesuai dengan namanya, anemia defisiensi besi disebabkan jumlah zat besi yang tidak mencukupi. Tanpa zat besi yang cukup, tubuh Anda tidak dapat menghasilkan sel darah merah yang cukup untuk membawa oksigen.

Sebelum kondisinya semakin parah, segera cari solusinya dengan mengonsumsi makanan pilihan.

Dr. Irma Isnafia Arief - Staf Pengajar dan juga Ketua Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Fakultas Peternakan IPB, dalam Talkshow pada acara "Chef Creation for the Love of Australian Beef" di Serpong, tangerang, menjelaskan bahwa Mengonsumsi daging merupakan hal yang sangat penting karena kandungan gizi dalam daging dapat mencegah timbulnya anemia. Heme merupakan zat besi pada daging merah yang dapat mencegah anemia.

“Zat besi pada daging merah dapat diserap seluruhnya sedangkan zat besi yang terdapat pada sayuran hanya dapat diserap 1/3 bagian saja,” tutur Irma.

Begitu pula dengan protein, pada daging merah 90% protein diserap secara efektif sedangkan pada sayuran hanya 70% protein yang dapat diserap.

Tidak hanya itu, zat besi dan protein, daging merah pun mengandung Omega 3 dan Vitamin B Kompleks. Omega 3 merupakan asam lemak yang dibutuhkan untuk pertumbuhan syaraf-syaraf otak terutama pada anak-anak serta mampu melonggarkan peredaran darah. Daging merah lebih banyak mengandung Omega 3 dari pada ikan, kandungan Omega 3 dalam 100 gram daging sebanding dengan 7,9 kilogram ikan. Vitamin B Kompleks yang terkandung pada daging sapi pun dapat mencegah penyakit kelainan darah, seperti Talasemia. Mengingat tingkat konsumsi daging di Indonesia masih sangat minim, yakni lebih dari 10% anak-anak di Indonesia masih mengalami kurang gizi (WHO), maka Irma mengajak untuk mengonsumsi daging merah 3-4 kali seminggu.

Pemerintah perlu meningkatkan populasi dan produktivitas sapi Bali, aset nasional  yang tidak dimiliki negara lain.  Profesor Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) Ronny Rachman Noor mengatakan bahwa sapi Bali sering dinilai rendah oleh pemerintah karena mereka adalah ternak lokal (Kamis 19/04/2018) .

“Padahal, sapi bali memiliki banyak kelebihan yang tidak dimiliki ternak jenis lain,” kata Ronny di kampus IPB di Baranangsiang.

Sapi Bali Bukan hanya tahan terhadap penyakit dan lingkungan yang ekstrim, para ahli mengatakan sapi bali bisa mencerna makanan dengan kandungan serat yang tinggi. Sapi bali memiliki salah satu persentase karkas tertinggi di dunia. Dagingnya memiliki kadar kolesterol terendah dibandingkan dengan sapi lainnya.

Dengan semua keunggulan itu, kata Ronny, sapi Bali telah menjadi komoditas utama yang banyak diminati oleh banyak negara, baik untuk pembibitan murni atau perkawinan silang untuk mendapatkan ternak berbiji campuran dengan produktivitas yang lebih baik.

“Sapi bali adalah satu-satunya spesies ternak peliharaan yang nenek moyangnya masih hidup. Spesies ini langsung diturunkan dari kerbau yang masih bisa kita temukan di Taman Nasional Ujung Kulon dan Baluran. Nenek moyang kebanyakan sapi di dunia sudah punah, ”kata Ronny, yang telah meneliti sapi Bali selama 30 tahun.

lebih lanjut Ronny menjelaskan sapi Bali telah diakui secara internasional sebagai sapi yang berasal di Indonesia. “Plasma nutfah super ini perlu dilindungi dengan kebijakan nasional sehingga dapat dilestarikan secara optimal,” kata Ronny (thejakartapost)

Guru Besar Fakultas Peternakan IPB Prof Ronny Rachman Noor mengatakan untuk mewujudkan swasembada daging pemerintah harus fokus pada program yang menjadi prioritas mengingat anggaran yang dimiliki terbatas.  Menurutnya, kekurangan pasokan daging sapi di dalam negeri akan terus terjadi sampai dengan tahun 2020.

"Kita harus menyelesaikan kesenjangan antara produksi dan permintaan ini, anggaran kita terbatas, gunakan dengan sebaik-baiknya, apalagi tenaga ahli kita banyak," kata Ronny dalam kegiatan praorasi guru besar IPB di Kampus Baranangsiang, Kota Bogor, Jawa Barat, Kamis.

Menurut mantan Atase Pendidikan dan Kebudayaan di KBRI Canbera, Australia ini, untuk mengisi kesenjangan tersebut diperlukan pembibitan sapi sebagai tulang punggung penyedia ternak bakalan untuk ternak potong.

"Kita kurang bakalan, artinya kurang bibit. Ini yang tidak pernah disentuh, kita harus memiliki sapi bangsa baru untuk suplai bakalan dan suplai daging," kata Ronny.

Ia mengatakan data empiris menunjukkan swasembada daging tidak akan pernah dapat terwujud jika tidak dilakukan langkah ekstrem dalam pembibitan sapi. Menurut Ronny, semua potensi ternak lokal penghasil daging seperti sapi, kambing, domba, ayam, itik, dan kelinci dapat dilibatkan untuk mewujudkan program swasembada daging. Sektor perikanan juga diharapkan dapat berperan besar dalam mewujudkan swasembada protein hewani melalui peningkatan konsumsi ikan.

Ronny menambahkan program terpadu swasembada protein hewani ini diharapkan tidak saja mengefisiensikan penggunaan anggaran, tetapi juga akan menghilangkan sekat-sekat yang selama ini menghambat kerja sama lintas sektor.

"Dengan hilangnya sekat ini diharapkan swasembada protein hewani dapat diwujudkan dalam waktu dekat untuk mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia," kata Ronny (antaranews)

Guru besar Fakultas Peternakan IPB Prof Ronny Rachman Noor mengatakan peternakan rakyat dengan ternak lokalnya berperan dalam pemenuhan gizi dan pengurangan masalah malnutrisi.

“Peternakan rakyat dengan memanfaatkan ternak lokal dapat dijadikan andalan dalam mengurangi masalah malnutrisi di Indonesia, terutama wilayah pedesaan,” kata Ronny dalam kegiatan pra orasi guru besar IPB di Kampus Baranangsiang, Kota Bogor, Jawa Barat, Kamis.

Untuk itu Ronny mengapresiasi dan mendukung program yang akan diluncurkan oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yakni pengentasan kemiskinan berbasis pertanian. Program tersebut diberi nama Bekerja, singkatan dari bedah kemiskinan rakyat sejahtera. Rencananya akan diluncurkan pada tanggl 23 April mendatang di Cianjur. Program pengentasan kemiskinan berbasis pertanian dapat menjadi solusi permanen menyasar jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang, serta menjangkau 1.000 desa di 100 kabupaten.

Untuk jangka pendek, tanaman sayuran dan holtikultura bisa menjadi solusi karena bisa dipanen dalam waktu tiga bukan. Untuk jangka menengah diberikan ayam, dan kambing. Karena ayam dalam waktu enam bulan sudah bisa bertelur, dan dagingnya bisa juga dipanen. Ronny mendukung program tersebut karena sangat cocok untuk mendukung ketahanan pangan di wilayah pedesaan dan wilayah ujung Indonesia.

“Kalau bisa pemberian ternak ini disesuaikan dengan tradisi dan kebiasaan masyarakat setempat. Jika mereka terbiasa memelihara domba, beri domba, jangan hanya ayam,” katanya.

Menurut mantan Atase Pendidikan dan Kebudayaan di KBRI Cambera, Australia ini, program Bekerja yang akan diluncurkan oleh Kementan bukan barang baru, tetapi sudah pernah dilaksanakan pada era pemerintahan Presiden Soeharto.

Read more: Peternakan Berperan Pemenuhan Gizi dan Kurangi Malnutrisi