News

  • Cara Fapet IPB University Tanggap Wabah COVID-19

    Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University telah melakukan berbagai upaya untuk turut berpartispasi aktif dalam membantu warga IPB University, terutama di lingkungan Fapet dalan menghadapi wabah COVID-19. Fapet membentuk Tim Satuan Tugas (Satgas) yang terdiri dari unsur pimpinan fakultas dan departemen serta Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) untuk memudahkan koordinasi.

    "Sejalan dengan Surat Edaran IPB University untuk melaksanakan Partially Closed Down, Fapet juga mengeluarkan surat edaran internal bagi seluruh warga Fapet agar bekerja di rumah (work from home), tanpa tatap muka langsung," kata Dekan Fapet, Prof Dr Sumiati.

    Meskipun begitu, Prof Sumiati mengatakan pelayanan tetap berlangsung sesuai kebutuhan dan permintaan pengguna. Rapat dan kegiatan akademik dilaksanakan secara online. Status mahasiswa Fapet terus dipantau menggunakan form yang disebarkan pada para mahasiswa untuk mengetahui posisi dan kondisi mereka.

    “Tim Satgas COVID-19 Fapet menghimbau dan menggerakkan warga serta alumni Fapet yang tergabung dalam Himpunan Alumni Fakultas Peternakan (HANTER) untuk saling membantu. Berbagai donasi, baik dalam bentuk uang dan natura berhasil dihimpun dari para donatur. Donasi yang terkumpul telah disalurkan kepada mahasiswa Fapet yang tidak pulang ke kampung halamannya karena berbagai kendala. Bantuan diberikan pada para mahasiswa dalam bentuk sembako dan bahan serta peralatan sanitasi. Tercatat tidak kurang dari 100 paket bantuan diberikan pada mahasiswa multi strata (S1, S2 dan S3). Bantuan tersebut masih terus berjalan hingga saat ini,” ujarnya.

    Prof Sumiati menambahkan kegiatan pengumpulan donasi dan distribusi bantuan dikoordinasikan oleh Iyep Komala, SPt, MSi, salah satu dosen Fapet dan dibantu oleh beberapa mahasiswa dari Ormawa Fapet. Pengantaran bantuan dilakukan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan dan keselamatan, termasuk asistensi tentang karantina mandiri bagi yang ditengarai terpapar COVID-19 atas pemeriksaan dokter.

    "Selain pada para mahasiswa, bantuan juga diberikan untuk para tenaga kependidikan dan keluarganya yang sangat membutuhkan untuk membantu kebutuhan sehar-hari. Distribusi bantuan ini dikoordinasikan oleh  dosen Fapet Dr Ir Sri Rahayu, MS," ungkapnya.

    Selain mahasiswa, para tenaga kependidkan dan dosen juga dipantau kesehatannya dengan mengisi form pemantauan dan penelusuran, termasuk menggunakan komunikasi melalui media WhatsApp (WA) grup dosen dan tenaga kependidikan. Berbagai himbauan dalam bentuk infografis disebarkan melalui WA grup agar dapat diketahui dan dilaksanakan. Fasilitas disinfektan juga disediakan di lokasi fasilitas umum atau bersama dan setiap dosen serta tenaga kependidikan diberikan masker dan hand sanitizer (ipb.ac.id)

  • Cara Membuat Permen Karamel Susu

  • Cara Menyimpan Pakan Diungkap dalam Training Sistem Logistik Pakan

    Penyimpanan dan pergudangan merupakan salah satu faktor penting dalam sistem logistik pakan. Hal tersebut bertujuan untuk menjaga karakteristik, baik fisik maupun kimia, yang dimiliki bahan pakan selama waktu penyimpanan setelah proses pemanenan dan pengeringan.

    “Untuk menjaga karakteristik produk pakan, segera lakukan penyimpanan setelah penanganan pasca panen dan pengeringan,” ujar Dr Ir Heri Ahmad Sukria, MScAgr, dalam acara Online Training Sistem Logistik Pakan yang Efektif dan Efisien yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI), IPB University, (5/6).

    “Banyak faktor penyebab terjadinya kehilangan kualitas dan kuantitas bahan selama penyimpanan. Faktor yang dimaksud diantaranya jamur, serangga, rodent, respirasi dan migrasi uap air. Pertumbuhan jamur dipengaruhi oleh kadar air, temperatur bahan, kondisi bijian, jumlah bahan asing dan keberadaan organisme lain,” tutur dosen IPB University dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP) Fakultas Peternakan ini.

    Pengendalian jamur dapat dilakukan secara kimia ataupun fisik. Cara kimia dapat dilakukan dengan menggunakan asam propionate dan asam asetat, sedangkan cara fisik selain mengontrol suhu dan kelembaban, juga dapat dilakukan dengan melepas gas tertentu ke dalam gudang.  

    “Tips agar terhindar dari tumbuhnya jamur, maka suhu optimum dalam gudang penyimpanan sebaiknya berkisar 25-30 derajat celcius dengan kelembaban RH 65- 93 persen. Dalam mengoperasikan penyimpanan pada sistem pergudangan, perlu memperhatikan beberapa aspek diantaranya sanitasi, muatan, aerasi dan monitoring. Sanitasi di sini artinya membersihkan sisa bijian lama dan bijian yang tercecer, menjalankan prinsip first in first out yakni mengeluarkan barang yang paling pertama masuk.
    Aspek muatan yang perlu diperhatikan adalah dengan tidak mencampur bahan lama dengan bahan baru serta tidak menyimpan dengan muatan berlebih.
    “Aspek aerasi perlu diperhatikan agar migrasi uap air tidak terjadi sementara monitoring yang dimaksud adalah memantau secara kontinu terhadap aspek lainnya,” tuturnya dalam pelatihan yang dilakukan secara virtual tersebut (ipb.ac.id)

  • Cegah Kelumpuhan Kalkun, Mahasiswa IPB University Manfaatkan Tanaman Dandelion

    Kalkun berpotensi dikembangkan sebagai alternatif sumber protein hewani. Kalkun ini memiliki kandungan kolesterol yang lebih rendah jika dibandingkan dengan daging sapi. Akan tetapi pada usia 4-6 bulan, kalkun sering mengalami kelumpuhan yang disebabkan oleh kekurangan nutrisi, penyakit dan obesitas.

    Tiga mahasiswa dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP) Fakultas Peternakan IPB University yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian (PKMPE) D-Melion ini melakukan riset dalam upaya mencegah kelumpuhan kalkun dengan pemberian dandelion. Tim yang terdiri dari Husnul Dwi Setianingsih Tadjudin, Syarifah Aini dan Maya Shofiah ini dibimbing oleh Dr. Ir. Widya Hermana. Penamaan D-Melion bermakna sumber vitamin D untuk kalkun (Meleagris gallopavo) dari tanaman dandelion (Taraxacum officinale) sebagai pakan kaya antioksidan pencegah kelumpuhan.

    Husnul menuturkan bahwa tanaman dandelion masih jarang dimanfaatkan. Tanaman dandelion ini memiliki bunga menarik dan indah serta tumbuh di daerah dingin. Tanaman ini memiliki kandungan vitamin D yang tinggi yang dapat mencegah kelumpuhan pada tulang kaki kalkun akibat obesitas.

    Dandelion tersebut diberikan dalam bentuk segar dicampur dengan pakan dedak, pakan komersil dan eceng gondok. Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa kalkun yang diberi pakan tanpa penambahan dandelion mengalami tanda-tanda kelumpuhan. Sementara kalkun yang diberi pakan dengan penambahan dandelion tidak menunjukkan tanda-tanda kelumpuhan.

    "Sampai akhir pemeliharaan, pengamatan tingkah laku menunjukkan kalkun mengalami tanda kelumpuhan pada P0 (tanpa penambahan dandelion), sementara yang diberi penambahan dandelion tidak menunjukkan tanda-tanda kelumpuhan. Tim kami sebelumnya juga telah memastikan adanya kandungan bahan vitamin dan mineral pada tanaman yang kami gunakan dalam memperbaiki kekuatan tulang pada kalkun,” tandasnya (ipb.ac.id)

  • Cegah Pakan Tengik, Peneliti IPB Manfaatkan Daun Mengkudu

    Kualitas fisik pellet dan masa simpan sebuah pellet pakan merupakan hal yang sangat penting dalam usaha peternakan. Dwi M Suci peneliti dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan Institut Pertanain Bogor (IPB) menjelaskan bahwa proses penyimpanan dapat menurunkan kualitas dari pellet. Penurunan kualitas dari pellet yang disimpan dapat disebabkan oleh peningkatan kadar air dan oksidasi lemak pada pellet.

    Sementara itu, daun mengkudu dapat dijadikan sebagai suplementasi pakan. Penggunaannya sebagai suplementasi pakan diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan itik dan meningkatkan efisiensi pakan. Daun mengkudu dalam jumlah yang cukup akan menjadi bahan penguat pellet dan berfungsi sebagai kerangka yang akan mempengaruhi die dan roller pada mesin pellet.

    “Daun mengkudu merupakan salah satu suplemen pakan alternatif yang mengandung antioksidan di dalamnya. Kandungan antioksidan pada daun mengkudu sebesar 19.08 persen. Penggunaan antioksidan merupakan salah satu solusi untuk mencegah terjadinya reaksi oksidasi yang disebabkan lemak pada pellet sehingga dapat memperpanjang masa penyimpanan,” ujarnya.

    Dwi beserta peneliti lainnya yaitu Akbar, M.R.L, dan I. Wijayanti dari departemen yang sama mencoba mengevaluasi kualitas fisik pellet pakan itik yang menggunakan tepung daun mengkudu serta disimpan selama 6 minggu.

    Dari percobaannya, peneliti ini mengungkapkan bahwa penggunaan tepung daun mengkudu 2.5 sampai 7.5 persen tidak menurunkan kualitas fisik pakan pellet pakan itik tetapi dengan adanya penyimpanan sampai 6 minggu menurunkan kualitas fisik pellet pakan itik. Penyimpanan pakan pellet itik sampai 6 minggu tidak menyebabkan kandungan lemak kasar pakan pellet berkurang akan tetapi dengan adanya penyimpanan tersebut kandungan air dan aktivitas air meningkat dan konsentrasi bilangan peroksida dalam lemak kasar pakan pellet meningkat.

    “Baik pakan yang diberi tambahan dengan daun mengkudu atau tidak, masih bisa diberikan kepada itik. Akan tetapi pakan yang diberi tambahan daun mengkudu memiliki tingkat ketengikan yang lebih rendah sehingga itik lebih palatabel (lebih disukai),” ungkap Akbar (ipb.ac.id)

  • COVID-19 Tak Halangi Pelatihan Penanganan Daging

    Masa pandemi COVID-19 tak menghalagi kegiatan pelatihan dilakukan.  Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University bersama Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) menggelar pelatihan penanganan daging.  Pelatihan dilakukan secara daring pada 4/5. Pelatihan ini menghadirkan Dr drh Denny Widaya Lukman, MSi, dosen IPB University dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH).

    Pada kesempatan ini, Pakar Higiene Pangan dan Kesmavet ini menjelaskan dalam penanganan daging, perlu memperhatikan penerapan good hygiene practices (GHP) atau prinsip higienis, penerapan sistem rantai dinging dan penerapan jaminan keamanan pangan seperti Nomor Kontrol Veteriner (NKV), sistem Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) dan ISO 22000:2018.

    Lebih lanjut Dr Denny menjelaskan prinsip higienis pada keamanan pangan meliputi bangunan, peralatan, personal dan proses produksi yang dilakukan. Prinsip ini sangat perlu diterapkan dalam rangka mencegah kontaminasi langsung maupun kontaminasi silang pada olahan pangan terutama daging. Sementara itu, sertifikat NKV diperlukan oleh institusi pengolahan pangan karena di dalamnya memiliki komponen praktik veteriner, higiene sanitasi, status halal, biosecurity, dan kesejahteraan hewan.

    “Di samping persyaratan yang sudah ditentukan, dalam penanganan daging di masa pandemi COVID-19 ini, orang yang menangani daging harus memakai masker, memakai sarung tangan dan sangat dianjurkan untuk mencuci tangan sebelum maupun sesudah memakai sarung tangan, menerapkan physical distancing dan menerapkan hygiene personal,” papar Dr Denny.

    Dr Denny menjelaskan, yang dimaksud hygiene personal adalah melepas perhiasan seperti jam tangan maupun cincin ketika menangani daging. Tidak hanya itu, ketika sedang menangani daging, ia juga menghimbau supaya tidak merokok, tidak memegang rambut, telinga, mata maupun hidung, tidak bersin atau batuk ke arah makanan dan tidak membuang ludah sembarangan.

  • Daging Kelinci Halal dan Sehat

    Sebagian orang merasa tidak tega menyantap daging kelinci, mamalia berbulu yang sering dijadikan peliharaan. Bahkan ada yang beranggapan belum lazim memakannya karena kurangnya informasi bahwa daging kelinci itu halal, lebih enak dan lebih sehat dibandingkan daging ternak lainnya. Dengan alasan tersebut maka sosialisasi kelebihan dan keistimewaan daging kelinci harus digalakkan agar pengetahuan masyarakat terhadap daging kelinci makin mantap. Sehingga, ke depan daging kelinci bukan lagi dijauhkan, tetapi akan dicari banyak orang dan disantap dengan penuh kenikmatan dan keyakinan.

    Untuk itu dua dosen IPB University dari Divisi Produksi Ternak Daging, Kerja dan Aneka Ternak, Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Dr Henny Nuraini dan  Muhammad Baihaqi, SPt, MSc menyampaikan manfaat daging kelinci yang sehat juga halal.

    Daging kelinci halal untuk dikonsumsi. Status halal ini sesuai dengan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Melalui sidang di Jakarta pada 12 Maret 1983, Komisi Fatwa MUI menetapkan bahwa hukum memakan daging kelinci adalah halal.

    Manfaat lainnya adalah adanya senyawa kitotefin pada daging kelinci terutama pada jantung dan hati yang dapat mencegah penyakit asma.

    "Kadar protein daging kelinci lebih tinggi di banding dengan ternak lain. Kadar omega-3 daging kelinci empat kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan daging ayam," papar Baihaqi.  

    Kadar kolesterol dan kadar lemak, lanjut Baihaqi, pada daging kelinci sangat rendah. Tidak hanya itu daging kelinci dinilai lebih "lean" dan sedikit mengandung lemak.

    Lebih lanjut ia menerangkan daging kelinci dapat diolah menjadi berbagai variasi olahan seperti nasi briyani kelinci, kelinci masak madu, rica kelinci dan kelinci goreng korea.

    "Kelinci sebagai ternak multiguna yang memiliki produksi dan produktivitas tinggi. Multiguna artinya dapat dimanfaatkan sebagai pangan konsumsi manusia dan sebagai hewan piara atau dimanfaatkan kulit bulunya untuk pembuatan jaket, tas, atau dompet yang bernilai tinggi. Bahkan, kotorannya bisa dijadikan pupuk tanaman," pungkasnya (ipb.ac.id)

  • Dendeng Sapi Formula Bumbu Kaya Antioksidan Ala IPB

    Dendeng adalah salah satu produk olahan daging yang sangat digemari oleh banyak masyarakat di Indonesia. Dendeng sapi menurut Standard Nasional Indonesia (SNI) adalah produk makanan berbentuk lempengan yang terbuat dari irisan  daging sapi segar yang berasal dari sapi sehat yang telah diberi bumbu dan dikeringkan.
     
    Penambahan bumbu bernuansa rempah khas Indonesia dan proses pembuatan dendeng mampu meningkatkan cita rasa dan aroma dari produk dendeng yang dibuat.
     
    Empat orang pakar dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP) Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB) yang terdiri dari Tuti Suryati, Irma Isnafia Arief, Zakiah Wulandari dan Devi Murtini melakukan penelitian terhadap dendeng sapi. 
     
    Berdasarkan penelitian sebelumnya dihasilkan dendeng yang masih mengandung bakteri patogen E. coli dan S. aureus sehingga diperlukan perbaikan proses pengolahan.
     
    Penelitian tersebut bertujuan untuk memperbaiki proses pengolahan dengan menerapkan prosedur operasional baku (POB) pada produksi dendeng serta menguji mutu mikrobiologis, fisikokimia, dan sensori dendeng yang dihasilkan. 
     
    Perlakuan dalam percobaan ini ialah menggunakan dua lama waktu penggorengan yang berbeda, yaitu: 1,5 menit dan 2 menit yang dibandingkan dengan dendeng mentah sebagai kontrol.
     
    Penerapan POB pada produksi dendeng yang dilakukan tim ini menghasilkan mutu fisikokimia (rendemen, kadar air, aktivitas air, dan pH) yang konsisten baik. Proses produksi yang dilakukan menggunakan POB mampu menurunkan jumlah bakteri E. coli dan S.aureus secara nyata. 
     
    Penggorengan selama 2 menit mampu menurunkan jumlah bakteri E. coli dan S. aureus hingga pada taraf tidak terdeteksi. Penggorengan juga nyata mampu menurunkan kadar MDA, dan tidak ada perbedaan kadar MDA antara lama penggorengan 1,5 dengan 2 menit.
     
    Peningkatan lama penggorengan dari 1,5 menit menjadi 2 menit mampu meningkatkan mutu mikrobiologis dan akivitas antioksidan dendeng tanpa mempengaruhi mutu sensori. 
     
    Para peneliti ini menyimpulkan bahwa produksi dendeng dengan menggunakan POB yang ditetapkan dan lama penggorengan 2 menit pada penelitian ini berhasil meningkatkan mutu mikrobiologis, dengan mutu fisikokimia dan sensori yang baik.(megapolitan.antaranews.com)
  • Dengan Smartkandang.com, Mahasiswa IPB University Ini Raup 28 Juta per Bulan

    Bayu Aji Pangestu, mahasiswa IPB University dari Program Studi Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan angkatan 54 ini berhasil mengembangkan start up dengan omset puluhan juta rupiah dari modal uang jajan. Bayu mengawali usaha bisnisnya dengan membentuk platform Smartkandang.com dengan modal awal 200 ribu rupiah dari hasil mengumpulkan uang jajannya. Kini start up yang bergerak di bidang pendistribusian daging ayam broiler ini memiliki area layanan aktif di delapan kota besar Indonesia seperti Jakarta, Bogor, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Banyuwangi, dan Banjarbaru.
     
    “Saya berhasil mengumpulkan uang 200 ribu rupiah dari uang jajan untuk modal awal dalam berbisnis ayam potong. Modal 200 ribu (bootstrap) tersebut saya gunakan untuk membentuk sebuah platform dengan harga yang murah. Setelah platform jadi, maka proyek pun dapat direalisasikan dengan baik dan langsung saya jalankan. Untuk memenuhi permintaan pasar, kami menggaet para mitra ternak yang peternakannya telah didukung mesin yang modern serta tenaga kerja yang profesional. Kami selalu berusaha memberikan produk ayam broiler yang berkualitas dan higenis sehingga aman untuk diolah kembali oleh konsumen,” ujarnya.
     
    Dalam perjalanan usahanya, Smartkandang.com tidak memiliki peternakan sendiri melainkan bekerjasama dengan puluhan mitra peternakan. Di awal perjalanannya, Bayu hanya bisa menyuplai daging ayam sekitar 400 kilogram per bulannya. Seiring berjalannya waktu, Bayu kini memiliki kapasitas stok daging ayam hingga 50 ton.
     
    "Dalam menjalankan Smartkandang.com, keuntungan awal yang kami peroleh tak lebih dari 5 juta rupiah. Kini pendapatan semakin tinggi dibandingkan dengan pendapatan di awal memulai usaha ini. Saat ini, setiap bulannya kami dapat menghasilkan 28 juta rupiah. Namun, pendapatan hanya sebuah angka saja yang merupakan kepuasan sementara, yang terpenting fokus utamanya yaitu mengejar value yang lebih tinggi lagi agar lebih berarti dibandingkan angka pendapatan," tandasnya.
     
    Usaha yang dibangunnya ini memiliki konsep kemandirian. Yakni tidak berfokus atau mengharapkan untuk mendapatkan pendanaan atau mendapat dana segar dari sebuah institusi. Bayu lebih memilih fokus pada value usaha yang semakin hari menjadi semakin berarti dengan peningkatan kualitas serta mutu pelayanannya.
     
    "Saya percaya jika bertumbuh itu butuh waktu. Intinya, siapapun yang menjadi entrepreneur di usia yang muda, harus dapat menahan diri atau sabar. Jangan cengeng dalam mengembangkan usaha. Harus berusaha keras dan memanfaatkan potensi ataupun kemampuan yang kita miliki terlebih dahulu untuk memulai sebuah usaha," ujarnya.
     
     
    Harapan ke depan adalah agar Smartkandang.com dapat berekspansi lebih jauh lagi layanannya hingga bisa diakses di daerah pelosok. Bayu memiliki semangat dan cita-cita yang tinggi dalam pembangunan usaha ayam potong secara bersih dan profesional di Indonesia. “Saya selalu memegang teguh konsep kepercayaan yang diberikan pelanggan dengan selalu berharap bisa memberikan harga yang terjangkau dalam setiap harinya walaupun harga daging di pasaran melonjak,” tandasnya (kumparan.com)
  • Departemen IPTP Bekali Mahasiswa Strategi Bisnis Unggas Pedaging di Masa Pandemi

    Kuliah tamu Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP), Fakultas Peternakan IPB University menghadirkan Febroni Purba, SPt dari PT Sumber Unggas Indonesia (PT SUI). Kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa IPTP ini mengangkat tema “Strategi Bisnis Unggas Pedaging di Masa Pandemi COVID-19.

    Selain pengenalan tentang sumber daya genetik ayam Indonesia yang dikembangkan oleh PT SUI,  Febroni juga memberikan tips-tips praktis dalam manajemen budidaya unggas lokal pedaging yang beradaptasi dengan kondisi pandemi dan juga strategi bisnis unggas lokal pedaging di masa pandemi dan pasca pandemi.

    “PT Sumber Unggas Indonesia merupakan breeder (pembibit) unggas lokal terbesar di Indonesia, terutama ayam lokal. Sampai saat ini, cakupan bisnis PT SUI meliputi penjualan anak ayam, penjualan live bird, penjualan karkas, penjualan ayam olahan yang tersebar di 150 mitra outlet dan bisnis resto ayam kampung olahan di Jakarta dan Bogor. PT SUI juga memiliki sarana Rumah Pemotongan Hewan-Unggas (RPHU) modern berkapasitas 6.000 ekor per hari,” ujarnya

    Selain bisnis, menurut Ketua Departemen IPTP, Prof Dr Irma Isnafia Arief, PT Sumber Unggas Indonesia juga menjadi pusat pelestarian dan peternakan terpadu unggas Indonesia. Sehingga dengan adanya kuliah tamu ini, harapannya mahasiswa tidak hanya belajar tentang peluang bisnis unggas lokal pedaging namun juga belajar tentang pentingnya pelestarian unggas Indonesia bagi pemanfaatannya yang berkelanjutan.

    “Kuliah tamu ini merupakan program awal untuk mengisi kerjasama Fapet IPB University dengan PT SUI yang sudah disepakati oleh kedua belah pihak. Bidang kerjasama yang dilakukan bukan hanya di bidang perkuliahan dan praktikum namun juga meliputi pendidikan, penelitian, publikasi, diseminasi hasil penelitian, pertemuan ilmiah (seminar, kuliah umum, workshop, konferensi dan lain-lain), praktik lapang, magang profesi, pelatihan, Kuliah Kerja Nyata (KKN), sharing fasilitas, sharing tenaga ahli, sharing inovasi dan kegiatan akademik lainnya,” ujarnya (ipb.ac.id)

  • Departemen IPTP Fapet IPB University Gelar Kuliah Umum Bahas Manajemen Kandang dan Kesehatan Unggas Pedaging

    Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP), Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University menggelar Studium Generale mata kuliah Produksi Unggas Komersial tentang manajemen perkandangan dan kesehatan unggas pedaging di masa pandemi COVID-19, (12/12). Kegiatan ini digelar berdasarkan kasus riil keberhasilan budidaya unggas pedaging di lapangan. Penyelenggaraan Studium Generale ini merupakan salah satu bentuk  kerjasama Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fapet IPB University dengan PT Aretha Nusantara Farm. Kerjasama ini juga diwujudkan dalam praktik lapang dan magang profesi bagi mahasiswa.

    Materi yang disampaikan pada Studium Generale tersebut antara lain diagnosis penyakit dan vaksinasi pada unggas pedaging yang disampaikan oleh drh Titis Wahyudianto (PT Bohringer Ingelheim) dan closed house untuk unggas pedaging yang disampaikan oleh Ading Nurjaman, SE (PT Aretha Nusantara Farm/AS Putra Goup).  

    Pada kesempatan ini, drh Titis mengenalkan jenis penyakit yang sering ditemui di peternakan unggas pedaging di Indonesia beserta faktor penyebabnya. Tidak hanya itu, ia juga menjelaskan tentang tahapan diagnosa penyakit dan penerapan program vaksinasi yang benar pada unggas, termasuk tindakan biosekuritas dan alternatif pencegahan penyakit di masa pandemi COVID-19.

    Drh Titis Wahyudianto juga menjelaskan tentang teknologi terbaru di bidang peralatan vaksinasi dan produk vaksin untuk unggas pedaging yang diproduksi oleh PT Boehringer Ingelheim. Menurutnya, teknologi tersebut sudah banyak diadopsi dan diaplikasikan oleh peternak unggas pedaging di Indonesia.

    Sementara, untuk mendukung kesehatan dan performa unggas pedaging yang optimal sesuai dengan target bisnis, Ading Nurjaman menjelaskan kandang sistem tertutup (closed house) merupakan tipe kandang yang tepat bagi peternak dan terbukti sudah banyak diadopsi oleh peternak.

    Ia pun menyampaikan materi tentang manfaat, teknis operasional dan faktor-faktor yang perlu diperhatikan pada manajemen closed house. PT Aretha Nusantara Farm  merupakan perusahaan yang bergerak di bidang peternakan ayam yang berlokasi di Bandung yang saat ini memiliki 9 cabang perusahaan yang tersebar di wilayah Kuningan, Majalengka, Bandung Timur, Bandung Barat, Garut, Cirebon, Subang, Sumedang dan Tasikmalaya (ipb.ac.id)

  • Dinas Ketapang Sergai Gandeng IPB University Tingkatkan Populasi Ternak Sapi Tebingtinggi

    Puluhan peternak sapi potong yang tergabung dalam tiga kelompok dari Kecamatan Pegajahan, Dolokmasihul dan Sipispis tampak antusias mengikuti program Sekolah Peternakan Rakyat (SPR), Sabtu (7/9) di Aula Pondok Bali Lestari, Jalan Deblod Sundoro, Kota Tebingtinggi.

    SPR merupakan program unggulan dari Dinas Ketahanan Pangan (Ketapang) Kabupaten Serdangbedagai (Sergai) hasil kerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University sejak 2016 lalu. Tujuannya adalah untuk melahirkan peternak sapi yang profesional, mandiri, dan berdaulat.

    Kadis Ketapang Sergai, M. Aliyuddin SP, MP di hadapan kelompok peternak saat membuka SPR 2019 mengatakan kegiatan yang dilakukan secara berkelanjutan ini juga bertujuan untuk menggenjot populasi sapi potong yang akhir-akhir ini sangat dibutuhkan masyarakat karena harga jualnya cukup tinggi. Hal ini sesuai  dengan visi dan misi Kabupaten Sergai agar tercipta peternak-peternak yang inovatif dan berkelanjutan.

    "Dengan adanya program SPR, populasi ternak di Sergai telah membuahkan hasil cukup memuaskan. Saat ini Kabupaten Sergai berada di peringkat keempat populasi ternak terbanyak se-Sumatera Utara (Sumut)," ujarnya.

    Harapannya  para kelompok yang sudah mengikuti program SPR dapat mengembangkan ternak sapi dan menampilkan ternak-ternak terbaiknya.

    Sedangkan Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Ketapang Sergai, drh Andarias Ginting MSi menjelaskan kepada para kelompok peternak terkait permohonan bantuan ke pemerintah guna peningkatan kualitas maupun kuantitas hewan, harus melalui Standard Operating Procedure (SOP) dan pedoman-pedoman yang ada.

    "Kami akan melakukan penilaian dan monitoring sesuai dengan pedoman dan SOP yang dalam waktu dekat akan dibakukan menjadi Peraturan Bupati Sergai," jelasnya.

    Sementara itu, dari LPPM IPB University, Dr Ir Afton Atabany, MSi menyampaikan bahwa pihaknya dalam SPR ini lebih menekankan bagaimana caranya menyemangati peternak untuk giat dalam mengurus hewan ternaknya. Dia menilai, setiap peternak minimal harus menjadi manager dengan kategori 25 ekor ternak per keluarga.

    Menurutnya, dalam SPR ini para peternak diajarkan bagaimana cara pemasaran hewan ternak, pengenalan berbagai penyakit dan pencadangan makanan yang bernutrisi tinggi bagi hewan ternak."Intinya, kami menginginkan para peternak yang mengikuti SPR dapat menjadikan pola beternak masyarakat menjadi lebih baik dan dapat ditularkan ke peternak-peternak yang lainnya,” imbuhnya.

    Dalam kesempatan itu, perwakilan kelompok ternak dari Kecamatan Pegajahan, Srianto mengucapkan rasa terimakasihnya kepada Dinas Ketapang Sergai maupun LPPM IPB University yang mengajarkan tata cara beternak yang baik. Srianto berharap, Dinas Ketapang Sergai terus berkelanjutan untuk membimbing para peternak dalam hal kemajuan serta pengembangan usaha peternakan (ipb.ac.id)

  • Diskusi di IPB: 12,5 Persen Pekerjaan Hilang oleh Otomatisasi

    Era disrupsi seperti saat ini berimplikasi pada bidang industri. Di Indonesia, akibat dari imbas era disrupsi, 12,5 persen pekerjaan hilang oleh otomatisasi.

    Hal ini disampaikan Prof. Dodik R. Nurrochmat, Wakil Rektor bidang Kerjasama dan Sistem Informasi Institut Pertanian Bogor (IPB) saat menjadi keynote speaker di International Seminar on Animal Industry 2018. Kegiatan yang bertemakan “Harmonizing Livestock Industry Development, Animal Welfare, Environmental and Human Health” ini digelar di IPB International Convention Center, (28-30/8). Dalam seminar ini peserta yang hadir dari Belanda, Jepang, USA, Polandia, Australia, Mesir, Cina  dan Indonesia.

    Acara ini digelar oleh Forum Logistik Peternakan  Indonesia (FLPI). FLPI merupakan forum yang bertujuan sebagai wadah berbagi  ide dan menjalin kerja sama antara pendidikan tinggi, pemerintah, bisnis, dan komunitas peternak. Forum ini diinisiasi oleh Fakultas Peternakan IPB.

    Saat ini IPB memiliki tantangan bagaimana membuat kurikulum yang cocok untuk masa depan.  Menurut Prof. Dodik, Rektor IPB mengharapkan sistem pembelajaran online mulai diterapkan di IPB. 

    “Tantangan lain yang dapat bermanfaat bagi masyarakat bisa dalam hal aplikasi mobile, misalnya apakah ada sistem aplikasi mobile yang dapat menguji kualitas daging atau aplikasi untuk cara membedakan daging babi dan sapi hanya dengan foto. Ini adalah tantangan,” ucapnya.

    Selain itu tantangan lainnya di industri hewan adalah semakin banyaknya barang buatan. Misalnya daging buatan, telur buatan yang lebih efisien dan isu daging yang tumbuh dari kultur sel hewan in vitro. Ini tantangan bagi industri. 

    “Implikasi internet of things pada industri hewan berpengaruh pada produk dan produksi. Akan semakin produktif namun juga akan semakin banyak produk pengganti. Dari sisi pasar dan pemasaran, akan lebih efisien namun juga akan banyak kompetisi. Kesehatan dan preferensi suatu produk pun akan lebih transparan. Namun bagaimana dengan batasan etikanya jika ada industri yang membuat rahim buatan dari plastik,” ujarnya.

    Dalam kesempatan ini, Fakultas Peternakan IPB menjalin kerjasama dengan Pusat Penelitian Pengembangan Peternakan RI, Universitas Adelaide Australia, Jaffa Foundation dan dengan PT. Lembu Jantan Perkasa. 

    Dekan Fakultas Peternakan IPB, Dr. M. Yamin menyampaikan bahwa kerjasama dengan Puslitbangnak ini sebetulnya sudah lama dilakukan. “Ini untuk penguatan di administrasi. Kita sudah kerjasama dalam bidang penelitian, pengembangan ternak secara umum, produksi nutrisi dan teknologi hasil. Demikian juga dengan Adelaide University, banyak program magang untuk mahasiswa seperti summer course dan joint degree untuk program master dan sarjana. Semoga banyak mahasiswa yang mampu untuk memanfaatkan potensi akademik di sana. Kerjasama dengan PT. Lembu Jantan Perkasa, untuk kegiatan akademik, penguatan usaha akademik,” ujarnya.

    Sementara itu, Ketua Panitia Acara, Dr. Despal menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat mengakomodasi aspirasi, harapan dan ide-ide banyak pihak untuk pembangunan berkelanjutan Logistik Peternakan Indonesia. Kegiatan ini melibatkan banyak pemangku kepentingan untuk mengeksploitasi keberadaan FLPI.

    Konferensi ini juga diharapkan dapat memberikan masukan dan lahirnya berbagai agenda kerja sama untuk keberlanjutan di FLPI.

    “Dengan demikian, FLPI dapat memberikan kontribusi nyata dan manfaat bagi kemajuan logistik hewan Indonesia. FLPI menyelenggarakan konferensi ini tidak hanya perspektif nasional tetapi juga internasional untuk menyelaraskan upaya para ahli logistik dalam meningkatkan keamanan dan distribusi produk hewan. Konferensi ini menjadi salah satu rangkaian pada Seminar Internasional Keempat tentang Industri Peternakan (ISAl) 2018,” terangnya (ipb.ac.id)

  • Diskusi Ekonomi Hijau dan Pembangunan Berkelanjutan di Departemen IPTP

    Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP), Fakultas Peternakan IPB University mengadakan Kuliah Umum Bagi Mahasiswa tentang “Climate Change, Sustainable Development Goals (SDGs) and Green Production Industry, akhir pekan lalu.

    Kuliah umum ini dihadiri oleh 400 mahasiswa dari berbagai program studi peternakan. Kuliah umum kali ini menghadirkan narasumber dari lintas bidang ilmu yang berbeda yaitu Hizbullah Arief, SIP Climate Leader, founder Hijauku.com dan Dr Eng M Donny Koerniawan, Dosen Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan, Institut Teknologi Bandung. 

    Ketua Departemen IPTP, Prof Irma Isnafia Arief mengatakan kuliah umum tersebut diadakan untuk membahas konsep umum agrikultur dan peternakan yang mempengaruhi SDGs 2030 dan perlunya perhatian atas kontribusi sektor peternakan dari hulu sampai hilir bagi perkembangan SDGs. 

    Sementara, Hizbullah Arief memaparkan materi mengenai perubahan iklim dan dampaknya terhadap SDGs. Dalam paparannya ia mengatakan terdapat dua isu utama yaitu ekonomi hijau dan pembangunan berkelanjutan. Kedua isu ini merupakan isu yang masih memiliki kesenjangan pengetahuan di tengah masyarakat.  

    Lebih lanjut ia menerangkan, kedua isu tersebut sangat berkaitan erat dengan perubahan iklim. Pasalnya perubahan iklim dan cuaca di Indonesia terbilang ekstrim dalam beberapa dekade terakhir. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 13 November 2020, bencana yang terjadi di Indonesia mencapai angka 2.524 bencana. Bencana ini didominasi oleh bencana hidrometeorologis seperti banjir, longsor, dan puting beliung dan terkait pula dengan kekeringan.

    Adapun Donny Koerniawan, memaparkan materi mengenai industri arsitektur dan kota hijau dalam pola produksi hijau.  Ia mengatakan, pembangunan kawasan industri, kota maupun perumahan yang ramah lingkungan memerlukan arsitek yang paham terhadap pembangunan hijau. “Kalau social contribution terhadap environment itu seimbang, pembangunan  kota kita akan menjadi livable, ekonomi dan environment seimbang maka akan menjadi feasible. Nah kita harus mencari di tengah-tengah ini,” jelasnya.

    Peran arsitek dan urban designer dalam mengurangi emisi energi menurutnya juga harus menerapkan empat teori utama yaitu master planning, community system planning, building design dan transport system. "Arsitek harus mengatur keselarasan konsep tersebut agar pembangunan kota sesuai dengan prinsip keberlanjutan melalui smart building, energy independent arsitektur, ataupun green building, " ungkapnya.

    Di penghujung acara, Dosen IPB University dari Departemen IPTP, Iyep Komala, SPt, MSi selaku moderator kuliah umum tersebut menyampaikan perlu ada kolaborasi penelitian dan kegiatan aksi antara Fakultas Peternakan IPB University dengan Sekolah Arsitektur ITB dan Hijauku.com agar menciptakan peternakan di perkotaan dengan pola produksi hijau dengan tetap memperhatikan iklim melalui penerapan arsitektur dan Kota Hijau (ipb.ac.id)

  • Diskusi Mahasiswa dengan Dosen IPB University Ahli Susu

    Tiga organisasi kemahasiswaan (Ormawa) Fakultas Peternakan IPB University yaitu Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Peternakan, Himpunan Mahasiswa Produksi Peternakan (Himaproter), Himpunan Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak (Himasiter) berkolaborasi mengadakan kegiatan Webinar Nasional mengenai Pengoptimalan Protein Hewani sebagai Sumber Nutrisi Pangan di Masa Pandemi, (7/9). Webinar ini menghadirkan Dr Epi Taufik, dosen IPB University dari Fakultas Peternakan dengan kepakaran di bidang susu sapi dan Tika Kartika, SP, perwakilan dari Kementerian Pertanian RI.

    Dalam paparannya, Dr Epi menjelaskan tentang pentingnya mengkonsumsi protein hewani untuk tubuh di masa pandemi. Khususnya mengenai fungsi dan peran susu sebagai protein hewani. Menurutnya, dengan mengkonsumsi susu akan menjadikan tubuh sehat dan seimbang. Ini karena susu mengandung beberapa zat gizi yang tentunya dibutuhkan oleh tubuh manusia.

    “Dengan mengkonsumsi susu rutin setiap hari pada anak kecil atau ibu hamil maka ini akan dapat mengurangi atau menghindari resiko stunting pada anak. Mengkonsumi susu juga dapat meningkatkan imunitas pada tubuh, sehingga dengan minum susu setiap hari di masa pandemi akan membantu meningkatkan imun kita,” ujarnya.

    Webinar Nasional ini merupakan rangkaian acara dari Gerakan Protein Sehat 2020. Sebelumnya sudah dilakukan kegiatan bagi-bagi telur dan susu di Car Free Day (CFD) Kopasus Cijantung Jakarta, Desa Situ Udik Bogor, Desa Kedungbadak Bogor, Desa Cikarawang dan Desa Loji Bogor. Pembagian telur dilakukan oleh beberapa mahasiswa yang mengikuti Program KKN-T IPB University dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang berlaku (ipb.ac.id)

  • Disnak dan IPB Tandatangani MoU

    Dinas  Peternakan (Disnak) Kaltim dan  Institut Pertanian Bogor (IPB) menandatangani Memorandum Understanding (MoU) program kerjasama pengembangan ternak khususnya ternak ruminansia besar (sapi dan kerbau) dan pengembangan hijauan pakan ternak berkualitas.

    Penandatangan kerjasama MoU dilakukan di  IPB  Selasa (10/2).Ir  Dadang Sudarya mewakili  Disnak Kaltim, sementara Dekan Fakultas Peternakan  Prof.Dr. Ir. Luki Abdullah mewakli  Rektor  IPB, menandatangi  MoU tersebut.

    Kadis  peternakan, Ir Dadang Sudarya di dampingi Kepala Bidang Budidaya dan Perbibitan I Gusti Made Jaya Adhi menjelaskan, dalam kerjasama itu diharapkan IPB bisa mengirimkan tenaga ahlinya unt mendampingi pelaksanaan program Integrasi Ternak dengan tanaman dan pemanfaatan lahan ex tambang.

    Melalui APBN-P 2015 Kalimantan Timur direncanakan memperoleh pengembangan ternak Sapi Brahman Cross Impor sebanyak 10.000 ekor untuk 200 Kelompok Tani yang akan dibagikan untk 8 Kabupaten.

    Dalam  APBN Murni 2015 Kalimantan Timur memperoleh kegiatan pengembangan padang pengembalaan di lahan pasca tambang. Kegiatan ini untuk 2 Kabupaten yaitu Paser100 Ha dan Kutai Kartanegara 80 Ha dengan dana masing-masing 3 M.

    Fokus kegiatannya adalah pembuatan padang pengembalaan dan penanaman hijauan berkualitas, pembuatan pagar, sumur bor, embung, tandon air dan pengadaan ternak sebanyak 66 ekor. Khusus untuk Kabupaten Kutai Kartanegara menjadi Satker Mandir.sup. (Sumber Dinas Peternakan Kaltim)

  • Dosen dan Peneliti IPB University Gagas Inovasi Kampung Indigofera di Desa Neglasari

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) IPB University kembali menugaskan tim dosen dari Fakultas Peternakan dan peneliti dari Pusat Pengembangan Sumberdaya Manusia (P2SDM) untuk melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat pada Minggu, (24/11). Melalui program Dosen Mengabdi, LPPM menugaskan Ir M Agus Setiana, MS (Dosen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan), Muhammad Baihaqi, SPt, MSc (Dosen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan), Ir M Yannefri Bakhtiar, MSi dan fasilitator LPPM, Tika Mazda untuk mengabdi di Desa Neglasari, Bogor.

    Menurut Tika, potensi lain dari Desa Neglasari adalah banyaknya masyarakat desa yang melakukan kegiatan ternak domba. Pada minggu pertama penempatan di desa, telah dilakukan kegiatan pemetaan sosial dan ditemukan bahwa terdapat beberapa warga desa yang memiliki usaha ternak domba, sehingga perlu adanya kegiatan sosialisasi dan pemberian edukasi oleh dosen IPB University kepada masyarakat agar perekonomian masyarakat desa Neglasari dapat meningkat.

    Kegiatan pengabdian masyarakat kali ini terdiri dari tiga sesi penyampaian materi dan dilanjutkan sesi focus group discussion (FGD) serta tanya jawab. Materi pertama disampaikan oleh salah satu penggagas Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) di desa lingkar kampus yang juga merupakan peneliti di P2SDM IPB University, Yanefri Bakhtiar.

    Yannefri menyampaikan tentang peningkatan kesejahteraan masyarakat desa melalui program Kampus Desa.  “Kampus Desa hampir mirip dengan kegiatan Dosen Mengabdi LPPM IPB University, yaitu program pemberdayaan masyarakat dengan prinsip sharing sumberdaya dari para stakeholder yang terlibat (IPB University, masyarakat, pemerintah, dan swasta) dengan tujuan memberikan solusi permasalahan pertanian secara umum,” ujarnya.

    Melalui kelembagaan seperti Posdaya, Yannefri menghimbau agar masyarakat dapat ikut terlibat aktif dan partisipatif sehingga mampu mendapatkan informasi dan akses dengan lebih mudah.

  • Dosen Fapet IPB INTP Raih Penghargaan pada International Conference on Tropical Animal Science and Production

    Dua orang Dosen Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan meraih prestasi internasional di akhir bulan Juli 2016. Kedua dosen berprestasi tersebut adalah Prof.Dr.Ir. Yuli Retnani, MSc dan Prof.Dr.Ir. Sumiati, MSc, yang  meraih prestasi The Best Oral Presentation dalam Tropical Animal Science and Production (TASP 2016) pada 26-29 Juli 2016 di Bangkok Thailand.

    Tropical Animal Scence and Production dihadiri peserta dari berbagai negara diantaranya Malaysia, Thailand, Tiongkok, Netherland, Vietnam, Iran, Turki dan Jepang. Dari sekitar 150 peserta yang berpartisipasi dalam seminar ini, dua orang dosen INTP berhasil mengharumkan nama IPB dan Indonesia. Pada kesempatan ini, Departemen INTP mengirimkan empat orang dosen, yaitu Prof. Yuli Retnani, Prof. Sumiati, Prof. Nahrowi dan Dr. Asep Sudarman

    Tim dosen INTP memiliki perhatian khusus pada produk lokal, baik bahan pakan maupun jenis ternak yang dikembangkan. Dalam kesempatan ini, Prof. Yuli mengetengahkan materi berjudul “By Feeding Wafer Feed Supplement Stimulates Performance of Local Calves”. Sedangkan Prof. Sumiati membawakan presentasi berjudul "Performance and Production of Functional Duck's Egg Fed" dan "Diet Containing Indigofera Zollingeriana Leaves Meal and Lemuru Fish Oil". Prof. Nahrowi memaparkan “Performance of Laying Hens on Silage Juice Addition” dan Dr. Asep Sudarman menyampaikan “Feed Additive of Betel Leaves Meal (Piper beile I)Use on Ruminants as One of Methane Mitigation Efforts”. (intp.fapet.ipb.ac.id)

  • Dosen IPB University Bicara Soal Akumulasi Limbah Peternakan yang Merusak Lingkungan

    Meningkatnya permintaan pangan produk ternak mengakibatkan perbesaran skala usaha dan perubahan dari sistem ekstensif menjadi intensif. Hal ini menyebabkan meningkatnya akumulasi jumlah kotoran dan dapat menyebabkan masalah lingkungan apabila limbah tidak dikelola dengan baik.

    Dr Salundik, dosen IPB University dari Departemen Imu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP)  menjelaskan pengelolaan dan pengolahan  limbah peternakan harus memperhatikan sifat dan karakteristik limbah. Sifat dan karakteristik limbah perlu diketahui untuk perencanaan pengolahan limbah ke depannya.

    Menurutnya, limbah ternak dapat dikategorikan menjadi limbah cair (5 persen padatan), lumpur atau semi padat (5-25 persen padatan), padat (lebih dari 25 persen padatan) dan gas. Jumlah, sifat dan karakteristik limbah tersebut dipengaruhi oleh identitas ternak (spesies, umur, ukuran dan kondisi fisiologis), sistem perkandangan, sistem pembersih kandang dan penanganan limbah, jenis ransum yang diberikan, industri ternak dan lingkungan.

    Perencanaan pengelolaan dan pengolahan limbah yang perlu diperhatikan antara lain: penentuan sistem dan tipe pengolahan limbah, penentuan skala pengolahan, lokasi pengolahan, fasilitas pengolahan, biaya instalasi dan manajemen proses pengolahan.

    “Pengelolaan dan pengolahan limbah ternak berfungsi mengurangi potensi pencemaran baik fisik, biologi maupun kimia. Pengelolaan dan pengolahan limbah ini juga dapat meningkatkan atau menambah nilai guna limbah tersebut,” jelas Dr Salundik pada sebuah Online Training yang diselenggarakan oleh Fakultas Peternakan IPB University bekerjasama dengan Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) beberapa waktu lalu.

    Limbah padat, lanjutnya, dapat diolah secara composting, vermicomposting, penguburan atau penimbunan, penggunaan black soldier fly, anaerobik, pembakaran maupun penekanan. Sementara limbah cair dapat diolah melalui pengendapan, flotasi, penyaringan, riverse osmosa, maupun menggunakan bahan kimia seperti ion exchange.

    “Limbah ternak ini terutama limbah kotoran juga dapat dimanfaatkan sebagai biogas maupun pupuk organik. Dengan demikian pengolahan limbah ternak dapat menghasilkan nilai ekonomi bagi peternak,” pungkas  Dr Salundik (ipb.ac.id)

  • Dosen IPB University: Area Bekas Tambang Dapat Dijadikan Peternakan

    Salah satu polemik pertambangan yang saat ini masih terjadi adalah tidak adanya pemanfaatan area bekas tambang. Padahal apabila area tersebut dimanfaatkan, dapat menjadi area bisnis baru.

    Hal ini mendorong, Himpunan Alumni Fakultas (HANTER) bersama dengan Himpunan Alumni IPB University Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Kalimantan Timur mengadakan seminar pemanfaatan area bekas tambang, 10/10. Salah satu pemanfaatan bekas tambang adalah sebagai lahan peternakan.
     
    Dosen IPB University dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP), Fakultas Peternakan, Prof Dr Luki Abdullah menyampaikan lahan bekas tambang dapat digunakan untuk peternakan. Dengan demikian, diharapkan mampu menjadi solusi pemulihan ekonomi daerah setempat.

    “Area bekas tambang nikel dan emas memang perlu waktu lama untuk menghilangkan residu pada hijauan pakan. Kalau bekas tambang batu bara relatif lebih aman untuk ditanam tanaman pakan,” kata Prof Luki.
     
    Meskipun demikian, masih ada karakter pembatas pada area bekas lahan untuk menanam. Karakter pembatas itu adalah pH rendah, bahan organik rendah, kapasitas tukar kation rendah, dan daya menggenang air yang eksrim. Daya menggenang air ini bisa sangat tinggi bahkan bisa tidak ada airnya.

    Degan demikian, menurutnya perlu upaya pembenahan tanah agar dapat mendekati karakteristik lahan yang sesuai untuk tanaman. Upaya pembenahan tersebut dapat dilakukan dengan inokulasi mikroba tanam, pengapuran, pemupukan anorganik tanah dan menambah bahan organik atau sumber karbon organik. Bahan organik dapat berasal dari pupuk kandang, kompos, atau asam humat.

    “Apabila area bekas tambang sudah dilakukan perbaikan tanah, ada lima spesies tanaman pakan yang dapat ditanam. Spesies tersebut yaitu, Pennisetum purpureum, Mott dwarf pennisetum (odot), Panicum maximum cv. Mombasa, dan Mulato,” tambah Prof Luki.

    Senada dengan Prof Luki, Ir Dadang Sudaryana, Anggota HA IPB University mengatakan area bekas tambang dapat dimanfaatkan untuk peternakan yang berbasis mini ranch.

    "Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kalimantan Timur telah meneliti di tiga Kabupaten pada tiga lokasi bekas tambang batubara. Berdasarkan penelitian tersebut, lahan dapat digunakan untuk budidaya peternakan khususnya ternak sapi potong,” ungkapnya (ipb.ac.id)

Tips & Kegiatan Selama WFH