News

Bogor - Program Sarjana Plus Logistik Peternakan IPB menggelar kembali Studium General ke-3 pada hari Rabu, 15 November 2017 di Ruang Sidang Fakultas Peternakan Kampus IPB, Darmaga Bogor. Studium General kali ini merupakan rangkaian dari kegiatan perkuliahan pada mata kuliah Live Animal Transportation yang diampu oleh Dr.Ir Rudi Afnan, MScAgr. Studium Generale ini juga turut mengundang para mahasiswa Pascasarjana beserta staf dosen di Fakultas Peternakan IPB sebagai peserta. Kegiatan Studium General ini diikuti secara antusias oleh 37 peserta yang terdiri dari mahasiswa Sarjana Plus Logistik Peternakan, mahasiswa Pascasarjana Fakultas Peternakan IPB dan staf dosen.

Dosen tamu yang diundang adalah dari kalangan praktisi, yaitu Eko Djatmiko. Beliau adalah alumni IPB lulus pada jurusan Teknologi Pangan tahun 1983. Eko telah berpengalaman selama 5 tahun sebagai Direktur pada perusahaan transportasi. Materi yang disampaikan dalam Studium General ini lebih difokuskan mengenai layanan transportasi unggas. Kegiatan pemaparan dilakukan bersama dengan tanya jawab secara langsung dari para peserta.

Berikut adalah beberapa point pembahasan pada Studium General  terkait layanan transportasi unggas:

Read more: Program Sarjana Plus Logistik Peternakan Menggelar Studium General Dengan Tema :"Complete Poultry...

foto : www.msm.nlDelegasi tingkat tinggi IPB, mengunjungi Maastricht School of Management (MSM)  dalam rangka menjalin kerjasama kelembagaan,  dalam pembentukan  Pusat Ilmu Pengetahuan Berkelanjutan  di IPB (30-31 Okt 2017).  Hadir dari  IPB diantaranya  adalah : Wakil Rektor bidang Penelitian dan Kerjasama IPB,  Dekan Fakultas Peternakan, dan  Prof. Luky Abdullah.  Pusat ini diharapkan  akan menjadi jangkar untuk penelitian multi-disiplin dan pendidikan eksekutif.

Kerja sama ini dikembangkan  menyusul atas suksesnya kerjasama antara MSM dan IPB pada beberapa waktu yang lalu, pada bidang pengembangan bisnis dan kewirausahaan yang berkelanjutan yang merupakan kontribusi dari MSM untuk IPB.  kerjasama dengan MSM telah menghasilkan 83 mahasiswa yang telah lulus pada Sekolah Bisnis IPB dengan spesialisasi pengembangan bisnis berkelanjutan tahun 2009.

Adapun Kerja sama yang masih berlangsung sampai tahun ini adalah kerjasama di bidang logistik Peternakan. MSM bersama dengan Universitas Wageningen dan Aeres Group of agricultural education institutes, mendukung IPB dalam menyiapkan program pendidikan logistik peternakan  di Fakultas Peternakan IPB.  Prioritas kerjasama tersebut dilakukan pada bidang penelitian secara bersama-sama.  

International Steering committee dari pihak belanda, menyatakan kepuasan mereka atas hasil yang dicapai pada kerjasama yang telah dilakukan. Dr Anas Miftah Fauzi, selaku Wakil Rektor IPB untuk Penelitian dan Kerjasama Internasional, menekankan bahwa proyek tersebut berada di tengah prioritas nasional, yang mana  atas permintaan Presiden RI, yang meminta agar IPB lebih menekankan pada pendidikan dan penelitian agro logistik.

Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB) berkerja sama dengan Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) menyelenggarakan pelatihan “Penanganan Daging yang Sehat dan Berkualitas” di Ruang Sidang Fapet IPB, Kampus IPB Dramaga, Bogor (26/10). Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman konsumen terhadap daging beku. Hadir sekira 30 peserta dari kalangan sektor rumah tangga, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), dan horeka (hotel, restoran dan katering). 

Dekan Fapet IPB, Dr. Moh. Yamin menyampaikan tema yang diangkat pada pelatihan ini merupakan salah satu persoalan yang dihadapi konsumen, termasuk di pasar tradisional daging yang dipasarkan adalah daging beku. Menurutnya, sampai saat ini masyarakat Indonesia masih kurang pengetahuan tentang penanganan daging beku yang sehat dan berkualitas.

“Ini pekerjaan rumah (PR) besar, khususnya pendidikan tinggi dan lembaga riset, bagaimana cara mendidik konsumen, bagaimana menghasilkan daging yang sehat. Konsumen perlu dibangun kesadaran dan dididik dengan  berbagai metode. Daging sapi harus selalu segar, karena sifat produk peternakan sangat mudah sekali rusak. Melalui pelatihan ini, tujuan yang ingin kami bangun adalah bentuk edukasi untuk mengarahkan konsumen dapat memilih daging beku, dan penanganan daging yang sehat dan berkualitas,” ujarnya.

Read more: IPB Gelar Pelatihan Penanganan Daging Beku

Lebih dari 500 penangkar burung Kenari dan Love Bird mengikuti kontes Burung Hias Road To The Trophy of SEAMEO BIOTROP Golden Anniversary dengan tema Promoting Sustainable Utilization of Songbird. Kontes diadakan oleh SEAMEO BIOTROP, Fakultas Kehutanan dan Fakultas Peternakan IPB serta didukung oleh Paguyuban Penggemar Burung Kenari (PAPBURI) Klaten Chapter JABODETABEK dan SILOBUR Indonesia. Acara tersebut dilaksanakan pada hari Minggu 29 Oktober 2017 dan bertempat di Convention Hall SEAMEO BIOTROP Bogor.

Dalam kegiatan ini, panitia menggunakan sistem perlombaan burung hias yang baru, sehingga peserta lomba wajib mendaftarkan burung hasil penangkaran yang memiliki catatan silsilah yang jelas. Kontes burung hias ini merupakan langkah awal dalam konservasi burung hias di Indonesia. 

Direktur Seameo Biotrop, Irdika Mansur mengatakan bahwa kegiatan ini sebagai salah satu upaya konservasi burung yang telah berhasil dilakukan berbagai pihak melalui penangkaran. “Tujuannya, pelepasliaran dan peningkatan populasi burung di alam serta untuk pengembangan hobby dan komersil sebagai burung peliharaan dan burung hias untuk lomba,” kata Irdika, Minggu 29 Oktober 2017 dalam sambutannya. Menurutnya, penangkaran burung di Indonesia telah berkembang dengan baik karena selain sebagai hobby juga dapat menjadi sumber mata pencaharian. Namun demikian, lanjut Dia, dalam praktiknya kegiatan penangkaran dan pemanfaatan burung Indonesia masih mengalami permasalahan menyangkut perijinan, perdagangan dan sebagainya.

Irdika berharap kegiatan ini mampu meningkatkan wawasan berbagi pihak sehingga dapat mendukung pengembangan konservasi dan pemanfaatan burung yang berkelanjutan serta mencari solusi untuk mengatasi permasalahannya.

Warga sudah tidak mau TPA diperluas lagi,” ujar Ryan Eko Purwanto, mahasiswa Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (Fapet-IPB).

Ryan memilih mengabdi di Desa Galuga, Kabupaten Bogor. Ryan bersama puluhan mahasiswa IPB lainya yang tergabung dalam komunitas Beasiswa Etos IPB secara rutin mendampingi perkembangan Desa Galuga melalui Program Desa Produktif atau biasa disebut DESPRO.

Selaku penerus kepengurusan yang kali ini sudah menginjak tahun VIII, DESPRO digelar di Desa Galuga. Ryan merasa masih banyak Pekerjaan Rumah (PR) yang harus diselesaikan. Masalah terbesar  dari dulu hingga sekarang, menurutnya, adalah mindset masyarakat tentang pendidikan.

Rendahnya kemauan masyarakat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, menjadi fokus utama program DESPRO di Desa Galuga ini. “Selama kurang lebih delapan tahun peningkatan signifikan terjadi. Angka siswa melanjutkan pada tahun 2017 berjumlah seratus persen dari siswa kelas 6 melanjutkan ke tingkat selanjutnya. Ada yang melanjutkan ke jenjang tingkat pendidikan SMP, MTs, dan juga yang ke pondok pesantren,” jelas Ryan.

Prestasi membanggakan ini patut ditiru dan diadopsi untuk kegiatan mahasiswa di seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Selain bermanfaat bagi masyarakat, kegiatan ini juga mengasah kemampuan mahasiswa dalam menganalisis masalah di tengah masyarakat dan mencari solusinya.

Tidak berhenti sampai di situ selama kiprah DESPRO Bogor di Desa Galuga, Ryan bersama seluruh rekan kerja DESPRO Bogor juga berhasil secara rutin mengelola beasiswa untuk siswa-siswa di Galuga. Tepatnya di SDN2 Dukuh, Desa Galuga, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Program beasiswa pada umumnya hanya berupa pemberian uang atau santunan, di tangan mereka berhasil dikembangkan menjadi berbagai macam bentuk pengembangan pemberdayaan siswa.

Selaku Ketua Program, Ryan menuturkan, saat ini terdapat sepuluh siswa penerima manfaat beasiswa dari Program DESPRO Bogor. Empat orang dari penerima manfaat ini akan direkomendasi untuk mengikuti training di Institut Kemandirian Dompet Dhuafa. Terakhir, menjadi mahasiswa memiliki beban moral yang lebih. Bukan hanya sekedar belajar di kelas, namun mahasiswa pun dituntut untuk peka terhadap masalah-masalah sosial di masyarakat (ipb.ac.id)