News

  • FLPI: Tingkatkan Kesejahteraan Ternak Saat Proses Transportasi

    Transportasi ternak merupakan kunci utama dalam mendistribusikan hal terkait dengan produk peternakan. Kegiatan mendistribusikan ternak dalam kondisi hidup ini memerlukan teknik-teknik khusus, hal ini bertujuan agar ternak yang ditransportasikan merasa nyaman dan aman selama dalam perjalanan. Merujuk pada pentingnya memperhatikan proses transportasi ternak, Forum Logistik dan Peternakan Indonesia (FLPI) menyelenggarakan workshop bertajuk “Meningkatkan Kesejahteraan Hewan pada Transportasi Ternak di Indonesia”, yang diselenggarakan di Ruang Sidang Fakultas Peternakan (Fapet), Institut Pertanian Bogor (IPB), Jumat (12/10).

    Kegiatan ini dihadiri Deny Kusdyana perwakilan Kementerian Perhubungan, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Ahmad Wiroi dari Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Drh Afriani dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian. Workshop kali ini menghadirkan empat narasumber, diantaranya Edy Wijayanto (PT Sapibagus), Tri Nugrahwanto (PT Tanjung Unggul Mandiri), Soedarno (Logistics Foods PT Sierad Produce Tbk) dan Dr Ross Ainsworth (Australian Veterinary). Acara dimoderatori oleh Dr Rudi Afnan, Wakil Dekan Bidang Sumberdaya Kerjasama dan Pengembangan Fapet IPB.

    Dekan Fapet IPB, Dr Ir Mohamad Yamin, dalam sambutannya menegaskan, FLPI merupakan wadah baru yang memfasilitasi hal terkait dengan logistik peternakan di Indonesia.

    “Keberadaan FLPI dipandang sangat perlu karena fungsinya dapat memberikan masukkan mengenai cara mentransportasikan ternak dari satu tempat ke tempat lain. Transportasi tidak hanya terkait memasukkan ternak ke media angkut, namun lebih intens lagi adalah perlakuan yang perlu diberikan atau yang diterima ternak selama dalam perjalanan hingga sampai tujuan,” ujar Dr Yamin. 

    Sementara itu, Prof Dr Ir Luki Abdullah, Chairman FLPI, turut menyampaikan, sejak didirikan tiga tahun lalu, FLPI telah memberikan warna baru dalam ranah logistik peternakan yang menghasilkan produk pangan Indonesia.

    “FLPI telah mengakomodasi dan merekomendasi berbagai hal yang berhubungan dengan logistik peternakan itu sendiri kepada pemangku kepentingan, sehingga sampai saat ini FLPI telah berkontribusi nyata dan bermanfaat bagi kemajuan logistik peternakan di Indonesia,” kata Prof Luki.

    Acara yang didukung oleh IPB, Animal Logistics (ALIN), Nuffic MSM, Wageningen UR dan Aeres Groep, mendapat perhatian khusus dari perwakilan Kementerian Perhubungan.

    “Banyak hal menarik yang perlu diungkap dan dijadikan bahan agar ranah transportasi ternak ke depannya lebih baik, misal perlu adanya regulasi khusus yang mengatur tata-cara mentransportasikan ternak itu sendiri,” kata Deny Kusdyana.

    Sedangkan dikatakan Dr Ross dalam paparannya, bahwa kesejahteraan ternak selama ditransportasikan berkorelasi positif dengan keuntungan yang diterima oleh para pelaku usaha. Ini artinya jika ternak sejahtera selama proses transportasi, maka keuntungan yang diperoleh pun akan meningkat.(majalahinfovet.com)

  • Gara-gara Ulah Tengkulak, Alumnus IPB University Ini Terjun ke Bisnis Peternakan

    Namanya Dr Tekad Urip Pambudi Sujarnoko, alumnus IPB University yang menyelesaikan tiga jenjang studi di Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan. Pria kelahiran 1990 ini sekarang menjabat sebagai Direktur Utama PT Agro Apis Palacio, sebuah perusahaan yang memproduksi pakan ternak mulai ternak domba dan kambing, keplasmaan, pengolahan limbah non B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) sejak 2015 hingga sekarang. 

    Jejaknya menekuni dunia wirausaha dimulai sejak masih kuliah Sarjana. Ia terjun ke bisnis peternakan domba karena hobi serta ketidakcocokannya terhadap transaksi yang dilakukan tengkulak. Ia mengaku tengkulak di desanya, menentukan harga domba atau kambing dengan melihat langsung ke bentuk fisik, sehingga tidak mempertimbangkan berat hewannya.

    Ketika peternak sedang membutuhkan, tengkulak bisa menekan harga jual ternak dengan harga yang sangat rendah. Contohnya, ketika domba memiliki harga sebenarnya 1,5 juta rupiah, tetapi karena peternak sedang membutuhkan uang, tengkulak bisa memberikan harga 900 ribu bahkan 700 ribu rupiah. Alasannya karena telinga kecil, telinga bengkok atau warnanya yang hitam putih, dan sebagainya.

    "Hal itu yang membuat saya ingin sekali mengubah sistem, akhirnya kita menggunakan sistem timbangan yakni menimbang dagingnya. Selain itu kita membuat program yang namanya keplasmaan dengan peternak-peternak. Melalui program ini, bibit atau anakan dan pakan dijual ke kita atau ke orang lain dengan ditimbang terlebih dahulu," imbuhnya. 

    Menekuni dunia wirausaha tidak menyurutkan semangatnya dalam menuntut ilmu. Ia memiliki keinginan yang besar untuk meneliti dan mengajar di bidang peternakan karena salah satu problematika di Indonesia adalah peternak kurang mengetahui cara beternak dengan baik. Dengan demikian perlu ada yang menjadi jembatan untuk mengajari peternak tata cara beternak yang baik.
     
    "Saya kuliah tinggi mencari ilmu, bukan untuk ijazah atau mendapatkan pekerjaan. Karena ilmu itu akan mengangkat derajat, itu yang saya ingat, jadi bukan masalah dengan ijazah lalu saya harus bekerja seperti apa. Bukan, tetapi memantaskan diri itu yang lebih penting,” tambahnya.

    Ia juga memiliki harapan suatu saat nanti memiliki perusahaan yang fokus terhadap penelitian. Ia berharap negara Indonesia itu bukan lagi menjadi negara pengguna inovasi tetapi merupakan negara yang memiliki inovasi untuk diterapkan di negaranya sendiri dan menjual hasil inovasinya tersebut. 

    Melalui usahanya itu Tekad berhasil meraih Penghargaan Petani Milenial dan Petani Andalan Kementerian Pertanian tahun 2019  (ipb.ac.id)

  • Generasi Muda Indonesia Harus Bisa Menciptakan AGP yang Ramah Kesehatan

    Himpunan Mahasiswa Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (Himaproter) Fakultas Peternakan IPB University belum lama ini mengadakan Webinar Unggas Nasional 2020 dengan mengusung tema Menilik Dampak Pasca Pelarangan Antibiotic Growth Promotor (AGP) Terhadap Peternakan Unggas. Kegiatan ini menghadirkan salah satu Guru Besar Fakultas Peternakan, IPB University Prof Dr Niken Ulupi dan Lulusan Terbaik Program Magister IPB University 2019 yaitu Brahmadhita Pratama Mahardika, SPt, MSi.

    Dalam paparannya, Prof Niken menyampaikan materi mengenai sistem kekebalan unggas dan peran Imunomodulator sebagai pengganti Antibiotic Growth Promotor (AGP). Dijelaskan bahwa konsumsi protein hewani dari ternak unggas di Indonesia mencapai 87.94 persen, sehingga untuk menghasilkan produk olahan dari unggas yang aman untuk dikonsumsi manusia harus dilakukan manajemen ternak yang cukup baik.

    Sementara itu, Brahmadhita Pratama Mahardika menyampaikan materi mengenai dampak dan alternatif penggunaan AGP. Menurutnya, penggunaan AGP pada pakan ternak unggas akan menimbulkan beberapa masalah seperti menyisakan residu pada produk ternak yang dihasilkan.

    “Sehingga kita sebagai anak muda bangsa Indonesia harus menciptakan inovasi agar penggunaan AGP ini tidak ada lagi, tetapi dari sisi produksi tetap menguntungkan bagi peternak atapun konsumen,” ujarnya (ipb.ac.id)

  • Gerakan Protein Sehat 2017

    Pembukaan Gerakan Protein Sehat (GPS) 2017 telah dilakukan di Yayasan RA dan MI Yapemas di Desa Situ Udik, Cibungbulang, Bogor pada hari Minggu,  7 Mei 2017. Acara pembukaan  diawali dengan pembukaan dari panitia GPS 2017, sambutan dari Dekan Fakultas Peternakan yang diwakili oleh Iyep Komala, S.Pt., M.Si., sambutan dari Bpk.Agus Thoriqin selaku ketua RW, dan sambutan dari Sekretaris Desa Situ Udik.

    Acara kemudian dilanjutkan dengan senam bersama yang diikuti oleh Warga Desa Situ Udik, siswa yayasan Yapemas, panitia GPS 2017. Lalu dilanjutkan dengan pembagian susu dan telur gratis untuk seluruh warga Desa Situ Udik dan siswa Yayasan Yapemas. Rangkaian acara selanjutnya adalah lomba mewarnai untuk siswa RA, menggambar untuk siswa MI Yapemas kelas 1,2 dan 3, menonton film untuk siswa kelas 4,5, dan 6, dan demo membuat kerupuk susu untuk para warga desa. Acara ditutup dengan pengumuman pemenang lomba dan pemberian hadiah kepada pemenang.

    Gerakan Protein Sehat adalah mega program kerja dari fakultas peternakan yang melibatkan 3 organisasi kemahasiswaan di  FAPET IPB, yaitu BEM, HIMAPROTER, dan HIMASITER. Kegiatan ini merupakan yang pertama di Fakultas Peternakan. Dengan adanya gerakan ini, diharapkan masyarakat dapat lebih memahami pentingnya protein sehat bagi tubuh manusia.

  • Green Souvenir, Uniknya Tanaman Herbal Besutan Mahasiswa IPB University

    Indonesia merupakan negara yang kaya dengan keanekaragaman hayati, salah satunya tanaman herbal. Tanaman herbal yang memiliki kegunaan dan nilai lebih, sering digunakan sebagai pengobatan alternatif. Namun, saat ini masyarakat Indonesia semakin kurang mengenal manfaat dan khasiat dari tanaman herbal. Guna mengatasi permasalahan tersebut, lima mahasiswa IPB University membuat sebuah green souvenir berupa benih tanaman herbal dengan tujuan untuk meningkatkan kembali eksistensi dari tanaman tersebut.

    Lima mahasiswa tersebut adalah Deo Prastyo, Tri Widya Putri, Ainur Rahmah, Yoga Dwi Syahputra, dan Muhammad Surya Fadhlurrohman. Produk green souvenir berupa bola-bola benih tanaman herbal yang dibuat oleh tim tersebut digagaskan dalam Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) dengan judul “SEBAP (Seed Bombs Herbal Plants): Inovasi Green Souvenir Berbasis Benih Praktis dalam Meningkatkan Eksistensi Tanaman Herbal Nusantara”. PKM-K tersebut di bawah bimbingan dosen IPB University yakni Muhammad Baihaqi, S.Pt, M.Sc.

    “Ide ini bermula dari banyaknya permasalahan lahan tandus di luar negeri dan masyarakatnya mulai menghijaukan lahan dengan membuat bola benih tanaman. Bola benih tersebut bertujuan menjaga benih agar tidak rusak atau dimakan serangga. Oleh karena itu, kami mencoba membuat bola benih tanaman berisi benih tanaman herbal untuk mengenalkan kembali tanaman herbal pada masyarakat Indonesia,” tutur Deo selaku ketua tim SEBAP ini.

    Green souvenir yang dirancang oleh Tim SEBAP ini terdiri atas beberapa jenis tanaman herbal, seperti akar kucing, kemangi wulung, mahkota dewa, sawi, okra, cabe jawa, dan sambiloto. Sasaran pembuatan green souvenir ini adalah orang tua yang memiliki anak usia 7-15 tahun serta mahasiswa. Hal tersebut ditujukan agar edukasi terkait khasiat dan manfaat tanaman herbal masyarakat Indonesia semakin meningkat.

    “Produk ini kami bandrol sebesar Rp 6 ribu - Rp 12 ribu tergantung jenis benih tanaman herbal dan kemasannya. Kami menyediakan dua kemasan, yakni gelas kaca kecil dan kain perca. Sejauh ini, kami sudah menjual produk ini di media sosial seperti line, whatsapp, dan instagram kami di @obombs.store,” tambah Deo.

    Konsumen yang membeli green souvenir tanaman herbal tersebut dapat melakukan perawatan selanjutnya. Dimulai dengan penyiraman rutin dua kali sehari hingga benih tanaman mengalami pertumbuhan. Berikutnya, benih tersebut bisa dipindahkan ke lahan dan dirawat hingga tanaman herbal siap dipanen. 

    “Harapan kami dengan adanya produk green souvenir ini dapat menginspirasi masyarakat luas untuk turut mengembangkan dan menginovasi produk semacam ini, serta dapat mendukung gerakan back to nature,” tutup Deo (ipb.ac.id)

  • Gunakan Indigofera untuk Ransum Ayam, Mahasiswa IPB University Tambahkan Enzim Ini

    Sekitar 50 Persen penyumbang protein dalam pakan unggas berasal dari bungkil kedelai yang masih bergantung pada impor. Perlu dicari bahan potensial pengganti protein bungkil kedelai. Tiga mahasiswa IPB University, Program Studi Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan yaitu Muhammad Agung Dwi Putra, Rina Sri Wulandari dan Ani Damayanti mencoba membuat ransum untuk unggas menggunakan sumber protein hijauan. 

    Kelompok Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Penelitian (PKM-PE) 2019 yang mendapat pendanaan dari Kemenristekdikti ini memanfaatkan indigofera sebagai sumber protein dalam pakan unggas. Agung selaku ketua menjelaskan bawa ada empat kriteria bahan dapat dijadikan bahan baku pakan yaitu ketersediaan, zat anti nutrisi, harga dan kemudahan pengolahan. "Kita temukan bahan baku potensial yaitu indigofera. Indigofera memenuhi keempat kriteria tersebut. Selain kadar proteinnya yang tinggi, tanaman ini sudah banyak dibudidayakan, kadar antinutrisi indigofera sangat kecil dibandingkan hijauan lain, harganya sekitar Rp 4 ribu per kilogram dan pengolahannya cukup dikeringkan. Karena itu indigofera dipilih sebagai pensubstitusi protein bungkil kedelai,” ujarnya.

    Namun pada indigofera terdapat kendala yaitu tingginya serat yang membuat sulit dicerna oleh unggas. Hal ini menjadi tantangan bagi tim yang dibimbing oleh Dr Ir Muhammad Ridla ini. Untuk mengatasi ini Agung dan tim menambahkan beberapa enzim dalam ransum untuk meningkatkan kecernaan pakannya. "Untuk meningkatkan kecernaan kita coba tambahkan tiga macam enzim pada ransum ini.  Enzimnya yaitu protease, phytase dan Non Starch Polysaccharide (NSP).  Setelah diuji coba ditemukan bahwa kecernaan ransum bungkil kedelai masih terbaik. Pada ransum berbasis indigofera tanpa penambahan enzim kecernaannya sedikit turun. Namun setelah diberikan enzim ternyata mampu meningkatkan kecernaan ransum berbasis indigofera. "Ketiga enzim ini meningkatkan kecernaan dengan nilai yang berbeda karena keefektifan tiga enzim tersebut juga berbeda. Dari ketiga enzim, NSP yang paling efektif diberikan pada ransum berbasis indigofera berdasarkan nilai kecernaannya,” tuturnya.

    Enzim yang diberikan dalam bentuk serbuk dicampurkan ke dalam ransum ayam. Umumnya bahan ransum yang tinggi serat membuat unggas makan sedikit, cepat kenyang namun kebutuhan nutrisi belum tercukupi. "Dengan adanya enzim ini ternyata mampu meningkatkan konsumsi ransum. Selain itu enzim mampu mempertahankan zat makanan dalam tubuh untuk dicerna sehingga tidak ikut terbuang menjadi kotoran,” jelasnya. Tim peneliti ini menyimpulkan bahwa indigofera dapat mensubstitusi protein dari bungkil kedelai sehingga mampu menurunkan jumlah pemakaian bungkil kedelai pada ransum. "Namun saran dari kami untuk tetap menggunakan enzim untuk meningkatkan kecernaannya, karena penggunaan enzim mampu meningkatkan efisiensi penggunaan nutrien,” tandasnya (ipb.ac.id)

  • Guru Besar Fakultas Peternakan Sebut Konsolidasi Peternak Perlu Didorong Agar Dapat Berdaulat

    Hingga saat ini sebagian besar pakan ternak di Indonesia masih mengandalkan impor. Perlu adanya suatu inovasi pakan alternatif serta kebijakan yang mendukung.
    Demi membahas tantangan tersebut, IPB University bekerja sama dengan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dan Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (PATAKA) menggelar Talkshow Daring Seri-3 berjudul “Kebijakan Berbasis Evidence dalam Pakan Berdaya Saing”, 04/3.

    Prof Arif Satria, Rektor IPB University mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut merupakan kesempatan baik dalam mengeksplor kemungkinan-kemungkinan dasar dalam mendorong kedaulatan bidang peternakan terutama dalam hal pakan. Formulasi kebijakan dan formulasi bisnis berbasis scientific evidence sangat diperlukan dengan perguruan tinggi yang memegang perannya. Sehingga dapat dihasilkan inovasi pakan alternatif yang berkualitas tinggi.

    Prof Muladno, Guru Besar IPB University dari Fakultas Peternakan menyebutkan bahwa regulasi bagi bahan pakan sangat penting agar peternak nyaman untuk melakukan usahanya. Di pasaran, harganya masih cenderung fluktuatif dan beragam kualitasnya sehingga perlu adanya pengawasan. Limbah pertanian yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan pun faktanya malah diekspor sehingga peternak menjadi kurang berdaulat.

    Peternak belum tersentuh teknologi terkini sehingga menyebabkan produktivitas dan kualitas ternak rendah. Regulasi saat ini juga masih berpandangan bahwa impor bahan pakan kurang baik padahal ketersediaan bahan pakan belum mencukupi.

    Menurutnya, keperluan impor untuk dijadikan produk lain tidak selalu buruk. Ia juga menyebutkan bahwa terdapat beberapa fakta di lapangan yang membuat pengelolaan pakan menjadi tidak efisien serta merugikan petani. Misalnya, integrator vertikal yang menguasai hulu-hilir sehingga petani tidak bisa berdaulat. Di samping itu, petani masih sulit mendapatkan limbah pertanian untuk pakan ternak dan pemeliharaan ternaknya masih mandiri.

    Ia menawarkan beberapa solusi. Yakni impor bahan baku pakan seperti tanaman jagung jika dapat dipastikan harganya lebih murah. Pertimbangan panen tanaman pada usia 80 hari daripada 120 hari lebih menguntungkan. Sehingga nantinya pakan sapi sehingga lebih murah, untuk ayam dapat menggunakan bahan pakan impor karena ketersediiaannya lebih mudah. Spesialisasi pekerjaan atau ia sebut “bagi-bagi kavling” antara petani dan peternak juga dinilai efisien. Nantinya, petani hanya menanam pangan atau pakan, sedangkan peternak hanya beternak saja.
    Peternak juga harus berkonsolidasi untuk berhimpun membentuk integrasi horizontal seperti koperasi sehingga dapat bersanding dengan integrasi vertikal. Konsolidasi tersebut harus didorong kuat dengan perguruan tinggi menjadi lembaga riset dan pengembangan bagi komunitas pertanian rakyat.

    “Nanti lembaga negara harus berbuat maksimal kepada rakyatnya, pemerintah pun sama. untuk mendorong betul koperasi-koperasi tersebut hingga ada keberpihakan dan fasilitasi agar bisnis tersebut tidak hanya murni dari peternak. Perguruan tinggi pun bisa dengan ilmu dan pengetahuannya dan pemerintah dengan regulasinya,”ungkapnya.

    Keterlibatan perguruan tinggi dan pemerintah tersebut bersifat mutlak. IPB University dengan Sekolah Pertanian Rakyat menjadi salah satu bukti betapa pentingnya peran dua lembaga. Diawali dengan pemerintah kabupaten yang bersinergi dengan perguruan tinggi. Kerja sama yang baik antara rektor dan bupati telah secara efektif menggerakkan dosen dan mahasiswa beserta birokratnya untuk bersama membawa peternak-peternak tersebut untuk berkonsolidasi.

    Prof Nahrowi Ramli, Guru Besar IPB University dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan turut merekomendasikan bahwa perlu adanya perluasan lahan untuk produksi bahan pakan terutama untuk keperluan ruminansia. Begitu pula perlu adanya industrialisasi kedelai sebagai bahan pakan alternatif dan perbaikan sistem informasi dan logistik. Selain itu, penanganan dan kebijakan yang berbeda terhadap bahan pakan lokal juga perlu diterapkan (ipb.ac.id)

  • Guru Besar Fapet IPB : Lahan marjinal dapat dijadikan lahan pengembangan tanaman pakan

    Guru besar Fakultas Peternakan IPB, Prof. Dr. Ir. Panca Dewi, menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul "Strategi Pengembangan Tanaman Pakan pada Lahan Marjinal untuk Ketahanan Pakan Nasional" (Sabtu, 24/09/2016) di Auditorium Gedung Andi Hakim Nasution. Orasi Ilmiah dihadiri oleh sekitar 400 undangan antara lain dari pimpinan lembaga peneliti, perwakilan BUMN dan pimpinan perusahaan swasta mitra IPB.

    Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Panca Dewi mengulas mengenai peran strategis hijauan pakan dalam mendukung swasembada daging nasional dan menjadi penggerak perekonomian masyarakat petani peternak. Orasi ilmiah yang disampaikan merupakan kompilasi hasil-hasil penelitian selama beberapa tahun terakhir, baik penelitian mandiri maupun penelitian bersama. Salah satu pokok bahasan utama adalah seleksi tanaman pakan tahan kekeringan, stres kemasaman dan stres salinitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa jenis tanaman pakan dapat tumbuh dengan baik pada lahan kering dan marjinal, termasuk areal bekas pertambangan.

    Pada akhir orasi ilmiahnya, Prof. Panca Dewi memberikan rekomendasi untuk revitalisasi padang penggembalaan nasional, pemanfaatan lahan pasca tambang dan program nasional dengan menggunakan tanaman toleran yang lebih produktif dan berkualitas. Prof. Panca Dewi menyampaikan bahwa dukungan pemerintah, dalam bentuk regulasi dan kebijakan sangat penting untuk mendukung usaha peternakan pada areal pasca tambang pada zona Area Penggunaan Lain.

     

     

  • Guru Besar Fapet IPB: Peran RPHU Penting Hasilkan Daging Asuh

    Rumah pemotongan hewan unggas (RPHU) merupakan suatu bangunan yang desain dengan syarat tertentu dan digunakan sebagai tempat pemotongan unggas bagi konsumsi masyarakat.

    “Peran RPHU sangat penting, yakni penyedia daging unggas berkualitas, aman, sehat utuh dan halal (ASUH), berdaya saing dan kompetitif,” kata Guru Besar Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (Fapet IPB), Prof Dr Ir Niken Ulupi MS, dalam Online Training bertajuk “Manajemen dan Sistem Manajemen Mutu RPHU” pada 22-23 Juli 2020. 

    Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan Fakultas Peternakan IPB selama dua hari dengan menghadirkan narasumber penting lain yakni Deputy General Manager Production PT Charoen Pokphand Indonesia-Food Division, Alamsyah.

    Niken menyebutkan, peran RPHU makin nyata terlebih jika melihat fakta produksi ayam broiler (2019) sebesar 3.829.633 ton atau 319.139 ton/bulan, sementara kebutuhan konsumsi daging ayam sebanyak 3.251.750 ton atau 270.979 ton/bulan. Terdapat surplus produksi 17.77%  atau 48.157 ton/bulan.

    “Dampak surplus produksi dan kebijakan pemerintah yakni harga ayam turun dan tidak stabil, penurunan kualitas di pasar tradisional dan bermunculan usaha RPHU,” ucapnya.

    Tidak hanya sebagai tempat pemotongan unggas, Niken menjelaskan fungsi RPHU juga sebagai tempat untuk mendeteksi dan memonitor penyakit, tempat pemeriksaan ante dan post mortem, serta tempat mencegah dan pemberantasan penyakit zoonosis atau penyakit ternak yang bisa menular ke manusia.

    RPHU yang berdaya saing dapat diartikan sebagai suatu usaha pemotongan unggas yang mempunyai kesanggupan, kemampuan dan kekuatan untuk bersaing dengan usaha sejenis yang lain. Untuk mencapai hal itu, sangat diperlukan langkah memaksimalkan peranan RPHU sebagai penyedia daging unggas yang asuh, mengontrol dan meningkatkan pelaksanaan manajemen RPHU, peningkatan sarana dan prasarana proses produksi dan kualitas produk, serta pengembangan inovasi produk, serta peningkatan kemampuan sumber daya manusianya.

  • Guru Besar Genetika Hewan IPB: Sapi Bali, Harta Karun Indonesia

    Sumberdaya genetik ternak merupakan aset yang paling strategis dan berharga yang dapat dimiiki oleh suatu negara. Populasi dunia diprediksi akan mencapai 9 milyar lebih pada tahun 2050, beranjak dari 6,7 milyar pada saat ini. Sehingga membutuhkan peningkatan 70 persen produksi pertanian. Diperkirakan di wilayah pedesaan yang miskin sekitar 70% kehidupan masyarakatnya tergantung pada ternak.

    “Kombinasi pertumbuhan populasi penduduk, menguatnya pendapatan dan urbanisasi akan mengakibatkan meningkatkan kebutuhan pangan dan pakan dua kali lipat pada tahun 2050. Yang paling dekat adalah dapat dipastikan menjelang puasa bulan depan akan meningkat permintaan daging tapi kita tidak bisa menutupi. Kekurangan pasokan daging sapi akan terus terjadi sampai tahun 2020,” ujar Guru Besar Genetika Ternak, Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Ronny Rachman Noor, Mrur.Sc dalam konferensi pers pra orasi di Kampus IPB Baranangsiang (19/4).

    Meningkatnya permintaan ini membuka kesempatan dan peluang yang lebih besar untuk meningkatkan kontribusi peternakan pada pertumbuhan ekonomi nasional. Riset-riset  Prof. Ronny selalu diarahkan untuk meningkatkan populasi dan produktivitas ternak lokal.

    Salah satu yang dilakukan Prof. Ronny untuk meningkatkan populasi ternak lokal adalah pengujian kemurnian Sapi Bali yang terancam kemurniannya. Prof. Ronny telah mengembangkan teknik menganalisa kariotipe, penggunaan scanning electron microscope untuk menganalisa topografi bulu dan kromosom, teknik isoelectric focusing dan DNA mikrosatelit.

    “Di museum ternak tertua Eropa yang ada di Universitas Martin Luther Jerman, anda akan lihat foto Sapi Bali yang terpampang gagah di salah satu dinding. Foto itu dibuat tahun 1827. Kita patut bangga karena sapi asli Indonesia sudah dikenal bangsa Eropa pada jamannya perang Diponegoro. Ilmuwan Eropa sudah mengidentifikasi bahwa Sapi Bali ini unik dan patut dipertimbangkan sebagai salah satu bangsa sapi unik di dunia,” terangnya.

    Menurutnya ada tujuh keajaiban pada Sapi Bali, yakni dapat bertahan pada kondisi lingkungan marjinal dengan kualitas pakan yang rendah dan memiliki persentasi karkas tertinggi (bahkan tertinggi di dunia). Sapi Bali merupakan salah satu dari sedikit bangsa sapi di dunia yang warna kaki bagian bawah dan daerah seputar pantatnya berwarna putih (gen pengatur pola warna ini hanya ada di Sapi Bali).

  • Guru Besar IPB Rancang Telur Rendah Kolesterol, Kaya Omega 3 dan 6

    Penyebab kematian tertinggi di Indonesia adalah stroke dan jantung koroner yaitu mencapai 21.1 persen dan 12.9 persen dari total 41.590 kematian. Selain itu prevalensi defisiensi vitamin A di Indonesia masih tinggi (severe subclinical) dan terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia.

    Komoditi telur dan daging unggas mempunyai peranan yang sangat penting untuk membantu mengatasi masalah ini. Namun tingkat kolesterol telur ayam, telur bebek dan telur puyuh tergolong tinggi, yang paling tinggi adalah telur puyuh. Namun tingkat keseimbangan kandungan omega 3 dan omega 6 pada telur puyuh paling baik jika dibandingkan telur ayam dan telur bebek. Demikian dikatakan Guru Besar Tetap Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Sumiati, M.Sc dalam jumpa pers pra Orasi Ilmiah di Kampus IPB Baranangsiang, Bogor (20/7).

    Pangan yang aman dikonsumsi manusia dari segi kesehatan harus mengandung asam lemak omega 3 dan omega 6 dengan rasio satu banding empat (1:4) dan satu banding sepuluh (1:10). Oleh karena itu, dalam beberapa risetnya Prof. Sumiati menciptakan beberapa desain telur dan daging unggas (ayam, itik dan puyuh) fungsional.

    Rasio berimbang satu banding empat (1:4) ini mampu menurunkan kematian akibat penyakit kardiovaskular sebesar 70 persen. Sementara rasio sebesar satu banding lima (1:5) sangat baik untuk penderita asma.

    “Riset yang telah kami lakukan dalam beberapa tahun terakhir adalah desain telur kaya omega 3, desain telur dengan rasio omega 3 dan omega 6 berimbang, desain telur rendah kolesterol, desain telur kaya vitamin A dan desain telur kaya antioksidan. Untuk daging, kami membuat desain daging unggas fungsional rendah lemak dan kolesterol, tinggi vitamin A dan asam lemak omega 3,” ujarnya.

    Prof. Sumiati melakukan rekayasa pakan pada ternak dengan memanfaatkan limbah pengolahan ikan lemuru berupa minyak ikan, minyak sawit, indigofera zollingeriana, daun katuk, lada hitam, choline chloride, ampas tahu, daun singkong, daun salam dan daun kayambang. Contohnya adalah penambahan minyak ikan lemuru 2 persen dan tepung daun singkong 11 persen dalam pakan dapat menurunkan kadar lemak daging itik.

    “Tepung daun katuk terbukti dapat meningkatkan kandungan vitamin A pada daging puyuh. Selain itu desain daging ayam kaya omega 3 dapat dilakukan dengan penggunaan minyak ikan pada ransum ayam broiler,” terangnya.(ipb.ac.id)

  • Guru Besar IPB Temukan Pakan Alternatif Pengganti Ransum Ternak dari Maggot

    Guru Besar Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Nahrowi, menemukan alternatif pakan ternak berbahan dasar maggot guna menggantikan MBM. MBM atau meat bone meal banyak digunakan untuk ransum atau bahan penyusun pakan hewan ternak seperti unggas, ikan, dan babi. Selama ini MBM 100 persen impor. Hal ini menyebabkan harga MBM mahal. Sedangkan kebutuhan Indonesia akan MBM tiap tahunnya mencapai 800 ribu ton.

    Prof. Nahrowi mengatakan, sebelumnya Indonesia memakai tepung ikan yang mengandung protein hewani untuk ransum ternak. Namun, kualitas tepung ikan yang diproduksi oleh Indonesia kurang baik.

    “Indonesia masih belum bisa memproduksi MBM, karena bahan baku untuk membuat MBM juga dikonsumsi untuk manusia, seperti daging dan tulang. MBM yang terbuat dari hewan mamalia termasuk babi juga menjadi masalah bagi para peternak muslim yang ada di Indonesia. Untuk itu, perlu adanya pakan alternatif yang bisa menggantikan MBM seperti maggot,” ujar Prof. Nahrowi.

    Maggot adalah larva dari lalat. Lalat yang digunakan sebagai penghasil maggot untuk pakan ternak ini berasal dari lalat buah yaitu jenis Black Soldier Fly (BSF). Maggot sangat cocok dijadikan pengganti MBM sebagai pakan ternak karena memiliki semua kriteria yang menjadi syarat utama bahan pakan ternak. Adapun syarat-syarat pakan ternak yaitu, komposisi nutrisi terpenuhi, harga bersaing, dan ketersediaan banyak. Ketiga syarat tersebut dapat dipenuhi oleh maggot. Produksi maggot sangat cepat, satu ekor lalat BSF dapat menghasilkan 500 maggot dalam sekali reproduksi. Pemeliharaan lalat BSF yang mudah juga menjadi nilai lebih untuk menggantikan MBM. Selain itu, faktor lain yang tidak kalah penting untuk menentukan maggot sebagai alternatif pakan pengganti adalah BSF merupakan serangga yang tidak membawa unsur penyakit dan memiliki nilai protein tinggi.

    Penelitian Prof. Nahrowi tentang maggot sudah dilakukan sejak tahun 2009. Hingga saat ini penelitiannya masih terus berlanjut sampai tahap pembuatan konsentrat protein, lemak dan kitin dari maggot. Hal ini dilakukan untuk semakin mengefisienkan dan mengoptimalkan sumber nutrisi untuk pakan ternak dari maggot. Selain maggot, sebelumnya Prof. Nahrowi juga pernah meneliti ulat Hongkong sebagai pakan alternatif, tetapi ketersediaan yang terbatas dan harga yang mahal membuat ulat Hongkong sulit untuk dikembangkan lebih luas. Ia berharap penelitian ini dapat dikembangkan lebih luas dan dapat dimanfaatkan oleh banyak orang.(ipb.ac.id)

  • Guru Besar IPB University Temukan Inovasi Bahan Pakan Ternak Berbasis Bungkil Sawit

    Industri pakan di Indonesia masih dihadapkan pada dinamika ketersediaan bahan baku pakan yang musiman dan tidak berkelanjutan. Kondisi pandemi COVID-19 kian menambah kesemrawutan khususnya dalam ketersediaan bahan baku lokal dan impor.  

    Menanggapi hal tersebut, PT Buana Karya Bhakti bersama IPB University mencoba memberikan solusi atas dinamika industri pakan nasional. Solusi yang ditawarkan diantaranya adalah pemanfaatan Bungkil Inti Sawit atau Palm Kernel Meal (PKM) sebagai bahan pakan alternatif sumber energi dan protein.

    PKM merupakan hasil sampil dari industri pengolahan kelapa sawit dengan ketersediaan di Indonesia sangat tinggi.  PKM diharapkan dapat memberikan solusi atas ketersediaan bahan baku pakan yang berkualitas dan berkelanjutan dengan harga kompetitif. Dengan demikian, inovasi ini dapat memberikan dampak signifikan pada kemajuan industri pakan dan peternakan.

    PT Buana Karya Bhakti bersama IPB University hendak memperkenalkan Palmofeed sebagai produk unggulan melalui webinar “Mengulas Inovasi Palm Kernel Meal Terolah (Palmofeed) sebagai Bahan Pakan Fungsional Sumber Energi dan Protein" yang digelar di Hotel Santika, Bogor, 26/04.

    Prof Arif Satria, Rektor IPB University mengatakan bahwa dirinya sangat bangga pada Prof Nahrowi sebagai peneliti yang mengembangkan produk-produk sampingan sawit sebagai pakan ternak. Terobosan Palmofeed sebagai pakan fungsional yang berkualitas dapat meningkatkan kemampuan peternak dalam produktivitasnya. Ia juga meyakini hasil riset tersebut dapat dikembangkan bagi sektor perikanan yang juga mengalami dinamika pada biaya operasionalnya.

    “Bila kita sudah bisa meningkatkan dalam hal kemandirian pangan dalam hal pakan, maka industri peternakan kita akan semakin berkembang pesat. Karena bagaimanapun juga Indonesia dihadapkan pada upaya untuk meningkatkan pemenuhan protein dari masyarakat kita," katanya.

    Lebih lanjut ia menerangkan, konsumsi daging masih relatif rendah dibanding negara lain sehingga perlu terus didorong agar kecukupan protein hewani meningkat. "Jadi pakan dari PKM ini merupakan inovasi yang ditunggu-tunggu oleh banyak kalangan,” sebutnya.

    Prof Nahrowi, Guru Besar IPB University dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP) Fakultas Peternakan (Fapet) sekaligus ahli Palmofeed, menyampaikan hasil riset inovatif PKM bagi pakan ternak. Ia menyoroti bungkil sawit yang tidak dimanfaatkan secara maksimal untuk bahan pakan lokal. Informasi mengenai pemakaian bungkil sawit juga belum jelas. Umumnya, bungkil sawit hanya digunakan sebagai bahan pengisi hingga tiga persen saja.

    Padahal, kata Prof Nahrowi, apabila dilihat dari ketersediaannya dibandingkan bahan pakan lain seperti jagung, bungkil sawit tersedia di segala musim. Teknologi yang digunakan juga sudah established, walaupun kualitas masih bervariasi sehingga masih perlu ditangani.

     Ia berpendapat jika berbicara kualitas bahan pakan, hal tersebut bukan merupakan tanggung jawab industri pakan namun produsen sawitnya. Produsen sawit dinilai masih kurang perhatian  sehingga tidak ada upaya untuk memperbaiki kualitas bungkil sawit yang masih bervariasi. Maka dari itu ia berupaya untuk menggandeng PT Buana Karya Bhakti agar produsen sadar bahwa bungkil sawit belum bisa dipakai untuk unggas sehingga perlu sentuhan teknologi. Menurutnya, apabila hulunya sudah dikuasai, maka hilirnya akan mudah untuk dikelola.

    Lebih lanjut Prof Nahrowi menjelaskan, kekhawatiran utama selain kualitas yang beragam, kandungan mikotoksin atau non starch polissacharydes juga menjadi urusan peneliti. Kandungan mannan oligosakarida yang 20 kali lebih tinggi juga tidak direkomendasikan untuk pakan unggas.

    Namun demikian, secara keseluruhan Palmofeed memiliki kualitas kimia lebih baik terutama pada kandungan serat yang jauh lebih rendah daripada PKM mentah. Selain itu, Palmofeed juga telah mengantongi beberapa paten dan berdasarkan analisis biayanya, harga per gram proteinnya relatif lebih murah dibandingkan bahan baku pakan lainnya.   Ia berharap agar Palmofeed tersebut dapat dipakai oleh peternak secara nasional.
     
    “Saya berharap banyak pada nutrisionist dan formulator yang punya keberanian dalam menyusun ransum terbaik menggunakan palmofeed. Saya juga berharap  teman-teman di lapangan dapat menggunakan bahan pakan ini secara optimal,” tuturnya (ipb.ac.id)

  • Guru Besar IPB University: Telur Ayam Kampung Aman di Konsumsi Mentah

    Telur ayam ras bisa terkontaminasi kuman sejak di perut induknya. Kalau induknya terpapar salmonella plorum, ayam akan sakit dan mati. Tapi kalau salmonella enteritis, ayam tidak sakit tapi kuman bisa bersarang di organ reproduksi, menempel di kuning serta putih telur dan terbawa saat telur keluar dari tubuh ayam.

    “Beda dengan ayam kampung (ayam lokal dan ayam asli Indonesia). Dia mempunyai kemampuan mengeliminasi kuman (khususnya salmonella) karena sel imunnya luar biasa, sehingga tidak pernah ada temuan salmonela di telur ayam kampung sehingga telur ayam kampung aman dikonsumsi dalam kondisi mentah,” ujar Prof Dr Ir Niken Ulupi, Guru Besar Tetap Fakultas Peternakan, IPB University saat Konferensi Pers Pra Orasi di Kampus Baranangsiang, Bogor (21/11).

    Karena antibodi dari induk ditransfer ke telur maka telur ayam kampung akan selalu clear dari salmonella yang bersifat zoonosis. Sementara pada ayam ras, meskipun diberi pakan yang bagus tapi antibodi di dalam darahnya sedikit sehingga tidak mampu mengatasi serangan kuman dari luar.
    “Bahkan ada prevalensi telur ayam ras terkena salmonela 3,12 persen. Kalau ada 100 telur maka ada telur yang terpapar salmonela. Kalau direbus tidak matang maka bisa mengakibatkan diare (ringan), tipes (sedang) atau parahnya mati. Kalau ada orang kena tipes, jarang yang curiga kalau penyebabnya bisa dari telur,” ujarnya.

    Menurutnya, hasil penelitian menunjukkan bahwa ayam asli dan ayam lokal Indonesia memiliki kemampuan hidup pada suhu tinggi di daerah tropis, dengan pakan marjinal atau berkualitas rendah dan lingkungan tidak higienis serta biaya pemeliharaannya yang lebih murah. Ayam tersebut tetap hidup dan tetap mengalami peningkatan populasi meskipun tidak tinggi.

    Secara genetik, gen HSP-70 (yang mengontrol kemampuan beradaptasi pada lingkungan panas), gen pengontrol penyakit yakni gen TLR4 (yang mengontrol ketahanan tubuh terhadap penyakit infeksi bakteri) dan gen Mx (yang mengontrol ketahanan tubuh terhadap infeksi virus) serta gen SCD yang mengontrol perlemakan daging, dapat berekspresi lebih tinggi pada ayam asli dan ayam lokal Indonesia daripada ayam ras.

    “Dengan demikian, ayam asli dan ayam lokal Indonesia memiliki keunggulan tahan lingkungan panas, tahan penyakit infeksi bakteri dan virus. Daging ayam kampung memiliki lemak intramuskuler lebih tinggi dengan cita rasa yang khas namun lebih sehat. Ini karena kandungan kolesterol dan malonaldehidenya lebih rendah daripada daging yang dihasilkan ayam ras,” tambahnya.

    Namun keunggulan ini harus diikuti dengan peningkatan laju pertumbuhan ayam asli dan ayam lokal. Agar dapat berperan sebagai penghasil daging, ayam-ayam asli ini dapat disilangkan dengan parent stock pedaging, sehingga kecepatan pertumbuhannya meningkat.
    “Inilah yang dilakukan Prof Cece Sumantri, Guru Besar Tetap Fakultas Peternakan IPB University. Ayam lokal IPB D1, rumpun baru hasil rintisan Prof Cece dan tim ini dapat dipanen di usia 12 minggu dengan bobot hidup menyamai ayam broiler umur 5 minggu (1,5 kilogram peer ekor). Ayam IPB D1 ini sudah mendapatkan SK dari Kementerian Pertanian dengan nomor 693/Kpts/PK.230/M/9/2019,” terangnya. 

    Prof Niken menambahkan bahwa pengembangan ayam asli dan ayam lokal ini perlu ditangani secara industri. Industri atau perguruan tinggi atau lembaga penelitian dapat berperan sebagai breeder untuk menyediakan bibit berkualitas. Selain itu, diperlukan juga regulasi yang menjamin perlindungan terhadap semua pihak yang terlibat (ipb.ac.id)

  • Guru Besar IPB, Prof. Muladno : Saat ini Ada 30 SPR di Indonesia


    Sekolah Peternak Rakyat (SPR) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB) menggelar launching Sekretariat SPR LPPM IPB yang bertempat di Fakultas Peternakan Wing XII, Kampus IPB Dramaga, Bogor. (2/10). Sekretariat ini menjadi tempat yang memudahkan para stakeholder terkait di bidang peternakan untuk datang berkomunikasi atau interaksi membicarakan soal ternak.

    Ketua SPR LPPM IPB, Prof. Dr. Muladno dalam laporannya menyampaikan bahwa SPR didirikan pada tahun 2013 oleh LPPM IPB. Akan tetapi gagasan SPR terbentuk pada tanggal 19 September 2012 dan diterima dunia internasional tanggal 19 September 2018.

    Tujuan dibentuknya SPR adalah untuk memberi ilmu pengetahuan kepada peternak berskala kecil tentang berbagai aspek teknis peternakan dan nonteknis. SPR adalah perusahaan peternakan yang dikelola secara kolektif dalam satu manajemen (satu manajer) dalam rangka meningkatkan daya saing usahanya melalui pendampingan, pengawalan, aplikasi teknologi dan informasi, serta transfer ilmu pengetahuan untuk meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan peternak.

    “SPR mengalami perkembangan yang luar biasa di berbagai daerah. Ini merupakan hal yang menggembirakan karena peternak merasa mendapatkan perhatian besar dalam pembangunan peternakan secara nasional. Hingga saat ini SPR yang diinisiasi secara institusional oleh LPPM IPB bertambah satu lagi di Kecamatan Pelepat Ilir Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi yang bernama SPR Kuamang Abadi. Maka sekarang  SPR LPPM IPB berjumlah 30 di seluruh Indonesia,” tuturnya.

    Ia menambahkan SPR semakin menunjukkan eksistensinya di wilayah yang sudah menerapkan program ini. SPR sangat membantu petani kecil untuk mengembangkan ternaknya menjadi lebih menguntungkan.

    Prof. Muladno berharap agar semua perguruan tinggi di Indonesia yang mempunyai program studi peternakan bisa mengembangkan SPR, sehingga peternak seluruh Indonesia dapat di dampingi dosen dan mahasiswa dari perguruan tinggi terdekat tidak harus dengan IPB. Dengan demikian, perguruan tinggi setempat dapat terlibat langsung sekaligus sebagai ikon pembangunan peternakan dalam program SPR.

    “Lunching sekretariat ini menjadi media atau tempat untuk dapat berkomunikasi atau interaksi langsung dengan para peternak. Contohnya yang mempunyai masalah ternak dapat berkonsultasi dan menemukan jawaban langsung dari ahlinya,” tambahnya.

    Kepala LPPM IPB, Dr. Aji Hermawan mengatakan sangat bangga sekali dengan keberadaan SPR. Keberadaan perguruan tinggi akan menjadi bermakna kalau dapat memberikan kontribusi sebesar-besarnya kepada masyarakat. Ini adalah tugas yang diemban oleh LPPM IPB untuk mendiseminasikan inovasi dan hasil-hasil riset para peneliti dan dosen IPB untuk sampai ke masyarakat dan memberikan manfaat atau impact sebesar-besarnya kepada masyarakat.

    “Kalau diamati salah satu program yang memberikan dampak besar kepada masyarakat adalah SPR LPPM IPB. Program SPR merupakan sebuah pola bagaimana berusaha membumikan teknologi yang ada di perguruan tinggi untuk kepentingan masyarakat, sehingga dapat membangun kemandirian peternakan di daerah. Jadi SPR dapat memberikan akses yang besar bagi peternak di Indonesia seperti akses informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta penguatan kendali produksi dan pasca produksi ternak,” katanya.

    Ia menambahkan, melalui program tersebut diharapkan pengembangan SPR di Indonesia akan menjadi lebih cepat dengan konsep kerjasama berbagi peran dan tanggungjawab antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, swasta dan para peternak yang ada di daerah. SPR ke depan tidak hanya akan memberikan dampak pada level nasional tetapi akan merambah ke level internasional.

    Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Peternakan (Fapet) IPB, ProfDr. Ir. Sumiati, M.Sc sangat mendukung penuh SPR LPPM IPB ini, karena SPR sangat membantu peternak kecil yang ada di daerah-daerah untuk maju dan memberikan kesejahteraan. Prof. Sumiati berharap SPR LPPM IPB terus maju dan berkembang lebih baik dan terus berbagi kebaikan untuk peternak yang ada di Indonesia. (ipb.ac.id)

  • Guru Besar IPB: Ganti Antibiotik dengan Probiotik

    Penggunaan antibiotik pada hewan ternak dalam jangka panjang dan dengan dosis subterapik menyebabkan kekebalan bakteri patogen khususnya yang zoonotik, dan bakteri indigenous terhadap antibiotik yang digunakan. Beberapa penelitian melaporkan bahwa gen resisten antibiotik dapat ditransfer kepada bakteri patogen khususnya bakteri saluran pencernaan manusia melalui konsumsi produk ternak yang terkontaminasi bakteri, sehingga penggunaan antibiotik sejenis pada manusia tidak mampu membunuh bakteri patogen. 
     
    Di Indonesia sendiri sudah ada Undang-undang (UU) yang melarang penggunaan antibiotik, yaitu UU Peternakan dan Kesehatan Hewan No. 18 tahun 2009 pasal 22 ayat 4c yang berbunyi “Setiap orang dilarang menggunakan pakan yang dicampur hormon tertentu dan atau  antibiotik imbuhan pakan”. Namun sampai saat ini UU tersebut belum diturunkan menjadi Peraturan Pemerintah sehingga belum bisa diimplementasikan. Demikian disampaikan Prof.Dr.Ir Komang G. Wiryawan, Guru Besar Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam konferensi pers pra Orasi di Kampus IPB Baranangsiang, Bogor (22/9).
     
    “Untuk mengurangi penggunaan antibiotik maka perlu dicari alternatif imbuhan pakan yang memiliki peran yang sama dengan antibiotik, tetapi lebih ramah terhadap kesejahteraan manusia dan ternak serta lingkungan. Salah satu alternatif adalah probiotik,” ujarnya.
     
    Probiotik merupakan sumplemen mikrob hidup yang jika diberikan dalam jumlah yang cukup akan memberikan efek menguntungkan bagi kesehatan inang. Mikrob yang dapat digunakan sebagai probiotik yaitu bakteri, ragi dan kapang. 
     
    Pemberian probiotik pada ternak ruminansia muda akan membantu menyeimbangkan populasi mikrob saluran pencernaan, disamping mencegah diare dan meningkatkan pertumbuhan. Penggunaan probiotik pada ternak ruminansia dewasa bertujuan untuk mencegah terjadinya kelainan metabolisme yaitu asidosis dan untuk menurunkan produksi gas metana. 
     
    “Ternak domba yang diinokulasi dengan probiotik bakteri pengguna asam laktat S. ruminantium subsp lactilytica sebanyak 108 cfu mampu mencegah terjadinya akumulasi asam laktat di dalam rumen dibanding dengan kontrol. Ini sudah diterapkan di Afrika untuk mengatasi domba yang mengalami asidosis,” terangnya.
     
    Prof. Komang berhasil melakukan isolasi bakteri toleran tanin dari ternak kambing kaligesing yang sudah terbiasa mengkonsumsi kaliandra yang mengandung tanin. Isolat bakteri tersebut sangat potensial dikembangkan sebagai probiotik untuk diberikan pada ternak yang belum diadaptasi dengan pakan yang mengandung tanin.
     
    Penggunaan probiotik dalam industri peternakan sangat menjanjikan walaupun masih perlu kajian-kajian untuk penyempurnaannya. Perkembangan informasi genomik yang pesat memungkinkan kita untuk merakit galur probiotik baru yang mempunyai aktivitas yang lebih tinggi sehingga penggunaan probiotik dapat lebih dioptimalkan, tambahnya.(zul - news.ipb.ac.id)
     
  • Guru Besar IPB: Peternakan Berbasis Integrasi Meningkatkan Keuntungan Hingga 100 Persen

    Guru Besar Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (Fapet-IPB), Prof. Dr. Asnath Maria Fuah mengatakan bahwa pemanfaatan lahan, tanaman dan ternak berbasis integrasi mampu meningkatkan keuntungan sebesar 10-100 persen dibandingkan dengan tanpa integrasi. Hal ini disampaikannya saat Konferensi Pers Pra Orasi Ilmiah di Kampus IPB Baranangsiang (19/7). 

    Contohnya adalah integrasi satwa harapan di wilayah perkotaan atau livestock urban farming. Sistem integrasi kopi-lebah madu (sinkolema) mampu meningkatkan produksi madu mencapai 114 persen. Hasil ini lebih tinggi dari produksi madu dari lebah yag dipelihara di luar kawasan integrasi. Produksi biji kopi meningkat sebesar 10,55% yakni dari 118 ton/ha menjadi 131 ton/ha. 

    “Selain  kopi dan lebah, budidaya insekta juga bisa menggunakan pola integrasi. Misalnya usaha peternakan jangkrik dengan luasan lahan 64 meter persegi ternyata bisa memberikan keuntungan bersih mencapai 27 juta rupiah per tahun. Selain itu usaha budidaya ulat Hongkong dengan luasan lahan yang sama bisa menghasilkan keuntungan bersih 28 juta per tahun,” terangnya.

    Sementara itu berdasarkan aspek pemanfaatan lahan, kawasan integrasi untuk ternak sapi, kerbau, kambing dan domba tersebar pada empat zona dan terdiri dari 19 kawasan padang penggembalaan, 46 kawasan perkebunan, 38 kawasan pertanian padat penduduk dan 1 juta hektar areal buffer hutan. 

    “Pemerintah mentargetkan ada 12,7 juta hektar areal buffer hutan. Tujuannya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat yang berdomisili di areal sekitar hutan. Tentu ada potensi dan kendalanya,” ujarnya.

    Menurutnya untuk integrasi sapi-sawit di Sumatera dan Kalimantan memberikan dampak positif terhadap peningkatan petani-peternak sebesar 40-60 persen. Integrasi sapi dengan padi, jagung dan kedelai (pajale) pada lahan pasang surut menunjukkan bahwa pemanfaatan kompos kotoran sapi dan bio-slurry meningkatkan produktivitas kedelai sebesar 62 persen. Pendapatan petani meningkat sebesar 30-45 persen dengan nilai R/C ratio sebesar 1.83.

    Di sisi lain penerapan sistem integrasi juga memiliki kendala. Berdasarkan skala usaha, usaha skala kecil meliputi keterbatasan lahan, tenaga kerja dan modal. Usaha kelompok kendalanya pada kemampuan manajemen organisasi dan penggunaan teknologi terutama pengelolaan hasil dan manajemen limbah. Dan pada skala kawasan ada keterbatasan modal, akses infrastruktur, koordinasi antar lembaga dan distribusi serta rantai pasok produk belum efisien.

    “Sinergi program lintas sektor belum berjalan, komitmen organisasi dan penerapan kebijakan integrasi antara institusi terkait belum efektif,” terangnya.

    Maka dari itu, ia memberikan beberapa rekomendasi yang bisa diterapkan yakni kemitraan yang efektif disertai peran aktif dan komintmen yang kuat dari multistakeholder; swasembada daging perlu didukung oleh komoditi ternak pedaging lainnya (domba, kambing, unggas dan aneka ternak); serta dukungan kebijakan dari pemerintah dan institusi terkait yang menyangkut regulasi tata ruang dan penetapan kawasan integrasi peternakan.

    “Multistakeholders itu artinya lembaga perguruan tinggi, swasta, pemerintah, masyarakat dan media. Mengadopsi model ABGC-M atau pentahelix,” tandasnya (ipb.ac.id)

  • Guru Besar IPB: Swasembada Daging Terwujud 20-30 Tahun Lagi

     

    Guru Besar Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof.Dr Muladno mengatakan, target swasembada daging dua atau tiga tahun ke depan adalah bersifat politis. Karena menurutnya, tidak akan terjadi swasembada daging dalam kurun waktu sesingkat itu apabila melihat kondisi peternakan sapi di Indonesia saat ini, mengingat total populasi sapi yang ada hanya 16 juta ekor, itu pun termasuk sapi impor dan sapi betina.
     
    Hal ini disampaikannya dalam jumpa pers di Bogor, Kamis (19/3). Menurut pencetus Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) 1111 ini, mayoritas pemilik sapi Indonesia (6,5 juta orang) adalah lulusan SD-SMP. Kondisi saat ini, kepemilikan sapi per peternak hanya 2-3 ekor dengan berbagai keterbatasan seperti akses lemah, pengetahuan teknologi lemah dan masih menggunakan cara tradisional.
     

  • Hadirkan Dosen Tamu dari California, Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan IPB University Gelar Kuliah Umum Bahas Manajemen Pupuk dalam Industri Peternakan

    Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP) Fakultas Peternakan IPB University hadirkan Alice Rocha dari Departemen Peternakan University of California, Amerika Serikat sebagai dosen tamu dalam Kuliah Tamu dengan tema Manajemen Limbah Peternakan, (04/05).

    Dalam kegiatan ini Alice menjelaskan tentang manajemen pupuk di Amerika Serikat. Kegiatan tersebut dimoderatori oleh Windi Al Zahra M Si, Dosen IPB University dari Departemen IPTP Fakultas Peternakan.

    Alice menyebutkan bahwa di Amerika Serikat telah diberlakukan beberapa kebijakan manajemen pupuk khususnya bagi industri peternakan. Kebijakan tersebut termasuk ke dalam kategori National Pollutant Discharge Elimination System (NPDES) yang merupakan bagian kecil dari lembaga Enviromental Protection Agency dengan memberlakukan tiga jenis kebijakan.

    “Tiga kebijakan tersebut adalah permits and regulatory programs, non-regulatory tools dan integrated approaches. Setiap wilayah di Amerika Serikat dapat memberlakukan kebijakan yang berbeda sesuai dengan wilayah masing-masing. Kebijakan permit and regulatory programs memiliki elemen peraturan yang umumnya mengatur penggunaan dan produksi pupuk,” jelasnya.

    Kebijakan non regulatory tools merupakan kebijakan yang berlaku sebagai pedoman, sehingga tidak diberlakukan hanya untuk membatasi petani. Namun juga memberikan program edukasi, relokasi dan advisory tools.

    Contohnya bagi wilayah Oregon yang memberlakukan manure spreading advisory tools sehingga dapat membantu petani menilai risiko cuaca yang terkait dengan limpasan nutrisi dalam tanah. Sedangkan kebijakan integrated approach merupakan kombinasi dua regulasi sebelumnya. Tools tersebut dipakai oleh petani untuk mendapatkan pendekatan baru untuk mengatur kualitas pelayanan air, dampaknya, serta kualitas udara, bahkan respon darurat atas kontaminasi pupuk.

    Kebijakan tersebut lebih ditekankan pada industri susu dan turunannya karena konsumsi susu di Amerika Serikat sangat tinggi. Serta terdapat beberapa wilayah yang padat akan industri susu seperti di wilayah pesisir timur yakni California.

    Industri peternakan di Amerika Serikat memiliki dua bentuk yakni confined system dan pasture system, tergantung pada akses lahan. Pasture system diterapkan dengan melepasliarkan sapi perah di lahan rumput yang luas sedangkan dengan confined system dipelihara dalam kandang besar selama hidupnya.

    “Mengapa perlu adanya manajemen pupuk karena di Amerika Serikat terdapat lebih dari 9,4 juta hewan ternak yang tergabung baik sebagai industri unggas, sapi, domba, dan kambing. Bila tidak dikontrol maka akan mencemari kualitas badan air dan terjadi nutrifikasi yakni tingginya konsentrasi nutrien dalam air sehingga dapat menimbulkan ledakan populasi alga,” jelasnya.

    Lebih lagi, industri peternakan menyumbang emisi gas rumah kaca dalam jumlah yang cukup besar. Sehingga perlu adanya upaya intensif untuk mencegah polusi lebih lanjut dimulai dengan manajemen pupuk yang berkaitan erat dengan pemeliharaan ternak. Pemberian pakan ternak yang berasal dari tanaman yang kaya nitrogen atau pupuk berlebih akan terbuang kembali sebagai pupuk.
    Upaya manajemen pupuk dimulai dengan pengumpulan pupuk yang ‘diproduksi’ oleh hewan ternak dengan metode scrapping ataupun flushing. Metode flushing lebih direkomendasikan daripada metode scrapping dengan alat tradisional, seperti sekop, karena menggunakan air daur ulang serta dapat mengumpulkan pupuk dan amonia lebih baik.

    Setelah dikumpulkan, limbah pupuk tersebut disimpan dalam sebuah kontruksi mirip laguna yang dibangun dengan peraturan tertentu dan jauh dari sumber air minum warga. Kemudian diolah kembali sebagai kompos, anaerobic digester, ataupun slurry fertilizer.

    “Kelebihan praktik manajemen pupuk dalam industri peternakan tersebut tidak hanya mereduksi produksi pupuk yang lolos menjadi limbah, namun juga menghasilkan energi terbarukan. Selain itu dapat mengatasi patogen berbahaya, meningkatkan konservasi tanah, mencegah limpasan nutrien, serta meminimalisir penyebab polusi udara,” imbuhnya (ipb.ac.id)

  • Halal Bi Halal Daring Fapet IPB

     

    Fakultas Peternakan IPB University mengadakan Halal Bi Halal 1441 Hijriah pada Rabu (03/6). Suasana yang berbeda terlihat jelas dalam Halal Bi Halal tahun ini. Kondisi pandemi COVID-19 membuat gelaran Halal Bi Halal virtual yang dilakukan secara daring melalui aplikasi zoom.

    Halal bi halal daring ini dihadiri oleh jajaran pimpinan fakultas, senat akademik, dosen, perwakilan hanter, tenaga kependidikan, jajaran agrianita, mahasiswa, dan lain lain. Pada kesempatan halal bi halal ini,  tausiah disampaikan Dr. Salahudin el Ayyubi, Lc, MA dengan Tema posisi dan peran agama dalam era new normal.

    Dalam sambutannya, Dekan Fapet menyampaikan mohon maaf lahir dan batin bagi seluruh warga Fakultas Peternakan IPB University. Ia mengatakan bahwa menjalani Idul Fitri di tengah pandemi ini merupakan ujian yang harus dihadapi bersama secara optimistis.

    Dalam sesi atusiah, Salahudin el Ayyubi menyampaikan bahwa dalam era new normal saat ini sangat diperlukan keseimbangan bagi umat muslim.

    "Ciri mu’min adalah pada ujungnya agar menjadi orang-orang yang bertakwa" ujarnya. "Takwa adalah berhati-hati dalam kehidupan. Takwa akan memberikan petunjuk dan solusi atas semua persoalan manusia" sambung   dosen lulusan S-1 Syariah Islamiyah at University of Al-Azhar Cairo, Mesir ini.

    Dalam era new normal ini, perlu keseimbangan, perlu pijakan yang kuat, pijakan yang mantap. Adapun Keseimbangan yang perlu dipunyai  muslim di era new normal adalah Keseimbangan dunia dan akhirat, Keseimbangan antara hak dan kewajiban. Apakah nikmat yang sudah diterima sudah seimbang dengan kewajiban terhadap pemberi nikmat itu, yaitu Allah SWT, dan yang ketiga adalah Keseimbangan humanity/posisi kita.

    Halal bi halal ditutup dengan pembacaan doa oleh Ustad Salahudin dan ramah tamah sesama peserta halal bi halal.


     

     

Tips & Kegiatan Selama WFH