IPBSDG9

  • Ayam Lokal Unggul, IPB D-1 Mulai Diproduksi Massal

    IPB University gandeng UD Lestari Farm untuk kembangkan invensi varietas Ayam IPB D-1. Kerjasama ini di bawah koordinasi Fakultas Peternakan dan Direktorat Inovasi dan Kekayaan Intelektual IPB University.

    Penandatanganan Surat Perjanjian Kerjasama (SPK) lisensi antara IPB University dengan UD Lestari Farm ini dilakukan oleh Wakil Rektor Inovasi, Bisnis dan Kewirausahaan, Prof Erika B Laconi dan Direktur UD Citra Lestari Farm, Ir Bambang Krista di Ruang Sidang Rektor Gedung Andi Hakim Nasoetion, Kampus Dramaga Bogor, (3/1).

    Dalam sambutannya, Prof Erika mengatakan bahwa tugas IPB University adalah menjadikan hasil invensi jadi inovasi. Hasil riset itu jika masih belum dapat dirasakan masyarakat maka masih menjadi invensi. Akan jadi inovasi jika sudah dirasakan masyarakat.

    “Saya bahagia bisa melaksanakan proses untuk melestarikan ayam lokal unggul kita melalui kerjasama ini. IPB D-1 adalah ayam lokal unggul hasil kawin silang, invensi dari Prof Cece Sumantri, Guru Besar Fakultas Peternakan. Temuan ini akan diproduksi oleh UD Lestari Farm,” ujarnya.

    Menurutnya kerjasama ini tidak hanya dalam hal pengembangan dan komersialisasi IPB D-1, akan tetapi dibuka juga peluang mahasiswa untuk magang dan kerjasama riset. Hal ini terkait dengan tugas utama IPB University dalam mencetak Sumberdaya Manusia (SDM) unggul. Sehingga dengan program magang ini, ada peluang mahasiswa bisa belajar berbisnis.

    “Masih ada ratusan invensi yang siap dipilih oleh para pengusaha untuk proses komersialisasi dan dijadikan kerjasama,” imbuh Prof Erika.  Hal senada juga disampaikan oleh Wakil Dekan Fakultas Peternakan, Dr Rudi Afnan. Ia berharap semua pihak yang terlibat dalam kerjasama ini dapat bersinergi dengan baik dan produk inovasi dari Fakultas Peternakan dapat segera dirasakan oleh masyarakat luas.

    Sementara itu, Prof Cece Sumantri menyampaikan bahwa pengembangan ayam IPB D-1 ini basis penelitian dilakukan sejak tahun 2012. “Ayam ini ketahanan penyakitnya bagus, produksi telur 40 persen. Selain itu, setelah uji multilokasi ternyata pertumbuhannya pun luar biasa. Ayam montok dan tumbuh cepat. Sekira 10 minggu sudah bisa dipanen. IPB University merupakan satu-satunya perguruan tinggi yang berhasil merilis rumpun ayam baru yang sudah dilepas oleh Kementerian Pertanian RI dengan SK No. 693/KPTS/PK. 230/M/9/2019. Kerjasama ini masih dalam tahap pengembangan Day Old Chicken (DOC) atau anakan ayam,” ujarnya. (ipb.ac.id)

  • Dosen Mengabdi IPB University Dampingi Pesantren Darul Fallah Pabrikasi Bahan Pakan

     

    Prof Nahrowi, Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University tetap dampingi Pesantren Darul Falah, Bogor meski ada kebijakan PPKM Darurat. Pendampingan berupa pelatihan dan pabrikasi bahan pakan dilakukan secara daring.
    “Keputusan ini diambil berdasarkan Surat Keputusan Rektor yang menghimbau kepada seluruh warga IPB University untuk tetap di rumah dan menunda seluruh kegiatan akademik yang dilaksanakan secara langsung,” ujar Prof Nahrowi.

    Dalam pelatihan ini Prof Nahrowi dan tim dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan IPB University memberikan materi pengenalan dan uji cepat bahan pakan serta materi tentang penyediaan dan pengawetan bahan pakan.

    “Terlepas dari program yang kami jalankan secara online, kami harapkan ilmu ini bisa terus diterapkan dan diturunkan pada setiap generasi di yayasan ini. Sehingga ilmu yang diberikan tidak hanya bermanfaat bagi dunia namun juga dapat memberikan manfaat di akhirat nanti. Saya berharap program ini dapat terus berlanjut hingga agenda akhir. Selain itu, ilmu yang diberikan dapat dirasakan dampaknya oleh masyarakat di lingkungan Yayasan Pesantren Darul Falah. Khususnya pada para santri sehingga dapat memberikan manfaat di dunia atau diakhirat,” ucap Pakar Nutrisi Pakan Ternak IPB University ini.

    Dekan Fakultas Peternakan IPB University, Dr Idat Galih Permana dalam sambutannya mengatakan bahwa pelaksanaan program ini menjadi bagian penting dari keberlanjutan kerjasama yang dilakukan oleh Fakultas Peternakan dengan Pondok Pesantren Darul Falah. “Ke depan pembinaannya adalah menjalankan produksi peternakan serta cara mengolah hasilnya sehingga dapat dijual,” ujarnya.

    Sementara itu, Ketua Yayasan Pesantren Darul Falah, H Abdul Hanan mewakili yayasan mengucapkan terimakasih dan mendukung bentuk kerjasama ini. “Terima kasih kepada IPB University yang telah mendidik dan mengajari kami dalam mengelola hasil ternak kami,” ujar H Abdul Hanan

  • Guru Besar IPB University Temukan Inovasi Bahan Pakan Ternak Berbasis Bungkil Sawit

    Industri pakan di Indonesia masih dihadapkan pada dinamika ketersediaan bahan baku pakan yang musiman dan tidak berkelanjutan. Kondisi pandemi COVID-19 kian menambah kesemrawutan khususnya dalam ketersediaan bahan baku lokal dan impor.  

    Menanggapi hal tersebut, PT Buana Karya Bhakti bersama IPB University mencoba memberikan solusi atas dinamika industri pakan nasional. Solusi yang ditawarkan diantaranya adalah pemanfaatan Bungkil Inti Sawit atau Palm Kernel Meal (PKM) sebagai bahan pakan alternatif sumber energi dan protein.

    PKM merupakan hasil sampil dari industri pengolahan kelapa sawit dengan ketersediaan di Indonesia sangat tinggi.  PKM diharapkan dapat memberikan solusi atas ketersediaan bahan baku pakan yang berkualitas dan berkelanjutan dengan harga kompetitif. Dengan demikian, inovasi ini dapat memberikan dampak signifikan pada kemajuan industri pakan dan peternakan.

    PT Buana Karya Bhakti bersama IPB University hendak memperkenalkan Palmofeed sebagai produk unggulan melalui webinar “Mengulas Inovasi Palm Kernel Meal Terolah (Palmofeed) sebagai Bahan Pakan Fungsional Sumber Energi dan Protein" yang digelar di Hotel Santika, Bogor, 26/04.

    Prof Arif Satria, Rektor IPB University mengatakan bahwa dirinya sangat bangga pada Prof Nahrowi sebagai peneliti yang mengembangkan produk-produk sampingan sawit sebagai pakan ternak. Terobosan Palmofeed sebagai pakan fungsional yang berkualitas dapat meningkatkan kemampuan peternak dalam produktivitasnya. Ia juga meyakini hasil riset tersebut dapat dikembangkan bagi sektor perikanan yang juga mengalami dinamika pada biaya operasionalnya.

    “Bila kita sudah bisa meningkatkan dalam hal kemandirian pangan dalam hal pakan, maka industri peternakan kita akan semakin berkembang pesat. Karena bagaimanapun juga Indonesia dihadapkan pada upaya untuk meningkatkan pemenuhan protein dari masyarakat kita," katanya.

    Lebih lanjut ia menerangkan, konsumsi daging masih relatif rendah dibanding negara lain sehingga perlu terus didorong agar kecukupan protein hewani meningkat. "Jadi pakan dari PKM ini merupakan inovasi yang ditunggu-tunggu oleh banyak kalangan,” sebutnya.

    Prof Nahrowi, Guru Besar IPB University dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP) Fakultas Peternakan (Fapet) sekaligus ahli Palmofeed, menyampaikan hasil riset inovatif PKM bagi pakan ternak. Ia menyoroti bungkil sawit yang tidak dimanfaatkan secara maksimal untuk bahan pakan lokal. Informasi mengenai pemakaian bungkil sawit juga belum jelas. Umumnya, bungkil sawit hanya digunakan sebagai bahan pengisi hingga tiga persen saja.

    Padahal, kata Prof Nahrowi, apabila dilihat dari ketersediaannya dibandingkan bahan pakan lain seperti jagung, bungkil sawit tersedia di segala musim. Teknologi yang digunakan juga sudah established, walaupun kualitas masih bervariasi sehingga masih perlu ditangani.

     Ia berpendapat jika berbicara kualitas bahan pakan, hal tersebut bukan merupakan tanggung jawab industri pakan namun produsen sawitnya. Produsen sawit dinilai masih kurang perhatian  sehingga tidak ada upaya untuk memperbaiki kualitas bungkil sawit yang masih bervariasi. Maka dari itu ia berupaya untuk menggandeng PT Buana Karya Bhakti agar produsen sadar bahwa bungkil sawit belum bisa dipakai untuk unggas sehingga perlu sentuhan teknologi. Menurutnya, apabila hulunya sudah dikuasai, maka hilirnya akan mudah untuk dikelola.

    Lebih lanjut Prof Nahrowi menjelaskan, kekhawatiran utama selain kualitas yang beragam, kandungan mikotoksin atau non starch polissacharydes juga menjadi urusan peneliti. Kandungan mannan oligosakarida yang 20 kali lebih tinggi juga tidak direkomendasikan untuk pakan unggas.

    Namun demikian, secara keseluruhan Palmofeed memiliki kualitas kimia lebih baik terutama pada kandungan serat yang jauh lebih rendah daripada PKM mentah. Selain itu, Palmofeed juga telah mengantongi beberapa paten dan berdasarkan analisis biayanya, harga per gram proteinnya relatif lebih murah dibandingkan bahan baku pakan lainnya.   Ia berharap agar Palmofeed tersebut dapat dipakai oleh peternak secara nasional.
     
    “Saya berharap banyak pada nutrisionist dan formulator yang punya keberanian dalam menyusun ransum terbaik menggunakan palmofeed. Saya juga berharap  teman-teman di lapangan dapat menggunakan bahan pakan ini secara optimal,” tuturnya (ipb.ac.id)

  • Industri Logistik Peternakan Membutuhkan Teknologi Digital Lebih Banyak

    Menanggapi hadirnya era Revolusi Industri 4.0, Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) menggelar Konferensi Nasional yang bertemakan “Aplikasi Teknologi Digital pada Industri Logistik Peternakan 4.0” yang digelar di ICE BSD Tangerang, Rabu (18/9).

    Prof. Yandra Arkeman, narasumber pada acara tersebut, mengatakan bahwa penerapan teknologi 4.0 pada bidang peternakan sangat memungkinkan untuk dilakukan, misalnya mengenai sapi yang diberi anting untuk memudahkan penelusuran (tracking). Penerapan Elektronik ID (E-ID) yang merupakan bentuk digitalisasi peternakan akan memudahkan pembeli untuk mengetahui riwayat sapi tersebut.

    “Memang untuk saat ini penerapannya masih belum mudah, harga sapi yang memiliki anting justru murah karena dianggap merupakan sapi bantuan pemerintah. Akan tetapi ke depannya, sapi yang memiliki anting yang justru akan mahal karena riwayat pemeliharaanya jelas, dari keturunan jenis apa, diberi pakan apa dan sebagainya,” ungkap Peneliti di Blockchain, Robotics, and Artificial Intelligence Network IPB (BRAIN IPB) ini.

    Penerapan teknologi 4.0 pada peternakan unggas pun juga bisa dilakukan, misalnya mengenai teknologi menentukan jenis kelamin DOC jantan dan betina. Melalui gradasi suara tertentu misalnya, mana DOC jantan dan betina akan bisa diketahui dengan jauh lebih cepat.

    “Kecanggihan teknologi ini sangat memungkinkan diterapkan di semua bidang, hanya saja mau dilakukan apa tidak. Selain karena berbiaya tinggi, tentu butuh dukungan semua pihak baik pemerintah, akademisi, pengusaha dan juga masyarakat,” jelasnya.

    Sedangkan Audy Joinaldy, dalam paparannya mengatakan tidak dipungkiri bahwa teknologi 4.0 sangat memungkinkan diterapkan pada sektor perunggasan. Misalnya, bagaimana mengukur tingkat kematian saat distribusi DOC dari pabrik penetasan (hatchery) hingga menuju ke kandang budi daya.

    “Sejauh ini hanya berdasarkan perkiraan saja, memang sudah seharusnya ada teknologi digital yang mampu mendeteksi penyebab kematian itu karena apa. Hal ini merupakan tantangan bersama untuk mewujudkannya” jelas Chairman of Perkasa Group yang juga merupakan Ketua Umum Himpunan Alumni Fakultas Peternakan (poultryindonesia.com)

  • Optimalisasi Kapal Ternak pada Sistem Logistik Peternakan

    Kapal ternak menjadi salah satu fasilitas logistik peternakan terus diupayakan optimalisasinya melalui perbaikan fisik maupun layanan. Kapal ini dibangun dengan landasan pemikiran untuk menyediakan angkutan ternak antar pulau yang nyaban bagi ternak, sehingga penyusutan bobot badan selama perjalan dapat ditekan. Peluncuran pertama dilakukan pada Desember 2015 dengan nama kapal Camara Nusantara 1, dilanjutkan dengan peluncuran Camara Nusantara 2.  

    Pada Tahun 2018, generasi terbaru dari kapal ternak yang dibangun oleh pemerintah Indonesia ini diperkenalkan dengan nama Camara Nusantara 3. Sementara itu, PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) memegang kendali penuh dalam pengoperasian kapal. Menurut rencana, kapal ternak akan ditambah sehingga total menjadi 6 unit. Namun, sepertinya masih ada beberapa hal yang harus diteliti mengenai bagaimana transportasi ternak menggunakan kapal Camara Nusantara ini berdampak pada ternak itu sendiri.

    Penelitian dilakukan oleh ALIN (Animal Logistics Indonesia Netherlands), proyek logistik peternakan yang digagas pertama kali tahun 2015 oleh Insitut Pertanian Bogor (IPB) bekerja sama dengan Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI), Animal Logistics Indonesia Netherlands (ALIN), Netherlands Universities Foundation for International Cooporation, Maastricht School of Management (MSM), dan AERES Groep, serta Universitas Wageningen, Belanda.

    Hasil akhir penelitian itu dilaporkan pada Kamis (4/7) di Swiss-Bell Hotel, Bogor, Jawa Barat. acara ini dihadiri oleh 97 peserta, yang merupakan mahasishwa pasca sarjana Minat Logistik Peternakan IPB, Kementrian Pertanian RI, serta Kementrian Perhubungan RI. Hadir pula Rektor IPB, Arif Satria, Meinhard Gans (Direktur proyek ALIN dari konsorsium Belanda), Huub Mudde (perwakilan MSM), dan Luki Abdullah selaku Direktur proyek ALIN, Fakultas Peternakan IPB dan Pemimpin FLPI. Ada beberapa hal yang diteliti, yakni mengenai traceability, live animal transportation, feed logistic, animal products, dan human resources yang seluruhnya dilakukan diatas kapal Camara Nusantara.

    Pada seminar ini, salah satu peneliti yaitu Galuh Mutdaman Toharmat menyampaikan beberapa perbedaan antara kapal ternak milik Austalia dengan kapal ternak milik Indonesia. Perbedaan yang paling mencolok adalah dari segi kapasitas, jika kapal ternak Australia mampu mengangkut 2.000 hingga 16.000 ekor ternak, kapal ternak Indonesia hanya mampu mengangkut 500 ekor saja.

    Luki Abdullah, mengungkapkan bahwa pihaknya sudah melayangkan rekomendasi kepada pemerintah agar kondisi fisik kapal Camara Nusantara dibenahi. “Saya ingin mengucapkan terimakasih kepada teman-teman dari Kementrian Perhubungan (Kemenhub) yang selama ini sangat kooperatif dan memberikan informasi-informasi teknis,” tambahnya.

    Sementara itu, Arif Satria berharap bahwa teknologi dapat diserap sebaik mungkin dan nantinya bisa berguna. “Saya mengaharapkan bahwa setelah seminar ini usai, peserta yang hadir di ruangan ini dapat menerapkan tekonologi baru yang telah kita miliki saat ini,” kata dia (trobos.com).

  • Peternak Itik di Jatim Dibantu Lepas dari Ketergantungan Pakan oleh Tengkulak

    Prof Sumiati dari Fakultas Peternakan IPB University menjelaskan bahwa permasalahan yang dihadapi peternak itik di Desa Ringinanyar Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar, Jawa Timur yaitu peternak masih tergantung pakan dari tengkulak yang selama ini beredar. Mereka terikat kontrak dengan tengkulak yakni peternak diberikan pakan oleh tengkulak kemudian telurnya dibeli lagi oleh tengkulak. Akibatnya peternak tidak dapat berdikari, kemerdekaan peternak direnggut oleh tengkulak.

    Menjawab permasalahan tersebut, pihaknya melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University melakukan penyuluhan pembuatan ransum suplementasi maggot untuk pakan itik petelur di Balai Desa Ringinanyar Kecamatan Ponggok. Dengan penyuluhan yang dilakukan kepada peternak, dirinya berharap peternak tidak tergantung lagi dengan pakan dari tengkulak. Telurnya juga bisa dimanfaatkan menjadi tepung telur sehingga mendapatkan nilai lebih dalam produk telur.

    “Pakan yang digunakan adalah pakan dengan suplementasi maggot. Selain protein maggot yang tinggi, maggot juga bermanfaat untuk mengurangi sampah rumah tangga. Media yang digunakan dalam budidaya maggot di desa ini adalah sampah rumah tangga. Pakan sudah diujikan ke salah satu peternak di Desa Ringinanyar dan didapatkan hasil telur yang produksinya stabil bahkan cenderung naik dibandingkan dengan pakan dari tengkulak. Bobot telur yang dihasilkan juga sama dengan pakan dari tengkulak. Artinya pakan ini telah berhasil untuk diproduksi secara massal dan dapat digunakan di Desa Ringinanyar,” ujarnnya.

    Sementara itu, Dr Prayoga menjelaskan mengenai produk pertanian seperti cabai yang merupakan salah satu komoditas pertanian masyarakat Desa Ringinanyar. Pemanfaatan cabai yang masih kurang menjadi salah satu permasalahan masyarakat Desa Ringinanyar.

    Permasalahan ini dapat diatasi dengan cara mendirikan koperasi cabai. Koperasi berperan sebagai jembatan penghubung antara petani dengan pembeli. Sehingga harga cabai lebih stabil dibandingkan dengan sebelumnya.

    “Selain itu, warga juga bisa membuat produk olahan seperti tepung cabai dan bumbu instan. Tepung cabai dapat diproduksi dengan melewati beberapa tahapan antara lain penyortiran, pencucian, pengeringan, pengilingan, penyaringan dan pengemasan. Sedangkan bumbu instan diproduksi dengan cara cabai dilakukan penyortiran, pembersihan, penghancuran, penambahan gula, dipanaskan dalam wajan sampai terbentuk kristan. Selanjutnya disaring dan dikemas,” tuturnya.

    Ia menambahkan untuk bidang peternakan, menurutnya telur dapat diolah menjadi tepung telur. Tepung telur diproduksi secara mengunakan spray dryer atau dengan oven. Tepung telur dapat diolah menjadi brownis, donat, mie, spagheti dan lain-lain.
     
    Sementara itu, Kepala Desa Ringinayar, H Supangat menyampaikan bahwa Desa Ringinanyar mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani dan peternak. Yang mendominasi adalah pertanian cabai, peternakan bebek dan sapi. Berdasarkan potensi sumber daya yang ada di Desa Ringinanyar, desa ini mampu bersaing dengan desa lain, bahkan desa ini tergolong lebih maju daripada desa di sekitarnya.

    “Harapannya ke depan masyarakat bisa menerapkan ilmu yang telah diberikan oleh IPB University kepada warga kami, sehingga potensi di desa bisa dimaksimalkan dan tentunya bisa menjadi sumber penghasilan masyarakat,” tuturnya.

    Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan, Kabupaten Blitar, Drh Adi Andaka menyampaikan bahwa kedatangan IPB University di desa Ringinanyar diharapkan mampu menjawab permasalahan yang sedang dihadapi terutama dalam bidang peternakan. Khususnya pakan dan bidang pertanian khususnya pengolahan paska panen. Dengan demikian Desa Ringinanyar menjadi desa yang mandiri. (new.trubus.id)

  • Prof Dr Asep Gunawan: Tiga Tahun Lagi, Indonesia Punya Daging Domba Premium

    Guru Besar IPB University dari Fakultas Peternakan berhasil menemukan marker genomik pada domba yang dapat menghasilkan daging domba premium. Dalam kurun waktu tujuh tahun penelitian, Prof Dr Asep Gunawan menemukan marker CYP2AP, LEPR dan CYP2EI yang membuat daging domba menjadi lebih empuk, bobot karkasnya lebih tinggi dan rendah kolesterol.

    Hal ini dipaparkan Prof Asep dalam Konferensi Pers Pra Orasi Ilmiah Guru Besar, (26/11) yang digelar secara daring.

    Menurutnya, saat ini masyarakat cenderung mencari produk pangan yang dapat memberikan efek terhadap kesehatan atau disebut pangan sehat.

    “Adanya kecenderungan masyarakat saat ini enggan mengkonsumsi produk daging dikarenakan kandungan asam lemak jenuh dan kolesterol tinggi yang berkorelasi negatif terhadap kesehatan. Diperlukan diversifikasi protein hewani asal daging ternak dalam upaya menghasilkan produk pangan sehat sesuai dengan gaya hidup masyarakat masa kini. Upaya penyediaan pangan sehat asal ternak dapat dilakukan diantaranya dengan memaksimalkan sumberdaya genetik ternak lokal Indonesia,” ujarnya.

    Pengembangan produk pangan asal ternak dapat diarahkan untuk peningkatan produksi daging baik secara kuantitas maupun kualitasnya. Secara kuantitas produksi daging didorong pada peningkatan pertambahan sifat produksi dan pertumbuhan. Seperti bobot badan, bobot potong, dan karkas. Secara kualitas, perbaikan produksi daging diarahkan menghasilkan produk pangan sehat yang dapat memenuhi preferensi konsumen, aman dan positif untuk kesehatan. Di antaranya perbaikan komposisi asam lemak, kadar kolesterol, off odor flavor (bau prengus pada kambing atau domba, bau amis pada bebek) dan sifat keempukan daging.

    “Dengan teknologi milenum berbasis generasi omics high-throughput RNA sekuensing, kami berhasil meningkatkan nilai tambah daging sebagai pangan sehat asal ternak. Secara umum, dalam kurun waktu tujuh tahun ini, kami telah menemukan penanda seleksi cepat berupa kandidat marker spesifik (CYP2A6, LEPR, dan CYP2E1) untuk menghasilkan daging domba IPB kualitas premium. Keunggulan dari daging Domba IPB kualitas premium ini dibandingkan dengan domba biasa adalah kaya akan kandungan asam lemak tak jenuh, rendah kolesterol,  memiliki off odor dan flavour (prengus) yang rendah, menghasilkan bobot potong dan karkas besar serta memiliki keempukan daging tinggi,” terangnya.

    “Melalui kandidat marker tersebut dapat diketahui secara cepat kualitas daging domba yang dihasilkan. Diharapkan produk daging ternak yang dihasilkan dapat memperbaiki mutu genetik ternak lokal sebagai penyedia pangan sehat yang dalam jangka panjang akan mampu menegakkan kemandirian dan pemenuhan protein hewani,” imbuhnya.

    Menurut Prof Asep, Domba IPB Premium ini akan diperbanyak. Sekarang skalanya masih skala laboratorium dan belum divalidasi pada lingkungan yang sebenarnya. Untuk mendapatkan kondisi yang stabil, Prof Asep mengatakan bahwa diperlukan pemeliharaan hingga lima generasi atau sekitar tiga tahun.
    “Dari 350 ekor domba yang kami pelihara, hanya ada 60 ekor yang sesuai dengan karakteristik yang kita inginkan. Ini nanti yang kita kembangkan. Untuk persoalan harga, karena ke depannya daging ini spesifik, marketnya juga spesifik, pasarnya juga tertentu yang menyesuaikan kebutuhan konsumen, maka tentu harga akan sedikit lebih mahal dari normal. Tapi tidak menutup kemunginan ada grade-gradenya,” terangnya (ipb.ac.id)

  • Prof Niken Ulupi Beberkan Penyebab Anjloknya Harga Telur Ayam

    Belakangan ini, harga telur ayam terjun bebas yang berdampak pada kerugian bagi peternak. Melihat fenomena ini, Profesor Niken Ulupi, pakar peternakan dari IPB University menyebut telah terjadi ketidakseimbangan antara supply dan demand telur ayam.

    "Pengaruh buruk akibat harga telur yang anjlok adalah beberapa peternak rakyat atau peternak mandiri mulai menutup usahanya. Apabila ini tidak segera diatasi maka ke depannya masyarakat akan mengalami krisis pangan khususnya telur ayam sebagai pangan bergizi tinggi sumber protein hewani," ujar Prof Niken.

    Harga telur di beberapa daerah di Indonesia, seperti Blitar mencapai 13 ribu per kilogram. Harga ini sangat jauh dibandingkan dengan harga telur di Bogor atau Jakarta yang masih berada pada kisaran 22 ribu per kilogram.

    Dosen IPB University dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan ini menjelaskan, ketidakseimbangan antara supply dan demand dapat disebabkan oleh banyaknya usaha baru di sektor peternakan ayam ras petelur. Prof Niken juga menyebut, dibangunnya closed house ayam petelur komersil dan perlakuan pembatasan kegiatan masyarakat turut berkontribusi dalam penurunan permintaan telur secara besar.

    Prof Niken menyarankan kepada seluruh pelaku usaha di bidang produksi ayam petelur komersial sebaiknya tidak hanya memahami teknik budidaya. Namun, peternak dituntut lebih berkonsentrasi dan memastikan pangsa pasar yang menjadi tujuan usahanya sebelum memulai usaha tersebut.

    "Memulai usaha peternakan ayam petelur komersial dengan pola kemitraan bisa menjadi solusi, karena dengan pola tersebut keseimbangan supply dan demand bisa lebih didekati," tambah Prof Niken Ulupi, Guru Besar IPB University dari Fakultas Peternakan.

    Ia berharap, fenomena anjloknya harga telur ayam tidak terulang di kemudian hari. Menurutnya, salah satu upaya untuk menjaga stabilitas harga telur dapat dilakukan dengan mendirikan usaha industri pengolahan telur terutama di wilayah sentra produksi.

    Sementara itu, hal lainnya adalah dengan menurunkan dan menstabilkan harga jagung yang merupakan komponen terbesar dari pakan ayam. Upaya ini dapat membantu para peternak mandiri.

    “Dengan demikian sangat diperlukan peran aktif pemerintah dalam menjaga kestabilan harga jagung dan ketersediaan pasokan jagung yang dibutuhkan," pungkasnya. (ipb.ac.id)

Tips & Kegiatan Selama WFH