News

  • Mahasiswa IPB University Gelar Seminar Respon Generasi Milenial Terhadap SDGs Peternakan

    Dua Himpunan Profesi Mahasiswa Fakultas Peternakan IPB University yaitu Himpunan Mahasiswa Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (Himaproter) dan Himpunan Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak (Himasiter) menyelenggarakan Seminar and Competition Animal Science (SCAS) 2020, (26-27/9). Kegiatan ini mengangkat tema Respon Konkret Generasi Milenial terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 di Sektor Peternakan

    Kegiatan ini menghadirkan Prof Dr Luki Abdullah, Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University dan Dr Drh Desianto B Utomo, M.Sc selaku Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT).

    Dalam paparannya, Prof Luki mengatakan bahwa ada beberapa hal yang dapat kita dilakukan terhadap SDGs pada 2030 terkait peternakan. Yaitu menyediakan pangan yang aman, sehat, utuh dan halal, menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat dari sektor peternakan dari hulu dan hilir, melakukan diversifikasi energi melalui energi bersih menggunakan biogas, efisiensi dalam penggunaan sumberdaya produksi, menjalankan Good Faring Practices (GFP), Good Handling Practices (GHP), Good Manufacturing Practices (GMP), serta menciptakan sistem produksi berwawasan lingkungan dan kesejahteraan manusia serta melakukan penjaminan mutu produk.

    Sebelumnya, telah digelar juga lomba Business Plan Competition (BPC) dan Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI). Lomba ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia. Seperti Universitas Hasanuddin, Universitas Andalas, Universitas Jember, Polbangtan Bogor, UPN Veteran Yogyakarta dan lainnya (ipb.ac.id)

  • Mahasiswa IPB University Ikuti NTCA Indonesia-Australia Pastoral Program 2019

    Alwi Salam Makarim, mahasiswa Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB University berhasil terpilih menjadi salah satu peserta program NTCA Indonesia-Australia Pastoral Program (NIAPP) 2019. Ia beserta 19 orang mahasiswa yang terseleksi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia akan berangkat ke Australia untuk belajar tentang peternakan sapi modern. 

    Program yang telah berjalan sejak 2012 ini berlangsung selama 10 minggu. Peserta akan belajar pelatihan penggembalaan secara intensif meliputi aspek kesejahteraan dan penanganan hewan ternak, juga belajar langsung di industri peternakan yang telah dijalankan secara modern.

    “Harapan saya dengan mengikuti program ini, semakin banyak pengalaman yang riil di lapangan yang bisa saya ambil dan bisa diaplikasikan untuk mengembangkan bisnis pribadi di masa yang akan datang,” ujar Alwi Salam saat acara pelepasan mahasiswa di Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Jakarta (16/8).

    Program NIAPP merupakan hasil kerja sama antara Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI), Northern Territory Cattlemens Association (NTCA) Australia dan sejumlah perguruan tinggi di Indonesia. Program ini merupakan bagian dari kerjasama dan dukungan dari Red Meat and Cattle Partnership yang diinisiasi pemerintah Australia. Hingga saat ini, program NIAPP telah mengirim 89 mahasiswa Indonesia ke Australia Utara.

  • Mahasiswa IPB University Kenalkan Hewan Ternak kepada Siswa SD Melalui Agroedutourism

    Himpunan Mahasiswa Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak (Himasiter) Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University mengadakan kegiatan Agroedutourism bagi siswa-siswi sekolah dasar (SD). Kegiatan agroedutourism ini bertujuan mengenalkan hewan ternak kepada siswa-siswi SD sejak dini.

    Kegiatan ini dilaksanakan di Jl. Bukit Asam Ujung 1 No 31, Komplek Laladon Indah, Bogor, tepatnya di kediaman salah satu dosen Fakultas Peternakan IPB University, Prof Dr Ir Nahrowi MSi, pada Sabtu (22/2). Kegiatan ini sedikitnya diikuti oleh 60 siswa dari SDN Situ Udik.

    Pada kesempatan ini, para siswa dan siswi dikenalkan hewan ternak seperti ternak ruminansia dan unggas. Para siswa juga berkesempatan memberi pakan hewan ternak, bermain game serta belajar membuat adonan bakso daging.

    Ternak yang dikenalkan kepada para siswa terdiri dari kelompok ruminansia dan unggas. Ternak ruminansia terdiri dari sapi, domba, dan kambing. Ternak unggas lebih bermacam-macam, diantaranya burung merpati, merpati pos, burung tekukur, kalkun, ayam ras, ayam kate, angsa, dan entog.

    Pelaksanaan kegiatan disertai adanya games seru guna meningkatkan antusiasme peserta. Pembuatan bakso juga diadakan sebagai sarana edukasi kepada peserta mengenai produk olahan ternak. (ipb.ac.id)

  • Mahasiswa IPB University Manfaatkan Ulat Hongkong untuk Susu Bubuk Tinggi Protein

    Biasanya ulat hongkong dikenal para pecinta burung kicauan. Ulat hongkong banyak dimanfaatkan sebagai pakan burung yang konon bisa meningkatkan stamina burung kicau agar kuat dalam mengikuti kontes berkicau.

    Namun hal berbeda dilakukan Irfan Nugraha. Mahasiswa IPB University ini justru memiliki ide memanfaatkan ulat hongkong menjadi isolat protein yang digunakan sebagai penambah bahan campuran susu bubuk. Bersama dua rekannya, Ernawa Sindu Sutowo dan Rahmadi Gawana Putra, Irfan mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2019 untuk merealisasikan idenya.

    “Penelitian yang kami lakukan yaitu mengisolasi protein ulat hongkong (Tenebrio molitor) kemudian isolat tersebut ditambahkan kepada susu bubuk. Tujuannya agar memperkaya kandungan protein susu bubuk,” ujar Irfan.

    Berbekal dari hasil penelitian sebelumnya, Irfan mengungkapkan bahwa ulat hongkong memiliki kandungan protein yang tinggi yang sangat cocok untuk fortifikasi susu bubuk. Menurutnya, hadirnya isolat protein dari ulat hongkong ini diharapkan dapat menggantikan whey protein yang selama ini menjadi tambahan protein pada susu bubuk. Karena sebagian besarnya whey protein diperoleh dengan impor.

    “Berdasarkan penelitian, ulat hongkong memiliki kandungan nutrisi diantaranya 48 persen protein kasar, 40 persen lemak kasar, 3 persen kadar abu, 57 persen kadar air. Selain memiliki protein yang tinggi, ulat hongkong juga dari segi pemeliharaan tidak membutuhkan tempat yang luas dan itu sangat bermanfaat di masa depan dimana lahan peternakan akan semakin berkurang,” tutur Irfan.

    Penerapan fortifikasi pada susu bubuk dapat menjadi solusi untuk memenuhi asupan protein masyarakat. Karena pada dasarnya, susu bubuk kini tidak sulit untuk didapatkan. Selain itu, dengan memanfaatkan bahan lokal seperti ulat hongkong, masyarakat mudah mendapatkan protein.
     
    “Satu hal yang menjadi tantangan kami adalah menghilangkan pigmen warna coklat pada isolat protein ulat hongkong ini. Selain itu dari segi flavor diharapkan dapat berbeda daripada susu bubuk komersil karena kandungan asam amino glutamat yang cukup tinggi dari ulat hongkong yaitu 45143.50 miligram/kilogram sehingga harapannya dapat memberikan cita rasa khas gurih,” ucap Irfan (ipb.ac.id)

  • Mahasiswa IPB University mendapat Pelatihan Softskill untuk Produksi Pakan Ternak Inovatif

    Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan (Fapet), IPB University menyelenggarakan pelatihan peningkatan softskill bagi mahasiswa untuk produksi pakan inovatif yang berkualitas, 1/10. Kegiatan yang diadakan secara daring dan luring ini merupakan rangkaian dalam kegiatan magang Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).
     
    Dr Idat Galih Permana, selaku Dekan Fapet IPB University menyampaikan dukungan Fakultas Peternakan dalam upaya scale up inovasi berbentuk wafer sebagai pakan ternak. Menurutnya, teknologi pakan hasil riset dan inovasi unggulan ini juga telah banyak diimplementasikan di berbagai lokasi. Diantaranya ialah wafer pakan ternak yang dikembangkan oleh Prof Yuli Retnani bersama tim.
     
    Menurut Dr Idat, wafer pakan ternak ini memiliki berbagai keuntungan, diantaranya formulasi nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan ternak. "Selain itu, pemilihan bahan pakan yang digunakan tidak hanya berbahan konvensional dan legum tapi juga memanfaatkan limbah," ujarnya.
     
    Ia menambahkan, pakan wafer juga dikemas secara praktis dan tahan lama untuk disimpan. "Jadi selain bisa sebagai regular feed bisa juga jadi pakan tambahan pada kondisi-kondisi tertentu, misal pada kondisi bencana," imbuhnya.
     
    Prof Yuli Retnani, inovator wafer pakan ternak, menjelaskan bahwa bahan baku pakan ternak tidak selalu tersedia di semua wilayah Indonesia. Oleh karena itu, dibutuhkan optimalisasi teknologi pengolahan pakan ternak. Ia pun melihat potensi bahan baku yang melimpah berasal dari limbah pasar, pertanian dan industri pangan.
     
    "Dengan teknologi pengolahan, pakan dapat awet dan mudah disimpan, serta mudah diberikan pada ternak. Pakan yang kering juga tidak mencemari lingkungan terutama untuk peternakan di kawasan perkotaan," jelasnya.
     
    Menurutnya, wafer pakan ternak mampu menjaga ketersediaan hijauan pakan dengan kualitas nutrisi yang baik serta penyimpanan jangka panjang. Ia menyebut, wafer dari limbah sayuran memiliki protein kasar sebesar 15,58 persen, serat kasar 31,55 persen dan lemak kasar 0,96 persen. 
     
    Berdasarkan hasil riset yang dilakukannya bersama tim, aplikasi wafer daun lamtoro dengan kadar protein 32,24 persen dan lemak kasar 4,52 persen mampu meningkatkan pertambahan bobot harian ternak.  "Pemberian 10 persen wafer daun lamtoro mampu meningkatkan konsumsi pakan dan bobot badan akhir 28,22 persen lebih tinggi dibandingkan tanpa wafer," ungkapnya.  Saat ini, inovasi wafer pakan ternak diikutkan pada program matching fund Kedeireka agar produksi wafer dapat ditingkatkan dan dapat menjangkau peternak yang lebih luas.
     
    Sementara itu Dr Burhanuddin, dosen dari Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University memotivasi agar mahasiswa tidak sekedar menjadi pebisnis namun menjadi seorang wirausaha. Dengan pola pikir bertumbuh serta mampu melihat peluang, inovasi dan nilai baru.
     
    "Wirausaha berasal dari kata Wira yang berarti gagah, ksatria, pejuang dan luhur serta usaha yaitu penciptaan kegiatan aktivitas bisnis," ujarnya.  Ia menyampaikan bahwa seorang wirausaha harus mengenali empat hal yaitu, kenal diri, kenal pasar, kenal bisnis serta kenal investor. "Seorang wirausaha adalah pembelajar seumur hidup yang memahami dan beradaptasi serta berkembang dengan lanskap teknologi yang berdampak pada bisnis," tegasnya.
     
    Kegiatan ini juga dihadiri oleh praktisi diantaranya Dr Wira Wisnu Wardana dari PT Nutricell serta Rama Rahardian selaku owner dari ST Farm Bogor (ipb.ac.id)

  • Mahasiswa IPTP FAPET IPB Meraih Dua Gelar pada Ajang IYIA 2016

    Mahasiswa Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP) Fakultas Peternakan IPB kembali mengukir prestasi di ajang 3rd International Young Inventors Award (IYIA 2016) yang bertempat di Surabaya Convention Hall pada tanggal 6-8 September 2016. Tim ini terdiri dari Yuni Nur Raifah, mahasiswa IPTP angkatan 50, selaku ketua, beserta Laeli Nur Hasanah, mahasiswa S2 program Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia, selaku anggota, dan didampingi oleh Tim Dosen Pembimbing dari Departemen IPTP Fakutas Peternakan IPB, yaitu Dr. Irma Isnafia Arief dan Iyep Komala, MSi. Mereka berhasil meraih 2 penghargaan sekaligus, yaitu penghargaan Gold Prizepada bidang Biotechnology andHealth dan penghargaan sebagai The Best Women Inventor Award.

    Adapun inovasi yang dibuat oleh perwakilan dari IPB ini adalah masker yang terbuat dari whey yang berasal dari limbah keju mozarella dan dikombinasikan dengan bakteri Streptococcus thermophillus, Lactobacilus bulgaricus, dan tepung beras.

    IYIA 2016 merupakan kompetisi yang dilaksanakan dibawah naungan Indonesian Invention and Innovation Promotion Association (INNOPA), dan didukung oleh International Federation of Inventors’ Association (IFIA) serta World Invention Intellectual Property Associations (WIIPA). Acara ini diikuti oleh 205 kelompok yang berasal dari beberapa negara seperti Thailand, Korea Selatan, Kroasia, Palestina, Indonesia, Taiwan, Malaysia, Myanmar, India, dan lain sebagainya. Rangkaian kegiatan pada acara ini meliputi presentasi poster, pameran, dan juga pengenalan produk inovasi yang telah diciptakan (AAS).

  • Mahasiswa KKN-T IPB University Ajari Warga Cikarawang Membuat Yoghurt

    Sepuluh mahasiswa IPB University peserta Kuliah Kerja Nyata-Tematik (KKN-T) 2020 melatih ibu-ibu anggota PKH Desa Cikarawang Kabupaten Bogor membuat Yoghurt, (27/7). Yoghurt merupakan produk hasil fermentasi dari susu sapi murni dengan menggunakan kultur bakteri asam laktat atau yoghurt starter. 

    Salah satu khasiat dari yoghurt adalah untuk memperkuat sistem imun. Di masa pandemi ini, sistem imun tubuh penting untuk terus terjaga. Hal ini dimaksudkan untuk meminimalisir dampak dari virus COVID-19. 

    “Pelatihan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat, baik dari cara membuat, pengemasan, maupun sebagai pengetahuan mengenai manfaat yoghurt. Salah satunya adalah dalam meningkatkan imunitas terlebih di masa pandemi ini. Selain itu, pelatihan produk hasil fermentasi susu ini diharapkan mampu menjadi salah satu upaya pengembangan ekonomi masyarakat dengan bahan yang mudah didapat,” ujar Kevin Erlangga sebagai Ketua Kelompok KKN-T Desa Cikarawang. 

    Pelatihan ini dilakukan pada masa pandemi, sehingga tetap memperhatikan protokol kesehatan. “Tetap utamakan kesehatan, mematuhi protokol yang berlaku, jumlah peserta yang hadir juga diberi jarak, serta diusahakan tetap memperhatikan durasi waktu pelatihan walaupun berada di zona hijau,” ujar Dr Sri Darwati sebagai Dosen Pembimbing Lapang (DPL) tim KKN-T IPB University Desa Cikarawang (ipb.ac.id)

  • Mahasiswa KKN-T IPB University Kenalkan Sistem Perkandangan dan Pengolahan Limbah Ternak Sapi dan Kambing di Desa Kelubir

    Peternak kambing dan sapi serta masyarakat Desa Kelubir, Kecamatan Tanjung Palas Utara, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara mengikuti kegiatan Penyuluhan Peternakan 2 yang diadakan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata-Tematik (KKN-T) IPB University. Kegiatan dilakukan di salah satu rumah warga, Warsiman, yang juga peternak kambing, (16/7).

    Mahasiswa KKN-T IPB University, Hylda Aprillia mengatakan, kegiatan penyuluhan ini mengusung materi tentang sistem perkandangan dan pengolahan limbah ternak baik kambing maupun sapi. Hal ini merupakan kegiatan penyuluhan lanjutan dari kegiatan penyuluhan peternakan sebelumnya, yaitu terkait edukasi manajemen sanitasi kandang, penyediaan dan pemberian pakan ternak di Desa Kelubir, awal Juli lalu.

    Materi disampaikan oleh dua mahasiswa KKN-T, Rizki Maulana Fadhila dan Zainul Arifin. Keduanya merupakan mahasiswa Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University. Dalam kesempatan itu, Rizki menjelaskan terkait pengenalan sistem perkandangan.

    “Materi edukasi pengenalan sistem perkandangan yang diberikan meliputi fungsi kandang, syarat mendirikan kandang, model kandang, tipe atap kandang, bahan kandang, luasan kandang, dan konstruksi kandang,” terang Rizki, Mahasiswa IPB University dari Departemen Teknologi Produksi Ternak, Fapet IPB University.

    Sementara Zainul Arifin, mahasiswa IPB University dari Departemen Teknologi Hasil Ternak, Fapet memaparkan terkait pengolahan limbah ternak. Ia menerangkan pengertian pupuk kandang, bentuk saluran limbah ternak, proses instalasi saluran limbah, tempat pengolahan pupuk, peralatan pengolahan limbah dan cara pengolahan limbah ternak menjadi pupuk kandang.

    Pelaksanaan Penyuluhan Peternakan 2 diiringi dengan praktik pembuatan pupuk kandang bersama para peserta di pekarangan rumah Warsiman. Peserta terlihat sangat antusias dalam pelaksanaan kegiatannya.

    “Melalui kegiatan ini diharapkan masyarakat, terutama peternak kambing dan sapi dapat mengetahui dan mempraktikkan sistem perkandangan ternak yang ideal serta pengolahan limbah ternak. Sehingga dapat meningkatkan produktivitas ternak, mengurangi pencemaran lingkungan dan meningkatkan pendapatan dari pupuk kandang yang dihasilkan,” ungkap Zainul Arifin.

    Perwakilan PT Pesona Khatulistiwa Nusantara (PKN), Danang Kisowo Jenar yang turut hadir berharap kegiatan ini dapat berlanjut dan dipraktikkan oleh para peternak di Desa Kelubir (ipb.ac.id)

  • Mahasiswa KKNT-IPB melakukan Demo Pengolahan Hasil Ternak di Desa Sudajaya Girang, Selabintana Sukabumi

    Demo pengolahan hasil ternak di Desa Sudajaya Girang diselenggarakan di Poktan Alamanda, Kampung Flori, Selabintana, Sukabumi  pada hari Selasa, 11 Agustus 2020. Acara yang dihadiri oleh perwakilan Ibu-Ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga), KWT (Kelompok Wanita Tani), dan Posyandu ini berjalan dengan sangat lancar sesuai dengan protokol Covid-19 . Meskipun peserta dibatasi maksimal 20 orang, tetapi peserta sangat antusias karena demo mengenai pengolahan hasil ternak ini merupakan acara pertama yang diselenggarakan di desa ini.

    Demo yang dilakukan berupa pengolahan susu menjadi susu pasteurisasi dengan berbagai varian rasa, pembuatan lotion dan masker wajah, dan pembuatan bantal dari bulu domba. Selain cara pengolahan, demo juga membahas mengenai cara penyimpanan, packaging,dan cara pemasaran produk. Menariknya,  peserta secara sukarela mengajukan diri untuk menjadi volunteeruntuk membantu pelaksanaan demo tanpa harus ditunjuk. Peserta yang lain ikut memerhatikan dengan seksama dan mencatat semua prosedur yang dilakukan. Acara berjalan dengan sangat kondusif meskipun cuaca saat itu sedang turun hujan.

    Selain demo, tim KKNT IPB 2020 membagikan susu pasteurisasi hasil olahan gratis kepada seluruh peserta, sehingga peserta dapat langsung mencicipinya. Selain itu, dibagikan juga flyersanitasi, handsanitizer, dan masker kepada seluruh peserta. Acara ini disponsori oleh Fresh Millack yang pemiliknya sendiri merupakan salah satu anggota KKNT IPB, yaitu saudara Radja Panutan. Acara ini berlangsung sekitar 3 jam lamanya.

    “Terima kasih kepada mahasiswa KKNT IPB 2020 telah menyelenggarakan acara ini, semoga ilmunya bisa bermanfaat bagi kita, apalagi untuk tim PKK, KWT, bisa jadi peluang bisnis untuk memajukan desa kita, semoga tahun depan acaranya bisa diadakan lagi oleh tim KKN selanjutnya” tutur Ibu Erni selaku tim penggerak Ibu-ibu PKK Desa Sudajaya Girang.  Acara diakhiri dengan foto bersama dan hiburan.

  • Mahasiswa penerima beasiswa Japfa Foundation menggelar program pengabdian di desa Neglasari

    Mahasiswa Fakultas Peternakan IPB University angkatan 53 sebanyak 20 orang sebagai penerima beasiswa Japfa Foundation atau disebut JFSC ( Japfa Foundation Scholarship Club) menggelar program pengabdian di desa Neglasari, kecamatan Dramaga, Bogor, tepatnya di GAPOKTAN Neglasari, sabtu pagi (07/12/2019).

    Hal ini disambut hangat oleh Kepala Desa Neglasari Bapak Yayan Mulyana “ IPB dan Desa Neglasari semoga tetap menjalin kerjasama dengan baik dan kegiatan ini saya harapkan dapat membantu desa Neglasari menjadi destinasi wisata pertanian’ ujar kepala desa Neglasari dalam sambutannya.

    Sebanyak 1600 tanaman Indigoferadan 400 tanaman odot  telah diberikan kepada para peternak. Rangkaian acara meliputi penandatanganan kontrak kerjasama antara JFSC dengan Desa Neglasari, kemudian penanaman secara simbolik oleh JFSC, Fakultas Peternakan, Japfa Foundation, dan Desa Neglasari yang diwakilkan oleh Ketua GAPOKTAN.

    Indigofera merupakan hijauan ternak jenis leguminosa yang berasal dari Papua dan memiliki nutrisi yang tinggi untuk ternak. Memiliki kelebihan berproduksi tinggi karena daunnya yang lebat apabila dirawat dengan baik.  Selain itu mudah ditanam dan bertahan dalam kondisi kering maupun basah. Sedangkan tanaman odot yaitu salah satu varietas rumput gajah (Pennisetum purpureum)yang memiliki keunggulan produksit tinggi, apalagi pada saat musm hujan, batang rumput terasa lunak, sehingga daya suka kambing atau domba bertambah. Selain itu kandungan nutrisi yang tinggi seperti protein kasar rumput odot sebesar 12-14% bahkan ada yang mencapai 17%, kemudian tingkat keceranaan tinggi berkisar 65-67%.

    Selain itu mahasiswa juga mengajak para peternak untuk bersama-sama praktik membuat pakan silase. Pelatihan khusus pengawetan pakan untuk peternak ini diharapkan ketika musim kemarau tiba, para peternak dapat menyimpan cadangan pakan untuk ternak mereka. Produk silase hasil fermentasi ini memiliki keunggulan salah satunya selulosa dari hijauan pecah dan ketika dikonsumsi oleh ternak nutrisi mudah diserap.

  • Mahasiswa Teknologi Produksi Ternak Melaksanakan Praktikum Tematik di PT Global Dairi Alami

    Mahasiswa Program Studi Teknologi Produksi Ternak mengikuti praktikum tematik di PT Global Dairi Alami, Subang, 13/4. Kegiatan ini bertujuan supaya mahasiswa bisa belajar dan dapat mengadopsi inovasi dan teknologi dari industri sapi perah. Tidak hanya itu, kegiatan ini juga bertujuan agar mahasiswa lebih siap dalam menghadapi dunia kerja setelah lulus nanti. 

    Iyep Komala, dosen pendamping praktikum menerangkan, mahasiswa Teknologi Produksi Ternak dapat belajar tentang integrated dairy farm di PT Global Dairi Alami (PT GDA). Proses yang dilakukan di perusahaan tersebut mulai dari budidaya sapi perah, perkandangan, pemerahan dengan menggunakan rotary milking, penanganan susu, pengolahan susu, packaging, pemasaran sampai pengolahan limbah skala industri.

    "Kami sangat menyambut baik adanya kunjungan ini karena akan bermanfaat bagi para mahasiswa dalam melihat dunia industri lebih dekat, membandingkan ilmu yang diperoleh di kampus dengan praktiknya di lapangan serta memberikan motivasi untuk belajar lebih kreatif dalam mempersiapkan diri untuk bersaing di dunia industri setelah lulus nanti," kata Asep Kayudin, MM Senior Head of Manufacturing PT GDA.

    Anis Zamaluddien juga mengaku senang atas kunjungan mahasiswa IPB University tersebut. "Senang sekali dapat kunjungan dari mahasiswa TPT IPB University. Sharing beberapa hal terkait Integrated Dairy Farm. Diskusinya menarik dan terlihat antusiasme yang tinggi dari mahasiswa TPT. Semoga sukses studinya dan bisa berkontribusi untuk kemajuan bangsa di masa depan," kata Anis Zamaluddien, MP, QA/QC Manager PT Global Dairi Alami (ipb.ac.id)

  • Mahasiswa Universitas Udayana Belajar Sistem Perkandangan Unggas Tertutup di Closed House Fakultas Peternakan IPB University

    Dalam rangka pelaksanaan program Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MBKM), sebanyak 10 orang mahasiswa Prodi Peternakan, Fakultas Peternakan - Universitas Udayana Bali melaksanakan program tersebut dalam bentuk magang di lab lapangan closed house Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University. Program tersebut berlangsung selama 2 bulan 10 hari dimulai dari tanggal 12 September hingga 30 November 2022.

    Wakil Dekan Bidang Akademik Fapet IPB Prof. Irma Isnafia Arief menyambut dengan baik program tersebut “Selama melaksanakan kegiatan magang, para mahasiswa akan didampingi oleh dosen pendamping expert dari Fapet IPB yaitu Dr. Rudi Afnan untuk Lab. Kandang B dan Ir. Dwi Margi Suci, MS untuk kandang C. Di akhir periode magang, para mahasiswa juga akan mempresentasikan hasil kegiatan tersebut di hadapan pimpinan Fakultas” jelasnya

    Salah satu mahasiswa, Maria Abi mengaku mengungkapkan rasa terima kasihnya atas kesempatan magang industri nasional tersebut. “Disini saya mendapat tempat magang di closed house B dan ini merupakan magang pertama untuk saya. Kami disambut hangat oleh dosen-dosen-dosen Fapet dan teknisi di closed house. Pada saat magang kami selalu diarahkan terlebih dahulu, kegiatan apa yang harus dilakukan. Disini kami dapat belajar bagaimana bekerja sama dalam tim, berkomunikasi dengan baik dan saling berbagi ilmu. Selama magang disini, saya mendapat banyak ilmu, pengalaman, bertanggungjawab dengan apa yang dikerjakan, menciptakan suasana dan komunikasi yang lancar serta disiplin dalam waktu” ungkapnya. Selain itu ia juga merasakan suka duka yang dialami, antara lain cuaca di Bogor yang selalu hujan. Ke depannya, Maria berharap closed house di Fapet IPB semakin jaya dan selalu sukses.

    Peserta lain yaitu Evi Nafisah yang melaksanakan magang di closed house blok C mengaku saat melakukan program magang disini mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman baru. “Kami juga banyak mengerti dari hal-hal sekecil mungkin yang ada dalam kandang sehingga kami dapat mengerti mekanisme kandang closed house itu seperti apa” jelasnya. (Femmy)

  • Mahasiswa Universitas Udayana Belajar Sistem Perkandangan Unggas Tertutup di Closed House Fakultas Peternakan IPB University

    Dalam rangka pelaksanaan program Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MBKM), sebanyak 10 orang mahasiswa Program Studi (Prodi) Peternakan, Fakultas Peternakan (Fapet)- Universitas Udayana Bali melaksanakan program magang di Laboratorium Lapangan Closed House Fapet IPB University. 
     
    Program ini berlangsung selama 40 hari, dimulai dari tanggal 12 September hingga 30 November 2022. Wakil Dekan Fapet IPB University bidang Akademik, Prof Irma Isnafia Arief menyambut dengan baik program tersebut.
     
    “Selama melaksanakan kegiatan magang, para mahasiswa akan didampingi oleh dosen pendamping expert dari Fapet IPB yaitu Dr Rudi Afnan untuk Laboratorium Kandang B dan Ir Dwi Margi Suci, MS untuk kandang C. Di akhir periode magang, para mahasiswa juga akan mempresentasikan hasil kegiatan tersebut di hadapan pimpinan fakultas,” jelasnya.
     
    Salah satu mahasiswa, Maria Abi mengungkapkan rasa terima kasihnya atas kesempatan magang dan sambutan hangat para dosen IPB University dan teknisi di Closed House Fapet. Ia mendapat kesempatan untuk menjalani magang di Laboratorium Kandang B.
     
    “Ini merupakan magang pertama untuk saya. Pada saat magang kami selalu diarahkan terlebih dahulu, kegiatan apa yang harus dilakukan. Di sini kami dapat belajar bagaimana bekerja sama dalam tim, berkomunikasi dengan baik dan saling berbagi ilmu,” ungkap dia.
     
    “Suka duka yang dialami antara lain cuaca di Bogor yang selalu hujan. Ke depannya, saya berharap Closed House di Fapet IPB University semakin jaya dan selalu sukses,” tambahnya.
     
    Selama magang di Closed House Fapet IPB University, Maria mengaku mendapat banyak ilmu dan pengalaman. Ia juga belajar untuk bertanggung jawab dengan apa yang dikerjakan, menciptakan suasana dan komunikasi yang lancar serta disiplin dalam waktu.
     
    Hal serupa dialami peserta lain yaitu Evi Nafisah yang melaksanakan magang di Closed House blok C. “Kami juga banyak mengerti dari hal-hal sekecil mungkin yang ada dalam kandang, sehingga kami dapat mengerti mekanisme kandang closed house itu seperti apa,” jelasnya (ipb.ac.id)

  • Manajemen Logistik Daging Ayam dikala Pandemi

    Fakultas Peternakan IPB University dan Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) kembali gelar pelatihan online yang menghadirkan Sudarno selaku General Manager Logistic PT Sierad Produce, Tbk. Pada pelatihan ini SUdarno membagikan tips bagaimana manajemen rantai pasok dan logistik daging ayam  pada masa pandemi COVID-19.

    “Pengiriman daging ayam beku dibedakan dengan pengiriman untuk daging ayam segar. Ini karena perlakuan untuk kedua jenis produk tersebut berbeda. Perlakuan tersebut berimbas pada biaya logistik. Untuk produk daging ayam beku biaya pengiriman rendah akan tetapi biaya penyimpanan lebih tinggi begitupun sebaliknya dengan daging ayam produk segar, biaya pengiriman tinggi namun biaya penyimpanan lebih rendah. Hal tersebut perlu disiasati agar terhindari dari pembengkakan biaya logistik,” ujarnya.

    Ia mengungkap selama pandemi ini penjualan perusahaannya turun per bulan Februari hingga April tercatat penurunan 30-50 persen. Sementara per bulan Mei sudah mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan dua bulan sebelumnya.
    “Harapannya penjualan di bulan Juni ini bisa meningkat lagi atau setidaknya bertahan dari bulan sebelumnya. Untuk menekan biaya operasional, salah satunya dengan menekan loss inventory yakni dengan menekan kematian di tempat tiba,” tuturnya.

    Ia juga mengutarakan bahwa selama pandemi dan adanya masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), surat izin operasional logistik sangat ketat dan kompleks. "Protokol kesehatan dalam logistik daging ayam ini sangat kami perhatikan. Hal tersebut mendorong kami untuk lebih displin dengan kesehatan. Hal ini sebagai komitmen kami untuk memastikan bahwa daging ayam tetap aman dan sehat ketika sampai di tangan konsumen,” ujarnya (ipb.ac.id)

  • Manajemen Logistik Lebah Madu

    Logistik lebah madu merupakan serangkaian proses yang meliputi kegiatan perencanaan, implementasi, pengontrolan dan tindak lanjut hingga terhadap proses perpindahan lebah madu beserta produknya, dari titik awal kegiatan menuju permintaan konsumen (pelanggan). Tata kelola permaduan ini menjadi kian penting mengingat koloni lebah madu di Indonesia banyak jenis serta jumlah produksinya.

    Koloni lebah madu secara umum ada dua jenis yaitu koloni lebah madu bersengat (KLMBS) dan koloni lebah madu tanpa sengat (KLMTS), yang hidupnya tersebar di seluruh provinsi sampai ke desa dan pedukuhan di seantero Indonesia. Semua jenis lebah madu tersebut mampu menghasilkan produksi kelompok, produksi yang dikumpulkan, produksi yang diekstrak dan produksi yang dipelihara oleh lebah madu. “Manusia berperan sebagai pengembala, pemelihara dan pemanen dalam menghasilkan lebah madu,”kata Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang Pof. Dr. Mochammad Junus dalam Pelatihan Manajemen Produksi dan Logistik Lebah Madu Tropika yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) di Kampus Fakultas Peternakan IPB, Kampus Darmaga Bogor pada 8-9 Oktober 2019. Dalam pelatihan tersebut, dilangsungkan juga kunjungan lapangan di produsen madu Eureka Farm di kawasan Bojong, Bogor.

    Lebih jauh Junus menguraikan, untuk menjamin kelancaran sistem logisik lebah madu, juga diperlukan sumber finansial dan sumber informasi agar kegiatan perlebahan berjalan dengan baik. Semua kegiatan tersebut merupakan bahan masukan logistik lebah madu. Proses manajemen logistik lebah madu dilakukan dengan berbagai kegiatan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengontrolan dan tindak lanjut dari rencana yang sudah disusun. Semua rangkaian kegiatan tersebut harus dilakukan secara disiplin, sehingga kebutuhan konsumen akan madu dan aneka produk ikutannya dapat terpenuhi. Oleh karena itu, manajemen persediaan madu menjadi hal yang tak bisa ditawar. Tata kelola dalam pengaturan persediaan produk lebah madu yang dimiliki tersebut dilakukan mulai dari cara memperoleh produk lebah madu, penyimpanan, sampai digunakan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, yang pada akhirnya berhubungan dengan segmen kegiatan yang lain.

    Tanggung jawab di dalam logistik lebah madu tidak berakhir ketika produk dikirimkan kepada pelanggan. Junus mengingatkan, faktor lain yang tak kalah pentingnya, yakni aktifitas yang berkaitan dengan perbaikan dan servis, sehingga perlu dikoordinasikan dengan aktivitas pembalikan logistik produk perlebahan lainnya. (agropustaka.id)

  • Manfaatkan Jangkrik sebagai Alternatif Pakan Kambing Etawah

    Fatatul Arifah, mahasiswa Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (Fapet IPB) meneliti tentang performa dan profil mikroba rumen kambing peranakan etawah lepas sapih yang diberi ransum mengandung tepung jangkrik. Penelitian ini di bawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Dewi Apri Astuti dan Dr. Sri Suharti. Kambing peranakan etawah (PE) memiliki ukuran tubuh tidak terlalu besar, mudah beradaptasi, perawatan yang mudah, cepat berkembangbiak dengan daya reproduksi tinggi, efisien dalam mengubah pakan menjadi susu, jumlah anak per kelahiran sering lebih dari satu, calving interval pendek, dan pertumbuhan anak cepat. Kambing yang diambil susunya ini mengalami tingkat kematian anak kambing lepas sapih sekitar 15 persen – 20 persen. Selain itu, kambing ini kadang produktivitasnya rendah akibat kurang optimalnya pemberian pakan pada saat lepas sapih.

     Ketersediaan pakan yang tidak berkesinambungan serta rendahnya kualitas pakan menyebabkan kambing kekurangan asupan nutrien yang diperlukan untuk mencapai produktivitas optimal. Peningkatan produktivitas yang optimal perlu diupayakan dengan cara memenuhi kebutuhan gizinya. Masa kritis yang perlu memperhatikan kecukupan gizi adalah pertumbuhan lepas sapih, masa reproduksi, dan saat menyusui.

     Permasalahan lain yang dihadapi yaitu pakan dengan protein tinggi relatif mahal, sehingga dibutuhkan alternatif bahan pakan sumber protein lain. Tepung jangkrik merupakan alternatif pakan sumber protein (48,84 persen) yang dapat menggantikan bungkil kedelai. Jangkrik Kalung merupakan serangga yang memiliki daya reproduksi tinggi, mudah dipelihara, mengandung kadar protein dan lemak cukup tinggi. Jangkrik ini merupakan limbah dari induk-induk jangkrik afkir yang produksi telurnya sudah kurang dari 50 persen. Pemberian pakan yang mengandung protein tinggi bagi ternak tumbuh sangat diperlukan sekaligus akan mempengaruhi populasi mikroba rumen terutama bakteri proteolitik dan juga aktivitas mikroba dalam rumen. Kambing lepas sapih memerlukan protein berkualitas di dalam ransumnya untuk menunjang pertumbuhan.

     Penelitian ini dilaksanakan pada November 2015 hingga Maret 2016 bertempat di Fakultas Peternakan IPB. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga perlakuan dan empat ulangan sebagai kelompok berdasarkan bobot badan. Penelitian dilakukan selama lima bulan, menggunakan sebanyak 12 ekor kambing umur tiga bulan dengan rata-rata bobot badan 11.28 ± 0,33 kilogram. Perlakuan pada penelitian ini konsentrat mengandung sumber protein bungkil kedelai (P0), konsentrat mengandung 15 persen tepung jangkrik (P1), dan konsentrat mengandung 30 persen tepung jangkrik (P2). Semua ternak diberi 30 persen rumput Brachiaria humidicoladan 70 persen konsentrat.

     Hasil penelitian menunjukkan perlakuan ini tidak memberikan pengaruh konsumsi bahan kering, konsumsi protein kasar, pertambahan bobot badan mingguan, efisiensi pakan, populasi protozoa, bakteri total, bakteri proteolitik, dan total protein endapan. Perlakuan pemberian ransum mengandung 30 persen tepung jangkrik cenderung menurunkan populasi protozoa sebesar 8,16 persen. Perlakuan ini tidak berpengaruh terhadap konsumsi bahan kering, konsumsi protein kasar, pertambahan bobot badan mingguan, efisiensi pakan, populasi protozoa, bakteri total, bakteri proteolitik, dan total protein endapan. Disimpulkan bahwa tepung jangkrik dapat menggantikan seluruh penggunaan bungkil kedelai dalam ransum tanpa mempengaruhi performa dan profil mikroba rumen kambing PE lepas sapih.(ipb.ac.id)

  • Manfaatkan Ulat Hongkong, Mahasiswa IPB University Teliti Metode Pengurai Styrofoam

    Di alam, kemasan plastik dan styrofoam sulit diurai. Penggunaan plastik dan styrofoam masih sangat tinggi, terutama di kota-kota besar di Indonesia.  Styrofoam merupakan jenis plastik yang paling berbahaya dan tidak ramah lingkungan.  Selain tidak ramah lingkungan karena sifatnya yang tidak dapat diurai sama sekali, proses produksi styrofoam sendiri menghasilkan limbah yang tidak sedikit.  Menurut Environmental Protection Agency (EPA), Indonesia termasuk sebagai penghasil limbah berbahaya kelima terbesar di dunia.

    Novica Febriyani, Fiona Salfadila dan Indri Destriany, tiga mahasiswa IPB University melalui Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Penelitian Eksakta (PKM-PE) 2019  mencoba meneliti penggunaan ulat hongkong sebagai agen biologis yang bisa mendegradasi styrofoam. Penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengisolasi bakteri dari ulat hongkong dari Indonesia yang bisa mendegradasi styrofoam ini dilakukan di bawah bimbingan Cahyo Budiman, SPt, MEng, PhD.

    “Berdasarkan penelitian ilmiah sebelumnya ditemukan mekanisme degradasi polystyrene menggunakan vektor biodegradasi yaitu ulat hongkong atau mealworms jenis Tenebrio molitor. Ulat hongkong tersebut telah terbukti mampu untuk mendegradasi polystyrene sebagai komponen penyusun styrofoam,” tutur Novica.

    Dalam penelitian tersebut, Novica menambahkan bahwa populasi mikroorganisme dalam perut ulat hongkong erat dengan lingkungan atau habitat ulat tersebut. Hal tersebut mengindikasikan bahwa jenis mikroorganisme dalam ulat hongkong yang dikembangbiakkan di kondisi subtropis Tiongkok akan berbeda dengan ulat yang dibiakkan di kondisi wilayah tropis Indonesia. Itu juga yang mendorong kemungkinan adanya isolat bakteri baru dari ulat hongkong di Indonesia yang bisa mendegradasi polimer polystyrene.

    “Pada mulanya, ulat hongkong kami pelihara dengan diberi pakan tunggal styrofoam. Lalu bagian usus ulat hongkong tersebut kami jadikan sebagai Stok Larutan Ulat Hongkong (SLUH). Kemudian SLUH tersebut ditumbuhkan pada media agar yang sudah ditambahkan styrofoam. Setelah itu, bakteri yang didapatkan, diidentifikasi dan simpan dalam glycerol stock. Kandidat isolat yang diperoleh kemudian diberikan styrofoam yang telah ditentukan. Kemampuan isolat dalam mendegradasi styrofoam diuji dengan cara melihat permukaan Styrofoam dengan menggunakan Scanning Electron Microscopy (SEM),” jelas Novica.

    Novica berharap, ke depannya mereka bisa mengaplikasikan ini pada skala yang lebih besar. Ia juga berencana dalam pengaplikasian bakteri pada limbah styrofoam ini bisa menghilangkan kesan jijik, sehingga pemanfaatannya dapat dilakukan oleh masyarakat luas (ipb.ac.id)

  • Mantan Dekan Fapet IPB, Prof. Soedarmadi Tutup Usia

    Innalillahi wa Inna Ilaihi Rojiuun. Berita duka menyelimuti Fakultas peternakan IPB menjelang akhir bulan Ramadhan 1437 H. Fakultas Peternakan IPB kehilangan salah satu Guru Besar dan tokoh yang menjadi panutan, yaitu Prof. Dr. Ir. Soedarmadi H, M.Sc. Almarhum wafat di Bogor pada hari Selasa, 28 Juni 2016 pukul 16.45 pada usia ke-75.

    Almarhum lahir di Kebumen, tanggal 12 Juni 1941,  Lulus sebagai Insinyur Peternakan dari Fakultas Peternakan IPB pada  tahun 1970. Untuk meningkatkan kompetensinya, almarhum  melanjutkan pendidikan strata Master di bidang agronomi dan Doktor di bidang astrologi dan fisiologi tanaman dari UPLB Philipines. Sebagai ilmuwan selanjutnya beliau berkarir di Fakultas Peternakan IPB, dengan spesialisasi Ilmu Agrostologi dan fisiologi tanaman. Almarhum diangkat menjadi Guru Besar dalam bidang agrostologi di Institut Pertanian Bogor.
     
    Almarhum menjabat sebagai Dekan Fakultas Peternakan IPB periode 2000-2004 dan pernah menjadi Rektor Universitas Jambi pada tahun 1994 – 1999. Saat menjabat di Universitas Jambi, banyak pembangunan sarana dan prasarana, diantaranya gedung fakultas peternakan, rumah kaca dan kebun percobaan fakultas pertanian, mini farm fakultas peternakan, laboratorium koimatologi dan sarana lainnya. di bawah kepemimpinan prof. Soedarmadi, Universitas jambi membuka program studi  Sosial Ekonomi Pertanian (agribisnis), Nutrisi dan Makanan Ternak, dan Produksi Ternak.
     
    Semoga almarhum diterima segala amal ibadahnya diampuni segala dosa dosa dan ditempatkan ditempat yang layak disisiNYA amin
     
    Selamat jalan Prof Darmadi.
  • Masa Perkenalan Kampus Mahasiswa Baru 2016

    Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor mengadakan kegiatan Masa Perkenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB) tahun 2016, pada hari Sabtu dan Minggu, tanggal 27-28 Agustus 2016, pukul 07:00-15:30 WIB. Selama dua hari, mahasiswa baru Fakultas Peternakan IPB diperkenalkan dengan kehidupan kampus, civitas akademika Fapet IPB, fasilitas yang tersedia, dan banyak kegiatan lain yang bermanfaat bagi mahasiswa baru Fapet IPB.

    Pada hari pertama (27 Agustus 2016) mahasiswa baru berkumpul di auditorium Jannes Hummuntal Hutasoit, Fapet IPB. kegiatan diawali dengan sarapan bersama, kemudian dilanjutkan dengan pembukaan MPKMB Fapet IPB, disusul dengan sambutan dari Dekan dan ketua panitia MPKMB. Pada pembukaan tersebut juga dinyanyikan lagu Mars Fapet, yang juga merupakan salah satu identitas Fapet.

    Acara dilanjutkan dengan presentasi dari Dekan Fapet IPB, yang memaparkan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan IPB. Wakil Dekan Akademik dan Kemahasiswaan menjelaskan tentang tata tertib kehidupan kampus yang harus dipatuhi oleh semua civitas akademika Fapet IPB. Hal hal yang berhubungan dengan Fakultas Peternakan disampaikan oleh Wakil Dekan bidang Sumberdaya, Kerjasama, dan pengembangan. Selain itu, Dr. Ir. Kartiarso, M.Sc, sebagai salah satu dosen senior  memaparkan pelajaran yang berharga tentang motivasi menjadi mahasiswa Fapet. Mahasiswa Fapet, harus bangga dengan keilmuwannya, karena peternakan saat ini sangat penting bagi kehidupan manusia.

  • Masih Sering Keliru, Perbedaan Kambing dan Domba Sebenarnya Apa Saja?

    Perlu diketahui bersama bahwa di Indonesia, kadang sebagian orang masih sering keliru menyebut domba dengan kambing. Contohnya pada masa Idul Adha, masyarakat sering menyebut akan sembelih kambing, padahal yang akan disembelih adalah domba. Media massa juga kadang masih keliru memilih foto antara domba dan kambing dalam suatu berita. Sering ditemui juga bahwa restoran yang menyediakan sate kambing ternyata dari daging domba. Bahkan hampir dipastikan bahwa hampir semua restoran sate tersebut menggunakan daging domba.

    Muhamad Baihaqi, SPt, MSc, Dosen IPB University dari Fakultas Peternakan mengatakan terdapat dua hoax yang masih beredar di masyarakat. Pertama adalah perbedaan kambing dan domba yang sering keliru dan anggapan daging kambing dan domba berkolesterol tinggi.
    “Padahal di negara barat seperti Eropa dan Amerika, daging kambing disebut sebagai ‘the healthiest red meat’. Kandungan kolesterolnya jauh lebih rendah dibanding jenis daging lainnya seperti sapi dan ayam, namun proteinnya tinggi,” ujarnya.

    Selain itu, imbuhnya, kandungan asam lemaknya jauh lebih rendah dan kadar proteinnya masih tinggi. Daging kambing dan domba juga lebih mudah dicerna dan diserap oleh tubuh dibanding protein nabati. Bahkan, di rumah sakit luar negeri disarankan diet bagi penderita jantung untuk mengkonsumsi daging kambing. Protein dari daging kambing dan domba dapat diserap oleh tubuh hingga 90 persen.

    “Keunggulan lainnya adalah kandungan antioksidan yang jarang diungkap oleh para dokter, yang justru menyarankan untuk menjauhi konsumsi daging kambing. Daging kambing memiliki kandungan bioaktif dan asam amino esensial yang baik untuk meningkatkan sistem imun tubuh,” tambahnya.

    Menurutnya, munculnya opini bahwa daging tinggi kolesterol sebenarnya diakibatkan dari pola masak yang kurang tepat. Pengolahan daging kambing biasanya diolah dengan tinggi lemak dan jeroan daripada porsi daging utuhnya. Selama porsinya sesuai dan pengolahannya tepat, daging kambing memang sehat bagi tubuh.

    “Perbedaan mendasar antara kambing dan domba adalah dari sisi genetiknya. Kambing dan domba memiliki jumlah kromosom yang berbeda. Kambing memiliki jumlah kromosom 60, sedangkan domba 54. keduanya merupakan spesies yang berbeda sehingga sampai saat ini keduanya tidak dapat dikawinkan,” jelasnya.

    Dari sisi morfologi yang mudah dikenali, lanjutnya, kambing berjenggot sedangkan domba tidak. Ekor kambing mengarah ke atas, sedangkan domba ke bawah. Dari bentuk dan ukuran tanduk juga berbeda. Umumnya tanduk domba lebih tebal dan menggulung ke dalam. Bibir domba bercelah sehingga dapat membantu saat merumput, sedangkan kambing tidak bercelah. Tidak semua domba juga memiliki jenis wool keriting, ada kambing yang juga memiliki jenis wool keriting.

    “Kambing biasa memakan daun dengan memanjat pohon, sedangkan perilaku makan domba adalah grazing atau merumput. Perbedaan perilaku lainnya adalah cara berkelahi kambing berdiri atau adu kaki, sedangkan domba berkelahi dengan adu kepala,” imbuhnya.

    Sementara itu, katanya, susu kambing memiliki struktur lemak lebih kecil sehingga lebih mudah dicerna daripada susu sapi dan domba. Sehingga susu kambing sangat baik bagi penderita penyakit paru-paru. Di dalam susunya juga memiliki zat aktif lebih tinggi daripada domba dan sapi (ipb.ac.id)

Tips & Kegiatan Selama WFH