News

  • Tali Kasih: Wujud Cinta Hanter IPB University bagi Almamater

    Himpunan Alumni Fakultas Peternakan IPB University (Hanter) kembali memberikan paket bingkisan hari raya dan bantuan biaya kuliah bagi almamater, 4/5. Sedikitnya ada 250 paket bingkisan yang akan dibagi dan bantuan biaya kuliah sebanyak 37,5 juta rupiah. Biaya kuliah ini akan diberikan kepada mahasiswa yang orang tuanya terdampak pandemi COVID-19.

    Rektor IPB University, Prof Arif Satria turut mengapresiasi upaya Hanter IPB University yang berusaha mengabdi bagi almamater. “Ini adalah bagian dari kita dalam membangun solidaritas antar sesama keluarga besar IPB University terutama di Fakultas Peternakan. Saya yakin Hanter sudah memberikan yang terbaik dan semoga tahun depan masih bisa dilaksanakan dengan jumlah yang lebih banyak,” ungkap Prof Arif Satria.

    Ir Audy Joinaldy, Ketua Umum Hanter IPB  University sekaligus Wakil Gubernur Sumatera Barat mengatakan paket bingkisan hari raya diberikan kepada tenaga kependidikan baik Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun non-PNS, tenaga kontrak mulai tenaga laboratorium, pegawai yang diperbantukan, petugas keamanan maupun pegawai yang sudah pensiun baik yang sudah meninggal maupun masih hidup. “Sebagai tanda rasa cinta Hanter IPB University bagi almamater, kami ingin memberikan tanda kasih yang diberikan secara rutin setiap tahunnya melalui Tali Kasih,” ujar Audy.

    Pada tahun ini, Hanter memberikan 250 bingkisan senilai 250 ribu rupiah sehingga totalnya senilai Rp 60.500.000. Pada kesempatan yang sama, Hanter juga memberikan bantuan biaya kuliah senilai 37,5 juta rupiah.

    Sekretaris Jenderal Hanter IPB University, Iyep Komala menyebut, bantuan biaya kuliah tersebut diberikan kepada mahasiswa yang keluarganya terdampak pandemi COVID-19 sebesar 2,5 juta rupiah/orang.

    Dirinya berharap, kegiatan Tali Kasih berikutnya dapat mengajak alumni yang lebih banyak sehingga nilai bingkisan juga bertambah. Ia juga menyebut, rasa cinta terhadap almamater juga diwujudkan oleh Hanter dengan membantu keluarga yang menghadapi kemalangan.

    “Kami ingin kegiatan ini terus berjalan. Banyak alumni yang sudah sukses pada berbagai bidang pekerjaan. Saya berharap para alumni baik atas nama perusahaan, pribadi, koordinator angkatan maupun DPD HANTER Provinsi,  dapat berkontribusi dalam Tali Kasih ini,” ujar Iyep Komala (ipb.ac.id)

  • Tenant Inkubator Bisnis STP IPB University Ekspor Produk King Worm

    Salah satu tenant Inkubator Bisnis Science Techno Park (STP) IPB University, PT Sugeng Jaya Grup (SJG) berhasil mengembangkan King Worm, Ulat Tepung Kering. King Worm hadir sebagai sumber protein alternatif yang memanfaatkan insekta karena lebih ekonomis, bersifat ramah lingkungan dan mempunyai peran yang penting secara alamiah.

    Koes Hendra, founder dan CEO PT Sugeng Jaya Farm (SJF) yang juga alumni Fakultas Peternakan IPB University mengatakan bahwa produk ini telah beberapa kali diekspor untuk keperluan riset oleh calon konsumen di berbagai negara.
    “Tentu ini membuka lebar peluang untuk menjadi produsen pengekspor serangga kering (Ulat Tepung) pertama dari Indonesia untuk komoditas pangan manusia. Produk King Worm awalnya dikembangkan melalui proses penelitian pakan hewan asal insekta ramah lingkungan dan kaya akan nutrien yang didukung oleh Dosen IPB University dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan. Yaitu Prof Asnath Maria Fuah dan Dr Yuni Cahya Endrawati,” ujarnya.

    Saat ini, PT SJF fokus mengembangkan produk-produk bernilai tambah tinggi, baik untuk pakan hewan kesayangan, hewan ternak serta pangan manusia. Di antaranya dikenal dengan brand King Worm, Super Worm, Dried Cricket, Holly Hammy dan Super Feed (untuk komoditas pakan) dan brand MeFu (untuk komuditas pangan).

    Perjuangannya untuk mengembangkan perusahaan ini telah dimulai sejak tahun 2017. Pada tahun 2019, PT SJF bergabung menjadi Tenant Inwall Inkubator Bisnis STP IPB University. Selama masa inkubasi, PT SJF telah mendapatkan fasilitasi dan pendampingan teknis produksi dan manajemen usaha. Seperti penyediaan fasilitas ruang usaha inwall di Leuwikopo, pelatihan, coaching/mentoring, expo dan business matching, serta mendapatkan program insentif Perusahaan Pemula Berbasis Telnologi (PPBT) Kementerian Riset dan Teknologi pada tahun 2019.

    Kepala Lembaga Kawasan Sains dan Teknologi (LKST) IPB University, Prof Erika B Laconi menegaskan bahwa STP IPB University melalui Program Inkubasi Bisnis berkomitmen untuk menumbuh-kembangkan startup-startup dari kalangan alumni berbasis pengembangan inovasi prospektif hasil riset IPB University.

    “Diharapkan melalui Inkubator Bisnis STP, lahir pengusaha-pengusaha berbasis inovasi yang akan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi bangsa,” ujar sosok yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Bisnis dan Inovasi IPB University ini.

    Asisten Bidang Inkubator Bisnis LKST, Deva Primadia Almada menambahkan terkait beberapa capaian kinerja PT SJF selama diinkubasi. Yakni memperoleh legalitas usaha berupa PT Sugeng Jaya Grup (SJG), pendaftaran merek dagang dengan nama King Worm pada DJKI Kemenkumham, Pendaftaran Halal, penyerapan tenaga kerja sebanyak 300 persen, peningkatan omzet hingga 400 persen, peningkatan wilayah pemasaran ke seluruh Indonesia dan ekspor ke beberapa negara di luar negeri (Belanda, Singapura dan Malaysia) - (ipb.ac.id)

  • Terapkan Higiene dan Sanitasi dalam Pengolahan pangan Asal Hewan

    Pangan asal hewan memiliki keunggulan antara lain bernilai gizi tinggi, yakni adanya protein (asam amino esensial), lemak, vitamin, mineral dan karbohidrat. Namun di sisi lain, bahan pangan tersebut mudah busuk, rentan rusak, dan berpotensi berbahaya bagi. Untuk menekan munculnya risiko berbahaya, maka penanganan pangan asal hewan sebaiknya dilakukan dengan penerapan good hygiene practices (GHP), penerapan sistem rantai dingin cold chain system, dan penerapan jaminan keamanan pangan – yang implementasinya dapat berupa NKV, sistem Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP), atau ISO 22000:2018.

    Hal itu dijelaskan oleh Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Syamsul Maarif dalam Pelatihan Manajemen dan Sistem Penjaminan mutu Ruminansia yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) di Bogor pada 15 Juli 2019 di Kampus IPB Darmaga, Bogor. Kegiatan tersebut berlangsung dua hari, dengan acara hari ke-2 adalah kunjungan ke RPH Pramana Pangan Utama.

    Dalam proses produksi pangan asal hewan sejak dari kandang hingga ke meja makan harus selalu menjaga higiene dan sanitasi. Samsul menjelaskan, higiene pada prinsipnya merupakan seluruh tindakan untuk mencegah atau mengurangi kejadian penyakit yang merugikan kesehatan. Adapun sanitasi yakni upaya menciptakan segala sesuatu yang higienis dan kondisi yang menyehatkan. “Higiene menyangkut pangan dan personal yang menangani produk pangan asal hewan, sedangkan sanitasi menyangkut tentang lingkungan sekitar pangan,” jelas Syamsul.

    Aspek higiene dan sanitasi ini merupakan aspek penting dalam penilaian pemberian nomor kontrol veteriner (NKV). Pemberian NKV dimaksudkan sebagai upaya penjaminan pangan yang aman sehat utuh dan halal, meningkatkan daya saing produk serta perluasan pasar, dan untuk kemudahan dalam penelusuran produk pangan asal hewan. (agropustaka.id)

  • Terpilih Sofyan, Ketua Fortendik IPB Periode 2018-2020

    Tenaga kependidikan (tendik)  Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan non PNS  Institut Pertanian Bogor (IPB)  melakukan pemilihan atau pencoblosan surat suara untuk memilih Ketua Forum Tenaga Kependidikan (Fortendik) IPB periode 2018-2020 pada Kamis (23/8) pukul 08.00-13.00, di Gedung Graha Widya Wisuda dan di Kampus Sekolah Vokasi IPB. Acara pemilihan atau pencoblosan surat suara untuk memilih Ketua Fortendik periode 2018-2020 dimeriahkan  bazar dandoorprize. 

    Ketua Panitia Pemilihan Fortendik IPB, Ir. Setyo Edy Susanto,S.Th.I, M.Pd menyampaikan, “Alhamdulillah panitia telah melaksanakan pemilihan untuk memilih Ketua Fortendik Periode 2018-2020 dengan jumlah pemilih terdaftar sebanyak  2.736 orang. Jumlah yang menggunakan hak pilih sebanyak 1.241 orang.  Untuk pemilihan ini, panitia mencetak surat suara sebanyak  2.000 lembar.”

    Edy menambahkan dari hasil rekapitulasi suara dalam pemilihan Ketua Fortendik  IPB yang telah berhasil dihimpun panitia, Sofyan, S.Si., M.Si, salah satu staf tenaga kependidikan di Fapet IPB meraih  608 suara, Roesdi Trijadhi meraih 315 suara, Vera Nora Indra Astuti, S.Pt., M.M. meraih 213 suara, Ir. Rita Komalasari  meraih 53 suara,  Ir. Titi Riani, M.Biomed meraih 48 suara dan sebanyak 4 suara tidak sah.

    “Sebagai panitia, Kami selanjutnya akan melaksanakan penyerahan berita acara pemungutan suara dan penghitungan suara kepada Rektor IPB, dilanjutkan dengan Pelantikan Ketua Fortendik oleh Rektor IPB dan  serah terima jabatan dari Ketua Fortendik periode sebelumnya kepada Ketua Fortendik yang baru saja terpilih. Kemudian dilakukan penyusunan pengurus Fortendik, dan pembuatan SK Rektor tentang pengurus Fortendik,” kata Edy.

    Selanjutnya Edy menyampaikan dengan terpilihnya Sofyan, SSi.MSi sebagai Ketua Fortendik  diharapkan dapat  menyatukan seluruh tendik secara bijak, harmonis, dan kekeluargaan. “Salah satu contoh yang paling sederhana  adalah jangan sampai ada beberapa Whatsapps Group Fortendik yang berjalan masing-masing tanpa mau bergabung, kecuali bila kapasitas anggotanya sudah penuh.  Selanjutnya memperjuangkan pengembangan kapasitas dan kemajuan dari para tenaga kependidikan yang mencakup pendidikan, kompetensi, jenjang karir, dan kesejahteraan. Hak dan kewajiban tenaga kependidikan  harus senantiasa dipantau dan diarahkan sesuai aturan-aturan yang berlaku, agar tenaga kependidikan tumbuh dan berkembang dan dapat menjalankan amanah tri darma perguruan tinggi bersama sivitas akademika lainnya, secara baik, benar, berkeadilan dan harmonis demi kemajuan tenaga kependidikan  IPB di masa datang,” paparnya. 

    Sementara itu Ketua Fortendik Periode 2018-2020, Sofyan menyampaikan, “Saya  ingin menjadikan Fortendik IPB  sebagai wadah silaturahim antar tenaga kependidikan, agar terjalin hubungan yang solid, humanis, kekeluargaan dan wadah untuk bisa menjembatani penyampaian aspirasi hak-hak dan kewajiban tenaga kependidikan PNS maupun Non PNS  di lingkungan IPB dengan harapan lebih meningkatkan kesejahteraan tenaga kependidikan serta sebagai forum yang akuntabel, transparan dan profesional.” (ipb.ac.id)

  • Tetap Cantik di Masa Pandemi COVID-19 dengan Kokon Ulat Sutera

    Tidak banyak yang tahu bahwa kokon ulat sutra dapat membuat kulit wajah wanita tetap cantik. Pemanfaatan kokon ulat sutra untuk kecantikan wajah ternyata sudah banyak diterapkan oleh perempuan Asia.
     
    Saat ini, kaum hawa sulit melakukan perawatan wajah ke salon karena akses yang sangat terbatas untuk keluar rumah akibat pandemi COVID-19. Kokon ulat sutera bisa menjadi solusi agar kulit tetap cantik. Hal tersebut disampaikan Dr Yuni Cahya Endrawati, SPt, MSi, dosen IPB University dari Divisi Produksi Ternak Daging, Kerja dan Aneka Ternak, Departemen llmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan.

    Menurutnya, kokon ulat sutera mengandung protein fibroin atau protein serat (70-80 persen) yang bermanfaat untuk melindungi jaringan kulit. Selain itu kandungan protein serisin (20-30 persen) yang ada dalam kokon ulat sutra juga sangat bermanfaat sebagai skin moisturizer, meningkatkan collagen UV protection dan tightening anti-wrinkle effect.
    “Pemakaian kokon ulat sutra sebagai bahan untuk kecantikan ternyata mudah. Pertama, kokon kepompong direndam dengan air panas selama 5 sampai 10 menit. Letakan kepompong pada ujung jari, lalu pijat wajah secara perlahan selama 10 sampai 15 menit,” ujarnya (ipb.ac.id)

  • Tidak Hanya Urusan Pangan, Soal Pakan Hewan Pun IPB University Menjadi yang Terdepan, Yuk Kulik Program Studinya

    Program Studi Nutrisi dan Teknologi Pakan (Prodi NTP), Fakultas Peternakan IPB University merupakan satu-satunya program studi jenjang sarjana di Indonesia yang mengkaji tentang sistem produksi penyediaan pakan, evaluasi kualitas pakan dan penggunaan teknologi, manufaktur dan logistik pakan, serta rekayasa nutrisi dan biosintesis produk ternak unggul dan ramah lingkungan.

    “Komposisi pakan yang tepat menjamin tercukupinya kebutuhan nutrisi ternak untuk tumbuh sehat dan optimal sehingga produk yang dihasilkan berkualitas baik,” ujar Dr Anuraga Jayanegara selaku Ketua Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP) IPB University.

    Di tingkat nasional, Prodi NTP memiliki peranan yang penting dalam bidang nutrisi dan pakan ternak. Untuk itu Prodi NTP berusaha untuk terus mempertahankan serta meningkatkan pelaksaan peran ini dengan menghasilkan lulusan yang kompetitif baik secara nasional maupun internasional.

    “Departemen INTP mengelola tiga program studi yaitu  Prodi S1 Nutrisi dan Teknologi Pakan (NTP), S2 dan S3 Ilmu Nutrisi dan Pakan (INP),” jelasnya.

    Departemen dengan motto “Better Feed for Better Food” ini mengelola enam divisi keilmuan. Yakni Divisi Ilmu dan Teknologi Tumbuhan Pakan dan Pastura (ITPP), Divisi Ilmu dan Teknologi Pakan (ITP), Divisi Manufaktur dan Industri Pakan (MIP), Divisi Nutrisi Ternak Unggas (NTU), Divisi Nutrisi Ternak Perah (NTP), serta Divisi Nutrisi Ternak Daging dan Kerja (NTDK).
     
    Kegiatan belajar mengajar di Prodi NTP didukung oleh tenaga pendidik berkualitas internasional serta berbagai fasilitas pendukung lainnya. Dosen-dosen INTP mempunyai kualifikasi sangat kompeten, 85 persen bergelar doktor dan 32 persen bergelar profesor. Pada tahun 2019, dosen berprestasi tingkat nasional bidang saintek berasal dari INTP serta pegawai Administrasi Akademik Terbaik IPB University juga dari INTP.

    “Departemen INTP telah terakreditasi A oleh BAN-PT dan ASEAN University Network Quality Assurance (AUN-QA),” jelas Dr Anuraga.

    Sektor-sektor bidang pekerjaan yang dapat ditekuni oleh lulusan Prodi NTP diantaranya industri pakan ternak, industri peternakan, pemerintahan, lembaga penelitian, hingga wirausahawan. Rata-rata masa tunggu lulusan Prodi NTP untuk bekerja tidak lebih dari tiga bulan.

    "Alumni Prodi NTP telah mampu bersaing di berbagai lapangan pekerjaan serta berhasil menduduki posisi penting di berbagai lembaga baik swasta maupun pemerintahan. Hal tersebut tentu berkat bimbingan yang diterima selama menjadi mahasiswa di Prodi ini, " ungkapnya (ipb.ac.id)

  • Tingkatkan Imunitas Tubuh dengan Protein Hewani

  • Tingkatkan Produktivitas Kelinci New Zealand White, Mahasiswa IPB Rekayasa Pencahayaan

    Kelinci merupakan salah satu hewan ternak yang berpotensi sebagai penghasil daging dan sumber protein hewani yang baik. Sebagian masyarakat belum mengetahui bahwa daging kelinci memiliki kandungan protein yang tinggi dan rendah kolesterol.

    Umumnya masyarakat memperoleh kebutuhan daging dari daging sapi, kerbau dan unggas. Potensi lain dari ternak kelinci adalah karena ukuran tubuh yang kecil,  sehingga tidak membutuhkan banyak ruang, tidak memerlukan biaya yang besar untuk investasi ternak dan kandang, umur dewasa yang singkat, kemampuan berkembang biak yang tinggi, dan masa penggemukan yang singkat.

    Kelinci pedaging yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah  jenis New Zealand White, namun pertumbuhannya di Indonesia tidak secepat di negara sub tropis. Perbedaan pertumbuhan ini disebabkan karena perbedaan geografis dan lingkungan. Kelinci lebih menyukai suhu lingkungan yang sejuk. Penelitian atau kajian pun sudah banyak dilakukan untuk meningkatkan performa produksi kelinci, salah satu caranya adalah memanipulasi lingkungan.

    Hal inilah yang mendasari mahasiswa dari Institut Pertanian Bogor (IPB), yaitu Randi Novriadi dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB untuk melakukan suatu penelitian untuk meningkatkan produksi kelinci New Zealand White. Di bawah bimbingan Dr. Moh Yamin, dan Dr. Yono C Raharjo, Randi melakukan rekayasa pencahayaan dan memberikan pakan protein tinggi.

    “Cahaya akan menstimulasi pola sekresi beberapa hormon yang mengontrol sebagian besar pertumbuhan, dewasa kelamin dan reproduksi. Tingkat intensitas cahaya pada kelinci yang cukup adalah 30-40 lux atau setidaknya 50 lux. Peningkatan lama pencahayaan diharapkan dapat meningkatkan aktivitas makan kelinci, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan bobot badan kelinci New Zealand White,” ujarnya.

    Pencahayaan selama 24 jam pada kelinci lepas sapih bisa meningkatkan konsumsi pakan harian, meningkatkan pertumbuhan bobot badan harian, dan memberikan income over feed costyang lebih tinggi dibandingkan taraf perlakuan lainnya.

    “Melalui penelitian ini, dapat dibuktikan bahwa lama pencahayaan selama 24 jam dan pemberian pakan berprotein tinggi mampu meningkatkan pertumbuhan bobot badan kelinci New Zealand White,” jelasnya. (ipb.ac.id)

  • Tips Simpan Daging Beku Saat COVID-19 Menurut Dr Tuti Suryati

    Wabah COVID-19 yang terjadi saat ini membuat banyak orang terpaksa harus membatasi aktivitas di luar rumah. Sehingga aktivitas bekerja dan belajar pun harus dilakukan di rumah.
    Berbagai upaya dilakukan agar stamina keluarga tetap sehat, diantaranya dengan mengonsumsi makanan sehat seperti banyak makan sayur, buah, daging, ikan, kacang- kacangan.

    Agar tidak terlalu banyak aktivitas keluar rumah, ibu-ibu sudah mulai menyimpan cadangan makanan di lemari pendingin, salah satunya adalah daging.  Namun untuk proses penyimpanan daging yang baik, tidak banyak masyarakat mengetahui tekniknya dan bagaimana menyiapkan daging beku yang aman dan sehat.

    Menurut Dr Tuti Suryati, SPt, MSi, dosen dari Divisi Teknologi Hasil Ternak, Departemen llmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB University, cara menyiapkan daging beku yang aman dan sehat adalah beli daging segar atau daging beku yang diproses dengan benar dan higienis. Lalu simpan beku dalam kemasan sesuai porsi kebutuhan per sajian.

    “Sebelum dimasak, daging beku harus di-thawing (disegarkan kembali) kecuali setelah
    dimasak. Thawing dilakukan pada refrigerator atau direndam air dingin tanpa membuka
    kemasannya atau diletakkan pada papan besi khusus yang higienis atau menggunakan
    microwave. Hindari melakukan thawing daging beku pada suhu ruang tanpa kemasan. Selain itu, hindari membekukan kembali daging yang sudah di-thawing,” ujarnya.

    Untuk mengolahnya, hindari memasak daging yang masih beku supaya tidak alot. Gunakan bumbu-bumbu kaya antioksidan pada saat mengolah daging. Masak daging dengan suhu dan lama waktu secukupnya.  “Olahan daging dapat disimpan beku dalam kemasan sesuai porsi per sajian keluarga dan sebelum disajikan, daging olahan beku harus di-thawing dengan cara yang benar dan dipanaskan. Stay at Home, tetap sehat dan semangat dengan gizi produk hasil ternak yang menyehatkan,” tandasnya (ipb.ac.id)

  • Titik Kritis Sistem Rantai Dingin Produk Beku

    Logistik rantai dingin merupakan bagian dari rantai pasok yang bertujuan untuk menjaga suhu agar produk tetap terjaga selama proses pengumpulan, pengolahan, dan distribusi ke tangan konsumen. Adapun Manajemen rantai pendingin, dapat diartikan sebagai pengelolaan seluruh aktivitas rantai pendingin yang dianalisis, diukur, dikontrol, didokumentasikan, dan divalidasi agar berjalan secara efektif dan efisien baik secara teknis dan ekonomis.

    Hal itu disampaikan oleh Irene Natasha, Pimpinan PT Adib Cold Logistics Indonesia Irene Natasha dalam Pelatihan Logistik Rantai Dingin pada Produk Daging di Kampus Fakultas Peternakan IPB Darmaga Bogor (27/8). Pelatihan yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) selama dua hari tersebut juga dilangsungkan kunjungan ke PT Adib Cold Logistics di kawasan Narogong, Bekasi.

     

    Ia mengingatkan tentang empat tahap kritis yang harus dicermati dalam sistem rantai pendingin produk beku, yakni penanganan pada proses awal, penyimpanan dan pengolahan saat tiba di darat, penanganan saat transportasi ke lokasi tujuan, hingga penanganan saat bongkar muat dan sistem distribusi ke konsumen. Khusus untuk transportasi, hal ini perlu digarisbawahi mengingat kondisi medan di Indonesia yang kadangkala sulit diprediksi. “Distribusi merupakan kegiatan dalam supply chain untuk memastikan suatu barang yang diproduksi akan sampai ke pada customer,” kata Irene. Adapun tujuan distribusi yakni memastikan suatu produk bisa sampai ke customer sesuai dengan misi logistik, memastikan penyebaran produk dengan merata, meningkatkan nilai guna suatu produk, dan meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil produksi suatu perusahaan.

    Dalam sistem logistik, transportasi berperan dalam perencanaan, penjadwalan, dan pengendalian aktivitas yang berkaitan dengan moda, vendor, dan pemindahan persediaan masuk dan keluar suatu organisasi. Daging sebagai produk yang mudah rusak dalam proses pendistribusiannya harus menggunakan truk berpendingin. “Truk berpendingin sudah menjadi kebutuhan umum guna mentransportasikan bahan makanan melalui jarak yang cukup jauh. Selain meminimalkan atau meniadakan pertumbuhan mikroorganisme, pendinginan yang dihasilkan oleh teknologi refrigerasi juga diperlukan untuk mencegah terjadinya reaksi kimiawi/biologis yang bisa merusak kondisi suatu zat,” tandas Irene. (agropustaka.id)

  • Training of Trainer (ToT) Kebijakan dan Implementasi Gender

    Fakultas Peternakan IPB menyelenggarakan kegiatan Training of Trainer(ToT) Kebijakan dan Implementasi Gender pada tanggal 1 dan 8 Februari 2019. Kegiatan dilaksanakan di Ruang Kerjasama Fakultas Peternakan IPB. Kegiatan ini dibuka langsung oleh Dr.Ir.Moh Yamin, MAgrSc selaku dekan Fakultas Peternakan IPB. “Berbagai pelaksanaan kegiatan Fapet IPB baik akademik, riset dan pemberdayaan masyarakat melibatkan SDM yang kompeten sesuai dengan kualifikasi dan keahlian baik laki-laki maupun perempuan yang tidak terlepas dari peran dan faktor gender”, jelas Dekan.

    Fasilitator pada kegiatan ToT ini adalah  Prof.Dr.Ir.Asnath M Fuah, MS selaku ketua program Gender dan Dr.Ir Ekawati Wahyuni, MS selaku konsultan ahli program gender dari FEMA-IPB. Keduanya tergabung dalam tim pada program gender yang merupakan bagian dari proyek NICHE-Fapet IPB.  Prof Asnath menjelaskan bahwa kebijakan gender Fapet IPB telah dirumuskan oleh tim expert gender Fapet IPB bekerjasama dengan tim expert IPB dan internasional dalam kerjasama proyek NICHE. Eka menyatakan bahwa  Fakultas Peternakan IPB sebagai salah satu unit kerja dalam Perguruan Tinggi di IPB telah berupaya menyusun kebijakan gender sebagai pilot project yang dapat diikuti oleh fakultas lainnya di IPB.

    Pelatihan ditujukan kepada  pemangku kepentingan representatif di Fapet IPB untuk mensosialisasikan kebijakan gender sehingga implementasi kebijakan diharapkan berjalan secara efektif. Kegiatan diikuti oleh 14 peserta yang  terdiri dari perwakilan  dosen, tenaga kependidikan dan pegawai pada masing-masing Departemen IPTP, Departemen INTP dan Fakultas Peternakan IPB. ToT ini bertujuan untuk mensosialisasikan kebijakan gender yang telah dirumuskan tim expert dan disahkan oleh Dekan Fapet kepada para pemangku kepentingan sesuai Tri Dharma Perguruan Tinggi.  

  • Tutur Berduka Cita Atas Meninggalnya Ir. Kukuh B. Satoto

  • Unik, Perekat Organik dari Limbah Bulu Ayam dan Tulang Sapi Buatan Mahasiswa IPB

    Mahasiswa Indonesia memang tiada hentinya berusaha menciptakan beragam inovasi yang mampu menjadi solusi dari permasalahan yang ada di lingkungan sekitar. Kadangkala, inovasi yang diciptakan mahasiswa itu berupa pemanfaatan bahan-bahan yang tak terpikirkan sebelumnya. Seperti inovasi di bidang penelitian karya mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) ini. Mereka membuat perekat organik dari limbah bulu ayam dan tulang sapi.

    Inovasi penelitian ini berhasil mendapatkan pendanaan dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti RI) melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) di bidang Penelitian pada tahun 2018. Mereka adalaha  Rahayu Lestari, Erik Kurniawan dan Hasana Aqiroh di bawah bimbingan Iyep Komala, SPt, M,Si. mereka berhasil memanfaatkan limbah yang mengganggu kondisi lingkungan sekitar menjadi inovasi yang bernilai ekonomi.

    Ayam dikenal sebagai unggas yang daging maupun telurnya digemari oleh masyarakat. Penjualan dan konsumsi ayam terus meningkat dari tahun ke tahun. Dengan meningkatnya konsumsi ayam oleh masyarakat maka meningkat pula limbah yang akan dihasilkan sehingga mengalami penumpukan. Oleh sebab itu, perlu dilakukan inovasi terhadap limbah dari hasil konsumsi ayam agar tidak terjadi penumpukan.

    “Bulu ayam adalah bagian limbah ayam yang banyak menghasilkan sampah dalam jumlah cukup besar. Sehingga kami berpikir untuk memanfaatkan limbah bulu ayam ini menjadi sesuatu yang bernilai secara ekonomi dan mengurangi sampah akibat limbah bulu ayam. Bulu ayam mengandung protein keratin yang berdaya rekat cukup baik. Selain itu, kami mengombinasikan dengan tulang sapi. Tulang sapi mengandung kolagen yang juga memiliki daya rekat tinggi. Oleh karena itu kedua limbah ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk perekat (glue),” papar Rahayu sebagai ketua program penelitian ini.

    Beberapa keunggulan perekat organik dari limbah bulu ayam dan tulang sapi ialah bahan utamanya diperoleh dari limbah yang mudah didapatkan, kemudian proses pembuatan yang tidak rumit. Salah satu cara ekstraksi kolagen adalah dengan cara asam untuk dipekatkan menjadi perekat. Bulu ayam yang digunakan merupakan limbah dari tempat pengolahan ayam, restoran, rumah makan dan juga limbah rumah tangga.

    Mereka berharap perekat organik dari limbah dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan juga kesadaran dan wawasan pemanfaatan limbah menjadi barang daya guna di masyarakat harus lebih dioptimalkan (ipb.ac.id)

  • Viral Telur dalam Telur, Bisakah? Ini Kata Prof Niken Ulupi

    Menurut Prof Niken, telur di dalam telur bisa terjadi. Secara keilmuan, kejadian ini dinamakan  double yolk.  Kejadian ini merupakan ketidaknormalan proses pembentukan sebutir telur karena ada dua ovum (sel telur) yang terovulasi secara bersamaan atau hampir bersamaan.

    Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa secara normal hanya satu ovum terovulasi. Ovum tersebut kemudian diproses di dalam saluran reproduksi unggas (oviduct) yang terdiri dari beberapa bagian. Selanjutnya ovum yang terovulasi ini mendapat tambahan putih telur kental/albumen (di dalam magnum), mendapat tambahan cairan garam-garam mineral dan selaput telur (di dalam isthmus) serta mendapat tambahan kerabang/cangkang (di dalam shell gland/uterus). Maka terbentuklah sebutir telur utuh, yang kemudian dikeluarkan dari tubuh induk unggas.

    Rangkaian seluruh proses pembentukan sebutir telur tersebut, dimulai dari ovum diovulasikan sampai terbentuk telur utuh dan dikeluarkan dari tubuh unggas berlangsung dalam waktu 24-25 jam. Setelah telur dikeluarkan dari tubuh induk, sekitar 15-40 menit kemudian, terjadi ovulasi ovum berikutnya.

    “Yang menyebabkan proses pembentukkan telur tidak normal sehingga terjadi kasus double yolk adalah faktor genetik dan faktor manajemen (yang membuat unggas petelur panik dan stres) sehingga gerakan peristaltik saluran reproduksinya tidak normal,” jelas dosen IPB University dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan ini.

    Ia menuturkan kasus double yolk ini bermacam-macam, ada kondisi dua ovum terovulasi secara bersamaan. Yang menyebabkan di dalam satu butir telur ditemukan dua kuning telur yang posisinya persis berdempetan.Selain itu, ada dua ovum yang terovulasi pada waktu yang hampir bersamaan, kejadian ini bisa ditemukan dalam satu butir telur yang posisi kedua kuning telurnya tidak berdempetan, melainkan sudah ada batas putih telur. Bisa jadi posisi kedua kuning tersebut selain dibatasi putih telur juga sudah ada batas selaput telur bahkan kerabang telur, meskipun kerabang tersebut belum terlalu tebal dan keras.

    “Telur double yolk ini aman dikonsumsi selama dihasilkan oleh induk unggas yang sehat dan disimpan dalam tempat bersih sehingga meminimalkan telur tersebut terpapar mikroba patogen serta dimasak secara matang. Semua unggas, ayam misalnya, berpeluang menghasilkan telur double yolk. Frekuensinya yang berbeda, tergantung faktor genetik dan manajemen pemeliharaannya, " jelasnya.

    Meskipun aman dikonsumsi, Prof Niken menekankan agar kejadian double yolk ini harus diminimalkan terutama pada unggas pembibit, karena telur tersebut tidak bisa ditetaskan. Oleh sebab itu dalam proses penetasan ada seleksi telur tetas, salah satunya adalah seleksi bobot telur (55-65 gram/butir). Karena pada bobot diatas 65 gram/butir dikhawatirkan telur tersebut double yolk

  • Visitasi Renewal Audit ISO 9001:2015 dari Sucofindo

    SUCOFINDO melakukan audit (Visitasi Renewal Audit ISO 9001: 2015)  terhadap pelaksanaan pelayanan akademik di Fakultas Peternakan IPB Pada tanggal 3-4 Agustus 2017. Bertindak selaku auditor adalah Bapak Holys dan Ibu Chintia, yang didampingi oleh tim dari Fakultas Peternakan IPB. Pada tahun ini Fakultas Peternakan mengembangkan cakupan penerapan ISO  dalam pelayanan akademik sampai ke tingkat departemen. Dua Departemen tersebut adalah Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan dan Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan. Adapun tujuan renewal audit ini adalah untuk Memastikan kesesuaian Sistem Manajemen Mutu Organisasi serta Memastikan Sistem Manajemen Mutu Organisasi sesuai dengan persyaratan ISO 9001:2015.

    Audit eksternal yang berlangsung selama dua hari tersebut, diawali dengan Rapat Pembukaan pada Hari Kamis, 3 Agustus, pukul 9.30 pagi, yang dilanjutkan dengan pemeriksaan kesesuaian pelaksanaan kegiatan pelayanan dengan POB yang telah dituliskan dalam dokumen ISO di Bidang Management Representative, dan kemudian dilakukan audit di bidang layanan akademik di tingkat Departemen. Pada hari Kedua, Jumat, 4 Agustus 2017, kegiatan audit dilanjutkan dengan pemeriksaan dokumen bidang akademik, dan ketatausahaan dan infrastruktur/maintenance.

    Dari  bidang-bidang  yang diperiksa kesesuaiannya, masih ditemukan adanya kekurangan-kekurangan, pencapaian target yang tidak tercapai, dan beberapa kekurangan lain. Semua menjadi masukan dan koreksi yang sangat berharga bagi Fakultas Peternakan, untuk dapat diperbaiki di masa mendatang, demi terlaksananya pelayanan akademik yang berkualitas. Setelah seluruh rangkaian kegiatan audit ini selesai, maka pada sore harinya sekitar pukul 14.30 dilakukan penutupan oleh Dekan Fakultas Peternakan.

    Semoga kita dapat terus bersinergi demi kemajuan Fakultas Peternakan IPB, masyarakat, dan bangsa Indonesia.

  • Wafer untuk Penggemukan Sapi dari Mahasiswa IPB Dikenalkan ke Peternak di Brebes

    Dalam ilmu gastronomi (tata boga), wafer merupakan biskuit renyah dan manis. Berbentuk tipis, datar, dan kering. Sering digunakan sebagai penghias eskrim dan selipan cokelat batangan. Namun, bagaimana jika wafer digunakan untuk pakan ternak?

    Wafer untuk konsumsi hewan ternak digunakan untuk penggemukan sapi dan sejenisnya. Disebut wafer lantaran bentuknya yang mirip dengan wafer yang kerap dikonsumsi manusia. Ya, makanan hewan ternak sapi tidak melulu reremputan hijau, daun jagung, dan sebagainya. Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan inovasi makanan ternak, yakni dengan memanfaatkan limbah pasar dan tumbuhan yang ada di lingkungan sekitar atau mudah didapat sebagai bahan baku.

    Inovasi itu diciptakan guru besar Fakultas Peternakan IPB, Prof Yuli Retnani. Di Brebes, para peternak sapi diajarkan cara membuatnya oleh mahasiswa IPB.  IPB bekerjasama dengan Badan Perencanaan Penelitian dan Pembangunan Daerah (Baperlitbangda), Dinas Peternakan, dan kelompok ternak untuk mengembangkan pakan bersih tersebut di Desa Buara, Kecamatan Ketanggungan, Brebes, Kamis (16/8/2018).

  • Wakil Dekan Baru Fapet IPB

    Fakultas Peternakan IPB memiliki Wakil Dekan baru periode 2015-2020, yang  telah dilantik oleh Rektor IPB pada Jumat, 12/2/2016. Kedua wakil Dekan itu adalah Prof. Dr. Ir. Sumiati, M.Sc yang menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, dan Dr. Rudi Afnan, S.Pt., MSc.Agryang menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Sumberdaya, Kerjasama dan Pengembangan.

    Prof. Sumiati

    Dr. Rudi Afnan

    Sebelumnya, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan dijabat oleh Dr. Ir. Mohammad Yamin, M. Sc. Agr,yang saat ini telah diangkat menjadi Dekan Fapet IPB, dan Wakil Dekan Bidang Sumberdaya, Kerjasama dan Pengembangan dijabat oleh Prof. Dr. Ir Sumiati, M.Sc. selamat Bertugas !

  • Webinar Departemen IPTP IPB University Hadirkan Prof Masahiro Ogawa dari Jepang

    Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP) IPB University kembali menyelenggarakan webinar series untuk yang kedua kalinya. Webinar ini menghadirkan pembicara dari luar negeri yaitu Prof Dr Masahiro Ogawa dari Universitas Kagawa, Jepang (16/6). Tema kali ini adalah “Armoring Yourself with The Molecules Helping You to Win Over the Virus”, yang menggali dan mempelajari potensi sumber protein hewani di Indonesia.

    Prof Masahiro Ogawa merupakan ahli di bidang protein dan banyak dari hasil risetnya membahas mengenai gula dan zat aditif alami. Menurut hasil risetnya, kesehatan masyarakat Indonesia berada pada titik yang kritis akibat adanya pandemi. Perubahan budaya makan dari restoran menjadi di rumah saja memaksa sebagian orang untuk mengkonsumsi makanan kemasan atau instan yang memiliki nutrisi yang rendah, rasa yang kurang enak dan tinggi kalori, namun masyarakat tetap membelinya. Ditambah lagi dengan gaya hidup yang kurang rutin berolahraga yang dapat meningkatkan risiko terkena penyakit.

    Dibandingkan Indonesia, sebagian produk makanan dan minuman kemasan di Jepang ditambahkan dengan nutrisi tambahan dan zat aditif alami untuk mengurangi efek buruk terhadap kesehatan. Misalnya brand Coca-cola yang memiliki seri Life yang bebas kalori dan ekstrak tanaman stevia sebagai pengganti gula. Pada Coca-cola Life juga terdapat indigestible dextrin untuk menurunkan penyerapan glukosa dalam usus kecil sehingga kadar gula darah lebih rendah.

    Ia berharap processed food di masa depan ekspetasinya menjadi lebih sehat dan enak, tetapi masih membutuhkan manfaat tambahan. Misal pada produksi sosis ayam, penggunaan garam, gula, fosfat dan sodium nitrat yang tinggi diganti dengan zat aditif alami yang lebih sehat. Gula diganti dengan rare sugar d-allulose walaupun biayanya tergolong mahal dan jarang ditemukan di alam. Zat ini memiliki manfaat bagi kesehatan, antihiperglikemik, supresi akumulasi lemak, anti obesitas serta cocok untuk produk makanan beku seperti sosis karena dapat memperbaiki tekstur dan mencegah sineresis. Zat alami lain yaitu antioksidan polifenol dari ekstrak daun buah zaitun untuk memperbaiki tekstur dan mencegah oksidasi lipid pada sosis.
     
    Selain rare sugar, Dr Zakiah Wulandari, dosen IPB University dari Departemen IPTP melakukan riset terhadap enzim lisozim dalam putih telur yang dapat digunakan sebagai zat pemanis. Hasil riset dari telur unggas lokal seperti ayam kampung dan itik Cihateup ditemukan bahwa hasil isolasi dan purifikasi lisozim pada telur dapat dijadikan bahan pemanis pengganti gula.

    Kekhawatiran pada tingginya angka impor gula dan pasien diabetes menjadi latar belakang riset tersebut.  Ia mendapatkan tingkat kemurnian hingga 97 persen dan tingkat kemanisan hingga sekitar 10µM. Namun proses pemanasan pada saat produksi dapat menurunkan tingkat kemanisan produk sehingga ia menyarankan untuk penambahan lisozim dengan dosis tinggi saat sterilisasi produk.

    Berbeda dengan kandungan nutrisi, pembahasan Dr Cahyo Budiman,  dosen IPB University dari Departemen IPTP  lebih menekankan pada sifat dan potensi antiviral protein pangan dari produk hewani. Sebagian besar risetnya merujuk pada sifat antiviral pada produk olahan susu dan produk hasil fermentasi. Laktoferin pada susu dapat mencegah penempelan dan translasi virus dengan berbagai mekanisme. Beberapa hasil riset menunjukkan bahwa zat tersebut memiliki potensi untuk menghambat virus herpes, HIV, hingga hepatitis C. Dan yang terkini adalah potensinya untuk diaplikasikan pada SARS-Cov2.

    Ia menambahkan bahwa zat tersebut dapat dijadikan zat aditif pada beberapa produk seperti susu bubuk. "Tapi kita masih harus banyak bekerja untuk bisa mentranslasi, melanjutkan sifat tersebut ke tahap klinis atau aplikasi,” ujarnya.

    Hampir sama dengan sifat antiviral, dosen IPB University dari Divisi Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan, Prof Dr Irma Isnafia Arief, membahas tentang sifat antibakteri pada bakteriosin. Sebuah protein berasal dari bakteri asam laktat pada produk pangan fungsional hasil ternak. Protein tersebut dinilai memiliki potensi sebagai preserfatif non toxic dan aman. Dengan struktur berbentuk heliks amfilik, zat tersebut dapat mudah masuk ke dalam membran sel bakteri patogen hingga membuatnya mengalami depolarisasi dan kemudian mati atau memiliki sifat bakterisidal.

    Prof Irma telah melakukan riset pada bakteriosin jenis plantaricin IIA-1 A yang diproduksi dalam bentuk kristal agar travel friendly serta telah terdaftar di HKI. Zat tersebut dinilai cocok untuk ditambahkan pada produk fermentasi secara in situ pada produk hewani seperti sosis urutan (Bali), rangke (Sulawesi Selatan), dan dadih (Sumatera Barat). Pada daging segar diaplikasikan dengan cara disemprotkan  plantaricin 0.2 persen hingga lebih awet bila dijajakan di pasar, sedangkan pada bakso dan sosis dengan dosis lebih tinggi yaitu 0.3 persen dan dinilai tiga kali lebih efektif daripada nitrit (ipb.ac.id)

  • Webinar Fapet IPB University Bahas Potensi Ternak Lokal di Masa Pandemi

    Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP) Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University kembali menggelar webinar dengan tema Ternak Lokal Demi Ketahanan Pangan Rakyat di Masa Normal Baru Pasca Pandemi COVID-19, (23/06). Dalam sambutannya, Dekan Fapet IPB University, Prof Dr Sumiati mengatakan bahwa ternak lokal sudah mengakar di lingkungan masyarakat sehingga patut untuk dijadikan andalan sebagai sumber protein hewani di masa pandemi dan era normal baru. 

    Sementara itu, Prof Dr Cece Sumantri, dosen IPB University yang merupakan Kepala Divisi Pemuliaan dan Genetika Ternak, Fapet menyinggung mengenai  strategi perbaikan genetika ternak lokal untuk meningkatkan produksi ternak lokal dan kualitas produk pangan fungsional. Ternak lokal dianggap paling memungkinkan untuk dijadikan pangan fungsional karena dapat didesain sesuai potensi genetiknya, mulai dari produksi daging hingga susu. 

    “Sumberdaya genetik ternak asli dan lokal memiliki kekayaan genetik yang banyak sehingga dapat bernilai ekonomis dan berkualitas tinggi. Produksi daging ternak lokal tersebut masih rendah karena masyarakat masih  bergantung pada daging ayam broiler,” ujarnya.

    Menurutnya, diperlukan usaha berkelanjutan secara berkelompok dari hulu ke hilir untuk meningkatkan produksi dan kualitas ruminansia. Secara genetika, Indonesia memilik potensi untuk pembentukan bangsa baru dengan menyilangkan ternak lokal yang ada secara terarah. Dan secara keseluruhan, perbaikan tersebut lebih menekankan pada perbanyakan populasi serta memperbaiki kualitas daging karena memiliki nilai ekonomi paling tinggi. Salah satunya dengan memanfaatkan gen stearoyl coa desaturase (SCD) untuk memperbaiki kualitas karakteristik daging. 

    “Di masa depan, diharapkan ada produksi ternak jenis lain, misalnya kelinci yang pemeliharaannya mudah dan produksinya tinggi. Selain itu terdapat program peningkatan produksi kualitas susu, salah satunya dengan memperbanyak populasi ternak perah. Di Indonesia sendiri, ternak perah masih rendah sehingga diperlukan jenis ternak perah lain seperti sapi hisar atau kerbau murrah,” tambahnya.

  • Webinar tentang Produksi Susu Berkelanjutan di Indonesia

    Wageningen University bersama Fakultas Peternakan, IPB University mengadakan webinar dengan tema: “Building Block for Sustainable Development in Indonesia Dairy Sector”. (13/01/2021)

    Selaku Moderator Webinar Dr Rudi Afnan, Wakil Dekan Fakultas Peternakan IPB University, dengan key note speaker Dr Nasrullah dari Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI, Gemma Verijdt dari Kementrian Pertanian, Alam, dan Kualitas pangan Belanda dan Dr Marion De Vries, dari Wageningen University and Research (WUR). webinar tersebut menyoroti pentingnya pembangunan berkelanjutan dari sektor susu Indonesia. Acara tersebut diselenggarakan dalam semangat akhir dari proyek Intensifikasi Produksi Susu Berkelanjutan di Indonesia (SIDPI) di Jawa Barat, Indonesia.

    Dr. M Marion de Vries, yang memimpin proyek SIDPI (2016-2020), menjelaskan bahwa peternakan sapi perah di Indonesia dihadapkan pada pengelolaan limbah kotoran hewan yang buruk, pemberian pakan yang kurang baik, reproduksi yang kurang baik dan permasalahan kesehatan ternak. Hal ini menyebabkan produktivitas rendah dan dampak buruk terhadap lingkungan, terutama karena sebagian besar kotoran ternak dibuang ke lingkungan.

    Dalam webinar ini, solusi yang mungkin untuk pengelolaan pakan dan pupuk kandang yang berkelanjutan dijelaskan oleh Marion dan bagian dari timnya, Windi Al Zahra dari Fakultas Peternakan IPB University, Bram Wouters dan Titis Apdini dari Wageningen University and Research (WUR), Amin Sutiarto dari Trouw Nutrition Indonesia, dan Drs Dedi Setiadi dari KPSBU Lembang.

    Proyek SIDPI dimulai dari merancang dan melaksanakan studi percontohan tentang perbaikan kotoran, pemberian pakan dan manajemen kesehatan hewan, penelitian, keberlanjutan ekonomi dan sosial dari praktik saat ini dan yang lebih baik, dan tahap peningkatan dan penyebaran hasil melalui pelatihan, demonstrasi, diskusi kelompok fokus, dan informasi ke media.

    Pada awal tahun lalu, proyek SIDPI telah selesai. Harapannya, ke depan program ini dapat dikembangkan lebih banyak lagi oleh petani di Jawa Barat dan petani di Indonesia pada umumnya. (agroberichtenbuitenland.n)

Tips & Kegiatan Selama WFH