News

  • Pakan Daun Singkong Bersianida Dapat Tingkatkan Bobot Domba

    Mahasiswa Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (Fapet IPB),  Hafni Oktafiani melakukan penelitian  pemanfaatan daun singkong bersianida untuk pakan domba. Penelitian yang berjudul  “Performa dan Kecernaan Nutrien pada Domba yang Diberi Tepung Daun Singkong Pahit (Manihot esculenta) dan Bakteri Pendegradasi HCN (sianida)” ini di bawah bimbingan Dr Sri Suharti, dan Prof  Dr  Ir  Komang G. Wiryawan.

    Siaran pers IPB yang diterima Republika.co.id, Senin (7/8) menyebutkan, setiap tahun terdapat sekitar 1,2 juta ton per hektar per tahun limbah tanaman singkong khususnya daunnya yang terbuang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. “Daun singkong mengandung protein kasar yang cukup tinggi sekitar 39 persen,” kata Hafni Oktavani.

    Hal ini menunjukkan bahwa daun singkong sangat potensial dijadikan pakan ternak. “Sayangnya daun singkong mengandung antinutrisi berupa asam sianida (HCN) yang sangat beracun dalam konsentrasi tinggi,” ujarnya.

    Ia mengemukakan, ternak sapi dan kerbau mampu menoleransi kadar asam sianida sampai batas 2,2 miligram per kilogram bobot badan. Sedangkan pada kambing dan domba 2,4 miligram per kilogram bobot badan. Efek toksik sianida pada ternak kadang tidak terlihat. Ternak bisa saja tiba-tiba mati karena kekurangan asupan oksigen pada otak dan jantung. Asam sianida akan mengganggu oksidasi jaringan, karena dapat mengikat enzim sitokrom oksidase sehingga jaringan tidak dapat menggunakan oksigen.

    Hafni mengungkapkan, metode yang dapat dilakukan untuk menghilangkan asam sianida yaitu penjemuran, perendaman dengan air mengalir dan fermentasi. Penambahan daun singkong pahit dalam ransum memiliki potensi sebagai salah satu sumber protein dan pakan pengganti hijauan dengan syarat pengaruh negatif asam sianida dapat diminimalisir. Selain perlakuan pada daun singkong, efek asam sianida pada ternak ruminansia dapat diatasi dengan bantuan mikroba rumen.

    Berdasarkan penelitian, sebelumnya telah diisolasi bakteri yang memiliki karakteristik mirip dengan Megasphaera elsdenii pada cairan rumen domba yang terbiasa mengkonsumsi daun singkong. Megasphaera elsdenii memiliki kemampuan mendegradasi asam sianida selama sekitar 48 jam dan mampu menurunkan kadarnya hingga 70 persen, sehingga tidak menimbulkan dampak negatif bagi ternak ruminansia.

    Penelitian ini dilaksanakan pada April-Agustus 2016 bertempat di Laboratorium Fakultas Perternakan IPB. Penelitian ini menggunakan 15 ekor domba jantan yang berumur setahun. “Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan 30 persen tepung daun singkong tidak mengurangi konsumsi  nutrien dan tingkat kecernaan nutrien dibandingkan dengan kontrol (yang tidak diberi tepung daun singkong),” tuturnya.

    Pemberian 15 persen tepung daun singkong  dan  penambahan bakteri pendegradasi asam sianida berpengaruh terhadap penambahan bobot badan dan efisiensi pakan. “Dengan demikian dapat disimpulkan, permberian daun singkong pahit dapat meningkatkan bobot badan dan efisiensi pakan,” papar Hafni Oktaviani. (http://www.republika.co.id)

  • Panen perdana Indigofera di Tulang Bawang

    Panen perdana Indigofera di daerah Tulang Bawang, telah dilakukan pada awal bulan Mei 2016. Indigofera merupakan salah satu jenis hijauan pakan yang tengah didiseminasikan kepada masyarakat petani peternak untuk pakan ternak ruminansia. Tanaman ini telah dikembangkan sejak tahun 2008 oleh Prof. Luki Abdullah di Laboratorium Agrostologi Departemen INTP Fakultas Peternakan IPB.

    Indigofera saat ini telah diperkenalkan dan ditanam di berbagai wilayah, salah satunya adalah daerah Tulang Bawang, Lampung. Penanaman Indigofera di wilayah Tulang Bawang dilakukan atas kerja sama petani peternak dan pemerintah daerah dengan panduan tim ahli dari Laboratorium Agrostologi Departemen INTP Fakultas Peternakan IPB. Kesungguhan dalam bekerja dan mengaplikasikan ilmu membuahkan hasil yang luar biasa. Tanaman Indigofera tumbuh subur dengan percabangan yang banyak dan daun yang rimbun.

    Tanaman yang dikenal dengan nama Tarum ini telah dikaji oleh Prof. Luki Abdullah dalam berbagai aspek. Mulai dari sisi agronomi, nutrisi, pengawetan hingga agrobisnis Indigofera. Indigofera sangat potensial untuk dikembangkan karena produktivitas dan nilai nutrisinya tinggi. Dalam penelitian terakhir, berbagai produk olahan telah dikembangkan dan dapat dimanfaatkan untuk berbagi ternak, termasuk unggas , ikan maupun binatang kesayangan. Salah satu produk unggulan yang inovatif adalah konsentrat hijau. (nrk - intp.fapet.ipb.ac.id)

  • Pascasarjana Fapet IPB Siap Buka Prodi Logistik Peternakan

    Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB) bersiap untuk buka Program Studi Pascasarjana Logistik Peternakan. Pembukaan program studi ini akan bekerjasama dengan Belanda. Demikian disampaikan oleh Dekan Fakultas Peternakan IPB, Dr. Moh. Yamin saat membuka acara “Workshop Logistik Peternakan untuk Ketahanan Pangan Indonesia”. Acara digelar di Fapet Kampus IPB Darmaga, Senin (14/3).
     
    Menurut dekan, Program Studi Logistik Peternakan sangat diperlukan di masyarakat. Dengan hadirnya program studi baru ini, terangnya, Fapet IPB bisa berkontribusi dalam riset-riset yang perlu dikembangkan.
     
    Workshop ini menghadirkan para peserta dari berbagai unsur, yakni akademisi, bisnis, pemerintah dan komunitas yang tergabung dalam Forum Logistik Peternak Indonesia (FLPI) yang diketuai oleh Prof. Dr. Luki Abdullah. Kegiatan workshop dirangkai dengan launching website dan newsletter FLPI.  
     
    Ketua FLPI, Prof. Luki Abdullah mengatakan forum ini akan menjadi wadah menjalin kerjasama antara pemerintah, bisnis dan komunitas peternak dalam bidang logistik peternakan. Ia juga menambahkan, forum ini dapat membantu perbaikan keamanan dan keselamatan produk peternakan, mengupayakan cara untuk meningkatkan efisiensi nilai produk juga dapat memberikan rekomendasi kebijakan pada pemerintah terkait logistik peternakan terutama unggas dan ruminansia.
     
    Terkait logistik peternakan, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Kementerian Pertanian RI, Ir. Fini Murfiani, MSi menyampaikan tahun ini pemerintah telah memiliki kapal khusus pengangkut sapi yang sesuai dengan animal welfare. Hal tersebut dimaksudkan untuk mendukung program pemenuhan pangan asal ternak, memperlancar pengangkutan dan distribusi ternak secara cepat.
     
    Dalam workshop juga disampaikan terkait fakta logistik pakan ternak Indonesia oleh Ketua Umum Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia yang juga Guru Besar IPB, Prof.Dr. Nahrowi. (dh - news.ipb.ac.id)
     

    Kontak: Prof Luki Abdullah, No HP 0812.1107.022 

  • Pelatihan Analisis SWOT Fapet IPB

    Setelah sukses melaksanakan pelatihan pelatihan ISO 9001:2015 dalam rangka mewujudkan pelayanan akademik berkulitas tinggi yang berstandar internasional, Fakultas Peternakan IPB melanjutkan sesi pelatihan ISO, pada hari Senin, 7 November 2016. Adapun tema Kegiatan pelatihan kali ini adalah analisis SWOT tentang pelayanan akademik dalam rangka penyusunan dokumen ISO 9001:2015. Trainer yang diundang kali ini adalah Ir. M. Agus Setiana, MS, salah satu trainer yang sering melakukan pelatihan di tingkat nasional. Training diikuti oleh dihadiri oleh Staf pengajar dari Departemen IPTP dan INTP dan tenaga kependidikan dari fakultas dan departemen. Pelatihan diadakan di ruang sidang Fakultas Peternakan, dimulai pada pukul 09:00, dengan dibuka oleh Wakil Dekan Fakultas Peternakan IPB.

    Kegiatan pelatihan ini diadakan mendapatkan pengetahuan cara menganalisis strategi dengan cara memfokuskan perhatian pada kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities) dan ancaman (threats) yang merupakan hal yang kritis bagi keberhasilan Fapet IPB. Perlunya identifikasi peluang dan ancaman yang dihadapi serta kekutan dan kelemahan yang dimiliki organisasi melalui telaah terhadap lingkungan dan potensi sumber daya Fapet IPB dalam menetapkan sasaran dan merumuskan strategi organisasi yang realistis dalam mewujudkan misi dan visinya.

  • Pelatihan Editor dan Reviewer Media Peternakan

     

    Kegiatan Pelatihan Editor dan Reviewer Media Peternakan dilaksanakan di Fakultas Peternakan IPB pada 9 – 10 Februari 2017. Kegiatan ini dilakukan oleh Fakultas Peternakan bersama Animal Logistics Indonesia Netherlands (ALIN) dan Media Peternakan. Kegiatan ini diikuti oleh para editor dan reviewer Media Peternakan yang ada di Indonesia. Materi diberikan oleh Prof. Jong Kyu HA (Chief Editor Asian-Australian Journal of Animal Sciences, AJAS), Dr. Simon Oosting (Editorial Board, Animal Journal), Dr. Roel Bosma (Wageningen University of Research, Belanda), dan Dr. Lorna Calumpang (Konsorsium MSM). Saat ini Media Peternakan merupakan salah satu Jurnal Internasional dari Indonesia yang sudah ter-index SCOPUS. Melalui training ini, Media Peternakan berharap agar kualitas Jurnal dapat terus meningkat dan dikenal secara global.

  • Pelatihan Formulasi Ransum untuk Pakan Ternak

    Himpunan Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak (HIMASITER) Institut Pertanian Bogor (IPB) mengadakan ‘Pelatihan Formulasi Ransum untuk Pakan Ternak’ (16-17/9). Kegiatan ini diikuti oleh 50 orang peserta yang berasal dari perwakilan Kementerian Pertanian, para peternak dari berbagai daerah di Indonesia, dan formulator dari PT Ultra Peternakan Bandung Selatan (UPBS) Pangalengan.

    Guru Besar Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP) Fakultas Peternakan (Fapet) IPB, Prof. Dr. Nahrowi sebagai salah satu pemateri dalam Feed Formulation Training mengatakan bahwa pelatihan ini sangat penting, khususnya bagi industri pakan ternak di Indonesia.

  • Pelatihan Penulisan Jurnal Ilmiah

     

    Fakultas Peternakan IPB bersama Animal Logistics Indonesia Netherlands (ALIN) IPB menggelar kegiatan Pelatihan Penulisan Jurnal Ilmiah, pada tanggal 6-10 Februari 2017. Kegiatan yang dilaksanakan di ruang sidang Fakultas Peternakan IPB ini dibuka oleh Dekan Fapet IPB. Hadir sebagai narasumber pada training ini adalah Dr. Roel Bosma (Wageningen University of Research, Belanda), Dr. Simon Oosting (Wageningen University of Research, Belanda), dan Dr. Lorna Calumpang (Konsorsium MSM).

    Training penulisan jurnal ilmiah ini diikuti oleh Peserta sebanyak 25 orang terdiri dari Staf Dosen dan mahasiswa Pascasarjana Fakultas Peternakan. Para peserta mengikuti kegiatan dengan antusias untuk meningkatkan kapasitasnya dalam penulisan jurnal skala internasional. dengan adanya kegiatan ini diharapkan kualitas tulisan yang dimuat dalam jurnal ilmiah akan semakin baik dan berguna untuk masyarakat.

     

  • Peneliti IPB Atasi Stres Ayam Broiler dengan Kombinasi Vitamin dan Mineral

    Ayam broiler merupakan jenis ras unggulan yang dihasilkan dari persilangan bangsa-bangsa yang memiliki produktivitas tinggi. Ayam broiler memiliki karakteristik ekonomi dan pertumbuhan

    yang cepat sebagai penghasil daging, konversi ransum rendah, dapat dipotong pada umur muda, dan menghasilkan kualitas daging yang berserat lunak. Kesejahteraan broiler dipengaruhi oleh beberapa faktor internal dan eksternal seperti manajemen pemeliharaan, stres, gizi, kepadatan kandang, ventilasi, intensitas cahaya, dan penyebaran penyakit. Kepadatan kandang juga dapat mempengaruhi kualitas karkas dan konsumsi pakan.

    Stres berupa panas menyebabkan ayam rentan terserang infeksi penyakit yang berasal dari bakteri seperti Escherichia coli dan virus seperti Newcastle disease (ND), yang memberikan pengaruh negatif terhadap produktivitas dan kesehatan yang dapat menimbulkan kematian dan kerugian ekonomis. Upaya mengatasi cekaman panas itu salah satunya adalah dengan penambahan  mineral zinc (Zn) dan vitamin E.

    Dua orang pakar dari Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB), yaitu Rita Mutia dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan dan Asep Gunawan dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, melakukan penelitian pada broiler untuk mengetahui pengaruh penambahan mineral Zn dan vitamin E pada lingkungan tropis. Penelitian dilakukan pada bulan Maret sampai dengan Oktober 2015 di Laboratorium Lapang (Kandang C) Fapet IPB.

    Penelitian ini dilakukan terhadap 400 ayam broiler yang dibagi ke dalam kandang A sebagai kontrol dan kandang B sebagai perlakuan suhu tropis. Selama 35 hari pemeliharaan, ayam broiler dikondisikan dalam temperatur natural yang fluktuatif sepanjang hari, yakni relatif dingin pada dinihari, cenderung dingin-medium pada pagi hari, relatif panas pada siang hari dan cenderung panas-medium pada sore atau malam hari. Dengan demikian, cekaman panas dialami oleh ayam broiler pada siang hari terutama pada selang waktu pukul 12 siang yang merupakan waktu intensitas matahari paling tinggi dan pukul 14 siang yang merupakan waktu dengan intensitas radiasi gelombang panjang matahari paling tinggi.

    Berdasarkan percobaan tersebut suplementasi vitamin E dan mineral Zn pada ransum ayam broiler terbukti efektif dalam menurunkan stres akibat cekaman panas dari suhu lingkungan. Hal tersebut dibuktikan dengan pemberian vitamin E sebanyak 125 ppm dan mineral Zn 80 ppm mampu meningkatkan bobot akhir dan efisiensi pakan. Efisiensi pakan artinya konsumsi pakan turun, tetapi bobot badannya meningkat dari ayam broiler tersebut. Selain itu, pemberian mineral Zn sebanyak 80 ppm juga mampu menurunkan nilai Malondial dehid (MDA) yaitu produk peroksidasi lemak pada serum darah. Hal tersebut menunjukkan adanya aktivitas antioksidan dari vitamin E dan mineral Zn. Adanya aktivitas antioksidan dalam tubuh memberikan efek yang baik bagi kesehatan ternak dilihat dari profil darahnya yang normal.(ipb.ac.id)

  • Peneliti IPB Hasilkan Telur Itik Tinggi Antioksidan dan Omega 3

    Tiga peneliti Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (Fapet IPB), Prof. Sumiati, Dr. Widya Hermana dan Arif Darmawan melakukan sebuah penelitian terhadap telur itik. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektifitas penggunaan tepung daun Indigofera sp, tepung daun singkong dan minyak ikan lemuru yang menghasilkan telur itik kaya antioksidan dan asam lemak omega 3 serta pengaruhnya terhadap performa itik petelur.

    Menurut Sumiati, tepung daun Indigofera sp. dapat menggantikan bungkil kedelai sebagai sumber protein pada ransum itik petelur, sehingga impor bungkil kedelai berkurang dan ransum itik harganya bisa lebih murah. “Minyak ikan lemuru yang merupakan limbah dari proses pengalengan maupun penepungan ikan lemuru juga dapat digunakan untuk menurunkan kandungan kolesterol telur dan meningkatkan kandungan Omega 3 secara signifikan,” ungkap Guru Besar Fakultas Peternakan ini.

    Dalam percobaannya peneliti ini menggunakan 180 ekor itik. Terdapat tiga perlakuan dan lima ulangan. Itik yang diberi ransum kontrol  atau ransum yang biasa dipakai peternak (P0). Itik yang diberi ransum menggunakan 2 persen minyak ikan lemuru ditambah 11 persen tepung daun Indigofera sp (P1). Itik yang diberi ransum menggunakan 2 persen minyak ikan lemuru ditambah 11 persen tepung daun singkong (P2).

    Hasil percobaan menunjukkan perlakuan P2  mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pakan dibandingkan perlakuan kontrol (P0) dan P1. Selain itu, perlakuan P2 juga secara nyata mampu meningkatkan produksi telur dibandingkan perlakuan P1.

    Perlakuan P2 tersebut juga mampu meningkatkan vitamin A telur secara signifikan dan menurunkan kandungan kolesterol kuning telur dibandingkan perlakuan P1 serta lebih efektif sebagai sumber antioksidan yang ditandai dengan menurunnya nilai MDA telur secara signifikan.

    Perlakuan P1 dan P2 juga diketahui mampu menurunkan asam lemak jenuh dan meningkatkan kandungan asam lemak omega 3 dan omega 6 dengan rasio seimbang. Kesimpulan dari penelitian ini penggunaan 11 persen  tepung daun singkong dengan 2 persen minyak ikan menghasilkan performa dan kualitas kimia telur itik lebih baik dibandingkan dengan pengunaan 11 persen tepung Indigofera sp dengan 2 persen minyak ikan.

    Penggunaan minyak ikan 2 persen dan indigofera sampai 11 persen terbukti tidak akan menurunkan performa itik petelur dan kualitas fisik telur, dapat menurunkan lemak dan kolesterol telur, meningkatkan skor warna kuning telur, meningkatkan kandungan vitamin A dan meningkatkan kandungan asam lemak omega 3.

    Telur produk hewani yang mengandung protein tinggi. Harganya pun relatif terjangkau dan ketersediaannya melimpah di Indonesia. Dewasa ini perlu dilakukan peningkatan kualitas nutrisi telur. Desain telur tinggi antioksidan dan asam lemak omega 3 sudah menjadi keharusan. (ipb.ac.id)

  • Peneliti IPB Kembangkan Pengawet dari Bakteri Asam Laktat

    Selama ini, pengawet dipakai produsen makanan agar produk mereka tahan lama dan tak mudah busuk. Pengawet makanan dapat mencegah pertumbuhan mikroorganisme pembusuk sehingga memperpanjang daya simpan. Namun, tidak semua pengawet aman digunakan. Bahkan, sebagian besar malah membahayakan tubuh. Pengawet bisa menyebabkan gangguan kesehatan jangka pendek, seperti infeksi saluran pernapasan dan diare. Juga gangguan kesehatan jangka panjang seperti kerusakan jantung dan ginjal.

    Salah satu dosen Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr. Irma Isnafia Arief meneliti tentang bahan pengawet makanan yang dihasilkan oleh bakteri asam laktat. Bakteri tersebut didapat dari daging sapi lokal yang kemudian ditumbuhkan lalu diisolasi dari senyawa anti mikroba yang dihasilkan dari bakteri asam laktat tersebut. “Kami menemukan bakteri asam laktat yang memiliki sifat probiotik yang bisa memberikan manfaat kesehatan baik untuk ternak maupun untuk manusia,” ujar dosen yang mengajar di Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP) Fapet ini.

    Saat ini bahan pengawet yang ditemukan Dr. Irma sudah diaplikasikan pada produk olahan susu seperti yogurt ataupun produk olahan daging seperti bakso dan sosis yang ternyata mampu memberikan manfaat yang baik. “Sejauh ini perkembangan penelitian ini sudah diaplikasikan di beberapa UKM saja karena belum komersial,” tambahnya.

    Pengawet buatan yang beredar saat ini memiliki sifat karsinogenik seperti boraks dan nitrit yang berbahaya bagi tubuh. Sedangkan bakteri asam laktat ini merupakan good bakterial yang baik untuk kesehatan usus dimana bakteri ini dapat hidup di usus manusia. Bakteri asam laktat tidak memproduksi toksin atau senyawa yang memiliki sifat racun di tubuh sehingga bahan pengawet yang dihasilkan akan lebih aman bagi manusia.

     “Ke depannya saya mengharapkan bahwa penemuan atau penelitian ini akan bisa sangat bermanfaat untuk pengganti pengawet boraks, nitrit dan lain sebagainya yang selama ini digunakan untuk pembuatan bakso dan sosis pada pengolahan daging dengan pengawet hayati yang kita produksi,” tutupnya.(RF - ipbmag.ipb.ac.id)

  • Peneliti IPB Kembangkan Rumput yang Tahan Kekeringan

     

    Peternakan ruminansia di Indonesia didominasi oleh peternakan rakyat. Sebagian besar peternak memanfaatkan rumput sebagai hijauan pakan utama untuk ternak. Akan tetapi kendala yang dihadapi oleh peternak adalah ketersediaan hijauan. Kuantitas, kualitas, dan kontinuitas hijauan adalah faktor penghambat hijauan pakan.

    Hal tersebut membuat sejumlah pakar dari Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan penelitian terkait seleksi rumput tahan cekaman dan potensi pengembangannya di daerah kering dengan teknik Leisa. Penelitian ini dilakukan oleh Moh Ali Hamdan, Panca DMH Karti dan Iwan Prihantoro dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan (Fapet).

    Panca mengatakan, Indonesia memiliki keanekaragaman jenis rumput yang tinggi. Namun, sebagai negara tropis, beberapa daerah di Indonesia  memiliki panjang musim yang berbeda seperti musim penghujan yang lebih pendek dari musim kemarau. Bagi daerah yang memiliki musim kemarau lebih panjang dari musim penghujan, ketersediaan hijauan menjadi faktor penghambat bagi perkembangan peternakan. “Padahal potensi ternak tersebut tentunya memerlukan ketersediaan hijaun sebagai pakan,” katanya.

  • Pengaruh Murottal Al-Quran Terhadap Produksi Susu Sapi

    Ghulam Halim Furqoni, mahasiswa Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB), meneliti pengaruh produksi susu sapi dengan perlakuan mendengarkan murottal Al-Quran. Penelitian yang dilakukan ini dilatarbelakangi oleh penelitian sebelumnya yang meneliti tentang pengaruh musik klasik terhadap produksi susu sapi perah. Pada pemutaran musik klasik hanya dilakukan sekira tiga jam sebelum pemerahan, sehingga disarankan waktu pemutaran musik diperpanjang supaya hasil yang diperoleh lebih optimal.

    Akhirnya, berawal dari diskusi dengan dosen pembimbing, tercetuslah judul awal yaitu pengaruh musik klasik 24 jam terhadap produktivitas susu sapi perah. Di sisi lain Ghulam berfikir, adakah pilihan lain selain musik klasik yang dapat berpengaruh terhadap produktivitas susu sapi perah?

    Musik klasik mozart mulai dikenalkan pada tahun 1993 di Universitas California untuk penelitian pada para mahasiswa di sana dalam upaya peningkatan tingkat IQ. Hasilnya, musik klasik mozart dapat meningkatkan 8-9 poin IQ pada mahasiswa-mahasiswa tersebut (Bowers 2002). Sejak saat itu musik klasik mozart mulai berkembang di Eropa dan digunakan di dunia peternakan untuk tujuan meningkatkan produktivitas ternak.

    Pada kasus lain, terang Ghulam, banyak penelitian yang dilakukan menggunakan treatment murottal Al-Quran terhadap manusia yang sedang sakit, ibu hamil, dan lain sebagainya yang mayoritas pengambilan datanya banyak dilakukan di rumah sakit. Terbukti murottal Al-Quran memiliki efek ketenangan (relaksasi) dan menimbulkan kenyamanan psikologis.

    “Berangkat dari hal tersebut, tanpa berniat sedikitpun membawa sensitifitas agama, saya usulkan menambahkan murottal Al-Quran sebagai perlakuan dalam penelitian saya. Alhamdulillah dosen saya menyetujui dan lahirlah judul untuk skripsi saya ‘Produksi Susu Sapi Perah yang Mendengarkan Musik Klasik dan Murottal Al Quran Selama 24 Jam’," ujarnya.

    Ghulam berharap hasil penelitiannya ini dapat bermanfaat dan mudah diaplikasikan oleh peternak-peternak di Indonesia sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas susu sapi perah dalam negeri. Penelitian ini dibimbing oleh Dr. Afton Atabany dan Dr. Bagus P Purwanto.(MM - http://ipb.ac.id)

    Kontak:
    Ghulam Halim Furqoni
    Email : halimghulam93@yahoo.com
    Phone : 081283136643

  • Percepat Penggemukan dengan Pemandulan Sapi Jantan

    Swasembada daging tidak akan terjadi dalam waktu dekat karena banyak kendala. Kendala tersebut diantaranya adalah para peternak masih beternak secara tradisional, kepemilikan sapi per peternak hanya 2-3 ekor, rendahnya pendidikan, lemahnya pengetahuan teknologi, dan kurangnya keberpihakan pemerintah kepada sektor ini.
     
    Demikian dikatakan Guru Besar Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof.Dr Muladno dalam Dialog Pakar di RRI Bogor, belum lama ini. Namun demikian, ia menegaskan Indonesia sebagai bangsa yang besar tidak boleh berpangku tangan. 
  • Perkuliahan Perdana Program Sarjana Plus Logistik Peternakan

    Program Sarjana Plus Logistik Peternakan batch ke-1 telah diselenggarakan oleh Fakultas Peternakan IPB pada tanggal 01 Agustus 2017. Kegiatan sambutan mahasiswa baru pada perkuliahan perdana dibuka oleh Prof.Dr.Ir. Sumiati,MSc selaku Wakil Dekan Fakultas Peternakan IPB beserta sejumlah tenaga pengajar lainnya. Agenda kegiatan tersebut antara lain perkenalan antara mahasiswa dengan para tenaga pengajar, gambaran mata kuliah dan perkenalan lingkungan kampus IPB secara umum. Hal ini diperlukan,mengingat para mahasiswa program Sarjana Plus Logistik Peternakan berlatarbelakang pendidikan Sarjana tidak hanya dari IPB tetapi juga dari beragam perguruan tinggi,antara lain Universitas Pajajaran, Universitas Andalas, Universitas Jambi, dan lain-lain. Para mahasiswa ini terdiri dari fresh graduate dan sudah bekerja  dengan status mendapatkan izin/tugas belajar dari instansi pemerintah maupun swasta.

    Jumlah mahasiswa aktif dalam program Sarjana Plus Logistik Peternakan Batch 1 ini sejumlah 13 orang setelah lolos seleksi administrasi dan interview dari total 50 orang pelamar. “Setiap batch nya memang hanya menerima maksimal 15 orang mahasiswa, mahasiswa yang memenuhi kriteria lulus diterima pada batch ke-1 ini sebanyak 13 orang”, jelas Dr. Despal, Spt, MscAgr selaku Koordinator Program Sarjana Plus Logistik Peternakan.

    Kegiatan perkuliahan menggunakan sistem modul dengan jadwal kuliah reguler hari senin s.d. jumat. Jadwal kuliah pada tiga bulan pertama akan dilaksanakan di dalam kelas. Sedangkan tiga bulan berikutnya akan dilaksanakan magang di perusahaan terkait logistik peternakan. Penyaluran mahasiswa untuk magang dapat dilakukan sesuai permintaan mahasiswa yang difasilitasi oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI). Mahasiswa dapat melakukan permintaan tempat magangnya di industri/perusahaan yang tergabung dalam member FLPI. Kegiatan perkuliahan dilakukan berdasarkan sistem modul.  Modul ke-1 telah dimulai pada perkuliahan hari pertama yaitu Production System For Safe Animal Products yang diampu oleh Dr.Irma Isnafia Arief, Spt , MSi. Kegiatan perkuliahan juga termasuk praktikum laboratorium , para mahasiswa sangat antusias. “Akhirnya setelah sekian tahun,bisa praktikum kembali di laboratorium”,ujar Etik, salah satu mahasiswa. Dalam mata kuliah ini ini juga turut mengundang dosen tamu dari praktisi yang menjelaskan peranan QA/QC dan manajemen keamanan pangan di industri pangan, khususnya produk olahan ternak. “Kegiatan ini sebenarnya merupakan rangkaian dari setiap mata kuliah dalam  Program Sarjana Plus Logistik Peternakan IPB mengundang praktisi sebagai dosen tamu, agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas maka kuliah dosen tamu ini diadakan dalam bentuk Studium General yang turut mengundang para mahasiswa Pascasarjana di Fakultas Peternakan IPB sebagai peserta”, jelas Irma.

    Kegiatan Studium General ini telah dilaksanakan pada tanggal 14 Agustus 2017 yang bertempat di Ruang Sidang Dekanat Fakultas Peternakan, Kampus IPB Darmaga. Dosen tamu yang diundang adalah Dwi Rizki Tirtasujana, S.TP , alumni IPB dari program studi Teknologi Pangan dan Gizi yang telah berpengalaman di industri pangan selama 17 tahun. Kegiatan Studium General  diikuti secara antusias oleh 30 peserta yang terdiri dari mahasiswa Sarjana Plus Logistik Peternakan dan mahasiswa Pascasarjana Fakultas Peternakan IPB. “Meskipun sudah bekerja sebagai supervisor produksi di salah satu perusahaan ternak,namun saya ingin mengetahui lebih jauh tentang peranan Quality Control agar bisa dapat tercipta kesepahaman antar peran dalam pekerjaan”, jelas Visista salah satu mahasiswa Sarjana Plus Logistik Peternakan. (FLPI-Alin.net)

  • Prestasi Membanggakan Dosen dan Tenaga Kependidikan Fakultas Peternakan di Tingkat IPB

    Institut Pertanian Bogor pada tanggal 2 Juni 2016  menyelenggarakan seleksi Dosen, Ketua Program Studi, dan Tenaga Kependidikan Berprestasi Tingkat IPB Tahun 2016. Prestasi membanggakan berhasil diraih oleh dosen dan tenaga kependidikan Fakultas Peternakan.

    Prof. Dr. Ir. Luki Abdullah, MSc.Agr.  sebagai Dosen Berprestasi Peringkat I dan akan mewakili IPB ke tingkat nasional. Saat ini,  Prof. Luki  bertugas sebagai dosen dan peneliti di Laboratorium Agrostologi, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan IPB. 

    Beliau memiliki sejumlah inovasi dalam penyediaan hijauan pakan ternak berkualitas tinggi dari budidaya tanaman hingga upaya pengawetan, salah satunya adalah Indigofera yang dikembangkan dari hulu sampai hilir sehingga menjadi konsentrat hijau (KoHi).

    Irma Nuranthy Purnama, S.Pt., M.Si. sebagai Tenaga Kependidikan Berprestasi Peringkat I untuk Kategori Administrasi Umum. Beliau bertugas sebagai Technical Editor di Media Peternakan, Journal of Animal Science and Technology sejak tahun 2004. Beliau bertanggungjawab dalam kegiatan administrasi, membantu proses manajemen, dan pengembangan jurnal, serta membantu internasionalisasi Media Peternakan sehingga dapat diindeks salah satu lembaga pengindeks bereputasi,  yaitu SCOPUS, sejak tahun 2016.

    Laeli Komalasari, SP, M.Si. sebagai Tenaga Kependidikan Berprestasi Peringkat II untuk Kategori Pranata Laboratorium. Beliau membuat karya inovasi mesin tetas 200 butir yang dilengkapi dengan inverter sehingga mesin tetap beroperasi meskipun listrik padam. Alat ini masih dalam tahap penyempurnaan untuk dapat digunakan secara layak. Beliau bertugas di Laboratorium Ilmu Produksi Ternak Unggas, Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB.

    Selamat atas prestasi yang diraih, semoga dapat memacu prestasi-prestasi lainnya dan memajukan Fakultas Peternakan IPB.

  • Prof. Luki Abdullah Raih Penghargaan Dosen berprestasi Nasional

    Dosen Fakultas Peternakan IPB kembali mengukir prestasi di tingkat nasional, yaitu Prof. Luki Abdullah, yang berhasil meraih penghargaan peringkat kedua dalam kategori Dosen berprestasi tingkat nasional.  Bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-88, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi memberikan penghargaan kepada insan pendidik dan tenaga kependidikan berprestasi. Penghargaan tersebut diberikan pada acara Anugerah Pendidik dan Tenaga Kependidikan Berprestasi Tingkat Nasional 2016 yg diselenggarakan pada jumat (28/10) di Bandung, Jawa Barat.

    Gelaran ini merupakan gelaran ke–14 Diktendik berprestasi tingkat nasional yg diselenggarakan tiap tahun sejak tahun 2004 silam. “Pemberian penghargaan ini diharapkan mampu mendorong dosen dan tenaga kependidikan untuk berprestasi dan lebih produktif sehingga tercapainya tujuan pengembangan sistem pendidikan tinggi khususnya dan pembangunan sosial pada umumnya,” ujar Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemristekdikti Ali Ghufron Mukti. Lebih lanjut Ali Ghufton Mukti mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan agar setiap perguruan tinggi (PT) tergerak untuk memiliki sistem penghargaan yang terprogram bagi dosen dan tenaga kependidikan, meningkatkan motivasi untuk bekerja lebih keras dan lebih cerdas dalam pelaksanaan tridharma perguruan tinggi, dan menumbuhkan kebanggaan di kalangan dosen dan tenaga kependidikan terhadap profesinya.

    Jumlah peserta seleksi pendidik dan tenaga kependidikan berprestasi 2016, tercatat sebanyak 266 orang dengan rincian, kategori administrasi akademik berprestasi 36 orang, kategori dosen berprestasi 63 orang, kategori kepala program studi berprestasi 48 orang, kategori laboran berprestasi 44 orang, kategori pengelola keuangan berprestasi 36 orang, dan kategori pustakawan berprestasi 38 orang.

    Dari kategori-kategori tersebut, IPB berhasil meraih tiga penghargaan, yaitu pada kategori Dosen berprestasi (Prof. Luki Abdullah), Kepala Program Studi Berprestasi (Dr. Iman Rusmana), dan Laboran berprestasi (Esti Prihantini).

    Selamat bagi para penerima penghargaan Diktekdik berprestasi tingkat nasional tahun 2016. Semoga capaian yg diraih mampu menjadi pelecut untuk selalu bekerja keras dan berinovasi dalam mewujudkan pendidikan tinggi yang berkualitas di Indonesia tercinta.

  • Prof. Muladno Kembali Aktif di IPB

    Guru Besar Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof.Dr. Muladno kembali aktif mengajar dan meneliti di IPB setelah sebelumnya selama 13 bulan 12 hari (per 1 juni 2015) ditugaskan oleh Presiden RI, Joko Widodo sebagai Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian RI. Dalam jumpa pers atas kembali aktifnya Prof. Muladno di Kampus IPB Baranangsiang Bogor, Senin (18/7), Prof. Muladno memaparkan beberapa kebijakan strategis yang berhasil dilakukan selama menjabat sebagai Dirjen. “Setidaknya hasil ini tidak memalukan IPB,” tegasnya.
     
    Selama 13 bulan menjabat, kebijakan strategis yang berhasil diterapkan dalam dunia peternakan adalah pertama, pembenahan industri dan bisnis-bisnis perunggasan. “Ternak unggas mengalami over suplly, sehingga tugas kami kemarin adalah memimpin perusahaan-perusahaan pembibitan unggas untuk menyeimbangkan jumlah supply demand. Akhirnya lahir peraturan Permentan tentang produksi, peredaran dan pengawasan Day Old Chicken (DOC),” ujarnya.
     
    Kedua, revitalisasi asosiasi. Saat ini ada 84 asosiasi atau perhimpunan di bidang peternakan dan kesehatan hewan. Banyak diantara asosiasi itu yang hanya sekadar kumpul-kumpul saja tanpa ada dokumen legalnya. “Kita dorong supaya asosiasi itu dibenahi, jangan sampai orang gampang buat asosiasi padahal legitimasinya diragukan,” ujarnya.
     
    Ketiga, adanya revisi peraturan menteri yang membuat bisnis sapi lebih kondusif seperti penghapusan biaya pemeriksaan penyakit sebelum sapi itu dikirim dari Australia ke Indonesia.
     
    “Tadinya biayanya itu 220 dollar per ekor. Nah kemarin setelah berkunjung ke Australia cek sana cek sini, akhirnya saya putuskan, setelah diskusi dengan otoritas kesehatan hewan, biayanya menjadi 50 dollar per ekor. Bayangkan kalau kita impor seribu ekor saja sudah berapa milyar yang bisa disimpan. Pencegahannya terlalu mahal dibanding realitasnya. Padahal penyakit tersebut amat sangat langka,” terangnya.
     
    Keempat, aturan impor sapi bakalan tadinya harus 350 kilogram (kg) per ekor. “Ini agak merepotkan karena jika ada sapi bakalan yang beratnya 355 kg maka itu sudah dianggap melanggar. Maka aturannya kemudian diubah menjadi rata-rata 350 kg per bacth,” imbuhnya.
  • Prof. Ronny Noor Jadi Adjunct Professor di Universitas di Australia

    Prof. Ronny Noor yang baru saja menyelesaikan tugasnya sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan selama 4 tahun di Australia mendapat kehormatan diangkat menjadi Adjunct Professor di almamaternya di University of New England (UNE), Armidale (NSW) Australia.

    Berdasarkan surat yang dikeluarkan oleh David Thorsen, Director of Human Resources  UNE, Prof. Ronny Noor akan menjalani peran barunya sebagai Adjunct Professor di School of  Environment and Rural Science, UNE selama 5 tahun mulai tanggal 1 Agustus 2017 disamping tugas utamanya sebagai Guru Besar di Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB). Adjunct Professor adalah seseorang yang diangkat oleh universitas untuk mengajar atau melakukan kegiatan lain bukan sebagai staf tetap, namun memberikan kontribusi secara periodik.

    Dalam keterangan kepada wartawan ABC Australia Plus, Sastra Wijaya, Prof. Ronny Noor menyatakan bahwa hal ini merupakan kehormatan besar bagi dirinya yang telah dipercaya oleh UNE  setelah menyelesaikan studi Master dan Doktornya 21 tahun yang lalu di universitas tersebut. "Disamping itu peran ini dinilai sangat strategis dalam pembangunan pertanian di Indonesia khususnya pembibitan ternak mengingat baik IPB  maupun UNE merupakan universitas universitas terkemuka yang memfokuskan dirinya pada ilmu ilmu pertanian dalam arti luas  yang memiliki reputasi internasional." kata Prof Ronny.

    Proses nominasi sebagai Adjunct Professor ini memerlukan  proses dan waktu yang cukup panjang, setelah sebelumnya UNE menganugerahkan Distinguished Alumni Award kepada Prof. Ronny Noor pada tahun 2016 lalu karena dinilai telah memberikan kontribusi besar dalam membangun kerjasama pendidikan dan penelitian antara Indonesia dan Australia dalam perannya sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan. Disamping itu nominasi ini juga mempertimbangkan rekam jejak prestasi akademis dan penelitian yang telah dibangun oleh Prof. Ronny Noor selama ini  setelah menyelesaikan studinya di University of New England dalam bidang genetika kuantitatif dan genetika ekologi serta pemuliaan ternak. Dalam peran barunya ini Prof. Ronny Noor akan bermitra dengan para staf pengajar di UNE termasuk dengan  Prof. Julius van der Werf  dan Dr Fran Cowley dari School of Environmental and Rural Science dalam  mengembangkan kerjasama pendidikan dan penelitian dalam bidang  genetika, pemuliaan serta sistem pembibitan  ternak tropis.

    Prof. Ronny Noor juga akan melakukan kerjasama pembimbingan mahasiswa kandidat doktor khususnya yang terkait dengan program the ACIAR Indobeef Projects yang saat ini sedang berjalan dalam rangka pengembangan sumberdaya manusia Indonesia di bidang peternakan. Indobeef project merupakan program kerjasama Indonesia dan Australia dalam bidang  pendidikan, penelitian dan pengembangan sumberdaya manusia  untuk pembibitan sapi pedaging di Indonesia.  Disamping itu program ini juga dimaksudkan untuk melakukan peningkatan  value chain peternakan sapi pedaging di Indonesia.

    Professor Ronny Noor akan berperan memfasilitasi kerjasama pendidikan dan pengajaran antara Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan UNE dan juga institusi terkait lainnya dalam mengembangkan petanian di Indonesia. Dalam peran barunya ini Prof. Ronny Noor menyatakan bahwa dirinya sangat optimis dapat mengembangkan kerjasama pendidikan dan penelitian lebih jauh lagi dalam upaya untuk memajukan pertanian Indonesia.

    Dalam bidang keilmuan Prof. Ronny R. Noor yang mendalami bidang Genetika Kuantitatif dan Genetika Ekologi ini selepas menyelesaikan PhD nya dari University of New England pada tahun 1994. Setelah itu melengkapi bidang keilmuannya dengan melakukan kerjasama penelitian dengan mengikuti program post-doctoral dan trainingnya di Jepang, Amerika, Jerman, Swedia, Malaysia serta Thailand. Selama karirnya Prof. Ronny R. Noor yang tercatat pernah menduduki posisi Dekan dan Wakil Kepala bidang penelitian Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada masyarakat Institut Pertanian Bogor (IPB). Dia juga telah membimbing dan meluluskan ratusan mahasiswa baik di di level S1, S2 dan S3.

    Di samping itu kegemarannya menulis telah menghasilkan ratusan judul baik dalam bentuk buku, karya ilmiah dan tulisan ilmiah popular lainnya. Dalam karirnya, Prof. Ronny R. Noor pernah tercatat membantu pengembangan sumberdaya manusia untuk pelestarian sumberdaya ternak di International Livestock Research Institute (ILRI) FAO. (australiaplus.com)

  • Program Sarjana Plus Logistik Peternakan

    Program Sarjana Plus Logistik Peternakan

    Program Satu Semester Sertifikat Profesional

     

    Menjamin penyediaan ternak dan produk ternak kepada konsumen secara berkesinambungan, meliputi pasca  panen, pergudangan, transportasi, keamanan dan kualitas produk
    Kompetensi :

    • Mampu mengimplementasikan keahlian di bidang logistik peternakan
    • Mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuan, teknologi, dan sains di bidang logistik peternakan
    • Mampu mengelola dan bekerja dalam tim secara  profesional, untuk menerapkan keputusan strategis di bidang logistik  peternakan

    Kualifikasi :

    • Lulusan S1 (Peternakan, Kedokteran Hewan, Logistik, Transportasi, Ekonomi, Teknik Industri, IKK);
    • Minimal telah mendapatkan Surat Keterangan Lulus (SKL)
    • Fresh graduate atau yang sudah bekerja
    • Individu atau utusan instansi/perusahaan

    More information :

    Sekretariat Program Sarjana Plus
    Fakultas Peternakan IPB, Wing 2 Lantai 4
    (0251) 8622841, Fax. 8622842
    alogistic@apps.ipb.ac.id
    +62 857 1737 0257 (CP: Dewi)

    Check our brochure : Brochure S1 Plus - Logistik Peternakan

  • Program Studi THT, satu satunya di Indonesia

    Fakultas Peternakan telah membuka Program Studi strata satu (S1) baru, yaitu Program Studi Teknologi Hasil Ternak (PS-THT). Program Studi ini diasuh oleh Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP), dimana bidang keilmuannya ini meliputi : teknik pengolahan dan rekayasa produk hewan ( makanan : daging , susu telur & madu), pengolahan hasil ikutan ( wol, kulit, tulang, dll ), sifat fungsional dari produk hewani & pengelolaan limbah.

    Program Studi Teknologi Hasil Ternak pada saat ini merupakan satu satunya program studi strata satu (S1) di bidang pengolahan hasil ternak di Indonesia, menjadikan PS-THT menjadi pilihan yang tepat menuju sukses di bidang pengolahan hasil ternak. Pada tahun 2016 ini, PS-THT hanya menerima pendaftaran dari jalur Ujian Talenta mandiri IPB (UTM) dengan daya tampung sebanyak 40 orang mahasiswa.

    Pendaftaran dapat dilakukan secara online melalui alamat  http://admisi.ipb.ac.id/p/single/utm. Syarat peserta adalah : lulusan SMA/MA IPA tahun 2014-2016, sehat jasmani dan rohani. Pendaftaran dapat dilakukan mulai 11 Mei - 9 Juni 2016. Ujian tertulis dengan materi ujian: Biologi, Fisika, matematika, Bahasa Inggris dan Tes Talenta , dilakukan pada tanggal 18 Juni 2016, dan pengumuman kelulusan pada tanggal 29 Juni 2016.

    Pada tahun 2017, Program ini membuka jalur masuk melalui SNMPTN, SMBPTN, UTMI, Beasiswa Unggulan Daerah (BUD), Prestasi Internasional_Nasional, dengan daya tampung 100 orang mahasiswa. untuk mendapatkan informasi mengenai semua jalur masuk tersebut, dapat mengakses alamat http://admisi.ipb.ac.id.

    Untuk mendapatkan informasi yang lebih mendetail, dapat menghubungi Departemen Imu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP), Fakultas Peternakan IPB, Jalan Agatis Kampus IPB Darmaga Bogor,telp. dan fax.  0251-8628379, email departemeniptp@gmail.com dan situs web http://iptp.fapet.ipb.ac.id

Page 4 of 5