IPBSDG2

  • Prinsip Memperpanjang Umur Simpan Daging Sapi

    Daging adalah otot yang telah mengalami konversi menjadi daging, merupakan bagian dari karkas sapi yang sehat, disembelih secara halal dan benar serta lazim, aman dan layak dikonsumsi oleh manusia. Sebagai salah satu bahan makanan bernilai gizi tinggi baik bagi manusia maupun mikroorganisme, daging menjadi bahan makanan yang mudah rusak, sehingga untuk dapat memperpanjang umur simpang daging, harus diterapkan sistem rantai dingin selama produksi, penyimpanan dan transportasi/distribusi daging dan produk olahannya. Hal itu dimaksudkan, untuk mencegah atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme dan menghambat aktivitas enzim pada daging.

    Sistem rantai dingin dapat dilakukan dengan penyimpanan dingin dan penyimpanan beku. “Ruang pendinginan merupakan tempat untuk menyimpan atau mendinginkan pangan segar dengan suhu antara 0°C hingga dengan -1°C dan kelembaban 90–95%. Adapun ruang pembekuan merupakan tempat penyimpanan pangan beku dengan suhu dengan suhu antara -18°C sampai -25°C dan kelembaban 95 – 98%,” kata Elies Lasmini, S.Pt,M.Si, Widyaiswara Ahli Madya Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, Kementerian Pertanian RI dalam Pelatihan Butcher dan Sertifikasi Kompetensi bidang pemotongan daging (butcher) level yunior (SKKNI) yang diselenggarakan oleh FLPI IPB dan BBPKH Cinaragara, dan berlangsung pada 18-22 November dan 25- 27 November 2019 di Fakultas Peternakan IPB Bogor.

    Dalam penyimpanan dingin daging sapi, Elies memberi petunjuk praktis tata cara penangannya, yakni daging segar yang tidak akan digunakan lagi dibungkus menggunakan plastik film, yang berfungsi agar permukaan daging tidak keras karena temperatur yang rendah. Setelah itu, masuk ke dalam refrigerator atau chiller, dan ditempatkan pada bagian yang paling dingin. Prinsip first in first out (FIFO) harus diterapkan, sehingga penulisan tanggal daging masuk harus ada.

    Sedangkan untuk persyaratan memperoleh daging beku yang baik, Elies memaparkan, daging segar harus berasal dari ternak yang sehat, pengeluaran darah pada saat pemotongan harus sesempurna mungkin, periode pelayuan harus dibatasi, karkas atau daging dibungkus mengunakan material yang berkualitas baik, dan temperatur pembekuan setidak-tidaknya -18ºC atau lebih rendah. (kulinologi.co.id)

  • PROSPEK AGRIBISNIS LEBAH MADU

    Indonesia memiliki kekayaan alam dan potensi besar untuk pengembangan usaha perlebahan. Sebanyak 6 dari 7 spesies lebah madu di dunia ada di Indonesia, dan sebagian sudah dimanfaatkan masyarakat baik untuk panen madu maupun lilin. Dengan luas daratan Indonesia sekitar 200 juta hektar, 40% di antaranya berpotensi menghasilkan pakan lebah (bee forage). "Dari total areal tersebut dapat menghasilkan sekitar 80.000-200.000 ton dalam setahun," kata Guru Besar Fakultas Peternakan IPB Prof Dr Asnath M Fuah dalam sebuah pelatihan tentang Manajemen Produksi dan Logistik Lebah Madu Tropika yang diselenggarakan Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) di Kampus Fakultas Peternakan IPB, Kampus Darmaga Bogor pada 8-9 Oktober 2019.

    Potensi pengembangan bisnis madu di Indonesia sangat prospektif. Asnath memaparkan, jika dibandingkan dengan negara lain, konsumsi madu di Indonesia masih sangat rendah. Konsumsi madu masyarakat Jepang mencapai 200-300 gram/kapita/tahun atau paling tinggi di negara-negara Asia. Di Eropa, terutama Swiss dan Jerman konsumsinya lebih tinggi, yaitu 800-1500 gram/kapita/tahun. "Di Inggris, Amerika Serikat, dan Perancis konsumsi madu bahkan telah mencapai 1000 -1600 gram/kapita/tahun," katanya.

    Bandingkan dengan konsumsi madu di Indonesia yang baru mencapai 10-15 gram/kapita/tahun. Penyebab rendahnya konsumsi madu Indonesia antara lain yakni madu hanya dikonsumsi sebagai suplemen; harga madu asli relatif mahal, daya beli kurang, dan rendahnya pengetahuan tentang madu.

    Potensi besar budidaya ternak lebah juga ditunjukkan oleh data dari Asosiasi Perlebahan Indonesia (API) yang akngka konsumsi madu Indonesia berkisar 7.000 - 15.000 ton per tahun. Padahal, produksi madu lokal Indonesia saat ini baru mencapai 4.000 - 5.000 ton per tahun, yang berarti Indonesia kekurangan produksi madu lokal sebanyak 3.500-11.000 ton/tahun. "Terjadi gap antara suplai dan demand madu," kata Asnath.

    Adapun potensi jenis lebah madu yang prospektif untuk dibudidayakan di Indonesia antara lain yakni lebah hutan Apis dorsata, lebah lokal Apis cerana, lebah impor Apis mellifera, dan lebah lokal Trigona. Prospek bisnis ternak lebah tidak hanya madu saja, namun juga produk ikutan lain bee pollen, royal jelly, propolis, sengat lebah, lilin lebah, ratu lebah, koloni lebah, dan peralatan budidaya lebah.

    Ruang lingkup agribisnis lebah madu juga terbentang luas, mulai dari potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, sarana prasarana, modal usaha, penerapan teknologi panen dan pasca panen, produk hulu-hilir yang dihasilkan, logistik dan supply chainproduk lebah. Potensi besar agribisnis lebah madu ini harus dimanfaatkan secara optmimal sehingga Indonesia diharapkan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat akan madu dan produk ikutannya yang terus meningkat dari tahun ke tahun. (majalahinfovet.com)

  • Rektor IPB Paparkan Tani Center di Depan Ilmuwan Peternakan Indonesia

    Tani Center Institut Pertanian Bogor (IPB) adalah unit baru yang dibangun untuk membantu para petani dalam memecahkan persoalan pertanian dalam arti luas. Tani Center IPB didirikan agar mendekatkan para petani, peternak, pembudaya ikan dan stakeholder lainnya, agar informasi dari IPB dapat terhubung dengan baik dan langsung dirasakan manfaatnya untuk kepentingan dan kesejahteraan para petani secara menyeluruh. Hal ini disampaikan Rektor IPB, Dr. Arif Satria saat memberikan sambutan dalam Seminar Nasional Peternakan Era Industri 4.0 Menuju Peternak Berdaulat dan  Kongres ke-3 HILPI, di IPB International Convention Center (IICC), Bogor (11/1).

    Rektor menegaskan bahwa program Tani Center ini berada di bawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB. “Teknisnya nanti petani, peternak, nelayan perikanan tangkap maupun budidaya dapat datang ke Tani Center IPB untuk mendapatkan informasi serta konsultasi gratis kepada para pakar terkait usaha pertanian yang dijalankannya,” imbuhnya.

    Selain itu, menanggapi konsep peternakan di era revolusi industri 4.0, Dr. Arif mengatakan peternakan 4.0 merupakan konsekuensi dari hadirnya revolusi industri yang menuntut semua pihak untuk menyesuaikan perkembangan peternakan dengan teknologi.

    “Seminar ini sangat penting sekali dalam rangka IPB untuk berkontribusi pada peternak dan masyarakat, karena IPB mempunyai visi untuk menghasilkan technosociopreneur,”ujarnya.

    Dalam seminar yang digelar oleh LPPM IPB dan Himpunan Ilmuwan Peternakan Indonesia (HILPI) ini juga membahas peran Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) dalam melatih masyarakat agar memiliki kemampuan tinggi dalam beternak. Ketua SPR LPPM IPB sekaligus Ketua Umum HILPI, Prof. Muladno menyampaikan bahwa LPPM IPB ingin menularkan konsep SPR IPB ini kepada perguruan tinggi lain.

    “SPR sudah diakui oleh banyak pihak bahwa SPR benar-benar memberikan manfaat pada peternak. Jadi kalau IPB jalan sendiri untuk mengembangkan SPR, itu tidak bagus. Sehingga IPB ingin merangkul seluruh perguruan tinggi yang ada di Indonesia untuk bahu-membahu mengembangkan SPR IPB ini ke peternak di Indonesia, karena jumlah peternak yang ada sekarang jutaan. Jadi intinya, IPB ingin menularkan konsep SPR dengan baik ke semua perguruan tinggi,” tuturnya.

    Ia menambahkan, peternak di era revolusi industri 4.0 harus diajari cara mendata ternakmya dengan baik. Untuk itu, peran SPR sangat membantu bagi peternak. Mereka berhimpun dalam wadah yang satu, managernya juga satu semua dikelola dalam satu data base, sehingga data itu dapat bermanfaat untuk kepentingan semua. “Jadi untuk bisa ke era industri 4.0, semua peternak yang ada harus “berjamaah”  dalam artian peternak harus satu wadah kesatuan yang kelompok dan utuh yaitu SPR,” tandasnya. (ipb.ac.id)

  • Saatnya Terapkan Sistem Cold Chain untuk Daging Berkualitas

    Produk hewan merupakan salah satu sumber pangan yang kaya akan protein yang dibutuhkan untuk membangun masyarakat yang sehat dan cerdas. “Namun demikian, produk pangan asal hewan merupakan salah satu produk yang dikategorikan sebagai produk yang mudah rusak dan berpotensi membawa bahaya bagi kesehatan konsumen. Oleh karena itu harus diperhatikan penanganan kesehatan daging mulai dari hulu sampai ke hilir melalui rantai suplai yang cukup panjang dengan  baik, sehat dan berkualitas,” kata Wakil Dekan Bidang Sumberdaya, Kerjasama dan Pengembangan, Fakultas Peternakan  Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Rudy Afnan.

    Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) bekerjasama dengan Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan  Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI) mengadakan pelatihan dengan tema "Logistik Rantai Dingin pada Daging  dan  Kunjungan ke Cold Storage”, Kamis-Jum’at (21-22/2) di Kampus IPB Dramaga, Bogor.

    Lebih lanjut Dr. Rudy menyampaikan, tujuan kegiatan ini adalah sebagai bentuk edukasi dan sosialisasi dalam penanganan daging beku yang sehat dan berkualitas, sehingga diperlukan pelatihan atau sosialisasi tentang  cara dan langkah  penerapan rantai dingin pada daging beku serta prospek usahanya bagi para pemangku kepentingan yang berminat. Maka produk pangan asal hewan selain harus dipikirkan ketersediaanya, juga harus ditangani dengan baik untuk dapat menjadi bermanfaat dan terjamin sehat dan aman untuk dikonsumsi.
     
    Dr. Rudy menambahkan, kemampuan pengelolaan cold chain diperlukan untuk menghindari kerugian yang tinggi akibat kerusakan produk hasil ternak, serta untuk mempertahankan mutu produk yang semakin menjadi tuntutan dalam era globalisasi. “Salah satu sarana penyimpanan yang harus tersedia untuk menjaga mutu komoditas perishable adalah cold storage. Sistem cold chain ini juga mampu menjaga supply daging sepanjang tahun ketika angka produksi relatif stabil dan dapat diprediksi. Jika produksi berlebih, surplusnya dapat disimpan beku dan dikeluarkan saat permintaan meningkat,” kata Dr. Rudy.
     
    Harapannya dengan pelatihan ini dapat meningkatkan kemampuan pengelolaan cold chain atau rantai daging pada produk daging sehingga menghasilkan  daging beku yang sehat dan berkualitas bagi kepentingan konsemen.
     
    Sementara narasumber dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP) Fapet IPB,  Prof. Dr. Irma Isnafia Arief menjelaskan mengenai supply chain produk daging sapi. Daging bukan hanya komoditas pertanian yang punya nilai ekonomi, melainkan juga esensial bagi pemenuhan kebutuhan gizi rakyat Indonesia, terutama generasi muda bangsa. Namun, kepedulian konsumen akan kesehatan daging masih belum terbangun dengan baik dan benar. Daging sehat adalah daging yang berasal dari pola budidaya ternak yang sehat, tidak mencemari lingkungan, dan disembelih secara manusiawi.

  • Sistem Rantai Dingin di Indonesia Semakin Berkembang

    Sistem rantai dingin merupakan penerapan suhu dingin selama produksi, penyimpanan dan distribusi daging dan produk olahan dengan penyimpanan di bawah suhu 4 derajad celcius. Potensi peningkatan kebutuhan cold chain atau rantai dingin di Indonesia sangat besar.

    Mengutip laporan dari International Trading Administration (ITA), Pimpinan PT Adib Cold Logistics Indonesia Irene Natasha memaparkan terdapat potensi kebutuhan akan sistem rantai dingin di Indonesia, terutama di industri farmasi, produk pertanian, produk unggas dan daging sapi, serta bidang perikanan. 

    Hal tersebut diuraikan Irene dalam dalam sebuah pelatihan tentang manajemen rantai dingin produk daging yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) di Kampus IPB Darmaga Bogor pada 21 Februari lalu. 

    Irene menjelaskan, di industri farmasi, perputaran ekonomi di bisnis tersebut mencapai 6 milyar dollar AS pada 2015, dan penjualan produk farmasi diperkirakan mencapai 9,7 dollar AS pada 2020. Untuk pasar produk pertanian di Indonesia, pertumbuhannya diperkirakan mencapai 200 dollar AS pada 2020. Adapun unggas dan daging sapi, akan meningkat pertumbuhannya sebesar 3-5% per tahun hingga 2020, sementara konsumsinya tumbuh mencapai 4-6% per tahun. (agropustaka.id)

     

  • Strategi Triple Helix Dukung Komersialisasi Telur Omega 3

    Peneliti IPB University, Prof Iman Rahayu HS dan Dr Komari menciptakan telur omega 3-IPB yang memiliki kandungan asam lemak omega 3 yang lebih tinggi dibanding telur biasa. Telur ini mengandung Docosahexaenoic acid (DHA), Eicosapentaenoic acid (EPA) dan asam lemak omega 3 lainnya yang sangat baik bagi kesehatan tubuh terutama untuk perkembangan otak balita dan pencegahan penyakit degeneratif manula. “Telur ini diharapkan dapat memberikan peluang peningkatan kualitas gizi masyarakat. Sebab, telur merupakan salah satu sumber protein yang digemari masyarakat. Harganya yang relatif murah serta mudah didapat menjadi alasannya, baik sebagai lauk pauk maupun bahan olahan pangan lainnya,” papar Prof Iman.

    Menurut Prof Iman, telur omega 3-IPB merupakan telur yang berasal dari ayam petelur yang diberikan tambahan pakan berupa suplemen omega-3. Penambahan suplemen tersebut terbukti dapat meningkatkan kandungan DHA hingga sepuluh kali lipat dan EPA 2,4 kali lipat lebih tinggi dari telur biasa, serta kandungan kolesterolnya 50 persen lebih rendah. “Suplemen yang ditambahkan berasal dari limbah industri perikanan. Yaitu minyak ikan hasil limbah industri ikan lemuru serta hasil fermentasi dari ampas tahu. Hal ini  mengurangi pencemaran lingkungan dan mengurangi biaya produksi,” kata Prof Iman.

    Lanjut Guru Besar IPB University ini, dalam pengembangan telur omega 3-IPB ini perlu dukungan dan kerjasama berbagai pihak yang terangkum dalam konsep triple helix. Konsep ini mempertemukan pihak akademisi, industri dan pemerintah. Dalam konsep tersebut kontribusi dari pihak-pihak yang terkait akan menghasilkan suatu kolaborasi yang dapat membuat produk dapat dikenal oleh masyarakat luas. Ketiga pihak yang berperan dalam konsep ini harus selalu bergerak melakukan sirkulasi serta saling berintegrasi demi tercapainya tujuan bersama. 

    “Dari konsep triple helix ini dilakukan komersialisasi telur omega 3-IPB. Komersialisasi telur omega 3-IPB skala kecil dimulai dengan skim Satuan Usaha Akademik dari Direktorat Bisnis dan Kemitraan IPB pada tahun 2009, lalu berlanjut sampai telur omega-3-IPB dijual di gerai Serambi Botani. Selain itu, masyarakat dapat membeli telur omega 3-IPB langsung di Fakultas Peternakan,” jelas dosen IPB University ini.

    Agar produk dapat menyebar lebih luas, pada tahun 2013 diadakan hubungan kemitraan dengan distributor telur CV Tirta Super Telur (TST) dalam bentuk joint venture. Kerja sama tersebut berhasil mengkomersialisasikan telur kaya DHA hingga 4.000 butir per minggu dengan populasi ayam yang dipelihara sekitar 750 ekor. Namun, Pada tahun 2018-2019 hasil penjualan menunjukkan penurunan total penerimaan dikarenakan kebijakan produsen untuk mengurangi populasi ayam akibat jenuhnya pasar, sehingga akan dilakukan evaluasi keseluruhan dari aspek produksi, pengemasan produk, pengembangan strategi pemasaran secara online/e-sale, serta pembenahan manajemen pengelolaan.

    Pemerintah juga punya peran penting dalam pengembangan telur omega 3-IPB ini. Salah satunya melalui pendanaan program Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) selama tiga tahun (2017-2019).  “Komitmen dan kerja sama dari ketiga pihak dalam konsep triple helix sangat berperan dalam pengembangan produk inovasi telur omega 3 ini. Ketiga pihak tesebut harus tetap bersinergi agar produk inovasi yang telah dikembangkan hingga saat ini dapat terus dikomersilkan dan juga dapat diproduksi oleh peternak lain. Serta, agar manfaat produk ini dapat terus dirasakan oleh masyrakat, terutama dalam meningkatkan gizi masyarakat sebagai pangan fungsional,” jelasnya. (ipb.ac.id)

  • Terapkan Higiene dan Sanitasi dalam Pengolahan pangan Asal Hewan

    Pangan asal hewan memiliki keunggulan antara lain bernilai gizi tinggi, yakni adanya protein (asam amino esensial), lemak, vitamin, mineral dan karbohidrat. Namun di sisi lain, bahan pangan tersebut mudah busuk, rentan rusak, dan berpotensi berbahaya bagi. Untuk menekan munculnya risiko berbahaya, maka penanganan pangan asal hewan sebaiknya dilakukan dengan penerapan good hygiene practices (GHP), penerapan sistem rantai dingin cold chain system, dan penerapan jaminan keamanan pangan – yang implementasinya dapat berupa NKV, sistem Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP), atau ISO 22000:2018.

    Hal itu dijelaskan oleh Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Syamsul Maarif dalam Pelatihan Manajemen dan Sistem Penjaminan mutu Ruminansia yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) di Bogor pada 15 Juli 2019 di Kampus IPB Darmaga, Bogor. Kegiatan tersebut berlangsung dua hari, dengan acara hari ke-2 adalah kunjungan ke RPH Pramana Pangan Utama.

    Dalam proses produksi pangan asal hewan sejak dari kandang hingga ke meja makan harus selalu menjaga higiene dan sanitasi. Samsul menjelaskan, higiene pada prinsipnya merupakan seluruh tindakan untuk mencegah atau mengurangi kejadian penyakit yang merugikan kesehatan. Adapun sanitasi yakni upaya menciptakan segala sesuatu yang higienis dan kondisi yang menyehatkan. “Higiene menyangkut pangan dan personal yang menangani produk pangan asal hewan, sedangkan sanitasi menyangkut tentang lingkungan sekitar pangan,” jelas Syamsul.

    Aspek higiene dan sanitasi ini merupakan aspek penting dalam penilaian pemberian nomor kontrol veteriner (NKV). Pemberian NKV dimaksudkan sebagai upaya penjaminan pangan yang aman sehat utuh dan halal, meningkatkan daya saing produk serta perluasan pasar, dan untuk kemudahan dalam penelusuran produk pangan asal hewan. (agropustaka.id)

  • Titik Kritis Sistem Rantai Dingin Produk Beku

    Logistik rantai dingin merupakan bagian dari rantai pasok yang bertujuan untuk menjaga suhu agar produk tetap terjaga selama proses pengumpulan, pengolahan, dan distribusi ke tangan konsumen. Adapun Manajemen rantai pendingin, dapat diartikan sebagai pengelolaan seluruh aktivitas rantai pendingin yang dianalisis, diukur, dikontrol, didokumentasikan, dan divalidasi agar berjalan secara efektif dan efisien baik secara teknis dan ekonomis.

    Hal itu disampaikan oleh Irene Natasha, Pimpinan PT Adib Cold Logistics Indonesia Irene Natasha dalam Pelatihan Logistik Rantai Dingin pada Produk Daging di Kampus Fakultas Peternakan IPB Darmaga Bogor (27/8). Pelatihan yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) selama dua hari tersebut juga dilangsungkan kunjungan ke PT Adib Cold Logistics di kawasan Narogong, Bekasi.

     

    Ia mengingatkan tentang empat tahap kritis yang harus dicermati dalam sistem rantai pendingin produk beku, yakni penanganan pada proses awal, penyimpanan dan pengolahan saat tiba di darat, penanganan saat transportasi ke lokasi tujuan, hingga penanganan saat bongkar muat dan sistem distribusi ke konsumen. Khusus untuk transportasi, hal ini perlu digarisbawahi mengingat kondisi medan di Indonesia yang kadangkala sulit diprediksi. “Distribusi merupakan kegiatan dalam supply chain untuk memastikan suatu barang yang diproduksi akan sampai ke pada customer,” kata Irene. Adapun tujuan distribusi yakni memastikan suatu produk bisa sampai ke customer sesuai dengan misi logistik, memastikan penyebaran produk dengan merata, meningkatkan nilai guna suatu produk, dan meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil produksi suatu perusahaan.

    Dalam sistem logistik, transportasi berperan dalam perencanaan, penjadwalan, dan pengendalian aktivitas yang berkaitan dengan moda, vendor, dan pemindahan persediaan masuk dan keluar suatu organisasi. Daging sebagai produk yang mudah rusak dalam proses pendistribusiannya harus menggunakan truk berpendingin. “Truk berpendingin sudah menjadi kebutuhan umum guna mentransportasikan bahan makanan melalui jarak yang cukup jauh. Selain meminimalkan atau meniadakan pertumbuhan mikroorganisme, pendinginan yang dihasilkan oleh teknologi refrigerasi juga diperlukan untuk mencegah terjadinya reaksi kimiawi/biologis yang bisa merusak kondisi suatu zat,” tandas Irene. (agropustaka.id)

  • Workshop Penerapan Teknologi 4.0 rantai pasok industri olahan hasil ternak

    FLPI bekerjasama dengan Fapet IPB dan Asosiasi Industri Pengolahan Daging Indonesia (NAMPA Indonesia) melaksanakan kegiatan workshop Penerapan Teknologi 4.0 rantai pasok industri olahan  hasil ternak pada  pada Kamis, 02 Mei 2019. Kegiatan workshop dilaksanakan di Puslitbangnak, Kota Bogor. Kegiatan workshop ini bertujuan untuk menambah pengetahuan para pelaku industri olahan hasil ternak terkait pemanfaatan teknologi 4.0 dalam meningkatkan efisiensi rantai pasok industri. Selain itu juga workshop ini sebagai ajang membuka dialog untuk saling berbagi terkait peluang dan tantangan yang dihadapi dalam mengimplementasikan teknologi 4.0 di industri olahan hasil ternak.

    Kegiatan workshop dilaksanakan pada 02 Mei 2019 dibuka oleh Prof.Dr.Irma Isnafia Arief, S.Pt,M.Si selaku ketua Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB. “Sudah menjadi suatu keharusan bagi industri olahan hasil ternak dalam menerapkan 4.0 karena adanya perkembangan teknologi saat ini”, jelas Irma.

    Sesi pertama workshop disampaikan oleh Ir. Iken Retnowulan, MT selaku Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Industri Agro, Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. Materi yang disampaikan terkait kebijakan dan regulasi bagi industri olahan hasil ternak di era industri 4.0. Sesi kedua disampaikan oleh Prof.Dr.Irma Isnafia Arief, S.Pt,M.Si terkait Tren Masa Depan Rantai Pasok Industri Olahan Hasil Ternak. Sesi ketiga disampaikan oleh Prof.Dr.Ir. Yandra Arkeman, M.Eng selaku akademisi dari Fakultas Teknologi Pertanian IPB yang menyampaikan materi tentang Pemanfaatan Teknologi 4.0 (IoT, Block Chain dan Artificial Intelligence) pada Rantai Pasok Industri Olahan Hasil Ternak. Sesi keempat disampaikan oleh Ir. Kunikawati Sumadji, ME selaku Government Relations Manager PT Greenfields Indonesia yang menyampaikan materi tentang implementasi teknologi 4.0 pada rantai pasok industri olahan susu di Indonesia. Sesi kelima disampaikan oleh Haniwar Syarief selaku Direktur Eksekutif NAMPA-Indonesia terkait materi tentang peluang dan tantangan penerapan teknologi 4.0 pada rantai pasok industri olahan hasil ternak (daging) di Indonesia.

    Setelah penyampaian materi dari 5 pembicara, kegiatan workshop dilanjutkan dengan diskusi panel yang dipandu oleh moderator Dr.Tuti Suryati,S.Pt,M.Si selaku Sekretaris Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB. Workshop dihadiri sekitar 50 orang peserta yang sebagian besar peserta adalah para pelaku industri olahan hasil ternak, sejumlah birokrat pemerintah dan akademisi. Kegiatan ini juga didukung oleh media Majalah Poultry Indonesia, Livestockrevew.com dan Agropustaka.

Page 3 of 3

Tips & Kegiatan Selama WFH