News

  • Himaproter gelar Seminar dan Workshop Agribisnis Peternakan 2018

    Setelah Sukses melaksanakan SWAP Tahun 2017 yang lalu, Himpunan Mahasiswa Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan IPB (Himaproter) kembali mengadakan acara Seminar dan Workshop Agribisnis Peternakan (SWAP) pada hari Sabtu, 28 April 2018. Rangkaian Acara yang diadakan pada pukul 08.40 sampai pukul 16.40 WIB ini terdiri atas Seminar, Workshop, serta Lomba Business Model Canvas (BMC). Acara ini diselenggarakan di di Auditorium JHH Fapet IPB. Adapun peserta yang hadir sebanyak 120 orang yang terdiri dari mahasiswa, kelompok ternak, dan masyarakat umum.

    Kegiatan SWAP dimulai dengan acara Seminar dari 4 orang pembicara dengan tema "Meningkatkan Pengetahuan tentang Prospek Peternakan Kepada Masyarakat Umum khususnya Pra Pensiun dengan Basis Agribisnis Peternakan", dengan pembicara pertama yaitu Dr. Ir. Sri Rahayu, M.Si (Dosen Fapet IPB) , dilanjutkan dengan pembicara kedua yaitu Budi Susilo Setiawan, S.Pt (Pemilik MT Farm), dan diakhiri dengan pembicara ketiga Ahmad Anwar dan Subarkah (Peternak Jangkrik).

    Pada kegiatan Workshop, dimulai dengan Pemaparan tentang Perkembangan dunia peternakan kambing domba (Kado), mulai dari prospek, populasi dan keunggulan Kado oleh Dr. Ir. Sri Rahayu, M.Si dan diakhiri oleh pemaparan Pemeliharaan Jangkrik oleh Winarno, S.P serta Ulat Hongkong oleh Sugeng Jaya Farm. Sedangkan Kegiatan BMC diikuti oleh 7 kelompok yang lolos sebagai finalis, terdiri atas 3-4 orang. Kegiatan ini diawali oleh materi mengenai BMC lalu dilanjutkan dengan lomba BMC.

    Pada kesempatan ini, diumumkan Juara I untuk kompetisi Business Model Canvas (BMC) diraih oleh mahasiswa Departemen Proteksi Tanaman (PTN) IPB.  Tim yang terdiri dari Natassa Kusumawardani, M. Gagah Saptarengga, Rima Wulansari dan Melinda Agustina ini melahirkan produk “criquet cakes”, cake lezat berbahan dasar tepung jangkrik.  

    Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan para peserta dapat mendapat ilmu mengenai peternakan on-farm  dan off-farm serta dapat menerapkan bisnis-bisnis terkait dengan peternakan.

  • Himaproter IPB Gelar Festival Ayam Pelung 2014

    Himpunan Mahasiswa  Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (Himaproter) Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Fakultas Peternakan (IPTP Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB), Sabtu (1/11) kembali menggelar Festival Ayam Pelung Nasional 2014.

    Kegiatan tahunan yang ke-6 ini diikuti oleh 92 ekor ayam, dan dibuka secara resmi oleh Sekretaris Departemen IPTP Fapet IPB Dr Asep Gunawan. Bertempat di lapangan Rektorat Andi Hakim Nasoetion Kampus IPB Dramaga Bogor, Dr Asep dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada para pencinta ayam pelung  yang telah berpartisipasi dalam festival tersebut. Menurutnya, secara tidak langsung para pencinta ayam pelung ini telah membantu dalam melestarikan plasma nutfah Indonesia berupa ayam yang memiliki bobot badan lebih besar dibanding ayam lainnya ini.

    Ketua Panitia, Muhammad Sukri, menerangkan festival ini memperebutkan piala bergilir Kementerian Pertanian RI, piala tetap, dan sejumlah uang tunai. Mahasiswa Departemen IPTP angkatan 49 ini mengatakan, penilaian yang dilakukan oleh dewan juri dari Himpunan Pencinta ayam Pelung Indonesia (Himapi) ini meliputi kategori suara, bobot badan, dan penampilan. Mengenai suara, Sukri menyebut ayam pelung memiliki suara yang khas dengan durasi mencapai 15 detik. Sementara ayam broiler dan ras hanya mampu bersuara tiga sampai lima detik saja. (Sumber : ipb.ac.id)
  • Himasiter Fapet IPB Gelar Feed Formulation Training

    Ini yang ke-13 kalinya Himpunan Mahasiswa Nutrisi Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (Himasiter Fapet IPB) menyelenggarakan “Feed Formulation Training”, tepatnya pada 15-16 September 2018 di Kampus IPB Dramaga.  

    Setelah sukses di tahun 2017 dengan tema Formulasi Ransum dan Pengolahan Pakan Ruminansia Berbasis Indigofera sp, di tahun ini Himasiter Fapet IPB mengusung tema ”Formulasi Ransum Ruminansia Berbasis Website dalam Pembuatan Silase Ransum Komplit”.

    Penyelenggaraan kegiatan pelatihan merupakan salah satu wujud kepedulian mahasiswa terhadap dunia peternakan di Indonesia. Biaya produksi terbesar yang harus dikeluarkan para peternak yaitu pakan menjadi perhatian khusus. Oleh karena itu, dengan diadakannya FFT diharapkan dapat meningkatkan skill peternak dalam melakukan formulasi ransum sehingga penggunaan pakan menjadi lebih efisien.

    Kegiatan FFT 2018 yang diikuti oleh 41 peserta telah sukses diselenggarakan. Sejumlah materi pelatihan telah diberikan oleh  trainer profesional dan beberapa guru besar Fapet IPB diantaranya: 

    Pengenalan Bahan Pakan serta Evaluasinya oleh Dr. Anuraga Jayanegara; Aplikasi Iptek dalam Manajemen Logistik Silase oleh Prof. Dr. Luki abdullah;  Pengenalan Total Mix Ration Konservasi dan Precision Farming Era Industri 4.0 oleh Dr. Despal;  Formulasi Ransum dengan Least Cost Balance Nutrition Ration Menggunakan Website oleh Dr. Idat Galih Permana; dan Aplikasi Teknologi Pengolahan Jus Silase oleh Prof. Dr. Nahrowi.

    Peserta FFT sangat antusias mengikuti pelatihan juga berkat adanya forum diskusi antara sesama peserta dan pembicara.

    “Pelatihan ini sangat menarik dengan materi yang disuguhkan, panitia juga sangat ramah dari mulai pendaftaran hingga membantu proses reservasi penginapan dan proses mobilisasi ke lokasi pelatihan. Sebaiknya di tahun depan juga mengundang dari pihak perbankan seperti direktur PT Bank BRI Syariah yang notabenenya alumni Fapet IPB, agar peserta juga memahami analisis ekonomi dalam dunia peternakan," ujar Mira, salah satu peserta dari Direktorat Pakan, Kementerian Pertanian. Tingginya antusiasme beberapa peserta FFT 2018 juga tampak dari keinginan untuk mengikuti FFT berikutnya. (ipb.ac.id)

  • Himasiter Selenggarakan Training Formulasi Pakan

    Keresahan sering terjadi pada peternak yaitu pada masalah PAKAN, terkait dengan ketersediaan dan harga pakan.  Sering kali peternak menanyakan ketersediaan pakan, terutama pada saat musim kemarau. Tanpa kita sadari, sebenarnya pakan tersebut tersedia berlimpah, hanya saja banyak peternak belum menyadari terkait kekayaan tersebut.

    Himpunan Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak (HIMASITER) Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor mencoba menjawab keresahan yang terjadi selama ini yaitu pengetahuan terkait POTENSI BAHAN PAKAN LOKAL, dengan menyelenggarakan Feed Formulation Training 2016 (FFT-2016) pada tanggal 24-25 September 2016. Training yang bertempat di Ruang Sidang Fapet dan Gedung Pusat Komputer IPB ini merupakan salah satu kegiatan rutin yang diselenggarakan setiap tahun oleh HIMASITER.  Peserta training banyak yang berasal dari kalangan professional baik dari industri pakan maupun industri peternakan, disamping itu pelatihan ini juga diikuti oleh mahasiswa yang berasal dari Bogor dan Jakarta. Tema pelatihan  pada tahun ini adalah "Formulasi Ransum Ruminansia Berbasis Bahan Pakan Lokal".

    Acara dibuka pada pukul 10.30 oleh Dr. Widya Hermana, dengan membunyikan angklung sebagai peresmian pembukaan. Pelatihan pada tahun ini menghadirkan trainer yang ahli di bidang pakan, diantaranya: Prof. Nahrowi Ramli, Prof. Luki Abdullah, Dr. Idat Galih Permana dan Dr. Heri Ahmad Sukria. Materi pelatihan yang dipaparkan adalah: Strategi Pengolahan Pakan lokal,  manajemen penyediaan hijauan pakan, dan formulasi pakan dengan least cost balance nutrition ration dengan menggunkan winfeed.

    Himasiter (Himpunan Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak) merupakan salah satu lembaga kemahasiswaan non struktural yang berada di bawah naungan Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor yang berbentuk organisasi kemahasiswaan yang mewadahi kegiatan profesi mahasiswa di lingkungan IPB pada umumnya dan Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan  pada khususnya serta memiliki karakteristik pengembangan keahlian dan keterampilan teknis di bidang nutrisi dan makanan ternak.

  • Hobi Berkuda, Mahasiswa IPB Ini Raih Medali Emas

    Reza Aulia Putra, mahasiswa Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB), mewakili Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Berkuda IPB meraih mendali emas dalam Djiugo Final (equestrian show jumping). Dalam kompetisi yang diadakan oleh Djiugo ini Reza berhasil melewati rintangan setinggi 70 cm kategori senior yang diadakan di Arthayasa Stable, Depok (14-15 /4). Peserta yang ikut berkompetisi sebanyak 28 club dari berbagai daerah di Indonesia.

    Reza sudah menekuni hobi berkudanya sejak tahun pertama perkuliahan (2015). Ia bercerita bahwa rasa sukanya terhadap aktivitas berkuda tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Ia tidak bisa melewati satu hari tanpa melihat kuda.

    “Saya senang kalau lihat kuda, senang merawatnya, senang menungganginya. Orang lain tidak akan tahu apa yang kita rasakan saat naik kuda. Bagi saya kuda adalah sahabat saya,” ujar Reza.

    Reza juga menceritakan bagaimana pengalamannya saat jumping dengan menunggangi kuda equestrian  dengan ketinggian 70 cm saat perlombaan.

    “Kuda equestrian itu sejenis kuda berdarah hangat dan kuda silangan antara kuda lokal dengan kuda dari luar negeri. Biasanya kudanya memiliki langkah yang bagus dan kuat. Saat saya jumping melewati rintangan 70 cm itu, rasanya seperti melayang di udara bersama kuda. Rasanya senang sekali apalagi bisa meraih medali emas,” jelas Reza.

    Tidak hanya sekedar hobi, Reza juga bercita-cita menjadi penunggang kuda yang profesional. Sedari awal memasuki UKM Berkuda di IPB, Reza sudah rajin berlatih, mengikuti berbagai ajang perlombaan kuda dan magang di beberapa sekolah berkuda untuk menambah pengalamannya berinteraksi dengan berbagai jenis kuda, salah satunya kuda equestrian. 

    “Di daerah saya tinggal, tidak ada kuda equestrian. Saya ingin mengembangkannya di sana untuk semua kalangan masyarakat,” harap pemuda asal Aceh ini.(ipb.ac.id)

  • Ikhsan Suhendro, Marbot Masjid Jadi Lulusan Terbaik Wisudawan IPB

    Ikhsan Suhendro, marbot Masjid Al Hurriyyah Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) asal Lampung sukses menorehkan prestasi gemilang sebagai wisudawan terbaik bulan ini.Hal itu terungkap dalam upac ara wisuda tahap VI Program Sarjana, Profesi Dokter Hewan, dan Pascasarjana tahun akademik 2017/2018 di Graha Widya Wisuda, Kampus IPB Dramaga Bogor, Rabu (21/3/2018).

    Ikhsan yang dinobatkan sebagai lulusan terbaik Fakultas Peternakan IPB menuturkan, kampusnya adalah 'Kampus Rakyat' bagi pemuda daerah yang tidak cukup biaya untuk berkuliah. Putra kelahiran Lampung 12 Desember 1994 ini mengatakan mahasiswa itu punya tiga pilihan, sambil menunjukkan jarinya, yaitu akademik, organisasi dan istirahat.  "Tapi dari tiga pilhan itu kita hanya bisa memilih dua. Yang dua akan kita dapatkan dengan baik, tetapi yang satu tentu harus dikorbankan. No problem, no pain no gain, karena istirahat sesungguhnya adalah ketika sudah mati," ujarnya.

    Untuk memenuhi hasratnya berorganisasi, Ikhsan memilih mendaftar sebagai marbot Masjid Al Hurriyyah di Kampus IPB Dramaga. Alasannya adalah selain menjadi wadah pengembangan bakat dan pengembanan amanah, Ikhsan mendapatkan mess atau asrama gratis.

    "Tanpa pikir panjang langsung mendaftar. Singkat cerita akhirnya lolos dan diterima menjadi marbot Masjid Al Hurriyyah, alhamdulillah. Hal yang menjadi pembeda dari menjadi marbot di maskam (masjid kampus) IPB dibanding maskam lain adalah kepengurusan kelembagaan masjid dan tim pembersih yang sudah ada orangnya dan sudah tersusun rapih, sehingga tugas kami sebagai marbot adalah menjadi panitia di hari besar agama Islam, pemakmur masjid, pengelola kajian rutin, dan pengembangan bakat diri," tuturnya.

    Saat menjadi marbot, rutinitas sehari-hari Ikhsan salat tahajud sebelum salat subuh, dilanjutkan syuro (musyawarah), lalu mengikuti kajian rutin di Aula Masjid Al Hurriyyah sebelum berangkat kuliah.

  • Inovasi Kerjasama Peternakan IPB di Kabupaten Bojonegoro

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Pertanian Bogor (LPPM IPB) berbagi peran dalam implementasi penelitian aksi Agromaritim 4.0 IPB tahun 2019 di Kabupaten Bojonegoro. Dr Aji Hermawan (Kepala LPPM IPB), Prof. Dr. Agik Suprayogi (Wakil Kepala LPPM IPB Bidang Penelitian), Prof Dr. Muladno (Ketua Unit Sekolah Peternakan Rakyat/SPR LPPM IPB), Dr. Asep Gunawan (Koordinator Tim Peneliti IPB) melakukan silaturahmi dan sekaligus mengantarkan peneliti IPB kepada pemerintah Kabupaten Bojonegoro yang diterima langsung Bupati, Dr. Hj. Anna Muawanah. 

    “Penelitian aksi Agromaritim 4.0 IPB pada tahun 2019 dilaksanakan di Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) Mega Jaya, Kabupaten Bojonegoro. Penelitian ini diharapkan dapat  meningkatkan kemampuan sistem usaha peternakan di SPR Mega Jaya di era industri 4.0,” ujar Dr. Aji Hermawan. Dalam kesempatan yang sama, Prof. Agik menyampaikan konsep IPB dalam membangun SPR di Kabupaten Bojonegoro juga sekaligus  mengurai tentang prinsip kerjasama empat-serangkai “Quadriple-Helix” atau (ABGC) yang lebih mengedepankan pada prinsip berbagi peran dan tanggungjawab. Capaian keluaran dari penelitian aksi ini adalah terbangunnya SPR Mega Jaya menuju peternakan unggul dan modern dalam 3-4 tahun ke depan.  “Hal ini dicirikan dengan hadirnya berbagai teknologi inovasi diantaranya e-ID ternak, sistem manajemen peternakan berbasis digital, kecukupan pasokan air dan pakan ternak, dan model lanskap ekowisata pendidikan,” ujarnya.

    Pemilihan SPR Mega Jaya dipilih sebagai lokasi penelitian aksi Agromaritim IPB karena sudah lulus sekolah sesuai standar pembinaan dari LPPM IPB. Kesiapan ini disampaikan Prof. Muladno selaku Ketua Unit SPR LPPM IPB, “SPR Mega Jaya di Kecamatan Kasiman Kabupaten Bojonegoro telah mendapatkan Piagam “Karya Satwasentosa” dari IPB pada tahun 2017 yang berarti SPR ini telah lulus sekolah sesuai standar pembinaan dari LPPM IPB, dan kelulusan SPR ini merupakan modal untuk terus berkembang menuju peternakan unggul dan modern berbasis Agromaritim 4.0-IPB,” jelas Prof. Muladno.

    Bupati Bojonegoro, Dr. Hj. Anna Muawanah menyambut dengan baik rencana penelitian aksi di SPR Bojonegoro dan mengucapkan terima kasih pada IPB yang telah proaktif sejak 2014 sampai sekarang memperhatikan peternak di wilayahnya. “Kami memahami peran IPB sangat besar dalam pengembangan SPR melalui kegiatan penelitian aksi yang akan dilaksanakan, mengingat hal ini memang sudah menjadi program Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Bojonegoro, namun belum sempat terlaksana mengingat sumberdaya manusia kami belum siap menghadapi era industri 4.0, dan kami bersyukur bahwa IPB proaktif membantu kami,” lanjutnya. Bupati menyampaikan bahwa Pemda akan mengambil peran dalam upaya pengembangan peternakan unggul dan modern yang digagas oleh LPPM IPB.

  • Inovasi Pakan Indigofera Raih Penghargaan Gubernur Jabar

    Pakan adalah makanan yang diberikan untuk ternak. Zat terpenting dalam pakan adalah protein. Saat ini bahan pembuatan pakan sebagian besar berasal dari bungkil kedelai yang diperoleh  dari impor. Salah satu dosen Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Luki Abdullah mengembangkan pakan hijauan (green concentrate) berbahan utama berupa daun tanaman indigofera (polong-polongan) sebagai substitusi bungkil kedelai.

    Pakan indigofera mengandung protein tinggi, mampu meningkatkan target produksi ternak, mengurangi biaya produksi dan dapat diberikan pada hampir semua hewan ternak seperti : sapi, kambing, domba, unggas, kelinci serta ikan.

    Prof. Luki  mengungkapkan pemilihan tanaman indigofera sebagai substitusi pakan berbahan bungkil kedelai melalui tahap penelitian panjang untuk mencari bahan yang tepat. Awalnya banyak sekali kemungkinan dari tanaman lain, lalu terpilihlah tanaman indigofera yang  mengandung sekitar 60 persen dari asam amino bungkil kedelai. Selain itu, tanaman indigofera dipilih karena mudah diperoleh, mudah berbiji, mudah menghasilkan benih, mudah dikembangkan dan tersedia di Indonesia, sehingga dapat mengurangi impor.

  • IPB dan PT Holcim Gelar Panen Perdana Rumput Gajah (Odot) dan Indigofera

    Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (P2SDM) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB) bekerja sama dengan PT. Holcim Indonesia Tbk mengadakan panen perdana kebun pembibitan hijauan pakan ternak, yaitu panen rumput gajah mini (odot) dan indigofera (18/1) di lahan bekas tambang Desa Nambo Kecamatan Klapanunggal Bogor.

    Sekretaris P2SDM LPPM IPB, Warcito, SP, MM mengatakan bahwa program bertajuk stasiun lapang agrokreatif pembibitan pakan hijauan ternak ini dirintis sejak tahun 2016. Program pendampingan yang dilakukan adalah mendampingi petani pengguna lahan PT. Holcim untuk menanam rumput gajah (odot) dan indigofera, sehingga para peternak sapi dan domba dapat dengan mudah mengambil untuk ternak peliharaannya. Selain itu, IPB juga mengembangkan skala usaha  pembangunan stasiun lapang agrokreatif untuk penggemukan ternak domba di wilayah kerja PT. Holcim Tbk.

    Manajer PT. Holcim Indonesia TbkEdi Prayitno menyampaikan program pembibitan rumput gajah mini (odot) dan indigofera merupakan upaya PT. Holcim Tbk dalam membantu menyediakan pakan ternak bagi peternak di sekitar wilayah kerja PT. Holcim Tbk. “Harapannya peternak dapat dengan mudah mencari dan mendapatkan makanan ternak atau  pakan untuk penggemukan ternaknya,” ujarnya.

  • IPB dan PT. Antam Canangkan Pengembangan Hijauan Pakan Ternak

    Direktorat Kajian Strategis dan Kebijakan Pertanian (Dit. KSKP) Institut Pertanian Bogor (IPB) bekerjasama dengan Divisi Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Antam (Persero) Tbk mencanangkan pengembangan hijauan pakan ternak, Selasa (5/1). Pencanangan yang mengambil tempat di Kebun Bukit Arroyan, Desa Antajaya, Kecamatan Tanjung Sari Kabupaten Bogor ini  diadakan dalam rangka menyongsong swasembada daging dan penguatan potensi ekonomi lokal.
     
    Direktur KSKP IPB Dr. Dodik Ridho Nurrochmat, mengatakan, untuk mendukung program nasional dan menyongsong swasembada daging, IPB mebuat model-model pemanfaatan lahan non-produktif melalui penanaman hijauan pakan ternak skala kecil. Kegiatan ini dilakukan di tiga titik desa yang berada dalam wilayah Kabupaten Bogor dan Sukabumi, diantaranya adalah Desa Cileuksa, Kecamatan Sukajaya; Desa Tamansari, Kecamatan Tamansari dan Desa Nanggerang, Kecamatan Cicurug.
     
    “Model ini akan dikembangkan dalam skala 50 hektar yang akan diimplementasikan secara bertahap. Dalam model pengembangan ini, IPB akan mendampingi petani dalam mengembangkan hijauan pakan ternak bekerjasama dengan PT. Antam yang akan memfasilitasi akses petani terhadap permodalan melalui penyaluran dana bergulir kepada petani,” ujar Dr. Dodik.
  • IPB Dirikan Sekolah Peternakan di Bojonegoro

    Bojonegoro (Antara Jatim) - Institut Pertanian Bogor (IPB) mendirikan sekolah peternakan rakyat (SPR) di Kecamatan Kasiman, Kedungadem dan Temayang, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, sebagai usaha membuat pembibitan sapi dengan memanfaatkan induk lokal.

    "IPB tidak akan mendatangkan induk sapi dari luar negeri, tetapi tetap memanfaatkan induk sapi lokal dalam melaksanakan pendidikan di tiga SPR," kata Guru Besar IPB, Prof Mulatno, dalam deklarasi pendirian tiga SPS di Bojonegoro, Rabu.

    Sesuai persyaratan, katanya, jumlah sapi induk di masing-masing SPR 1.000 ekor, yang dikelola 5.000 peternak, dengan masa pendidikan selama tiga tahun.

    "Sifat pendidikan tidak menggurui, sebab peternak sudah berpengalaman, sedangkan ahli peternakan IPB hanya berdasarkan teori," jelasnya.
  • IPB Kembangkan Budidaya Telur Semut Rangrang

    Bogor - Institut Pertanian Bogor (IPB) mengembangkan budidaya telur semut rangrang (kroto) bernilai tinggi. Petani bisa mendapat laba bersih hingga 50 persen dengan harga jual berkisar dari Rp 30.000 - Rp 50.000.


    Mahasiswa Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Fakultas Peternakan IPB Abdul Rachman menerangkan, bahan yang digunakan yaitu bibit semut rangrang penghasil kroto sebanyak 10 koloni (5 kilogram). Adapun dua jenis pakan yang dipakai adalah cacing tanah dan tulang sapi serta air gula. Ketiganya diberikan secara rutin sebagai sumber energi semut rangrang.

    "Setelah 100 hari, kita dapat memanen setiap hari sekitar 3 kilogram kroto dan bisa dijual Rp 30.000 per kilo. Dan, budidaya semut rangrang tersebut relatif mudah serta tidak menyita waktu banyak," kata Abdul di Bogor, Rabu (13/8).

    Kroto adalah nama yang diberikan orang Jawa untuk campuran larva dan pupa semut penganyam Asia (terutama Oecophylla smaragdina). Campuran ini terkenal di kalangan pencinta burung dan nelayan di Indonesia, karena larva semut populer sebagai umpan ikan, dan juga sebagai makanan tambahan untuk meningkatkan ketrampilan burung berkicau.

    Budidaya semut rangrang penghasil kroto masih jarang dilakukan masyarakat di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh kurangnya penelitian dan pengetahuan mengenai pengembangbiakkan semut rangrang.(Sumber:Jakarta Globe)
  • IPB Tawarkan Pengembangan SPR di Kabupaten Sukabumi

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 2019, kembali meningkatkan kerjasama dengan Kabupaten Sukabumi dalam Pengembangan Sekolah Peternakan Rakyat (SPR).  "Melalui kegiatan lapang di bidang peternakan, dalam hal ini membuka SPR  merupakan langkah awal dalam memajukan sektor peternakan, terutama dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat khususnya di daerah Sukabumi," kata Wakil Kepala LPPM IPB Bidang Pengabdian kepada Masyarakat, Prof. Sugeng Heri Suseno  dalam acara diskusi dengan Bupati Sukabumi, H. Marwan Hamami di Pendopo Sukabumi, Jumat (8/3).

    Lebih lanjur Prof. Sugeng mengatakan, LPPM IPB memiliki program pengabdian kepada masyarakat untuk mahasiswa, dosen, dan alumni. Untuk mahasiswa, selain KKN juga ada kegiatan tematik seperti IPB Goes to Field, SUIJI-SLP, KKN-Kebangsaan, dan ASEAN-SLP.  "Sementara untuk dosen dan alumni, selain SPR juga ada program Klinik Pertanian Nusantara, Stasiun Lapang Agro Kreatif (SLAK), Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya), IPB Cyber Extension-Tani Center, IPB Peduli Bencana, dan Kemitraan Lingkar Kampus," tutur Prof. Sugeng. Lebih lanjut dikatakannya, SPR yang merupakan program pengabdian dosen dan alumni bertujuan untuk mencerdaskan peternak melalui sekolah rakyat.

    Menanggapi hal tersebut, Bupati Sukabumi, H. Marwan Hamami menyampaikan, di wilayah Kabupaten Sukabumi banyak lahan yang belum termanfaatkan secara efektif. Dengan potensi tersebut, SPR dapat berkembang dengan baik dan membantu para peternak dalam meningkatkan kapasitas usahanya. Marwan akan melakukan penetrasi untuk menggali potensi tersebut melalui Dinas Peternakan.  “Mudah-mudahan  sekolah lapangan seperti Sekolah Peternakan Rakyat bisa mengangkat kesejahteraan masyarakat, khususnya peternak dengan potensi yang ada di Kabupaten Sukabumi,” ujar Marwan.

    Marwan menambahkan, pemerintah daerah telah berupaya mendorong terwujudnya beberapa program peternakan di lahan perkebunan yang tidak terpakai. Salah satunya dengan mendirikan agrowisata yang di dalamnya terdapat peternakan sapi perah. Harapannya, dengan adanya kerja sama pengelolaan Sekolah Peternakan Rakyat dengan IPB dapat menjadi langkah awal dalam memajukan sektor peternakan. Melalui SPR diharapkan ke depan Kabupaten Sukabumi bisa menjadi sentra peternakan untuk sapi potong. Turut hadir dalam acara tersebut Ketua SPR LPPM IPB, Prof. Muladno (ipb.ac.id)

  • IPB University dan Belanda Bentuk Animal Logistics Indonesia Netherland (ALIN) Pertama di Indonesia

    Fakultas Peternakan IPB University dengan Konsorsium  Belanda yaitu Nuffic, MSM : Maastricht School of Management, Wageningen dan Aeres groep ini membentuk proyek yang diberi nama Alin (Animal Logistics Indonesia Netherlands).  Kerjasama tersebut diumumkan dalam National Animal Logistics Seminar dengan tema ‘Optimizing the Use of Camara Ships to Improve Efficiency of Livestock Transportation Systems’ di Swiss-Bell Hotel, Bogor,  Kamis (4/7). Seminar ini digelar Fakultas Peternakan IPB bekerjasama dengan Konsorsium  Belanda (Nuffic, MSM : Maastricht School of Management, Wageningen University dan Aeres groep) melalui platformnya yaitu Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI).

    Rektor IPB University, Dr. Arif Satria dalam sambutannya menyampaikan apresiasi terhadap kerjasama ini. Rektor  IPB University mengungkapkan kolaborasi merupakan salah satu upaya untuk merespon situasi terkini terkait perkembangan teknologi industri 4.0. “IPB University mendorong Riset dan Inovasi IPB  University 4.0 yang dicirikan dengan agromaritim presisi tinggi melalui penggunaan teknologi drone, robotika, kecerdasan buatan di hulu sektor pertanian dan kelautan,  agroindustri untuk masa depan, sistem agrologistik digital, dan sistem e-commerce cerdas yang diyakini mampu beradaptasi di era 4.0,” kata Dr. Arif.

    Direktur Netherlands Consortium, Mr. Meinhard Gans  sangat merespon positif apa yang disampaikan Rektor IPB University. Ia menekankan bahwa  kegiatan yang dilakukan ini untuk kemajuan logistik peternakan Indonesia ke depan.

    Direktur proyek ALIN yang merupakan Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof. Luki Abdullah menyampaikan bahwa proyek ALIN digagas atas kerjasama pemerintah Indonesia dan Belanda melalui Kementerian Pertanian dengan Kedutaan Besar Belanda. Pada saat itu  Indonesia dianggap mempunyai masalah mengenai logistik. Masalah tersebut antara lain masih kurangnya fasilitas dan prasarana serta penanganan hewan ternak yang buruk. Ini berdampak pada: (1) biaya logistik dan transportasi yang tinggi, (2) penurunan berat badan yang lebih tinggi, (3) kinerja ternak, (4) kesejahteraan hewan. Faktor ini menyebabkan harga produk yang lebih tinggi bagi konsumen, tetapi juga harga yang lebih rendah untuk produsen, sehingga mengurangi margin mereka. 

    Upaya telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk meningkatkan rantai pasokan ternak sapi domestik terutama dari wilayah timur Indonesia kepada konsumen. Kapal ternak yang dibangun pertama kali diluncurkan pada bulan Desember 2015 bernama Camara Nusantara 1, dan yang kedua, Camara Nusantara 3, diluncurkan pada 2018. Jumlah total akan ditingkatkan menjadi enam unit. Kapal dibangun oleh pemerintah Indonesia dan dioperasikan oleh PT Pelni, sebuah perusahaan pelayaran besar domestik.

    Kapal dirancang untuk memenuhi prinsip kesejahteraan hewan, sehingga penurunan berat badan selama pengangkutan akan diminimalkan dan kinerja meningkat. Selanjutnya, kapal ternak diharapkan untuk meningkatkan rantai pasokan ternak sapi serta untuk mempersingkat rantai distribusi dari produsen ke akhir konsumen. Namun, ada keraguan mengenai dampak proses transportasi dengan menggunakan kapal Camara Nusantara pada aspek kinerja ternak dan kesejahteraan hewan. (ipb.ac.id)

    Sementara Animal Logistics Indonesia Netherlands (ALIN), proyek  ini pertama di Indonesia terkait logistik peternakan. Terdapat beberapa fokus yang telah dilakukan dalam proyek yaitu bagaimana mengembangkan sumberdaya manusia dalam bidang logistik peternakan.  Program ini dikembangkan melalui kurikulum  logistik peternakan pada program master (S2) Logistik Peternakan. Program kedua yaitu Sarjana Plus berupa pendidikan selama 6 bulan setelah lulus sarjana, mendapat materi logistik peternakan. Keunggulannya dari S1 plus ini akan memperoleh sertifikat  kompetensi yang  sudah ditetapkan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), dan Kementerian Tenaga kerja. “Program S1 Plus dapat diikuti oleh lulusan sarjana bidang apa saja, mereka akan di-training melalui 17 unit kompetensi yang sudah dibakukan oleh BNSP. Selama enam bulan mereka dibina dan dididik untuk mendapatkan sertifikat kompetensi,” ucap Prof Luki.

    Pada kegiatan seminar ini  para peneliti menyampaikan hasil penelitiannya terkait Traceability, Live Animal Transportation Feed Logistics, Animal Products dan Human Resources dengan narasumber  diantaranya adalah jajaran peneliti IPB seperti Prof Kudang Boro Seminar,  Dr.Rudi Afnan,  Dr. Despal, Prof. Irma Isnafia Arief,  Prof. Asnath M Fuah, Dr. Yunus Triyonggo, Dr. Epi Taufik dan Dr. Moh Yamin. Penelitian ini melibatkan dan didukung oleh anggota FLPI baik dari kalangan bisnis, pemerintah, asosiasi serta komunitas.

  • Joint general lecturers: Prof. Hiroshi Takagi PhD dan Berry Juliandi, PhD

    Pada hari Kamis, 18 Desember 2014, diselenggarakan joint general lecture di Ruang Sidang Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan. Dalam kesempatan ini hadir dua dosen tamu, Prof. Hiroshi Takagi, PhD dari Nara Institute of Science and Technology dan Berry Juliandi, PhD dari Departemen Biologi, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

    Berry Juliandi, PhD memberikan paparan yang berjudul "Stem cells biology and its application in biomedicine". Berry Juliandi, PhD menjelaskan mengenai dasar-dasar biologi sel punca atau sel batang. Sel punca memiliki fungsi untuk sistem perbaikan penggantian sel-sel tubuh. Sel punca telah digunakan untuk percobaan pengobatan biologis pada tikus penderita paralisis dalam skala laboratorium. Untuk selanjutnya sedang dikembangkan penelitian yang aplikatif untuk manusia.

    Prof. Hiroshi Takagi memaparkan "Overexpression of the yeast transcription activator msn2 confers stress resistance in industrial yeast". Dalam paparannya, Prof. Hiroshi Takagi menjelaskan mengenai penggunaan yeast dalam industri roti dan berbagai usaha lain. Penggunaan aktivator msn2 mampu menekan efek stress akibat pemanasan, pengeringan dan pembekuan. Sistem ini dapat diterapkan pada berbagai industri lain, termasuk industri pakan. Prof. Hiroshi Takagi juga menjelaskan mengenai ruang lingkup Nara Institute of Science and Technology serta kesempatan beasiswa untuk belajar di sana.

    Dalam kesempatan ini hadir sekitar 30 mahasiswa pasca sarjana dari Fakultas Peternakan dan Fakultas Teknologi Pangan IPB. Mahasiswa tampak antusias mengikuti perkuliahan dan aktif bertanya kepada kedua dosen undangan.(sumber: intp.fapet.ipb.ac.id)

  • Kembangkan Sekolah Peternakan Rakyat,IPB Teken Kerjasama dengan PT. Surya Agro Pratama dan Infrabanx

    Institut Pertanian Bogor (IPB) dan PT. Surya Agro Pratama serta Infrabanx sepakat mengadakan kerjasama dalam bidang peningkatan kapasitas peternak, pemanfaatan ilmu dan teknologi, serta penerapan bisnis kolektif melalui program Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) di seluruh Indonesia. Kesepakatan disahkan melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) seluruh pihak di Ruang Sidang Rektor Kampus IPB Dramaga (22/5). MoU ini berlaku selama 10 tahun. 

    Rektor IPB, Dr.Arif Satria berharap dengan adanya kerjasama IPB dan PT Surya Agro Pratama, inovasi kelembagaan yang telah diciptakan oleh tenaga ahli IPB dapat memecahkan problem social capital yang biasanya ada dalam usaha peternakan. Apa yang  dikembangkan dapat  mengarah pada penguatan sistem.

    “Ini dapat menjadi kekuatan kita ke depan. Semoga dengan hadirnya Infrabanx akan lebih masif, lebih baik lagi dan dapat meningkatkan kesejahteraan para peternak,” ujar rektor.

    Selain itu menurut rektor, SPR dapat menjadi learning center, pusat pembelajaran dan penyuluhan yang berbasis pada riset. Kemudian prinsip sosial capital dapat terus dikembangkan dan dapat menjadi solusi dari problem baik di bidang sumbedaya alam, hubungan  antar kelompok, hubungan peternak dengan pihak luar atau investor.

  • Kick Off Meeting Prodi Animal Logistic Fapet IPB

    Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (Fapet IPB) menyelenggarakan pertemuan bertajuk “Kick Off Meeting Capacity Building in Animal Logistic of Poultry and Livestock”, Selasa (24/2) di IPB International Convention Center (IICC) Bogor. Kegiatan ini menjadi acara perdana dalam rangka penyelenggaraan Program Studi (Prodi) baru Fapet dalam bidang Animal Logistic. Dalam hal ini IPB bekerjasama dengan Nuffic Belanda untuk pengembangan capacity building di bidang animal logistic terutama untuk livestock dan poultry. 
  • Kisah Peternak Kambing di Bogor yang Raup Omzet Rp 500 Juta per Bulan

    Bisnis di sektor peternakan masih dianggap menguntungkan, khususnya ternak kambing. Hal ini diungkap oleh Budi Susilo Setiawan, salah seorang peternak kambing dan domba di Desa Tegalwaru, Bogor. Budi merupakan salah satu mitra nasabah mikro Bank Syariah Mandiri (BSM) sejak tahun 2010. Selain dari investor pribadi, sumber modal utama Budi adalah dari pinjaman mikro di BSM. Modal ini digunakannya untuk mengelola lahan miliknya seluas 12 hektare (ha).

    Lahan milik Budi ini berada di kawasan Agrowisata Waru Farm Land, di desa wisata sentra UKM Tegal Waru, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor.

    “Di lahan ini, selain untuk bisnis ternak kambing, juga ada bisnis ternak sapi dan domba. Saya juga merambah bisnis properti, jual tanah kavlingan,” katanya saat ditemui di peternakannya di Desa Tegalwaru, Bogor, Rabu (26/6).

    Budi bercerita sudah 16 tahun menekuni bisnis ternak kambing dan domba. Awalnya pria lulusan Fakultas Peternakan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) ini hanya menjual kambing titipan petani di tahun 2002 lalu.

    “Dulu tahun 2002 itu mulai jual kambing orang ada sekitar 13 ekor untuk kurban. Lalu, dapat untung dan tahun 2003 mulai ternak 40 ekor kambing dan masih jual sebanyak 86 ekor kambing,” katanya. Setiap tahun, jumlah ternak kambing Budi bertambah. Tahun 2004, tercatat kambing ternak Budi bertambah menjadi 100 ekor dan yang siap dijual sebanyak 106 ekor.

    “Di tahun 2005 itu memutuskan untuk perbesar kandang, dengan begitu jumlah kambing yang diternak sebanyak 500 ekor dan dijual 800 ekor,” kisahnya.

    Lalu, pada 2006 jumlah kambing ternaknya bertambah hingga mencapai 800 ekor dan dijual sebanyak 2.700 ekor kambing. Kemudian, pada 2007 dia merawat 700 ekor kambing, menjual 1.700 ekor kambing.

    Budi juga masuk ke peternakan sapi sejak tahun 2007 dengan menjual sebanyak 7 ekor. Kemudian di tahun 2008, jumlah sapi Budi bertambah menjadi 4 ekor.

  • Kontribusi IPB untuk Logistik Peternakan Indonesia

    Bisnis peternakan di Indonesia saat ini menghadapi permintaan yang terus meningkat pada produk-produk hasil ternak. Namun tingginya tingkat permintaan produk ternak masih terkendala dalam pengelolaan distribusi pasokan yang menyebabkan tingginya biaya logistik. Kendala dalam pengembangan logistik peternakan adalah infrastruktur, manajemen dan sumberdaya manusia. 

    Fakultas Peternakan  IPB sebagai institusi pendidikan dan penelitian telah berkomitmen untuk berkontribusi dalam pengembangan logistik peternakan di Indonesia. “Bagi Fapet IPB , logistik tidak hanya sekedar memindahkan produk ternak dari satu tempat ke tempat lain tetapi logistik terkait dengan aspek keamanan dan ketahanan pangan”, jelas Dr.Yamin sebagai Dekan Fapet IPB.

    IPB telah membuka program S1 plus Logistik Peternakan yang bertujuan  untuk menghasilkan kompetensi para lulusan untuk mampu mengimplementasikan keahlian, ilmu pengetahuan, teknologi dan sains di bidang logistik peternakan. Pembentukan program studi ini didukung oleh Asosiasi Logistik Indonesia (ALI). “ALI juga mendukung jika program studi memerlukan dosen tamu dari anggota ALI terkait logistik secara umum”, jelas Zaldy Ketua ALI saat meeting bersama  tim Fapet IPB pada  Februari 2017 lalu.

    Perkuliahan perdana program Sarjana Plus Logistik Peternakan akan dimulai pada awal tahun ajaran baru 2017-2018, di bulan Juli 2017. Logistik peternakan merupakan area multidisiplin ilmu, antara lain ilmu peternakan, logistik, pengolahan, teknologi rantai dingin, ekonomi dan ritel.  Oleh karena itu Program S1 Plus ini terbuka bagi lulusan S1 dari jurusan yang relevan (Peternakan, Kedokteran Hewan, Logistik, Transportasi, Ekonomi, Teknik Industri, Ilmu Konsumen dan Keluarga) fresh graduate ataupun sudah bekerja.

  • Kreatif! Mahasiswa IPB Ciptakan Snack JunkKrips Berbahan Dasar Jangkrik

    Jangkrik (Gryllidae) adalah serangga yang berkerabat dekat dengan belalang. Memiliki tubuh rata dan antena panjang. Jangkrik adalah omnivora. Dikenal dengan suaranya yang hanya dihasilkan oleh jangkrik jantan. Suara ini digunakan untuk menarik betina dan menolak jantan lainnya. Suara jangkrik ini semakin keras dengan naiknya suhu sekitar.  Umumnya jangkrik dianggap sebagai salah satu jenis pakan burung atau hewan hias lainnya.

    Padahal jangkrik memiliki berbagai manfaat dengan kandungan gizi yang kaya. Kandungan nutrisi penting pada jangkrik adalah protein, asam lemak essensial, vitamin serta mineral. Pada jangkrik yang masih segar kandungan proteinnya sekitar 40%, namun apabila sudah diolah menjadi jangkrik kering atau jangkrik panggang, kandungan protein akan meningkat hingga 64%. Selain protein ternyata jangkrik juga mengandung zat kitosan seperti yang terkandung pada udang dan memenuhi 15-25% kebutuhan vitamin A.  Kebanyakan masyarakat di Indonesia belum memanfaatkan potensi jangkrik yang sangat menjanjikan ini.

    Lima mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yakni Uswatun Khasanah, Muhamad Suhendra, Andini Siwi Pratama, Triyana Nur  Rizki dan Iza Fitria Husna menciptakan Snack JunkKrips yang kaya protein, bahan dasarnya jangkrik. JunkKrips merupakan suatu inovasi yang sangat unik dan memiliki rasa yang enak dan renyah serta kandungan gizi yang sangat baik untuk tubuh.

    Di bawah bimbingan M Sriduresta Soernarno, Spt MSc selaku dosen pembimbing, Uswatun dan tim terus berinovasi dengan mengeluarkan berbagai macam varian produk olahan JunkKrips, diantaranya adalah StickKrips dan BasKrips. Kedua varian produk ini  memiliki rasa dan tekstur yang unik dan berbeda. Konsumen juga dapat memilih pilihan rasa yang disajikan dari Baskrips dan StickKrips, diantaranya adalah rasa barbeque, jagung bakar, pedas, original dan balado.

    Dalam waktu dekat Uswatun dan tim akan mengeluarkan varian produk JunkKrips ke-3 setelah Baskrips dan StickKrips. Produk Barunya diberi nama Choco JunkCho siap diluncurkan menjadi produk baru dan tentunya memanfaatkan jangkrik sebagai bahan dasar. Nah nantikan terus inovasi dari lima mahasiswa IPB ini ya... (ipb.ac.id)