News

  • Fapet IPB Menggelar ISAI ke-3

    rof. Bastian Kemp., Department of Animal Science, Wageningen University - See more at: http://isai.fapet.ipb.ac.id/Seminar/invited-speakers#sthash.T3Ax2pzp.dpuf

    Fakultas Peternakan IPB kembali menggelar International Seminar on Animal Industry (ISAI). Acara ilmiah yang ditempatkan di IPB International Convention center Bogor ini bertema “Sustainable Animal Production for Better Human Walfare and Environment”. Seminar yang digelar selama dua hari dari tanggal 17 – 18 September ini mendatangkan pembicara dari sejumlah negara, Diantaranya Prof Wayne Pitchford dari University of Adelaide, Prof. Bastian Kemp dari Wageningen University, dan lain lain.

    ISAI adalah forum khusus yang dapat digunakan sebagai ajang pertukaran informasi, pembahasan masalah produksi ternak dan kesempatan untuk menyajikan presentasi ilmiah dan teknis dalam ilmu peternakan. Seminar ini akan menyediakan sarana untuk memperkuat kerjasama antara ilmuwan internasional dan lembaga-lembaga terkait .

    ISAI merupakan pertemuan tiga tahunan yang diselenggarakan oleh Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. ISAI pertama diselenggarakan di Bogor pada tahun 2009, seminar kedua diselenggarakan di Jakarta 2012.

  • Fapet IPB Turut Pelopori Berdirinya Asosiasi Dewan Editor Indonesia

    Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB) turut mempelopori berdirinya organisasi Asosiasi Dewan Editor Indonesia (ADEI). Acara launching Kongres Asosiasi Dewan Editor Indonesia I (ADEI) dilaksanakan di Balai Penelitian Ternak, Bogor (26/1). Peresmian dilakukan oleh Direktur Pengelolaan Kekayaan Intelektual Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) RI, Prof.Sanjuga.

    ADEI akan menjadi perwakilan resmi Council of Asian Science Editors (CASE) di Indonesia dalam mengelola jurnal dan manuskrip. CASE merupakan asosiasi dewan editor jurnal tingkat regional Asia yang berpusat di Korea Selatan, bertujuan meningkatkan kualitas jurnal yang diterbitkan di Asia untuk berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan kesejahteraan manusia.

    ADEI adalah organisasi non-pemerintah, non-partisan dan non-profit. Sebagai wadah berkumpulnya para dewan editor jurnal ilmiah nasional di Indonesia. Organisasi ini memiliki visi untuk menjadi organisasi yang berkontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni di Indonesia. Organisasi ini memiliki misi untuk meningkatkan kualitas dan keterbacaan jurnal Indonesia, serta mempromosikan ke tingkat internasional.

    Ketua ADEI yang juga Guru Besar Fapet IPB, Prof. Dr. Komang G Wiryawan, menyampaikan terbentuknya ADEI diharapkan dapat mewadahi kerja sama, komunikasi dan informasi antar anggota maupun organisasi profesi lain pada tingkat nasional, regional dan internasional. Selain itu diharapkan dapat meningkatkan kualitas jurnal ilmiah Indonesia dengan berbagi informasi dan konsultasi tentang editing dan publikasi; melakukan pembinaan guna menjaga kualitas jurnal ilmiah di Indonesia; mengupayakan keterbacaan jurnal Indonesia di tingkat nasional, regional dan internasional.

    “ADEI akan menjadi tuan rumah untuk kegiatan The 5th Asian Science Editor Conference and Workshop bekerja sama dengan Asia Pacific Association of Medical Journal Editors (APAME) pada tanggal 18-19 Juli 2018. Akan dihadiri oleh sekira 250 peserta dari Dewan Editor di Asia Pasifik. Kami berharap ADEI dapat menjadi mitra pemerintah dan ke depan hasil kongres dapat menjadi pondasi yang baik,” ujar Prof Komang.

    Peserta kongres merupakan perwakilan editor di bawah naungan perguruan tinggi, himpunan dan asosiasi profesi, badan litbang pertanian, badan litbang kesehatan, dan LIPI yang berasal dari berbagai bidang ilmu, antara lain kesehatan, pertanian, teknik, bahasa, seni, budaya dan lain-lain yang jumlahnya 60 jurnal baik dari Jawa maupun luar Jawa.

    Wakil Rektor Bidang Sumberdaya dan Kajian Strategis IPB, Prof. Dr. Hermanto Siregar menyampaikan dukungan IPB terhadap organisasi ini. Sementara, Kepala Pusat Litbang Peternakan (Puslitbangnak), Dr. Atien Priyanti Sudarjo Putri menyambut gembira adanya ADEI. “Sebagai peneliti, saya bergembira dan sangat bangga, kantor Puslitbangnak akan tercatat dalam sejarah sebagai tempat kongres pertama ADEI,” ujarnya.(ipb.ac.id)

  • Festival Ayam Pelung Nusantara 2018

    Himpunan Profesi Mahasiswa Fakultas Peternakan menyelenggarakan kegiatan Festival Ayam Pelung Nusantara (FAPN). Kegiatan berlangsung di Gedung Jannes Humuntal Hutasoit, Fakultas Peternakan (Fapet), Institut Pertanian Bogor pada 15-16 September 2018.

    Dekan Fapet Dr Ir Mohamad Yamin MAgrSc menyambut dan mengapresiasi baik kegiatan ini. Dalam sambutannya, Yamin menyebutkan bahwa ayam Pelung memang perlu dilestarikan. Hal ini mengingat bahwa ayam Pelung merupakan sumber daya genetik (SDG) lokal yang tidak dipunyai oleh negara lain di dunia.

    “Acara ini diharapkan dapat memenuhi kriteria dari 3 learning outcome, yakni pengetahuan, skill dan sikap yang aplikasinya ke arah pemeliharaan dan pengembangannya,” tuturnya.

    Lebih lanjut, Yamin mengemukakan ayam Pelung dapat dijadikan sebagai bibit unggul, lalu digunakan tidak hanya untuk suaranya saja yang merdu, namun juga diharapkan dari produksi dagingnya. Sehingga arah pengembangan ayam pelung ke depan dapat disesuaikan dengan standar pemeliharaan yang sama dengan ayam ras saat ini.

    “Semoga di masa mendatang kegiatan Himpunan Profesi Mahasiswa ke depannya tidak hanya fokus pada ayam Pelung saja, akan tetapi juga SDG ternak Indonesia lainnya juga harus diperhatikan seperti ayam Ketawa, Merawang dan ayam kokok Balenggek,” tandasnya.

    Kegiatan FAPN 2018 ini dihadiri oleh Wakil Dekan Bidang Sumberdaya Kerjasama dan Pengembangan yang juga Dosen Dasar Produksi Unggas, Dr. Rudi Afnan SPt, MScAgr dan Pembina Kemahasiswaan Fapet, Dr. Sigit Prabowo SPt, MSc. Panitia Pelaksana menghadirkan Prof. Iman Rahayu, Guru Besar Perunggasan Fapet sebagai pembicara utama dan Cece Suherman dari Himpunan Peternak dan Penggemar Ayam Pelung Nusantara sebagai pembicara sekaligus sebagai koordinator penjurian FAPN 2018.

    Ketua Panitia Pelaksana, Berry Sipayung mengatakan kegiatan ini bertujuan memberikan wawasan sebagai acuan dan pengembangan ayam Pelung yang berkualitas, baik dari suara, bobot badan dan performa lainnya untuk dilestarikan sebagai plasma nutfah Indonesia. Ayo lestarikan ayam Indonesia bersama irama Pelung nusantara! (majalahinfovet.com)

  • FLPI GELAR PELATIHAN MANAJEMEN LOGISTIK PAKAN

    Forum Logistik dan Peternakan Indonesia (FLPI) bekerjasama dengan PT Charoen Pokphand Indonesia, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI) menyelenggarakan pelatihan Manajemen Logistik Pakan, yang didukung Direktorat Pakan, Kementerian Pertanian.

    Pelatihan diselenggarakan di Ruang Sidang Fakultas Peternakan IPB Dramaga Bogor, 26-27 Maret 2019. Kegiatan dihadiri Ketua FLPI Prof Luki Abdullah, Ketua AINI Prof Nahrowi Ramli dan Wakil Dekan Bidang Sumberdaya, Kerjasama dan Pengembangan Fakultas Peternakan IPB Dr Rudi Afnan.

    Rudi Afnan, dalam sambutannya memberi apresiasi FLPI yang terus mengedukasi insan peternakan. Kali ini FLPI menyasar insan peternakan soal pakan unggas. “Kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan untuk berbagi informasi,” katanya.

    Pelatihan menghadirkan tiga narasumber, yakni Kasubdit Bahan Pakan Direktorat Pakan Diner YE Saragih, perwakilan PT Charoen Pokphand Indonesia Istiadi dan dari Laboratorium Industri Pakan, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan IPB Dr Heri Ahmad Sukria.

    Pelatihan diikuti oleh peternak, praktisi dan akademisi terkait pakan ternak, khususnya ternak unggas. Diakhir kegiatan, panitia mengajak peserta mengunjungi PT Charoen Pokphand Indonesia, di Balaraja, Tenggerang, Banten. Kunjungan bertujuan untuk memberi informasi nyata kepada peserta mengenai manajemen logistik pakan, penyimpanan dan pergudangannya. (majalahinfovet.com)

  • FLPI: Tingkatkan Kesejahteraan Ternak Saat Proses Transportasi

    Transportasi ternak merupakan kunci utama dalam mendistribusikan hal terkait dengan produk peternakan. Kegiatan mendistribusikan ternak dalam kondisi hidup ini memerlukan teknik-teknik khusus, hal ini bertujuan agar ternak yang ditransportasikan merasa nyaman dan aman selama dalam perjalanan. Merujuk pada pentingnya memperhatikan proses transportasi ternak, Forum Logistik dan Peternakan Indonesia (FLPI) menyelenggarakan workshop bertajuk “Meningkatkan Kesejahteraan Hewan pada Transportasi Ternak di Indonesia”, yang diselenggarakan di Ruang Sidang Fakultas Peternakan (Fapet), Institut Pertanian Bogor (IPB), Jumat (12/10).

    Kegiatan ini dihadiri Deny Kusdyana perwakilan Kementerian Perhubungan, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Ahmad Wiroi dari Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Drh Afriani dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian. Workshop kali ini menghadirkan empat narasumber, diantaranya Edy Wijayanto (PT Sapibagus), Tri Nugrahwanto (PT Tanjung Unggul Mandiri), Soedarno (Logistics Foods PT Sierad Produce Tbk) dan Dr Ross Ainsworth (Australian Veterinary). Acara dimoderatori oleh Dr Rudi Afnan, Wakil Dekan Bidang Sumberdaya Kerjasama dan Pengembangan Fapet IPB.

    Dekan Fapet IPB, Dr Ir Mohamad Yamin, dalam sambutannya menegaskan, FLPI merupakan wadah baru yang memfasilitasi hal terkait dengan logistik peternakan di Indonesia.

    “Keberadaan FLPI dipandang sangat perlu karena fungsinya dapat memberikan masukkan mengenai cara mentransportasikan ternak dari satu tempat ke tempat lain. Transportasi tidak hanya terkait memasukkan ternak ke media angkut, namun lebih intens lagi adalah perlakuan yang perlu diberikan atau yang diterima ternak selama dalam perjalanan hingga sampai tujuan,” ujar Dr Yamin. 

    Sementara itu, Prof Dr Ir Luki Abdullah, Chairman FLPI, turut menyampaikan, sejak didirikan tiga tahun lalu, FLPI telah memberikan warna baru dalam ranah logistik peternakan yang menghasilkan produk pangan Indonesia.

    “FLPI telah mengakomodasi dan merekomendasi berbagai hal yang berhubungan dengan logistik peternakan itu sendiri kepada pemangku kepentingan, sehingga sampai saat ini FLPI telah berkontribusi nyata dan bermanfaat bagi kemajuan logistik peternakan di Indonesia,” kata Prof Luki.

    Acara yang didukung oleh IPB, Animal Logistics (ALIN), Nuffic MSM, Wageningen UR dan Aeres Groep, mendapat perhatian khusus dari perwakilan Kementerian Perhubungan.

    “Banyak hal menarik yang perlu diungkap dan dijadikan bahan agar ranah transportasi ternak ke depannya lebih baik, misal perlu adanya regulasi khusus yang mengatur tata-cara mentransportasikan ternak itu sendiri,” kata Deny Kusdyana.

    Sedangkan dikatakan Dr Ross dalam paparannya, bahwa kesejahteraan ternak selama ditransportasikan berkorelasi positif dengan keuntungan yang diterima oleh para pelaku usaha. Ini artinya jika ternak sejahtera selama proses transportasi, maka keuntungan yang diperoleh pun akan meningkat.(majalahinfovet.com)

  • Gerakan Protein Sehat 2017

    Pembukaan Gerakan Protein Sehat (GPS) 2017 telah dilakukan di Yayasan RA dan MI Yapemas di Desa Situ Udik, Cibungbulang, Bogor pada hari Minggu,  7 Mei 2017. Acara pembukaan  diawali dengan pembukaan dari panitia GPS 2017, sambutan dari Dekan Fakultas Peternakan yang diwakili oleh Iyep Komala, S.Pt., M.Si., sambutan dari Bpk.Agus Thoriqin selaku ketua RW, dan sambutan dari Sekretaris Desa Situ Udik.

    Acara kemudian dilanjutkan dengan senam bersama yang diikuti oleh Warga Desa Situ Udik, siswa yayasan Yapemas, panitia GPS 2017. Lalu dilanjutkan dengan pembagian susu dan telur gratis untuk seluruh warga Desa Situ Udik dan siswa Yayasan Yapemas. Rangkaian acara selanjutnya adalah lomba mewarnai untuk siswa RA, menggambar untuk siswa MI Yapemas kelas 1,2 dan 3, menonton film untuk siswa kelas 4,5, dan 6, dan demo membuat kerupuk susu untuk para warga desa. Acara ditutup dengan pengumuman pemenang lomba dan pemberian hadiah kepada pemenang.

    Gerakan Protein Sehat adalah mega program kerja dari fakultas peternakan yang melibatkan 3 organisasi kemahasiswaan di  FAPET IPB, yaitu BEM, HIMAPROTER, dan HIMASITER. Kegiatan ini merupakan yang pertama di Fakultas Peternakan. Dengan adanya gerakan ini, diharapkan masyarakat dapat lebih memahami pentingnya protein sehat bagi tubuh manusia.

  • Green Souvenir, Uniknya Tanaman Herbal Besutan Mahasiswa IPB University

    Indonesia merupakan negara yang kaya dengan keanekaragaman hayati, salah satunya tanaman herbal. Tanaman herbal yang memiliki kegunaan dan nilai lebih, sering digunakan sebagai pengobatan alternatif. Namun, saat ini masyarakat Indonesia semakin kurang mengenal manfaat dan khasiat dari tanaman herbal. Guna mengatasi permasalahan tersebut, lima mahasiswa IPB University membuat sebuah green souvenir berupa benih tanaman herbal dengan tujuan untuk meningkatkan kembali eksistensi dari tanaman tersebut.

    Lima mahasiswa tersebut adalah Deo Prastyo, Tri Widya Putri, Ainur Rahmah, Yoga Dwi Syahputra, dan Muhammad Surya Fadhlurrohman. Produk green souvenir berupa bola-bola benih tanaman herbal yang dibuat oleh tim tersebut digagaskan dalam Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) dengan judul “SEBAP (Seed Bombs Herbal Plants): Inovasi Green Souvenir Berbasis Benih Praktis dalam Meningkatkan Eksistensi Tanaman Herbal Nusantara”. PKM-K tersebut di bawah bimbingan dosen IPB University yakni Muhammad Baihaqi, S.Pt, M.Sc.

    “Ide ini bermula dari banyaknya permasalahan lahan tandus di luar negeri dan masyarakatnya mulai menghijaukan lahan dengan membuat bola benih tanaman. Bola benih tersebut bertujuan menjaga benih agar tidak rusak atau dimakan serangga. Oleh karena itu, kami mencoba membuat bola benih tanaman berisi benih tanaman herbal untuk mengenalkan kembali tanaman herbal pada masyarakat Indonesia,” tutur Deo selaku ketua tim SEBAP ini.

    Green souvenir yang dirancang oleh Tim SEBAP ini terdiri atas beberapa jenis tanaman herbal, seperti akar kucing, kemangi wulung, mahkota dewa, sawi, okra, cabe jawa, dan sambiloto. Sasaran pembuatan green souvenir ini adalah orang tua yang memiliki anak usia 7-15 tahun serta mahasiswa. Hal tersebut ditujukan agar edukasi terkait khasiat dan manfaat tanaman herbal masyarakat Indonesia semakin meningkat.

    “Produk ini kami bandrol sebesar Rp 6 ribu - Rp 12 ribu tergantung jenis benih tanaman herbal dan kemasannya. Kami menyediakan dua kemasan, yakni gelas kaca kecil dan kain perca. Sejauh ini, kami sudah menjual produk ini di media sosial seperti line, whatsapp, dan instagram kami di @obombs.store,” tambah Deo.

    Konsumen yang membeli green souvenir tanaman herbal tersebut dapat melakukan perawatan selanjutnya. Dimulai dengan penyiraman rutin dua kali sehari hingga benih tanaman mengalami pertumbuhan. Berikutnya, benih tersebut bisa dipindahkan ke lahan dan dirawat hingga tanaman herbal siap dipanen. 

    “Harapan kami dengan adanya produk green souvenir ini dapat menginspirasi masyarakat luas untuk turut mengembangkan dan menginovasi produk semacam ini, serta dapat mendukung gerakan back to nature,” tutup Deo (ipb.ac.id)

  • Gunakan Indigofera untuk Ransum Ayam, Mahasiswa IPB University Tambahkan Enzim Ini

    Sekitar 50 Persen penyumbang protein dalam pakan unggas berasal dari bungkil kedelai yang masih bergantung pada impor. Perlu dicari bahan potensial pengganti protein bungkil kedelai. Tiga mahasiswa IPB University, Program Studi Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan yaitu Muhammad Agung Dwi Putra, Rina Sri Wulandari dan Ani Damayanti mencoba membuat ransum untuk unggas menggunakan sumber protein hijauan. 

    Kelompok Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Penelitian (PKM-PE) 2019 yang mendapat pendanaan dari Kemenristekdikti ini memanfaatkan indigofera sebagai sumber protein dalam pakan unggas. Agung selaku ketua menjelaskan bawa ada empat kriteria bahan dapat dijadikan bahan baku pakan yaitu ketersediaan, zat anti nutrisi, harga dan kemudahan pengolahan. "Kita temukan bahan baku potensial yaitu indigofera. Indigofera memenuhi keempat kriteria tersebut. Selain kadar proteinnya yang tinggi, tanaman ini sudah banyak dibudidayakan, kadar antinutrisi indigofera sangat kecil dibandingkan hijauan lain, harganya sekitar Rp 4 ribu per kilogram dan pengolahannya cukup dikeringkan. Karena itu indigofera dipilih sebagai pensubstitusi protein bungkil kedelai,” ujarnya.

    Namun pada indigofera terdapat kendala yaitu tingginya serat yang membuat sulit dicerna oleh unggas. Hal ini menjadi tantangan bagi tim yang dibimbing oleh Dr Ir Muhammad Ridla ini. Untuk mengatasi ini Agung dan tim menambahkan beberapa enzim dalam ransum untuk meningkatkan kecernaan pakannya. "Untuk meningkatkan kecernaan kita coba tambahkan tiga macam enzim pada ransum ini.  Enzimnya yaitu protease, phytase dan Non Starch Polysaccharide (NSP).  Setelah diuji coba ditemukan bahwa kecernaan ransum bungkil kedelai masih terbaik. Pada ransum berbasis indigofera tanpa penambahan enzim kecernaannya sedikit turun. Namun setelah diberikan enzim ternyata mampu meningkatkan kecernaan ransum berbasis indigofera. "Ketiga enzim ini meningkatkan kecernaan dengan nilai yang berbeda karena keefektifan tiga enzim tersebut juga berbeda. Dari ketiga enzim, NSP yang paling efektif diberikan pada ransum berbasis indigofera berdasarkan nilai kecernaannya,” tuturnya.

    Enzim yang diberikan dalam bentuk serbuk dicampurkan ke dalam ransum ayam. Umumnya bahan ransum yang tinggi serat membuat unggas makan sedikit, cepat kenyang namun kebutuhan nutrisi belum tercukupi. "Dengan adanya enzim ini ternyata mampu meningkatkan konsumsi ransum. Selain itu enzim mampu mempertahankan zat makanan dalam tubuh untuk dicerna sehingga tidak ikut terbuang menjadi kotoran,” jelasnya. Tim peneliti ini menyimpulkan bahwa indigofera dapat mensubstitusi protein dari bungkil kedelai sehingga mampu menurunkan jumlah pemakaian bungkil kedelai pada ransum. "Namun saran dari kami untuk tetap menggunakan enzim untuk meningkatkan kecernaannya, karena penggunaan enzim mampu meningkatkan efisiensi penggunaan nutrien,” tandasnya (ipb.ac.id)

  • Guru Besar Fapet IPB : Lahan marjinal dapat dijadikan lahan pengembangan tanaman pakan

    Guru besar Fakultas Peternakan IPB, Prof. Dr. Ir. Panca Dewi, menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul "Strategi Pengembangan Tanaman Pakan pada Lahan Marjinal untuk Ketahanan Pakan Nasional" (Sabtu, 24/09/2016) di Auditorium Gedung Andi Hakim Nasution. Orasi Ilmiah dihadiri oleh sekitar 400 undangan antara lain dari pimpinan lembaga peneliti, perwakilan BUMN dan pimpinan perusahaan swasta mitra IPB.

    Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Panca Dewi mengulas mengenai peran strategis hijauan pakan dalam mendukung swasembada daging nasional dan menjadi penggerak perekonomian masyarakat petani peternak. Orasi ilmiah yang disampaikan merupakan kompilasi hasil-hasil penelitian selama beberapa tahun terakhir, baik penelitian mandiri maupun penelitian bersama. Salah satu pokok bahasan utama adalah seleksi tanaman pakan tahan kekeringan, stres kemasaman dan stres salinitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa jenis tanaman pakan dapat tumbuh dengan baik pada lahan kering dan marjinal, termasuk areal bekas pertambangan.

    Pada akhir orasi ilmiahnya, Prof. Panca Dewi memberikan rekomendasi untuk revitalisasi padang penggembalaan nasional, pemanfaatan lahan pasca tambang dan program nasional dengan menggunakan tanaman toleran yang lebih produktif dan berkualitas. Prof. Panca Dewi menyampaikan bahwa dukungan pemerintah, dalam bentuk regulasi dan kebijakan sangat penting untuk mendukung usaha peternakan pada areal pasca tambang pada zona Area Penggunaan Lain.

     

     

  • Guru Besar Genetika Hewan IPB: Sapi Bali, Harta Karun Indonesia

    Sumberdaya genetik ternak merupakan aset yang paling strategis dan berharga yang dapat dimiiki oleh suatu negara. Populasi dunia diprediksi akan mencapai 9 milyar lebih pada tahun 2050, beranjak dari 6,7 milyar pada saat ini. Sehingga membutuhkan peningkatan 70 persen produksi pertanian. Diperkirakan di wilayah pedesaan yang miskin sekitar 70% kehidupan masyarakatnya tergantung pada ternak.

    “Kombinasi pertumbuhan populasi penduduk, menguatnya pendapatan dan urbanisasi akan mengakibatkan meningkatkan kebutuhan pangan dan pakan dua kali lipat pada tahun 2050. Yang paling dekat adalah dapat dipastikan menjelang puasa bulan depan akan meningkat permintaan daging tapi kita tidak bisa menutupi. Kekurangan pasokan daging sapi akan terus terjadi sampai tahun 2020,” ujar Guru Besar Genetika Ternak, Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Ronny Rachman Noor, Mrur.Sc dalam konferensi pers pra orasi di Kampus IPB Baranangsiang (19/4).

    Meningkatnya permintaan ini membuka kesempatan dan peluang yang lebih besar untuk meningkatkan kontribusi peternakan pada pertumbuhan ekonomi nasional. Riset-riset  Prof. Ronny selalu diarahkan untuk meningkatkan populasi dan produktivitas ternak lokal.

    Salah satu yang dilakukan Prof. Ronny untuk meningkatkan populasi ternak lokal adalah pengujian kemurnian Sapi Bali yang terancam kemurniannya. Prof. Ronny telah mengembangkan teknik menganalisa kariotipe, penggunaan scanning electron microscope untuk menganalisa topografi bulu dan kromosom, teknik isoelectric focusing dan DNA mikrosatelit.

    “Di museum ternak tertua Eropa yang ada di Universitas Martin Luther Jerman, anda akan lihat foto Sapi Bali yang terpampang gagah di salah satu dinding. Foto itu dibuat tahun 1827. Kita patut bangga karena sapi asli Indonesia sudah dikenal bangsa Eropa pada jamannya perang Diponegoro. Ilmuwan Eropa sudah mengidentifikasi bahwa Sapi Bali ini unik dan patut dipertimbangkan sebagai salah satu bangsa sapi unik di dunia,” terangnya.

    Menurutnya ada tujuh keajaiban pada Sapi Bali, yakni dapat bertahan pada kondisi lingkungan marjinal dengan kualitas pakan yang rendah dan memiliki persentasi karkas tertinggi (bahkan tertinggi di dunia). Sapi Bali merupakan salah satu dari sedikit bangsa sapi di dunia yang warna kaki bagian bawah dan daerah seputar pantatnya berwarna putih (gen pengatur pola warna ini hanya ada di Sapi Bali).

  • Guru Besar IPB Rancang Telur Rendah Kolesterol, Kaya Omega 3 dan 6

    Penyebab kematian tertinggi di Indonesia adalah stroke dan jantung koroner yaitu mencapai 21.1 persen dan 12.9 persen dari total 41.590 kematian. Selain itu prevalensi defisiensi vitamin A di Indonesia masih tinggi (severe subclinical) dan terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia.

    Komoditi telur dan daging unggas mempunyai peranan yang sangat penting untuk membantu mengatasi masalah ini. Namun tingkat kolesterol telur ayam, telur bebek dan telur puyuh tergolong tinggi, yang paling tinggi adalah telur puyuh. Namun tingkat keseimbangan kandungan omega 3 dan omega 6 pada telur puyuh paling baik jika dibandingkan telur ayam dan telur bebek. Demikian dikatakan Guru Besar Tetap Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Sumiati, M.Sc dalam jumpa pers pra Orasi Ilmiah di Kampus IPB Baranangsiang, Bogor (20/7).

    Pangan yang aman dikonsumsi manusia dari segi kesehatan harus mengandung asam lemak omega 3 dan omega 6 dengan rasio satu banding empat (1:4) dan satu banding sepuluh (1:10). Oleh karena itu, dalam beberapa risetnya Prof. Sumiati menciptakan beberapa desain telur dan daging unggas (ayam, itik dan puyuh) fungsional.

    Rasio berimbang satu banding empat (1:4) ini mampu menurunkan kematian akibat penyakit kardiovaskular sebesar 70 persen. Sementara rasio sebesar satu banding lima (1:5) sangat baik untuk penderita asma.

    “Riset yang telah kami lakukan dalam beberapa tahun terakhir adalah desain telur kaya omega 3, desain telur dengan rasio omega 3 dan omega 6 berimbang, desain telur rendah kolesterol, desain telur kaya vitamin A dan desain telur kaya antioksidan. Untuk daging, kami membuat desain daging unggas fungsional rendah lemak dan kolesterol, tinggi vitamin A dan asam lemak omega 3,” ujarnya.

    Prof. Sumiati melakukan rekayasa pakan pada ternak dengan memanfaatkan limbah pengolahan ikan lemuru berupa minyak ikan, minyak sawit, indigofera zollingeriana, daun katuk, lada hitam, choline chloride, ampas tahu, daun singkong, daun salam dan daun kayambang. Contohnya adalah penambahan minyak ikan lemuru 2 persen dan tepung daun singkong 11 persen dalam pakan dapat menurunkan kadar lemak daging itik.

    “Tepung daun katuk terbukti dapat meningkatkan kandungan vitamin A pada daging puyuh. Selain itu desain daging ayam kaya omega 3 dapat dilakukan dengan penggunaan minyak ikan pada ransum ayam broiler,” terangnya.(ipb.ac.id)

  • Guru Besar IPB Temukan Pakan Alternatif Pengganti Ransum Ternak dari Maggot

    Guru Besar Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Nahrowi, menemukan alternatif pakan ternak berbahan dasar maggot guna menggantikan MBM. MBM atau meat bone meal banyak digunakan untuk ransum atau bahan penyusun pakan hewan ternak seperti unggas, ikan, dan babi. Selama ini MBM 100 persen impor. Hal ini menyebabkan harga MBM mahal. Sedangkan kebutuhan Indonesia akan MBM tiap tahunnya mencapai 800 ribu ton.

    Prof. Nahrowi mengatakan, sebelumnya Indonesia memakai tepung ikan yang mengandung protein hewani untuk ransum ternak. Namun, kualitas tepung ikan yang diproduksi oleh Indonesia kurang baik.

    “Indonesia masih belum bisa memproduksi MBM, karena bahan baku untuk membuat MBM juga dikonsumsi untuk manusia, seperti daging dan tulang. MBM yang terbuat dari hewan mamalia termasuk babi juga menjadi masalah bagi para peternak muslim yang ada di Indonesia. Untuk itu, perlu adanya pakan alternatif yang bisa menggantikan MBM seperti maggot,” ujar Prof. Nahrowi.

    Maggot adalah larva dari lalat. Lalat yang digunakan sebagai penghasil maggot untuk pakan ternak ini berasal dari lalat buah yaitu jenis Black Soldier Fly (BSF). Maggot sangat cocok dijadikan pengganti MBM sebagai pakan ternak karena memiliki semua kriteria yang menjadi syarat utama bahan pakan ternak. Adapun syarat-syarat pakan ternak yaitu, komposisi nutrisi terpenuhi, harga bersaing, dan ketersediaan banyak. Ketiga syarat tersebut dapat dipenuhi oleh maggot. Produksi maggot sangat cepat, satu ekor lalat BSF dapat menghasilkan 500 maggot dalam sekali reproduksi. Pemeliharaan lalat BSF yang mudah juga menjadi nilai lebih untuk menggantikan MBM. Selain itu, faktor lain yang tidak kalah penting untuk menentukan maggot sebagai alternatif pakan pengganti adalah BSF merupakan serangga yang tidak membawa unsur penyakit dan memiliki nilai protein tinggi.

    Penelitian Prof. Nahrowi tentang maggot sudah dilakukan sejak tahun 2009. Hingga saat ini penelitiannya masih terus berlanjut sampai tahap pembuatan konsentrat protein, lemak dan kitin dari maggot. Hal ini dilakukan untuk semakin mengefisienkan dan mengoptimalkan sumber nutrisi untuk pakan ternak dari maggot. Selain maggot, sebelumnya Prof. Nahrowi juga pernah meneliti ulat Hongkong sebagai pakan alternatif, tetapi ketersediaan yang terbatas dan harga yang mahal membuat ulat Hongkong sulit untuk dikembangkan lebih luas. Ia berharap penelitian ini dapat dikembangkan lebih luas dan dapat dimanfaatkan oleh banyak orang.(ipb.ac.id)

  • Guru Besar IPB, Prof. Muladno : Saat ini Ada 30 SPR di Indonesia


    Sekolah Peternak Rakyat (SPR) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB) menggelar launching Sekretariat SPR LPPM IPB yang bertempat di Fakultas Peternakan Wing XII, Kampus IPB Dramaga, Bogor. (2/10). Sekretariat ini menjadi tempat yang memudahkan para stakeholder terkait di bidang peternakan untuk datang berkomunikasi atau interaksi membicarakan soal ternak.

    Ketua SPR LPPM IPB, Prof. Dr. Muladno dalam laporannya menyampaikan bahwa SPR didirikan pada tahun 2013 oleh LPPM IPB. Akan tetapi gagasan SPR terbentuk pada tanggal 19 September 2012 dan diterima dunia internasional tanggal 19 September 2018.

    Tujuan dibentuknya SPR adalah untuk memberi ilmu pengetahuan kepada peternak berskala kecil tentang berbagai aspek teknis peternakan dan nonteknis. SPR adalah perusahaan peternakan yang dikelola secara kolektif dalam satu manajemen (satu manajer) dalam rangka meningkatkan daya saing usahanya melalui pendampingan, pengawalan, aplikasi teknologi dan informasi, serta transfer ilmu pengetahuan untuk meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan peternak.

    “SPR mengalami perkembangan yang luar biasa di berbagai daerah. Ini merupakan hal yang menggembirakan karena peternak merasa mendapatkan perhatian besar dalam pembangunan peternakan secara nasional. Hingga saat ini SPR yang diinisiasi secara institusional oleh LPPM IPB bertambah satu lagi di Kecamatan Pelepat Ilir Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi yang bernama SPR Kuamang Abadi. Maka sekarang  SPR LPPM IPB berjumlah 30 di seluruh Indonesia,” tuturnya.

    Ia menambahkan SPR semakin menunjukkan eksistensinya di wilayah yang sudah menerapkan program ini. SPR sangat membantu petani kecil untuk mengembangkan ternaknya menjadi lebih menguntungkan.

    Prof. Muladno berharap agar semua perguruan tinggi di Indonesia yang mempunyai program studi peternakan bisa mengembangkan SPR, sehingga peternak seluruh Indonesia dapat di dampingi dosen dan mahasiswa dari perguruan tinggi terdekat tidak harus dengan IPB. Dengan demikian, perguruan tinggi setempat dapat terlibat langsung sekaligus sebagai ikon pembangunan peternakan dalam program SPR.

    “Lunching sekretariat ini menjadi media atau tempat untuk dapat berkomunikasi atau interaksi langsung dengan para peternak. Contohnya yang mempunyai masalah ternak dapat berkonsultasi dan menemukan jawaban langsung dari ahlinya,” tambahnya.

    Kepala LPPM IPB, Dr. Aji Hermawan mengatakan sangat bangga sekali dengan keberadaan SPR. Keberadaan perguruan tinggi akan menjadi bermakna kalau dapat memberikan kontribusi sebesar-besarnya kepada masyarakat. Ini adalah tugas yang diemban oleh LPPM IPB untuk mendiseminasikan inovasi dan hasil-hasil riset para peneliti dan dosen IPB untuk sampai ke masyarakat dan memberikan manfaat atau impact sebesar-besarnya kepada masyarakat.

    “Kalau diamati salah satu program yang memberikan dampak besar kepada masyarakat adalah SPR LPPM IPB. Program SPR merupakan sebuah pola bagaimana berusaha membumikan teknologi yang ada di perguruan tinggi untuk kepentingan masyarakat, sehingga dapat membangun kemandirian peternakan di daerah. Jadi SPR dapat memberikan akses yang besar bagi peternak di Indonesia seperti akses informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta penguatan kendali produksi dan pasca produksi ternak,” katanya.

    Ia menambahkan, melalui program tersebut diharapkan pengembangan SPR di Indonesia akan menjadi lebih cepat dengan konsep kerjasama berbagi peran dan tanggungjawab antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, swasta dan para peternak yang ada di daerah. SPR ke depan tidak hanya akan memberikan dampak pada level nasional tetapi akan merambah ke level internasional.

    Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Peternakan (Fapet) IPB, ProfDr. Ir. Sumiati, M.Sc sangat mendukung penuh SPR LPPM IPB ini, karena SPR sangat membantu peternak kecil yang ada di daerah-daerah untuk maju dan memberikan kesejahteraan. Prof. Sumiati berharap SPR LPPM IPB terus maju dan berkembang lebih baik dan terus berbagi kebaikan untuk peternak yang ada di Indonesia. (ipb.ac.id)

  • Guru Besar IPB: Ganti Antibiotik dengan Probiotik

    Penggunaan antibiotik pada hewan ternak dalam jangka panjang dan dengan dosis subterapik menyebabkan kekebalan bakteri patogen khususnya yang zoonotik, dan bakteri indigenous terhadap antibiotik yang digunakan. Beberapa penelitian melaporkan bahwa gen resisten antibiotik dapat ditransfer kepada bakteri patogen khususnya bakteri saluran pencernaan manusia melalui konsumsi produk ternak yang terkontaminasi bakteri, sehingga penggunaan antibiotik sejenis pada manusia tidak mampu membunuh bakteri patogen. 
     
    Di Indonesia sendiri sudah ada Undang-undang (UU) yang melarang penggunaan antibiotik, yaitu UU Peternakan dan Kesehatan Hewan No. 18 tahun 2009 pasal 22 ayat 4c yang berbunyi “Setiap orang dilarang menggunakan pakan yang dicampur hormon tertentu dan atau  antibiotik imbuhan pakan”. Namun sampai saat ini UU tersebut belum diturunkan menjadi Peraturan Pemerintah sehingga belum bisa diimplementasikan. Demikian disampaikan Prof.Dr.Ir Komang G. Wiryawan, Guru Besar Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam konferensi pers pra Orasi di Kampus IPB Baranangsiang, Bogor (22/9).
     
    “Untuk mengurangi penggunaan antibiotik maka perlu dicari alternatif imbuhan pakan yang memiliki peran yang sama dengan antibiotik, tetapi lebih ramah terhadap kesejahteraan manusia dan ternak serta lingkungan. Salah satu alternatif adalah probiotik,” ujarnya.
     
    Probiotik merupakan sumplemen mikrob hidup yang jika diberikan dalam jumlah yang cukup akan memberikan efek menguntungkan bagi kesehatan inang. Mikrob yang dapat digunakan sebagai probiotik yaitu bakteri, ragi dan kapang. 
     
    Pemberian probiotik pada ternak ruminansia muda akan membantu menyeimbangkan populasi mikrob saluran pencernaan, disamping mencegah diare dan meningkatkan pertumbuhan. Penggunaan probiotik pada ternak ruminansia dewasa bertujuan untuk mencegah terjadinya kelainan metabolisme yaitu asidosis dan untuk menurunkan produksi gas metana. 
     
    “Ternak domba yang diinokulasi dengan probiotik bakteri pengguna asam laktat S. ruminantium subsp lactilytica sebanyak 108 cfu mampu mencegah terjadinya akumulasi asam laktat di dalam rumen dibanding dengan kontrol. Ini sudah diterapkan di Afrika untuk mengatasi domba yang mengalami asidosis,” terangnya.
     
    Prof. Komang berhasil melakukan isolasi bakteri toleran tanin dari ternak kambing kaligesing yang sudah terbiasa mengkonsumsi kaliandra yang mengandung tanin. Isolat bakteri tersebut sangat potensial dikembangkan sebagai probiotik untuk diberikan pada ternak yang belum diadaptasi dengan pakan yang mengandung tanin.
     
    Penggunaan probiotik dalam industri peternakan sangat menjanjikan walaupun masih perlu kajian-kajian untuk penyempurnaannya. Perkembangan informasi genomik yang pesat memungkinkan kita untuk merakit galur probiotik baru yang mempunyai aktivitas yang lebih tinggi sehingga penggunaan probiotik dapat lebih dioptimalkan, tambahnya.(zul - news.ipb.ac.id)
     
  • Guru Besar IPB: Peternakan Berbasis Integrasi Meningkatkan Keuntungan Hingga 100 Persen

    Guru Besar Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (Fapet-IPB), Prof. Dr. Asnath Maria Fuah mengatakan bahwa pemanfaatan lahan, tanaman dan ternak berbasis integrasi mampu meningkatkan keuntungan sebesar 10-100 persen dibandingkan dengan tanpa integrasi. Hal ini disampaikannya saat Konferensi Pers Pra Orasi Ilmiah di Kampus IPB Baranangsiang (19/7). 

    Contohnya adalah integrasi satwa harapan di wilayah perkotaan atau livestock urban farming. Sistem integrasi kopi-lebah madu (sinkolema) mampu meningkatkan produksi madu mencapai 114 persen. Hasil ini lebih tinggi dari produksi madu dari lebah yag dipelihara di luar kawasan integrasi. Produksi biji kopi meningkat sebesar 10,55% yakni dari 118 ton/ha menjadi 131 ton/ha. 

    “Selain  kopi dan lebah, budidaya insekta juga bisa menggunakan pola integrasi. Misalnya usaha peternakan jangkrik dengan luasan lahan 64 meter persegi ternyata bisa memberikan keuntungan bersih mencapai 27 juta rupiah per tahun. Selain itu usaha budidaya ulat Hongkong dengan luasan lahan yang sama bisa menghasilkan keuntungan bersih 28 juta per tahun,” terangnya.

    Sementara itu berdasarkan aspek pemanfaatan lahan, kawasan integrasi untuk ternak sapi, kerbau, kambing dan domba tersebar pada empat zona dan terdiri dari 19 kawasan padang penggembalaan, 46 kawasan perkebunan, 38 kawasan pertanian padat penduduk dan 1 juta hektar areal buffer hutan. 

    “Pemerintah mentargetkan ada 12,7 juta hektar areal buffer hutan. Tujuannya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat yang berdomisili di areal sekitar hutan. Tentu ada potensi dan kendalanya,” ujarnya.

    Menurutnya untuk integrasi sapi-sawit di Sumatera dan Kalimantan memberikan dampak positif terhadap peningkatan petani-peternak sebesar 40-60 persen. Integrasi sapi dengan padi, jagung dan kedelai (pajale) pada lahan pasang surut menunjukkan bahwa pemanfaatan kompos kotoran sapi dan bio-slurry meningkatkan produktivitas kedelai sebesar 62 persen. Pendapatan petani meningkat sebesar 30-45 persen dengan nilai R/C ratio sebesar 1.83.

    Di sisi lain penerapan sistem integrasi juga memiliki kendala. Berdasarkan skala usaha, usaha skala kecil meliputi keterbatasan lahan, tenaga kerja dan modal. Usaha kelompok kendalanya pada kemampuan manajemen organisasi dan penggunaan teknologi terutama pengelolaan hasil dan manajemen limbah. Dan pada skala kawasan ada keterbatasan modal, akses infrastruktur, koordinasi antar lembaga dan distribusi serta rantai pasok produk belum efisien.

    “Sinergi program lintas sektor belum berjalan, komitmen organisasi dan penerapan kebijakan integrasi antara institusi terkait belum efektif,” terangnya.

    Maka dari itu, ia memberikan beberapa rekomendasi yang bisa diterapkan yakni kemitraan yang efektif disertai peran aktif dan komintmen yang kuat dari multistakeholder; swasembada daging perlu didukung oleh komoditi ternak pedaging lainnya (domba, kambing, unggas dan aneka ternak); serta dukungan kebijakan dari pemerintah dan institusi terkait yang menyangkut regulasi tata ruang dan penetapan kawasan integrasi peternakan.

    “Multistakeholders itu artinya lembaga perguruan tinggi, swasta, pemerintah, masyarakat dan media. Mengadopsi model ABGC-M atau pentahelix,” tandasnya (ipb.ac.id)

  • Guru Besar IPB: Swasembada Daging Terwujud 20-30 Tahun Lagi

     

    Guru Besar Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof.Dr Muladno mengatakan, target swasembada daging dua atau tiga tahun ke depan adalah bersifat politis. Karena menurutnya, tidak akan terjadi swasembada daging dalam kurun waktu sesingkat itu apabila melihat kondisi peternakan sapi di Indonesia saat ini, mengingat total populasi sapi yang ada hanya 16 juta ekor, itu pun termasuk sapi impor dan sapi betina.
     
    Hal ini disampaikannya dalam jumpa pers di Bogor, Kamis (19/3). Menurut pencetus Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) 1111 ini, mayoritas pemilik sapi Indonesia (6,5 juta orang) adalah lulusan SD-SMP. Kondisi saat ini, kepemilikan sapi per peternak hanya 2-3 ekor dengan berbagai keterbatasan seperti akses lemah, pengetahuan teknologi lemah dan masih menggunakan cara tradisional.
     

  • Halal Bil Halal Fakultas Peternakan IPB 1437 H

     

     

    Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor mengadakan acara Halalbihalal dalam rangka Idul Fitri 1437 H, pada hari Rabu tanggal 20 Juli 2016, di Auditorium JHH Fapet IPB.  Pada kesempatan yang bahagia, berkat rahmat, anugrah dan hidayah-Nya, kita telah sampai di puncak kemenangan dan kebahagiaan dalam suasana hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1437 H. Sebuah kebahagiaan yang di dasarkan agama, sebuah kebahagiaan dan kemenangan yang didasarkan pada keimanan. Halalbihalal ini dihadiri oleh seluruh sivitas Fapet IPB, diantaranya Dosen dan tenaga kependidikan, dan hadir pula para pensiunan dan guru besar dari Fapet IPB. 

    Dalam sambutannya,  Dekan Fakultas Peternakan IPB, Dr. Ir. Moh. Yamin, menyampaikan ucapan selamat Idul Fitri, Taqobballahu Minna Wa Minkum, shiyamana wa Shiyamakum serta memohon maaf atas segala salah dan khilaf. Dekan berujar  bahwa Idul Fitri tahun ini menjadi momen kemenangan kaum muslimin dalam melawan hawa nafsu,  sekaligus menyambut kemenangan setelah berpuasa di bulan Ramadhan selama sebulan penuh. Dalam sambutannya tersebut pula Dekan memaparkan selayang pandang kinerja Fapet IPB pada bulan Januari-Juni tahun 2016, dimana cukup banyak capaian yang didapatkan Fapet IPB di bidang akademik dan kemahasiswaan serta bidang sumberdaya, kerjasama dan pengembangan.

    Hadir menyampaikan tausiyah Halal Bil Halal IPB ini adalah Ust. Salahuddin El Ayyubi, Lc, M.A, salah satu imam di Mesjid Al-Huriyyah IPB. Dalam tausiyahnya, ia menyampaikan mengenai pentingnya maaf memaafkan sesama umat muslim. “Allah tidak mengampuni dosa seorang hamba jika diantara sesama tidak saling memaafkan,” tegasnya. Salahudin juga menyampaikan bahwa ujian kesolehan yang sebenarnya  adalah setelah bulan puasa, dimana kita seharusnya tetap istiqomah menjalankan kesolehan yang biasa dilakukan bulan Ramadhan, misalnya Sholat malam, shodaqoh, beramal baik, dsb. 
     
    Halal Bil Halal ini kian marak dengan penampilan marawis dari ibu-ibu tenaga penunjang kebersihan, persembahan lagu dari mahasiswa Fapet, pembacaan puisi ramadhan dari Ketua dan Sekretaris Departemen, dan lagu-lagu religi persembahan dari tenaga kependidikan Fapet IPB. Acara diakhiri dengan saling bersalam salaman, ramah tamah, dan makan siang.
  • Halal Bil Halal Fakultas Peternakan IPB 1440 H

    Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor mengadakan acara Halalbihalal dalam rangka Idul Fitri 1440 H, pada hari Rabu tanggal 19 Juni 2016, di Auditorium JHH Fapet IPB.  Pada kesempatan yang bahagia, berkat rahmat, anugrah dan hidayah-Nya, kita telah sampai di puncak kemenangan dan kebahagiaan dalam suasana hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1440 H. Sebuah kebahagiaan yang di dasarkan agama, sebuah kebahagiaan dan kemenangan yang didasarkan pada keimanan. Halalbihalal ini dihadiri oleh seluruh sivitas Fapet IPB, diantaranya Dosen dan tenaga kependidikan, dan hadir pula para pensiunan dan guru besar dari Fapet IPB. 

    Dalam sambutannya,  Wakil Dekan Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Peternakan IPB, Prof. Sumiati, menyampaikan ucapan selamat Idul Fitri, Taqobballahu Minna Wa Minkum, shiyamana wa Shiyamakum serta memohon maaf atas segala salah dan khilaf. "Idul Fitri tahun ini menjadi momen kemenangan kaum muslimin dalam melawan hawa nafsu,  sekaligus menyambut kemenangan setelah berpuasa di bulan Ramadhan selama sebulan penuh" Lanjutnya.

    Hadir menyampaikan tausiyah Halal Bil Halal IPB ini adalah Ust. Ki Agus Dahlan, salah satu imam di Mesjid Al-Huriyyah IPB. Dalam tausiyahnya, ia Menjelaskan tentang Hakikat Idul Fitri dimana sesama umat muslim harus saling mendoakan setelah selesai melaksanakan puasa di bulan ramadhan dengan ucapan Taqobballahu minna wa minkum, dengan harapan agar amal ibadah dan puasa kita dapat diterima oleh Allah SWT.
     
    Halal Bil Halal ini kian marak dengan penampilan persembahan lagu dari mahasiswa Fakultas Peternakan. Acara diakhiri dengan saling bersalam salaman, ramah tamah, dan makan siang.
  • Halal bil Halal Fapet IPB 1438 H

    Dalam Rangka Mempererat tali silaturahmi, Keluarga Besar Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor Kembali mengadakan acara Halalbihalal dalam rangka Idul Fitri 1438 H, pada hari Senin tanggal 10 Juli 2017, di Auditorium JHH Fapet IPB.  Halalbihalal ini dihadiri oleh seluruh sivitas Fapet IPB, diantaranya Dosen dan tenaga kependidikan, dan hadir pula para pensiunan dan guru besar dari Fapet IPB. 

    Dalam sambutannya,  Dekan Fakultas Peternakan IPB, Dr. Ir. Moh. Yamin, menyampaikan ucapan selamat Idul Fitri, Taqobballahu Minna Wa Minkum, shiyamana wa Shiyamakum serta memohon maaf atas segala salah dan khilaf. Idul Fitri tahun menjadi momen kemenangan kaum muslimin dalam melawan hawa nafsu,  sekaligus menyambut kemenangan setelah berpuasa di bulan Ramadhan selama sebulan penuh.

    Hadir menyampaikan tausiyah Halal Bil Halal IPB ini adalah Ust. Furqon. Dalam tausiyahnya, ia menyampaikan mengenai pentingnya maaf memaafkan sesama umat muslim. “Allah tidak mengampuni dosa seorang hamba jika diantara sesama tidak saling memaafkan,” tegasnya. Halal Bil Halal ini kian marak dengan penampilan marawis dari ibu-ibu tenaga penunjang kebersihan, dan persembahan lagu dari Tenaga Kependidikan Fapet. Acara diakhiri dengan saling bersalam salaman, ramah tamah, dan makan siang.
  • Hari Pulang Kandang 2015

    Dalam rangka membangun jejaring dan meningkatkan kerjasama diantara alumni, Ikatan Alumni Fakultas Peternakan IPB yang lebih dikenal dengan HANTER menggelar acara Hari Pulang Kandang (HPK) Akbar di IPB International Convention Centre - Botani Square, Baranangsiang Bogor, yang diselenggarakan pada hari Minggu tanggal 22 November 2015. 

    Hari Pulang Kandang (HPK) merupakan hari dimana alumni Fakultas Peternakan IPB kembali ke almamaternya, yang diadakan dalam setiap kepengurusan HANTER. Hari dimana para alumni Fapet IPB kembali untuk menyambung silaturahim dan bersama-sama memberikan sesuatu yang berarti untuk almamater yang dicintainya, baik secara fikiran, tenaga maupun material.

    Acara didahului dengan registrasi, menyanyikan mars fapet, sambutan Dekan Fapet dan ketua Hanter, dan Keynote Speech dari Dirjen Peternakan, Prof. Muladno. Dalam acara itu pula dilakukan launching buku Fapet IPB dan dana sosial Hanter, pemilihan Hanter Award (Apriliani Purwanto).