News

  • Kembangkan Sekolah Peternakan Rakyat,IPB Teken Kerjasama dengan PT. Surya Agro Pratama dan Infrabanx

    Institut Pertanian Bogor (IPB) dan PT. Surya Agro Pratama serta Infrabanx sepakat mengadakan kerjasama dalam bidang peningkatan kapasitas peternak, pemanfaatan ilmu dan teknologi, serta penerapan bisnis kolektif melalui program Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) di seluruh Indonesia. Kesepakatan disahkan melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) seluruh pihak di Ruang Sidang Rektor Kampus IPB Dramaga (22/5). MoU ini berlaku selama 10 tahun. 

    Rektor IPB, Dr.Arif Satria berharap dengan adanya kerjasama IPB dan PT Surya Agro Pratama, inovasi kelembagaan yang telah diciptakan oleh tenaga ahli IPB dapat memecahkan problem social capital yang biasanya ada dalam usaha peternakan. Apa yang  dikembangkan dapat  mengarah pada penguatan sistem.

    “Ini dapat menjadi kekuatan kita ke depan. Semoga dengan hadirnya Infrabanx akan lebih masif, lebih baik lagi dan dapat meningkatkan kesejahteraan para peternak,” ujar rektor.

    Selain itu menurut rektor, SPR dapat menjadi learning center, pusat pembelajaran dan penyuluhan yang berbasis pada riset. Kemudian prinsip sosial capital dapat terus dikembangkan dan dapat menjadi solusi dari problem baik di bidang sumbedaya alam, hubungan  antar kelompok, hubungan peternak dengan pihak luar atau investor.

  • Kick Off Meeting Prodi Animal Logistic Fapet IPB

    Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (Fapet IPB) menyelenggarakan pertemuan bertajuk “Kick Off Meeting Capacity Building in Animal Logistic of Poultry and Livestock”, Selasa (24/2) di IPB International Convention Center (IICC) Bogor. Kegiatan ini menjadi acara perdana dalam rangka penyelenggaraan Program Studi (Prodi) baru Fapet dalam bidang Animal Logistic. Dalam hal ini IPB bekerjasama dengan Nuffic Belanda untuk pengembangan capacity building di bidang animal logistic terutama untuk livestock dan poultry. 
  • Kontribusi IPB untuk Logistik Peternakan Indonesia

    Bisnis peternakan di Indonesia saat ini menghadapi permintaan yang terus meningkat pada produk-produk hasil ternak. Namun tingginya tingkat permintaan produk ternak masih terkendala dalam pengelolaan distribusi pasokan yang menyebabkan tingginya biaya logistik. Kendala dalam pengembangan logistik peternakan adalah infrastruktur, manajemen dan sumberdaya manusia. 

    Fakultas Peternakan  IPB sebagai institusi pendidikan dan penelitian telah berkomitmen untuk berkontribusi dalam pengembangan logistik peternakan di Indonesia. “Bagi Fapet IPB , logistik tidak hanya sekedar memindahkan produk ternak dari satu tempat ke tempat lain tetapi logistik terkait dengan aspek keamanan dan ketahanan pangan”, jelas Dr.Yamin sebagai Dekan Fapet IPB.

    IPB telah membuka program S1 plus Logistik Peternakan yang bertujuan  untuk menghasilkan kompetensi para lulusan untuk mampu mengimplementasikan keahlian, ilmu pengetahuan, teknologi dan sains di bidang logistik peternakan. Pembentukan program studi ini didukung oleh Asosiasi Logistik Indonesia (ALI). “ALI juga mendukung jika program studi memerlukan dosen tamu dari anggota ALI terkait logistik secara umum”, jelas Zaldy Ketua ALI saat meeting bersama  tim Fapet IPB pada  Februari 2017 lalu.

    Perkuliahan perdana program Sarjana Plus Logistik Peternakan akan dimulai pada awal tahun ajaran baru 2017-2018, di bulan Juli 2017. Logistik peternakan merupakan area multidisiplin ilmu, antara lain ilmu peternakan, logistik, pengolahan, teknologi rantai dingin, ekonomi dan ritel.  Oleh karena itu Program S1 Plus ini terbuka bagi lulusan S1 dari jurusan yang relevan (Peternakan, Kedokteran Hewan, Logistik, Transportasi, Ekonomi, Teknik Industri, Ilmu Konsumen dan Keluarga) fresh graduate ataupun sudah bekerja.

  • Kreatif! Mahasiswa IPB Ciptakan Snack JunkKrips Berbahan Dasar Jangkrik

    Jangkrik (Gryllidae) adalah serangga yang berkerabat dekat dengan belalang. Memiliki tubuh rata dan antena panjang. Jangkrik adalah omnivora. Dikenal dengan suaranya yang hanya dihasilkan oleh jangkrik jantan. Suara ini digunakan untuk menarik betina dan menolak jantan lainnya. Suara jangkrik ini semakin keras dengan naiknya suhu sekitar.  Umumnya jangkrik dianggap sebagai salah satu jenis pakan burung atau hewan hias lainnya.

    Padahal jangkrik memiliki berbagai manfaat dengan kandungan gizi yang kaya. Kandungan nutrisi penting pada jangkrik adalah protein, asam lemak essensial, vitamin serta mineral. Pada jangkrik yang masih segar kandungan proteinnya sekitar 40%, namun apabila sudah diolah menjadi jangkrik kering atau jangkrik panggang, kandungan protein akan meningkat hingga 64%. Selain protein ternyata jangkrik juga mengandung zat kitosan seperti yang terkandung pada udang dan memenuhi 15-25% kebutuhan vitamin A.  Kebanyakan masyarakat di Indonesia belum memanfaatkan potensi jangkrik yang sangat menjanjikan ini.

    Lima mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yakni Uswatun Khasanah, Muhamad Suhendra, Andini Siwi Pratama, Triyana Nur  Rizki dan Iza Fitria Husna menciptakan Snack JunkKrips yang kaya protein, bahan dasarnya jangkrik. JunkKrips merupakan suatu inovasi yang sangat unik dan memiliki rasa yang enak dan renyah serta kandungan gizi yang sangat baik untuk tubuh.

    Di bawah bimbingan M Sriduresta Soernarno, Spt MSc selaku dosen pembimbing, Uswatun dan tim terus berinovasi dengan mengeluarkan berbagai macam varian produk olahan JunkKrips, diantaranya adalah StickKrips dan BasKrips. Kedua varian produk ini  memiliki rasa dan tekstur yang unik dan berbeda. Konsumen juga dapat memilih pilihan rasa yang disajikan dari Baskrips dan StickKrips, diantaranya adalah rasa barbeque, jagung bakar, pedas, original dan balado.

    Dalam waktu dekat Uswatun dan tim akan mengeluarkan varian produk JunkKrips ke-3 setelah Baskrips dan StickKrips. Produk Barunya diberi nama Choco JunkCho siap diluncurkan menjadi produk baru dan tentunya memanfaatkan jangkrik sebagai bahan dasar. Nah nantikan terus inovasi dari lima mahasiswa IPB ini ya... (ipb.ac.id)

  • KSKP IPB Gelar Diskusi Pakar “Potensi Pengembangan Hijauan Pakan Ternak di Areal Perhutani”

    Survey karkas tahun 2012 yang dilakukan oleh Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB) menunjukkan bahwa sapi lokal dari peternakan rakyat di Indonesia berada dalam kondisi kurus 36 persen, sedang 49 persen, dan gemuk 15 persen. Selain itu, sekitar 30 persen sapi dan kerbau siap potong adalah berumur tua dan bobot potong rata-rata yang diperoleh adalah 50 kilogram (kg) di bawah potensi sebenarnya.
     
    Oleh karena itu diperlukan peningkatan kualitas dan kuantitas pakan, lingkungan kandang dan tata laksana pemeliharaan. Permasalahan utama dalam mengembangkan hijauan pakan ternak (HPT) karena terbatasnya ketersediaan lahan. Salah satu lahan yang berpotensi untuk digunakan sebagai lokasi pengembangan HPT di Kabupaten Bogor adalah lahan perhutani Kawasan Penguasaan Hutan (KPH) Bogor. Demikian hal yang mengemuka dalam Diskusi Pakar  “Potensi Pengembangan Hijauan Pakan Ternak di Areal Perhutani”, Kamis (25/2) di Ruang Sidang Rektor Gedung Andi Hakim Nasoetion, Kampus IPB Darmaga, Bogor. Perhutani KPH Bogor menguasai lebih dari 40 ribu hektar areal di Kabupaten Bogor, dan di beberapa lokasi sangat berpotensi untuk pengembangan HPT.
     
    Direktur Kajian Strategis dan Kebijakan Pertanian (KSKP) IPB Dr. Dodik Ridho Nurrochmat menyampaikan bahwa KSKP IPB mulai melakukan kajian pemanfaatan lahan tidur. Beberapa kajian  percontohan pemanfaatan lahan tidur dilaksanakan di lahan-lahan milik pribadi atau pengembang, yaitu  di Tanjung Sari Sumedang dan Gunung Putri Kabupaten Bogor. “Ke depan, kami tertarik mengembangkan HPT yang tumbuh di bawah naungan Perhutani,” ujarnya.
  • Kuliah Inaugurasi Guru Besar IPB sebagai Anggota AIPI

    Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Muladno, MSA terpilih sebagai Anggota Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI). Untuk itu, AIPI bekerjasama dengan IPB menggelar Kuliah Inaugurasi di Auditorium Andi Hakim Nasoetion Kampus IPB Dramaga, Bogor, Rabu (3/7).

    Ketua AIPI, Prof. Sangkot Marzuki mengatakan, inaugurasi anggota sangat penting dilakukan sebagai cara memperkenalkan anggota AIPI kepada masyarakat untuk membuktikan kebenaran pilihan dalam memilih anggotanya. Dikatakannya, AIPI didirikan pada tahun 1990 di bawah Undang-undang Republik Indonesia No. 8/1990 tentang Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia.

    Akademi ini dibentuk sebagai badan independen untuk memberikan pendapat, saran dan nasihat kepada pemerintah dan masyarakat pada akuisisi, pengembangan, serta penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. AIPI terbagi ke dalam lima komisi yaitu Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar, Komisi Ilmu Kedokteran, Komisi Ilmu Rekayasa, Komisi Ilmu Sosial dan Komisi Kebudayaan. AIPI berupaya mempromosikan ilmu pengetahuan melalui berbagai aktivitas seperti konferensi ilmiah dan forum diskusi kebijakan, publikasi, serta pengembangan hubungan nasional dan internasional.

    Dalam kesempatan ini Prof. Muladno mengangkat tema pentingnya meningkatkan kemampuan peternak rakyat dari berbagai aspek teknis maupun non teknis, khususnya dalam aspek bisnis.  Menurutnya, eksistensi sapi lokal di Indonesia tergantung jutaan peternakan rakyat. “Tidak ada cara lain dalam meningkatkan kemampuan para peternak kecuali melalui bisnis kolektif,” ujarnya.

    Dengan begitu, terangnya, akan ada skala minimum kepemilikan ternak sehingga dapat dikembangkan dan berdaya saing lebih tinggi. Sayangnya peran dan ketekunan para peternak sapi lokal ini dinilai belum cukup mendapat perhatian dari pemerintah maupun akademisi.

    Di tempat yang sama, Rektor IPB, Prof. Dr. Herry Suhardiyanto menyampaikan ucapan terima kasih kepada AIPI yang telah memberikan kehormatan bagi Prof. Muladno untuk menjadi anggota Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar atas dasar pemikiran atau gagasannya dalam rangka mengatasi ketahanan pangan.  

    Prof. Muladno menginisiasi konsep Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) – 1111 dengan motto 1000 ekor betina produktif, 100 ekor pejantan, 10 strategi, dan 1 visi yaitu mewujudkan peternak yang berdaulat.  Selain itu, tujuan dari SPR-1111 ini adalah menjadi sarana pembelajaran bagi peternak sapi potong skala kecil agar berwawasan lebih baik, lebih profesional, dan lebih cerdas seperti peternak berkualifikasi sarjana dalam menjalankan usaha peternakannya. 

    SPR-1111 ini merupakan salah satu “Teknologi IPB Prima” selain pengembangan Padi IPB 3S, Kedelai Pasang-Surut dan berbagai inovasi serta pemikiran dalam rangka mendukung ketahanan pangan dan kemandirian pangan nasional.

    Apa yang dilakukan Prof. Muladno selama ini dipahami sebagai sebuah proses pendidikan yang terjadi dalam masyarakat dan sangat relevan dengan tujuan dan semangat IPB dalam pengarusutamaan pertanian dalam rangka memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan Indonesia.

    “Selamat atas prestasi yang membanggakan. Ramaikanlah dunia ilmu pengetahuan dengan inovasi-inovasi yang cemerlang bagi kepentingan bangsa dan negara Indonesia sehingga dapat bersaing dengan negara lain di pasar bebas ASEAN,” ujar rektor. (ipb.ac.id)

  • Kuliah umum dari Ronald Knust Gaichen

    Pada hari Kamis, tanggal 17 Maret 2016, bertempat di ruang sidang Fakultas Peternakan IPB, staf dan mahasiswa S2 maupun S3 di Fakultas Peternakan mendapatkan kesempatan kuliah umum dari Ronald Knust Graichen. Ronald Knust Graichen merupakan seorang konsultan pendidikan dari STOAS Vilentum University yang tengah terlibat dalam kegiatan kerjasama "The Neatherlands Initiative for Capacity Development In Higher Education (NICHE)" di IPB. Dalam kesempatan ini Ronald menyampaikan tema mengenai “How to design and improvement of written exams”

    Ronald menjelaskan beberapa jenis tes tertulis yang sesuai dengan hasil belajar yang diharapkan, misalnya jika ingin mengetahui tingkat pengetahuan peserta tes, maka jenis tes yang sesuai diantaranya adalah tes berjenis essay. Ronald juga menjelaskan beberapa perbedaan jenis tes dan juga manfaatnya yang ada saat ini misalnya pilihan ganda, besar/salah, dll. Ronald juga menjelaskan tentang perlunya keselarasan antara hasil belajar dengan pertanyaan dalam tes yang diujikan. Kuliah umum diakhiri dengan sesi tanya jawab dengan peserta. 

     

  • Kunjungan dari University of Adelaide

    Sebanyak 20 orang mahasiswa dari University of Adelaide mengunjungi Fakultas Peternakan IPB pada tanggal 27-28 November 2014. Rombongan disambut oleh Wakil Dekan dan mahasiswa Fakultas Peternakan IPB di Ruang Sidang Fakultas pada pukul 09:00. Agenda kegiatan yang diadakan di Fakultas Peternakan adalah pengenalan Institusi, collaboration meeting, kunjungan ke laboratorium lapang Fakultas Peternakan IPB.
     

    Acara diakhiri dengan penutupan dan early dinner  pada hari Jumat, 28 November 2014 di Wisma IPB Landhuis.

  • Kunjungan Professional Advisory Committee (PAC) Logistik Peternakan Indonesia ke Belanda

    Animal Logistic Indonesia-Netherland (ALIN) merupakan proyek kerjasama di bidang logistik peternakan yang dilaksanakan oleh Fakultas Peternakan IPB (Fapet-IPB) bekerjasama dengan Konsorsium Belanda yang dipimpin oleh Maastricht School of Management (MSM) yang didanai EP-Nuffic, Belanda. Salah satu output dari proyek ALIN adalah Fapet-IPB memiliki kemampuan akademik, organisasional dan manajemen untuk menyampaikan pendidikan dan pelatihan yang memperhatikan aspek gender dalam melaksanakan penelitian dalam bidang logistik peternakan.

    Melalui FLPI (Forum Logistik Peternakan Indonesia), ALIN dan Fapet IPB telah menjalin kerja sama dengan stakeholders, dalam mendukung pembentukan program studi logistik peternakan pada jenjang Sarjana Plus dan Pascasarjana. Tim PAC berasal dari komponen akademisi, industri, pemerintah, dan komunitas untuk mendesain, menyelenggarakan, dan evaluasi pelaksanaan program studi tersebut. Tim PAC terdiri dari 1) Zaldy Ilham Masita (Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia); 2) Prof. Dr. Ir. Senator Nur Bahagia (Direktur Pusat Kajian Logistik dan Supply Chain ITB); 3) drh. Sudirman, MM (Business Development Director PT Sierad Produce, Tbk); 4) Ir. Harianto Budi Raharjo (Operational Direktur PT Lembu Jantan Perkasa); 5) Ir. Fini Murfiani, MSi (Direktur PPHnak, Kementerian Pertanian RI).

    Salah satu agenda PAC adalah memenuhi undangan dari pihak Belanda untuk melakukan exposure visit ke lembaga-lembaga sektor logistik peternakan dan lembaga pendidikan internasional sehingga mampu menyusun standar penyelenggaraan program pendidikan logistik peternakan di Indonesia. Belanda merupakan contoh yang baik di dalam praktik manajemen logistik peternakan dan memiliki universitas kelas dunia dengan fasilitas yang lengkap dan memadai. Kegiatan ini dilaksanakan tanggal 08 s.d. 12 Mei 2017 di Belanda, antara lain kunjungan ke NVWA Utrecht, Cattle and Logistic The Netherlands, STC Education and Training in Transport and Logistics-Rotterdam., Wageningen UR dan lainnya.

    Terdapat poin- poin penting hasil exposure visit antara lain penguasaan karakteristik produk ternak sebagai komoditas merupakan hal terpenting dalam logistik peternakan. “Fapet-IPB telah memiliki bekal dasar menguasai karakteristik produk ternak untuk pengembangan program studi logistik peternakan”, jelas Ir Harianto Budi Raharjo dalam kegiatannya di Belanda pada tanggal 11 Mei 2017. Poin penting lainnya juga dijelaskan oleh Prof Senator bahwa higienitas menjadi prioritas dalam proses logistik peternakan di Belanda, hal ini menjadi pembelajaran penting bagi logistik peternakan di Indonesia. “Pada praktik logistik peternakan di Belanda, setiap ternak dimonitor secara day-to-day melalui fasilitas IT”, jelas Prof Senator. Beliau juga menjelaskan bahwa kegiatan logistik peternakan di Belanda berjalan secara parsial, namun dapat terkelola secara baik karena terjalin kepercayaan yang sangat tinggi antar stakeholders.

    Tim PAC dan ALIN juga mendapatkan pengetahuan mengenai kesejahteraan hewan yang disampaikan oleh EonA (Eyes on Animals). Lembaga NGO , EonA, menyampaikan materi peningkatan kesejahteraan hewan selama transportasi, membahas masalah-masalah yang sering terjadi dan praktik terbaik yang diterapkan di Eropa. Selain itu, juga membahas permasalahan yang sering terjadi di Indonesia terutama teknik yang digunakan untuk mengangkut hewan dari kapal yang tidak memperhatikan kesejahteraan hewan. “Terdapat pengalaman dari sebuah perusahaan produksi dan perdagangan ternak di Eropa, investasi perusahaan untuk kesejahteraan hewan hasilnya berdampak positif pada tingkat pengembalian finansial perusahaan ” jelas Lesley Moffat sebagai founder dan koordinator EoNa saat menyampaikan kuliah di hadapan tim PAC dan ALIN tanggal 09 Mei 2017 di Harderwijk (NL). Tim PAC dan ALIN sangat terbuka dalam diskusi mengenai hal tersebut untuk menghasilkan logistik peternakan Indonesia yang lebih baik dengan memperhatikan kesejahteraan hewan. (ipb.ac.id)

  • Laboran IPB Juara II Pranata Laboratorium Pendidikan Berprestasi Nasional

    Laeli Komalasari, SP, M.Si, Pranata Laboratorium Pendidikan asal Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) berhasil menjadi Juara II dalam ajang Pemilihan Pranata Laboratorium Pendidikan Berprestasi Nasional. Inovasinya yang berjudul "Mesin Tetes Inovasi Pendukung Efektivitas Kinerja Akademik di Laboratorium" ini sangat membantu peneliti melakukan risetnya.

    “Kejadian listrik padam di Bogor belakangan lebih sering terjadi dan sulit diprediksi. Kejadian tersebut menjadi kendala dalam pelaksanaan kegiatan penetasan telur unggas (secara artifisal). Adanya gangguan listrik berdampak pada perkembangan embrio yang tidak sempurna,  telur gagal menetas dan akhirnya mengganggu proses penelitian,” ujarnya.

    Laeli membuat mesin tetas yang cocok untuk mengatasi permasalahan tersebut. Mesin tetas buatannya memiliki kapasitas 100 dan 200 butir telur. Sumber energi yang digunakan berasal dari listrik PLN dengan mengombinasikan power inverter yang mempunyai fungsi dapat mengkonversikan tegangan 12 volt DC menjadi tegangan 220 volt AC dengan aki sebagai cadangan energi.

    “Dengan demikian, pada saat listrik padam, secara otomatis sumber panas dalam mesin didapatkan dari alat inverter yang bersumber dari aki. Mesin tetas didesain khusus sehingga telur dapat diposisikan secara vertikal dengan kantung udara berada di atas. Keadaan ini membuat  respirasi embrio berjalan optimal. Posisi telur horisontal menyebabkan penyebaran panas tidak merata sehingga perkembangan embrio tidak sempurna. Untuk itu desain mesin ini memposisikan telur secara vertikal,” terangnya.

    Menurutnya, kelebihan inovasi ini adalah sudah teruji dan sudah diimplementasikan serta telah meluluskan banyak sarjana, magister serta menghasilkan publikasi ilmiah.

    Selain menjadi Juara II Pranata Laboratorium Pendidikan Berprestasi Nasional 2018, Laeli juga pernah mendapatkan penghargaan sebagai The Second Winner in Scientific Paper Award pada Jurnal Nasional Terakreditasi (Media Peternakan).

    Laeli merupakan salah satu dari 49 peserta yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Setelah lolos seleksi pada bulan September, Laeli berhasil masuk dalam 10 finalis yang diundang ke Jakarta selama empat hari untuk dilakukan pemilihan peringkat 1, 2, dan 3.

    “Saya merasa sangat beruntung karena support mengalir deras dari berbagai pihak termasuk suaminya tercinta (Melzuardi), Staf  Divisi Unggas terutama Dr. Niken Ulupi, Ketua Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP) Fakultas Peternakan IPB,  Dr. Irma Isnafia Arief, warga Departemen IPTP, khususnya Prof. Dr. Ir. Cece Sumantri dan Dr. Ir. Lucia Cyrilla, Pemimpin Fakultas Peternakan (Dekan dan Wakil Dekan) Tim Direktorat Sumberdaya Manusia IPB, Tim Coaching dan Tim Biro Komunikasi IPB,” ujarnya. (ipb.ac.id)

  • Mahasiswa dari 4 Negara Ikuti Summer Course di IPTP

    Sebanyak  6 orang mahasiswa asing dari 4 negara mengikuti Summer Courseyang digelar oleh Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB. Summercourse yang berlangsung dari tanggal 20 - 28 Agustus ini resmi dibuka oleh Dekan Fakultas Peternakan IPB  di Ruang ruang sidang Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (20/08/2017). Peserta Summercourse berasal dari Maejo University (Thailand), Kagawa University (Japan), Hebron University (Palestine), dan Women University (Zimbabwe).

    Selama 9 Hari, peserta mengikuti rangkaian kegiatan Summercourse yang bertajuk  "Integrated Tropical Livestock Production and Tecnology"  baik di dalam kelas, di Laboratorium, maupun di luar kelas.  Beberapa jadwal kegiatan yang diadakan diantaranya adalah pengenalan sumberdaya ternak dan genetik ternak lokal di indonesia, beserta dengan strategi pemuliaan genetika ternak di masyarakat. peserta juga diajak mengunjungi laboratorium pemuliaan dan genetika ternak di Fapet IPB.  Kegiatan tersebut diadakan pada hari pertama. Hari kedua, peserta diberikan materi tentang pengenalan produksi unggas tropis di Indonesia. Peserta juga diajak untuk mengunjungi kandang produksi unggas tropis di laboratorium lapangan di Fapet IPB. Hari selanjutnya, topik yang disampaikan adalah tentang sistem dan efisiensi pada peternakan tropis terpadu, yang dilakukan di kelas dan di lab lapangan. Hari ke empat, peserta diajak mengunjungi pengolahan produk ternak lokal di sekitar bogor.

    Setelah mengikuti rangkaian kegiatan perkuliahan, peserta melakukan presentasi dari hasil pengamatan dan perkuliahan, serta melakukan evaluasi dan diskusi atas kegiatan summer course yang telah dilakukan. Pada akhir kegiatan peserta melakukan kunjungan ke Kebun Raya, Meseum Zoology Bogor, serta mengunjungi tempat tempat bersejarah di Jakarta, sebelum melakukan persiapan untuk pulang ke negaranya masing masing.

     

  • Mahasiswa dari Negeri Jiran Summer Course di Fakultas Peternakan IPB

    Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) menggelar program Summer Course yang kedua kalinya pada tanggal 22-31 Juli 2018. Tema summer course kali ini adalah Exotic Tropical Animal Nutrition and Feed Technology. Program ini diikuti oleh 22 orang mahasiswa dari Universiti Putra Malaysia (UPM), Universiti Malaysia Sabah (UMS), Universitas Udayana, Universitas Tanjung Pura dan SMKN Kuala Mandor.

    Program summer course ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang plasma nutfah ternak atau hewan eksotik tropika seperti domba adu, kambing perah, kudarenggong atau tunggang lokal, ayam pelung, jalak bali dan rusa totol. Peserta juga mendapatkan materi tentang manajemen pemberian pakan serta strategi konservasinya. Selain itu juga diperkenalkan tentang model padang penggembalaan (pasture) tropika serta teknologi pengolahan pakan ternak.

    “Program ini dilaksanakan selama sepuluh hari dengan program kuliah di Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, serta praktek lapang di beberapa peternakan. Materi kuliah yang diberikan terdiri dari Exotic Tropical Feeds, Tropical Pasture Management, Feeding Management and Reproduction of Garut Sheep, Feeding Management of Renggong Horse forDancing Performance, Feeding Management and Conservation of Jalak Bali and Rusa Totol, Feeding Management of Pelung and Laughing Chicken, Feeding Management of Dairy Goat dan Feed Formulation.  Peternakan yang dikunjungi adalah area konservasi Jalak Bali dan Rusa Totol di Citeureup, Domba Garut di Gadog, Kuda Renggong di Sumedang, serta Kambing Perah dan Rusa Timor di Ciwidey,” ujar penanggung jawab program, Prof. Dr. Ir. Dewi Apri Astuti, MS. 

    Selain mendapatkan materi di kelas dan di lapang, peserta juga mendapatkan program kegiatan bersama di Kebun Raya Bogor. Kegiatan ini bertujuan untuk membangun keakraban antara peserta. Para peserta diharapkan dapat aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang dilaksanakan. Program Summer Course ini akan dilaksanakan kembali pada tahun 2019 (ipb.ac.id)

  • Mahasiswa Fakultas Peternakan Harus Punya Ternak

    Seminar dan Workshop Agribisnis Peternakan (SWAP) yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Institut Pertanian Bogor (Himaproter) telah sukses digelar (28/04/2018). Seminar yang banyak mengupas tentang  prospek, peluang serta praktik bisnis peternakan di lapangan, menghadirkan beberapa pakar dan praktisi di bidang peternakan diantaranya,  Dr. Sri Rahayu (dosen Fapet IPB), Budi Susilo Setiawan (pemilik MT Farm), Subarkah dan Ahmad Anwari (peternak jangkrik Bekasi).

    Peternak sukses yang merupakan alumni Fakultas Peternakan IPB, Budi Susilo Setiawan dalam paparannya mengatakan,  permasalahan yang dihadapi peternak Indonesia adalah  kualitas produk peternakan yang masih fluktuatif. Intinya, dalam bisnis itu pengusaha harus baik dalam setiap urusan.  Budi merasakan banyak keberkahan dalam usahanya di dunia peternakan. Dari beternak, alumni Fapet IPB ini bahkan sekarang mempunyai usaha catering, properti dan agrowisata.

     “Apapun usaha yang kita akan lakukan, cukup berpegang pada empat hal yaitu yakin bahwa usaha ini adalah hal baik, berusaha optimal, perbanyak ilmu dan sabar. Jangan sampai anak peternakan tidak punya ternak atau tidak bisa jualan ternak. Bisnis itu bicara realistis bukan idealis. Ketika karkas impor yang lebih murah hadir menjadi ancaman bagi peternak, kita harus bergerak cepat,“ ujar Budi.

    Dr  Sri Rahayu menjelaskan tentang perkembangan dunia peternakan Kambing Domba (Kado) di Indonesia. Mulai dari prospek ternak, populasi Kado, keunggulan ternak Kado, membantah stigma negatif mengenai daging Kado yang tinggi kolesterol serta membandingkan sistem pemeliharaan Kado di Indonesia dan di negara lain (Australia dan New Zealand).

    Selain kambing dan domba, peserta juga mendapatkan ilmu mengenai bisnis dan usaha jangkrik. Bisnis jangkrik ini masih awam di kalangan masyarakat. Padahal prospek jangkrik sangat prospektif merujuk pada permintaan pasar yang tinggi, tidak membutuhkan investasi yang besar dalam memulai usaha serta dapat dilakukan di tempat yang sempit. Proses panen yang memakan waktu singkat (hanya sekitar 22 hari) ini menjadikan usaha ternak jangkrik sangat potensial untuk dikembangkan.

    “Kita harus memiliki pengetahuan dalam beternak jangkrik, paham pasar jangkrik seperti apa, membuat kandang yang sesuai, manajemen pakan yang baik dan melakukan kontrol rutin. Resiko terbesar usaha ternak jangkrik terletak pada serangan predator karena dapat mengurangi jumlah jangkrik yang dapat dipanen ataupun dalam proses peneluran bibit jangkrik. Namun, dengan perlakuan yang tepat hal ini dapat diantisipasi,” sebut Anwari dan diamini oleh Subarkah.  (Sumber Repuplika)

  • Mahasiswa Fapet IPB Ikuti Winter Course di Australia

    Institut Pertanian Bogor (IPB) sudah lama menjalin kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi di Australia. Salah satunya adalah kerja sama Fakultas Peternakan (Fapet) IPB dengan School of Animal Sci and Vet Science Adelaide University.

    Tahun ini, program kerja sama yang terjalin berupa pengiriman mahasiswa IPB untuk mengikuti kegiatan Winter Course 17 hari (23 Juni-10 Juli 2017) di beberapa perguruan tinggi di Australia dan ikut serta dalam perlombaan International Collegiate Meat Judging (ICMJ). Ada lima mahasiswa Fakultas Peternakan yang terpilih untuk mengikuti kegiatan ini. Mereka adalah Hamza Nata Siswara, Melfa Andraini Agatha, Yuni Nuraifah, Dei Gustifah K  dan M.Sirajatun Kurniawan.

    “Program ini bertujuan untuk memberikan kesempatan dan pengalaman kepada kami,  mahasiswa Fapet IPB, dalam bidang peternakan yang memiliki bobot kuliah 3 SKS. Kegiatan ini dilaksanakan di berbagai negara bagian yang ada di Australia, seperti   Darwin (Northern Territory) dan Katherine, Adelaide, Adelaide University Roseworthy S.A, dan Wagga Wagga, NSW,” ujar Hamza dalam rilis IPB yang diterima Republika.co.id, Kamis (3/8).

    Menurut Hamza, sebelum keberangkatan ke Australia mereka diwajibkan magang di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Elders Fapet IPB. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi mereka sebagai informasi awal tentang proses produksi daging dan international beef industry sebelum mereka mengikuti perlombaan.

    “Selain ikut Winter Course, kami  juga akan ikut lomba ICMJ. Dengan demikian,  kegiatan magang ini sangat diperlukan sebagai bekal bagi kami  untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan skill mahasiswa dalam menilai daging,” tutur Hamza.

    Ia mengemukakan,  beberapa kegiatan yang diberikan pada saat pelatihan adalah pengenalan proses penyembelihan sapi, penanganan karkas, penyimpanan karkas dalam chiller, proses deboning, proses packing dan repacking serta pengenalan terhadap retail cut dan primal cut pada daging sapi. (republika.co.id)

  • Mahasiswa IPB Buat Jamu Rempah untuk Turunkan Kolesterol Telur Puyuh

    Telur puyuh merupakan salah satu hasil ternak yang banyak digemari oleh masyarakat karena rasanya yang enak dan bergizi. Namun masyarakat khawatir mengkonsumsi telur puyuh karena kadar kolesterolnya yang tinggi dibandingkan telur ayam biasa. Padahal telur puyuh ini dapat berpotensi sebagai penyedia protein hewani nasional.

    Kadar kolesterol yang berlebih jika dikonsumsi dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti serangan jantung dan penyempitan pembuluh darah. Melihat kondisi ini, tiga mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) membuat “Jamu Rempah” untuk menurunkan kolesterol dari telur puyuh. Mereka adalah Arrum Andari, Endina Nur Anisa, dan Riska Febri Wulandari.

    “Jamu rempah adalah jamu yang terbuat dari bahan rempah-rempah seperti kayu manis, kapulaga, cengkeh, pala, dan bunga lawang. Jamu rempah ini mengandung senyawa aktif seperti alkaloid, flavonoid, dan tanin. Senyawa aktif tersebut dapat menghambat penimbunan lemak dan kolesterol dalam tubuh ternak,” ujar Arrum, selaku Ketua Tim.

    Di bawah bimbingan Ir. Dwi Margi Suci, MS, Staf Pengajar di Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan IPB, “Jamu Rempah” menjadi salah satu Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Bidang Penelitian Tahun 2018. Judul penelitiannya adalah  “Suplementasi Jamu Rempah pada Ternak Puyuh sebagai Upaya Memproduksi Telur Puyuh Rendah Kolesterol”.

    Pemberian jamu rempah dilakukan dengan cara pencampuran langsung dengan air minum sebanyak 1 liter air pada ternak. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian jamu rempah sebanyak 10 ml dalam 1 liter air minum dapat menurunkan kadar kolesterol telur puyuh hingga 49.9%.

    Arrum menyatakan keberhasilan dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai langkah awal dalam meningkatkan produksi telur puyuh rendah kolesterol di Indonesia. “Jamu rempah ini juga memiliki potensi dalam bidang sosial dan ekonomi yaitu dapat menciptakan lapangan usaha baru dan meningkatkan pendapatan para peternak puyuh,” katanya.

    Menurut Arrum, “Jamu Rempah” ini adalah temuan awal yang akan dikembangkan lagi ke depannya. Rencananya Arrum dan kawan-kawan akan memproduksi telur puyuh rendah kolesterol secara massal, mempublikasikan artikel ilmiah, dan membuat Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan Paten.

  • Mahasiswa IPB Buat Sabun Kalsium Penurun Gas Metana Ternak

    Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) meneliti minyak asal larva Black Soldier Fly sebagai sabun kalsium yang digunakan sebagai campuran pakan ternak ruminansia. Larva Black Soldier Fly atau larva tentara hitam ini memiliki kandungan protein tinggi. Tiga mahasiswa Fakultas Peternakan IPB, Neng Sri Haryanti Lestari, Desi Maria Sinaga, dan Dwitami Anzhany di bawah bimbingan dosen, Dr. Anuraga Jayanegara, S.Pt, M.Sc mengadakan penelitian terhadap hewan uji (ruminasia besar seperti sapi) untuk menangani peningkatan gas metana yang dihasilkan oleh eruktasi (hembusan nafas hewan) dan feses melalui pembuatan sabun kalsium dari minyak asal larva Black Soldier Fly.

    Penelitian tersebut dituangkan dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Eksakta (PKM-PE) yang berjudul “Mitigasi Gas Metana Ternak Ruminansia Melalui Inovasi Sabun Kalsium dari Minyak Asal Larva Black Soldier Fly”.

    Salah satu isu lingkungan yang menjadi sorotan publik hingga saat ini adalah global warming. Fenomena efek rumah kaca merupakan salah satu bentuk nyata terjadinya global warmingyang ditandai dengan meningkatnya polutan gas metana. Ternak ruminansia juga dipercaya sebagai penghasil gas metana terbesar di dunia, yaitu 90 persen dihasilkan di dalam rumen. Gas ini dirotasikan melalui pembuluh darah dan paru-paru dan berakhir pada pelepasan metan melalui mulut dan hidung, yang disebut dengan eruktasi. Sisanya, 10 persen metan dibuang melalui anus. Inovasi ini diharapkan mampu menjadi alternatif dalam upaya penurunan polutan gas metana tersebut.

  • Mahasiswa IPB Formulasi Biogas Ekonomis dari Limbah Isi Rumen dan Darah Sapi

    Penggunaan energi terbarukan menjadi isu penting dan mendesak terkait kelangkaan bahan bakar fosil di masa depan. Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) memberikan solusi berupa energi terbarukan yang ekonomis, ramah lingkungan, dan berpotensi besar, yaitu biogas dengan menggunakan limbah isi rumen dan tambahan darah sapi potong sebagai substrat utamanya.

    Ketiga mahasiswa tersebut adalah Erik Kurniawan dan Annisa Rosmalia dari Fakultas Peternakan IPB, dan Vegoma Fazatha dari Fakultas Kehutanan IPB. Mereka mendapat bimbingan dari Iyep Komala, S.Pt, M.Si, dosen Fakultas Peternakan. Penelitian ini menjadi salah satu finalis PKM bidang Penelitian 2018.

    "Ide ini berawal dari keprihatinan kami terhadap limbah yang dihasilkan oleh Rumah Potong Hewan (RPH) yang belum dimanfaatkan dengan maksimal, yaitu limbah isi rumen (perut sapi) dan darah sapi potong yang dapat mencemari tanah dan air, serta baunya juga cukup menyengat. Sementara itu, isi rumen dapat digunakan sebagai inovasi substrat dalam pembuatan biogas. Selama ini, pembuatan biogas biasanya hanya menggunakan kotoran hewan dan daun kering sebagai subtrat utamanya,” jelas Annisa.

    Fazatha menyampaikan bahwa komponen isi rumen memiliki kelebihan khusus daripada komponen substrat yang digunakan pada pembuatan biogas pada umumnya.

    “Isi rumen merupakan hasil pencernaan setengah jadi dari keseluruhan proses pencernaan pakan pada perut sapi, jadi limbah isi rumen ini berbentuk jerami yang belum sepenuhnya tercerna menjadi kotoran. Isi rumen memiliki komponen selulosa dan hemiselulosa yang baik untuk pembuatan biogas, namun komponen ligninnya yang tinggi dapat menghambat proses fermentasi untuk menghasil biogas nantinya. Maka dari itu, kami melakukan alkali pretreatment, yaitu perlakuan dengan pemberian basa NaOH konsentrasi dua persen untuk menekan lignin tersebut. Kenapa menggunakan penambahan darah? Karena apabila ditambahkan dengan darah konsentrasi lima persen dapat meningkatkan volume biogas dan kadar metana sebesar 52 persen, lebih besar dari cara konvensional,” jelas Fazatha.

    Erik dan tim berharap formulasi biogas ini dapat diterapkan pada seluruh RPH di Indonesia, sebagai salah satu solusi pemanfaatan limbah isi rumen dan darah sapi potong.

    “Harapannya formulasi pembuatan biogas dengan menggunakan limbah isi rumen dan darah sebagai substratnya ini dapat diaplikasikan pada RPH untuk mengurangi limbah isi rumen dan darah sapi potong serta menekan dampak pencemaran lingkungan yang ditimbulkan. Semoga biogas ini juga dapat menjadi energi terbarukan yang ekonomis, karena menerapkan konsep zero waste dan bersifat ramah lingkungan,” harap Erik (ipb.ac.id)

  • Mahasiswa IPB Manfaatkan Sari Belimbing Wuluh untuk Peningkat Produktivitas Telur Puyuh

    Pakan dengan kandungan nutrisi yang lengkap dibutuhkan untuk menghasilkan produk telur puyuh dengan kualitas yang baik. Kebutuhan nutrisi juga dapat dipenuhi melalui penambahan suplemen cair untuk mengurangi stress panas dan meningkatkan produktivitas. Belimbing wuluh memiliki berbagai kandungan nutrisi, antara lain flavonoid, triterpenoid atau steroid, glikosida, protein, lemak, kalsium, fosfor, besi, vitamin A, B1, dan C. Vitamin C merupakan antioksidan yang telah terbukti dapat menangkal stress pada ayam yang dipelihara pada suhu tinggi.

    Kandungan vitamin C pada belimbing wuluh cukup tinggi yaitu sebanyak 25 ml dalam 100 g belimbing wuluh segar. Kandungan asam sitrat dalam buah ini mencapai 92-133 meq asam/100 g total padatan. Asam sitrat tersebut berperan sebagai acidifier. Acidifier secara umum dapat menggantikan peranan antibiotik, meningkatkan kualitas telur, menyeimbangkan mikroflora saluran pencernaan, meningkatkan absorbsi sari makanan dalam usus halus dan meningkatkan keuntungan.

    Melihat potensi itu, Muhammad Rizqi Ramdhani mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) sekaligus Ketua PKMPE (Program Kreatifitas Mahasiswa, Penelitian) beserta anggotanya yaitu Nola Okivita Imama, Lylya Wahyuni, Vitya Lana Larasati dan Ahmad Rafli Fahmi melakukan percobaan tentang pemanfaatan belimbing wuluh dalam budidaya burung puyuh. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian sari belimbing wuluh sebagai air minum puyuh terhadap produktivitas telur puyuh. Dan menentukan dosis yang tepat dalam pemberian air minum sari belimbing wuluh pada puyuh.

    ”Kami ingin mengangkat belimbing wuluh yang melimpah buahnya. Kami memilih bahan baku tersebut sebagai antibiotik alami dan salah satu alternatif pengganti antibiotik komersial. Selain itu kandungan vitamin C belimbing wuluh cukup banyak. Asupan vitamin C pada ternak dapat menurunkan tingkat stress. Stress yang berlebih akan mempengaruhi kualitas telurnya seperti tidak memiliki kerabang dan lain-lain. Selain itu vitamin C ini dapat memperbaiki kualitas kerabang telur,”tutur Rizqi.

    Percobaan ini dilaksanakan selama 30 hari pemeliharaan di peternakan Slamet Quail Farm (SQF) dan 30 hari di Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan IPB. Pembuatan sari belimbing wuluh dilakukan dengan mencuci buah belimbing wuluh kemudian dihaluskan dengan menambahkan air dan diblender secara bersamaan. Hasil dari belimbing wuluh yang sudah halus disaring dan diambil sarinya saja. Sari belimbing wuluh yang sudah jadi ditambahkan dalam air minum ternak.

    ”Metode penelitian ini cukup simpel, belimbing wuluh hanya di blender dan disaring menggunakan kain, hal ini bertujuan untuk memudahkan peternakan rakyat mengimplementasikan penelitian ini, pemberian pada puyuh menyesuaikan dengan uji daya hambat bakteri sehingga memakai konsentrasi  2,5% dan 5%,” jelasnya Rizqi.

    Pengujian dilakukan selama 42 hari dengan menggunakan sebanyak 240 ekor burung puyuh (siap bertelur) dengan empat perlakuan dan empat kali ulangan. Tiap ulangan dipelihara sebanyak 15 ekor burung puyuh. Perlakuan yang diberikan yaitu P1 (air minum + Vitachick), P2 (air minum + 15% Sari Belimbing Wuluh), P3 (air minum + 30% Sari Belimbing Wuluh), dan P4 (air minum + 45% Sari Belimbing Wuluh). Tim ini mengamati performa burung puyuh yang terdiri atas konsumsi pakan, produksi telur dan massa telur.

    ”Perkembangan parameternya hampir sama seperti kontrol. Artinya sejauh ini perlakuan yang diberikan bisa diimplementasikan dalam dunia peternakan. Produktifitas yang kami maksud bukan dari peningkatan jumlah telurnya (burung puyuh sehari hanya bertelur 1 butir, bahkan ada yang dua hari sekali). Produktifitas disini adalah kualitas telurnya, seperti kualitas fisik maupun kimia” pungkas Rizqi.(ipb.ac.id)

  • Mahasiswa IPB Sehatkan Ayam Broiler dengan Tepung Kayu Manis

    Fani Karina Astrini, mahasiswa Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (IPB) di bawah bimbingan Dr. Ir. Rita Mutia, MAgr dan Dr. Ir. Widya Hermana, MSi melakukan penelitian untuk mengetahui bagaimana efektivitas pemberian tepung kayu manis dengan level berbeda terhadap status kesehatan yang meliputi eritrosit, leukosit dan nilai hematokrit, kadar hemoglobin dan diferensiasi leukosit serta organ imunitas ayam broiler. 

    Penelitian yang dilakukan  Fani berawal dari cara yang digunakan oleh peternak untuk dapat meningkatkan performa ayam broiler adalah dengan cara pemberian antibiotik. Antibiotik adalah obat-obatan atau zat kimia yang pada umumnya dibuat secara sintetik. Namun terdapat permasalahan pada antibiotik sintetis yaitu residu. Padahal jika merujuk pada UU Peternakan dan Kesehatan Hewan No.18 tahun 2009 pasal 22 ayat 4c yang berbunyi “Setiap orang dilarang menggunakan pakan yang dicampur hormon tertentu dan atau antibiotik imbuhan pakan”.

    Oleh sebab itu dibutuhkan alternatif imbuhan pakan yang memiliki peran sama dengan antibiotik, tetapi lebih ramah terhadap kesejahteraan manusia dan ternak serta lingkungan. “Pada penelitian ini bahan yang akan saya uji sebagai bahan alternatif adalah kayu manis, karena mempunyai kandungan senyawa yang berfungsi sebagai antibiotik seperti sinamaldehid, flavonoid, dan tanin yang dapat berguna sebagai antibakteri,” terang Fani.

    Antibiotik dapat mengurangi populasi bakteri di dalam saluran pencernaan sehingga meningkatkan ketersediaan zat gizi ransum untuk diserap oleh tubuh ternak yang akan digunakan sebagai pertumbuhan ternak. Fani menambahkan, “Antibiotik alami dapat meningkatkan kekebalan tubuh ternak dan tidak meninggalkan residu pada ternak sehingga tidak membahayakan manusia yang mengkonsumsi hasil ternak tersebut,” tambahnya. 

    Untuk membuktikan apakah kayu manis dapat menjadi antibiotik alami, Fani menggunakan 160 ekor ayam broiler yang masih berumur satu hari. Kandang yang digunakan adalah 16 petak dengan sepuluh ekor ayam pada setiap kandang. Setiap kandang ini akan diberikan perlakuan yang berbeda bergantung pada konsentrasi tepung kayu manis.

    Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Fani, terdapat tiga konsentrasi tepung kayu manis dalam ransum yang jika diberikan kepada ayam broiler maka akan menghasilkan ayam broiler yang sehat dan organ imunitas yang normal yakni pada konsentrasi dua persen, empat persen, dan enam persen. (ipb.ac.id) 

  • Mahasiswa IPB Teliti Gen untuk Tingkatkan Kualitas Daging Ayam Kampung

    Ayam kampung merupakan ayam asli Indonesia yang masih memiliki produktivitas relatif rendah dibandingkan dengan ayam ras. Ayam kampung memiliki keunggulan pada tingkat adaptasi, ketahanan terhadap panas, dan ketahanan terhadap penyakit yang tinggi. Ayam kampung juga memiliki rasa yang enak dan aroma khas yang berkaitan dengan kandungan lemak di daging. Akan tetapi, rendahnya produktivitas ayam kampung berbanding terbalik dengan permintaan konsumsi daging ayam kampung di masyarakat. Karena itu, perlu dilakukan peningkatan produktivitas ayam kampung melalui seleksi.

    Produksi daging ayam kampung hanya menyumbang 15.13 persen dari total produksi daging unggas dan 10.26 persen dari total produksi daging ternak Indonesia. Dengan demikian, ayam kampung mempunyai potensi untuk dapat ditingkatkan sebagai pemenuhan program ketahan pangan yang aman, sehat, utuh dan halal (ASUH). Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ayam kampung adalah melalui seleksi berbasis marka genetik (sifat pertumbuhan dan kualitas daging).

    Terdapat dua gen yang mengontrol yaitu gen IGF2 (Insuline-like Growth Factor 2) dan FMO3 (Flavincontaining monooxygenases 3) sebagai gen pengontrol pertumbuhan dan kualitas karkas dapat digunakan sebagai gen potensial dalam seleksi berbasis marka genetik untuk meningkatkan produktivitas ayam kampung.

    Mahasiswa Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB) Rindang Laras Suhita melakukan penelitian berjudul “Keragaman Gen IGF2 dan FMO3 serta Asosiasinya terhadap Bobot Potong dan Sifat Fisik Daging pada Ayam Kampung”. Penelitian ini dibimbing oleh Dr. agr Asep Gunawan, Prof. Dr. Cece Sumatri dan Dr. Niken Ulupi. 

    Penelitian terdiri atas dua tahap yaitu analisis keragaman gen IGF2 dan FMO3 pada dua populasi ayam kampung serta beberapa ayam lokal sebagai pembanding. Sampel yang digunakan sebanyak 118 sampel ayam kampung untuk gen IGF2 yang terdiri atas kampung populasi 12 minggu, dan kampung populasi 26 minggu. Sebanyak 129 sampel darah ayam kampung yang digunakan untuk gen FMO3 terdiri atas 6 populasi yaitu broiler, kampung, sentul, merawang, pelung, dan nunukan.

    Ayam kampung yang digunakan untuk asosiasi sebanyak 118 ekor untuk bobot karkas dan potongan komersial serta 56  ekor untuk sifat fisik karkas. Genotyping dilakukan menggunakan metode PCR-RFLP (Polymerase Chain Reaction-Restriction Fragment Length Polymorphism). Analisis data yang dilakukan yaitu frekuensi genotipe, frekuensi alel, heterozigositas, keseimbangan Hardy-Weinberg dan asosiasi data genotipe dengan fenotipe menggunakan General Linear Model (GLM).

    Hasil menunjukkan gen IGF2 pada dua populasi ayam kampung bersifat polimorfik dan gen FMO3 pada semua populasi bersifat monomorfik. Gen IGF2 pada populasi ayam kampung 12 minggu memiliki keragaman yang rendah dan pada populasi 26 minggu memiliki keragaman yang tinggi sedangkan pada gen FMO3 tidak ditemukan keragaman. Ditemukan asosiasi secara suggestive gen IGF2 dengan bobot paha bawah pada ayam kampung 26 minggu. Tidak ditemukan asosiasi antara keragaman gen IGF2 dan FMO3 terhadap bobot potong dan sifat fisik karkas pada ayam kampung.(ipb.ac.id)