IPBSDG2

  • Mahasiswa IPB University Manfaatkan Ulat Hongkong untuk Susu Bubuk Tinggi Protein

    Biasanya ulat hongkong dikenal para pecinta burung kicauan. Ulat hongkong banyak dimanfaatkan sebagai pakan burung yang konon bisa meningkatkan stamina burung kicau agar kuat dalam mengikuti kontes berkicau.

    Namun hal berbeda dilakukan Irfan Nugraha. Mahasiswa IPB University ini justru memiliki ide memanfaatkan ulat hongkong menjadi isolat protein yang digunakan sebagai penambah bahan campuran susu bubuk. Bersama dua rekannya, Ernawa Sindu Sutowo dan Rahmadi Gawana Putra, Irfan mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2019 untuk merealisasikan idenya.

    “Penelitian yang kami lakukan yaitu mengisolasi protein ulat hongkong (Tenebrio molitor) kemudian isolat tersebut ditambahkan kepada susu bubuk. Tujuannya agar memperkaya kandungan protein susu bubuk,” ujar Irfan.

    Berbekal dari hasil penelitian sebelumnya, Irfan mengungkapkan bahwa ulat hongkong memiliki kandungan protein yang tinggi yang sangat cocok untuk fortifikasi susu bubuk. Menurutnya, hadirnya isolat protein dari ulat hongkong ini diharapkan dapat menggantikan whey protein yang selama ini menjadi tambahan protein pada susu bubuk. Karena sebagian besarnya whey protein diperoleh dengan impor.

    “Berdasarkan penelitian, ulat hongkong memiliki kandungan nutrisi diantaranya 48 persen protein kasar, 40 persen lemak kasar, 3 persen kadar abu, 57 persen kadar air. Selain memiliki protein yang tinggi, ulat hongkong juga dari segi pemeliharaan tidak membutuhkan tempat yang luas dan itu sangat bermanfaat di masa depan dimana lahan peternakan akan semakin berkurang,” tutur Irfan.

    Penerapan fortifikasi pada susu bubuk dapat menjadi solusi untuk memenuhi asupan protein masyarakat. Karena pada dasarnya, susu bubuk kini tidak sulit untuk didapatkan. Selain itu, dengan memanfaatkan bahan lokal seperti ulat hongkong, masyarakat mudah mendapatkan protein.
     
    “Satu hal yang menjadi tantangan kami adalah menghilangkan pigmen warna coklat pada isolat protein ulat hongkong ini. Selain itu dari segi flavor diharapkan dapat berbeda daripada susu bubuk komersil karena kandungan asam amino glutamat yang cukup tinggi dari ulat hongkong yaitu 45143.50 miligram/kilogram sehingga harapannya dapat memberikan cita rasa khas gurih,” ucap Irfan (ipb.ac.id)

  • Mahasiswa penerima beasiswa Japfa Foundation menggelar program pengabdian di desa Neglasari

    Mahasiswa Fakultas Peternakan IPB University angkatan 53 sebanyak 20 orang sebagai penerima beasiswa Japfa Foundation atau disebut JFSC ( Japfa Foundation Scholarship Club) menggelar program pengabdian di desa Neglasari, kecamatan Dramaga, Bogor, tepatnya di GAPOKTAN Neglasari, sabtu pagi (07/12/2019).

    Hal ini disambut hangat oleh Kepala Desa Neglasari Bapak Yayan Mulyana “ IPB dan Desa Neglasari semoga tetap menjalin kerjasama dengan baik dan kegiatan ini saya harapkan dapat membantu desa Neglasari menjadi destinasi wisata pertanian’ ujar kepala desa Neglasari dalam sambutannya.

    Sebanyak 1600 tanaman Indigoferadan 400 tanaman odot  telah diberikan kepada para peternak. Rangkaian acara meliputi penandatanganan kontrak kerjasama antara JFSC dengan Desa Neglasari, kemudian penanaman secara simbolik oleh JFSC, Fakultas Peternakan, Japfa Foundation, dan Desa Neglasari yang diwakilkan oleh Ketua GAPOKTAN.

    Indigofera merupakan hijauan ternak jenis leguminosa yang berasal dari Papua dan memiliki nutrisi yang tinggi untuk ternak. Memiliki kelebihan berproduksi tinggi karena daunnya yang lebat apabila dirawat dengan baik.  Selain itu mudah ditanam dan bertahan dalam kondisi kering maupun basah. Sedangkan tanaman odot yaitu salah satu varietas rumput gajah (Pennisetum purpureum)yang memiliki keunggulan produksit tinggi, apalagi pada saat musm hujan, batang rumput terasa lunak, sehingga daya suka kambing atau domba bertambah. Selain itu kandungan nutrisi yang tinggi seperti protein kasar rumput odot sebesar 12-14% bahkan ada yang mencapai 17%, kemudian tingkat keceranaan tinggi berkisar 65-67%.

    Selain itu mahasiswa juga mengajak para peternak untuk bersama-sama praktik membuat pakan silase. Pelatihan khusus pengawetan pakan untuk peternak ini diharapkan ketika musim kemarau tiba, para peternak dapat menyimpan cadangan pakan untuk ternak mereka. Produk silase hasil fermentasi ini memiliki keunggulan salah satunya selulosa dari hijauan pecah dan ketika dikonsumsi oleh ternak nutrisi mudah diserap.

  • Manajemen Logistik Lebah Madu

    Logistik lebah madu merupakan serangkaian proses yang meliputi kegiatan perencanaan, implementasi, pengontrolan dan tindak lanjut hingga terhadap proses perpindahan lebah madu beserta produknya, dari titik awal kegiatan menuju permintaan konsumen (pelanggan). Tata kelola permaduan ini menjadi kian penting mengingat koloni lebah madu di Indonesia banyak jenis serta jumlah produksinya.

    Koloni lebah madu secara umum ada dua jenis yaitu koloni lebah madu bersengat (KLMBS) dan koloni lebah madu tanpa sengat (KLMTS), yang hidupnya tersebar di seluruh provinsi sampai ke desa dan pedukuhan di seantero Indonesia. Semua jenis lebah madu tersebut mampu menghasilkan produksi kelompok, produksi yang dikumpulkan, produksi yang diekstrak dan produksi yang dipelihara oleh lebah madu. “Manusia berperan sebagai pengembala, pemelihara dan pemanen dalam menghasilkan lebah madu,”kata Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang Pof. Dr. Mochammad Junus dalam Pelatihan Manajemen Produksi dan Logistik Lebah Madu Tropika yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) di Kampus Fakultas Peternakan IPB, Kampus Darmaga Bogor pada 8-9 Oktober 2019. Dalam pelatihan tersebut, dilangsungkan juga kunjungan lapangan di produsen madu Eureka Farm di kawasan Bojong, Bogor.

    Lebih jauh Junus menguraikan, untuk menjamin kelancaran sistem logisik lebah madu, juga diperlukan sumber finansial dan sumber informasi agar kegiatan perlebahan berjalan dengan baik. Semua kegiatan tersebut merupakan bahan masukan logistik lebah madu. Proses manajemen logistik lebah madu dilakukan dengan berbagai kegiatan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengontrolan dan tindak lanjut dari rencana yang sudah disusun. Semua rangkaian kegiatan tersebut harus dilakukan secara disiplin, sehingga kebutuhan konsumen akan madu dan aneka produk ikutannya dapat terpenuhi. Oleh karena itu, manajemen persediaan madu menjadi hal yang tak bisa ditawar. Tata kelola dalam pengaturan persediaan produk lebah madu yang dimiliki tersebut dilakukan mulai dari cara memperoleh produk lebah madu, penyimpanan, sampai digunakan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, yang pada akhirnya berhubungan dengan segmen kegiatan yang lain.

    Tanggung jawab di dalam logistik lebah madu tidak berakhir ketika produk dikirimkan kepada pelanggan. Junus mengingatkan, faktor lain yang tak kalah pentingnya, yakni aktifitas yang berkaitan dengan perbaikan dan servis, sehingga perlu dikoordinasikan dengan aktivitas pembalikan logistik produk perlebahan lainnya. (agropustaka.id)

  • Manfaatkan Ulat Hongkong, Mahasiswa IPB University Teliti Metode Pengurai Styrofoam

    Di alam, kemasan plastik dan styrofoam sulit diurai. Penggunaan plastik dan styrofoam masih sangat tinggi, terutama di kota-kota besar di Indonesia.  Styrofoam merupakan jenis plastik yang paling berbahaya dan tidak ramah lingkungan.  Selain tidak ramah lingkungan karena sifatnya yang tidak dapat diurai sama sekali, proses produksi styrofoam sendiri menghasilkan limbah yang tidak sedikit.  Menurut Environmental Protection Agency (EPA), Indonesia termasuk sebagai penghasil limbah berbahaya kelima terbesar di dunia.

    Novica Febriyani, Fiona Salfadila dan Indri Destriany, tiga mahasiswa IPB University melalui Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Penelitian Eksakta (PKM-PE) 2019  mencoba meneliti penggunaan ulat hongkong sebagai agen biologis yang bisa mendegradasi styrofoam. Penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengisolasi bakteri dari ulat hongkong dari Indonesia yang bisa mendegradasi styrofoam ini dilakukan di bawah bimbingan Cahyo Budiman, SPt, MEng, PhD.

    “Berdasarkan penelitian ilmiah sebelumnya ditemukan mekanisme degradasi polystyrene menggunakan vektor biodegradasi yaitu ulat hongkong atau mealworms jenis Tenebrio molitor. Ulat hongkong tersebut telah terbukti mampu untuk mendegradasi polystyrene sebagai komponen penyusun styrofoam,” tutur Novica.

    Dalam penelitian tersebut, Novica menambahkan bahwa populasi mikroorganisme dalam perut ulat hongkong erat dengan lingkungan atau habitat ulat tersebut. Hal tersebut mengindikasikan bahwa jenis mikroorganisme dalam ulat hongkong yang dikembangbiakkan di kondisi subtropis Tiongkok akan berbeda dengan ulat yang dibiakkan di kondisi wilayah tropis Indonesia. Itu juga yang mendorong kemungkinan adanya isolat bakteri baru dari ulat hongkong di Indonesia yang bisa mendegradasi polimer polystyrene.

    “Pada mulanya, ulat hongkong kami pelihara dengan diberi pakan tunggal styrofoam. Lalu bagian usus ulat hongkong tersebut kami jadikan sebagai Stok Larutan Ulat Hongkong (SLUH). Kemudian SLUH tersebut ditumbuhkan pada media agar yang sudah ditambahkan styrofoam. Setelah itu, bakteri yang didapatkan, diidentifikasi dan simpan dalam glycerol stock. Kandidat isolat yang diperoleh kemudian diberikan styrofoam yang telah ditentukan. Kemampuan isolat dalam mendegradasi styrofoam diuji dengan cara melihat permukaan Styrofoam dengan menggunakan Scanning Electron Microscopy (SEM),” jelas Novica.

    Novica berharap, ke depannya mereka bisa mengaplikasikan ini pada skala yang lebih besar. Ia juga berencana dalam pengaplikasian bakteri pada limbah styrofoam ini bisa menghilangkan kesan jijik, sehingga pemanfaatannya dapat dilakukan oleh masyarakat luas (ipb.ac.id)

  • Meminimalkan Risiko Turunnya Kualitas Produk Pakan

    Manajemen logistik yang sembarangan bisa mengakibatkan buruknya kualitas pakan yang diterima peternak. Turunnya kualitas pakan yang diproduksi dapat terjadi misalnya karena adanya kontaminasi mikrobia merugikan seperti kontaminasi salmonella, escericia colli, clostridia, listeria dan camphylobacter yang bisa berefek pada kejadian penyakit pada manusia (food borne disease) yang mengonsumsi daging atau telur ayam yang pakannya terkontaminasi mikroba merugikan tersebut.

    Untuk meminimalkan risiko itu, General Manager PT Charoen Pokphand Indonesia Istiadi dalam sebuah pelatihan tentang manajemen logistik pakan yang diselenggarakan di Kampus IPB Darmaga Bogor menjelaskan ada beberapa hal yang harus diantisipasi dalam hal manajemen logistik pakan ini. Acara diselienggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI) di Kampus IPB Darmaga, pada 26-27 Maret 2019.

    Beberapa upaya yang disarankan Istiadi antara lain kemasan pakan yang dipakai harus higienis, selalu menjaga kebersihan truk atau sarana transportasi pakan yang lain, penerapan biosekuriti yang ketat antar lokasi produksi dan pergudangan pakan, senantiasa menjaga higiene dan sanitasi gudang, serta penerapan prinsip first in first out (FIFO) pakan. Pakan yang dikeluarkan atau dikirim ke konsumen adalah yang paling awal masuk gudang, bukan malahan sebaliknya. Selain menjaga agar tidak terjadi banyak risiko kontaminasi mikrobia merugikan, penerapan FIFO juga dimaksudkan untuk menjaga kesegaran produk pakan yang diterima konsumen.

    Sumber-sumber risiko munculnya kontaminasi harus dapat diidentifikasi sehingga dapat diminimalkan kemunculannya. Hal ini disebabkan sumber-sumber kontaminasi bisa berasal dari mana saja, seperti dari bahan baku pakan itu sendiri, gudang yang tidak bersih, atau sumber daya manusia yang menangani bahan baku yang tidak menjaga higiene dan sanitasi.

    Proses distribusi bahan baku pakan ke pabrik atau dalam proses produksi pakan juga dapat terjadi kontaminasi mikrobia berbahaya, yang berasal dari debu yang bertebangan, tikus, serangga, burung-burung liar ataupun hewan peliharaan seperti anjing dan kucing. (livestockreview.com)

  • Mencermati Perubahan Paradigma di Era Industri 4.0

    Memasuk era industri 4.0, para pelaku usaha di bidang usaha pengolahan hasil ternak harus mencermati adanya berbagai perubahan paradigma yang ada. Tidak hanya dalam hal cara bekerja, keahlian, maupun cara konsumsi yang berubah, namun cara para pelaku industri dalam merancang, memproses, maupun memproduksi pun ikut berubah.

    Hal itu disampaikan oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri, Kementerian Perindustrian Iken Retnowulan dalam sebuah workshop tentang penerapan teknologi 4.0 pada rantai pasok industri olahan hasil ternak. Acara diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) di Baranangsiang Bogor pada 2 Mei 2019 lalu.

    Dalam pemaparannya, Iken menguraikan, hal-hal yang berubah itu yakni dari ‘merancang hanya untuk proses manufactur’ menjadi unconstrain design’ yang membawa konsekuensi pada optimasi desain algoritmik, co-creation bersama konsumen, material custom yang sesuai dengan permintaan, dan adanya kontrol simulasi.

    Perubahan berikutnya adalah dari ‘produksi massal’ berubah menjadi produksi yang bersifat fleksibel. Hal itu berdampak pada tahapan proses yang lebih sedikit, lead time lebih pendek, kebutuhan tooling dibatasi atau bahkan tidak perlu, pengurangan aset tidak bergeak, dan jumlah batch yang hanya satu buah.

    Perubahan lainnya yakni dari ‘rantai pasok global’ menjadi ‘supply unchained’ yang menyebabkan terjadinya rasio tinggi antara output produksi dengan ruang yang tak terpakai, serta produksi yang terdistribusi.

    Industri pengolahan hasil ternak yang menjadi salah satu penopang penting industri pangan harus pula berbenah dengan perubahan ini. Iken mengingatkan tentang lima teknologi kunci di industri 4.0 ini, yakni teknologi AR dan VR yang mudah digunakan, teknologi robot cerdas, pencetakan dimensi dimensi, teknologi kecerdasan buatan, dan internet of thing. Kelima teknologi itu harus disinergikan sehingga migrasi sebuah industri menuju 4.0 dapat berjalan dengan baik. (livestockreview.com)

     

     

  • Mencetak Butcher yang kompeten dan berdaya saing tinggi

    Profesi butcher di Indonesia belum banyak jumlahnya. Di RPH ada banyak jagal tetapi mereka belum bisa dikatakan sebagai butcher. Pemerintah Indonesia saat ini sedang menggalakkan berbagai pelatihan dan sertifikasi profesi butcher untuk melahirkan butcher-butcher baru yang kompeten dan bersertifikat.

    Atas hal itu, Kementerian Pertanian telah menyusun Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) sektor Pertanian untuk bidang Pemotongan Daging (Butcher). Penyusunan SKKNI bidang Pemotongan Daging (Butcher) bertujuan untuk memberikan acuan baku tentang kriteria standar kompetensi kerja tenaga ahli Pemotong Daging berdasarkan topografi karkas (Butcher) bagi para pemangku kepentingan (stakeholders) dalam rangka mewujudkan Butcher yang profesional dan kompeten.

    ”Kompetensi Kerja mempunyai arti sebagai kemampuan kerja seseorang yang dapat terobservasi, serta mencakup atas pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja seseorang dalam menyelesaikan suatu fungsi dan tugas atau pekerjaan sesuai dengan persyaratan pekerjaan yang ditetapkan," kata Staf Pengajar Fakultas Peternakan IPB Dr Ir Henny Nuraini, MSi dalam Pelatihan Butcher dan Sertifikasi Kompetensi bidang pemotongan daging (butcher) level yunior (SKKNI) yang berlangsung pada tanggal 18- 22 November dan 25- 27 November 2019 di Fakultas Peternakan IPB. Acara yang dilaksanakan dengan berkolaborasi dengan BBPKH Cinaragara tersebut dimulai dengan beberapa materi penting, antara lain tentang penerapan K3, jaminana keamanan dan mutu produk serta higiene, dan kemudian dilanjutkan dengan materi dan praktek mengoperasikan pisau dan kebijakan mutu dari tim BBPKH.

    Henny menjelaskan, berdasarkan peta fungsi, jabatan Butcher diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) level yaitu Junior, Senior, Master. Masing-masing level tersebut mempunyai keterampilan dengan kompetensi berbeda yang sifatnya berjenjang dan harus lulus uji kompetensi pada level sebelumnya.

    Dengan adanya para butcher yang tersertifikasi, maka dapat dihasilkan tenaga-tenaga butcher profesional yang berkompeten, sehingga dapat memiliki daya saing yang tinggi dengan tenaga asing -yang diharapkan peluang kerja untuk profesi Butcher profesional di Indonesia dapat diisi oleh SDM dalam negeri. (majalahinfovet.com)

  • Menilai Kualitas Daging

    Penilaian mutu fisik daging dilakukan pada karkas setelah mengalami proses chilling selama 24 – 48 jam. Penilaian dilakukan dengan seksama pada irisan melintang rusuk ke 12 (musculus longissimmus dorsi) dari setiap karkas bagian kanan.

    Menurut penjelasan Dr Hennny Nuraini dari Departemen Ilmu Produksi & Teknologi Peternakan Fakultas Peternakan IPB dalam sebuah pelatihan tentang penanganan daging yang berkualitas, karkas yang diperiksa tidak boleh ditemukan adanya penyimpangan kualitas daging yang telah distandarkan.

    Pelatihan tersebut diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) di Kampus IPB Darmaga tersebut dilaksanakan di Bogor pada 29-30 April 2019 lalu, dan dilanjutkan dengan kunjungan dan demo praktek pengolahan daging yang sehat dan berkualitas di toko daging di kawasan Kalimalang, Jakarta.

    Lebih jauh Henny menjelaskan, dalam hal penilaian warna daging dapat dilakukan dengan melihat warna permukaan otot mata rusuk dengan bantuan cahaya senter dan mencocokannya dengan standar warna. Nilai skor warna ditentukan berdasarkan skor standar warna yang paling sesuai dengan warna daging. “Standar warna daging terdiri atas 9 skor mulai dari warna merah muda hingga merah tua,” katanya.

    Adapun untuk penilaian warna lemak dapat dilakukan dengan melihat warna lemak subkutis dengan bantuan cahaya senter, dan mencocokkannya dengan standar warna lemak. Nilai skor warna ditentukan berdasarkan skor standar warna yang paling sesuai dengan warna lemak. “Standar warna lemak mulai dari warna putih hingga kuning,” jelas Henny.

    Sedangkan untuk penilaian marbling atau lemak intramusculer, dilakukan dengan melihat intensitas marbling pada permukaan otot mata rusuk dengan bantuan cahaya senter dan mencocokannya dengan standar nilai marbling. Nilai skor marbling ditentukan berdasarkan skor standar marbling yang paling sesuai dengan intensitas marbling otot mata rusuk. “Standar marbling terdiri mulai dari yang praktis tidak ada marbling, hingga yang banyak marbling,” kata Henny.(livestockreview.com)

  • Menjaga Higiene dan Sanitasi Daging

    Untuk menjaga keamanan pangan produk daging, maka program persyaratan dasar keamanan pangan harus selalu diterapkan. Program tersebut dijabarkan dalam Standard Operating Procedures (SOP) atau Prosedur Operasional Baku (POB). Program persyaratan dasar keamanan pangan tersebut pada prinsipnya yakni praktik-praktik dan kondisi yang diperlukan sebelum dan selama pelaksanaan jaminan keamanan pangan yang sangat esensial untuk produksi pangan yang aman.

    Menurut Pengajar FKH IPB Dr Denny W Lukman dalam sebuah pelatihan tentang penanganan daging yang berkualitas, program persyaratan dasar tersebut bersifat wajib dan secara konsisten dijalankan sebelum penerapan sistem jaminan keamanan pangan di unit usaha produksi pangan. Acara yang dilangsungkan di Bogor pada 29 April 2019 tersebut diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) di Kampus IPB Darmaga, dan dilanjutkan dengan kunjungan dan demo praktek pengolahan daging yang sehat dan berkualitas di toko daging di kawasan Kalimalang, Jakarta.

    Lebih lanjut Denny memaparkan, dalam sebuah rantai pangan, setiap tahapan dalam rantai mesti menerapkan good practices atau praktik yang baik dalam rangka penjaminan keamanan pangan dalam sistem rantai pangan. Secara umum, "Good Practices adalah aktivitas jaminan mutu yang menjamin produk pangan dan proses pengolahannya konsisten dan terkendali," tandas Denny.(kulinologi.co.id)

  • Menjaga Kualitas Madu

    Madu merupakan cairan manis alami yang diproduksi lebah madu dari nektar bunga atau sekresi bagian lain dari tanaman atau ekskresi dari insekta pengisap tanaman, yang dikumpulkan lebah, diubah dan dikombinasikan dengan bahan yang spesifik dari lebah untuk kemudian disimpan dan dibiarkan dalam sisiran madu hingga matang. Hal itu merupakan definisi madu menurut Codex Alimentarius Commision. Adapun menurut Standar Nasional Indonesia (SNI), madu merupakan cairan alami yang umumnya mempunyai rasa manis yang dihasilkan oleh lebah madu dari sari bunga tanaman (floral nectar) atau bagian lain dari tanaman (extra floral nectar).

    Hal itu disampaikan oleh Staf Pengajar Fakultas Peternakan IPB Dr. Yuni Cahya Endrawati dalam Pelatihan Manajemen Produksi dan Logistik Lebah Madu Tropika yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) di Kampus Fakultas Peternakan IPB, Kampus Darmaga Bogor pada 8-9 Oktober 2019. Untuk menjaga kualitas madu, maka dua hal utama yang harus diperhatikan adalah kadar air dan cara penyimpanan madu secara benar. Kadar air yang baik untuk madu adalah berkisar 17-22 persen, energi 304 kalori per 100 gram, karbohidrat 75-80%, dan kadar abu 0,2%.

    "Kadar air madu tergantung pada sumber nektar dan lingkungan sekitar koloni, terutama kelembaban dan kondisi penyimpanan," kata Yuni. Ia menambahkan, madu sangat bermanfaat bagi seseorang yang mengonsumsinya karena memiliki beberapa sifat biologis yakni antimikroba, efek farmakologi, dan kandungan nutrisinya. Daya antimikroba madu meningkat dengan adanya Vitamin C dan mineral tertentu seperti Cu, Fe, dan Mn. Hal ini dibuktikan dari kemampuan antimikroba madu honeydew yang lebih tinggi dibanding madu nektar. "Daya antimikroba madu akan menurun bila madu dipanaskan atau terkena cahaya terus menerus,"tandasnya.

    Sifat antimikroba madu ditunjukkan oleh derajat keasamannya yang rendah, yakni 3,9-4,2; kadar gula yang tinggi; adanya hidroksiperoksida dan tekanan osmosis. Hal positif lainnya adalah madu memiliki efek farmakologi, yakni dapat membantu menyembuhkan luka luar maupun beberapa infeksi pernafasan, malfungsi hati, dan masalah pencernaan. "Madu juga mempunyai kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri staphylococcus aureus yang resisten terhadap berbagai jenis antibiotik,"jelas Yuni (foodreview.mediapangan.com)

  • Merawat Pisau Khusus Butcher

    Pisau merupakan alat untuk memotong suatu benda, yang terdiri dari dua bagian utama, yakni bilah pisau dan gagang atau pegangan pisau. Pisau-pisau yang khas untuk memotong atau memproses daging haruslah merupakan pisau yang bermutu tinggi yang mempunyai kekerasan bilah melebihi HRC 53 ke atas.

    "Seorang butcher wajib untuk memiliki pisau bermutu tinggi. Pisau-pisau yang bermutu tinggi tidak murah, tetapi dapat tahan seumur hidup, dan pisau-pisau tersebut berharga untuk diinvestasikan,” kata Elies Lasmini, S.Pt,M.Si, Widyaiswara Ahli Madya Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, Kementerian Pertanian RI dalam Pelatihan Butcher dan Sertifikasi Kompetensi bidang pemotongan daging (butcher) level yunior (SKKNI) yang berlangsung pada 18-22 November dan 25- 27 November 2019 di Fakultas Peternakan IPB Bogor. Pelatihan diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) IPB bekerjasama dengan BBPKH Cinaragara.

    Karena pisau merupakan senjata penting bagi seorang butcher, maka perawatan rutin pisau mutlak harus dilakukan. Elies menandaskan, pada dasarnya perawatan dan pemeliharaan pisau meliputi pencucian atau sanitasi, dan pengasahan pisau untuk mempertahankan ketajamannya.

    Lebih jauh Elies memberi beberapa saran perawatan pisau, yakni setelah dipakai, pisau harus dibersihkan, dikeringkan, dan kemudian dilapisi pelumas untuk selanjutnya disimpan di tempat kering. Demikian juga jika sudah dipegang blade-nya juga harus dibersihkan, karena garam dari keringat dapat menyebabkan pisau berkarat. “Cuci segera pisau setelah digunakan untuk memotong bahan yang mengandung asam. Hal ini bertujuan untuk menjaga wana pisau agar tidak cepat berubah dan berkarat,” kata Elies.

    Pisau juga jangan digunakan untuk mengorek-ngorek bara api, karena bisa mengakibatkan proses tempering atau penurunan dari kekerasan baja pisau, sehingga mudah tumpul. Demikian juga dengan penggunaannya, harus tepat sesuai dengan jenis dan fungsinya. Misalnya pisau tebat untuk menebas, pisau skinner untuk menguliti atau mengupas -tidak untuk dibacokkan ke tulang. “Jadi, gunakan pisau sesuai dengan bentuk, ukuran, ketebalan serta sudut ketajaman pisaunya,” kata Elies sembari menambahkan, jika pisau tidak dipakai dalam jangka waktu lama, setelah dicuci dan dilap kering, oleskan minyak goreng pada pisau tipis-tipis saja, kemudian lap dengan tisu.

    Pada saat disimpan, sebaiknya pisau dibungkus dengan kertas tisu, dan sebelum menggunakan pisau yang telah lama disimpan, bersihkan dulu dengan lap bersih untuk menghindari kontaminasi bakteri dari pisau (livestockreview.com)

  • Peduli Pakan Ternak, Mahasiswa IPB University Tanam 2000 Tanaman Pakan dan Pelatihan Pengawetan Pakan

    Sebanyak 20 mahasiswa Fakultas Peternakan IPB University yang juga sebagai penerima beasiswa Japfa Foundation atau disebut Japfa Foundation Scholarship Club (JFSC) menggelar program pengabdian kepada masyarakat di desa Neglasari, Kecamatan Dramaga, Bogor, tepatnya di Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Neglasari, Sabtu (7/12).
    Dr Moch Sriduresta S, SPt, MSc, dosen Fakultas Peternakan IPB University, menyampaikan bahwa kegiatan pengabdian kepada masyarakat merupakan metode untuk mendekatkan diri agar mahasiswa dapat belajar langsung di lapangan kepada para peternak dari hulu sampai hilir. Tempat pengabdiannya dipilih di Desa Neglasari karena didukung komoditas domba sehingga kita dapat memanfaatkan produk hasil ikutan seperti wool.

    Kegiatan pengabdian yang dilakukan yaitu penanaman 1600 bibit Indigofera dan 400 tanaman odot sebagai sumber pakan ternak. Tanaman indigofera dipilih karena tanaman tersebut merupakan hijauan ternak jenis leguminosa yang berasal dari Papua dan memiliki nutrisi yang tinggi bagi ternak. Kelebihan lain dari tanaman indigofera adalah memiliki produktivitas yang tinggi, mudah ditanam dan dapat bertahan baik dalam kondisi kering maupun basah.
    Sedangkan tanaman odot adalah salah satu varietas rumput gajah (Pennisetum purpureum) yang memiliki keunggulan produksi tinggi, apalagi pada saat musim hujan batang rumput lebih lunak, sehingga daya suka kambing atau domba bertambah. Selain itu kandungan nutrisi yang tinggi seperti protein kasar rumput odot sebesar 12-14% bahkan ada yang mencapai 17%, kemudian tingkat kecernaan juga tinggi yaitu berkisar 65-67%.

  • Pelatihan “Logistik Rantai Dingin pada Produk Daging” 27-28 Agustus 2019

    Pelatihan logistik rantai dingin pada produk daging diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) yang diinisiasi oleh Fakultas Peternakan IPB. Kegiatan ini juga didukung oleh Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia(ARPI). Pelatihan diadakan untuk kedua kalinya di tahun 2019 yang berlangsung selama dua hari pada 27-28 Agustus 2019. Pada hari pertama kegiatan dilaksanakan di Fakultas Peternakan IPB. Kegiatan pelatihan dibuka oleh Prof.Sumiati selaku Plh.Dekan Fakultas Peternakan IPB.

     

     

    Materi pelatihan sesi pertama disampaikan oleh Ibu Irene Natasha selaku Direktur Komersial dan Operasional PT Adib Cold Logistics beserta tim tentang logistik rantai dingi n produk daging di Indonesia. Sesi kedua disampaikan oleh Prof Irma Isnafia selaku Ketua Departemen IPTP Fakultas Peternakan IPB tentang manajemen rantai pasok daging sapi dan unggas. Sesi ketiga disampaikan oleh Bapak Raden Didiet Rachmat Hidayat selaku peneliti dan praktisi ilmu transportasi dan logistik Trisakti tentang penerapan halal logistik pada rantai dingin.

    Pada hari kedua para peserta pelatihan mengunjungi cold storage milik PT Adib Cold Logistics di kawasan Narogong, Bekasi. Kegiatan kunjungan diikuti penuh swmangat dan antusias para peserta dari kalangan bisnis, akademisi, pemerintah dan komunitas peternak dari berbagai wilayah Indonesia, antara lain Medan, Pekanbaru, Indramayu dan Jabodetabek. Kegiatan ini juga didukung oleh media partner Majalah Infovet, Foodreview dan Agropustaka.

  • Pelatihan “Manajemen dan Sistem Penjaminan Mutu RPH Unggas serta Kunjungan ke RPH Unggas PT Ciomas Adisatwa"

    Bogor(18/11), Fakultas Peternakan IPB bekerjasama dengan FLPI menyelenggarakan Pelatihan "Manajemen dan Sistem Penjaminan Mutu RPH Unggas serta Kunjungan ke RPH Unggas PT Ciomas Adisatwa (JAPFA)". Kegiatan berlangsung selama dua hari , mulai tanggal 17-18 Januari 2019.

    Pelatihan hari pertama pada tanggal 17 Januari 2019 dilaksanakan di ruang sidang Fakultas Peternakan IPB. Kegiatan diawali dengan materi "Manajemen RPH Unggas yang Berdayasaing" yang disampaikan oleh Dr.Ir. Niken Ulupi, M.Si ,dosen Departemen Iptp Fapet Ipb. Materi kedua mengenai "Sanitasi Higiene dan Sertifikasi NKV" yang disampaikan oleh drh.Ira Firgorita selaku Kepala Subdit Higiene Sanitasi dan Penerapan, Kesmavet Ditjen PKH. Materi ketiga tentang "Teknik Pemotongan Halal dan Sertifikasi Halal" disampaikan oleh drh.Supratikno,MPaVET dari Halal Science Center IPB. Materi keempat mengenai " Rantai Dingin di RPHU" disampaikan oleh Ir.Hasanuddin Yasni, MM selaku ketua Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI).

    Kegiatan pelatihan kedua pada tanggal 18 Januari 2019 berupa kunjungan ke RPH Unggas PT Ciomas Adisatwa (JAPFA). Peserta pelatihan dibagi dua kelompok secara bergantian untuk memperoleh materi di kelas dan melihat secara langsung praktek terkait manajemen dan sistem penjaminan mutu RPH Unggas di PT Ciomas Adisatwa, Parung-Bogor. Materi didalam ruang kelas disampaikan oleh Galih Gumilar,ST selaku Quality Control Head di RPHU tersebut.

    Kegiatan pelatihan diikuti oleh 14 peserta yang penuh antusias dan semangat. Mereka berasal dari kalangan bisnis ( PT.Cibadak Indah Sari Farm, PT Intan Sinar Abadi, RPA Nusantara, PT Sucofindo), akademisi (STIE Pelita Bangsa), pemerintah (Dinas Peternakan Provinsi NTT, LPPOM MUI Kota Bogor) dan perseorangan. Kegiatan ini terselenggara atas dukungan dan kerjasama yang baik dengan PT Ciomas Adisatwa (JAPFA)-Parung dan media partner antara lain Majalah Poultry Indonesia, Livestockreview.com dan Agropustaka. (flpi-alin.net)

  • Pelatihan Logistik Rantai Dingin pada Produk Daging dan Kunjungan ke Cold Storage

    FLPI bersama Fapet IPB dan Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI) menyelenggarakan Pelatihan Logistik Rantai Dingin pada Produk Daging dan Kunjungan ke Cold Storage. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari pada tanggal 21 -22 Februari 2019.

    Kegiatan hari pertama pada kamis 21 Februari 2019 dilaksanakan di Ruang Sidang Fakultas Peternakan IPB, Kampus Darmaga IPB.Pelatihan dibuka oleh Bapak Dr.Rudi Afnan, SPt, MScAgr selaku Wakil Dekan Fakultas Peternakan IPB. "Pelatihan ini bertujuan untuk membangun kapasitas SDM yang terkait dengan penerapan rantai dingin pada produk daging sapi dan unggas yang diharapkan memberikan edukasi terhadap multistakeholder", jelas Rudi.

    Materi pelatihan diselenggarakan mulai jam 08.30 hingga 15.30 yang terdiri dari empat sesi materi yang masing-masing sesi dilanjutkan dengan diskusi. Pada sesi pertama tentang logistik dan manajemen rantai pasok daging sapi. Materi ini di sampaikan oleh Ibu Prof.Dr.Irma Isnafia Arief, SPt,MSi selaku Ketua Departemen IPTP,Fakultas Peternakan IPB. Sesi kedua tentang logistik dan manajemen rantai pasok daging unggas. Materi ini disampaikan oleh Bapak Sudarno selaku Head Logistics di PT Sierad Produce Indonesia, Tbk. Sesi ketiga tentang Logistik Rantai Dingin Produk Daging di Indonesia baik raw material maupun finished goods nya. Materi ini disampaikan oleh Ibu Irene Natasha selaku General Manager PT Adib Logistics Indonesia menggantikan suami beliau, Bapak Jimmi Krismiadhi yang berhalangan hadir. Sesi keempat tentang logistik halal pada rantai dingin. Materi ini disampaikan oleh Bapak Raden Didiet Rachmat Hidayat, MSi.

    Kegiatan pada hari kedua berupa kunjungan beserta diskusi di PT Adib Cold Logistics Indonesia di Narogong-Bekasi yang merupakan anggota ARPI. Kegiatan kunjungan dibuka oleh Bapak Eki Kurniawan selaku Managing Director PT Adib Logistics Indonesia yang saat ini telah melaksanakan joint ventures menjadi bagian dari keluarga PT Samudera Indonesia dan JWD.

    Kegiatan pelatihan diikuti secara antusias oleh 25 peserta yang berasal dari multistakeholder (akademisi, bisnis, pemerintah dan komunitas) dari berbagai wilayah Indonesia. Kegiatan ini berlangsung lancar juga atas dukungan kerjasama dengan majalah Infovet, Food Review Indonesia dan Agropustaka.id selaku media partner. (flpi-alin.net)

  • Pelatihan Manajemen Produksi dan Logistik Lebah Madu Tropika

    Bogor-FLPI yang diinisiasi oleh Fakultas Peternakan IPB mengadakan pelatihan manajemen produksi dan logistik lebah madu tropika pada tanggal 08-09 Oktober 2019. Kegiatan pelatihan dilaksanakan atas kerjasama FLPI dengan Tim Divisi NRSH Depertemen IPTP,Fakultas Peternakan IPB.

    Kegiatan pelatihan dibuka oleh Prof Luki Abdullah, MScAgr selaku Chairman FLPI. Hari pertama pelatihan dilaksanakan di Ruang Sidang Departemen Iptp Fapet Ipb berupa penyampaian materi dari 5 orang pakar dari akademisi, praktisi dan komunitas peternak. Prof Asnath M Fuah dari Departemen Iptp Fapet Ipb menyampaikan materi tentang potensi dan prospek lebah madu di Indonesia yang masih terbuka luas. Drs. Kuntadi, MSc dari Asosiasi Perlebahan Indonesia menyampaikan materi tentang teori dan praktek perlebahan di Indonesia. Prof. Dr. Ir. Mochammad Junus, MS dari Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya menyampaikan materi tentang Logistik Lebah Madu di Indonesia.

    Para peserta juga mendapatkan penjelasan tentang karakteristik madu dan praktek menguji kualitas madu. Materi ini disampaikan oleh Dr.Yuni Cahya Endrawati dari Fakultas Peternakan IPB. Analisis bisnis produk lebah madu disampaikan oleh Eureka Indra Zatnika, SPt sebagai alumni Fakultas Peternakan IPB yang saat ini menjadi peternak madu.

    Pada hari kedua pelatihan dilaksanakan di Peternakan Madu Pak Lebah milik Eureka Indra Zatnika, SPt. Peserta mendapatkan pengalaman praktek cara panen madu dan budidaya lebah madu. Para peserta yang berasal dari akademisi, bisnis dan komunitas dari berbagai wilayah nusantara sangat antusias untuk mempraktekkan ternak lebah. Salah satu peserta dari Jayapura setelah mengikuti pelatihan ini sangat berminat untuk mulai praktek berternak lebah madu Meiliferra di Jayapura. Kegiatan ini juga didukung oleh majalah Infovet, Foodreview Indonesia dan agropustaka.id sebagai media partner.

  • Pelatihan Penanganan Daging yang Sehat dan Berkualitas

    Pelatihan Penanganan Daging yang Sehat dan Berkualitas dilaksanakan selama dua hari atas kerjasama FLPI-Fapet IPB-Chef Halal Indonesia- Toko Daging Joinhed. Kegiatan hari pertama pada tgl 29 April 2019 dilaksanakan di Ruang Sidang Fapet IPB. Kegiatan pelatihan dibuka langsung oleh Dr.Rudi Afnan, S.Pt, MSc.Agr selaku Wakil Dekan Fakultas Peternakan IPB. Sesi pertama pelatihan disampaikan oleh Dr.drh.Denny Widaya Lukman, M.Si tentang sanitasi dan higiene daging beku dan segar. Sesi kedua pelatihan disampaikan oleh Dr.Ir.Henny Nuraini, MSi tentang metode penanganan daging dan teknik klasifikasi pemotongan daging.

    Pada hari kedua pelatihan tanggal 30 April 2019 dilaksanakan kunjungan ke Toko Daging Joinhed (Kalimalang, Jakarta). Kegiatan kunjungan difasilitasi oleh tim Bapak Achmad Hadi selaku pemilik Toko Daging Joinhed. Selain kunjungan, demo cooking halal juga dilaksanakan oleh Chef Halal Indonesia di Toko Daging Joinhed. Teknik pengolahan daging dengan berbagai jenis kualitas daging disampaikan oleh Chef R.Muhammad Suherman selaku Ketua Chef Halal Indonesia.

    Pelatihan diikuti oleh sejumlah peserta multistakeholder antara lain berasal dari RPH Pegirian Surabaya, Universitas Jambi, PT Cianjur Artamakmur, PT Maradeka Karya Semesta, Toko Daging Sedulur 99 Indramayu, PPHNak Ditjen PKH Kementan, PD Dharma Jaya, UD Prima Bro dan perorangan lainnya.

    "Praktek pengolahan daging dan konsep Toko Daging Joinhed yang dipadukan dengan restoran Jepang menjadi inspirasi bagi pengembangan bisnis toko daging kami ke depan", jelas drh.Evia Kirana selaku peserta pelatihan.
    Kegiatan diikuti penuh antusias oleh para peserta. "Bagi saya, dua hari pelatihan ini sangat banyak memberikan ilmu dan pengetahuan baru yang akan saya share ke para mahasiswa", jelas Ibu Dr.Sri Ernita dosen Universitas Jambi salah satu peserta pelatihan. Kegiatan ini juga didukung media partner Majalah Poultry, livestockreview.com, Agro Pustaka

  • Pemkab Sigi Gandeng LPPM IPB University Deklarasikan Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) Anutapura

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University bekerjasama dengan Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah Deklarasikan Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) Anutapura, di Kabupaten Sigi di Desa Walatana Kecamatan Dolo Selatan, Agustus lalu. Deklarasi ini dihadiri oleh Asisten bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Sigi, Iskandar Nongtji, ST, MM. Hadir juga tim LPPM IPB University, Ketua SPR IPB University, Prof  Muladno, Dr Chusnul Choliq, MS, MM dan Danang Aria Nugroho, SE selaku Manager Program Pengabdian kepada Masyarakat IPB University.

     Wakil Kepala LPPM Bidang Pengabdian kepada Masyarakat, Prof Sugeng Heri Suseno mengatakan bahwa deklarasi SPR di Anutapura merupakan salah satu rangkaian kegiatan yang sangat penting dalam menumbuhkembangkan model peningkatan Sumberdaya Manusia (SDM) Peternakan melalui kegiatan SPR di Kabupaten Sigi. Menurutnya, IPB University siap melayani 24 jam untuk para peternak yang sudah dilantik menjadi anggota SPR.  
     
    “Harapannya peternakan yang tergabung dalam SPR dapat memelihara dan mengembangkan ternaknya menjadi ternak yang gemuk. IPB University mengucapkan terima kasih kepada Pemda Sigi, karena dengan adanya deklarasi SPR ini para peternak menjadi bagian dari keluarga IPB University,” ujarnya.
     
    Sementara itu, Iskandar Nongtji menyampaikan bahwa Pemda membina dan memfasilitasi peternak dengan memberikan bantuan ternak. Inovasi ini merupakan salah satu program terobosan pemerintah daerah yang bertujuan sebagai upaya pengentasan kemiskinan di sektor peternakan dimana sejak tahun 2017 telah memberikan Hibah Bansos ternak kepada kelompok-kelompok tani ternak sebanyak 1000 ekor ternak setiap tahun. Ternak yang diberikan terdiri dari ternak sapi sebanyak 500 ekor, kambing 300 ekor dan babi 200 ekor,” ujarnya.
     
    Harapannya, dengan kegiatan Deklarasi SPR ini dapat menjadi tonggak sejarah kebangkitan peternakan rakyat di Kabupaten Sigi. SPR Anutapura memiliki motto “Mosangu Kita Mombangun Kabelota Singgani”, sehingga peternak dapat manfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk menimba ilmu dan menyerap pengetahuan mengenai cara budidaya ternak dengan baik dari para pakar-pakar yang ahli di bidang pengolahan dan manajemen peternakan.

    Pada kesempatan tersebut Pemda Kabupaten Sigi menerima bantuan dana peduli bencana sebesar 50 juta rupiah dari LPPM IPB University (ipb.ac.id)

  • Pentingnya Efisiensi Logistik Pakan

    Produksi jagung untuk pakan di Indonesia telah meningkat secara nyata dalam kurun 25 tahun terakhir. Pada 1993 produksi jagung hanya 6,36 juta ton, pada 2018 tercatat produksinya telah mencapai 30,06 juta ton. Produksi sebanyak itu secara relatif telah terjadi pergeseran wilayah produksi, dimana pada 1993 Pulau Jawa berkontribusi 62% terhadap total produksi jagung, dan pada 2018 menurun menjadi 41%. Hal itu merupakan dampak dari pengembangan sentra produksi jagung baru, terutama di lahan areal di luar Pulau Jawa.

    Hal itu disampaikan oleh Diner Y.E Saragih, Kasubdit Bahan Pakan, Direktorat Pakan, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan dalam sebuah pelatihan tentang manajemen logistik pakan yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI) di Kampus IPB Darmaga, Kabupaten Bogor, pada 26-27 Maret 2019. Diner menambahkan, pada sisi lain, pabrik pakan sebagai pengguna jagung ternyata masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Hal itu membawa konsekuensi perlunya penerapan secara ketat manajemen logistik yang baik untuk dapat meningkatkan efisiensi produksi pakan, sehingga memiliki daya saing yang baik di pasar.

    Dalam hal logistik ini, efisiensinya diukur dengan logistics performance index (LPI), dimana untuk wilayah Asean, Indonesia menempati peringkat 5 di bawah Singapura, Thailand, Vietnam dan Malaysia. Diner menjelaskan, LPI merupakan indeks kinerja logistik negara-negara di dunia yang dirilis oleh Bank Dunia setiap dua tahun sekali. Saat ini terdapat 160 negara yang masuk dalam penilaian tersebut.

    Untuk dapat meningkatkan performa sistem logistik nasional, perlu dilakukan pembenahan dalam hal efisiensi bea cukai, kualitas infrastruktur perdagangan dan transportasi, kemudahan pengaturan pengiriman internasional dengan harga bersaing, peningkatan kompetensi dan kualitas jasa logistik, serta frekuensi pengiriman yang tepat waktu. (poultryindonesia.com)

  • Perlu Upaya Ekstra untuk Memanfaatkan Limbah Pertanian sebagai Pakan Ternak

    Berdasarkan hasil penelitian Prof. Erika B Laconi, Guru Besar Tetap Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan tim, limbah pertanian dan perkebunan memiliki faktor pembatas jika dijadikan sebagai pakan ternak. Yaitu komponen lignoselulosa yang sulit dicerna dalam saluran pencernaan ruminansia dan menyebabkan produktivitas hewan rendah. Oleh karena itu, penting untuk melakukan teknik pengolahan tertentu pada limbah untuk meningkatkan kualitas nutrisi dan pada gilirannya akan berkontribusi pada peningkatan produktivitas hewan. Teknik pengolahan untuk limbah pertanian dan perkebunan sendiri terdiri dari teknik fisik, kimia dan biologi. 

    Salah satu riset mahasiswa program doktoral IPB, Sari Putri Dewi, berjudul Increasing the Quality of Agricultural and Plantation Residues Using Combination of Fiber Cracking Technology and Urea for Ruminant Feeds ini terungkap bahwa teknologi yang bernama Fiber Cracking Technology (FCT) mampu menurunkan fraksi serat dan meningkatkan kecernaan pada ternak ruminansia. 

    Menurut lulusan Terbaik Doktor pada wisuda Januari 2019 ini, penurunan fraksi serat ditunjukkan dari kerusakan ikatan lignoselulosa jelas terbukti pada metode Scanning Electron Microscopy (SEM), X-Ray Difraction (XRD) dan metode spektroskopi Fourier Transform Infrared (FTIR). 

    Sari dan tim pembimbing yang terdiri dari Dr. Anuraga  Jayanegara,  Dr. M. Ridla, Prof. Erika B Laconi ini membuat inovasi baru berupa teknologi FCT. Alat ini berguna untuk memecah serat pada bahan berserat tinggi yang biasanya terdapat dalam produk hasil ikutan pertanian dan perkebunan. Seperti jerami padi, pelepah sawit, tandan kosong sawit, kulit buah kakao, kulit kopi, jerami jagung klobot jagung, tongkol jagung, pucuk tebu dan ampas tebu. 

    “Eksperimen ini bertujuan untuk mengevaluasi efek teknologi FCT dan penambahan urea pada nilai gizi jerami padi, daun kelapa sawit, tandan kosong kelapa sawit, kakao dan sekam kopi,” ujarnya. 

    Dalam penelitian sebelumnya telah diketahui bahwa kombinasi antara suhu tinggi, tekanan tinggi dan urea telah terbukti meningkatkan nilai gizi jerami padi dan tandan kosong kelapa sawit. Urea lebih disukai daripada amonia karena aman, mudah digunakan dan mudah diperoleh. 

    “Eksperimen ini adalah kelanjutan dari studi sebelumnya untuk menjelaskan mekanisme lebih dalam mengenai peningkatan nilai gizi limbah pertanian dan perkebunan menggunakan kombinasi suhu tinggi, tekanan tinggi dan urea. Berdasarkan hasil penelitian dalam disertasi saya, saya yakin inovasi ini akan berguna bagi masyarakat bahwa hasil ikutan (by-product) pertanian dan perkebunan dapat digunakan sebagai pakan alternatif bagi ternak ruminansia,” imbuhnya. (ipb.ac.id)

Page 2 of 3

Tips & Kegiatan Selama WFH