News

  • Mahasiswa IPB Manfaatkan Sari Belimbing Wuluh untuk Peningkat Produktivitas Telur Puyuh

    Pakan dengan kandungan nutrisi yang lengkap dibutuhkan untuk menghasilkan produk telur puyuh dengan kualitas yang baik. Kebutuhan nutrisi juga dapat dipenuhi melalui penambahan suplemen cair untuk mengurangi stress panas dan meningkatkan produktivitas. Belimbing wuluh memiliki berbagai kandungan nutrisi, antara lain flavonoid, triterpenoid atau steroid, glikosida, protein, lemak, kalsium, fosfor, besi, vitamin A, B1, dan C. Vitamin C merupakan antioksidan yang telah terbukti dapat menangkal stress pada ayam yang dipelihara pada suhu tinggi.

    Kandungan vitamin C pada belimbing wuluh cukup tinggi yaitu sebanyak 25 ml dalam 100 g belimbing wuluh segar. Kandungan asam sitrat dalam buah ini mencapai 92-133 meq asam/100 g total padatan. Asam sitrat tersebut berperan sebagai acidifier. Acidifier secara umum dapat menggantikan peranan antibiotik, meningkatkan kualitas telur, menyeimbangkan mikroflora saluran pencernaan, meningkatkan absorbsi sari makanan dalam usus halus dan meningkatkan keuntungan.

    Melihat potensi itu, Muhammad Rizqi Ramdhani mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) sekaligus Ketua PKMPE (Program Kreatifitas Mahasiswa, Penelitian) beserta anggotanya yaitu Nola Okivita Imama, Lylya Wahyuni, Vitya Lana Larasati dan Ahmad Rafli Fahmi melakukan percobaan tentang pemanfaatan belimbing wuluh dalam budidaya burung puyuh. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian sari belimbing wuluh sebagai air minum puyuh terhadap produktivitas telur puyuh. Dan menentukan dosis yang tepat dalam pemberian air minum sari belimbing wuluh pada puyuh.

    ”Kami ingin mengangkat belimbing wuluh yang melimpah buahnya. Kami memilih bahan baku tersebut sebagai antibiotik alami dan salah satu alternatif pengganti antibiotik komersial. Selain itu kandungan vitamin C belimbing wuluh cukup banyak. Asupan vitamin C pada ternak dapat menurunkan tingkat stress. Stress yang berlebih akan mempengaruhi kualitas telurnya seperti tidak memiliki kerabang dan lain-lain. Selain itu vitamin C ini dapat memperbaiki kualitas kerabang telur,”tutur Rizqi.

    Percobaan ini dilaksanakan selama 30 hari pemeliharaan di peternakan Slamet Quail Farm (SQF) dan 30 hari di Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan IPB. Pembuatan sari belimbing wuluh dilakukan dengan mencuci buah belimbing wuluh kemudian dihaluskan dengan menambahkan air dan diblender secara bersamaan. Hasil dari belimbing wuluh yang sudah halus disaring dan diambil sarinya saja. Sari belimbing wuluh yang sudah jadi ditambahkan dalam air minum ternak.

    ”Metode penelitian ini cukup simpel, belimbing wuluh hanya di blender dan disaring menggunakan kain, hal ini bertujuan untuk memudahkan peternakan rakyat mengimplementasikan penelitian ini, pemberian pada puyuh menyesuaikan dengan uji daya hambat bakteri sehingga memakai konsentrasi  2,5% dan 5%,” jelasnya Rizqi.

    Pengujian dilakukan selama 42 hari dengan menggunakan sebanyak 240 ekor burung puyuh (siap bertelur) dengan empat perlakuan dan empat kali ulangan. Tiap ulangan dipelihara sebanyak 15 ekor burung puyuh. Perlakuan yang diberikan yaitu P1 (air minum + Vitachick), P2 (air minum + 15% Sari Belimbing Wuluh), P3 (air minum + 30% Sari Belimbing Wuluh), dan P4 (air minum + 45% Sari Belimbing Wuluh). Tim ini mengamati performa burung puyuh yang terdiri atas konsumsi pakan, produksi telur dan massa telur.

    ”Perkembangan parameternya hampir sama seperti kontrol. Artinya sejauh ini perlakuan yang diberikan bisa diimplementasikan dalam dunia peternakan. Produktifitas yang kami maksud bukan dari peningkatan jumlah telurnya (burung puyuh sehari hanya bertelur 1 butir, bahkan ada yang dua hari sekali). Produktifitas disini adalah kualitas telurnya, seperti kualitas fisik maupun kimia” pungkas Rizqi.(ipb.ac.id)

  • Mahasiswa IPB Sehatkan Ayam Broiler dengan Tepung Kayu Manis

    Fani Karina Astrini, mahasiswa Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (IPB) di bawah bimbingan Dr. Ir. Rita Mutia, MAgr dan Dr. Ir. Widya Hermana, MSi melakukan penelitian untuk mengetahui bagaimana efektivitas pemberian tepung kayu manis dengan level berbeda terhadap status kesehatan yang meliputi eritrosit, leukosit dan nilai hematokrit, kadar hemoglobin dan diferensiasi leukosit serta organ imunitas ayam broiler. 

    Penelitian yang dilakukan  Fani berawal dari cara yang digunakan oleh peternak untuk dapat meningkatkan performa ayam broiler adalah dengan cara pemberian antibiotik. Antibiotik adalah obat-obatan atau zat kimia yang pada umumnya dibuat secara sintetik. Namun terdapat permasalahan pada antibiotik sintetis yaitu residu. Padahal jika merujuk pada UU Peternakan dan Kesehatan Hewan No.18 tahun 2009 pasal 22 ayat 4c yang berbunyi “Setiap orang dilarang menggunakan pakan yang dicampur hormon tertentu dan atau antibiotik imbuhan pakan”.

    Oleh sebab itu dibutuhkan alternatif imbuhan pakan yang memiliki peran sama dengan antibiotik, tetapi lebih ramah terhadap kesejahteraan manusia dan ternak serta lingkungan. “Pada penelitian ini bahan yang akan saya uji sebagai bahan alternatif adalah kayu manis, karena mempunyai kandungan senyawa yang berfungsi sebagai antibiotik seperti sinamaldehid, flavonoid, dan tanin yang dapat berguna sebagai antibakteri,” terang Fani.

    Antibiotik dapat mengurangi populasi bakteri di dalam saluran pencernaan sehingga meningkatkan ketersediaan zat gizi ransum untuk diserap oleh tubuh ternak yang akan digunakan sebagai pertumbuhan ternak. Fani menambahkan, “Antibiotik alami dapat meningkatkan kekebalan tubuh ternak dan tidak meninggalkan residu pada ternak sehingga tidak membahayakan manusia yang mengkonsumsi hasil ternak tersebut,” tambahnya. 

    Untuk membuktikan apakah kayu manis dapat menjadi antibiotik alami, Fani menggunakan 160 ekor ayam broiler yang masih berumur satu hari. Kandang yang digunakan adalah 16 petak dengan sepuluh ekor ayam pada setiap kandang. Setiap kandang ini akan diberikan perlakuan yang berbeda bergantung pada konsentrasi tepung kayu manis.

    Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Fani, terdapat tiga konsentrasi tepung kayu manis dalam ransum yang jika diberikan kepada ayam broiler maka akan menghasilkan ayam broiler yang sehat dan organ imunitas yang normal yakni pada konsentrasi dua persen, empat persen, dan enam persen. (ipb.ac.id) 

  • Mahasiswa IPB Teliti Gen untuk Tingkatkan Kualitas Daging Ayam Kampung

    Ayam kampung merupakan ayam asli Indonesia yang masih memiliki produktivitas relatif rendah dibandingkan dengan ayam ras. Ayam kampung memiliki keunggulan pada tingkat adaptasi, ketahanan terhadap panas, dan ketahanan terhadap penyakit yang tinggi. Ayam kampung juga memiliki rasa yang enak dan aroma khas yang berkaitan dengan kandungan lemak di daging. Akan tetapi, rendahnya produktivitas ayam kampung berbanding terbalik dengan permintaan konsumsi daging ayam kampung di masyarakat. Karena itu, perlu dilakukan peningkatan produktivitas ayam kampung melalui seleksi.

    Produksi daging ayam kampung hanya menyumbang 15.13 persen dari total produksi daging unggas dan 10.26 persen dari total produksi daging ternak Indonesia. Dengan demikian, ayam kampung mempunyai potensi untuk dapat ditingkatkan sebagai pemenuhan program ketahan pangan yang aman, sehat, utuh dan halal (ASUH). Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ayam kampung adalah melalui seleksi berbasis marka genetik (sifat pertumbuhan dan kualitas daging).

    Terdapat dua gen yang mengontrol yaitu gen IGF2 (Insuline-like Growth Factor 2) dan FMO3 (Flavincontaining monooxygenases 3) sebagai gen pengontrol pertumbuhan dan kualitas karkas dapat digunakan sebagai gen potensial dalam seleksi berbasis marka genetik untuk meningkatkan produktivitas ayam kampung.

    Mahasiswa Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB) Rindang Laras Suhita melakukan penelitian berjudul “Keragaman Gen IGF2 dan FMO3 serta Asosiasinya terhadap Bobot Potong dan Sifat Fisik Daging pada Ayam Kampung”. Penelitian ini dibimbing oleh Dr. agr Asep Gunawan, Prof. Dr. Cece Sumatri dan Dr. Niken Ulupi. 

    Penelitian terdiri atas dua tahap yaitu analisis keragaman gen IGF2 dan FMO3 pada dua populasi ayam kampung serta beberapa ayam lokal sebagai pembanding. Sampel yang digunakan sebanyak 118 sampel ayam kampung untuk gen IGF2 yang terdiri atas kampung populasi 12 minggu, dan kampung populasi 26 minggu. Sebanyak 129 sampel darah ayam kampung yang digunakan untuk gen FMO3 terdiri atas 6 populasi yaitu broiler, kampung, sentul, merawang, pelung, dan nunukan.

    Ayam kampung yang digunakan untuk asosiasi sebanyak 118 ekor untuk bobot karkas dan potongan komersial serta 56  ekor untuk sifat fisik karkas. Genotyping dilakukan menggunakan metode PCR-RFLP (Polymerase Chain Reaction-Restriction Fragment Length Polymorphism). Analisis data yang dilakukan yaitu frekuensi genotipe, frekuensi alel, heterozigositas, keseimbangan Hardy-Weinberg dan asosiasi data genotipe dengan fenotipe menggunakan General Linear Model (GLM).

    Hasil menunjukkan gen IGF2 pada dua populasi ayam kampung bersifat polimorfik dan gen FMO3 pada semua populasi bersifat monomorfik. Gen IGF2 pada populasi ayam kampung 12 minggu memiliki keragaman yang rendah dan pada populasi 26 minggu memiliki keragaman yang tinggi sedangkan pada gen FMO3 tidak ditemukan keragaman. Ditemukan asosiasi secara suggestive gen IGF2 dengan bobot paha bawah pada ayam kampung 26 minggu. Tidak ditemukan asosiasi antara keragaman gen IGF2 dan FMO3 terhadap bobot potong dan sifat fisik karkas pada ayam kampung.(ipb.ac.id)

  • Mahasiswa IPB Teliti Teh Pandan Wangi, Alternatif Obat Diabetes Mellitus

    Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), Ika Jenri Ramadayanti, Adyesta Prema Oktadilian, dan Agustin Nazillatun Nikmah dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan  didampingi oleh dosen pendamping Arif Darmawan, S.Pt, M.Si melakukan penelitian tentang potensi teh pandan wangi dalam mengobati penyakit diabetes mellitus. Penelitian ini masuk ke dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian (PKM PE) tahun 2018.

    Menurut Ika, diabetes mellitus merupakan salah satu penyakit yang menjadi pembunuh utama terbesar ketiga di Indonesia. Persentase Jumlah penderita terus meningkat dari tahun ke tahun. Penyakit ini merupakan penyakit dengan gangguan metabolik yang ditandai dengan kenaikan glukosa darah akibat penurunan sekresi insulin. Penyakit ini dapat disebabkan karena gaya hidup dan pola makan yang tidak tepat.

    Hal yang paling mengerikan dari penyakit ini adalah dapat menurunkan fungsi penglihatan mata, meningkatkan risiko gangguan ginjal, jantung, paru-paru, saraf, dapat menyebabkan stroke, luka sulit sembuh bahkan dapat membusuk.

    “Selama ini, pengobatan penyakit diabetes mellitus banyak menggunakan obat dari bahan kimia yang tak jarang menyebabkan dampak pada organ tubuh lainnya. Oleh karena itu, kami mencoba meneliti teh daun pandan wangi untuk alternatif penyembuhan diabetes mellitus ini,” ujarnya.

    Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan tanaman daun pandan wangi dengan dibuat menjadi teh sebagai obat herbal untuk diabetes mellitus. Selain itu, penelitian ini juga untuk mengetahui kandungan senyawa bioaktif yang terkandung di dalam daun pandan wangi sebagai alternatif obat dalam penurunan glukosa.

    Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu kadar glukosa darah hewan uji (tikus) sebelum diberi perlakuan teh pandan wangi berada di atas kisaran normal, setelah mengkonsumsi teh pandan wangi dalam rentang waktu 3-4 minggu, kadar glukosa darah tikus mengalami penurunan dan berada pada kisaran normal.

    “Yang membedakan teh ini dengan teh lainnya yaitu aroma pandannya yang sangat kuat, namun dari segi rasa sama seperti teh pada umumnya. Ketersedian bahan bakunya juga melimpah, karena umumnya masyarakat banyak yang menanam tanaman ini,” ujar Ika.

    Kandungan senyawa bioaktif yang terkandung dalam daun pandan wangi ini menjadi indikasi dalam pengobatan diabetes mellitus yaitu kandungan flavonoid, alkaloid, tanin, dan polifenol. Khususnya kandungan alkaloid dan flavonoid yang sangat berperan dalam menurunkan kadar glukosa darah yang terlalu meningkat (hiperglikemia), mencegah komplikasi diabetes mellitus dan mampu membersihkan radikal bebas yang berlebih dalam tubuh.

    “Kami berharap penelitian ini dapat menjadi terobosan baru dalam dunia kesehatan, dan menjadi solusi dari penyakit diabetes mellitus bagi masyarakat Indonesia khususnya atau bahkan dunia nantinya. Selain itu, saya harap temuan ini mampu menekan jumlah penderita dan kematian yang disebabkan penyakit ini dan masyarakat menjadi tahu khasiat dari pandan wangi  dan tertarik pada produk herbal teh pandan wangi ini,” ujar Ika. (ipb.ac.id)

  • Mahasiswa IPB University Ajarkan Budidaya Maggot Pada Warga Desa Situ Udik

    Mahasiswa IPB University yang mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) 2021 di Desa Setu Udik Bogor mengajarkan proses budidaya maggot pada pemuda Kampung Ramah Lingkungan (KRL) Harapan Bersih. Tim mahasiswa yang diketuai oleh Reza Maulana ini dibimbing oleh Dr Iwan Prihantoro, SPt, MSi.

    Salah satu program kerja yang menarik adalah budidaya maggot. Maggot merupakan larva yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan unggas dan ikan yang memiliki nilai gizi tinggi. Maggot yang umum dibudidayakan pun merupakan tahap larva dari lalat tentara hitam atau yang dikenal dengan lalat black soldier fly/BSF (Hermetia illucens).

    “Tahap persiapan pembudidayaan maggot adalah pembuatan kandang maggot yang meliputi kandang budidaya dan kandang kawin. Bahan pembuatan kandang maggot adalah bambu yang didapatkan dari hutan bambu terdekat di desa. Kemudian ditata dan dihias sedemikian rupa. Setelah kandang selesai dibangun, larva-larva maggot ditempatkan di kandang budidaya,” terang Reza.

    Menurut Reza, makanan maggot adalah sampah organik atau sampah dapur yang didapatkan dari rumah-rumah warga di Rukun Warga 2, kemudian seluruh sampah yang dikumpulkan dicacah hingga halus untuk mempermudah maggot mencerna makanannya.

    “Selama fase maggot, makanan harus disediakan setiap hari. Pada fase pertumbuhannya, larva akan berubah menjadi pupa. Pupa ini dikumpulkan dan diletakkan pada kandang kawin yang telah disediakan hingga pupa menetas menjadi lalat BSF yang kemudian akan kawin dan bertelur. Telur-telur lalat dikumpulkan di kandang budidaya hingga menetas menjadi maggot dan kemudian diproses seperti tahap awal pembudidayaan,” terangnya.

    Pembudidayaan maggot diharapkan dapat berkembang menjadi sebuah usaha yang kemudian akan dikelola oleh pemuda-pemuda KRL Harapan Bersih di kemudian hari. Karena selain mendapatkan ilmu baru mengenai pembudidayaan maggot, pemuda-pemuda KRL Harapan bersih dapat belajar untuk mengelola sebuah kewirausahaan dengan lebih baik.

    Selain budidaya maggot, mahasiswa juga melakukan berbagai program seperti pembibitan jahe merah, pelatihan pembuatan produk jahe merah, sosialisasi kewirausahaan, pembibitan tanaman buah dan sayur, hidroponik bambu, penataan KRL, pembuatan tempat sampah dan sosialisasi COVID-19 (ipb.ac.id)

  • Mahasiswa IPB University Bahas Sektor Peternakan Bersama Pakar

    Badan Eksekutif Mahasiswa, Fakultas Peternakan (BEM FAPET) IPB University menghadirkan pakar peternakan pada diskusi daring, Sabtu (16/5). Diskusi ini juga berkolaborasi dengan Kementerian Kebijakan Agrikompleks BEM KM IPB University.

    Dalam sambutannya, Dr Idat Galih Permana, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiwaan, Fapet IPB University menyampaikan pada bulan puasa, komoditas peternakan biasanya mendapat keuntungan yang cukup baik. Namun, tahun ini sektor peternakan produksinya menurun karena rendahnya permintaan terhadap komoditas peternakan.

    “Dalam kondisi seperti ini harusnya pemerintah membuat interevensi. Bukan hanya menstabilkan harga tapi juga mensejahterakan peternak. Hari ini kita ditemani para pakar untuk mendiskusikan hal tersebut dan mencari solusinya,” ujar Dr Idat.

    Hadir sebagai pemateri Dr Suswono (mantan Menteri Pertanian RI periode 2009-2014), Dr Audy Joinaldy (Ketua Umum Himpunan Alumni Peternakan IPB University) dan Dr Rochadi Tawaf (Sekretaris Jenderal Perhimpunan Peternakan Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI). Kegiatan diksusi ini dipandu oleh Ahlun Najam Ketua BEM FAPET IPB University.

    Menurut Dr Suswono ketahanan pangan terutama daging sangat tergantung dari kebijakan pemerintah. Situasi wabah seperti ini menjadikan daerah dengan komoditas utama ternak harus dilindungi harganya. Hal ini dilakukan agar sektor peternakan lebih bergairah. Tidak hanya itu, peternak juga harus dibantu dan dikuatkan dengan insentif.

    “Jangan sampai peternak dipusingkan dengan masalah penjualan dan tidak tersedianya pasar. Jika hal ini tidak dilakukan, harga di tingkat peternak akan jatuh dan kapok untuk beternak. Hal ini akan menyebabkan ketersediaan daging menurun dan memunculkan opsi impor lebih banyak agar kebutuhan tercukupi,” lanjut Suswono.

    Sementara Dr Audy memaparkan bahwa industri peternakan memiliki banyak kesempatan di masa pandemi. Namun, kondisi pandemi juga membuat masyarakat kehilangan pekerjaan yang menyebabkan daya beli menurun. Hal ini menyebabkan penurunan permintaan terhadap daging.

    “Harga ayam turun karena industri rumah makan kecil menurun. Semenjak kegiatan pengajian, kawinan maupun pertemuan dilarang, maka permintaan ayam turun. Dampak menurunnya permintaan daging menyebabkan banyak perusahaan menurunkan produksinya. Bahkan semua industri peternakan mengalami kerugian sekitar 50 sampai 60 persen,” ujar Audy.

    Menurutnya, solusi utama fenomena ini adalah peran pemerintah dan inovasi dari para pengusaha. Pemerintah harus bisa menjadi leader untuk mencapai target yang telah ditentukan. Selian itu, diperlukan juga insentif untuk peternakan rakyat. Keseriusan dalam membuat database juga menjadi prasyarat untuk mengatasi krisis di sektor peternakan yang saat ini terjadi.

    Dr Rochadi menyebutkan bahwa inovasi dari perguruan tinggi harus dihadirkan untuk membantu peternak. “Banyak sekali inovasi yang sudah dibuat oleh mahasiswa dan dosen sehingga bisa dijadikan sebagai solusi bagi peternak. Di samping itu, pemerintah harus serius dan konsisten dengan kebijkan berbasis riset dan dan data.(ipb.ac.id)

  • Mahasiswa IPB University Gelar Seminar Respon Generasi Milenial Terhadap SDGs Peternakan

    Dua Himpunan Profesi Mahasiswa Fakultas Peternakan IPB University yaitu Himpunan Mahasiswa Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (Himaproter) dan Himpunan Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak (Himasiter) menyelenggarakan Seminar and Competition Animal Science (SCAS) 2020, (26-27/9). Kegiatan ini mengangkat tema Respon Konkret Generasi Milenial terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 di Sektor Peternakan

    Kegiatan ini menghadirkan Prof Dr Luki Abdullah, Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University dan Dr Drh Desianto B Utomo, M.Sc selaku Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT).

    Dalam paparannya, Prof Luki mengatakan bahwa ada beberapa hal yang dapat kita dilakukan terhadap SDGs pada 2030 terkait peternakan. Yaitu menyediakan pangan yang aman, sehat, utuh dan halal, menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat dari sektor peternakan dari hulu dan hilir, melakukan diversifikasi energi melalui energi bersih menggunakan biogas, efisiensi dalam penggunaan sumberdaya produksi, menjalankan Good Faring Practices (GFP), Good Handling Practices (GHP), Good Manufacturing Practices (GMP), serta menciptakan sistem produksi berwawasan lingkungan dan kesejahteraan manusia serta melakukan penjaminan mutu produk.

    Sebelumnya, telah digelar juga lomba Business Plan Competition (BPC) dan Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI). Lomba ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia. Seperti Universitas Hasanuddin, Universitas Andalas, Universitas Jember, Polbangtan Bogor, UPN Veteran Yogyakarta dan lainnya (ipb.ac.id)

  • Mahasiswa IPB University Ikuti NTCA Indonesia-Australia Pastoral Program 2019

    Alwi Salam Makarim, mahasiswa Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB University berhasil terpilih menjadi salah satu peserta program NTCA Indonesia-Australia Pastoral Program (NIAPP) 2019. Ia beserta 19 orang mahasiswa yang terseleksi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia akan berangkat ke Australia untuk belajar tentang peternakan sapi modern. 

    Program yang telah berjalan sejak 2012 ini berlangsung selama 10 minggu. Peserta akan belajar pelatihan penggembalaan secara intensif meliputi aspek kesejahteraan dan penanganan hewan ternak, juga belajar langsung di industri peternakan yang telah dijalankan secara modern.

    “Harapan saya dengan mengikuti program ini, semakin banyak pengalaman yang riil di lapangan yang bisa saya ambil dan bisa diaplikasikan untuk mengembangkan bisnis pribadi di masa yang akan datang,” ujar Alwi Salam saat acara pelepasan mahasiswa di Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Jakarta (16/8).

    Program NIAPP merupakan hasil kerja sama antara Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI), Northern Territory Cattlemens Association (NTCA) Australia dan sejumlah perguruan tinggi di Indonesia. Program ini merupakan bagian dari kerjasama dan dukungan dari Red Meat and Cattle Partnership yang diinisiasi pemerintah Australia. Hingga saat ini, program NIAPP telah mengirim 89 mahasiswa Indonesia ke Australia Utara.

  • Mahasiswa IPB University Kenalkan Hewan Ternak kepada Siswa SD Melalui Agroedutourism

    Himpunan Mahasiswa Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak (Himasiter) Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University mengadakan kegiatan Agroedutourism bagi siswa-siswi sekolah dasar (SD). Kegiatan agroedutourism ini bertujuan mengenalkan hewan ternak kepada siswa-siswi SD sejak dini.

    Kegiatan ini dilaksanakan di Jl. Bukit Asam Ujung 1 No 31, Komplek Laladon Indah, Bogor, tepatnya di kediaman salah satu dosen Fakultas Peternakan IPB University, Prof Dr Ir Nahrowi MSi, pada Sabtu (22/2). Kegiatan ini sedikitnya diikuti oleh 60 siswa dari SDN Situ Udik.

    Pada kesempatan ini, para siswa dan siswi dikenalkan hewan ternak seperti ternak ruminansia dan unggas. Para siswa juga berkesempatan memberi pakan hewan ternak, bermain game serta belajar membuat adonan bakso daging.

    Ternak yang dikenalkan kepada para siswa terdiri dari kelompok ruminansia dan unggas. Ternak ruminansia terdiri dari sapi, domba, dan kambing. Ternak unggas lebih bermacam-macam, diantaranya burung merpati, merpati pos, burung tekukur, kalkun, ayam ras, ayam kate, angsa, dan entog.

    Pelaksanaan kegiatan disertai adanya games seru guna meningkatkan antusiasme peserta. Pembuatan bakso juga diadakan sebagai sarana edukasi kepada peserta mengenai produk olahan ternak. (ipb.ac.id)

  • Mahasiswa IPB University Manfaatkan Ulat Hongkong untuk Susu Bubuk Tinggi Protein

    Biasanya ulat hongkong dikenal para pecinta burung kicauan. Ulat hongkong banyak dimanfaatkan sebagai pakan burung yang konon bisa meningkatkan stamina burung kicau agar kuat dalam mengikuti kontes berkicau.

    Namun hal berbeda dilakukan Irfan Nugraha. Mahasiswa IPB University ini justru memiliki ide memanfaatkan ulat hongkong menjadi isolat protein yang digunakan sebagai penambah bahan campuran susu bubuk. Bersama dua rekannya, Ernawa Sindu Sutowo dan Rahmadi Gawana Putra, Irfan mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2019 untuk merealisasikan idenya.

    “Penelitian yang kami lakukan yaitu mengisolasi protein ulat hongkong (Tenebrio molitor) kemudian isolat tersebut ditambahkan kepada susu bubuk. Tujuannya agar memperkaya kandungan protein susu bubuk,” ujar Irfan.

    Berbekal dari hasil penelitian sebelumnya, Irfan mengungkapkan bahwa ulat hongkong memiliki kandungan protein yang tinggi yang sangat cocok untuk fortifikasi susu bubuk. Menurutnya, hadirnya isolat protein dari ulat hongkong ini diharapkan dapat menggantikan whey protein yang selama ini menjadi tambahan protein pada susu bubuk. Karena sebagian besarnya whey protein diperoleh dengan impor.

    “Berdasarkan penelitian, ulat hongkong memiliki kandungan nutrisi diantaranya 48 persen protein kasar, 40 persen lemak kasar, 3 persen kadar abu, 57 persen kadar air. Selain memiliki protein yang tinggi, ulat hongkong juga dari segi pemeliharaan tidak membutuhkan tempat yang luas dan itu sangat bermanfaat di masa depan dimana lahan peternakan akan semakin berkurang,” tutur Irfan.

    Penerapan fortifikasi pada susu bubuk dapat menjadi solusi untuk memenuhi asupan protein masyarakat. Karena pada dasarnya, susu bubuk kini tidak sulit untuk didapatkan. Selain itu, dengan memanfaatkan bahan lokal seperti ulat hongkong, masyarakat mudah mendapatkan protein.
     
    “Satu hal yang menjadi tantangan kami adalah menghilangkan pigmen warna coklat pada isolat protein ulat hongkong ini. Selain itu dari segi flavor diharapkan dapat berbeda daripada susu bubuk komersil karena kandungan asam amino glutamat yang cukup tinggi dari ulat hongkong yaitu 45143.50 miligram/kilogram sehingga harapannya dapat memberikan cita rasa khas gurih,” ucap Irfan (ipb.ac.id)

  • Mahasiswa IPTP FAPET IPB Meraih Dua Gelar pada Ajang IYIA 2016

    Mahasiswa Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP) Fakultas Peternakan IPB kembali mengukir prestasi di ajang 3rd International Young Inventors Award (IYIA 2016) yang bertempat di Surabaya Convention Hall pada tanggal 6-8 September 2016. Tim ini terdiri dari Yuni Nur Raifah, mahasiswa IPTP angkatan 50, selaku ketua, beserta Laeli Nur Hasanah, mahasiswa S2 program Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia, selaku anggota, dan didampingi oleh Tim Dosen Pembimbing dari Departemen IPTP Fakutas Peternakan IPB, yaitu Dr. Irma Isnafia Arief dan Iyep Komala, MSi. Mereka berhasil meraih 2 penghargaan sekaligus, yaitu penghargaan Gold Prizepada bidang Biotechnology andHealth dan penghargaan sebagai The Best Women Inventor Award.

    Adapun inovasi yang dibuat oleh perwakilan dari IPB ini adalah masker yang terbuat dari whey yang berasal dari limbah keju mozarella dan dikombinasikan dengan bakteri Streptococcus thermophillus, Lactobacilus bulgaricus, dan tepung beras.

    IYIA 2016 merupakan kompetisi yang dilaksanakan dibawah naungan Indonesian Invention and Innovation Promotion Association (INNOPA), dan didukung oleh International Federation of Inventors’ Association (IFIA) serta World Invention Intellectual Property Associations (WIIPA). Acara ini diikuti oleh 205 kelompok yang berasal dari beberapa negara seperti Thailand, Korea Selatan, Kroasia, Palestina, Indonesia, Taiwan, Malaysia, Myanmar, India, dan lain sebagainya. Rangkaian kegiatan pada acara ini meliputi presentasi poster, pameran, dan juga pengenalan produk inovasi yang telah diciptakan (AAS).

  • Mahasiswa KKN-T IPB University Ajari Warga Cikarawang Membuat Yoghurt

    Sepuluh mahasiswa IPB University peserta Kuliah Kerja Nyata-Tematik (KKN-T) 2020 melatih ibu-ibu anggota PKH Desa Cikarawang Kabupaten Bogor membuat Yoghurt, (27/7). Yoghurt merupakan produk hasil fermentasi dari susu sapi murni dengan menggunakan kultur bakteri asam laktat atau yoghurt starter. 

    Salah satu khasiat dari yoghurt adalah untuk memperkuat sistem imun. Di masa pandemi ini, sistem imun tubuh penting untuk terus terjaga. Hal ini dimaksudkan untuk meminimalisir dampak dari virus COVID-19. 

    “Pelatihan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat, baik dari cara membuat, pengemasan, maupun sebagai pengetahuan mengenai manfaat yoghurt. Salah satunya adalah dalam meningkatkan imunitas terlebih di masa pandemi ini. Selain itu, pelatihan produk hasil fermentasi susu ini diharapkan mampu menjadi salah satu upaya pengembangan ekonomi masyarakat dengan bahan yang mudah didapat,” ujar Kevin Erlangga sebagai Ketua Kelompok KKN-T Desa Cikarawang. 

    Pelatihan ini dilakukan pada masa pandemi, sehingga tetap memperhatikan protokol kesehatan. “Tetap utamakan kesehatan, mematuhi protokol yang berlaku, jumlah peserta yang hadir juga diberi jarak, serta diusahakan tetap memperhatikan durasi waktu pelatihan walaupun berada di zona hijau,” ujar Dr Sri Darwati sebagai Dosen Pembimbing Lapang (DPL) tim KKN-T IPB University Desa Cikarawang (ipb.ac.id)

  • Mahasiswa KKNT-IPB melakukan Demo Pengolahan Hasil Ternak di Desa Sudajaya Girang, Selabintana Sukabumi

    Demo pengolahan hasil ternak di Desa Sudajaya Girang diselenggarakan di Poktan Alamanda, Kampung Flori, Selabintana, Sukabumi  pada hari Selasa, 11 Agustus 2020. Acara yang dihadiri oleh perwakilan Ibu-Ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga), KWT (Kelompok Wanita Tani), dan Posyandu ini berjalan dengan sangat lancar sesuai dengan protokol Covid-19 . Meskipun peserta dibatasi maksimal 20 orang, tetapi peserta sangat antusias karena demo mengenai pengolahan hasil ternak ini merupakan acara pertama yang diselenggarakan di desa ini.

    Demo yang dilakukan berupa pengolahan susu menjadi susu pasteurisasi dengan berbagai varian rasa, pembuatan lotion dan masker wajah, dan pembuatan bantal dari bulu domba. Selain cara pengolahan, demo juga membahas mengenai cara penyimpanan, packaging,dan cara pemasaran produk. Menariknya,  peserta secara sukarela mengajukan diri untuk menjadi volunteeruntuk membantu pelaksanaan demo tanpa harus ditunjuk. Peserta yang lain ikut memerhatikan dengan seksama dan mencatat semua prosedur yang dilakukan. Acara berjalan dengan sangat kondusif meskipun cuaca saat itu sedang turun hujan.

    Selain demo, tim KKNT IPB 2020 membagikan susu pasteurisasi hasil olahan gratis kepada seluruh peserta, sehingga peserta dapat langsung mencicipinya. Selain itu, dibagikan juga flyersanitasi, handsanitizer, dan masker kepada seluruh peserta. Acara ini disponsori oleh Fresh Millack yang pemiliknya sendiri merupakan salah satu anggota KKNT IPB, yaitu saudara Radja Panutan. Acara ini berlangsung sekitar 3 jam lamanya.

    “Terima kasih kepada mahasiswa KKNT IPB 2020 telah menyelenggarakan acara ini, semoga ilmunya bisa bermanfaat bagi kita, apalagi untuk tim PKK, KWT, bisa jadi peluang bisnis untuk memajukan desa kita, semoga tahun depan acaranya bisa diadakan lagi oleh tim KKN selanjutnya” tutur Ibu Erni selaku tim penggerak Ibu-ibu PKK Desa Sudajaya Girang.  Acara diakhiri dengan foto bersama dan hiburan.

  • Mahasiswa penerima beasiswa Japfa Foundation menggelar program pengabdian di desa Neglasari

    Mahasiswa Fakultas Peternakan IPB University angkatan 53 sebanyak 20 orang sebagai penerima beasiswa Japfa Foundation atau disebut JFSC ( Japfa Foundation Scholarship Club) menggelar program pengabdian di desa Neglasari, kecamatan Dramaga, Bogor, tepatnya di GAPOKTAN Neglasari, sabtu pagi (07/12/2019).

    Hal ini disambut hangat oleh Kepala Desa Neglasari Bapak Yayan Mulyana “ IPB dan Desa Neglasari semoga tetap menjalin kerjasama dengan baik dan kegiatan ini saya harapkan dapat membantu desa Neglasari menjadi destinasi wisata pertanian’ ujar kepala desa Neglasari dalam sambutannya.

    Sebanyak 1600 tanaman Indigoferadan 400 tanaman odot  telah diberikan kepada para peternak. Rangkaian acara meliputi penandatanganan kontrak kerjasama antara JFSC dengan Desa Neglasari, kemudian penanaman secara simbolik oleh JFSC, Fakultas Peternakan, Japfa Foundation, dan Desa Neglasari yang diwakilkan oleh Ketua GAPOKTAN.

    Indigofera merupakan hijauan ternak jenis leguminosa yang berasal dari Papua dan memiliki nutrisi yang tinggi untuk ternak. Memiliki kelebihan berproduksi tinggi karena daunnya yang lebat apabila dirawat dengan baik.  Selain itu mudah ditanam dan bertahan dalam kondisi kering maupun basah. Sedangkan tanaman odot yaitu salah satu varietas rumput gajah (Pennisetum purpureum)yang memiliki keunggulan produksit tinggi, apalagi pada saat musm hujan, batang rumput terasa lunak, sehingga daya suka kambing atau domba bertambah. Selain itu kandungan nutrisi yang tinggi seperti protein kasar rumput odot sebesar 12-14% bahkan ada yang mencapai 17%, kemudian tingkat keceranaan tinggi berkisar 65-67%.

    Selain itu mahasiswa juga mengajak para peternak untuk bersama-sama praktik membuat pakan silase. Pelatihan khusus pengawetan pakan untuk peternak ini diharapkan ketika musim kemarau tiba, para peternak dapat menyimpan cadangan pakan untuk ternak mereka. Produk silase hasil fermentasi ini memiliki keunggulan salah satunya selulosa dari hijauan pecah dan ketika dikonsumsi oleh ternak nutrisi mudah diserap.

  • Manajemen Logistik Daging Ayam dikala Pandemi

    Fakultas Peternakan IPB University dan Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) kembali gelar pelatihan online yang menghadirkan Sudarno selaku General Manager Logistic PT Sierad Produce, Tbk. Pada pelatihan ini SUdarno membagikan tips bagaimana manajemen rantai pasok dan logistik daging ayam  pada masa pandemi COVID-19.

    “Pengiriman daging ayam beku dibedakan dengan pengiriman untuk daging ayam segar. Ini karena perlakuan untuk kedua jenis produk tersebut berbeda. Perlakuan tersebut berimbas pada biaya logistik. Untuk produk daging ayam beku biaya pengiriman rendah akan tetapi biaya penyimpanan lebih tinggi begitupun sebaliknya dengan daging ayam produk segar, biaya pengiriman tinggi namun biaya penyimpanan lebih rendah. Hal tersebut perlu disiasati agar terhindari dari pembengkakan biaya logistik,” ujarnya.

    Ia mengungkap selama pandemi ini penjualan perusahaannya turun per bulan Februari hingga April tercatat penurunan 30-50 persen. Sementara per bulan Mei sudah mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan dua bulan sebelumnya.
    “Harapannya penjualan di bulan Juni ini bisa meningkat lagi atau setidaknya bertahan dari bulan sebelumnya. Untuk menekan biaya operasional, salah satunya dengan menekan loss inventory yakni dengan menekan kematian di tempat tiba,” tuturnya.

    Ia juga mengutarakan bahwa selama pandemi dan adanya masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), surat izin operasional logistik sangat ketat dan kompleks. "Protokol kesehatan dalam logistik daging ayam ini sangat kami perhatikan. Hal tersebut mendorong kami untuk lebih displin dengan kesehatan. Hal ini sebagai komitmen kami untuk memastikan bahwa daging ayam tetap aman dan sehat ketika sampai di tangan konsumen,” ujarnya (ipb.ac.id)

  • Manajemen Logistik Lebah Madu

    Logistik lebah madu merupakan serangkaian proses yang meliputi kegiatan perencanaan, implementasi, pengontrolan dan tindak lanjut hingga terhadap proses perpindahan lebah madu beserta produknya, dari titik awal kegiatan menuju permintaan konsumen (pelanggan). Tata kelola permaduan ini menjadi kian penting mengingat koloni lebah madu di Indonesia banyak jenis serta jumlah produksinya.

    Koloni lebah madu secara umum ada dua jenis yaitu koloni lebah madu bersengat (KLMBS) dan koloni lebah madu tanpa sengat (KLMTS), yang hidupnya tersebar di seluruh provinsi sampai ke desa dan pedukuhan di seantero Indonesia. Semua jenis lebah madu tersebut mampu menghasilkan produksi kelompok, produksi yang dikumpulkan, produksi yang diekstrak dan produksi yang dipelihara oleh lebah madu. “Manusia berperan sebagai pengembala, pemelihara dan pemanen dalam menghasilkan lebah madu,”kata Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang Pof. Dr. Mochammad Junus dalam Pelatihan Manajemen Produksi dan Logistik Lebah Madu Tropika yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) di Kampus Fakultas Peternakan IPB, Kampus Darmaga Bogor pada 8-9 Oktober 2019. Dalam pelatihan tersebut, dilangsungkan juga kunjungan lapangan di produsen madu Eureka Farm di kawasan Bojong, Bogor.

    Lebih jauh Junus menguraikan, untuk menjamin kelancaran sistem logisik lebah madu, juga diperlukan sumber finansial dan sumber informasi agar kegiatan perlebahan berjalan dengan baik. Semua kegiatan tersebut merupakan bahan masukan logistik lebah madu. Proses manajemen logistik lebah madu dilakukan dengan berbagai kegiatan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengontrolan dan tindak lanjut dari rencana yang sudah disusun. Semua rangkaian kegiatan tersebut harus dilakukan secara disiplin, sehingga kebutuhan konsumen akan madu dan aneka produk ikutannya dapat terpenuhi. Oleh karena itu, manajemen persediaan madu menjadi hal yang tak bisa ditawar. Tata kelola dalam pengaturan persediaan produk lebah madu yang dimiliki tersebut dilakukan mulai dari cara memperoleh produk lebah madu, penyimpanan, sampai digunakan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, yang pada akhirnya berhubungan dengan segmen kegiatan yang lain.

    Tanggung jawab di dalam logistik lebah madu tidak berakhir ketika produk dikirimkan kepada pelanggan. Junus mengingatkan, faktor lain yang tak kalah pentingnya, yakni aktifitas yang berkaitan dengan perbaikan dan servis, sehingga perlu dikoordinasikan dengan aktivitas pembalikan logistik produk perlebahan lainnya. (agropustaka.id)

  • Manfaatkan Jangkrik sebagai Alternatif Pakan Kambing Etawah

    Fatatul Arifah, mahasiswa Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (Fapet IPB) meneliti tentang performa dan profil mikroba rumen kambing peranakan etawah lepas sapih yang diberi ransum mengandung tepung jangkrik. Penelitian ini di bawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Dewi Apri Astuti dan Dr. Sri Suharti. Kambing peranakan etawah (PE) memiliki ukuran tubuh tidak terlalu besar, mudah beradaptasi, perawatan yang mudah, cepat berkembangbiak dengan daya reproduksi tinggi, efisien dalam mengubah pakan menjadi susu, jumlah anak per kelahiran sering lebih dari satu, calving interval pendek, dan pertumbuhan anak cepat. Kambing yang diambil susunya ini mengalami tingkat kematian anak kambing lepas sapih sekitar 15 persen – 20 persen. Selain itu, kambing ini kadang produktivitasnya rendah akibat kurang optimalnya pemberian pakan pada saat lepas sapih.

     Ketersediaan pakan yang tidak berkesinambungan serta rendahnya kualitas pakan menyebabkan kambing kekurangan asupan nutrien yang diperlukan untuk mencapai produktivitas optimal. Peningkatan produktivitas yang optimal perlu diupayakan dengan cara memenuhi kebutuhan gizinya. Masa kritis yang perlu memperhatikan kecukupan gizi adalah pertumbuhan lepas sapih, masa reproduksi, dan saat menyusui.

     Permasalahan lain yang dihadapi yaitu pakan dengan protein tinggi relatif mahal, sehingga dibutuhkan alternatif bahan pakan sumber protein lain. Tepung jangkrik merupakan alternatif pakan sumber protein (48,84 persen) yang dapat menggantikan bungkil kedelai. Jangkrik Kalung merupakan serangga yang memiliki daya reproduksi tinggi, mudah dipelihara, mengandung kadar protein dan lemak cukup tinggi. Jangkrik ini merupakan limbah dari induk-induk jangkrik afkir yang produksi telurnya sudah kurang dari 50 persen. Pemberian pakan yang mengandung protein tinggi bagi ternak tumbuh sangat diperlukan sekaligus akan mempengaruhi populasi mikroba rumen terutama bakteri proteolitik dan juga aktivitas mikroba dalam rumen. Kambing lepas sapih memerlukan protein berkualitas di dalam ransumnya untuk menunjang pertumbuhan.

     Penelitian ini dilaksanakan pada November 2015 hingga Maret 2016 bertempat di Fakultas Peternakan IPB. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga perlakuan dan empat ulangan sebagai kelompok berdasarkan bobot badan. Penelitian dilakukan selama lima bulan, menggunakan sebanyak 12 ekor kambing umur tiga bulan dengan rata-rata bobot badan 11.28 ± 0,33 kilogram. Perlakuan pada penelitian ini konsentrat mengandung sumber protein bungkil kedelai (P0), konsentrat mengandung 15 persen tepung jangkrik (P1), dan konsentrat mengandung 30 persen tepung jangkrik (P2). Semua ternak diberi 30 persen rumput Brachiaria humidicoladan 70 persen konsentrat.

     Hasil penelitian menunjukkan perlakuan ini tidak memberikan pengaruh konsumsi bahan kering, konsumsi protein kasar, pertambahan bobot badan mingguan, efisiensi pakan, populasi protozoa, bakteri total, bakteri proteolitik, dan total protein endapan. Perlakuan pemberian ransum mengandung 30 persen tepung jangkrik cenderung menurunkan populasi protozoa sebesar 8,16 persen. Perlakuan ini tidak berpengaruh terhadap konsumsi bahan kering, konsumsi protein kasar, pertambahan bobot badan mingguan, efisiensi pakan, populasi protozoa, bakteri total, bakteri proteolitik, dan total protein endapan. Disimpulkan bahwa tepung jangkrik dapat menggantikan seluruh penggunaan bungkil kedelai dalam ransum tanpa mempengaruhi performa dan profil mikroba rumen kambing PE lepas sapih.(ipb.ac.id)

  • Manfaatkan Ulat Hongkong, Mahasiswa IPB University Teliti Metode Pengurai Styrofoam

    Di alam, kemasan plastik dan styrofoam sulit diurai. Penggunaan plastik dan styrofoam masih sangat tinggi, terutama di kota-kota besar di Indonesia.  Styrofoam merupakan jenis plastik yang paling berbahaya dan tidak ramah lingkungan.  Selain tidak ramah lingkungan karena sifatnya yang tidak dapat diurai sama sekali, proses produksi styrofoam sendiri menghasilkan limbah yang tidak sedikit.  Menurut Environmental Protection Agency (EPA), Indonesia termasuk sebagai penghasil limbah berbahaya kelima terbesar di dunia.

    Novica Febriyani, Fiona Salfadila dan Indri Destriany, tiga mahasiswa IPB University melalui Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Penelitian Eksakta (PKM-PE) 2019  mencoba meneliti penggunaan ulat hongkong sebagai agen biologis yang bisa mendegradasi styrofoam. Penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengisolasi bakteri dari ulat hongkong dari Indonesia yang bisa mendegradasi styrofoam ini dilakukan di bawah bimbingan Cahyo Budiman, SPt, MEng, PhD.

    “Berdasarkan penelitian ilmiah sebelumnya ditemukan mekanisme degradasi polystyrene menggunakan vektor biodegradasi yaitu ulat hongkong atau mealworms jenis Tenebrio molitor. Ulat hongkong tersebut telah terbukti mampu untuk mendegradasi polystyrene sebagai komponen penyusun styrofoam,” tutur Novica.

    Dalam penelitian tersebut, Novica menambahkan bahwa populasi mikroorganisme dalam perut ulat hongkong erat dengan lingkungan atau habitat ulat tersebut. Hal tersebut mengindikasikan bahwa jenis mikroorganisme dalam ulat hongkong yang dikembangbiakkan di kondisi subtropis Tiongkok akan berbeda dengan ulat yang dibiakkan di kondisi wilayah tropis Indonesia. Itu juga yang mendorong kemungkinan adanya isolat bakteri baru dari ulat hongkong di Indonesia yang bisa mendegradasi polimer polystyrene.

    “Pada mulanya, ulat hongkong kami pelihara dengan diberi pakan tunggal styrofoam. Lalu bagian usus ulat hongkong tersebut kami jadikan sebagai Stok Larutan Ulat Hongkong (SLUH). Kemudian SLUH tersebut ditumbuhkan pada media agar yang sudah ditambahkan styrofoam. Setelah itu, bakteri yang didapatkan, diidentifikasi dan simpan dalam glycerol stock. Kandidat isolat yang diperoleh kemudian diberikan styrofoam yang telah ditentukan. Kemampuan isolat dalam mendegradasi styrofoam diuji dengan cara melihat permukaan Styrofoam dengan menggunakan Scanning Electron Microscopy (SEM),” jelas Novica.

    Novica berharap, ke depannya mereka bisa mengaplikasikan ini pada skala yang lebih besar. Ia juga berencana dalam pengaplikasian bakteri pada limbah styrofoam ini bisa menghilangkan kesan jijik, sehingga pemanfaatannya dapat dilakukan oleh masyarakat luas (ipb.ac.id)

  • Mantan Dekan Fapet IPB, Prof. Soedarmadi Tutup Usia

    Innalillahi wa Inna Ilaihi Rojiuun. Berita duka menyelimuti Fakultas peternakan IPB menjelang akhir bulan Ramadhan 1437 H. Fakultas Peternakan IPB kehilangan salah satu Guru Besar dan tokoh yang menjadi panutan, yaitu Prof. Dr. Ir. Soedarmadi H, M.Sc. Almarhum wafat di Bogor pada hari Selasa, 28 Juni 2016 pukul 16.45 pada usia ke-75.

    Almarhum lahir di Kebumen, tanggal 12 Juni 1941,  Lulus sebagai Insinyur Peternakan dari Fakultas Peternakan IPB pada  tahun 1970. Untuk meningkatkan kompetensinya, almarhum  melanjutkan pendidikan strata Master di bidang agronomi dan Doktor di bidang astrologi dan fisiologi tanaman dari UPLB Philipines. Sebagai ilmuwan selanjutnya beliau berkarir di Fakultas Peternakan IPB, dengan spesialisasi Ilmu Agrostologi dan fisiologi tanaman. Almarhum diangkat menjadi Guru Besar dalam bidang agrostologi di Institut Pertanian Bogor.
     
    Almarhum menjabat sebagai Dekan Fakultas Peternakan IPB periode 2000-2004 dan pernah menjadi Rektor Universitas Jambi pada tahun 1994 – 1999. Saat menjabat di Universitas Jambi, banyak pembangunan sarana dan prasarana, diantaranya gedung fakultas peternakan, rumah kaca dan kebun percobaan fakultas pertanian, mini farm fakultas peternakan, laboratorium koimatologi dan sarana lainnya. di bawah kepemimpinan prof. Soedarmadi, Universitas jambi membuka program studi  Sosial Ekonomi Pertanian (agribisnis), Nutrisi dan Makanan Ternak, dan Produksi Ternak.
     
    Semoga almarhum diterima segala amal ibadahnya diampuni segala dosa dosa dan ditempatkan ditempat yang layak disisiNYA amin
     
    Selamat jalan Prof Darmadi.
  • Masa Perkenalan Kampus Mahasiswa Baru 2016

    Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor mengadakan kegiatan Masa Perkenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB) tahun 2016, pada hari Sabtu dan Minggu, tanggal 27-28 Agustus 2016, pukul 07:00-15:30 WIB. Selama dua hari, mahasiswa baru Fakultas Peternakan IPB diperkenalkan dengan kehidupan kampus, civitas akademika Fapet IPB, fasilitas yang tersedia, dan banyak kegiatan lain yang bermanfaat bagi mahasiswa baru Fapet IPB.

    Pada hari pertama (27 Agustus 2016) mahasiswa baru berkumpul di auditorium Jannes Hummuntal Hutasoit, Fapet IPB. kegiatan diawali dengan sarapan bersama, kemudian dilanjutkan dengan pembukaan MPKMB Fapet IPB, disusul dengan sambutan dari Dekan dan ketua panitia MPKMB. Pada pembukaan tersebut juga dinyanyikan lagu Mars Fapet, yang juga merupakan salah satu identitas Fapet.

    Acara dilanjutkan dengan presentasi dari Dekan Fapet IPB, yang memaparkan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan IPB. Wakil Dekan Akademik dan Kemahasiswaan menjelaskan tentang tata tertib kehidupan kampus yang harus dipatuhi oleh semua civitas akademika Fapet IPB. Hal hal yang berhubungan dengan Fakultas Peternakan disampaikan oleh Wakil Dekan bidang Sumberdaya, Kerjasama, dan pengembangan. Selain itu, Dr. Ir. Kartiarso, M.Sc, sebagai salah satu dosen senior  memaparkan pelajaran yang berharga tentang motivasi menjadi mahasiswa Fapet. Mahasiswa Fapet, harus bangga dengan keilmuwannya, karena peternakan saat ini sangat penting bagi kehidupan manusia.

Tips & Kegiatan Selama WFH