News

Seorang praktisi di industri peternakan sapi potong yang dibutuhkan, tidak hanya sekadar menguasai keilmuan peternakan, namun juga harus memiliki jiwa kewirausahaan, memiliki ketrampilan dan wawasan seputar regulasi pternakan.

Sekjen Pengurus Besar Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (PB ISPI), Didiek Purwanto, dalam sebuah workshop yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia di Bogor, Jumat, 13 April 2018, mengatakan, kelemahan Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang peternakan Indonesia adalah kurangnya praktek di lapangan dan pengetahuan dasar tentang kehidupan sehari-hari di bidang peternakan. 

Oleh karena itu, seorang SDM peternakan harus memiliki kompetensi di bidangnya, seperti di bidang pembibitan dan pembiakan, penggemukan, pemotongan dan pendistribusian produk daging. Tuntutan kompetensi meliputi antara lain, mengerti dasar pembibitan dan breeding, pemahaman teknologi pembibitan dan pembiakan, serta familiar atau terbiasa dengan tingkah laku ternak sapi (majalahinfovet.com)

Ikhsan Suhendro, marbot Masjid Al Hurriyyah Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) asal Lampung sukses menorehkan prestasi gemilang sebagai wisudawan terbaik bulan ini.Hal itu terungkap dalam upac ara wisuda tahap VI Program Sarjana, Profesi Dokter Hewan, dan Pascasarjana tahun akademik 2017/2018 di Graha Widya Wisuda, Kampus IPB Dramaga Bogor, Rabu (21/3/2018).

Ikhsan yang dinobatkan sebagai lulusan terbaik Fakultas Peternakan IPB menuturkan, kampusnya adalah 'Kampus Rakyat' bagi pemuda daerah yang tidak cukup biaya untuk berkuliah. Putra kelahiran Lampung 12 Desember 1994 ini mengatakan mahasiswa itu punya tiga pilihan, sambil menunjukkan jarinya, yaitu akademik, organisasi dan istirahat.  "Tapi dari tiga pilhan itu kita hanya bisa memilih dua. Yang dua akan kita dapatkan dengan baik, tetapi yang satu tentu harus dikorbankan. No problem, no pain no gain, karena istirahat sesungguhnya adalah ketika sudah mati," ujarnya.

Untuk memenuhi hasratnya berorganisasi, Ikhsan memilih mendaftar sebagai marbot Masjid Al Hurriyyah di Kampus IPB Dramaga. Alasannya adalah selain menjadi wadah pengembangan bakat dan pengembanan amanah, Ikhsan mendapatkan mess atau asrama gratis.

"Tanpa pikir panjang langsung mendaftar. Singkat cerita akhirnya lolos dan diterima menjadi marbot Masjid Al Hurriyyah, alhamdulillah. Hal yang menjadi pembeda dari menjadi marbot di maskam (masjid kampus) IPB dibanding maskam lain adalah kepengurusan kelembagaan masjid dan tim pembersih yang sudah ada orangnya dan sudah tersusun rapih, sehingga tugas kami sebagai marbot adalah menjadi panitia di hari besar agama Islam, pemakmur masjid, pengelola kajian rutin, dan pengembangan bakat diri," tuturnya.

Saat menjadi marbot, rutinitas sehari-hari Ikhsan salat tahajud sebelum salat subuh, dilanjutkan syuro (musyawarah), lalu mengikuti kajian rutin di Aula Masjid Al Hurriyyah sebelum berangkat kuliah.

Read more: Ikhsan Suhendro, Marbot Masjid Jadi Lulusan Terbaik Wisudawan IPB

Ketua Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuli), Drs. Ade Zulkarnain mengatakan tren perkembangan usaha ayam lokal menunjukkan peningkatan sangat baik sekali. Hal ini Ia sampaikan dalam Kuliah Umum Prospek Bisnis Unggas Lokal di Indonesia yang digelar  di Auditorium J.H.Hutasoit Fakultas Peternakan Kampus IPB Drmaga, (14/3).

Drs. Ade mengajak mahasiswa IPB untuk sama-sama membangun unggas lokal Indonesia dan

perlu adanya regenerasi dari kalangan muda. Generasi muda harus mulai berpikir bagaimana mengangkat sumberdaya genetik negeri sendiri.

Menurutnya prospek pengembangan unggas lokal sangat baik. Unggas lokal merupakan plasma nutfah asli Indonesia sehingga tidak perlu impor bibit. Unggas lokal memiliki cita rasa yang khas. Produk ternak sehat memiliki segmentasi pasar menengah ke atas. Saat ini pelaku usaha riil berasal dari peternak rakyat/skala Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

“Sesungguhnya asal usul ayam-ayam yang ada di dunia itu berasal dari tiga wilayah yaitu China, Lembah Indus dan Indonesia. Awalnya kita memiliki sekira 30 an spesies ayam tapi kini tinggal 26 spesies. Dan 80 persennya hampir punah,” ujarnya.

Adapun ayam-ayam asli Indonesia adalah Ayam Kedu (putih, hitam, blorok, cemeni), Ayam Sentul, Ayam Pelung, Ayam Gaok, Ayam Jantur, Ayam Delona, Ayam Sedayu, Ayam Ayunai, Ayam Olagan, Ayam Sumatera, Ayam Ciparage, Ayam Tolaki, Ayam Tukong, Ayam Gaga (Ayam Ketawa), Ayam Kampung, Ayam Kokok Balengek, dan Ayam Bekisar.

Sementara ayam pendatang atau Ayam Arab adalah Ayam Merawang (braekel/fayoumi) dan Ayam Nunukan Wareng.

Sejarah penyebarannya, tahun 1800 ayam asli Indonesia dibawa ke Inggris. Ayam Sumatera pertama kali dibawa ke Amerika pada tahun 1847.

“Ayam asli Indonesia masuk dalam 10 satwa termahal dunia, harganya bisa mencapai 33 juta rupiah per ekor. Saat saya ke luar negeri, saya pernah beli DOC Ayam Sumatera  seharga 2 juta. Ini artinya ayam Indonesia sangat bernilai di mata dunia bahkan salah satu ayam lokal kita sudah diakui oleh Amerika,” terangnya.

Bahkan akhir bulan ini, satu komoditas di perusahaan yang dirintis Drs. Ade akan siap masuk pasar export. Hal ini menujukkan bahwa sebenarnya ayam lokal Indonesia punya potensi yang bagus untuk dikembangkan.

Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Peternakan (Fapet), Prof. Sumiati berharap bahwa kegiatan ini bisa membangun dan memotivasi kecintaan generasi muda terhadap unggas lokal Indonesia.

“Saat ini usaha dalam bidang unggas lokal sedang menggeliat. Saya harap acara ini dapat  menambah wawasan mahasiswa. Saya berharap mahasiswa  dalam membuat tugas akhir dapat membahas dan  melihat tentang unggas lokal. Berdasarkan data di Himpuli, perkembangan dua komoditas ayam lokal dan itik ini sangat prospektif,” ujarnya (ipb.ac.id)

Daging ayam broiler merupakan jenis daging yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Pengangkutan ayam broiler biasanya hanya menggunakan keranjang terbuka yang disiram dengan air untuk mengurangi stres panas yang dialami oleh ayam selama pengangkutan. Kesejahteraan ternak dan pencemaran lingkungan yang ditimbulkan sangat minim diperhatikan. Oleh karena itu, tiga orang peneliti yaitu Ahmad Yani,  Pratama dan R. Afnan dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP) Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan riset tentang pengaruh perbedaaan transportasi sistem M-CLOVE dengan konvensional terhadap fisiologis ayam broiler.

Ahmad Yani mengatakan, M-CLOVE merupakan alat angkut ayam dengan sistem transportasi tertutup yang didesain dapat mengantisipasi keadaan yang terjadi saat transportasi, seperti cuaca panas dan dingin. Ketika cuaca panas, kipas akan mengatur kondisi suhu dalam box sehingga panas dapat dikurangi. Modelnya mengadopsi seperti model box, mobil konvensional yang dimodifikasi. Mobil yang digunakan jenis pick up atau sejenisnya.

Kotak penutup utama dibuat dari bahan papan triplek kayu dengan dimensi 1,35 m x 2,95 m x 1,75 m, memiliki volume tampung 1,30 m x 1,85 m x 1,70 m. Pada bagian atas depan, ukuran penutup dilebihkan ke depan untuk memberikan celah bagi cerobong angin. Akses bongkar muat keranjang ayam terdapat pada bagian samping. Bagian dalam M-CLOVE merupakan tempat utama untuk meletakkan keranjang ayam. Pada bagian ini lokasi penempatan keranjang dibuat menjadi tiga tingkatan. Tingkat pertama dan kedua merupakan tempat pengangkutan ayam yang berisi masing-masing satu buah keranjang ayam. Tingkat terbawah ditempatkan kotak reaktor yang berisi bahan organik sekam padi yang berfungsi menyerap bau dari kotoran ayam. Terdapat ventilasi pada bagian samping dan belakang M- CLOVE sebagai sumber sirkulasi udara. Sementara, pengangkutan ayam konvensional menggunakan keranjang ayam konvensional yang disusun pada mobil pengangkut jenis pick up atau truk. Pengangkutan ini tidak dapat melindungi ayam dari panas maupun hujan, sehingga dapat membuat cekaman stres pada ayam meningkat. Keranjang ayam konvensional berukuran 95 cm x 50 cm x 25 cm.

Peneliti menggunakan ayam broiler siap panen berumur 30 hari berjumlah 10 ekor jantan dan 10 ekor betina. Masing-masing keranjang diisi ayam broiler sebanyak 5 ekor jantan dan 5 ekor betina. "Pengangkutan dilakukan dengan lama waktu satu jam perjalanan, dan kecepatan kendaraan stabil 40 kilometer per jam," ujarnya. Proses pengangkutan dilakukan kembali pada ayam broiler umur 35 dan 40 hari. Dari percobaannya peneliti ini menjelaskan bahwa rataan suhu dan kelembaban relatif selama proses transportasi pada M- CLOVE lebih rendah dibanding dengan keranjang konvensional. Perbedaan suhu yang terjadi sebesar 1,40C dengan perbedaan kelembaban relatif 2,5 persen. Perbedaan tersebut dikarenakan M-CLOVE memiliki desain tertutup sehingga terlindung dari paparan sinar matahari langsung dan memiliki sirkulasi dengan kipas yang dapat menjaga suhu dan kelembaban relatif konstan.

Alat angkut keranjang konvensional tidak memiliki perlindungan sama sekali terhadap paparan sinar matahari langsung, sehingga tubuh ayam broiler terpapar panas langsung dari sinar matahari yang akan meningkatkan suhu tubuh ayam broiler. "Pengangkutan menggunakan M-CLOVE dapat mengurangi tingkat stres ayam broiler dilihat dari suhu jengger, shank (kaki bagian bawah), dan rektal yang lebih rendah dibandingkan dengan ayam broiler yang diangkut menggunakan keranjang konvensional. Pelepasan panas lebih tinggi pada bagian shank dibandingkan pada bagian jengger ayam broiler," ujarnya. (bogor.tribunnews.com)





Masalah utama di balik rendahnya produktivitas sapi potong yakni kurangnya kecukupan sumber pakan. Di samping itu juga rendahnya kualitas nutrisi pakan terutama pada saat musim kemarau. Salah satu cara meningkatkan produktivitas sapi potong diantaranya pemanfaatan pakan kedelai.

Peneliti dari Fapet IPB, Asnath Maria Fuah, R. Priyanto, S. A. Rab, I K G Wiryawan meneliti daya dukung dan efisiensi produksi sapi Madura dengan pemanfaatan limbah kacang kedelai.

“Daya dukung limbah tanaman pangan merupakan suatu wilayah untuk menghasilkan atau menyediakan pakan berupa limbah tanaman pangan yang dapat menampung kebutuhan sejumlah populasi ternak ruminanansia tanpa melalui pengolahan,” ujar Asnath.

 Daya dukung limbah tanaman pangan dihitung dengan menggunakan beberapa asumsi kebutuhan ternak ruminansia. Hasil penelitian ini dengan PBBH (pertambahan bobot badan harian) terbaik yaitu pada perlakuan  dengan menggunakan 15 persen dan kulit polong kacang kedelai dan 20 persen ampas tahu dalam ransum.

“Hasil analisis ekonomi menunjukkan penggunaan limbah kedelai cukup efisien dan berpotensi sebagai pakan alternatif pengganti hijauan pada sapi madura,” ujarnya.

Ransum perlakuan P1 (rumput 40 persen + konsentrat 60 persen) memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi. Hal ini disebakan karena pada perlakuan P1 harga ransum rendah dan memiliki PBBH yang tinggi,” tandasnya.

Limbah kacang kedelai memiliki potensi untuk dijadikan sebagai pakan ternak ruminansia dengan melihat potensi dan daya dukungnya. Peneliti ini menjelaskan bahwa penggunaan limbah tanaman sebagai pakan ternak dalam skala besar masih memiliki kendala karena memiliki nutrisi yang beragam dan sebagian memiliki kualitas yang rendah. Upaya untuk meningkatkan nutrisi limbah tanaman dapat dilakukan dengan menggunakan cara fisik, amonisasi, dan mikrobiologis.