News

  • Guru Besar IPB Temukan Pakan Alternatif Pengganti Ransum Ternak dari Maggot

    Guru Besar Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Nahrowi, menemukan alternatif pakan ternak berbahan dasar maggot guna menggantikan MBM. MBM atau meat bone meal banyak digunakan untuk ransum atau bahan penyusun pakan hewan ternak seperti unggas, ikan, dan babi. Selama ini MBM 100 persen impor. Hal ini menyebabkan harga MBM mahal. Sedangkan kebutuhan Indonesia akan MBM tiap tahunnya mencapai 800 ribu ton.

    Prof. Nahrowi mengatakan, sebelumnya Indonesia memakai tepung ikan yang mengandung protein hewani untuk ransum ternak. Namun, kualitas tepung ikan yang diproduksi oleh Indonesia kurang baik.

    “Indonesia masih belum bisa memproduksi MBM, karena bahan baku untuk membuat MBM juga dikonsumsi untuk manusia, seperti daging dan tulang. MBM yang terbuat dari hewan mamalia termasuk babi juga menjadi masalah bagi para peternak muslim yang ada di Indonesia. Untuk itu, perlu adanya pakan alternatif yang bisa menggantikan MBM seperti maggot,” ujar Prof. Nahrowi.

    Maggot adalah larva dari lalat. Lalat yang digunakan sebagai penghasil maggot untuk pakan ternak ini berasal dari lalat buah yaitu jenis Black Soldier Fly (BSF). Maggot sangat cocok dijadikan pengganti MBM sebagai pakan ternak karena memiliki semua kriteria yang menjadi syarat utama bahan pakan ternak. Adapun syarat-syarat pakan ternak yaitu, komposisi nutrisi terpenuhi, harga bersaing, dan ketersediaan banyak. Ketiga syarat tersebut dapat dipenuhi oleh maggot. Produksi maggot sangat cepat, satu ekor lalat BSF dapat menghasilkan 500 maggot dalam sekali reproduksi. Pemeliharaan lalat BSF yang mudah juga menjadi nilai lebih untuk menggantikan MBM. Selain itu, faktor lain yang tidak kalah penting untuk menentukan maggot sebagai alternatif pakan pengganti adalah BSF merupakan serangga yang tidak membawa unsur penyakit dan memiliki nilai protein tinggi.

    Penelitian Prof. Nahrowi tentang maggot sudah dilakukan sejak tahun 2009. Hingga saat ini penelitiannya masih terus berlanjut sampai tahap pembuatan konsentrat protein, lemak dan kitin dari maggot. Hal ini dilakukan untuk semakin mengefisienkan dan mengoptimalkan sumber nutrisi untuk pakan ternak dari maggot. Selain maggot, sebelumnya Prof. Nahrowi juga pernah meneliti ulat Hongkong sebagai pakan alternatif, tetapi ketersediaan yang terbatas dan harga yang mahal membuat ulat Hongkong sulit untuk dikembangkan lebih luas. Ia berharap penelitian ini dapat dikembangkan lebih luas dan dapat dimanfaatkan oleh banyak orang.(ipb.ac.id)

  • Guru Besar IPB, Prof. Muladno : Saat ini Ada 30 SPR di Indonesia


    Sekolah Peternak Rakyat (SPR) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB) menggelar launching Sekretariat SPR LPPM IPB yang bertempat di Fakultas Peternakan Wing XII, Kampus IPB Dramaga, Bogor. (2/10). Sekretariat ini menjadi tempat yang memudahkan para stakeholder terkait di bidang peternakan untuk datang berkomunikasi atau interaksi membicarakan soal ternak.

    Ketua SPR LPPM IPB, Prof. Dr. Muladno dalam laporannya menyampaikan bahwa SPR didirikan pada tahun 2013 oleh LPPM IPB. Akan tetapi gagasan SPR terbentuk pada tanggal 19 September 2012 dan diterima dunia internasional tanggal 19 September 2018.

    Tujuan dibentuknya SPR adalah untuk memberi ilmu pengetahuan kepada peternak berskala kecil tentang berbagai aspek teknis peternakan dan nonteknis. SPR adalah perusahaan peternakan yang dikelola secara kolektif dalam satu manajemen (satu manajer) dalam rangka meningkatkan daya saing usahanya melalui pendampingan, pengawalan, aplikasi teknologi dan informasi, serta transfer ilmu pengetahuan untuk meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan peternak.

    “SPR mengalami perkembangan yang luar biasa di berbagai daerah. Ini merupakan hal yang menggembirakan karena peternak merasa mendapatkan perhatian besar dalam pembangunan peternakan secara nasional. Hingga saat ini SPR yang diinisiasi secara institusional oleh LPPM IPB bertambah satu lagi di Kecamatan Pelepat Ilir Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi yang bernama SPR Kuamang Abadi. Maka sekarang  SPR LPPM IPB berjumlah 30 di seluruh Indonesia,” tuturnya.

    Ia menambahkan SPR semakin menunjukkan eksistensinya di wilayah yang sudah menerapkan program ini. SPR sangat membantu petani kecil untuk mengembangkan ternaknya menjadi lebih menguntungkan.

    Prof. Muladno berharap agar semua perguruan tinggi di Indonesia yang mempunyai program studi peternakan bisa mengembangkan SPR, sehingga peternak seluruh Indonesia dapat di dampingi dosen dan mahasiswa dari perguruan tinggi terdekat tidak harus dengan IPB. Dengan demikian, perguruan tinggi setempat dapat terlibat langsung sekaligus sebagai ikon pembangunan peternakan dalam program SPR.

    “Lunching sekretariat ini menjadi media atau tempat untuk dapat berkomunikasi atau interaksi langsung dengan para peternak. Contohnya yang mempunyai masalah ternak dapat berkonsultasi dan menemukan jawaban langsung dari ahlinya,” tambahnya.

    Kepala LPPM IPB, Dr. Aji Hermawan mengatakan sangat bangga sekali dengan keberadaan SPR. Keberadaan perguruan tinggi akan menjadi bermakna kalau dapat memberikan kontribusi sebesar-besarnya kepada masyarakat. Ini adalah tugas yang diemban oleh LPPM IPB untuk mendiseminasikan inovasi dan hasil-hasil riset para peneliti dan dosen IPB untuk sampai ke masyarakat dan memberikan manfaat atau impact sebesar-besarnya kepada masyarakat.

    “Kalau diamati salah satu program yang memberikan dampak besar kepada masyarakat adalah SPR LPPM IPB. Program SPR merupakan sebuah pola bagaimana berusaha membumikan teknologi yang ada di perguruan tinggi untuk kepentingan masyarakat, sehingga dapat membangun kemandirian peternakan di daerah. Jadi SPR dapat memberikan akses yang besar bagi peternak di Indonesia seperti akses informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta penguatan kendali produksi dan pasca produksi ternak,” katanya.

    Ia menambahkan, melalui program tersebut diharapkan pengembangan SPR di Indonesia akan menjadi lebih cepat dengan konsep kerjasama berbagi peran dan tanggungjawab antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, swasta dan para peternak yang ada di daerah. SPR ke depan tidak hanya akan memberikan dampak pada level nasional tetapi akan merambah ke level internasional.

    Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Peternakan (Fapet) IPB, ProfDr. Ir. Sumiati, M.Sc sangat mendukung penuh SPR LPPM IPB ini, karena SPR sangat membantu peternak kecil yang ada di daerah-daerah untuk maju dan memberikan kesejahteraan. Prof. Sumiati berharap SPR LPPM IPB terus maju dan berkembang lebih baik dan terus berbagi kebaikan untuk peternak yang ada di Indonesia. (ipb.ac.id)

  • Guru Besar IPB: Ganti Antibiotik dengan Probiotik

    Penggunaan antibiotik pada hewan ternak dalam jangka panjang dan dengan dosis subterapik menyebabkan kekebalan bakteri patogen khususnya yang zoonotik, dan bakteri indigenous terhadap antibiotik yang digunakan. Beberapa penelitian melaporkan bahwa gen resisten antibiotik dapat ditransfer kepada bakteri patogen khususnya bakteri saluran pencernaan manusia melalui konsumsi produk ternak yang terkontaminasi bakteri, sehingga penggunaan antibiotik sejenis pada manusia tidak mampu membunuh bakteri patogen. 
     
    Di Indonesia sendiri sudah ada Undang-undang (UU) yang melarang penggunaan antibiotik, yaitu UU Peternakan dan Kesehatan Hewan No. 18 tahun 2009 pasal 22 ayat 4c yang berbunyi “Setiap orang dilarang menggunakan pakan yang dicampur hormon tertentu dan atau  antibiotik imbuhan pakan”. Namun sampai saat ini UU tersebut belum diturunkan menjadi Peraturan Pemerintah sehingga belum bisa diimplementasikan. Demikian disampaikan Prof.Dr.Ir Komang G. Wiryawan, Guru Besar Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam konferensi pers pra Orasi di Kampus IPB Baranangsiang, Bogor (22/9).
     
    “Untuk mengurangi penggunaan antibiotik maka perlu dicari alternatif imbuhan pakan yang memiliki peran yang sama dengan antibiotik, tetapi lebih ramah terhadap kesejahteraan manusia dan ternak serta lingkungan. Salah satu alternatif adalah probiotik,” ujarnya.
     
    Probiotik merupakan sumplemen mikrob hidup yang jika diberikan dalam jumlah yang cukup akan memberikan efek menguntungkan bagi kesehatan inang. Mikrob yang dapat digunakan sebagai probiotik yaitu bakteri, ragi dan kapang. 
     
    Pemberian probiotik pada ternak ruminansia muda akan membantu menyeimbangkan populasi mikrob saluran pencernaan, disamping mencegah diare dan meningkatkan pertumbuhan. Penggunaan probiotik pada ternak ruminansia dewasa bertujuan untuk mencegah terjadinya kelainan metabolisme yaitu asidosis dan untuk menurunkan produksi gas metana. 
     
    “Ternak domba yang diinokulasi dengan probiotik bakteri pengguna asam laktat S. ruminantium subsp lactilytica sebanyak 108 cfu mampu mencegah terjadinya akumulasi asam laktat di dalam rumen dibanding dengan kontrol. Ini sudah diterapkan di Afrika untuk mengatasi domba yang mengalami asidosis,” terangnya.
     
    Prof. Komang berhasil melakukan isolasi bakteri toleran tanin dari ternak kambing kaligesing yang sudah terbiasa mengkonsumsi kaliandra yang mengandung tanin. Isolat bakteri tersebut sangat potensial dikembangkan sebagai probiotik untuk diberikan pada ternak yang belum diadaptasi dengan pakan yang mengandung tanin.
     
    Penggunaan probiotik dalam industri peternakan sangat menjanjikan walaupun masih perlu kajian-kajian untuk penyempurnaannya. Perkembangan informasi genomik yang pesat memungkinkan kita untuk merakit galur probiotik baru yang mempunyai aktivitas yang lebih tinggi sehingga penggunaan probiotik dapat lebih dioptimalkan, tambahnya.(zul - news.ipb.ac.id)
     
  • Guru Besar IPB: Peternakan Berbasis Integrasi Meningkatkan Keuntungan Hingga 100 Persen

    Guru Besar Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (Fapet-IPB), Prof. Dr. Asnath Maria Fuah mengatakan bahwa pemanfaatan lahan, tanaman dan ternak berbasis integrasi mampu meningkatkan keuntungan sebesar 10-100 persen dibandingkan dengan tanpa integrasi. Hal ini disampaikannya saat Konferensi Pers Pra Orasi Ilmiah di Kampus IPB Baranangsiang (19/7). 

    Contohnya adalah integrasi satwa harapan di wilayah perkotaan atau livestock urban farming. Sistem integrasi kopi-lebah madu (sinkolema) mampu meningkatkan produksi madu mencapai 114 persen. Hasil ini lebih tinggi dari produksi madu dari lebah yag dipelihara di luar kawasan integrasi. Produksi biji kopi meningkat sebesar 10,55% yakni dari 118 ton/ha menjadi 131 ton/ha. 

    “Selain  kopi dan lebah, budidaya insekta juga bisa menggunakan pola integrasi. Misalnya usaha peternakan jangkrik dengan luasan lahan 64 meter persegi ternyata bisa memberikan keuntungan bersih mencapai 27 juta rupiah per tahun. Selain itu usaha budidaya ulat Hongkong dengan luasan lahan yang sama bisa menghasilkan keuntungan bersih 28 juta per tahun,” terangnya.

    Sementara itu berdasarkan aspek pemanfaatan lahan, kawasan integrasi untuk ternak sapi, kerbau, kambing dan domba tersebar pada empat zona dan terdiri dari 19 kawasan padang penggembalaan, 46 kawasan perkebunan, 38 kawasan pertanian padat penduduk dan 1 juta hektar areal buffer hutan. 

    “Pemerintah mentargetkan ada 12,7 juta hektar areal buffer hutan. Tujuannya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat yang berdomisili di areal sekitar hutan. Tentu ada potensi dan kendalanya,” ujarnya.

    Menurutnya untuk integrasi sapi-sawit di Sumatera dan Kalimantan memberikan dampak positif terhadap peningkatan petani-peternak sebesar 40-60 persen. Integrasi sapi dengan padi, jagung dan kedelai (pajale) pada lahan pasang surut menunjukkan bahwa pemanfaatan kompos kotoran sapi dan bio-slurry meningkatkan produktivitas kedelai sebesar 62 persen. Pendapatan petani meningkat sebesar 30-45 persen dengan nilai R/C ratio sebesar 1.83.

    Di sisi lain penerapan sistem integrasi juga memiliki kendala. Berdasarkan skala usaha, usaha skala kecil meliputi keterbatasan lahan, tenaga kerja dan modal. Usaha kelompok kendalanya pada kemampuan manajemen organisasi dan penggunaan teknologi terutama pengelolaan hasil dan manajemen limbah. Dan pada skala kawasan ada keterbatasan modal, akses infrastruktur, koordinasi antar lembaga dan distribusi serta rantai pasok produk belum efisien.

    “Sinergi program lintas sektor belum berjalan, komitmen organisasi dan penerapan kebijakan integrasi antara institusi terkait belum efektif,” terangnya.

    Maka dari itu, ia memberikan beberapa rekomendasi yang bisa diterapkan yakni kemitraan yang efektif disertai peran aktif dan komintmen yang kuat dari multistakeholder; swasembada daging perlu didukung oleh komoditi ternak pedaging lainnya (domba, kambing, unggas dan aneka ternak); serta dukungan kebijakan dari pemerintah dan institusi terkait yang menyangkut regulasi tata ruang dan penetapan kawasan integrasi peternakan.

    “Multistakeholders itu artinya lembaga perguruan tinggi, swasta, pemerintah, masyarakat dan media. Mengadopsi model ABGC-M atau pentahelix,” tandasnya (ipb.ac.id)

  • Guru Besar IPB: Swasembada Daging Terwujud 20-30 Tahun Lagi

     

    Guru Besar Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof.Dr Muladno mengatakan, target swasembada daging dua atau tiga tahun ke depan adalah bersifat politis. Karena menurutnya, tidak akan terjadi swasembada daging dalam kurun waktu sesingkat itu apabila melihat kondisi peternakan sapi di Indonesia saat ini, mengingat total populasi sapi yang ada hanya 16 juta ekor, itu pun termasuk sapi impor dan sapi betina.
     
    Hal ini disampaikannya dalam jumpa pers di Bogor, Kamis (19/3). Menurut pencetus Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) 1111 ini, mayoritas pemilik sapi Indonesia (6,5 juta orang) adalah lulusan SD-SMP. Kondisi saat ini, kepemilikan sapi per peternak hanya 2-3 ekor dengan berbagai keterbatasan seperti akses lemah, pengetahuan teknologi lemah dan masih menggunakan cara tradisional.
     

  • Halal Bil Halal Fakultas Peternakan IPB 1437 H

     

     

    Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor mengadakan acara Halalbihalal dalam rangka Idul Fitri 1437 H, pada hari Rabu tanggal 20 Juli 2016, di Auditorium JHH Fapet IPB.  Pada kesempatan yang bahagia, berkat rahmat, anugrah dan hidayah-Nya, kita telah sampai di puncak kemenangan dan kebahagiaan dalam suasana hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1437 H. Sebuah kebahagiaan yang di dasarkan agama, sebuah kebahagiaan dan kemenangan yang didasarkan pada keimanan. Halalbihalal ini dihadiri oleh seluruh sivitas Fapet IPB, diantaranya Dosen dan tenaga kependidikan, dan hadir pula para pensiunan dan guru besar dari Fapet IPB. 

    Dalam sambutannya,  Dekan Fakultas Peternakan IPB, Dr. Ir. Moh. Yamin, menyampaikan ucapan selamat Idul Fitri, Taqobballahu Minna Wa Minkum, shiyamana wa Shiyamakum serta memohon maaf atas segala salah dan khilaf. Dekan berujar  bahwa Idul Fitri tahun ini menjadi momen kemenangan kaum muslimin dalam melawan hawa nafsu,  sekaligus menyambut kemenangan setelah berpuasa di bulan Ramadhan selama sebulan penuh. Dalam sambutannya tersebut pula Dekan memaparkan selayang pandang kinerja Fapet IPB pada bulan Januari-Juni tahun 2016, dimana cukup banyak capaian yang didapatkan Fapet IPB di bidang akademik dan kemahasiswaan serta bidang sumberdaya, kerjasama dan pengembangan.

    Hadir menyampaikan tausiyah Halal Bil Halal IPB ini adalah Ust. Salahuddin El Ayyubi, Lc, M.A, salah satu imam di Mesjid Al-Huriyyah IPB. Dalam tausiyahnya, ia menyampaikan mengenai pentingnya maaf memaafkan sesama umat muslim. “Allah tidak mengampuni dosa seorang hamba jika diantara sesama tidak saling memaafkan,” tegasnya. Salahudin juga menyampaikan bahwa ujian kesolehan yang sebenarnya  adalah setelah bulan puasa, dimana kita seharusnya tetap istiqomah menjalankan kesolehan yang biasa dilakukan bulan Ramadhan, misalnya Sholat malam, shodaqoh, beramal baik, dsb. 
     
    Halal Bil Halal ini kian marak dengan penampilan marawis dari ibu-ibu tenaga penunjang kebersihan, persembahan lagu dari mahasiswa Fapet, pembacaan puisi ramadhan dari Ketua dan Sekretaris Departemen, dan lagu-lagu religi persembahan dari tenaga kependidikan Fapet IPB. Acara diakhiri dengan saling bersalam salaman, ramah tamah, dan makan siang.
  • Halal bil Halal Fapet IPB 1458 H

    Dalam Rangka Mempererat tali silaturahmi, Keluarga Besar Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor Kembali mengadakan acara Halalbihalal dalam rangka Idul Fitri 1438 H, pada hari Senin tanggal 10 Juli 2017, di Auditorium JHH Fapet IPB.  Halalbihalal ini dihadiri oleh seluruh sivitas Fapet IPB, diantaranya Dosen dan tenaga kependidikan, dan hadir pula para pensiunan dan guru besar dari Fapet IPB. 

    Dalam sambutannya,  Dekan Fakultas Peternakan IPB, Dr. Ir. Moh. Yamin, menyampaikan ucapan selamat Idul Fitri, Taqobballahu Minna Wa Minkum, shiyamana wa Shiyamakum serta memohon maaf atas segala salah dan khilaf. Idul Fitri tahun menjadi momen kemenangan kaum muslimin dalam melawan hawa nafsu,  sekaligus menyambut kemenangan setelah berpuasa di bulan Ramadhan selama sebulan penuh.

    Hadir menyampaikan tausiyah Halal Bil Halal IPB ini adalah Ust. Furqon. Dalam tausiyahnya, ia menyampaikan mengenai pentingnya maaf memaafkan sesama umat muslim. “Allah tidak mengampuni dosa seorang hamba jika diantara sesama tidak saling memaafkan,” tegasnya. Halal Bil Halal ini kian marak dengan penampilan marawis dari ibu-ibu tenaga penunjang kebersihan, dan persembahan lagu dari Tenaga Kependidikan Fapet. Acara diakhiri dengan saling bersalam salaman, ramah tamah, dan makan siang.
  • Hari Pulang Kandang 2015

    Dalam rangka membangun jejaring dan meningkatkan kerjasama diantara alumni, Ikatan Alumni Fakultas Peternakan IPB yang lebih dikenal dengan HANTER menggelar acara Hari Pulang Kandang (HPK) Akbar di IPB International Convention Centre - Botani Square, Baranangsiang Bogor, yang diselenggarakan pada hari Minggu tanggal 22 November 2015. 

    Hari Pulang Kandang (HPK) merupakan hari dimana alumni Fakultas Peternakan IPB kembali ke almamaternya, yang diadakan dalam setiap kepengurusan HANTER. Hari dimana para alumni Fapet IPB kembali untuk menyambung silaturahim dan bersama-sama memberikan sesuatu yang berarti untuk almamater yang dicintainya, baik secara fikiran, tenaga maupun material.

    Acara didahului dengan registrasi, menyanyikan mars fapet, sambutan Dekan Fapet dan ketua Hanter, dan Keynote Speech dari Dirjen Peternakan, Prof. Muladno. Dalam acara itu pula dilakukan launching buku Fapet IPB dan dana sosial Hanter, pemilihan Hanter Award (Apriliani Purwanto).
     

     

  • Himaproter gelar Seminar dan Workshop Agribisnis Peternakan 2018

    Setelah Sukses melaksanakan SWAP Tahun 2017 yang lalu, Himpunan Mahasiswa Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan IPB (Himaproter) kembali mengadakan acara Seminar dan Workshop Agribisnis Peternakan (SWAP) pada hari Sabtu, 28 April 2018. Rangkaian Acara yang diadakan pada pukul 08.40 sampai pukul 16.40 WIB ini terdiri atas Seminar, Workshop, serta Lomba Business Model Canvas (BMC). Acara ini diselenggarakan di di Auditorium JHH Fapet IPB. Adapun peserta yang hadir sebanyak 120 orang yang terdiri dari mahasiswa, kelompok ternak, dan masyarakat umum.

    Kegiatan SWAP dimulai dengan acara Seminar dari 4 orang pembicara dengan tema "Meningkatkan Pengetahuan tentang Prospek Peternakan Kepada Masyarakat Umum khususnya Pra Pensiun dengan Basis Agribisnis Peternakan", dengan pembicara pertama yaitu Dr. Ir. Sri Rahayu, M.Si (Dosen Fapet IPB) , dilanjutkan dengan pembicara kedua yaitu Budi Susilo Setiawan, S.Pt (Pemilik MT Farm), dan diakhiri dengan pembicara ketiga Ahmad Anwar dan Subarkah (Peternak Jangkrik).

    Pada kegiatan Workshop, dimulai dengan Pemaparan tentang Perkembangan dunia peternakan kambing domba (Kado), mulai dari prospek, populasi dan keunggulan Kado oleh Dr. Ir. Sri Rahayu, M.Si dan diakhiri oleh pemaparan Pemeliharaan Jangkrik oleh Winarno, S.P serta Ulat Hongkong oleh Sugeng Jaya Farm. Sedangkan Kegiatan BMC diikuti oleh 7 kelompok yang lolos sebagai finalis, terdiri atas 3-4 orang. Kegiatan ini diawali oleh materi mengenai BMC lalu dilanjutkan dengan lomba BMC.

    Pada kesempatan ini, diumumkan Juara I untuk kompetisi Business Model Canvas (BMC) diraih oleh mahasiswa Departemen Proteksi Tanaman (PTN) IPB.  Tim yang terdiri dari Natassa Kusumawardani, M. Gagah Saptarengga, Rima Wulansari dan Melinda Agustina ini melahirkan produk “criquet cakes”, cake lezat berbahan dasar tepung jangkrik.  

    Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan para peserta dapat mendapat ilmu mengenai peternakan on-farm  dan off-farm serta dapat menerapkan bisnis-bisnis terkait dengan peternakan.

  • Himaproter IPB Gelar Festival Ayam Pelung 2014

    Himpunan Mahasiswa  Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (Himaproter) Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Fakultas Peternakan (IPTP Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB), Sabtu (1/11) kembali menggelar Festival Ayam Pelung Nasional 2014.

    Kegiatan tahunan yang ke-6 ini diikuti oleh 92 ekor ayam, dan dibuka secara resmi oleh Sekretaris Departemen IPTP Fapet IPB Dr Asep Gunawan. Bertempat di lapangan Rektorat Andi Hakim Nasoetion Kampus IPB Dramaga Bogor, Dr Asep dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada para pencinta ayam pelung  yang telah berpartisipasi dalam festival tersebut. Menurutnya, secara tidak langsung para pencinta ayam pelung ini telah membantu dalam melestarikan plasma nutfah Indonesia berupa ayam yang memiliki bobot badan lebih besar dibanding ayam lainnya ini.

    Ketua Panitia, Muhammad Sukri, menerangkan festival ini memperebutkan piala bergilir Kementerian Pertanian RI, piala tetap, dan sejumlah uang tunai. Mahasiswa Departemen IPTP angkatan 49 ini mengatakan, penilaian yang dilakukan oleh dewan juri dari Himpunan Pencinta ayam Pelung Indonesia (Himapi) ini meliputi kategori suara, bobot badan, dan penampilan. Mengenai suara, Sukri menyebut ayam pelung memiliki suara yang khas dengan durasi mencapai 15 detik. Sementara ayam broiler dan ras hanya mampu bersuara tiga sampai lima detik saja. (Sumber : ipb.ac.id)
  • Himasiter Fapet IPB Gelar Feed Formulation Training

    Ini yang ke-13 kalinya Himpunan Mahasiswa Nutrisi Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (Himasiter Fapet IPB) menyelenggarakan “Feed Formulation Training”, tepatnya pada 15-16 September 2018 di Kampus IPB Dramaga.  

    Setelah sukses di tahun 2017 dengan tema Formulasi Ransum dan Pengolahan Pakan Ruminansia Berbasis Indigofera sp, di tahun ini Himasiter Fapet IPB mengusung tema ”Formulasi Ransum Ruminansia Berbasis Website dalam Pembuatan Silase Ransum Komplit”.

    Penyelenggaraan kegiatan pelatihan merupakan salah satu wujud kepedulian mahasiswa terhadap dunia peternakan di Indonesia. Biaya produksi terbesar yang harus dikeluarkan para peternak yaitu pakan menjadi perhatian khusus. Oleh karena itu, dengan diadakannya FFT diharapkan dapat meningkatkan skill peternak dalam melakukan formulasi ransum sehingga penggunaan pakan menjadi lebih efisien.

    Kegiatan FFT 2018 yang diikuti oleh 41 peserta telah sukses diselenggarakan. Sejumlah materi pelatihan telah diberikan oleh  trainer profesional dan beberapa guru besar Fapet IPB diantaranya: 

    Pengenalan Bahan Pakan serta Evaluasinya oleh Dr. Anuraga Jayanegara; Aplikasi Iptek dalam Manajemen Logistik Silase oleh Prof. Dr. Luki abdullah;  Pengenalan Total Mix Ration Konservasi dan Precision Farming Era Industri 4.0 oleh Dr. Despal;  Formulasi Ransum dengan Least Cost Balance Nutrition Ration Menggunakan Website oleh Dr. Idat Galih Permana; dan Aplikasi Teknologi Pengolahan Jus Silase oleh Prof. Dr. Nahrowi.

    Peserta FFT sangat antusias mengikuti pelatihan juga berkat adanya forum diskusi antara sesama peserta dan pembicara.

    “Pelatihan ini sangat menarik dengan materi yang disuguhkan, panitia juga sangat ramah dari mulai pendaftaran hingga membantu proses reservasi penginapan dan proses mobilisasi ke lokasi pelatihan. Sebaiknya di tahun depan juga mengundang dari pihak perbankan seperti direktur PT Bank BRI Syariah yang notabenenya alumni Fapet IPB, agar peserta juga memahami analisis ekonomi dalam dunia peternakan," ujar Mira, salah satu peserta dari Direktorat Pakan, Kementerian Pertanian. Tingginya antusiasme beberapa peserta FFT 2018 juga tampak dari keinginan untuk mengikuti FFT berikutnya. (ipb.ac.id)

  • Himasiter Selenggarakan Training Formulasi Pakan

    Keresahan sering terjadi pada peternak yaitu pada masalah PAKAN, terkait dengan ketersediaan dan harga pakan.  Sering kali peternak menanyakan ketersediaan pakan, terutama pada saat musim kemarau. Tanpa kita sadari, sebenarnya pakan tersebut tersedia berlimpah, hanya saja banyak peternak belum menyadari terkait kekayaan tersebut.

    Himpunan Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak (HIMASITER) Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor mencoba menjawab keresahan yang terjadi selama ini yaitu pengetahuan terkait POTENSI BAHAN PAKAN LOKAL, dengan menyelenggarakan Feed Formulation Training 2016 (FFT-2016) pada tanggal 24-25 September 2016. Training yang bertempat di Ruang Sidang Fapet dan Gedung Pusat Komputer IPB ini merupakan salah satu kegiatan rutin yang diselenggarakan setiap tahun oleh HIMASITER.  Peserta training banyak yang berasal dari kalangan professional baik dari industri pakan maupun industri peternakan, disamping itu pelatihan ini juga diikuti oleh mahasiswa yang berasal dari Bogor dan Jakarta. Tema pelatihan  pada tahun ini adalah "Formulasi Ransum Ruminansia Berbasis Bahan Pakan Lokal".

    Acara dibuka pada pukul 10.30 oleh Dr. Widya Hermana, dengan membunyikan angklung sebagai peresmian pembukaan. Pelatihan pada tahun ini menghadirkan trainer yang ahli di bidang pakan, diantaranya: Prof. Nahrowi Ramli, Prof. Luki Abdullah, Dr. Idat Galih Permana dan Dr. Heri Ahmad Sukria. Materi pelatihan yang dipaparkan adalah: Strategi Pengolahan Pakan lokal,  manajemen penyediaan hijauan pakan, dan formulasi pakan dengan least cost balance nutrition ration dengan menggunkan winfeed.

    Himasiter (Himpunan Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak) merupakan salah satu lembaga kemahasiswaan non struktural yang berada di bawah naungan Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor yang berbentuk organisasi kemahasiswaan yang mewadahi kegiatan profesi mahasiswa di lingkungan IPB pada umumnya dan Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan  pada khususnya serta memiliki karakteristik pengembangan keahlian dan keterampilan teknis di bidang nutrisi dan makanan ternak.

  • Hobi Berkuda, Mahasiswa IPB Ini Raih Medali Emas

    Reza Aulia Putra, mahasiswa Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB), mewakili Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Berkuda IPB meraih mendali emas dalam Djiugo Final (equestrian show jumping). Dalam kompetisi yang diadakan oleh Djiugo ini Reza berhasil melewati rintangan setinggi 70 cm kategori senior yang diadakan di Arthayasa Stable, Depok (14-15 /4). Peserta yang ikut berkompetisi sebanyak 28 club dari berbagai daerah di Indonesia.

    Reza sudah menekuni hobi berkudanya sejak tahun pertama perkuliahan (2015). Ia bercerita bahwa rasa sukanya terhadap aktivitas berkuda tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Ia tidak bisa melewati satu hari tanpa melihat kuda.

    “Saya senang kalau lihat kuda, senang merawatnya, senang menungganginya. Orang lain tidak akan tahu apa yang kita rasakan saat naik kuda. Bagi saya kuda adalah sahabat saya,” ujar Reza.

    Reza juga menceritakan bagaimana pengalamannya saat jumping dengan menunggangi kuda equestrian  dengan ketinggian 70 cm saat perlombaan.

    “Kuda equestrian itu sejenis kuda berdarah hangat dan kuda silangan antara kuda lokal dengan kuda dari luar negeri. Biasanya kudanya memiliki langkah yang bagus dan kuat. Saat saya jumping melewati rintangan 70 cm itu, rasanya seperti melayang di udara bersama kuda. Rasanya senang sekali apalagi bisa meraih medali emas,” jelas Reza.

    Tidak hanya sekedar hobi, Reza juga bercita-cita menjadi penunggang kuda yang profesional. Sedari awal memasuki UKM Berkuda di IPB, Reza sudah rajin berlatih, mengikuti berbagai ajang perlombaan kuda dan magang di beberapa sekolah berkuda untuk menambah pengalamannya berinteraksi dengan berbagai jenis kuda, salah satunya kuda equestrian. 

    “Di daerah saya tinggal, tidak ada kuda equestrian. Saya ingin mengembangkannya di sana untuk semua kalangan masyarakat,” harap pemuda asal Aceh ini.(ipb.ac.id)

  • Ikhsan Suhendro, Marbot Masjid Jadi Lulusan Terbaik Wisudawan IPB

    Ikhsan Suhendro, marbot Masjid Al Hurriyyah Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) asal Lampung sukses menorehkan prestasi gemilang sebagai wisudawan terbaik bulan ini.Hal itu terungkap dalam upac ara wisuda tahap VI Program Sarjana, Profesi Dokter Hewan, dan Pascasarjana tahun akademik 2017/2018 di Graha Widya Wisuda, Kampus IPB Dramaga Bogor, Rabu (21/3/2018).

    Ikhsan yang dinobatkan sebagai lulusan terbaik Fakultas Peternakan IPB menuturkan, kampusnya adalah 'Kampus Rakyat' bagi pemuda daerah yang tidak cukup biaya untuk berkuliah. Putra kelahiran Lampung 12 Desember 1994 ini mengatakan mahasiswa itu punya tiga pilihan, sambil menunjukkan jarinya, yaitu akademik, organisasi dan istirahat.  "Tapi dari tiga pilhan itu kita hanya bisa memilih dua. Yang dua akan kita dapatkan dengan baik, tetapi yang satu tentu harus dikorbankan. No problem, no pain no gain, karena istirahat sesungguhnya adalah ketika sudah mati," ujarnya.

    Untuk memenuhi hasratnya berorganisasi, Ikhsan memilih mendaftar sebagai marbot Masjid Al Hurriyyah di Kampus IPB Dramaga. Alasannya adalah selain menjadi wadah pengembangan bakat dan pengembanan amanah, Ikhsan mendapatkan mess atau asrama gratis.

    "Tanpa pikir panjang langsung mendaftar. Singkat cerita akhirnya lolos dan diterima menjadi marbot Masjid Al Hurriyyah, alhamdulillah. Hal yang menjadi pembeda dari menjadi marbot di maskam (masjid kampus) IPB dibanding maskam lain adalah kepengurusan kelembagaan masjid dan tim pembersih yang sudah ada orangnya dan sudah tersusun rapih, sehingga tugas kami sebagai marbot adalah menjadi panitia di hari besar agama Islam, pemakmur masjid, pengelola kajian rutin, dan pengembangan bakat diri," tuturnya.

    Saat menjadi marbot, rutinitas sehari-hari Ikhsan salat tahajud sebelum salat subuh, dilanjutkan syuro (musyawarah), lalu mengikuti kajian rutin di Aula Masjid Al Hurriyyah sebelum berangkat kuliah.

  • Inovasi Pakan Indigofera Raih Penghargaan Gubernur Jabar

    Pakan adalah makanan yang diberikan untuk ternak. Zat terpenting dalam pakan adalah protein. Saat ini bahan pembuatan pakan sebagian besar berasal dari bungkil kedelai yang diperoleh  dari impor. Salah satu dosen Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Luki Abdullah mengembangkan pakan hijauan (green concentrate) berbahan utama berupa daun tanaman indigofera (polong-polongan) sebagai substitusi bungkil kedelai.

    Pakan indigofera mengandung protein tinggi, mampu meningkatkan target produksi ternak, mengurangi biaya produksi dan dapat diberikan pada hampir semua hewan ternak seperti : sapi, kambing, domba, unggas, kelinci serta ikan.

    Prof. Luki  mengungkapkan pemilihan tanaman indigofera sebagai substitusi pakan berbahan bungkil kedelai melalui tahap penelitian panjang untuk mencari bahan yang tepat. Awalnya banyak sekali kemungkinan dari tanaman lain, lalu terpilihlah tanaman indigofera yang  mengandung sekitar 60 persen dari asam amino bungkil kedelai. Selain itu, tanaman indigofera dipilih karena mudah diperoleh, mudah berbiji, mudah menghasilkan benih, mudah dikembangkan dan tersedia di Indonesia, sehingga dapat mengurangi impor.

  • IPB dan PT Holcim Gelar Panen Perdana Rumput Gajah (Odot) dan Indigofera

    Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (P2SDM) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB) bekerja sama dengan PT. Holcim Indonesia Tbk mengadakan panen perdana kebun pembibitan hijauan pakan ternak, yaitu panen rumput gajah mini (odot) dan indigofera (18/1) di lahan bekas tambang Desa Nambo Kecamatan Klapanunggal Bogor.

    Sekretaris P2SDM LPPM IPB, Warcito, SP, MM mengatakan bahwa program bertajuk stasiun lapang agrokreatif pembibitan pakan hijauan ternak ini dirintis sejak tahun 2016. Program pendampingan yang dilakukan adalah mendampingi petani pengguna lahan PT. Holcim untuk menanam rumput gajah (odot) dan indigofera, sehingga para peternak sapi dan domba dapat dengan mudah mengambil untuk ternak peliharaannya. Selain itu, IPB juga mengembangkan skala usaha  pembangunan stasiun lapang agrokreatif untuk penggemukan ternak domba di wilayah kerja PT. Holcim Tbk.

    Manajer PT. Holcim Indonesia TbkEdi Prayitno menyampaikan program pembibitan rumput gajah mini (odot) dan indigofera merupakan upaya PT. Holcim Tbk dalam membantu menyediakan pakan ternak bagi peternak di sekitar wilayah kerja PT. Holcim Tbk. “Harapannya peternak dapat dengan mudah mencari dan mendapatkan makanan ternak atau  pakan untuk penggemukan ternaknya,” ujarnya.

  • IPB dan PT. Antam Canangkan Pengembangan Hijauan Pakan Ternak

    Direktorat Kajian Strategis dan Kebijakan Pertanian (Dit. KSKP) Institut Pertanian Bogor (IPB) bekerjasama dengan Divisi Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Antam (Persero) Tbk mencanangkan pengembangan hijauan pakan ternak, Selasa (5/1). Pencanangan yang mengambil tempat di Kebun Bukit Arroyan, Desa Antajaya, Kecamatan Tanjung Sari Kabupaten Bogor ini  diadakan dalam rangka menyongsong swasembada daging dan penguatan potensi ekonomi lokal.
     
    Direktur KSKP IPB Dr. Dodik Ridho Nurrochmat, mengatakan, untuk mendukung program nasional dan menyongsong swasembada daging, IPB mebuat model-model pemanfaatan lahan non-produktif melalui penanaman hijauan pakan ternak skala kecil. Kegiatan ini dilakukan di tiga titik desa yang berada dalam wilayah Kabupaten Bogor dan Sukabumi, diantaranya adalah Desa Cileuksa, Kecamatan Sukajaya; Desa Tamansari, Kecamatan Tamansari dan Desa Nanggerang, Kecamatan Cicurug.
     
    “Model ini akan dikembangkan dalam skala 50 hektar yang akan diimplementasikan secara bertahap. Dalam model pengembangan ini, IPB akan mendampingi petani dalam mengembangkan hijauan pakan ternak bekerjasama dengan PT. Antam yang akan memfasilitasi akses petani terhadap permodalan melalui penyaluran dana bergulir kepada petani,” ujar Dr. Dodik.
  • IPB Dirikan Sekolah Peternakan di Bojonegoro

    Bojonegoro (Antara Jatim) - Institut Pertanian Bogor (IPB) mendirikan sekolah peternakan rakyat (SPR) di Kecamatan Kasiman, Kedungadem dan Temayang, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, sebagai usaha membuat pembibitan sapi dengan memanfaatkan induk lokal.

    "IPB tidak akan mendatangkan induk sapi dari luar negeri, tetapi tetap memanfaatkan induk sapi lokal dalam melaksanakan pendidikan di tiga SPR," kata Guru Besar IPB, Prof Mulatno, dalam deklarasi pendirian tiga SPS di Bojonegoro, Rabu.

    Sesuai persyaratan, katanya, jumlah sapi induk di masing-masing SPR 1.000 ekor, yang dikelola 5.000 peternak, dengan masa pendidikan selama tiga tahun.

    "Sifat pendidikan tidak menggurui, sebab peternak sudah berpengalaman, sedangkan ahli peternakan IPB hanya berdasarkan teori," jelasnya.
  • IPB Kembangkan Budidaya Telur Semut Rangrang

    Bogor - Institut Pertanian Bogor (IPB) mengembangkan budidaya telur semut rangrang (kroto) bernilai tinggi. Petani bisa mendapat laba bersih hingga 50 persen dengan harga jual berkisar dari Rp 30.000 - Rp 50.000.


    Mahasiswa Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Fakultas Peternakan IPB Abdul Rachman menerangkan, bahan yang digunakan yaitu bibit semut rangrang penghasil kroto sebanyak 10 koloni (5 kilogram). Adapun dua jenis pakan yang dipakai adalah cacing tanah dan tulang sapi serta air gula. Ketiganya diberikan secara rutin sebagai sumber energi semut rangrang.

    "Setelah 100 hari, kita dapat memanen setiap hari sekitar 3 kilogram kroto dan bisa dijual Rp 30.000 per kilo. Dan, budidaya semut rangrang tersebut relatif mudah serta tidak menyita waktu banyak," kata Abdul di Bogor, Rabu (13/8).

    Kroto adalah nama yang diberikan orang Jawa untuk campuran larva dan pupa semut penganyam Asia (terutama Oecophylla smaragdina). Campuran ini terkenal di kalangan pencinta burung dan nelayan di Indonesia, karena larva semut populer sebagai umpan ikan, dan juga sebagai makanan tambahan untuk meningkatkan ketrampilan burung berkicau.

    Budidaya semut rangrang penghasil kroto masih jarang dilakukan masyarakat di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh kurangnya penelitian dan pengetahuan mengenai pengembangbiakkan semut rangrang.(Sumber:Jakarta Globe)
  • Joint general lecturers: Prof. Hiroshi Takagi PhD dan Berry Juliandi, PhD

    Pada hari Kamis, 18 Desember 2014, diselenggarakan joint general lecture di Ruang Sidang Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan. Dalam kesempatan ini hadir dua dosen tamu, Prof. Hiroshi Takagi, PhD dari Nara Institute of Science and Technology dan Berry Juliandi, PhD dari Departemen Biologi, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

    Berry Juliandi, PhD memberikan paparan yang berjudul "Stem cells biology and its application in biomedicine". Berry Juliandi, PhD menjelaskan mengenai dasar-dasar biologi sel punca atau sel batang. Sel punca memiliki fungsi untuk sistem perbaikan penggantian sel-sel tubuh. Sel punca telah digunakan untuk percobaan pengobatan biologis pada tikus penderita paralisis dalam skala laboratorium. Untuk selanjutnya sedang dikembangkan penelitian yang aplikatif untuk manusia.

    Prof. Hiroshi Takagi memaparkan "Overexpression of the yeast transcription activator msn2 confers stress resistance in industrial yeast". Dalam paparannya, Prof. Hiroshi Takagi menjelaskan mengenai penggunaan yeast dalam industri roti dan berbagai usaha lain. Penggunaan aktivator msn2 mampu menekan efek stress akibat pemanasan, pengeringan dan pembekuan. Sistem ini dapat diterapkan pada berbagai industri lain, termasuk industri pakan. Prof. Hiroshi Takagi juga menjelaskan mengenai ruang lingkup Nara Institute of Science and Technology serta kesempatan beasiswa untuk belajar di sana.

    Dalam kesempatan ini hadir sekitar 30 mahasiswa pasca sarjana dari Fakultas Peternakan dan Fakultas Teknologi Pangan IPB. Mahasiswa tampak antusias mengikuti perkuliahan dan aktif bertanya kepada kedua dosen undangan.(sumber: intp.fapet.ipb.ac.id)