News

  • Prof. Muladno Kembali Aktif di IPB

    Guru Besar Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof.Dr. Muladno kembali aktif mengajar dan meneliti di IPB setelah sebelumnya selama 13 bulan 12 hari (per 1 juni 2015) ditugaskan oleh Presiden RI, Joko Widodo sebagai Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian RI. Dalam jumpa pers atas kembali aktifnya Prof. Muladno di Kampus IPB Baranangsiang Bogor, Senin (18/7), Prof. Muladno memaparkan beberapa kebijakan strategis yang berhasil dilakukan selama menjabat sebagai Dirjen. “Setidaknya hasil ini tidak memalukan IPB,” tegasnya.
     
    Selama 13 bulan menjabat, kebijakan strategis yang berhasil diterapkan dalam dunia peternakan adalah pertama, pembenahan industri dan bisnis-bisnis perunggasan. “Ternak unggas mengalami over suplly, sehingga tugas kami kemarin adalah memimpin perusahaan-perusahaan pembibitan unggas untuk menyeimbangkan jumlah supply demand. Akhirnya lahir peraturan Permentan tentang produksi, peredaran dan pengawasan Day Old Chicken (DOC),” ujarnya.
     
    Kedua, revitalisasi asosiasi. Saat ini ada 84 asosiasi atau perhimpunan di bidang peternakan dan kesehatan hewan. Banyak diantara asosiasi itu yang hanya sekadar kumpul-kumpul saja tanpa ada dokumen legalnya. “Kita dorong supaya asosiasi itu dibenahi, jangan sampai orang gampang buat asosiasi padahal legitimasinya diragukan,” ujarnya.
     
    Ketiga, adanya revisi peraturan menteri yang membuat bisnis sapi lebih kondusif seperti penghapusan biaya pemeriksaan penyakit sebelum sapi itu dikirim dari Australia ke Indonesia.
     
    “Tadinya biayanya itu 220 dollar per ekor. Nah kemarin setelah berkunjung ke Australia cek sana cek sini, akhirnya saya putuskan, setelah diskusi dengan otoritas kesehatan hewan, biayanya menjadi 50 dollar per ekor. Bayangkan kalau kita impor seribu ekor saja sudah berapa milyar yang bisa disimpan. Pencegahannya terlalu mahal dibanding realitasnya. Padahal penyakit tersebut amat sangat langka,” terangnya.
     
    Keempat, aturan impor sapi bakalan tadinya harus 350 kilogram (kg) per ekor. “Ini agak merepotkan karena jika ada sapi bakalan yang beratnya 355 kg maka itu sudah dianggap melanggar. Maka aturannya kemudian diubah menjadi rata-rata 350 kg per bacth,” imbuhnya.
  • Prof. Ronny Noor Jadi Adjunct Professor di Universitas di Australia

    Prof. Ronny Noor yang baru saja menyelesaikan tugasnya sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan selama 4 tahun di Australia mendapat kehormatan diangkat menjadi Adjunct Professor di almamaternya di University of New England (UNE), Armidale (NSW) Australia.

    Berdasarkan surat yang dikeluarkan oleh David Thorsen, Director of Human Resources  UNE, Prof. Ronny Noor akan menjalani peran barunya sebagai Adjunct Professor di School of  Environment and Rural Science, UNE selama 5 tahun mulai tanggal 1 Agustus 2017 disamping tugas utamanya sebagai Guru Besar di Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB). Adjunct Professor adalah seseorang yang diangkat oleh universitas untuk mengajar atau melakukan kegiatan lain bukan sebagai staf tetap, namun memberikan kontribusi secara periodik.

    Dalam keterangan kepada wartawan ABC Australia Plus, Sastra Wijaya, Prof. Ronny Noor menyatakan bahwa hal ini merupakan kehormatan besar bagi dirinya yang telah dipercaya oleh UNE  setelah menyelesaikan studi Master dan Doktornya 21 tahun yang lalu di universitas tersebut. "Disamping itu peran ini dinilai sangat strategis dalam pembangunan pertanian di Indonesia khususnya pembibitan ternak mengingat baik IPB  maupun UNE merupakan universitas universitas terkemuka yang memfokuskan dirinya pada ilmu ilmu pertanian dalam arti luas  yang memiliki reputasi internasional." kata Prof Ronny.

    Proses nominasi sebagai Adjunct Professor ini memerlukan  proses dan waktu yang cukup panjang, setelah sebelumnya UNE menganugerahkan Distinguished Alumni Award kepada Prof. Ronny Noor pada tahun 2016 lalu karena dinilai telah memberikan kontribusi besar dalam membangun kerjasama pendidikan dan penelitian antara Indonesia dan Australia dalam perannya sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan. Disamping itu nominasi ini juga mempertimbangkan rekam jejak prestasi akademis dan penelitian yang telah dibangun oleh Prof. Ronny Noor selama ini  setelah menyelesaikan studinya di University of New England dalam bidang genetika kuantitatif dan genetika ekologi serta pemuliaan ternak. Dalam peran barunya ini Prof. Ronny Noor akan bermitra dengan para staf pengajar di UNE termasuk dengan  Prof. Julius van der Werf  dan Dr Fran Cowley dari School of Environmental and Rural Science dalam  mengembangkan kerjasama pendidikan dan penelitian dalam bidang  genetika, pemuliaan serta sistem pembibitan  ternak tropis.

    Prof. Ronny Noor juga akan melakukan kerjasama pembimbingan mahasiswa kandidat doktor khususnya yang terkait dengan program the ACIAR Indobeef Projects yang saat ini sedang berjalan dalam rangka pengembangan sumberdaya manusia Indonesia di bidang peternakan. Indobeef project merupakan program kerjasama Indonesia dan Australia dalam bidang  pendidikan, penelitian dan pengembangan sumberdaya manusia  untuk pembibitan sapi pedaging di Indonesia.  Disamping itu program ini juga dimaksudkan untuk melakukan peningkatan  value chain peternakan sapi pedaging di Indonesia.

    Professor Ronny Noor akan berperan memfasilitasi kerjasama pendidikan dan pengajaran antara Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan UNE dan juga institusi terkait lainnya dalam mengembangkan petanian di Indonesia. Dalam peran barunya ini Prof. Ronny Noor menyatakan bahwa dirinya sangat optimis dapat mengembangkan kerjasama pendidikan dan penelitian lebih jauh lagi dalam upaya untuk memajukan pertanian Indonesia.

    Dalam bidang keilmuan Prof. Ronny R. Noor yang mendalami bidang Genetika Kuantitatif dan Genetika Ekologi ini selepas menyelesaikan PhD nya dari University of New England pada tahun 1994. Setelah itu melengkapi bidang keilmuannya dengan melakukan kerjasama penelitian dengan mengikuti program post-doctoral dan trainingnya di Jepang, Amerika, Jerman, Swedia, Malaysia serta Thailand. Selama karirnya Prof. Ronny R. Noor yang tercatat pernah menduduki posisi Dekan dan Wakil Kepala bidang penelitian Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada masyarakat Institut Pertanian Bogor (IPB). Dia juga telah membimbing dan meluluskan ratusan mahasiswa baik di di level S1, S2 dan S3.

    Di samping itu kegemarannya menulis telah menghasilkan ratusan judul baik dalam bentuk buku, karya ilmiah dan tulisan ilmiah popular lainnya. Dalam karirnya, Prof. Ronny R. Noor pernah tercatat membantu pengembangan sumberdaya manusia untuk pelestarian sumberdaya ternak di International Livestock Research Institute (ILRI) FAO. (australiaplus.com)

  • Program Sarjana Plus Logistik Peternakan

    Program Sarjana Plus Logistik Peternakan

    Program Satu Semester Sertifikat Profesional

     

    Menjamin penyediaan ternak dan produk ternak kepada konsumen secara berkesinambungan, meliputi pasca  panen, pergudangan, transportasi, keamanan dan kualitas produk
    Kompetensi :

    • Mampu mengimplementasikan keahlian di bidang logistik peternakan
    • Mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuan, teknologi, dan sains di bidang logistik peternakan
    • Mampu mengelola dan bekerja dalam tim secara  profesional, untuk menerapkan keputusan strategis di bidang logistik  peternakan

    Kualifikasi :

    • Lulusan S1 (Peternakan, Kedokteran Hewan, Logistik, Transportasi, Ekonomi, Teknik Industri, IKK);
    • Minimal telah mendapatkan Surat Keterangan Lulus (SKL)
    • Fresh graduate atau yang sudah bekerja
    • Individu atau utusan instansi/perusahaan

    More information :

    Sekretariat Program Sarjana Plus
    Fakultas Peternakan IPB, Wing 2 Lantai 4
    (0251) 8622841, Fax. 8622842
    alogistic@apps.ipb.ac.id
    +62 857 1737 0257 (CP: Dewi)

    Check our brochure : Brochure S1 Plus - Logistik Peternakan

  • Program Studi THT, satu satunya di Indonesia

    Fakultas Peternakan telah membuka Program Studi strata satu (S1) baru, yaitu Program Studi Teknologi Hasil Ternak (PS-THT). Program Studi ini diasuh oleh Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP), dimana bidang keilmuannya ini meliputi : teknik pengolahan dan rekayasa produk hewan ( makanan : daging , susu telur & madu), pengolahan hasil ikutan ( wol, kulit, tulang, dll ), sifat fungsional dari produk hewani & pengelolaan limbah.

    Program Studi Teknologi Hasil Ternak pada saat ini merupakan satu satunya program studi strata satu (S1) di bidang pengolahan hasil ternak di Indonesia, menjadikan PS-THT menjadi pilihan yang tepat menuju sukses di bidang pengolahan hasil ternak. Pada tahun 2016 ini, PS-THT hanya menerima pendaftaran dari jalur Ujian Talenta mandiri IPB (UTM) dengan daya tampung sebanyak 40 orang mahasiswa.

    Pendaftaran dapat dilakukan secara online melalui alamat  http://admisi.ipb.ac.id/p/single/utm. Syarat peserta adalah : lulusan SMA/MA IPA tahun 2014-2016, sehat jasmani dan rohani. Pendaftaran dapat dilakukan mulai 11 Mei - 9 Juni 2016. Ujian tertulis dengan materi ujian: Biologi, Fisika, matematika, Bahasa Inggris dan Tes Talenta , dilakukan pada tanggal 18 Juni 2016, dan pengumuman kelulusan pada tanggal 29 Juni 2016.

    Pada tahun 2017, Program ini membuka jalur masuk melalui SNMPTN, SMBPTN, UTMI, Beasiswa Unggulan Daerah (BUD), Prestasi Internasional_Nasional, dengan daya tampung 100 orang mahasiswa. untuk mendapatkan informasi mengenai semua jalur masuk tersebut, dapat mengakses alamat http://admisi.ipb.ac.id.

    Untuk mendapatkan informasi yang lebih mendetail, dapat menghubungi Departemen Imu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP), Fakultas Peternakan IPB, Jalan Agatis Kampus IPB Darmaga Bogor,telp. dan fax.  0251-8628379, email departemeniptp@gmail.com dan situs web http://iptp.fapet.ipb.ac.id

  • Rabuan Bersama Fakultas Peternakan IPB

    Fakultas Peternakan IPB, mengadakan rabuan bersama pertama kali dalam masa kepemimpinan dekan baru, Dr. Moh Yamin (24/02/2016). Rabuan adalah istilah yang biasa digunakan di fakultas Peternakan dan unit lain di IPB, dalam kegiatan rapat atau pertemuan yang diadakan pada hari Rabu. Kegiatan rapat tersebut dapat bersifat santai, serius, atau kekeluargaan.

    Rabuan kali ini diikuti oleh seluruh civitas akademika fakultas peternakan IPB, diantaranya staf pengajar, staf kependidikan, dan perwakilan organisasi kemahasiswaan Fapet IPB. Dekan Fakultas peternakan pada kesempatan ini juga memaparkan Program Kerja Dekan tahun 2015-2020, dan memperkenalkan Wakil Dekan baru yang menjabat di Fapet IPB.

    Acara ini juga dilangsungkan sekaligus untuk pisah sambut dekan lama dan baru, foto bersama staf pengajar dan staf kependidikan, dan diakhiri dengan ramah tamah dan makan siang.

     

  • Sapi Bali, aset nasional yang perlu dilestarikan

    Pemerintah perlu meningkatkan populasi dan produktivitas sapi Bali, aset nasional  yang tidak dimiliki negara lain.  Profesor Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) Ronny Rachman Noor mengatakan bahwa sapi Bali sering dinilai rendah oleh pemerintah karena mereka adalah ternak lokal (Kamis 19/04/2018) .

    “Padahal, sapi bali memiliki banyak kelebihan yang tidak dimiliki ternak jenis lain,” kata Ronny di kampus IPB di Baranangsiang.

    Sapi Bali Bukan hanya tahan terhadap penyakit dan lingkungan yang ekstrim, para ahli mengatakan sapi bali bisa mencerna makanan dengan kandungan serat yang tinggi. Sapi bali memiliki salah satu persentase karkas tertinggi di dunia. Dagingnya memiliki kadar kolesterol terendah dibandingkan dengan sapi lainnya.

    Dengan semua keunggulan itu, kata Ronny, sapi Bali telah menjadi komoditas utama yang banyak diminati oleh banyak negara, baik untuk pembibitan murni atau perkawinan silang untuk mendapatkan ternak berbiji campuran dengan produktivitas yang lebih baik.

    “Sapi bali adalah satu-satunya spesies ternak peliharaan yang nenek moyangnya masih hidup. Spesies ini langsung diturunkan dari kerbau yang masih bisa kita temukan di Taman Nasional Ujung Kulon dan Baluran. Nenek moyang kebanyakan sapi di dunia sudah punah, ”kata Ronny, yang telah meneliti sapi Bali selama 30 tahun.

    lebih lanjut Ronny menjelaskan sapi Bali telah diakui secara internasional sebagai sapi yang berasal di Indonesia. “Plasma nutfah super ini perlu dilindungi dengan kebijakan nasional sehingga dapat dilestarikan secara optimal,” kata Ronny (thejakartapost)

  • Selamat Idul Fitri 1437 H

  • Seminar dan Workshop Agribisnis Peternakan

    Himpunan mahasiswa produksi ternak IPB (Himaproter) telah mengadakan sebuah acara SWAP 2017. Acara ini terdiri atas Seminar,Workshop, serta Lomba BMC yang dilaksanan pada hari Sabtu, 6 Mei 2017 pukul 08.00 s.d 16.00 bertempat di Auditorium Fapet IPB. Peserta yang hadir sebanyak 20 orang dari kalangan umum serta 50 dari kalangan mahasiswa.

    Kegiatan ini dimulai dari sambutan oleh ketua pelaksana SWAP 2017 Eki Pratama Rivai lalu pembina Himaproter Sigid Prabowo serta Wakil Dekan bidang Akademik & Kemahasiswaan Fapet IPB Prof. Dr. Ir. Sumiati. M,Sc. Acara dilanjutkan dengan Seminar dari 2 pembicara dengan tema pertama yaitu Mempersiapkan wirausaha muda dalam menghadapi persaingan bisnis dunia peternakan di era globlisasi oleh Prof. Dr. Ir. Dewi Apri Astini serta tema kedua yaitu pemeliharaan kambing domba pada Bangunkarso Farm oleh Bapak Bangun Dioro

    Pada kegiatan Workshop dimulai dengan pemaparan Agroedutourism oleh Dr. Asnath M Fuah MS dilanjutkan dengan pemeliharaan kambing domba oleh Dr. Ir. Sri Rahayu MS dan diakhiri oleh pemaparan Pemeliharaan Jangkrik, Ulat Hongkong, dan Kroto Oleh Bapak Ade Yusdira CEO KrotoBond. Sedangkan Kegiatan BMC diikuti oleh 10 kelompok yang terdiri atas 3-5 orang, Kegiatan ini diawali oleh materi mengenai BMC lalu dilanjutkan dengan lomba BMC.

    Diharapkan dengan kegiatan ini para peserta dapat mendapat ilmu mengenai peternakan on-farm dan off-farm serta dapat menerapkan bisnis-bisnis terkait dengan peternakan.

  • Seminar Gerakan Protein Sehat 2017

    Gerakan Protein Sehat  telah mencapai acara puncaknya dengan diadakannya Seminar Gerakan Protein Sehat , yang diadakan pada hari Sabtu,  tanggal 20 Mei 2017. Seminar yang bertajuk “Protein Hewani untuk Cerdaskan Indonesia” diselenggarakan di Audit Mandiri IPB, pukul 08-selesai.

    Seminar yang dibagi menjadi dua sesi itu membahas pentingnya protein hewani untuk mencerdaskan masyarakat, kondisi ketahanan pangan di Indonesia. Seminar Sesi pertama  dimoderatori oleh Satria Juier Manpaki, SPt (Mahasiswa Berprestasi Fakultas Peternakan 2016). Pada sesi pertama ini dipaparkan informasi mengenai ketahanan pangan susu dan telur oleh Ir. Titiek Eko Pramudji, MSc. sebagai Kepala Subdit Pemasaran, Direktorat Pengolahan dan Hasil Pemasaran Peternakan, Kementrian Pertanian. Selain itu, kondisi dan potensi perunggasan lokal di Indonesia juga dipaparkan oleh Ade Meirizal Zulkarnaen sebagai Ketua Himpunan Unggas Lokal

    Pada Sesi kedua, Prof. drh. M. Rizal Damanik, MRepSc, PhD, Guru Besar dan Ahli Gizi Institut Pertanian Bogor memaparkan mengenai Pentingnya protein hewani bagi kesehatan. Sesi ini dimoderatori oleh Rini Yuniarti, SPt yang merupakan Delegates Student of Winter Course International Beef Production in Adelaide University, Australia 2016. Pemaparan mengenai kontribusi industri dalam ketersediaan protein (susu) juga dialukan oleh Doddy Cahyo Anggoro, SPt sebagai Quality Assurance FSQ for Manufacturing, Frisian Flag Indonesia.

    Rangkaian acara GPS 2017 telah berjalan dengan lancar.  Mulai dari GPS Mengabdi, Tour de (nine) Faculty dan acara puncak yaitu Seminar GPS 2017. Terima kasih kepada para pendukung acara GPS 2017. Total susu dan telur yang telah dibagikan adalah 600 liter susu dan 2017 telur.

  • Study Banding Himpunan Mahasiswa Rekayasa Pertanian ITB

    Himpunan Mahasiswa Rekayasa Pertanian ITB  melakukan kunjungan ke Fakultas Peternakan IPB, Rabu, 21 Desember 2016. Kunjungan tersebut dilaksanakan dalam rangka  studi banding dan silaturahmi serta saling sharing seputar manajemen keorganisasian dan pengembangan keilmuan.

    Rombongan yang berjumlah sekitar 12 orang mahasiswa ini diterima oleh perwakilan dari semua Organisasi kemahasiswaan Fapet IPB. Study banding diawali dengan presentasi yang dilakukan di Ruang Kerjasama Fapet IPB. Presentator dari Himarekta ITB diwakili oleh Adna Daniel selaku ketua divisi eksternal. Dari pihak Ormawa Fapet, presentasi dilakukan oleh masing-masing ketua ormawa dari mulai DPM, BEM, Famm Al An'am, Kepal D, Himaproter dan Himasiter. Dalam sesi ini dari masing-masing organisasi memaparkan struktur organisasi dan proker-proker yang ada di masing-masing organisasi.

    Setelah sesi presentasi dan diskusi kemudian para peserta studi banding melakukan kunjungan ke tempat-tempat penting di lingkungan fakultas peternakan sampai ke LK Fapet. Para peserta studi banding berkeliling kandang A dan B sambil menikmati dinginnya dan nikmatnya susu Fapet. Sesi terakhir adalah penyerahan kenang-kenangan dari Himarekta ITB ke Ormawa Fapet dan selanjutnya diadakan foto bersama langsung di lahan pastura kandang B. Pukul 17.15 rombongan dengan menggunakan mobil listrik menuju Masjid Al-Hurriyah untuk selanjutnya pulang ke Bandung (Source : DPM-D Fapet IPB).

  • Swasembada Daging Kehilangan Arah

    Ronny Rachman Noor  ;   Guru Besar Pemuliaan dan Genetika IPB;

    Adjunct Professor di University of New England, Australia

     KOMPAS, 13 Februari 2018

    Dalam beberapa bulan ke depan— menjelang bulan puasa—dapat dipastikan ritual tahunan gejolak harga daging kembali terjadi. Kondisi berulang ini akibat laju produksi daging tidak mampu mengikuti laju permintaan daging.

    Dalam upaya memecahkan masalah inilah program swasembada daging digulirkan lebih dari 10 tahun lalu. Namun, sejak awal, program swasembada daging mengundang pro dan kontra. Data empiris menunjukkan bahwa program swasembada daging tidak akan pernah dapat terwujud jika tidak ada langkah ekstrem dalam pembibitan sapi, tulang punggung penyedia ternak bakalan untuk ternak potong.

    Suplai kurang

    Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016 menunjukkan, populasi sapi potong dalam kurun waktu 2009-2016 di Indonesia sebenarnya sudah sedikit meningkat. Akan tetapi, peningkatan tersebut belum mampu memenuhi permintaan  kebutuhan daging nasional.

    Produksi daging sapi dalam negeri tahun 2017 malah defisit. Sapi lokal hanya mampu menyediakan 354.770 ton daging, sedangkan kebutuhan daging nasional mencapai 604.968 ton. Artinya, produksi daging nasional hanya mampu memenuhi 58,74 persen dari kebutuhan. Untuk memenuhi kekurangan 30-40 persen, pemerintah harus mengimpor sapi bakalan dan daging  (Ditjen PHK, 2017).

    Dari proyeksi Pola Konsumsi dan Produksi Daging Nasional Periode 2014-2020 yang diolah dari Pusdatin Pertanian (2016) diketahui kecenderungan kekurangan pasokan daging di Indonesia akan terus berlangsung sampai tahun 2020.

    Jika data produksi daging dan konsumsi daging rumah tangga diproyeksikan sampai tahun 2020, maka pertumbuhan produksi daging sapi sampai tahun 2020 meningkat 1,93 persen, sedangkan laju peningkatan konsumsi daging pada periode yang sama mencapai 1,35 persen.

    Namun, mengingat produksi daging ini belum dapat memenuhi kebutuhan konsumsi, tahun 2020 akan terjadi kekurangan daging sapi 0,17 persen.

    Belum berdampak

    Program swasembada daging ini harus diakui berhasil menarik perhatian banyak pihak, termasuk dalam hal lebih besarnya pengalokasian anggaran untuk program ini dan program lain  terkait bidang peternakan. Namun, jika dilihat pergerakan pola permintaan dan produksi daging dalam kurun waktu 2014-2020, program ini tidak banyak berdampak pada pengurangan gap antara permintaan dan produksi yang semakin melebar.

    Upaya pengurangan impor sapi dan daging beku yang telah diupayakan dalam lima tahun terakhir memang sudah mulai terlihat dampaknya: penurunan angka impor sapi hidup dan daging, terutama yang berasal dari Australia. Namun, mengingat produk daging  sapi lokal masih belum mampu memenuhi permintaan daging nasional, ke depan impor sapi hidup dan daging masih harus dilakukan.

    Ketergantungan Indonesia akan sapi impor dalam pemenuhan kebutuhan daging memang sudah selayaknya diupayakan untuk terus diturunkan seiring dengan upaya untuk peningkatan produksi daging dalam negeri yang peran sapi lokal di dalamnya cukup besar.

    Di samping pengurasan devisa, impor sapi hidup dan daging beku yang tidak terkendali akan meningkatkan ketergantungan Indonesia pada negara lain. Situasi ini akan menjadi sangat berbahaya ketika suatu saat nanti Indonesia tidak dapat lagi mengimpor sapi dan daging beku karena negara pengekspor menghentikan pasokan akibat perubahan situasi politik, bencana alam, dan faktor lainnya.

    Program peningkatan populasi dilakukan melalui program sapi kembar dan juga pemasukan materi genetik sapi jenis belgian blue. Sapi ini berkarakter double muscle yang saat ini sedang digulirkan oleh Kementerian Pertanian secara matematis dapat meningkatkan produksi daging, tetapi secara teknis kedua program ini akan menghadapi banyak kendala, sehingga tingkat keberhasilan kedua program sangat kecil sebagai solusi dalam upaya peningkatan produksi daging nasional.

    Hilang orientasi

    Kehilangan orientasi dalam program swasembada daging nasional ini memang sangat mengkhawatirkan mengingat keterbatasan anggaran pemerintah. Hal ini mengharuskan penggunaan anggaran secara efisien dan tepat sasaran. Oleh sebab itu, daripada melaksanakan program mercusuar yang berdampak sangat kecil terhadap pencapaian swasembada daging, lebih baik memfokuskan program pemberdayaan ternak lokal melalui peningkatan mutu genetik dan perbaikan manajemen pemeliharaan dan pakan agar produktivitas dan populasinya meningkat.

    Dalam jangka panjang program persilangan antara ternak lokal dan ternak eksotik harus diarahkan untuk membentuk synthetic breed yang komposisi gen dan produktivitasnya lebih stabil sehingga akan berfungsi sebagai ternak bibit dan dapat dikembangkan lebih lanjut melalui perbanyakan populasi ternak silangan dalam mendukung produksi daging nasional.

    Oleh karena itu, ke depan, program pembentukan breed sintetik sapi  Indonesia perlu dijadikan prioritas agar dalam jangka panjang Indonesia memiliki breed sapi yang dapat diandalkan produksi dagingnya dan dapat menunjang kebutuhan daging nasional.

    Perlu reorientasi

    Mengingat sulitnya mewujudkan program swasembada daging nasional, perlu adanya reorientasi visi ke arah  swasembada protein hewani. Melalui program swasembada protein hewani, semua potensi ternak lokal penghasil daging seperti sapi, kambing, domba, ayam, itik, dan kelinci, juga telur seperti telur ayam, itik, puyuh, serta susu , akan dapat dilibatkan untuk mendukung program ini.

    Di samping itu, sektor perikanan diharapkan dapat berperan besar mewujudkan swasembada protein hewani ini melalui peningkatan konsumsi ikan.

    Program terpadu swasembada protein hewani ini diharapkan tidak saja mengefisienkan biaya, tetapi juga menghilangkan sekat-sekat yang selama ini menghambat kerja sama lintas sektor yang sangat diperlukan dalam pembangunan nasional. Dengan hilangnya sekat-sekat ini diharapkan swasembada protein hewani dapat diwujudkan dalam waktu dekat untuk mendukung program peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia mendatang yang lebih cerdas

  • Terpilih Sofyan, Ketua Fortendik IPB Periode 2018-2020

    Tenaga kependidikan (tendik)  Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan non PNS  Institut Pertanian Bogor (IPB)  melakukan pemilihan atau pencoblosan surat suara untuk memilih Ketua Forum Tenaga Kependidikan (Fortendik) IPB periode 2018-2020 pada Kamis (23/8) pukul 08.00-13.00, di Gedung Graha Widya Wisuda dan di Kampus Sekolah Vokasi IPB. Acara pemilihan atau pencoblosan surat suara untuk memilih Ketua Fortendik periode 2018-2020 dimeriahkan  bazar dandoorprize. 

    Ketua Panitia Pemilihan Fortendik IPB, Ir. Setyo Edy Susanto,S.Th.I, M.Pd menyampaikan, “Alhamdulillah panitia telah melaksanakan pemilihan untuk memilih Ketua Fortendik Periode 2018-2020 dengan jumlah pemilih terdaftar sebanyak  2.736 orang. Jumlah yang menggunakan hak pilih sebanyak 1.241 orang.  Untuk pemilihan ini, panitia mencetak surat suara sebanyak  2.000 lembar.”

    Edy menambahkan dari hasil rekapitulasi suara dalam pemilihan Ketua Fortendik  IPB yang telah berhasil dihimpun panitia, Sofyan, S.Si., M.Si, salah satu staf tenaga kependidikan di Fapet IPB meraih  608 suara, Roesdi Trijadhi meraih 315 suara, Vera Nora Indra Astuti, S.Pt., M.M. meraih 213 suara, Ir. Rita Komalasari  meraih 53 suara,  Ir. Titi Riani, M.Biomed meraih 48 suara dan sebanyak 4 suara tidak sah.

    “Sebagai panitia, Kami selanjutnya akan melaksanakan penyerahan berita acara pemungutan suara dan penghitungan suara kepada Rektor IPB, dilanjutkan dengan Pelantikan Ketua Fortendik oleh Rektor IPB dan  serah terima jabatan dari Ketua Fortendik periode sebelumnya kepada Ketua Fortendik yang baru saja terpilih. Kemudian dilakukan penyusunan pengurus Fortendik, dan pembuatan SK Rektor tentang pengurus Fortendik,” kata Edy.

    Selanjutnya Edy menyampaikan dengan terpilihnya Sofyan, SSi.MSi sebagai Ketua Fortendik  diharapkan dapat  menyatukan seluruh tendik secara bijak, harmonis, dan kekeluargaan. “Salah satu contoh yang paling sederhana  adalah jangan sampai ada beberapa Whatsapps Group Fortendik yang berjalan masing-masing tanpa mau bergabung, kecuali bila kapasitas anggotanya sudah penuh.  Selanjutnya memperjuangkan pengembangan kapasitas dan kemajuan dari para tenaga kependidikan yang mencakup pendidikan, kompetensi, jenjang karir, dan kesejahteraan. Hak dan kewajiban tenaga kependidikan  harus senantiasa dipantau dan diarahkan sesuai aturan-aturan yang berlaku, agar tenaga kependidikan tumbuh dan berkembang dan dapat menjalankan amanah tri darma perguruan tinggi bersama sivitas akademika lainnya, secara baik, benar, berkeadilan dan harmonis demi kemajuan tenaga kependidikan  IPB di masa datang,” paparnya. 

    Sementara itu Ketua Fortendik Periode 2018-2020, Sofyan menyampaikan, “Saya  ingin menjadikan Fortendik IPB  sebagai wadah silaturahim antar tenaga kependidikan, agar terjalin hubungan yang solid, humanis, kekeluargaan dan wadah untuk bisa menjembatani penyampaian aspirasi hak-hak dan kewajiban tenaga kependidikan PNS maupun Non PNS  di lingkungan IPB dengan harapan lebih meningkatkan kesejahteraan tenaga kependidikan serta sebagai forum yang akuntabel, transparan dan profesional.” (ipb.ac.id)

  • Tingkatkan Produktivitas Kelinci New Zealand White, Mahasiswa IPB Rekayasa Pencahayaan

    Kelinci merupakan salah satu hewan ternak yang berpotensi sebagai penghasil daging dan sumber protein hewani yang baik. Sebagian masyarakat belum mengetahui bahwa daging kelinci memiliki kandungan protein yang tinggi dan rendah kolesterol.

    Umumnya masyarakat memperoleh kebutuhan daging dari daging sapi, kerbau dan unggas. Potensi lain dari ternak kelinci adalah karena ukuran tubuh yang kecil,  sehingga tidak membutuhkan banyak ruang, tidak memerlukan biaya yang besar untuk investasi ternak dan kandang, umur dewasa yang singkat, kemampuan berkembang biak yang tinggi, dan masa penggemukan yang singkat.

    Kelinci pedaging yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah  jenis New Zealand White, namun pertumbuhannya di Indonesia tidak secepat di negara sub tropis. Perbedaan pertumbuhan ini disebabkan karena perbedaan geografis dan lingkungan. Kelinci lebih menyukai suhu lingkungan yang sejuk. Penelitian atau kajian pun sudah banyak dilakukan untuk meningkatkan performa produksi kelinci, salah satu caranya adalah memanipulasi lingkungan.

    Hal inilah yang mendasari mahasiswa dari Institut Pertanian Bogor (IPB), yaitu Randi Novriadi dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB untuk melakukan suatu penelitian untuk meningkatkan produksi kelinci New Zealand White. Di bawah bimbingan Dr. Moh Yamin, dan Dr. Yono C Raharjo, Randi melakukan rekayasa pencahayaan dan memberikan pakan protein tinggi.

    “Cahaya akan menstimulasi pola sekresi beberapa hormon yang mengontrol sebagian besar pertumbuhan, dewasa kelamin dan reproduksi. Tingkat intensitas cahaya pada kelinci yang cukup adalah 30-40 lux atau setidaknya 50 lux. Peningkatan lama pencahayaan diharapkan dapat meningkatkan aktivitas makan kelinci, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan bobot badan kelinci New Zealand White,” ujarnya.

    Pencahayaan selama 24 jam pada kelinci lepas sapih bisa meningkatkan konsumsi pakan harian, meningkatkan pertumbuhan bobot badan harian, dan memberikan income over feed costyang lebih tinggi dibandingkan taraf perlakuan lainnya.

    “Melalui penelitian ini, dapat dibuktikan bahwa lama pencahayaan selama 24 jam dan pemberian pakan berprotein tinggi mampu meningkatkan pertumbuhan bobot badan kelinci New Zealand White,” jelasnya. (ipb.ac.id)

  • Unik, Perekat Organik dari Limbah Bulu Ayam dan Tulang Sapi Buatan Mahasiswa IPB

    Mahasiswa Indonesia memang tiada hentinya berusaha menciptakan beragam inovasi yang mampu menjadi solusi dari permasalahan yang ada di lingkungan sekitar. Kadangkala, inovasi yang diciptakan mahasiswa itu berupa pemanfaatan bahan-bahan yang tak terpikirkan sebelumnya. Seperti inovasi di bidang penelitian karya mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) ini. Mereka membuat perekat organik dari limbah bulu ayam dan tulang sapi.

    Inovasi penelitian ini berhasil mendapatkan pendanaan dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti RI) melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) di bidang Penelitian pada tahun 2018. Mereka adalaha  Rahayu Lestari, Erik Kurniawan dan Hasana Aqiroh di bawah bimbingan Iyep Komala, SPt, M,Si. mereka berhasil memanfaatkan limbah yang mengganggu kondisi lingkungan sekitar menjadi inovasi yang bernilai ekonomi.

    Ayam dikenal sebagai unggas yang daging maupun telurnya digemari oleh masyarakat. Penjualan dan konsumsi ayam terus meningkat dari tahun ke tahun. Dengan meningkatnya konsumsi ayam oleh masyarakat maka meningkat pula limbah yang akan dihasilkan sehingga mengalami penumpukan. Oleh sebab itu, perlu dilakukan inovasi terhadap limbah dari hasil konsumsi ayam agar tidak terjadi penumpukan.

    “Bulu ayam adalah bagian limbah ayam yang banyak menghasilkan sampah dalam jumlah cukup besar. Sehingga kami berpikir untuk memanfaatkan limbah bulu ayam ini menjadi sesuatu yang bernilai secara ekonomi dan mengurangi sampah akibat limbah bulu ayam. Bulu ayam mengandung protein keratin yang berdaya rekat cukup baik. Selain itu, kami mengombinasikan dengan tulang sapi. Tulang sapi mengandung kolagen yang juga memiliki daya rekat tinggi. Oleh karena itu kedua limbah ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk perekat (glue),” papar Rahayu sebagai ketua program penelitian ini.

    Beberapa keunggulan perekat organik dari limbah bulu ayam dan tulang sapi ialah bahan utamanya diperoleh dari limbah yang mudah didapatkan, kemudian proses pembuatan yang tidak rumit. Salah satu cara ekstraksi kolagen adalah dengan cara asam untuk dipekatkan menjadi perekat. Bulu ayam yang digunakan merupakan limbah dari tempat pengolahan ayam, restoran, rumah makan dan juga limbah rumah tangga.

    Mereka berharap perekat organik dari limbah dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan juga kesadaran dan wawasan pemanfaatan limbah menjadi barang daya guna di masyarakat harus lebih dioptimalkan (ipb.ac.id)

  • Visitasi Renewal Audit ISO 9001:2015 dari Sucofindo

    SUCOFINDO melakukan audit (Visitasi Renewal Audit ISO 9001: 2015)  terhadap pelaksanaan pelayanan akademik di Fakultas Peternakan IPB Pada tanggal 3-4 Agustus 2017. Bertindak selaku auditor adalah Bapak Holys dan Ibu Chintia, yang didampingi oleh tim dari Fakultas Peternakan IPB. Pada tahun ini Fakultas Peternakan mengembangkan cakupan penerapan ISO  dalam pelayanan akademik sampai ke tingkat departemen. Dua Departemen tersebut adalah Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan dan Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan. Adapun tujuan renewal audit ini adalah untuk Memastikan kesesuaian Sistem Manajemen Mutu Organisasi serta Memastikan Sistem Manajemen Mutu Organisasi sesuai dengan persyaratan ISO 9001:2015.

    Audit eksternal yang berlangsung selama dua hari tersebut, diawali dengan Rapat Pembukaan pada Hari Kamis, 3 Agustus, pukul 9.30 pagi, yang dilanjutkan dengan pemeriksaan kesesuaian pelaksanaan kegiatan pelayanan dengan POB yang telah dituliskan dalam dokumen ISO di Bidang Management Representative, dan kemudian dilakukan audit di bidang layanan akademik di tingkat Departemen. Pada hari Kedua, Jumat, 4 Agustus 2017, kegiatan audit dilanjutkan dengan pemeriksaan dokumen bidang akademik, dan ketatausahaan dan infrastruktur/maintenance.

    Dari  bidang-bidang  yang diperiksa kesesuaiannya, masih ditemukan adanya kekurangan-kekurangan, pencapaian target yang tidak tercapai, dan beberapa kekurangan lain. Semua menjadi masukan dan koreksi yang sangat berharga bagi Fakultas Peternakan, untuk dapat diperbaiki di masa mendatang, demi terlaksananya pelayanan akademik yang berkualitas. Setelah seluruh rangkaian kegiatan audit ini selesai, maka pada sore harinya sekitar pukul 14.30 dilakukan penutupan oleh Dekan Fakultas Peternakan.

    Semoga kita dapat terus bersinergi demi kemajuan Fakultas Peternakan IPB, masyarakat, dan bangsa Indonesia.

  • Wafer untuk Penggemukan Sapi dari Mahasiswa IPB Dikenalkan ke Peternak di Brebes

    Dalam ilmu gastronomi (tata boga), wafer merupakan biskuit renyah dan manis. Berbentuk tipis, datar, dan kering. Sering digunakan sebagai penghias eskrim dan selipan cokelat batangan. Namun, bagaimana jika wafer digunakan untuk pakan ternak?

    Wafer untuk konsumsi hewan ternak digunakan untuk penggemukan sapi dan sejenisnya. Disebut wafer lantaran bentuknya yang mirip dengan wafer yang kerap dikonsumsi manusia. Ya, makanan hewan ternak sapi tidak melulu reremputan hijau, daun jagung, dan sebagainya. Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan inovasi makanan ternak, yakni dengan memanfaatkan limbah pasar dan tumbuhan yang ada di lingkungan sekitar atau mudah didapat sebagai bahan baku.

    Inovasi itu diciptakan guru besar Fakultas Peternakan IPB, Prof Yuli Retnani. Di Brebes, para peternak sapi diajarkan cara membuatnya oleh mahasiswa IPB.  IPB bekerjasama dengan Badan Perencanaan Penelitian dan Pembangunan Daerah (Baperlitbangda), Dinas Peternakan, dan kelompok ternak untuk mengembangkan pakan bersih tersebut di Desa Buara, Kecamatan Ketanggungan, Brebes, Kamis (16/8/2018).

  • Wakil Dekan Baru Fapet IPB

    Fakultas Peternakan IPB memiliki Wakil Dekan baru periode 2015-2020, yang  telah dilantik oleh Rektor IPB pada Jumat, 12/2/2016. Kedua wakil Dekan itu adalah Prof. Dr. Ir. Sumiati, M.Sc yang menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, dan Dr. Rudi Afnan, S.Pt., MSc.Agryang menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Sumberdaya, Kerjasama dan Pengembangan.

    Prof. Sumiati

    Dr. Rudi Afnan

    Sebelumnya, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan dijabat oleh Dr. Ir. Mohammad Yamin, M. Sc. Agr,yang saat ini telah diangkat menjadi Dekan Fapet IPB, dan Wakil Dekan Bidang Sumberdaya, Kerjasama dan Pengembangan dijabat oleh Prof. Dr. Ir Sumiati, M.Sc. selamat Bertugas !

  • Workshop "Kontribusi Logistik Peternakan untuk Ketahanan Pangan Indonesia"

    Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) mengadakan Workshop "Kontribusi Logistik Peternakan untuk Ketahanan Pangan Indonesia" pada hari Kamis, 24 maret 2016, di ruang sidang Fakultas Peternakan IPB darmaga Bogor.  Forum yang  digagas oleh Fakultas Peternakan IPB ini merupakan forum non badan hukum sebagai wadah berbagi ide, menjalin kerja sama antara pendidikan tinggi, pemerintah, bisnis, dan komunitas peternak. Acara diawali dengan Pembukaan oleh Dekan Fakultas Peternakan IPB, dilanjutkan dengan Launching Website dan Newsletter, dan Pemaparan Program Tahun 2016.

    Workshop kali ini menghadirkan pembicara  Direktur Pengolahan Pangan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian RI, Ir. FINI MURFIANI, MSi kemudian  Kepala Seksi Pengujian Hewan, Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian RI,  drh. IMRON SUANDY, MVPH dan dilanjutkan dengan perwakilan dari Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI), Prof. Dr. Ir. NAHROWI, MSc.

    Adapun Website Forum Logistik peternakan Indonesia dapat diakses di alamat http://flpi-alin.net.