News

  • Mohamad Yamin Menjadi Dekan Baru Fapet IPB

    Dr. Ir. Mohamad Yamin, M.Agr.Sc  telah resmi dilantik menjadi dekan baru Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, menggantikan pejabat lama Prof Dr. Ir. Luki Abdullah, M.ScAgr  periode 2015 hingga 2020. Pelantikan dilaksanakan pada hari Rabu, 2-12-2015 pukul 10-12 WIB di Gedung Andi Hakim Nasution, IPB Darmaga Bogor.

    Dr. Yamin menyelesaikan pendidikan Strata 1 di Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Pendidikan S2 di Univ. of Queensland, St. Lucia Australia dan S3-nya beliau selesaikan di Adelaide University, Australia pada tahun 2006.  Beliau memiliki keahlian di bidang Teknologi Budidaya Domba dan Kambing, Pemuliaan Domba dan Kambing,  Sistem/Model Usaha Domba Kambing.  Dengan keahlian tersebut, beliau memiliki peran penting bagi kemajuan bidang peternakan di Indonesia.
     
    Beliau juga memiliki banyak  pengalaman pada bidang manajemen perguruan tinggi dan organisasi, diantaranya: Sekretaris Program Studi THT (2000-2001), Ketua PS THT (2002-2003), Direktur SDM IPB (2003-2007), Wadek Periode 2007-2011, Wadek Periode 2011-2015, dan Wadek Bidang Akademik (2015). Selain itu,  beliau juga pernah menjadi President PPIA Waite Campus, President OSA Waite Campus dan Ketua MIAAS semasa kuliah di Australia.
     
    Rencana Program kerja yang akan dijalankan diantaranya adalah Peningkatan Mutu Tridharma Perguruan Tinggi, Peningkatan Kapasitas manajemen Internal, pengembangan edupreneur centre, dinamisasi perluasan jejaring fakultas melalui Program kerjasama berbasis kepakaran.

    Selamat menjalankan tugas Pak Yamin, Semoga Amanah !
  • Muladno diangkat menjadi Dirjen Peternakan

    Prof. Dr. Ir. Muladno, MSA dilantik sebagai Dirjen Peternakan, pada tanggal 1 Juni 2015 menggantikan Ir. Syukur Iwantoro MM, Dirjen PKH yang menjabat sejak 2010. Muladno dilahirkan di Kediri tanggal 24 Agustus 1961 dan merupakan anak kedua dari tujuh bersaudara hasil perkawinan seorang ayah bernama Basar (almarhum) dan seorang ibu bernama Asyiati. Saat ini tinggal di Bogor bersama seorang istri bernama Sri Sulandari, PhD (peneliti LIPI dan lahir 23 Desember 1961) dan dua anak laki-laki bernama Aussie Andry Venmarchanto (lahir 11 Maret 1990) dan Endyea Mendelian Lecturariseta (lahir 18 November 1997).

    Pendidikan dasar dan menengah diselesaikan di SDN Ringinsirah II Kediri, SMPN I Kediri, dan SMAN II Kediri; sedangkan pendidikan tinggi diselesaikan di Fakultas Peternakan UGM Yogyakarta (sarjana, 1985), di University of New England, Armidale, Australia (master of science in agriculture, 1990) dan di University of Sydney, Australia (Doctor of Phylosophi, 1995).

    Pascapendidikan formal, memperoleh kesempatan mengikuti program post-doctoral dari Science and Technology Agency of Japan (1995-1996) di National Institute of Animal Industry, Tsukuba, Japan; kemudian dari Society for Agriculture, Forestry and Fisheries (STAFF) Institute (1996-1997) di Tsukuba, Japan; serta dari Japan Society for Promotion of Science (JSPS) tahun 1998 di Nagoya University, Japan; dan terakhir dari Program Kerjasama Indonesia-Australia tentang Specialized Training on Intellectual Property Rights di University of Technology, Sydney, Australia tahun 2000.

  • Musyawarah Kerja DPM Fapet IPB 2017

    Dewan Perwakilan Mahasiswa  Fakultas Peternakan IPB menggelar Musyawarah Kerja DPM Fapet IPB 2017, yang dilaksanakan di Ruang Sidang Fakultas Peternakan IPB (Jumat, 29/12/2016).


    Acara dibuka pada pukul 08.30 WIB, dilanjutkan dengan pembacaan tilawah, melantunkan lagu (Indonesia Raya, Hymne IPB, dan Mars Fapet). Acara  dilanjutkan dengan sambutan dari Dekan fapet IPB dan Direktur Kemahasiswaan IPB.  Pada musyawarah kerja tersebut, setiap  Organisasi kemahasiswaan memaparkan RKAT untuk tiap tiap bagiannya.  Pemaparan pertama dilakukan oleh DPM Fapet IPB, dilanjutkan oleh pemaparan dari BEM Fapet IPB, Famm Al An'am, dan Kepal-D. Setelah pemaparan, dibuka sesi diskusi dan tanggapan dengan jajaran Dekanat Fapet IPB yang di pandu oleh moderator. Selain itu, dilaksanakan pula kegiatan pembuatan matrix program kerja periode 2016-2017


    Musyawarah Kerja DPM fapet IPB ini dihadiri oleh Direktur Kemahasiswaan IPB, Dekan, Wakil Dekan SKP dan AK, Ketua Departemen INTP dan  IPTP, Sekretaris Departemen INTP dan IPTP,  Komisi Kemahasiswaan IPTP dan INTP, perwakilan DPM KM, serta seluruh Ketua Ormawa-D, BPH, dan Kadiv/Kadept/Kabir.

    Diharapkan dengan diadakannya Musyawarah Kerja ini, dapat membawa Organisasi Kemahasiswaan Fapet IPB menjadi lebih baik lagi dengan kesinergisan antar Organisasi Kemahasiswaan. Semoga Organisasi Kemahasiswaan Fapet IPB dapat menjalani program kerjanya dengan amanah dan bijaksana (Source DPM Fapet IPB).

  • Orasi Ilmiah Prof. Dr. Ir. Erika B. Laconi, MS

    Prof.Dr.Ir. Erika B. Laconi, MS menyampaikan orasi ilmiah di hadapan sekitar 400 undangan di gedung Andi Hakim Nasution, Kampus IPB Dramaga, pada hari Sabtu tanggal 6 Desember 2014. Di dalam orasinya, Prof. Erika B. Laconi mengulas mengenai peran strategis hijauan dari areal perkebunan kelapa sawit sebagai sumber bahan pakan ternak ruminansia. Orasi ilmiah yang disampaikan merupakan kompilasi hasil-hasil penelitian selama beberapa tahun terakhir, baik penelitian mandiri maupun penelitian bersama. Salah satu pokok bahasan utama adalah pengembangan peternakan rakyat berbasis hijauan di areal perkebunan.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkebunan kelapa sawit memiliki beragam produk hijauan, baik dari komponen kelapa sawit maupun dari berbagai vegetasi penutup tanah. Komponen kelapa sawit yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, diantaranya pelepah daun sawit, kulit buah sawit dan bungkil kelapa sawit. Analisis usaha peternakan menunjukkan nilai ekonomis yang tinggi dengan peluang pemasaran yang terbuka lebar karena meningkatkan efisisensi penggunaan lahan di Indonesia.

    Pada akhir orasi ilmiahnya, Prof. Erika B. Laconi memberikan rekomendasi untuk melakukan harmonisasi perkebunan dengan peternakan, pemanfaatan lahan perkebunan dan program nasional untuk membangun produksi peternakan berbasis rakyat di perkebunan kelapa sawit. Prof. Erika B. Laconi mengharapkan dukungan pemerintah, BUMN dan perusahaan swasta untuk bekerja sama dalam mewujudkan usaha peternakan berbasis masyarakat perkebunan agar terbentuk harmoni usaha perkebunan-peternakan dan kemandirian produk daging terjamin.(sumber : intp.fapet.ipb.ac.id)

  • Orasi Ilmiah Prof.Dr.Ir. Yuli Retnani, MSc

    Sabtu, 13 Februari 2016, Prof.Dr.Ir. Yuli Retnani, MSc menyampaikan orasi ilmiah di hadapan sekitar 400 undangan di gedung Andi Hakim Nasution, Kampus IPB Dramaga. Di antara civitas akademik IPB turut hadir undangan Ketua MPR RI, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Walikota Bogor, Rektor Universitas Hasanudin, Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Kepala BP3IPTEK, Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Sukabumi, pimpinan lembaga peneliti, perwakilan BUMN dan pimpinan perusahaan swasta mitra IPB.

    Orasi Prof. Yuli Retnani berjudul "INOVASI PENGOLAHAN PAKAN UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS TERNAK DI DAERAH PERKOTAAN, RAWAN PAKAN DAN BENCANA". Di dalam orasinya, Prof. Yuli Retnani mengulas mengenai inovasi pengolahan pakan untuk mengatasi masalah kelangkaan pakan. Orasi ilmiah yang disampaikan merupakan kompilasi hasil-hasil penelitian sejak tahun 2009, baik penelitian mandiri maupun penelitian bersama. Salah satu pokok bahasan utama adalah optimalisasi teknologi pengolahan pakan dapat dilakukan dengan membuat, menyimpan dan mendistribusikan pakan ke daerah yang membutuhkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa optimalisasi teknologi pengolahan pakan dapat dilakukan dengan membuat, menyimpan dan mendistribusikan pakan ke daerah yang membutuhkan. Teknologi pengolahan pakan memungkinkan untuk mengolah bahan baku pakan yang melimpah berasal dari limbah yang terbuang.

  • Pakan Daun Singkong Bersianida Dapat Tingkatkan Bobot Domba

    Mahasiswa Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (Fapet IPB),  Hafni Oktafiani melakukan penelitian  pemanfaatan daun singkong bersianida untuk pakan domba. Penelitian yang berjudul  “Performa dan Kecernaan Nutrien pada Domba yang Diberi Tepung Daun Singkong Pahit (Manihot esculenta) dan Bakteri Pendegradasi HCN (sianida)” ini di bawah bimbingan Dr Sri Suharti, dan Prof  Dr  Ir  Komang G. Wiryawan.

    Siaran pers IPB yang diterima Republika.co.id, Senin (7/8) menyebutkan, setiap tahun terdapat sekitar 1,2 juta ton per hektar per tahun limbah tanaman singkong khususnya daunnya yang terbuang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. “Daun singkong mengandung protein kasar yang cukup tinggi sekitar 39 persen,” kata Hafni Oktavani.

    Hal ini menunjukkan bahwa daun singkong sangat potensial dijadikan pakan ternak. “Sayangnya daun singkong mengandung antinutrisi berupa asam sianida (HCN) yang sangat beracun dalam konsentrasi tinggi,” ujarnya.

    Ia mengemukakan, ternak sapi dan kerbau mampu menoleransi kadar asam sianida sampai batas 2,2 miligram per kilogram bobot badan. Sedangkan pada kambing dan domba 2,4 miligram per kilogram bobot badan. Efek toksik sianida pada ternak kadang tidak terlihat. Ternak bisa saja tiba-tiba mati karena kekurangan asupan oksigen pada otak dan jantung. Asam sianida akan mengganggu oksidasi jaringan, karena dapat mengikat enzim sitokrom oksidase sehingga jaringan tidak dapat menggunakan oksigen.

    Hafni mengungkapkan, metode yang dapat dilakukan untuk menghilangkan asam sianida yaitu penjemuran, perendaman dengan air mengalir dan fermentasi. Penambahan daun singkong pahit dalam ransum memiliki potensi sebagai salah satu sumber protein dan pakan pengganti hijauan dengan syarat pengaruh negatif asam sianida dapat diminimalisir. Selain perlakuan pada daun singkong, efek asam sianida pada ternak ruminansia dapat diatasi dengan bantuan mikroba rumen.

    Berdasarkan penelitian, sebelumnya telah diisolasi bakteri yang memiliki karakteristik mirip dengan Megasphaera elsdenii pada cairan rumen domba yang terbiasa mengkonsumsi daun singkong. Megasphaera elsdenii memiliki kemampuan mendegradasi asam sianida selama sekitar 48 jam dan mampu menurunkan kadarnya hingga 70 persen, sehingga tidak menimbulkan dampak negatif bagi ternak ruminansia.

    Penelitian ini dilaksanakan pada April-Agustus 2016 bertempat di Laboratorium Fakultas Perternakan IPB. Penelitian ini menggunakan 15 ekor domba jantan yang berumur setahun. “Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan 30 persen tepung daun singkong tidak mengurangi konsumsi  nutrien dan tingkat kecernaan nutrien dibandingkan dengan kontrol (yang tidak diberi tepung daun singkong),” tuturnya.

    Pemberian 15 persen tepung daun singkong  dan  penambahan bakteri pendegradasi asam sianida berpengaruh terhadap penambahan bobot badan dan efisiensi pakan. “Dengan demikian dapat disimpulkan, permberian daun singkong pahit dapat meningkatkan bobot badan dan efisiensi pakan,” papar Hafni Oktaviani. (http://www.republika.co.id)

  • Pakar IPB Teliti Pakan Daun Pelepah Sawit untuk Sapi Perah

    Sapi perah yang banyak dipelihara di Indonesia adalah sapi perah Friesian Holstein (FH), yang merupakan bangsa sapi perah dengan tingkat produksi susu tertinggi, dan berkadar lemak yang relatif rendah dibandingkan sapi perah lainnya. Jenis pakan yang diberikan pada sapi perah dapat mempengaruhi produksi dan kualitas susu, serta dapat berpengaruh terhadap kesehatan sapi perah. Akan tetapi faktor penyediaan pakan hijauan yang berkualitas masih menjadi kendala, karena semakin terbatasnya jumlah lahan untuk penanaman hijauan makanan ternak. Dengan demikian perlu diupayakan untuk mencari pakan alternatif yang potensial, murah dan mudah didapat serta tersedia sepanjang tahun. Perkebunan kelapa sawit berpotensi menjadi sumber pakan alternatif untuk mengembangkan usaha peternakan.

    Tiga orang peneliti yang terdiri dari P. Riski dari Program Studi Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Sekolah Pascasarjana, Insitut Pertanian Bogor (IPB); B. P. Purwanto dari Program Diploma IPB; beserta Afton Atabany dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan (Fapet) IPB melakukan penelitian untuk mengetahui produksi dan kualitas susu sapi FH laktasi yang diberi pakan daun pelepah sawit.

    “Peluang bagi peternak untuk memanfaatkan hasil sampingan dan limbah dari perkebunan kelapa sawit berpotensial untuk dijadikan sebagai pakan alternatif untuk ternak, karena masih tersedia dalam jumlah yang banyak, belum dimanfaatkan secara optimal dan tersedia sepanjang tahun,” tutur Afton Atabany.

  • Pakar: Pemerintah harus fokus wujudkan swasembada daging

    Guru Besar Fakultas Peternakan IPB Prof Ronny Rachman Noor mengatakan untuk mewujudkan swasembada daging pemerintah harus fokus pada program yang menjadi prioritas mengingat anggaran yang dimiliki terbatas.  Menurutnya, kekurangan pasokan daging sapi di dalam negeri akan terus terjadi sampai dengan tahun 2020.

    "Kita harus menyelesaikan kesenjangan antara produksi dan permintaan ini, anggaran kita terbatas, gunakan dengan sebaik-baiknya, apalagi tenaga ahli kita banyak," kata Ronny dalam kegiatan praorasi guru besar IPB di Kampus Baranangsiang, Kota Bogor, Jawa Barat, Kamis.

    Menurut mantan Atase Pendidikan dan Kebudayaan di KBRI Canbera, Australia ini, untuk mengisi kesenjangan tersebut diperlukan pembibitan sapi sebagai tulang punggung penyedia ternak bakalan untuk ternak potong.

    "Kita kurang bakalan, artinya kurang bibit. Ini yang tidak pernah disentuh, kita harus memiliki sapi bangsa baru untuk suplai bakalan dan suplai daging," kata Ronny.

    Ia mengatakan data empiris menunjukkan swasembada daging tidak akan pernah dapat terwujud jika tidak dilakukan langkah ekstrem dalam pembibitan sapi. Menurut Ronny, semua potensi ternak lokal penghasil daging seperti sapi, kambing, domba, ayam, itik, dan kelinci dapat dilibatkan untuk mewujudkan program swasembada daging. Sektor perikanan juga diharapkan dapat berperan besar dalam mewujudkan swasembada protein hewani melalui peningkatan konsumsi ikan.

    Ronny menambahkan program terpadu swasembada protein hewani ini diharapkan tidak saja mengefisiensikan penggunaan anggaran, tetapi juga akan menghilangkan sekat-sekat yang selama ini menghambat kerja sama lintas sektor.

    "Dengan hilangnya sekat ini diharapkan swasembada protein hewani dapat diwujudkan dalam waktu dekat untuk mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia," kata Ronny (antaranews)

  • Panen perdana Indigofera di Tulang Bawang

    Panen perdana Indigofera di daerah Tulang Bawang, telah dilakukan pada awal bulan Mei 2016. Indigofera merupakan salah satu jenis hijauan pakan yang tengah didiseminasikan kepada masyarakat petani peternak untuk pakan ternak ruminansia. Tanaman ini telah dikembangkan sejak tahun 2008 oleh Prof. Luki Abdullah di Laboratorium Agrostologi Departemen INTP Fakultas Peternakan IPB.

    Indigofera saat ini telah diperkenalkan dan ditanam di berbagai wilayah, salah satunya adalah daerah Tulang Bawang, Lampung. Penanaman Indigofera di wilayah Tulang Bawang dilakukan atas kerja sama petani peternak dan pemerintah daerah dengan panduan tim ahli dari Laboratorium Agrostologi Departemen INTP Fakultas Peternakan IPB. Kesungguhan dalam bekerja dan mengaplikasikan ilmu membuahkan hasil yang luar biasa. Tanaman Indigofera tumbuh subur dengan percabangan yang banyak dan daun yang rimbun.

    Tanaman yang dikenal dengan nama Tarum ini telah dikaji oleh Prof. Luki Abdullah dalam berbagai aspek. Mulai dari sisi agronomi, nutrisi, pengawetan hingga agrobisnis Indigofera. Indigofera sangat potensial untuk dikembangkan karena produktivitas dan nilai nutrisinya tinggi. Dalam penelitian terakhir, berbagai produk olahan telah dikembangkan dan dapat dimanfaatkan untuk berbagi ternak, termasuk unggas , ikan maupun binatang kesayangan. Salah satu produk unggulan yang inovatif adalah konsentrat hijau. (nrk - intp.fapet.ipb.ac.id)

  • Pascasarjana Fapet IPB Siap Buka Prodi Logistik Peternakan

    Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB) bersiap untuk buka Program Studi Pascasarjana Logistik Peternakan. Pembukaan program studi ini akan bekerjasama dengan Belanda. Demikian disampaikan oleh Dekan Fakultas Peternakan IPB, Dr. Moh. Yamin saat membuka acara “Workshop Logistik Peternakan untuk Ketahanan Pangan Indonesia”. Acara digelar di Fapet Kampus IPB Darmaga, Senin (14/3).
     
    Menurut dekan, Program Studi Logistik Peternakan sangat diperlukan di masyarakat. Dengan hadirnya program studi baru ini, terangnya, Fapet IPB bisa berkontribusi dalam riset-riset yang perlu dikembangkan.
     
    Workshop ini menghadirkan para peserta dari berbagai unsur, yakni akademisi, bisnis, pemerintah dan komunitas yang tergabung dalam Forum Logistik Peternak Indonesia (FLPI) yang diketuai oleh Prof. Dr. Luki Abdullah. Kegiatan workshop dirangkai dengan launching website dan newsletter FLPI.  
     
    Ketua FLPI, Prof. Luki Abdullah mengatakan forum ini akan menjadi wadah menjalin kerjasama antara pemerintah, bisnis dan komunitas peternak dalam bidang logistik peternakan. Ia juga menambahkan, forum ini dapat membantu perbaikan keamanan dan keselamatan produk peternakan, mengupayakan cara untuk meningkatkan efisiensi nilai produk juga dapat memberikan rekomendasi kebijakan pada pemerintah terkait logistik peternakan terutama unggas dan ruminansia.
     
    Terkait logistik peternakan, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Kementerian Pertanian RI, Ir. Fini Murfiani, MSi menyampaikan tahun ini pemerintah telah memiliki kapal khusus pengangkut sapi yang sesuai dengan animal welfare. Hal tersebut dimaksudkan untuk mendukung program pemenuhan pangan asal ternak, memperlancar pengangkutan dan distribusi ternak secara cepat.
     
    Dalam workshop juga disampaikan terkait fakta logistik pakan ternak Indonesia oleh Ketua Umum Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia yang juga Guru Besar IPB, Prof.Dr. Nahrowi. (dh - news.ipb.ac.id)
     

    Kontak: Prof Luki Abdullah, No HP 0812.1107.022 

  • Pelatihan Analisis SWOT Fapet IPB

    Setelah sukses melaksanakan pelatihan pelatihan ISO 9001:2015 dalam rangka mewujudkan pelayanan akademik berkulitas tinggi yang berstandar internasional, Fakultas Peternakan IPB melanjutkan sesi pelatihan ISO, pada hari Senin, 7 November 2016. Adapun tema Kegiatan pelatihan kali ini adalah analisis SWOT tentang pelayanan akademik dalam rangka penyusunan dokumen ISO 9001:2015. Trainer yang diundang kali ini adalah Ir. M. Agus Setiana, MS, salah satu trainer yang sering melakukan pelatihan di tingkat nasional. Training diikuti oleh dihadiri oleh Staf pengajar dari Departemen IPTP dan INTP dan tenaga kependidikan dari fakultas dan departemen. Pelatihan diadakan di ruang sidang Fakultas Peternakan, dimulai pada pukul 09:00, dengan dibuka oleh Wakil Dekan Fakultas Peternakan IPB.

    Kegiatan pelatihan ini diadakan mendapatkan pengetahuan cara menganalisis strategi dengan cara memfokuskan perhatian pada kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities) dan ancaman (threats) yang merupakan hal yang kritis bagi keberhasilan Fapet IPB. Perlunya identifikasi peluang dan ancaman yang dihadapi serta kekutan dan kelemahan yang dimiliki organisasi melalui telaah terhadap lingkungan dan potensi sumber daya Fapet IPB dalam menetapkan sasaran dan merumuskan strategi organisasi yang realistis dalam mewujudkan misi dan visinya.

  • Pelatihan Editor dan Reviewer Media Peternakan

     

    Kegiatan Pelatihan Editor dan Reviewer Media Peternakan dilaksanakan di Fakultas Peternakan IPB pada 9 – 10 Februari 2017. Kegiatan ini dilakukan oleh Fakultas Peternakan bersama Animal Logistics Indonesia Netherlands (ALIN) dan Media Peternakan. Kegiatan ini diikuti oleh para editor dan reviewer Media Peternakan yang ada di Indonesia. Materi diberikan oleh Prof. Jong Kyu HA (Chief Editor Asian-Australian Journal of Animal Sciences, AJAS), Dr. Simon Oosting (Editorial Board, Animal Journal), Dr. Roel Bosma (Wageningen University of Research, Belanda), dan Dr. Lorna Calumpang (Konsorsium MSM). Saat ini Media Peternakan merupakan salah satu Jurnal Internasional dari Indonesia yang sudah ter-index SCOPUS. Melalui training ini, Media Peternakan berharap agar kualitas Jurnal dapat terus meningkat dan dikenal secara global.

  • Pelatihan Formulasi Ransum untuk Pakan Ternak

    Himpunan Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak (HIMASITER) Institut Pertanian Bogor (IPB) mengadakan ‘Pelatihan Formulasi Ransum untuk Pakan Ternak’ (16-17/9). Kegiatan ini diikuti oleh 50 orang peserta yang berasal dari perwakilan Kementerian Pertanian, para peternak dari berbagai daerah di Indonesia, dan formulator dari PT Ultra Peternakan Bandung Selatan (UPBS) Pangalengan.

    Guru Besar Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP) Fakultas Peternakan (Fapet) IPB, Prof. Dr. Nahrowi sebagai salah satu pemateri dalam Feed Formulation Training mengatakan bahwa pelatihan ini sangat penting, khususnya bagi industri pakan ternak di Indonesia.

  • Pelatihan Penulisan Jurnal Ilmiah

     

    Fakultas Peternakan IPB bersama Animal Logistics Indonesia Netherlands (ALIN) IPB menggelar kegiatan Pelatihan Penulisan Jurnal Ilmiah, pada tanggal 6-10 Februari 2017. Kegiatan yang dilaksanakan di ruang sidang Fakultas Peternakan IPB ini dibuka oleh Dekan Fapet IPB. Hadir sebagai narasumber pada training ini adalah Dr. Roel Bosma (Wageningen University of Research, Belanda), Dr. Simon Oosting (Wageningen University of Research, Belanda), dan Dr. Lorna Calumpang (Konsorsium MSM).

    Training penulisan jurnal ilmiah ini diikuti oleh Peserta sebanyak 25 orang terdiri dari Staf Dosen dan mahasiswa Pascasarjana Fakultas Peternakan. Para peserta mengikuti kegiatan dengan antusias untuk meningkatkan kapasitasnya dalam penulisan jurnal skala internasional. dengan adanya kegiatan ini diharapkan kualitas tulisan yang dimuat dalam jurnal ilmiah akan semakin baik dan berguna untuk masyarakat.

     

  • Peneliti IPB : Pengangkutan Ayam Menggunakan Truk Terbuka Pengaruhi Kualitas Daging

    Daging ayam broiler merupakan jenis daging yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Pengangkutan ayam broiler biasanya hanya menggunakan keranjang terbuka yang disiram dengan air untuk mengurangi stres panas yang dialami oleh ayam selama pengangkutan. Kesejahteraan ternak dan pencemaran lingkungan yang ditimbulkan sangat minim diperhatikan. Oleh karena itu, tiga orang peneliti yaitu Ahmad Yani,  Pratama dan R. Afnan dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP) Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan riset tentang pengaruh perbedaaan transportasi sistem M-CLOVE dengan konvensional terhadap fisiologis ayam broiler.

    Ahmad Yani mengatakan, M-CLOVE merupakan alat angkut ayam dengan sistem transportasi tertutup yang didesain dapat mengantisipasi keadaan yang terjadi saat transportasi, seperti cuaca panas dan dingin. Ketika cuaca panas, kipas akan mengatur kondisi suhu dalam box sehingga panas dapat dikurangi. Modelnya mengadopsi seperti model box, mobil konvensional yang dimodifikasi. Mobil yang digunakan jenis pick up atau sejenisnya.

    Kotak penutup utama dibuat dari bahan papan triplek kayu dengan dimensi 1,35 m x 2,95 m x 1,75 m, memiliki volume tampung 1,30 m x 1,85 m x 1,70 m. Pada bagian atas depan, ukuran penutup dilebihkan ke depan untuk memberikan celah bagi cerobong angin. Akses bongkar muat keranjang ayam terdapat pada bagian samping. Bagian dalam M-CLOVE merupakan tempat utama untuk meletakkan keranjang ayam. Pada bagian ini lokasi penempatan keranjang dibuat menjadi tiga tingkatan. Tingkat pertama dan kedua merupakan tempat pengangkutan ayam yang berisi masing-masing satu buah keranjang ayam. Tingkat terbawah ditempatkan kotak reaktor yang berisi bahan organik sekam padi yang berfungsi menyerap bau dari kotoran ayam. Terdapat ventilasi pada bagian samping dan belakang M- CLOVE sebagai sumber sirkulasi udara. Sementara, pengangkutan ayam konvensional menggunakan keranjang ayam konvensional yang disusun pada mobil pengangkut jenis pick up atau truk. Pengangkutan ini tidak dapat melindungi ayam dari panas maupun hujan, sehingga dapat membuat cekaman stres pada ayam meningkat. Keranjang ayam konvensional berukuran 95 cm x 50 cm x 25 cm.

    Peneliti menggunakan ayam broiler siap panen berumur 30 hari berjumlah 10 ekor jantan dan 10 ekor betina. Masing-masing keranjang diisi ayam broiler sebanyak 5 ekor jantan dan 5 ekor betina. "Pengangkutan dilakukan dengan lama waktu satu jam perjalanan, dan kecepatan kendaraan stabil 40 kilometer per jam," ujarnya. Proses pengangkutan dilakukan kembali pada ayam broiler umur 35 dan 40 hari. Dari percobaannya peneliti ini menjelaskan bahwa rataan suhu dan kelembaban relatif selama proses transportasi pada M- CLOVE lebih rendah dibanding dengan keranjang konvensional. Perbedaan suhu yang terjadi sebesar 1,40C dengan perbedaan kelembaban relatif 2,5 persen. Perbedaan tersebut dikarenakan M-CLOVE memiliki desain tertutup sehingga terlindung dari paparan sinar matahari langsung dan memiliki sirkulasi dengan kipas yang dapat menjaga suhu dan kelembaban relatif konstan.

    Alat angkut keranjang konvensional tidak memiliki perlindungan sama sekali terhadap paparan sinar matahari langsung, sehingga tubuh ayam broiler terpapar panas langsung dari sinar matahari yang akan meningkatkan suhu tubuh ayam broiler. "Pengangkutan menggunakan M-CLOVE dapat mengurangi tingkat stres ayam broiler dilihat dari suhu jengger, shank (kaki bagian bawah), dan rektal yang lebih rendah dibandingkan dengan ayam broiler yang diangkut menggunakan keranjang konvensional. Pelepasan panas lebih tinggi pada bagian shank dibandingkan pada bagian jengger ayam broiler," ujarnya. (bogor.tribunnews.com)





  • Peneliti IPB :Diberi Pelepah Sawit Begini Respon Fisiologi Sapi FH

    Ketersediaan sumber pakan menjadi salah satu kendala yang menghambat pengembangan produksi sapi perah di Indonesia. Berbagai upaya dilakukan, seperti peningkatan penggunaan lahan hijauan dengan sistem bertingkat, pemanfaatan limbah pertanian sebagai sumber hijauan, dan penyediaan pakan alternatif lain. Hasil samping atau limbah dari kelapa sawit berpotensi menjadi sumber pakan alternatif untuk mengembangkan usaha peternakan.

    Tim peneliti yang terdiri dari Afton Atabany dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (Fapet IPB), A. Ghiardien dari Program Studi Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Sekolah Pascasajana IPB beserta, B. P. Purwanto dari Program Diploma IPB meneliti respon fisiologi sapi Friesian Holstein (FH) laktasi dengan substitusi pakan pelepah sawit dengan jumlah yang berbeda.

    “Pemanfaatan limbah perkebunan sawit menjadi sangat potensial menjadi salah satu alternatif penyedia sumber pakan untuk ternak perah di Indonesia,” tutur Afton.

    Tim ini melakukan percobaannya dengan menggunakan sapi FH laktasi pertama bulan kelima sebanyak empat ekor ternak berumur 24-36 bulan yang berada di Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Balai Pembibitan Peternakan, Kabupaten Kampar Provinsi Riau. Sapi tersebut dipelihara dan diberikan pakan hijauan rumput raja (RR) dan daun pelepah sawit (DPS).  

  • Peneliti IPB Atasi Stres Ayam Broiler dengan Kombinasi Vitamin dan Mineral

    Ayam broiler merupakan jenis ras unggulan yang dihasilkan dari persilangan bangsa-bangsa yang memiliki produktivitas tinggi. Ayam broiler memiliki karakteristik ekonomi dan pertumbuhan

    yang cepat sebagai penghasil daging, konversi ransum rendah, dapat dipotong pada umur muda, dan menghasilkan kualitas daging yang berserat lunak. Kesejahteraan broiler dipengaruhi oleh beberapa faktor internal dan eksternal seperti manajemen pemeliharaan, stres, gizi, kepadatan kandang, ventilasi, intensitas cahaya, dan penyebaran penyakit. Kepadatan kandang juga dapat mempengaruhi kualitas karkas dan konsumsi pakan.

    Stres berupa panas menyebabkan ayam rentan terserang infeksi penyakit yang berasal dari bakteri seperti Escherichia coli dan virus seperti Newcastle disease (ND), yang memberikan pengaruh negatif terhadap produktivitas dan kesehatan yang dapat menimbulkan kematian dan kerugian ekonomis. Upaya mengatasi cekaman panas itu salah satunya adalah dengan penambahan  mineral zinc (Zn) dan vitamin E.

    Dua orang pakar dari Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB), yaitu Rita Mutia dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan dan Asep Gunawan dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, melakukan penelitian pada broiler untuk mengetahui pengaruh penambahan mineral Zn dan vitamin E pada lingkungan tropis. Penelitian dilakukan pada bulan Maret sampai dengan Oktober 2015 di Laboratorium Lapang (Kandang C) Fapet IPB.

    Penelitian ini dilakukan terhadap 400 ayam broiler yang dibagi ke dalam kandang A sebagai kontrol dan kandang B sebagai perlakuan suhu tropis. Selama 35 hari pemeliharaan, ayam broiler dikondisikan dalam temperatur natural yang fluktuatif sepanjang hari, yakni relatif dingin pada dinihari, cenderung dingin-medium pada pagi hari, relatif panas pada siang hari dan cenderung panas-medium pada sore atau malam hari. Dengan demikian, cekaman panas dialami oleh ayam broiler pada siang hari terutama pada selang waktu pukul 12 siang yang merupakan waktu intensitas matahari paling tinggi dan pukul 14 siang yang merupakan waktu dengan intensitas radiasi gelombang panjang matahari paling tinggi.

    Berdasarkan percobaan tersebut suplementasi vitamin E dan mineral Zn pada ransum ayam broiler terbukti efektif dalam menurunkan stres akibat cekaman panas dari suhu lingkungan. Hal tersebut dibuktikan dengan pemberian vitamin E sebanyak 125 ppm dan mineral Zn 80 ppm mampu meningkatkan bobot akhir dan efisiensi pakan. Efisiensi pakan artinya konsumsi pakan turun, tetapi bobot badannya meningkat dari ayam broiler tersebut. Selain itu, pemberian mineral Zn sebanyak 80 ppm juga mampu menurunkan nilai Malondial dehid (MDA) yaitu produk peroksidasi lemak pada serum darah. Hal tersebut menunjukkan adanya aktivitas antioksidan dari vitamin E dan mineral Zn. Adanya aktivitas antioksidan dalam tubuh memberikan efek yang baik bagi kesehatan ternak dilihat dari profil darahnya yang normal.(ipb.ac.id)

  • Peneliti IPB Berikan Air Es pada Ternak Puyuh untuk Hindari Stres

    Tim peneliti dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (IPB) yang beranggotakan Prof. Dr. Ir. Iman Rahayu HS, MS, Prof. Ir Sumiati, M.Sc, Andoni Reza Nugroho, dan Jonatan Senja melakukan penelitian untuk melihat pengaruh pemberian air minum dengan suhu rendah terhadap tingkat stres pada puyuh. Indikator yang diteliti antara lain produktivitas, kualitas telur, dan profil darah puyuh.

    “Kebutuhan protein hewani ini semakin waktu akan semakin meningkat. Salah satu ternak yang berkontribusi sebagai sumber protein adalah puyuh. Selain dagingnya, puyuh ini juga dimanfaatkan telurnya dan produktivitasnya juga cukup tinggi,” ujar Prof. Iman Rahayu.

    Burung puyuh dapat bertelur sebanyak 200-300 butir per tahun. Produksi telur yang optimum ditentukan oleh tiga faktor, yaitu breeding (pembiakan), feeding(pemberian pakan), dan manajemennya.

    Prof. Iman mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara tropis dengan suhu lingkungan yang cukup tinggi (rata-rata 27.2 °C dengan variasi suhunya berkisar 19.9-35.7 °C) dan kelembaban relatifnya berkisar 50%-91%. Sementara puyuh membutuhkan suhu antara 21-24 °C untuk dapat bereproduksi secara maksimal. Oleh karena itu, puyuh di Indonesia akan mudah terkena cekaman panas yang dapat menyebabkan stres dan juga berpengaruh pada produktivitasnya.

    “Karena puyuh akan banyak minum jika suhu lingkungan tinggi, kami mencoba meneliti pengaruh pemberian minuman dingin atau suhu rendah sebagai salah satu cara alternatif untuk mencegah stres pada puyuh yang disebabkan oleh cekaman panas tersebut,” kata Prof. Iman Rahayu.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tambahan es sebanyak 75% dari volume air minum puyuh (suhu 4°C) memiliki pengaruh yang positif terhadap bobot telur dan persentase putih telur yang dihasilkan. Pemberian tambahan es sebanyak 50% (suhu 8°C) dan 75% dari volume air minum dapat menurunkan stres panas pada puyuh yang mengalami cekaman panas. Selain itu, puyuh yang diberikan air minum dengan tambahan es cenderung lebih toleran terhadap suhu lingkungan yang tinggi (ipb.ac.id)

  • Peneliti IPB Gunakan Bakteri dari Dangke untuk Produksi Susu Fermentasi

    Dangke adalah produk olahan susu tradisional sejenis keju tanpa pemeraman yang dibuat turun temurun oleh masyarakat di Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan. Proses produksi keju dapat menghasilkan whey yang merupakan produk sampingan (by-product) dari pembuatan keju/dangke. Whey adalah cairan sisa yang dihasilkan setelah pemisahan curd (gumpalan keju) dari proses pembuatan keju. Sebanyak 80 – 90 persen dari volume susu adalah whey dan mengandung sekitar 55 persen dari total nutrisi susu. Whey tersebut belum banyak dimanfaatkan dan seringkali dibuang sebagai limbah, sehingga berpotensi tinggi menyebabkan pencemaran lingkungan.

    Pengembangan pengelolaan whey yang mudah dan murah dalam memanfaatkan sifat gizi dari whey sangat diperlukan sehingga dapat meningkatkan nilai ekonomi whey dan dapat memberi daya tarik bagi industri pengolahan susu

    Oleh karena itu, tiga peneliti dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (Fapet IPB), Epi Taufik, Irma Isnafia Arief dan Setiawan Putra Syah mencoba untuk mengembangkan produk minuman whey fermentasi dengan memanfaatkan bakteri asal dangke.

    “Dangke secara alami mengandung bakteri asam laktat indigenus (BAL indigenus). Isolasi BAL indigenus dari dangke dilakukan untuk mendapatkan kultur BAL yang dapat digunakan sebagai starter (kultur mikroba) untuk pembuatan minuman whey fermentasi. Pada penelitian ini, isolasi BAL indigenus asal dangke telah dilakukan dan telah dikarakterisasi secara molekuler,” tutur Setiawan.

  • Peneliti IPB Gunakan Enzim untuk Kurangi Limbah Gas Amonia dalam Peternakan Ayam

    Kandungan nitrogen yang tinggi dalam kotoran ayam menunjukan kurang sempurnanya proses pencernaan atau protein yang berlebihan dalam pakan ternak. Guru Besar dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Sumiati menjelaskan tidak semua protein yang dikonsumsi ayam dapat diserap dan dimanfaatkan oleh tubuh. Sebagian akan dikeluarkan melalui manur atau kotoran ayam dalam bentuk amonia. Nitrogen yang berlebih menjadi penanda adanya kontaminasi yang serius terhadap lingkungan, karena nitrogen yang berlebih akan menghasilkan amonia yang bersifat racun.

    “Untuk mengurangi pengeluaran N (sumber amonia) dapat dilakukan dengan penambahan enzym mannanase. Penambahan enzim mannanase dalam ransum ayam petelur berprotein rendah (mengandung bungkil inti sawit) ini bertujuan untuk penurunan kadar ammonia dan bakteri Eschericia coli (salah satu bakteri pathogen)” tuturnya.

    Enzim mannanase diperlukan untuk memecah polisakarida mannan yang terkandung dalam bungkil inti sawit menjadi oligosakarida mannan. Oligosakarida mannan ini sangat berguna sebagai prebiotik atau makanan bagi bakteri Lactobacillus sp. (bakteri baik), sebaliknya bisa menghambat pertumbuhan bakteri jahat (pathogen).