News

  • Mahasiswa Fakultas Peternakan Harus Punya Ternak

    Seminar dan Workshop Agribisnis Peternakan (SWAP) yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Institut Pertanian Bogor (Himaproter) telah sukses digelar (28/04/2018). Seminar yang banyak mengupas tentang  prospek, peluang serta praktik bisnis peternakan di lapangan, menghadirkan beberapa pakar dan praktisi di bidang peternakan diantaranya,  Dr. Sri Rahayu (dosen Fapet IPB), Budi Susilo Setiawan (pemilik MT Farm), Subarkah dan Ahmad Anwari (peternak jangkrik Bekasi).

    Peternak sukses yang merupakan alumni Fakultas Peternakan IPB, Budi Susilo Setiawan dalam paparannya mengatakan,  permasalahan yang dihadapi peternak Indonesia adalah  kualitas produk peternakan yang masih fluktuatif. Intinya, dalam bisnis itu pengusaha harus baik dalam setiap urusan.  Budi merasakan banyak keberkahan dalam usahanya di dunia peternakan. Dari beternak, alumni Fapet IPB ini bahkan sekarang mempunyai usaha catering, properti dan agrowisata.

     “Apapun usaha yang kita akan lakukan, cukup berpegang pada empat hal yaitu yakin bahwa usaha ini adalah hal baik, berusaha optimal, perbanyak ilmu dan sabar. Jangan sampai anak peternakan tidak punya ternak atau tidak bisa jualan ternak. Bisnis itu bicara realistis bukan idealis. Ketika karkas impor yang lebih murah hadir menjadi ancaman bagi peternak, kita harus bergerak cepat,“ ujar Budi.

    Dr  Sri Rahayu menjelaskan tentang perkembangan dunia peternakan Kambing Domba (Kado) di Indonesia. Mulai dari prospek ternak, populasi Kado, keunggulan ternak Kado, membantah stigma negatif mengenai daging Kado yang tinggi kolesterol serta membandingkan sistem pemeliharaan Kado di Indonesia dan di negara lain (Australia dan New Zealand).

    Selain kambing dan domba, peserta juga mendapatkan ilmu mengenai bisnis dan usaha jangkrik. Bisnis jangkrik ini masih awam di kalangan masyarakat. Padahal prospek jangkrik sangat prospektif merujuk pada permintaan pasar yang tinggi, tidak membutuhkan investasi yang besar dalam memulai usaha serta dapat dilakukan di tempat yang sempit. Proses panen yang memakan waktu singkat (hanya sekitar 22 hari) ini menjadikan usaha ternak jangkrik sangat potensial untuk dikembangkan.

    “Kita harus memiliki pengetahuan dalam beternak jangkrik, paham pasar jangkrik seperti apa, membuat kandang yang sesuai, manajemen pakan yang baik dan melakukan kontrol rutin. Resiko terbesar usaha ternak jangkrik terletak pada serangan predator karena dapat mengurangi jumlah jangkrik yang dapat dipanen ataupun dalam proses peneluran bibit jangkrik. Namun, dengan perlakuan yang tepat hal ini dapat diantisipasi,” sebut Anwari dan diamini oleh Subarkah.  (Sumber Repuplika)

  • Mahasiswa Fapet IPB Ikuti Winter Course di Australia

    Institut Pertanian Bogor (IPB) sudah lama menjalin kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi di Australia. Salah satunya adalah kerja sama Fakultas Peternakan (Fapet) IPB dengan School of Animal Sci and Vet Science Adelaide University.

    Tahun ini, program kerja sama yang terjalin berupa pengiriman mahasiswa IPB untuk mengikuti kegiatan Winter Course 17 hari (23 Juni-10 Juli 2017) di beberapa perguruan tinggi di Australia dan ikut serta dalam perlombaan International Collegiate Meat Judging (ICMJ). Ada lima mahasiswa Fakultas Peternakan yang terpilih untuk mengikuti kegiatan ini. Mereka adalah Hamza Nata Siswara, Melfa Andraini Agatha, Yuni Nuraifah, Dei Gustifah K  dan M.Sirajatun Kurniawan.

    “Program ini bertujuan untuk memberikan kesempatan dan pengalaman kepada kami,  mahasiswa Fapet IPB, dalam bidang peternakan yang memiliki bobot kuliah 3 SKS. Kegiatan ini dilaksanakan di berbagai negara bagian yang ada di Australia, seperti   Darwin (Northern Territory) dan Katherine, Adelaide, Adelaide University Roseworthy S.A, dan Wagga Wagga, NSW,” ujar Hamza dalam rilis IPB yang diterima Republika.co.id, Kamis (3/8).

    Menurut Hamza, sebelum keberangkatan ke Australia mereka diwajibkan magang di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Elders Fapet IPB. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi mereka sebagai informasi awal tentang proses produksi daging dan international beef industry sebelum mereka mengikuti perlombaan.

    “Selain ikut Winter Course, kami  juga akan ikut lomba ICMJ. Dengan demikian,  kegiatan magang ini sangat diperlukan sebagai bekal bagi kami  untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan skill mahasiswa dalam menilai daging,” tutur Hamza.

    Ia mengemukakan,  beberapa kegiatan yang diberikan pada saat pelatihan adalah pengenalan proses penyembelihan sapi, penanganan karkas, penyimpanan karkas dalam chiller, proses deboning, proses packing dan repacking serta pengenalan terhadap retail cut dan primal cut pada daging sapi. (republika.co.id)

  • Mahasiswa IPB Buat Jamu Rempah untuk Turunkan Kolesterol Telur Puyuh

    Telur puyuh merupakan salah satu hasil ternak yang banyak digemari oleh masyarakat karena rasanya yang enak dan bergizi. Namun masyarakat khawatir mengkonsumsi telur puyuh karena kadar kolesterolnya yang tinggi dibandingkan telur ayam biasa. Padahal telur puyuh ini dapat berpotensi sebagai penyedia protein hewani nasional.

    Kadar kolesterol yang berlebih jika dikonsumsi dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti serangan jantung dan penyempitan pembuluh darah. Melihat kondisi ini, tiga mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) membuat “Jamu Rempah” untuk menurunkan kolesterol dari telur puyuh. Mereka adalah Arrum Andari, Endina Nur Anisa, dan Riska Febri Wulandari.

    “Jamu rempah adalah jamu yang terbuat dari bahan rempah-rempah seperti kayu manis, kapulaga, cengkeh, pala, dan bunga lawang. Jamu rempah ini mengandung senyawa aktif seperti alkaloid, flavonoid, dan tanin. Senyawa aktif tersebut dapat menghambat penimbunan lemak dan kolesterol dalam tubuh ternak,” ujar Arrum, selaku Ketua Tim.

    Di bawah bimbingan Ir. Dwi Margi Suci, MS, Staf Pengajar di Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan IPB, “Jamu Rempah” menjadi salah satu Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Bidang Penelitian Tahun 2018. Judul penelitiannya adalah  “Suplementasi Jamu Rempah pada Ternak Puyuh sebagai Upaya Memproduksi Telur Puyuh Rendah Kolesterol”.

    Pemberian jamu rempah dilakukan dengan cara pencampuran langsung dengan air minum sebanyak 1 liter air pada ternak. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian jamu rempah sebanyak 10 ml dalam 1 liter air minum dapat menurunkan kadar kolesterol telur puyuh hingga 49.9%.

    Arrum menyatakan keberhasilan dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai langkah awal dalam meningkatkan produksi telur puyuh rendah kolesterol di Indonesia. “Jamu rempah ini juga memiliki potensi dalam bidang sosial dan ekonomi yaitu dapat menciptakan lapangan usaha baru dan meningkatkan pendapatan para peternak puyuh,” katanya.

    Menurut Arrum, “Jamu Rempah” ini adalah temuan awal yang akan dikembangkan lagi ke depannya. Rencananya Arrum dan kawan-kawan akan memproduksi telur puyuh rendah kolesterol secara massal, mempublikasikan artikel ilmiah, dan membuat Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan Paten.

  • Mahasiswa IPB Buat Sabun Kalsium Penurun Gas Metana Ternak

    Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) meneliti minyak asal larva Black Soldier Fly sebagai sabun kalsium yang digunakan sebagai campuran pakan ternak ruminansia. Larva Black Soldier Fly atau larva tentara hitam ini memiliki kandungan protein tinggi. Tiga mahasiswa Fakultas Peternakan IPB, Neng Sri Haryanti Lestari, Desi Maria Sinaga, dan Dwitami Anzhany di bawah bimbingan dosen, Dr. Anuraga Jayanegara, S.Pt, M.Sc mengadakan penelitian terhadap hewan uji (ruminasia besar seperti sapi) untuk menangani peningkatan gas metana yang dihasilkan oleh eruktasi (hembusan nafas hewan) dan feses melalui pembuatan sabun kalsium dari minyak asal larva Black Soldier Fly.

    Penelitian tersebut dituangkan dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Eksakta (PKM-PE) yang berjudul “Mitigasi Gas Metana Ternak Ruminansia Melalui Inovasi Sabun Kalsium dari Minyak Asal Larva Black Soldier Fly”.

    Salah satu isu lingkungan yang menjadi sorotan publik hingga saat ini adalah global warming. Fenomena efek rumah kaca merupakan salah satu bentuk nyata terjadinya global warmingyang ditandai dengan meningkatnya polutan gas metana. Ternak ruminansia juga dipercaya sebagai penghasil gas metana terbesar di dunia, yaitu 90 persen dihasilkan di dalam rumen. Gas ini dirotasikan melalui pembuluh darah dan paru-paru dan berakhir pada pelepasan metan melalui mulut dan hidung, yang disebut dengan eruktasi. Sisanya, 10 persen metan dibuang melalui anus. Inovasi ini diharapkan mampu menjadi alternatif dalam upaya penurunan polutan gas metana tersebut.

  • Mahasiswa IPB Manfaatkan Sari Belimbing Wuluh untuk Peningkat Produktivitas Telur Puyuh

    Pakan dengan kandungan nutrisi yang lengkap dibutuhkan untuk menghasilkan produk telur puyuh dengan kualitas yang baik. Kebutuhan nutrisi juga dapat dipenuhi melalui penambahan suplemen cair untuk mengurangi stress panas dan meningkatkan produktivitas. Belimbing wuluh memiliki berbagai kandungan nutrisi, antara lain flavonoid, triterpenoid atau steroid, glikosida, protein, lemak, kalsium, fosfor, besi, vitamin A, B1, dan C. Vitamin C merupakan antioksidan yang telah terbukti dapat menangkal stress pada ayam yang dipelihara pada suhu tinggi.

    Kandungan vitamin C pada belimbing wuluh cukup tinggi yaitu sebanyak 25 ml dalam 100 g belimbing wuluh segar. Kandungan asam sitrat dalam buah ini mencapai 92-133 meq asam/100 g total padatan. Asam sitrat tersebut berperan sebagai acidifier. Acidifier secara umum dapat menggantikan peranan antibiotik, meningkatkan kualitas telur, menyeimbangkan mikroflora saluran pencernaan, meningkatkan absorbsi sari makanan dalam usus halus dan meningkatkan keuntungan.

    Melihat potensi itu, Muhammad Rizqi Ramdhani mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) sekaligus Ketua PKMPE (Program Kreatifitas Mahasiswa, Penelitian) beserta anggotanya yaitu Nola Okivita Imama, Lylya Wahyuni, Vitya Lana Larasati dan Ahmad Rafli Fahmi melakukan percobaan tentang pemanfaatan belimbing wuluh dalam budidaya burung puyuh. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian sari belimbing wuluh sebagai air minum puyuh terhadap produktivitas telur puyuh. Dan menentukan dosis yang tepat dalam pemberian air minum sari belimbing wuluh pada puyuh.

    ”Kami ingin mengangkat belimbing wuluh yang melimpah buahnya. Kami memilih bahan baku tersebut sebagai antibiotik alami dan salah satu alternatif pengganti antibiotik komersial. Selain itu kandungan vitamin C belimbing wuluh cukup banyak. Asupan vitamin C pada ternak dapat menurunkan tingkat stress. Stress yang berlebih akan mempengaruhi kualitas telurnya seperti tidak memiliki kerabang dan lain-lain. Selain itu vitamin C ini dapat memperbaiki kualitas kerabang telur,”tutur Rizqi.

    Percobaan ini dilaksanakan selama 30 hari pemeliharaan di peternakan Slamet Quail Farm (SQF) dan 30 hari di Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan IPB. Pembuatan sari belimbing wuluh dilakukan dengan mencuci buah belimbing wuluh kemudian dihaluskan dengan menambahkan air dan diblender secara bersamaan. Hasil dari belimbing wuluh yang sudah halus disaring dan diambil sarinya saja. Sari belimbing wuluh yang sudah jadi ditambahkan dalam air minum ternak.

    ”Metode penelitian ini cukup simpel, belimbing wuluh hanya di blender dan disaring menggunakan kain, hal ini bertujuan untuk memudahkan peternakan rakyat mengimplementasikan penelitian ini, pemberian pada puyuh menyesuaikan dengan uji daya hambat bakteri sehingga memakai konsentrasi  2,5% dan 5%,” jelasnya Rizqi.

    Pengujian dilakukan selama 42 hari dengan menggunakan sebanyak 240 ekor burung puyuh (siap bertelur) dengan empat perlakuan dan empat kali ulangan. Tiap ulangan dipelihara sebanyak 15 ekor burung puyuh. Perlakuan yang diberikan yaitu P1 (air minum + Vitachick), P2 (air minum + 15% Sari Belimbing Wuluh), P3 (air minum + 30% Sari Belimbing Wuluh), dan P4 (air minum + 45% Sari Belimbing Wuluh). Tim ini mengamati performa burung puyuh yang terdiri atas konsumsi pakan, produksi telur dan massa telur.

    ”Perkembangan parameternya hampir sama seperti kontrol. Artinya sejauh ini perlakuan yang diberikan bisa diimplementasikan dalam dunia peternakan. Produktifitas yang kami maksud bukan dari peningkatan jumlah telurnya (burung puyuh sehari hanya bertelur 1 butir, bahkan ada yang dua hari sekali). Produktifitas disini adalah kualitas telurnya, seperti kualitas fisik maupun kimia” pungkas Rizqi.(ipb.ac.id)

  • Mahasiswa IPB Teliti Gen untuk Tingkatkan Kualitas Daging Ayam Kampung

    Ayam kampung merupakan ayam asli Indonesia yang masih memiliki produktivitas relatif rendah dibandingkan dengan ayam ras. Ayam kampung memiliki keunggulan pada tingkat adaptasi, ketahanan terhadap panas, dan ketahanan terhadap penyakit yang tinggi. Ayam kampung juga memiliki rasa yang enak dan aroma khas yang berkaitan dengan kandungan lemak di daging. Akan tetapi, rendahnya produktivitas ayam kampung berbanding terbalik dengan permintaan konsumsi daging ayam kampung di masyarakat. Karena itu, perlu dilakukan peningkatan produktivitas ayam kampung melalui seleksi.

    Produksi daging ayam kampung hanya menyumbang 15.13 persen dari total produksi daging unggas dan 10.26 persen dari total produksi daging ternak Indonesia. Dengan demikian, ayam kampung mempunyai potensi untuk dapat ditingkatkan sebagai pemenuhan program ketahan pangan yang aman, sehat, utuh dan halal (ASUH). Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ayam kampung adalah melalui seleksi berbasis marka genetik (sifat pertumbuhan dan kualitas daging).

    Terdapat dua gen yang mengontrol yaitu gen IGF2 (Insuline-like Growth Factor 2) dan FMO3 (Flavincontaining monooxygenases 3) sebagai gen pengontrol pertumbuhan dan kualitas karkas dapat digunakan sebagai gen potensial dalam seleksi berbasis marka genetik untuk meningkatkan produktivitas ayam kampung.

    Mahasiswa Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB) Rindang Laras Suhita melakukan penelitian berjudul “Keragaman Gen IGF2 dan FMO3 serta Asosiasinya terhadap Bobot Potong dan Sifat Fisik Daging pada Ayam Kampung”. Penelitian ini dibimbing oleh Dr. agr Asep Gunawan, Prof. Dr. Cece Sumatri dan Dr. Niken Ulupi. 

    Penelitian terdiri atas dua tahap yaitu analisis keragaman gen IGF2 dan FMO3 pada dua populasi ayam kampung serta beberapa ayam lokal sebagai pembanding. Sampel yang digunakan sebanyak 118 sampel ayam kampung untuk gen IGF2 yang terdiri atas kampung populasi 12 minggu, dan kampung populasi 26 minggu. Sebanyak 129 sampel darah ayam kampung yang digunakan untuk gen FMO3 terdiri atas 6 populasi yaitu broiler, kampung, sentul, merawang, pelung, dan nunukan.

    Ayam kampung yang digunakan untuk asosiasi sebanyak 118 ekor untuk bobot karkas dan potongan komersial serta 56  ekor untuk sifat fisik karkas. Genotyping dilakukan menggunakan metode PCR-RFLP (Polymerase Chain Reaction-Restriction Fragment Length Polymorphism). Analisis data yang dilakukan yaitu frekuensi genotipe, frekuensi alel, heterozigositas, keseimbangan Hardy-Weinberg dan asosiasi data genotipe dengan fenotipe menggunakan General Linear Model (GLM).

    Hasil menunjukkan gen IGF2 pada dua populasi ayam kampung bersifat polimorfik dan gen FMO3 pada semua populasi bersifat monomorfik. Gen IGF2 pada populasi ayam kampung 12 minggu memiliki keragaman yang rendah dan pada populasi 26 minggu memiliki keragaman yang tinggi sedangkan pada gen FMO3 tidak ditemukan keragaman. Ditemukan asosiasi secara suggestive gen IGF2 dengan bobot paha bawah pada ayam kampung 26 minggu. Tidak ditemukan asosiasi antara keragaman gen IGF2 dan FMO3 terhadap bobot potong dan sifat fisik karkas pada ayam kampung.(ipb.ac.id)

  • Mahasiswa IPTP FAPET IPB Meraih Dua Gelar pada Ajang IYIA 2016

    Mahasiswa Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP) Fakultas Peternakan IPB kembali mengukir prestasi di ajang 3rd International Young Inventors Award (IYIA 2016) yang bertempat di Surabaya Convention Hall pada tanggal 6-8 September 2016. Tim ini terdiri dari Yuni Nur Raifah, mahasiswa IPTP angkatan 50, selaku ketua, beserta Laeli Nur Hasanah, mahasiswa S2 program Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia, selaku anggota, dan didampingi oleh Tim Dosen Pembimbing dari Departemen IPTP Fakutas Peternakan IPB, yaitu Dr. Irma Isnafia Arief dan Iyep Komala, MSi. Mereka berhasil meraih 2 penghargaan sekaligus, yaitu penghargaan Gold Prizepada bidang Biotechnology andHealth dan penghargaan sebagai The Best Women Inventor Award.

    Adapun inovasi yang dibuat oleh perwakilan dari IPB ini adalah masker yang terbuat dari whey yang berasal dari limbah keju mozarella dan dikombinasikan dengan bakteri Streptococcus thermophillus, Lactobacilus bulgaricus, dan tepung beras.

    IYIA 2016 merupakan kompetisi yang dilaksanakan dibawah naungan Indonesian Invention and Innovation Promotion Association (INNOPA), dan didukung oleh International Federation of Inventors’ Association (IFIA) serta World Invention Intellectual Property Associations (WIIPA). Acara ini diikuti oleh 205 kelompok yang berasal dari beberapa negara seperti Thailand, Korea Selatan, Kroasia, Palestina, Indonesia, Taiwan, Malaysia, Myanmar, India, dan lain sebagainya. Rangkaian kegiatan pada acara ini meliputi presentasi poster, pameran, dan juga pengenalan produk inovasi yang telah diciptakan (AAS).

  • Manfaatkan Jangkrik sebagai Alternatif Pakan Kambing Etawah

    Fatatul Arifah, mahasiswa Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (Fapet IPB) meneliti tentang performa dan profil mikroba rumen kambing peranakan etawah lepas sapih yang diberi ransum mengandung tepung jangkrik. Penelitian ini di bawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Dewi Apri Astuti dan Dr. Sri Suharti. Kambing peranakan etawah (PE) memiliki ukuran tubuh tidak terlalu besar, mudah beradaptasi, perawatan yang mudah, cepat berkembangbiak dengan daya reproduksi tinggi, efisien dalam mengubah pakan menjadi susu, jumlah anak per kelahiran sering lebih dari satu, calving interval pendek, dan pertumbuhan anak cepat. Kambing yang diambil susunya ini mengalami tingkat kematian anak kambing lepas sapih sekitar 15 persen – 20 persen. Selain itu, kambing ini kadang produktivitasnya rendah akibat kurang optimalnya pemberian pakan pada saat lepas sapih.

     Ketersediaan pakan yang tidak berkesinambungan serta rendahnya kualitas pakan menyebabkan kambing kekurangan asupan nutrien yang diperlukan untuk mencapai produktivitas optimal. Peningkatan produktivitas yang optimal perlu diupayakan dengan cara memenuhi kebutuhan gizinya. Masa kritis yang perlu memperhatikan kecukupan gizi adalah pertumbuhan lepas sapih, masa reproduksi, dan saat menyusui.

     Permasalahan lain yang dihadapi yaitu pakan dengan protein tinggi relatif mahal, sehingga dibutuhkan alternatif bahan pakan sumber protein lain. Tepung jangkrik merupakan alternatif pakan sumber protein (48,84 persen) yang dapat menggantikan bungkil kedelai. Jangkrik Kalung merupakan serangga yang memiliki daya reproduksi tinggi, mudah dipelihara, mengandung kadar protein dan lemak cukup tinggi. Jangkrik ini merupakan limbah dari induk-induk jangkrik afkir yang produksi telurnya sudah kurang dari 50 persen. Pemberian pakan yang mengandung protein tinggi bagi ternak tumbuh sangat diperlukan sekaligus akan mempengaruhi populasi mikroba rumen terutama bakteri proteolitik dan juga aktivitas mikroba dalam rumen. Kambing lepas sapih memerlukan protein berkualitas di dalam ransumnya untuk menunjang pertumbuhan.

     Penelitian ini dilaksanakan pada November 2015 hingga Maret 2016 bertempat di Fakultas Peternakan IPB. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga perlakuan dan empat ulangan sebagai kelompok berdasarkan bobot badan. Penelitian dilakukan selama lima bulan, menggunakan sebanyak 12 ekor kambing umur tiga bulan dengan rata-rata bobot badan 11.28 ± 0,33 kilogram. Perlakuan pada penelitian ini konsentrat mengandung sumber protein bungkil kedelai (P0), konsentrat mengandung 15 persen tepung jangkrik (P1), dan konsentrat mengandung 30 persen tepung jangkrik (P2). Semua ternak diberi 30 persen rumput Brachiaria humidicoladan 70 persen konsentrat.

     Hasil penelitian menunjukkan perlakuan ini tidak memberikan pengaruh konsumsi bahan kering, konsumsi protein kasar, pertambahan bobot badan mingguan, efisiensi pakan, populasi protozoa, bakteri total, bakteri proteolitik, dan total protein endapan. Perlakuan pemberian ransum mengandung 30 persen tepung jangkrik cenderung menurunkan populasi protozoa sebesar 8,16 persen. Perlakuan ini tidak berpengaruh terhadap konsumsi bahan kering, konsumsi protein kasar, pertambahan bobot badan mingguan, efisiensi pakan, populasi protozoa, bakteri total, bakteri proteolitik, dan total protein endapan. Disimpulkan bahwa tepung jangkrik dapat menggantikan seluruh penggunaan bungkil kedelai dalam ransum tanpa mempengaruhi performa dan profil mikroba rumen kambing PE lepas sapih.(ipb.ac.id)

  • Mantan Dekan Fapet IPB, Prof. Soedarmadi Tutup Usia

    Innalillahi wa Inna Ilaihi Rojiuun. Berita duka menyelimuti Fakultas peternakan IPB menjelang akhir bulan Ramadhan 1437 H. Fakultas Peternakan IPB kehilangan salah satu Guru Besar dan tokoh yang menjadi panutan, yaitu Prof. Dr. Ir. Soedarmadi H, M.Sc. Almarhum wafat di Bogor pada hari Selasa, 28 Juni 2016 pukul 16.45 pada usia ke-75.

    Almarhum lahir di Kebumen, tanggal 12 Juni 1941,  Lulus sebagai Insinyur Peternakan dari Fakultas Peternakan IPB pada  tahun 1970. Untuk meningkatkan kompetensinya, almarhum  melanjutkan pendidikan strata Master di bidang agronomi dan Doktor di bidang astrologi dan fisiologi tanaman dari UPLB Philipines. Sebagai ilmuwan selanjutnya beliau berkarir di Fakultas Peternakan IPB, dengan spesialisasi Ilmu Agrostologi dan fisiologi tanaman. Almarhum diangkat menjadi Guru Besar dalam bidang agrostologi di Institut Pertanian Bogor.
     
    Almarhum menjabat sebagai Dekan Fakultas Peternakan IPB periode 2000-2004 dan pernah menjadi Rektor Universitas Jambi pada tahun 1994 – 1999. Saat menjabat di Universitas Jambi, banyak pembangunan sarana dan prasarana, diantaranya gedung fakultas peternakan, rumah kaca dan kebun percobaan fakultas pertanian, mini farm fakultas peternakan, laboratorium koimatologi dan sarana lainnya. di bawah kepemimpinan prof. Soedarmadi, Universitas jambi membuka program studi  Sosial Ekonomi Pertanian (agribisnis), Nutrisi dan Makanan Ternak, dan Produksi Ternak.
     
    Semoga almarhum diterima segala amal ibadahnya diampuni segala dosa dosa dan ditempatkan ditempat yang layak disisiNYA amin
     
    Selamat jalan Prof Darmadi.
  • Masa Perkenalan Kampus Mahasiswa Baru 2016

    Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor mengadakan kegiatan Masa Perkenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB) tahun 2016, pada hari Sabtu dan Minggu, tanggal 27-28 Agustus 2016, pukul 07:00-15:30 WIB. Selama dua hari, mahasiswa baru Fakultas Peternakan IPB diperkenalkan dengan kehidupan kampus, civitas akademika Fapet IPB, fasilitas yang tersedia, dan banyak kegiatan lain yang bermanfaat bagi mahasiswa baru Fapet IPB.

    Pada hari pertama (27 Agustus 2016) mahasiswa baru berkumpul di auditorium Jannes Hummuntal Hutasoit, Fapet IPB. kegiatan diawali dengan sarapan bersama, kemudian dilanjutkan dengan pembukaan MPKMB Fapet IPB, disusul dengan sambutan dari Dekan dan ketua panitia MPKMB. Pada pembukaan tersebut juga dinyanyikan lagu Mars Fapet, yang juga merupakan salah satu identitas Fapet.

    Acara dilanjutkan dengan presentasi dari Dekan Fapet IPB, yang memaparkan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan IPB. Wakil Dekan Akademik dan Kemahasiswaan menjelaskan tentang tata tertib kehidupan kampus yang harus dipatuhi oleh semua civitas akademika Fapet IPB. Hal hal yang berhubungan dengan Fakultas Peternakan disampaikan oleh Wakil Dekan bidang Sumberdaya, Kerjasama, dan pengembangan. Selain itu, Dr. Ir. Kartiarso, M.Sc, sebagai salah satu dosen senior  memaparkan pelajaran yang berharga tentang motivasi menjadi mahasiswa Fapet. Mahasiswa Fapet, harus bangga dengan keilmuwannya, karena peternakan saat ini sangat penting bagi kehidupan manusia.

  • Media Peternakan Berubah Namanya Menjadi Tropical Animal Science Journal

    Media Peternakan, Journal of animal Science and technology, yang telah berhasil diterima dan diindeks oleh Scopus mulai tanggal 24 Februari 2016 lalu berubah namanya menjadi Tropical Animal Science Journal (Trop. Anim. Sci. J.). Perubahan ini dilakukan dalam rangka mengembangkan dan memperluas distribusi serta meningkatkan visibilitas jurnal.

    Masih Seperti Media Peternakan, Jurnal Trop. Anim. Sci. J. juga diterbitkan tiga kali setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember oleh Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

    Edisi pertama Jurnal Trop. Anim. Sci. J. telah diterbitkan pada bulan April 2018 (Vol 41 No 1 2018), sedangkan edisi sebelumnya (hingga edisi 2017) akan tetap menggunakan Media Peternakan sebagai judulnya dan dapat diakses di situs web jurnal yang lama (http : //medpet.journal.ipb.ac.id/).

    Tropical Animal Science Journal telah diindeks dan diabstraksikan dalam produk Elsevier (Scopus, Reaxys), produk-produk Clarivate Analytics (Indeks Citation Indeks Emerging), Scimago Journal Rank, Indeks Citation ASEAN, DOAJ, CABI, EBSCO, Sains dan Teknologi Index (SINTA), Google Scholar, dan basis data ilmiah lainnya. Jurnal ini juga menggunakan Similarity Check untuk mencegah adanya plagiarisme yang dicurigai di dalam manuskrip.

    Tropical Animal Science Journal menerima manuskrip yang mencakup berbagai topik penelitian dalam ilmu hewan tropis: pembibitan dan genetika, reproduksi dan fisiologi, nutrisi, ilmu pakan, agrostologi, produk hewani, bioteknologi, perilaku, kesejahteraan, kesehatan, sistem pertanian ternak, socio- ekonomi, dan kebijakan.

  • Media Peternakan terdaftar di Scopus mulai edisi tahun 2010

    Berita membahagiakan dan membanggakan kembali hadir bagi seluruh civitas akademika IPB karena artikel-artikel Media Peternakan (MedPet), Journal of Animal Science and Technology, mulai edisi tahun 2010 telah terdaftar di SCOPUS. Sebagai informasi, MedPet berhasil diterima sebagai jurnal yang terindeks SCOPUS pada tanggal 24 Februari 2016. Sudah diketahui bersama bahwa SCOPUS adalah salah satu lembaga pengindeks jurnal internasional terbesar dan bereputasi saat ini. Informasi selengkapnya dapat dilihat pada website SCOPUS

    Capaian prestasi MedPet ini dapat lebih mendorong publikasi hasil-hasil penelitian bidang peternakan Indonesia dan meningkatkan keterbacaannya di dunia internasional.

  • Mendesak, Penerapan Standar Kompetensi SDM Peternakan

    Seorang praktisi di industri peternakan sapi potong yang dibutuhkan, tidak hanya sekadar menguasai keilmuan peternakan, namun juga harus memiliki jiwa kewirausahaan, memiliki ketrampilan dan wawasan seputar regulasi pternakan.

    Sekjen Pengurus Besar Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (PB ISPI), Didiek Purwanto, dalam sebuah workshopyang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia di Bogor, Jumat, 13 April 2018, mengatakan, kelemahan Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang peternakan Indonesia adalah kurangnya praktek di lapangan dan pengetahuan dasar tentang kehidupan sehari-hari di bidang peternakan. 

    Oleh karena itu, seorang SDM peternakan harus memiliki kompetensi di bidangnya, seperti di bidang pembibitan dan pembiakan, penggemukan, pemotongan dan pendistribusian produk daging. Tuntutan kompetensi meliputi antara lain, mengerti dasar pembibitan dan breeding, pemahaman teknologi pembibitan dan pembiakan, serta familiar atau terbiasa dengan tingkah laku ternak sapi (majalahinfovet.com)
  • Mohamad Yamin Menjadi Dekan Baru Fapet IPB

    Dr. Ir. Mohamad Yamin, M.Agr.Sc  telah resmi dilantik menjadi dekan baru Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, menggantikan pejabat lama Prof Dr. Ir. Luki Abdullah, M.ScAgr  periode 2015 hingga 2020. Pelantikan dilaksanakan pada hari Rabu, 2-12-2015 pukul 10-12 WIB di Gedung Andi Hakim Nasution, IPB Darmaga Bogor.

    Dr. Yamin menyelesaikan pendidikan Strata 1 di Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Pendidikan S2 di Univ. of Queensland, St. Lucia Australia dan S3-nya beliau selesaikan di Adelaide University, Australia pada tahun 2006.  Beliau memiliki keahlian di bidang Teknologi Budidaya Domba dan Kambing, Pemuliaan Domba dan Kambing,  Sistem/Model Usaha Domba Kambing.  Dengan keahlian tersebut, beliau memiliki peran penting bagi kemajuan bidang peternakan di Indonesia.
     
    Beliau juga memiliki banyak  pengalaman pada bidang manajemen perguruan tinggi dan organisasi, diantaranya: Sekretaris Program Studi THT (2000-2001), Ketua PS THT (2002-2003), Direktur SDM IPB (2003-2007), Wadek Periode 2007-2011, Wadek Periode 2011-2015, dan Wadek Bidang Akademik (2015). Selain itu,  beliau juga pernah menjadi President PPIA Waite Campus, President OSA Waite Campus dan Ketua MIAAS semasa kuliah di Australia.
     
    Rencana Program kerja yang akan dijalankan diantaranya adalah Peningkatan Mutu Tridharma Perguruan Tinggi, Peningkatan Kapasitas manajemen Internal, pengembangan edupreneur centre, dinamisasi perluasan jejaring fakultas melalui Program kerjasama berbasis kepakaran.

    Selamat menjalankan tugas Pak Yamin, Semoga Amanah !
  • Muladno diangkat menjadi Dirjen Peternakan

    Prof. Dr. Ir. Muladno, MSA dilantik sebagai Dirjen Peternakan, pada tanggal 1 Juni 2015 menggantikan Ir. Syukur Iwantoro MM, Dirjen PKH yang menjabat sejak 2010. Muladno dilahirkan di Kediri tanggal 24 Agustus 1961 dan merupakan anak kedua dari tujuh bersaudara hasil perkawinan seorang ayah bernama Basar (almarhum) dan seorang ibu bernama Asyiati. Saat ini tinggal di Bogor bersama seorang istri bernama Sri Sulandari, PhD (peneliti LIPI dan lahir 23 Desember 1961) dan dua anak laki-laki bernama Aussie Andry Venmarchanto (lahir 11 Maret 1990) dan Endyea Mendelian Lecturariseta (lahir 18 November 1997).

    Pendidikan dasar dan menengah diselesaikan di SDN Ringinsirah II Kediri, SMPN I Kediri, dan SMAN II Kediri; sedangkan pendidikan tinggi diselesaikan di Fakultas Peternakan UGM Yogyakarta (sarjana, 1985), di University of New England, Armidale, Australia (master of science in agriculture, 1990) dan di University of Sydney, Australia (Doctor of Phylosophi, 1995).

    Pascapendidikan formal, memperoleh kesempatan mengikuti program post-doctoral dari Science and Technology Agency of Japan (1995-1996) di National Institute of Animal Industry, Tsukuba, Japan; kemudian dari Society for Agriculture, Forestry and Fisheries (STAFF) Institute (1996-1997) di Tsukuba, Japan; serta dari Japan Society for Promotion of Science (JSPS) tahun 1998 di Nagoya University, Japan; dan terakhir dari Program Kerjasama Indonesia-Australia tentang Specialized Training on Intellectual Property Rights di University of Technology, Sydney, Australia tahun 2000.

  • Musyawarah Kerja DPM Fapet IPB 2017

    Dewan Perwakilan Mahasiswa  Fakultas Peternakan IPB menggelar Musyawarah Kerja DPM Fapet IPB 2017, yang dilaksanakan di Ruang Sidang Fakultas Peternakan IPB (Jumat, 29/12/2016).


    Acara dibuka pada pukul 08.30 WIB, dilanjutkan dengan pembacaan tilawah, melantunkan lagu (Indonesia Raya, Hymne IPB, dan Mars Fapet). Acara  dilanjutkan dengan sambutan dari Dekan fapet IPB dan Direktur Kemahasiswaan IPB.  Pada musyawarah kerja tersebut, setiap  Organisasi kemahasiswaan memaparkan RKAT untuk tiap tiap bagiannya.  Pemaparan pertama dilakukan oleh DPM Fapet IPB, dilanjutkan oleh pemaparan dari BEM Fapet IPB, Famm Al An'am, dan Kepal-D. Setelah pemaparan, dibuka sesi diskusi dan tanggapan dengan jajaran Dekanat Fapet IPB yang di pandu oleh moderator. Selain itu, dilaksanakan pula kegiatan pembuatan matrix program kerja periode 2016-2017


    Musyawarah Kerja DPM fapet IPB ini dihadiri oleh Direktur Kemahasiswaan IPB, Dekan, Wakil Dekan SKP dan AK, Ketua Departemen INTP dan  IPTP, Sekretaris Departemen INTP dan IPTP,  Komisi Kemahasiswaan IPTP dan INTP, perwakilan DPM KM, serta seluruh Ketua Ormawa-D, BPH, dan Kadiv/Kadept/Kabir.

    Diharapkan dengan diadakannya Musyawarah Kerja ini, dapat membawa Organisasi Kemahasiswaan Fapet IPB menjadi lebih baik lagi dengan kesinergisan antar Organisasi Kemahasiswaan. Semoga Organisasi Kemahasiswaan Fapet IPB dapat menjalani program kerjanya dengan amanah dan bijaksana (Source DPM Fapet IPB).

  • Orasi Ilmiah Prof. Dr. Ir. Erika B. Laconi, MS

    Prof.Dr.Ir. Erika B. Laconi, MS menyampaikan orasi ilmiah di hadapan sekitar 400 undangan di gedung Andi Hakim Nasution, Kampus IPB Dramaga, pada hari Sabtu tanggal 6 Desember 2014. Di dalam orasinya, Prof. Erika B. Laconi mengulas mengenai peran strategis hijauan dari areal perkebunan kelapa sawit sebagai sumber bahan pakan ternak ruminansia. Orasi ilmiah yang disampaikan merupakan kompilasi hasil-hasil penelitian selama beberapa tahun terakhir, baik penelitian mandiri maupun penelitian bersama. Salah satu pokok bahasan utama adalah pengembangan peternakan rakyat berbasis hijauan di areal perkebunan.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkebunan kelapa sawit memiliki beragam produk hijauan, baik dari komponen kelapa sawit maupun dari berbagai vegetasi penutup tanah. Komponen kelapa sawit yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, diantaranya pelepah daun sawit, kulit buah sawit dan bungkil kelapa sawit. Analisis usaha peternakan menunjukkan nilai ekonomis yang tinggi dengan peluang pemasaran yang terbuka lebar karena meningkatkan efisisensi penggunaan lahan di Indonesia.

    Pada akhir orasi ilmiahnya, Prof. Erika B. Laconi memberikan rekomendasi untuk melakukan harmonisasi perkebunan dengan peternakan, pemanfaatan lahan perkebunan dan program nasional untuk membangun produksi peternakan berbasis rakyat di perkebunan kelapa sawit. Prof. Erika B. Laconi mengharapkan dukungan pemerintah, BUMN dan perusahaan swasta untuk bekerja sama dalam mewujudkan usaha peternakan berbasis masyarakat perkebunan agar terbentuk harmoni usaha perkebunan-peternakan dan kemandirian produk daging terjamin.(sumber : intp.fapet.ipb.ac.id)

  • Orasi Ilmiah Prof.Dr.Ir. Yuli Retnani, MSc

    Sabtu, 13 Februari 2016, Prof.Dr.Ir. Yuli Retnani, MSc menyampaikan orasi ilmiah di hadapan sekitar 400 undangan di gedung Andi Hakim Nasution, Kampus IPB Dramaga. Di antara civitas akademik IPB turut hadir undangan Ketua MPR RI, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Walikota Bogor, Rektor Universitas Hasanudin, Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Kepala BP3IPTEK, Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Sukabumi, pimpinan lembaga peneliti, perwakilan BUMN dan pimpinan perusahaan swasta mitra IPB.

    Orasi Prof. Yuli Retnani berjudul "INOVASI PENGOLAHAN PAKAN UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS TERNAK DI DAERAH PERKOTAAN, RAWAN PAKAN DAN BENCANA". Di dalam orasinya, Prof. Yuli Retnani mengulas mengenai inovasi pengolahan pakan untuk mengatasi masalah kelangkaan pakan. Orasi ilmiah yang disampaikan merupakan kompilasi hasil-hasil penelitian sejak tahun 2009, baik penelitian mandiri maupun penelitian bersama. Salah satu pokok bahasan utama adalah optimalisasi teknologi pengolahan pakan dapat dilakukan dengan membuat, menyimpan dan mendistribusikan pakan ke daerah yang membutuhkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa optimalisasi teknologi pengolahan pakan dapat dilakukan dengan membuat, menyimpan dan mendistribusikan pakan ke daerah yang membutuhkan. Teknologi pengolahan pakan memungkinkan untuk mengolah bahan baku pakan yang melimpah berasal dari limbah yang terbuang.

  • Pakan Daun Singkong Bersianida Dapat Tingkatkan Bobot Domba

    Mahasiswa Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (Fapet IPB),  Hafni Oktafiani melakukan penelitian  pemanfaatan daun singkong bersianida untuk pakan domba. Penelitian yang berjudul  “Performa dan Kecernaan Nutrien pada Domba yang Diberi Tepung Daun Singkong Pahit (Manihot esculenta) dan Bakteri Pendegradasi HCN (sianida)” ini di bawah bimbingan Dr Sri Suharti, dan Prof  Dr  Ir  Komang G. Wiryawan.

    Siaran pers IPB yang diterima Republika.co.id, Senin (7/8) menyebutkan, setiap tahun terdapat sekitar 1,2 juta ton per hektar per tahun limbah tanaman singkong khususnya daunnya yang terbuang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. “Daun singkong mengandung protein kasar yang cukup tinggi sekitar 39 persen,” kata Hafni Oktavani.

    Hal ini menunjukkan bahwa daun singkong sangat potensial dijadikan pakan ternak. “Sayangnya daun singkong mengandung antinutrisi berupa asam sianida (HCN) yang sangat beracun dalam konsentrasi tinggi,” ujarnya.

    Ia mengemukakan, ternak sapi dan kerbau mampu menoleransi kadar asam sianida sampai batas 2,2 miligram per kilogram bobot badan. Sedangkan pada kambing dan domba 2,4 miligram per kilogram bobot badan. Efek toksik sianida pada ternak kadang tidak terlihat. Ternak bisa saja tiba-tiba mati karena kekurangan asupan oksigen pada otak dan jantung. Asam sianida akan mengganggu oksidasi jaringan, karena dapat mengikat enzim sitokrom oksidase sehingga jaringan tidak dapat menggunakan oksigen.

    Hafni mengungkapkan, metode yang dapat dilakukan untuk menghilangkan asam sianida yaitu penjemuran, perendaman dengan air mengalir dan fermentasi. Penambahan daun singkong pahit dalam ransum memiliki potensi sebagai salah satu sumber protein dan pakan pengganti hijauan dengan syarat pengaruh negatif asam sianida dapat diminimalisir. Selain perlakuan pada daun singkong, efek asam sianida pada ternak ruminansia dapat diatasi dengan bantuan mikroba rumen.

    Berdasarkan penelitian, sebelumnya telah diisolasi bakteri yang memiliki karakteristik mirip dengan Megasphaera elsdenii pada cairan rumen domba yang terbiasa mengkonsumsi daun singkong. Megasphaera elsdenii memiliki kemampuan mendegradasi asam sianida selama sekitar 48 jam dan mampu menurunkan kadarnya hingga 70 persen, sehingga tidak menimbulkan dampak negatif bagi ternak ruminansia.

    Penelitian ini dilaksanakan pada April-Agustus 2016 bertempat di Laboratorium Fakultas Perternakan IPB. Penelitian ini menggunakan 15 ekor domba jantan yang berumur setahun. “Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan 30 persen tepung daun singkong tidak mengurangi konsumsi  nutrien dan tingkat kecernaan nutrien dibandingkan dengan kontrol (yang tidak diberi tepung daun singkong),” tuturnya.

    Pemberian 15 persen tepung daun singkong  dan  penambahan bakteri pendegradasi asam sianida berpengaruh terhadap penambahan bobot badan dan efisiensi pakan. “Dengan demikian dapat disimpulkan, permberian daun singkong pahit dapat meningkatkan bobot badan dan efisiensi pakan,” papar Hafni Oktaviani. (http://www.republika.co.id)

  • Pakar IPB Teliti Pakan Daun Pelepah Sawit untuk Sapi Perah

    Sapi perah yang banyak dipelihara di Indonesia adalah sapi perah Friesian Holstein (FH), yang merupakan bangsa sapi perah dengan tingkat produksi susu tertinggi, dan berkadar lemak yang relatif rendah dibandingkan sapi perah lainnya. Jenis pakan yang diberikan pada sapi perah dapat mempengaruhi produksi dan kualitas susu, serta dapat berpengaruh terhadap kesehatan sapi perah. Akan tetapi faktor penyediaan pakan hijauan yang berkualitas masih menjadi kendala, karena semakin terbatasnya jumlah lahan untuk penanaman hijauan makanan ternak. Dengan demikian perlu diupayakan untuk mencari pakan alternatif yang potensial, murah dan mudah didapat serta tersedia sepanjang tahun. Perkebunan kelapa sawit berpotensi menjadi sumber pakan alternatif untuk mengembangkan usaha peternakan.

    Tiga orang peneliti yang terdiri dari P. Riski dari Program Studi Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Sekolah Pascasarjana, Insitut Pertanian Bogor (IPB); B. P. Purwanto dari Program Diploma IPB; beserta Afton Atabany dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan (Fapet) IPB melakukan penelitian untuk mengetahui produksi dan kualitas susu sapi FH laktasi yang diberi pakan daun pelepah sawit.

    “Peluang bagi peternak untuk memanfaatkan hasil sampingan dan limbah dari perkebunan kelapa sawit berpotensial untuk dijadikan sebagai pakan alternatif untuk ternak, karena masih tersedia dalam jumlah yang banyak, belum dimanfaatkan secara optimal dan tersedia sepanjang tahun,” tutur Afton Atabany.