News

  • Himaproter IPB Gelar Festival Ayam Pelung 2014

    Himpunan Mahasiswa  Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (Himaproter) Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Fakultas Peternakan (IPTP Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB), Sabtu (1/11) kembali menggelar Festival Ayam Pelung Nasional 2014.

    Kegiatan tahunan yang ke-6 ini diikuti oleh 92 ekor ayam, dan dibuka secara resmi oleh Sekretaris Departemen IPTP Fapet IPB Dr Asep Gunawan. Bertempat di lapangan Rektorat Andi Hakim Nasoetion Kampus IPB Dramaga Bogor, Dr Asep dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada para pencinta ayam pelung  yang telah berpartisipasi dalam festival tersebut. Menurutnya, secara tidak langsung para pencinta ayam pelung ini telah membantu dalam melestarikan plasma nutfah Indonesia berupa ayam yang memiliki bobot badan lebih besar dibanding ayam lainnya ini.

    Ketua Panitia, Muhammad Sukri, menerangkan festival ini memperebutkan piala bergilir Kementerian Pertanian RI, piala tetap, dan sejumlah uang tunai. Mahasiswa Departemen IPTP angkatan 49 ini mengatakan, penilaian yang dilakukan oleh dewan juri dari Himpunan Pencinta ayam Pelung Indonesia (Himapi) ini meliputi kategori suara, bobot badan, dan penampilan. Mengenai suara, Sukri menyebut ayam pelung memiliki suara yang khas dengan durasi mencapai 15 detik. Sementara ayam broiler dan ras hanya mampu bersuara tiga sampai lima detik saja. (Sumber : ipb.ac.id)
  • Himasiter Selenggarakan Training Formulasi Pakan

    Keresahan sering terjadi pada peternak yaitu pada masalah PAKAN, terkait dengan ketersediaan dan harga pakan.  Sering kali peternak menanyakan ketersediaan pakan, terutama pada saat musim kemarau. Tanpa kita sadari, sebenarnya pakan tersebut tersedia berlimpah, hanya saja banyak peternak belum menyadari terkait kekayaan tersebut.

    Himpunan Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak (HIMASITER) Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor mencoba menjawab keresahan yang terjadi selama ini yaitu pengetahuan terkait POTENSI BAHAN PAKAN LOKAL, dengan menyelenggarakan Feed Formulation Training 2016 (FFT-2016) pada tanggal 24-25 September 2016. Training yang bertempat di Ruang Sidang Fapet dan Gedung Pusat Komputer IPB ini merupakan salah satu kegiatan rutin yang diselenggarakan setiap tahun oleh HIMASITER.  Peserta training banyak yang berasal dari kalangan professional baik dari industri pakan maupun industri peternakan, disamping itu pelatihan ini juga diikuti oleh mahasiswa yang berasal dari Bogor dan Jakarta. Tema pelatihan  pada tahun ini adalah "Formulasi Ransum Ruminansia Berbasis Bahan Pakan Lokal".

    Acara dibuka pada pukul 10.30 oleh Dr. Widya Hermana, dengan membunyikan angklung sebagai peresmian pembukaan. Pelatihan pada tahun ini menghadirkan trainer yang ahli di bidang pakan, diantaranya: Prof. Nahrowi Ramli, Prof. Luki Abdullah, Dr. Idat Galih Permana dan Dr. Heri Ahmad Sukria. Materi pelatihan yang dipaparkan adalah: Strategi Pengolahan Pakan lokal,  manajemen penyediaan hijauan pakan, dan formulasi pakan dengan least cost balance nutrition ration dengan menggunkan winfeed.

    Himasiter (Himpunan Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak) merupakan salah satu lembaga kemahasiswaan non struktural yang berada di bawah naungan Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor yang berbentuk organisasi kemahasiswaan yang mewadahi kegiatan profesi mahasiswa di lingkungan IPB pada umumnya dan Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan  pada khususnya serta memiliki karakteristik pengembangan keahlian dan keterampilan teknis di bidang nutrisi dan makanan ternak.

  • Hobi Berkuda, Mahasiswa IPB Ini Raih Medali Emas

    Reza Aulia Putra, mahasiswa Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB), mewakili Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Berkuda IPB meraih mendali emas dalam Djiugo Final (equestrian show jumping). Dalam kompetisi yang diadakan oleh Djiugo ini Reza berhasil melewati rintangan setinggi 70 cm kategori senior yang diadakan di Arthayasa Stable, Depok (14-15 /4). Peserta yang ikut berkompetisi sebanyak 28 club dari berbagai daerah di Indonesia.

    Reza sudah menekuni hobi berkudanya sejak tahun pertama perkuliahan (2015). Ia bercerita bahwa rasa sukanya terhadap aktivitas berkuda tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Ia tidak bisa melewati satu hari tanpa melihat kuda.

    “Saya senang kalau lihat kuda, senang merawatnya, senang menungganginya. Orang lain tidak akan tahu apa yang kita rasakan saat naik kuda. Bagi saya kuda adalah sahabat saya,” ujar Reza.

    Reza juga menceritakan bagaimana pengalamannya saat jumping dengan menunggangi kuda equestrian  dengan ketinggian 70 cm saat perlombaan.

    “Kuda equestrian itu sejenis kuda berdarah hangat dan kuda silangan antara kuda lokal dengan kuda dari luar negeri. Biasanya kudanya memiliki langkah yang bagus dan kuat. Saat saya jumping melewati rintangan 70 cm itu, rasanya seperti melayang di udara bersama kuda. Rasanya senang sekali apalagi bisa meraih medali emas,” jelas Reza.

    Tidak hanya sekedar hobi, Reza juga bercita-cita menjadi penunggang kuda yang profesional. Sedari awal memasuki UKM Berkuda di IPB, Reza sudah rajin berlatih, mengikuti berbagai ajang perlombaan kuda dan magang di beberapa sekolah berkuda untuk menambah pengalamannya berinteraksi dengan berbagai jenis kuda, salah satunya kuda equestrian. 

    “Di daerah saya tinggal, tidak ada kuda equestrian. Saya ingin mengembangkannya di sana untuk semua kalangan masyarakat,” harap pemuda asal Aceh ini.(ipb.ac.id)

  • Ikhsan Suhendro, Marbot Masjid Jadi Lulusan Terbaik Wisudawan IPB

    Ikhsan Suhendro, marbot Masjid Al Hurriyyah Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) asal Lampung sukses menorehkan prestasi gemilang sebagai wisudawan terbaik bulan ini.Hal itu terungkap dalam upac ara wisuda tahap VI Program Sarjana, Profesi Dokter Hewan, dan Pascasarjana tahun akademik 2017/2018 di Graha Widya Wisuda, Kampus IPB Dramaga Bogor, Rabu (21/3/2018).

    Ikhsan yang dinobatkan sebagai lulusan terbaik Fakultas Peternakan IPB menuturkan, kampusnya adalah 'Kampus Rakyat' bagi pemuda daerah yang tidak cukup biaya untuk berkuliah. Putra kelahiran Lampung 12 Desember 1994 ini mengatakan mahasiswa itu punya tiga pilihan, sambil menunjukkan jarinya, yaitu akademik, organisasi dan istirahat.  "Tapi dari tiga pilhan itu kita hanya bisa memilih dua. Yang dua akan kita dapatkan dengan baik, tetapi yang satu tentu harus dikorbankan. No problem, no pain no gain, karena istirahat sesungguhnya adalah ketika sudah mati," ujarnya.

    Untuk memenuhi hasratnya berorganisasi, Ikhsan memilih mendaftar sebagai marbot Masjid Al Hurriyyah di Kampus IPB Dramaga. Alasannya adalah selain menjadi wadah pengembangan bakat dan pengembanan amanah, Ikhsan mendapatkan mess atau asrama gratis.

    "Tanpa pikir panjang langsung mendaftar. Singkat cerita akhirnya lolos dan diterima menjadi marbot Masjid Al Hurriyyah, alhamdulillah. Hal yang menjadi pembeda dari menjadi marbot di maskam (masjid kampus) IPB dibanding maskam lain adalah kepengurusan kelembagaan masjid dan tim pembersih yang sudah ada orangnya dan sudah tersusun rapih, sehingga tugas kami sebagai marbot adalah menjadi panitia di hari besar agama Islam, pemakmur masjid, pengelola kajian rutin, dan pengembangan bakat diri," tuturnya.

    Saat menjadi marbot, rutinitas sehari-hari Ikhsan salat tahajud sebelum salat subuh, dilanjutkan syuro (musyawarah), lalu mengikuti kajian rutin di Aula Masjid Al Hurriyyah sebelum berangkat kuliah.

  • Inovasi Pakan Indigofera Raih Penghargaan Gubernur Jabar

    Pakan adalah makanan yang diberikan untuk ternak. Zat terpenting dalam pakan adalah protein. Saat ini bahan pembuatan pakan sebagian besar berasal dari bungkil kedelai yang diperoleh  dari impor. Salah satu dosen Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Luki Abdullah mengembangkan pakan hijauan (green concentrate) berbahan utama berupa daun tanaman indigofera (polong-polongan) sebagai substitusi bungkil kedelai.

    Pakan indigofera mengandung protein tinggi, mampu meningkatkan target produksi ternak, mengurangi biaya produksi dan dapat diberikan pada hampir semua hewan ternak seperti : sapi, kambing, domba, unggas, kelinci serta ikan.

    Prof. Luki  mengungkapkan pemilihan tanaman indigofera sebagai substitusi pakan berbahan bungkil kedelai melalui tahap penelitian panjang untuk mencari bahan yang tepat. Awalnya banyak sekali kemungkinan dari tanaman lain, lalu terpilihlah tanaman indigofera yang  mengandung sekitar 60 persen dari asam amino bungkil kedelai. Selain itu, tanaman indigofera dipilih karena mudah diperoleh, mudah berbiji, mudah menghasilkan benih, mudah dikembangkan dan tersedia di Indonesia, sehingga dapat mengurangi impor.

  • IPB dan PT Holcim Gelar Panen Perdana Rumput Gajah (Odot) dan Indigofera

    Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (P2SDM) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB) bekerja sama dengan PT. Holcim Indonesia Tbk mengadakan panen perdana kebun pembibitan hijauan pakan ternak, yaitu panen rumput gajah mini (odot) dan indigofera (18/1) di lahan bekas tambang Desa Nambo Kecamatan Klapanunggal Bogor.

    Sekretaris P2SDM LPPM IPB, Warcito, SP, MM mengatakan bahwa program bertajuk stasiun lapang agrokreatif pembibitan pakan hijauan ternak ini dirintis sejak tahun 2016. Program pendampingan yang dilakukan adalah mendampingi petani pengguna lahan PT. Holcim untuk menanam rumput gajah (odot) dan indigofera, sehingga para peternak sapi dan domba dapat dengan mudah mengambil untuk ternak peliharaannya. Selain itu, IPB juga mengembangkan skala usaha  pembangunan stasiun lapang agrokreatif untuk penggemukan ternak domba di wilayah kerja PT. Holcim Tbk.

    Manajer PT. Holcim Indonesia TbkEdi Prayitno menyampaikan program pembibitan rumput gajah mini (odot) dan indigofera merupakan upaya PT. Holcim Tbk dalam membantu menyediakan pakan ternak bagi peternak di sekitar wilayah kerja PT. Holcim Tbk. “Harapannya peternak dapat dengan mudah mencari dan mendapatkan makanan ternak atau  pakan untuk penggemukan ternaknya,” ujarnya.

  • IPB dan PT. Antam Canangkan Pengembangan Hijauan Pakan Ternak

    Direktorat Kajian Strategis dan Kebijakan Pertanian (Dit. KSKP) Institut Pertanian Bogor (IPB) bekerjasama dengan Divisi Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Antam (Persero) Tbk mencanangkan pengembangan hijauan pakan ternak, Selasa (5/1). Pencanangan yang mengambil tempat di Kebun Bukit Arroyan, Desa Antajaya, Kecamatan Tanjung Sari Kabupaten Bogor ini  diadakan dalam rangka menyongsong swasembada daging dan penguatan potensi ekonomi lokal.
     
    Direktur KSKP IPB Dr. Dodik Ridho Nurrochmat, mengatakan, untuk mendukung program nasional dan menyongsong swasembada daging, IPB mebuat model-model pemanfaatan lahan non-produktif melalui penanaman hijauan pakan ternak skala kecil. Kegiatan ini dilakukan di tiga titik desa yang berada dalam wilayah Kabupaten Bogor dan Sukabumi, diantaranya adalah Desa Cileuksa, Kecamatan Sukajaya; Desa Tamansari, Kecamatan Tamansari dan Desa Nanggerang, Kecamatan Cicurug.
     
    “Model ini akan dikembangkan dalam skala 50 hektar yang akan diimplementasikan secara bertahap. Dalam model pengembangan ini, IPB akan mendampingi petani dalam mengembangkan hijauan pakan ternak bekerjasama dengan PT. Antam yang akan memfasilitasi akses petani terhadap permodalan melalui penyaluran dana bergulir kepada petani,” ujar Dr. Dodik.
  • IPB Dirikan Sekolah Peternakan di Bojonegoro

    Bojonegoro (Antara Jatim) - Institut Pertanian Bogor (IPB) mendirikan sekolah peternakan rakyat (SPR) di Kecamatan Kasiman, Kedungadem dan Temayang, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, sebagai usaha membuat pembibitan sapi dengan memanfaatkan induk lokal.

    "IPB tidak akan mendatangkan induk sapi dari luar negeri, tetapi tetap memanfaatkan induk sapi lokal dalam melaksanakan pendidikan di tiga SPR," kata Guru Besar IPB, Prof Mulatno, dalam deklarasi pendirian tiga SPS di Bojonegoro, Rabu.

    Sesuai persyaratan, katanya, jumlah sapi induk di masing-masing SPR 1.000 ekor, yang dikelola 5.000 peternak, dengan masa pendidikan selama tiga tahun.

    "Sifat pendidikan tidak menggurui, sebab peternak sudah berpengalaman, sedangkan ahli peternakan IPB hanya berdasarkan teori," jelasnya.
  • IPB Kembangkan Budidaya Telur Semut Rangrang

    Bogor - Institut Pertanian Bogor (IPB) mengembangkan budidaya telur semut rangrang (kroto) bernilai tinggi. Petani bisa mendapat laba bersih hingga 50 persen dengan harga jual berkisar dari Rp 30.000 - Rp 50.000.


    Mahasiswa Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Fakultas Peternakan IPB Abdul Rachman menerangkan, bahan yang digunakan yaitu bibit semut rangrang penghasil kroto sebanyak 10 koloni (5 kilogram). Adapun dua jenis pakan yang dipakai adalah cacing tanah dan tulang sapi serta air gula. Ketiganya diberikan secara rutin sebagai sumber energi semut rangrang.

    "Setelah 100 hari, kita dapat memanen setiap hari sekitar 3 kilogram kroto dan bisa dijual Rp 30.000 per kilo. Dan, budidaya semut rangrang tersebut relatif mudah serta tidak menyita waktu banyak," kata Abdul di Bogor, Rabu (13/8).

    Kroto adalah nama yang diberikan orang Jawa untuk campuran larva dan pupa semut penganyam Asia (terutama Oecophylla smaragdina). Campuran ini terkenal di kalangan pencinta burung dan nelayan di Indonesia, karena larva semut populer sebagai umpan ikan, dan juga sebagai makanan tambahan untuk meningkatkan ketrampilan burung berkicau.

    Budidaya semut rangrang penghasil kroto masih jarang dilakukan masyarakat di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh kurangnya penelitian dan pengetahuan mengenai pengembangbiakkan semut rangrang.(Sumber:Jakarta Globe)
  • Joint general lecturers: Prof. Hiroshi Takagi PhD dan Berry Juliandi, PhD

    Pada hari Kamis, 18 Desember 2014, diselenggarakan joint general lecture di Ruang Sidang Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan. Dalam kesempatan ini hadir dua dosen tamu, Prof. Hiroshi Takagi, PhD dari Nara Institute of Science and Technology dan Berry Juliandi, PhD dari Departemen Biologi, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

    Berry Juliandi, PhD memberikan paparan yang berjudul "Stem cells biology and its application in biomedicine". Berry Juliandi, PhD menjelaskan mengenai dasar-dasar biologi sel punca atau sel batang. Sel punca memiliki fungsi untuk sistem perbaikan penggantian sel-sel tubuh. Sel punca telah digunakan untuk percobaan pengobatan biologis pada tikus penderita paralisis dalam skala laboratorium. Untuk selanjutnya sedang dikembangkan penelitian yang aplikatif untuk manusia.

    Prof. Hiroshi Takagi memaparkan "Overexpression of the yeast transcription activator msn2 confers stress resistance in industrial yeast". Dalam paparannya, Prof. Hiroshi Takagi menjelaskan mengenai penggunaan yeast dalam industri roti dan berbagai usaha lain. Penggunaan aktivator msn2 mampu menekan efek stress akibat pemanasan, pengeringan dan pembekuan. Sistem ini dapat diterapkan pada berbagai industri lain, termasuk industri pakan. Prof. Hiroshi Takagi juga menjelaskan mengenai ruang lingkup Nara Institute of Science and Technology serta kesempatan beasiswa untuk belajar di sana.

    Dalam kesempatan ini hadir sekitar 30 mahasiswa pasca sarjana dari Fakultas Peternakan dan Fakultas Teknologi Pangan IPB. Mahasiswa tampak antusias mengikuti perkuliahan dan aktif bertanya kepada kedua dosen undangan.(sumber: intp.fapet.ipb.ac.id)

  • Kick Off Meeting Prodi Animal Logistic Fapet IPB

    Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (Fapet IPB) menyelenggarakan pertemuan bertajuk “Kick Off Meeting Capacity Building in Animal Logistic of Poultry and Livestock”, Selasa (24/2) di IPB International Convention Center (IICC) Bogor. Kegiatan ini menjadi acara perdana dalam rangka penyelenggaraan Program Studi (Prodi) baru Fapet dalam bidang Animal Logistic. Dalam hal ini IPB bekerjasama dengan Nuffic Belanda untuk pengembangan capacity building di bidang animal logistic terutama untuk livestock dan poultry. 
  • Kontribusi IPB untuk Logistik Peternakan Indonesia

    Bisnis peternakan di Indonesia saat ini menghadapi permintaan yang terus meningkat pada produk-produk hasil ternak. Namun tingginya tingkat permintaan produk ternak masih terkendala dalam pengelolaan distribusi pasokan yang menyebabkan tingginya biaya logistik. Kendala dalam pengembangan logistik peternakan adalah infrastruktur, manajemen dan sumberdaya manusia. 

    Fakultas Peternakan  IPB sebagai institusi pendidikan dan penelitian telah berkomitmen untuk berkontribusi dalam pengembangan logistik peternakan di Indonesia. “Bagi Fapet IPB , logistik tidak hanya sekedar memindahkan produk ternak dari satu tempat ke tempat lain tetapi logistik terkait dengan aspek keamanan dan ketahanan pangan”, jelas Dr.Yamin sebagai Dekan Fapet IPB.

    IPB telah membuka program S1 plus Logistik Peternakan yang bertujuan  untuk menghasilkan kompetensi para lulusan untuk mampu mengimplementasikan keahlian, ilmu pengetahuan, teknologi dan sains di bidang logistik peternakan. Pembentukan program studi ini didukung oleh Asosiasi Logistik Indonesia (ALI). “ALI juga mendukung jika program studi memerlukan dosen tamu dari anggota ALI terkait logistik secara umum”, jelas Zaldy Ketua ALI saat meeting bersama  tim Fapet IPB pada  Februari 2017 lalu.

    Perkuliahan perdana program Sarjana Plus Logistik Peternakan akan dimulai pada awal tahun ajaran baru 2017-2018, di bulan Juli 2017. Logistik peternakan merupakan area multidisiplin ilmu, antara lain ilmu peternakan, logistik, pengolahan, teknologi rantai dingin, ekonomi dan ritel.  Oleh karena itu Program S1 Plus ini terbuka bagi lulusan S1 dari jurusan yang relevan (Peternakan, Kedokteran Hewan, Logistik, Transportasi, Ekonomi, Teknik Industri, Ilmu Konsumen dan Keluarga) fresh graduate ataupun sudah bekerja.

  • KSKP IPB Gelar Diskusi Pakar “Potensi Pengembangan Hijauan Pakan Ternak di Areal Perhutani”

    Survey karkas tahun 2012 yang dilakukan oleh Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB) menunjukkan bahwa sapi lokal dari peternakan rakyat di Indonesia berada dalam kondisi kurus 36 persen, sedang 49 persen, dan gemuk 15 persen. Selain itu, sekitar 30 persen sapi dan kerbau siap potong adalah berumur tua dan bobot potong rata-rata yang diperoleh adalah 50 kilogram (kg) di bawah potensi sebenarnya.
     
    Oleh karena itu diperlukan peningkatan kualitas dan kuantitas pakan, lingkungan kandang dan tata laksana pemeliharaan. Permasalahan utama dalam mengembangkan hijauan pakan ternak (HPT) karena terbatasnya ketersediaan lahan. Salah satu lahan yang berpotensi untuk digunakan sebagai lokasi pengembangan HPT di Kabupaten Bogor adalah lahan perhutani Kawasan Penguasaan Hutan (KPH) Bogor. Demikian hal yang mengemuka dalam Diskusi Pakar  “Potensi Pengembangan Hijauan Pakan Ternak di Areal Perhutani”, Kamis (25/2) di Ruang Sidang Rektor Gedung Andi Hakim Nasoetion, Kampus IPB Darmaga, Bogor. Perhutani KPH Bogor menguasai lebih dari 40 ribu hektar areal di Kabupaten Bogor, dan di beberapa lokasi sangat berpotensi untuk pengembangan HPT.
     
    Direktur Kajian Strategis dan Kebijakan Pertanian (KSKP) IPB Dr. Dodik Ridho Nurrochmat menyampaikan bahwa KSKP IPB mulai melakukan kajian pemanfaatan lahan tidur. Beberapa kajian  percontohan pemanfaatan lahan tidur dilaksanakan di lahan-lahan milik pribadi atau pengembang, yaitu  di Tanjung Sari Sumedang dan Gunung Putri Kabupaten Bogor. “Ke depan, kami tertarik mengembangkan HPT yang tumbuh di bawah naungan Perhutani,” ujarnya.
  • Kuliah Inaugurasi Guru Besar IPB sebagai Anggota AIPI

    Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Muladno, MSA terpilih sebagai Anggota Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI). Untuk itu, AIPI bekerjasama dengan IPB menggelar Kuliah Inaugurasi di Auditorium Andi Hakim Nasoetion Kampus IPB Dramaga, Bogor, Rabu (3/7).

    Ketua AIPI, Prof. Sangkot Marzuki mengatakan, inaugurasi anggota sangat penting dilakukan sebagai cara memperkenalkan anggota AIPI kepada masyarakat untuk membuktikan kebenaran pilihan dalam memilih anggotanya. Dikatakannya, AIPI didirikan pada tahun 1990 di bawah Undang-undang Republik Indonesia No. 8/1990 tentang Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia.

    Akademi ini dibentuk sebagai badan independen untuk memberikan pendapat, saran dan nasihat kepada pemerintah dan masyarakat pada akuisisi, pengembangan, serta penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. AIPI terbagi ke dalam lima komisi yaitu Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar, Komisi Ilmu Kedokteran, Komisi Ilmu Rekayasa, Komisi Ilmu Sosial dan Komisi Kebudayaan. AIPI berupaya mempromosikan ilmu pengetahuan melalui berbagai aktivitas seperti konferensi ilmiah dan forum diskusi kebijakan, publikasi, serta pengembangan hubungan nasional dan internasional.

    Dalam kesempatan ini Prof. Muladno mengangkat tema pentingnya meningkatkan kemampuan peternak rakyat dari berbagai aspek teknis maupun non teknis, khususnya dalam aspek bisnis.  Menurutnya, eksistensi sapi lokal di Indonesia tergantung jutaan peternakan rakyat. “Tidak ada cara lain dalam meningkatkan kemampuan para peternak kecuali melalui bisnis kolektif,” ujarnya.

    Dengan begitu, terangnya, akan ada skala minimum kepemilikan ternak sehingga dapat dikembangkan dan berdaya saing lebih tinggi. Sayangnya peran dan ketekunan para peternak sapi lokal ini dinilai belum cukup mendapat perhatian dari pemerintah maupun akademisi.

    Di tempat yang sama, Rektor IPB, Prof. Dr. Herry Suhardiyanto menyampaikan ucapan terima kasih kepada AIPI yang telah memberikan kehormatan bagi Prof. Muladno untuk menjadi anggota Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar atas dasar pemikiran atau gagasannya dalam rangka mengatasi ketahanan pangan.  

    Prof. Muladno menginisiasi konsep Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) – 1111 dengan motto 1000 ekor betina produktif, 100 ekor pejantan, 10 strategi, dan 1 visi yaitu mewujudkan peternak yang berdaulat.  Selain itu, tujuan dari SPR-1111 ini adalah menjadi sarana pembelajaran bagi peternak sapi potong skala kecil agar berwawasan lebih baik, lebih profesional, dan lebih cerdas seperti peternak berkualifikasi sarjana dalam menjalankan usaha peternakannya. 

    SPR-1111 ini merupakan salah satu “Teknologi IPB Prima” selain pengembangan Padi IPB 3S, Kedelai Pasang-Surut dan berbagai inovasi serta pemikiran dalam rangka mendukung ketahanan pangan dan kemandirian pangan nasional.

    Apa yang dilakukan Prof. Muladno selama ini dipahami sebagai sebuah proses pendidikan yang terjadi dalam masyarakat dan sangat relevan dengan tujuan dan semangat IPB dalam pengarusutamaan pertanian dalam rangka memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan Indonesia.

    “Selamat atas prestasi yang membanggakan. Ramaikanlah dunia ilmu pengetahuan dengan inovasi-inovasi yang cemerlang bagi kepentingan bangsa dan negara Indonesia sehingga dapat bersaing dengan negara lain di pasar bebas ASEAN,” ujar rektor. (ipb.ac.id)

  • Kuliah umum dari Ronald Knust Gaichen

    Pada hari Kamis, tanggal 17 Maret 2016, bertempat di ruang sidang Fakultas Peternakan IPB, staf dan mahasiswa S2 maupun S3 di Fakultas Peternakan mendapatkan kesempatan kuliah umum dari Ronald Knust Graichen. Ronald Knust Graichen merupakan seorang konsultan pendidikan dari STOAS Vilentum University yang tengah terlibat dalam kegiatan kerjasama "The Neatherlands Initiative for Capacity Development In Higher Education (NICHE)" di IPB. Dalam kesempatan ini Ronald menyampaikan tema mengenai “How to design and improvement of written exams”

    Ronald menjelaskan beberapa jenis tes tertulis yang sesuai dengan hasil belajar yang diharapkan, misalnya jika ingin mengetahui tingkat pengetahuan peserta tes, maka jenis tes yang sesuai diantaranya adalah tes berjenis essay. Ronald juga menjelaskan beberapa perbedaan jenis tes dan juga manfaatnya yang ada saat ini misalnya pilihan ganda, besar/salah, dll. Ronald juga menjelaskan tentang perlunya keselarasan antara hasil belajar dengan pertanyaan dalam tes yang diujikan. Kuliah umum diakhiri dengan sesi tanya jawab dengan peserta. 

     

  • Kunjungan dari University of Adelaide

    Sebanyak 20 orang mahasiswa dari University of Adelaide mengunjungi Fakultas Peternakan IPB pada tanggal 27-28 November 2014. Rombongan disambut oleh Wakil Dekan dan mahasiswa Fakultas Peternakan IPB di Ruang Sidang Fakultas pada pukul 09:00. Agenda kegiatan yang diadakan di Fakultas Peternakan adalah pengenalan Institusi, collaboration meeting, kunjungan ke laboratorium lapang Fakultas Peternakan IPB.
     

    Acara diakhiri dengan penutupan dan early dinner  pada hari Jumat, 28 November 2014 di Wisma IPB Landhuis.

  • Kunjungan Professional Advisory Committee (PAC) Logistik Peternakan Indonesia ke Belanda

    Animal Logistic Indonesia-Netherland (ALIN) merupakan proyek kerjasama di bidang logistik peternakan yang dilaksanakan oleh Fakultas Peternakan IPB (Fapet-IPB) bekerjasama dengan Konsorsium Belanda yang dipimpin oleh Maastricht School of Management (MSM) yang didanai EP-Nuffic, Belanda. Salah satu output dari proyek ALIN adalah Fapet-IPB memiliki kemampuan akademik, organisasional dan manajemen untuk menyampaikan pendidikan dan pelatihan yang memperhatikan aspek gender dalam melaksanakan penelitian dalam bidang logistik peternakan.

    Melalui FLPI (Forum Logistik Peternakan Indonesia), ALIN dan Fapet IPB telah menjalin kerja sama dengan stakeholders, dalam mendukung pembentukan program studi logistik peternakan pada jenjang Sarjana Plus dan Pascasarjana. Tim PAC berasal dari komponen akademisi, industri, pemerintah, dan komunitas untuk mendesain, menyelenggarakan, dan evaluasi pelaksanaan program studi tersebut. Tim PAC terdiri dari 1) Zaldy Ilham Masita (Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia); 2) Prof. Dr. Ir. Senator Nur Bahagia (Direktur Pusat Kajian Logistik dan Supply Chain ITB); 3) drh. Sudirman, MM (Business Development Director PT Sierad Produce, Tbk); 4) Ir. Harianto Budi Raharjo (Operational Direktur PT Lembu Jantan Perkasa); 5) Ir. Fini Murfiani, MSi (Direktur PPHnak, Kementerian Pertanian RI).

    Salah satu agenda PAC adalah memenuhi undangan dari pihak Belanda untuk melakukan exposure visit ke lembaga-lembaga sektor logistik peternakan dan lembaga pendidikan internasional sehingga mampu menyusun standar penyelenggaraan program pendidikan logistik peternakan di Indonesia. Belanda merupakan contoh yang baik di dalam praktik manajemen logistik peternakan dan memiliki universitas kelas dunia dengan fasilitas yang lengkap dan memadai. Kegiatan ini dilaksanakan tanggal 08 s.d. 12 Mei 2017 di Belanda, antara lain kunjungan ke NVWA Utrecht, Cattle and Logistic The Netherlands, STC Education and Training in Transport and Logistics-Rotterdam., Wageningen UR dan lainnya.

    Terdapat poin- poin penting hasil exposure visit antara lain penguasaan karakteristik produk ternak sebagai komoditas merupakan hal terpenting dalam logistik peternakan. “Fapet-IPB telah memiliki bekal dasar menguasai karakteristik produk ternak untuk pengembangan program studi logistik peternakan”, jelas Ir Harianto Budi Raharjo dalam kegiatannya di Belanda pada tanggal 11 Mei 2017. Poin penting lainnya juga dijelaskan oleh Prof Senator bahwa higienitas menjadi prioritas dalam proses logistik peternakan di Belanda, hal ini menjadi pembelajaran penting bagi logistik peternakan di Indonesia. “Pada praktik logistik peternakan di Belanda, setiap ternak dimonitor secara day-to-day melalui fasilitas IT”, jelas Prof Senator. Beliau juga menjelaskan bahwa kegiatan logistik peternakan di Belanda berjalan secara parsial, namun dapat terkelola secara baik karena terjalin kepercayaan yang sangat tinggi antar stakeholders.

    Tim PAC dan ALIN juga mendapatkan pengetahuan mengenai kesejahteraan hewan yang disampaikan oleh EonA (Eyes on Animals). Lembaga NGO , EonA, menyampaikan materi peningkatan kesejahteraan hewan selama transportasi, membahas masalah-masalah yang sering terjadi dan praktik terbaik yang diterapkan di Eropa. Selain itu, juga membahas permasalahan yang sering terjadi di Indonesia terutama teknik yang digunakan untuk mengangkut hewan dari kapal yang tidak memperhatikan kesejahteraan hewan. “Terdapat pengalaman dari sebuah perusahaan produksi dan perdagangan ternak di Eropa, investasi perusahaan untuk kesejahteraan hewan hasilnya berdampak positif pada tingkat pengembalian finansial perusahaan ” jelas Lesley Moffat sebagai founder dan koordinator EoNa saat menyampaikan kuliah di hadapan tim PAC dan ALIN tanggal 09 Mei 2017 di Harderwijk (NL). Tim PAC dan ALIN sangat terbuka dalam diskusi mengenai hal tersebut untuk menghasilkan logistik peternakan Indonesia yang lebih baik dengan memperhatikan kesejahteraan hewan. (ipb.ac.id)

  • Mahasiswa dari 4 Negara Ikuti Summer Course di IPTP

    Sebanyak  6 orang mahasiswa asing dari 4 negara mengikuti Summer Courseyang digelar oleh Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB. Summercourse yang berlangsung dari tanggal 20 - 28 Agustus ini resmi dibuka oleh Dekan Fakultas Peternakan IPB  di Ruang ruang sidang Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (20/08/2017). Peserta Summercourse berasal dari Maejo University (Thailand), Kagawa University (Japan), Hebron University (Palestine), dan Women University (Zimbabwe).

    Selama 9 Hari, peserta mengikuti rangkaian kegiatan Summercourse yang bertajuk  "Integrated Tropical Livestock Production and Tecnology"  baik di dalam kelas, di Laboratorium, maupun di luar kelas.  Beberapa jadwal kegiatan yang diadakan diantaranya adalah pengenalan sumberdaya ternak dan genetik ternak lokal di indonesia, beserta dengan strategi pemuliaan genetika ternak di masyarakat. peserta juga diajak mengunjungi laboratorium pemuliaan dan genetika ternak di Fapet IPB.  Kegiatan tersebut diadakan pada hari pertama. Hari kedua, peserta diberikan materi tentang pengenalan produksi unggas tropis di Indonesia. Peserta juga diajak untuk mengunjungi kandang produksi unggas tropis di laboratorium lapangan di Fapet IPB. Hari selanjutnya, topik yang disampaikan adalah tentang sistem dan efisiensi pada peternakan tropis terpadu, yang dilakukan di kelas dan di lab lapangan. Hari ke empat, peserta diajak mengunjungi pengolahan produk ternak lokal di sekitar bogor.

    Setelah mengikuti rangkaian kegiatan perkuliahan, peserta melakukan presentasi dari hasil pengamatan dan perkuliahan, serta melakukan evaluasi dan diskusi atas kegiatan summer course yang telah dilakukan. Pada akhir kegiatan peserta melakukan kunjungan ke Kebun Raya, Meseum Zoology Bogor, serta mengunjungi tempat tempat bersejarah di Jakarta, sebelum melakukan persiapan untuk pulang ke negaranya masing masing.

     

  • Mahasiswa Fakultas Peternakan Harus Punya Ternak

    Seminar dan Workshop Agribisnis Peternakan (SWAP) yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Institut Pertanian Bogor (Himaproter) telah sukses digelar (28/04/2018). Seminar yang banyak mengupas tentang  prospek, peluang serta praktik bisnis peternakan di lapangan, menghadirkan beberapa pakar dan praktisi di bidang peternakan diantaranya,  Dr. Sri Rahayu (dosen Fapet IPB), Budi Susilo Setiawan (pemilik MT Farm), Subarkah dan Ahmad Anwari (peternak jangkrik Bekasi).

    Peternak sukses yang merupakan alumni Fakultas Peternakan IPB, Budi Susilo Setiawan dalam paparannya mengatakan,  permasalahan yang dihadapi peternak Indonesia adalah  kualitas produk peternakan yang masih fluktuatif. Intinya, dalam bisnis itu pengusaha harus baik dalam setiap urusan.  Budi merasakan banyak keberkahan dalam usahanya di dunia peternakan. Dari beternak, alumni Fapet IPB ini bahkan sekarang mempunyai usaha catering, properti dan agrowisata.

     “Apapun usaha yang kita akan lakukan, cukup berpegang pada empat hal yaitu yakin bahwa usaha ini adalah hal baik, berusaha optimal, perbanyak ilmu dan sabar. Jangan sampai anak peternakan tidak punya ternak atau tidak bisa jualan ternak. Bisnis itu bicara realistis bukan idealis. Ketika karkas impor yang lebih murah hadir menjadi ancaman bagi peternak, kita harus bergerak cepat,“ ujar Budi.

    Dr  Sri Rahayu menjelaskan tentang perkembangan dunia peternakan Kambing Domba (Kado) di Indonesia. Mulai dari prospek ternak, populasi Kado, keunggulan ternak Kado, membantah stigma negatif mengenai daging Kado yang tinggi kolesterol serta membandingkan sistem pemeliharaan Kado di Indonesia dan di negara lain (Australia dan New Zealand).

    Selain kambing dan domba, peserta juga mendapatkan ilmu mengenai bisnis dan usaha jangkrik. Bisnis jangkrik ini masih awam di kalangan masyarakat. Padahal prospek jangkrik sangat prospektif merujuk pada permintaan pasar yang tinggi, tidak membutuhkan investasi yang besar dalam memulai usaha serta dapat dilakukan di tempat yang sempit. Proses panen yang memakan waktu singkat (hanya sekitar 22 hari) ini menjadikan usaha ternak jangkrik sangat potensial untuk dikembangkan.

    “Kita harus memiliki pengetahuan dalam beternak jangkrik, paham pasar jangkrik seperti apa, membuat kandang yang sesuai, manajemen pakan yang baik dan melakukan kontrol rutin. Resiko terbesar usaha ternak jangkrik terletak pada serangan predator karena dapat mengurangi jumlah jangkrik yang dapat dipanen ataupun dalam proses peneluran bibit jangkrik. Namun, dengan perlakuan yang tepat hal ini dapat diantisipasi,” sebut Anwari dan diamini oleh Subarkah.  (Sumber Repuplika)

  • Mahasiswa Fapet IPB Ikuti Winter Course di Australia

    Institut Pertanian Bogor (IPB) sudah lama menjalin kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi di Australia. Salah satunya adalah kerja sama Fakultas Peternakan (Fapet) IPB dengan School of Animal Sci and Vet Science Adelaide University.

    Tahun ini, program kerja sama yang terjalin berupa pengiriman mahasiswa IPB untuk mengikuti kegiatan Winter Course 17 hari (23 Juni-10 Juli 2017) di beberapa perguruan tinggi di Australia dan ikut serta dalam perlombaan International Collegiate Meat Judging (ICMJ). Ada lima mahasiswa Fakultas Peternakan yang terpilih untuk mengikuti kegiatan ini. Mereka adalah Hamza Nata Siswara, Melfa Andraini Agatha, Yuni Nuraifah, Dei Gustifah K  dan M.Sirajatun Kurniawan.

    “Program ini bertujuan untuk memberikan kesempatan dan pengalaman kepada kami,  mahasiswa Fapet IPB, dalam bidang peternakan yang memiliki bobot kuliah 3 SKS. Kegiatan ini dilaksanakan di berbagai negara bagian yang ada di Australia, seperti   Darwin (Northern Territory) dan Katherine, Adelaide, Adelaide University Roseworthy S.A, dan Wagga Wagga, NSW,” ujar Hamza dalam rilis IPB yang diterima Republika.co.id, Kamis (3/8).

    Menurut Hamza, sebelum keberangkatan ke Australia mereka diwajibkan magang di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Elders Fapet IPB. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi mereka sebagai informasi awal tentang proses produksi daging dan international beef industry sebelum mereka mengikuti perlombaan.

    “Selain ikut Winter Course, kami  juga akan ikut lomba ICMJ. Dengan demikian,  kegiatan magang ini sangat diperlukan sebagai bekal bagi kami  untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan skill mahasiswa dalam menilai daging,” tutur Hamza.

    Ia mengemukakan,  beberapa kegiatan yang diberikan pada saat pelatihan adalah pengenalan proses penyembelihan sapi, penanganan karkas, penyimpanan karkas dalam chiller, proses deboning, proses packing dan repacking serta pengenalan terhadap retail cut dan primal cut pada daging sapi. (republika.co.id)