News

  • Prof Ronny R Noor Bicara tentang Keunikan Ayam Kapas

    Ayam kapas atau yang dikenal dunia sebagai Silkie Chicken memang memiliki penampilan yang sangat unik. Berbeda dengan ayam pada umumnya, ayam kapas memiliki bulu yang lembut dan halus menutupi seluruh tubuhnya. 

    Menurut Prof Ronny Rachman Noor, Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, hasil penelitian menunjukkan bahwa ayam kapas ini memang merupakan hasil seleksi yang sudah dilakukan ribuan tahun lamanya. Sehingga menghasilkan breed tersendiri yang sangat unik.

    “Menurut catatan sejarah, ayam kapas ini berasal dari Tiongkok yang dibiakkan dan diseleksi di jaman kekaisaran Han sekitar tahun 200 SM. Dari Tiongkok, ayam kapas yang dikenal sebagai WU GU JI atau ayam hitam ini menyebar ke seluruh dunia menjadi ayam yang sangat unik. Pada abad ke-13, Marcopolo penah menyinggung ayam kapas ini di dalam catatan perjalanannya, menyebutnya sebagai furry chickens,” ungkap Prof Ronny.

    Prof Ronny juga menjelaskan, bulu yang lembut yang menyerupai kapas ini telah diteliti. Ternyata disebabkan oleh adanya gen resesif yang dinamakan gen hookless yang berada di kromosom No 3. 

    “Terjadi mutasi gen pada ayam kapas yang melibatkan proses transversi atau pertukaran basa C (sitosin) ke G (guanin) yang terletak di upstream gen PDDSS2 atau prenyl (decaprenyl) diphosphate synthase. Sehingga aktivitas gen PDDSS2 ini menurun selama perkembangan dan pertumbuhan bulu,” jelasnya.

    Akibatnya, lanjutnya, semua ayam kapas memiliki genotipe yang sangat khas. Yaitu gen khusus yang menyebabkan bulu lembut dan halus seperti kapas yang menutupi hampir seluruh tubuhnya kecuali paruh. Beberapa ayam kapas juga memiliki jambul.

    Tidak hanya itu, katanya, ayam kapas ini juga unik karena kulitnya yang hitam, seperti yang kita temui pada ayam Kedu. Kulit hitam ini dipengaruhi oleh gen melanotik (Fibromelanosis) yang bersifat dominan. Paruhnya juga berwarna hitam kebiruan dengan warna mata hitam. Jengger ayam ini biasanya sangat kecil dengan kaki berwarna biru pucat. Selain itu, ayam kapas memiliki jari kelima.

    “Ayam kapas, yang bobotnya relatif lebih rendah daripada ayam lainnya, umumnya memiliki karakter yang jinak dan dapat mengerami telurnya sendiri. Biasanya, ayam ini bertelur tiga butir saja dalam satu minggu. Dengan penampilannya yang unik dan warnanya yang menawan, ayam kapas banyak dipelihara sebagai ternak hobi juga ternak komersil untuk menghasilkan telur dan daging,” imbuhnya.

    Di Jepang, tuturnya, harga telur ayam kapas ini cukup mahal. Ini karena kekhasan kuning telurnya yang berwarna oranye terang akibat pemberian pakan yang khas, termasuk penambahan rempah-rempah ke dalam pakannya. Warna dan rasa yang khas ini menjadikannya hidangan yang istimewa jika dimakan dengan nasi.

    Menurutnya, pemeliharaan ayam kapas umumnya dilakukan secara free ranch, sehingga membuat dagingnya kaya akan aroma yang menggugah selera. Hal ini menyebabkan banyak yang mempercayai bahwa daging ayam kapas memiliki khasiat khusus bagi kesehatan. Biasanya sebagai obat tradisional peningkat stamina tubuh karena mengandung protein, vitamin dan antioksidan yang tinggi.

    “Biasanya, daging ayam kapas ini secara tradisional dimasak sebagai sup atau dimasak dalam hot pot dengan panas rendah dan waktu pemasakan yang lama. Dan dengan memadukan berbagai rempah-rempah seperti ginseng, jahe, kurma dan sebagainya. Sehingga menghasilkan menu yang sangat khas dan tentunya harganya cukup mahal,” ujarnya,

    Ia menambahkan, perpaduan antara bumbu dan rempah yang berkhasiat dengan daging ayam kapas yang hitam inilah yang menciptakan cita rasa yang khas dan dipercaya memiliki khasiat bagi kesehatan sebagai bagian dari obat tradisional (ipb.ac.id)

  • Prof Ronny R Noor: Anjing Dalmatian Jadi Peliharaan Raja Mesir Kuno

    Mendengar nama Dalmatian tentunya kita akan membayangkan anjing dengan perawakan atletis dan warna yang sangat unik yaitu putih totol hitam atau merah hati. Popularitas anjing Dalmatian semakin memuncak ketika Walt Disney merilis film 101 Dalmatians pada tahun 1985 dengan bumbu alur cerita petualangan yang dramatis.

    Menurut Prof Ronny Rachman Noor, MRur.Sc, Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, jika ditelusuri asal usulnya, ternyata anjing Dalmatian tergolong jenis anjing purba. Pada tahun 3.700 BC atau sekitar 5.721 tahun yang lalu, Raja Mesir kuno bernama Cheops yang dikenal dengan raja pembangun piramida diduga memiliki anjing Dalmatian. Sejarah juga mencatat bahwa Raja Yunani kuno memiliki anjing Dalmatian dengan warna totol hitam dan coklat yang digunakan untuk berburu babi liar.

    “Di era modern yakni abad ke-16, ada sebuah puisi dari Serbia yang mengambarkan keberadaan anjing Dalmatian. Pada abad ini, anjing Dalmatian digunakan sebagai penjaga kuda dan pemiliknya karena posturnya yang sangat atletis dan memiliki ketahanan tubuh yang luar biasa,” lanjut Prof Ronny.

    Asal mula nama Dalmatian memang masih banyak diperdebatkan namun banyak yang sepakat bahwa nama ini berasal dari salah satu propinsi di Kroasia yaitu Dalmatia. Pola warna Dalmatian yang sangat unik telah lama menarik perhatian para ahli genetik untuk menguak misteri bagaimana warna dan pola warna ini dapat terjadi dan diwariskan pada keturunannya.

    “Misteri pewarisan warna ini sedikit demi sedikit mulai terkuak ketika ahli genetik menemukan bahwa pola warna Dalmatian ini dihasilkan oleh tiga gen utama, yakni Piebald, Ticking dan Flecking, yang berinteraksi satu dengan lainnya,” ujar Prof Ronny.

    Prof Ronny menambahkan bahwa berdasarkan hasil penelitian, lokus TYRP1 yang berada di kromosom 11 ternyata bertanggung jawab terhadap kemunculan variasi warna totol hitam atau merah hati yang merupakan ciri khas pola warna anjing Dalmatian. Lokus TYRP1 ini berfungsi untuk mengontrol produksi eumelanin yang dalam keadaan dominan akan menghasilkan eumelanin hitam dan dalam keadaan resesif akan menghasilkan warna eumelanin coklat.

    “Gen lain yang juga terlibat dalam penentuan warna anjing Dalmatian adalah gen MC1R (melanocortin 1 receptor) yang jika berinteraksi dengan lokus Agouti akan menghasilkan warna phaeomelanin atau eumelanin yang menghasilkan warna merah hati,” tambah Prof Ronny.

    Di sisi lain, Prof Ronny mengungkapkan bahwa anjing Dalmatian rentan terhadap ketulian. Data menunjukkan bahwa sekitar 17,8 persen anjing ini mengalami ketulian. Kejadian tuli pada anjing Dalmatian ini bisa terjadi pada satu telinga saja atau terjadi pada kedua telinganya.

    Terlepas dari kelemahannya ini, lanjutnya, anjing Dalmatian dikenal sebagai anjing yang sangat energik, suka bermain, dan sensitif, serta sangat setia pada pemiliknya dan sangat bersahabat dengan anak anak. Anjing tipe ini juga dikenal  cerdas, sehingga dapat dilatih dengan baik dan menjadi anjing penjaga yang baik.

    “Anjing Dalmatian juga dikenal memiliki ingatan yang sangat kuat sehingga jika diperlakukan dengan buruk akan diingatnya sampai puluhan tahun. Dengan harapan usianya yang mencapai 12-14 tahun, keunikan anjing Dalmatian ini semakin menarik hati banyak orang untuk memeliharanya,” pungkas Prof Ronny (ipb.ac.id)

  • Prof Ronny R Noor: Australia Sangat Khawatir Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) Masuk ke Negaranya

    Merebaknya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada sapi, domba, kambing di Indonesia pada bulan Mei 2022 lalu, setelah 32 tahun Indonesia bebas dari PMK membuat panik Australia. Menurut Prof Ronny Rachman Noor pakar pemuliaan dan genetika ternak IPB University, kekhawatiran ini sangat beralasan karena Australia sudah 150 tahun terbebas dari PMK ini.

    “Wabah PMK memang pernah juga melanda Australia. Catatan sejarah menunjukkan bahwa di tahun 1801, 1804, 1871 dan 1872 wabah PMK pernah merebak di Australia. Jadi memang sudah sudah sekitar 150 tahunan Australia bebas dari PMK,” ujar Prof Ronny.

    Lebih lanjut Prof Ronny Rachman Noor mengatakan bahwa langkah yang diambil oleh Australia ini dapat dimengerti mengingat jika sampai PMK masuk ke Australia maka akan menimbulkan kerugian sebesar UD$ 80 miliar. Dan akan mempengaruhi industri peternakan Australia paling sedikit selama 10 tahun.

    “Oleh sebab itu, dapat dipahami jika Australia mengambil gerakan cepat memberikan bantuan kepada Indonesia agar PMK dapat dikendalikan dan tidak menyebar negaranya,” ujar Prof Ronny.  Menurutnya saat ini Australia juga sedang melakukan peninjauan kembali aturan impor produk ternaknya untuk mencegah penyakit PMK ini masuk ke Australia.
    “Salah satu hal yang dikhawatirkan oleh Australia sebagai pintu masuk masuknya virus ini adalah melalui sandal, sepatu ataupun pakaian yang terkontaminasi virus ini selepas kunjungannya ke Bali,” ujar Prof Ronny.

    Jadi menurut Prof Ronny tidak heran jika pihak karantina Australia menganjurkan agar wisatawan Australia yang berkunjung ke Bali sebelum masuk kembali ke Australia membuang sepatunya dan tidak membawanya masuk Ke Australia.  Menurutnya, langkah yang diambil oleh pihak karantina ini secara ilmiah dapat dimengerti karena sepatu yang kontak dengan tanah yang tercemar PMK dapat menjadi salah satu sumber penyebaran virus ini.

    Ia menjelaskan, sebagai salah satu negara yang mengandalkan pendapatannya dari industri peternakan wajar saja jika Australia sangat khawatir.  "Jika sampai PMK masuk ke Australia maka dapat dipastikan akan memporak-porandakan industri peternakan sapi, kambing, domba dan babi Australia dan dampaknya akan berlangsung lama,” ujar Prof Ronny.

    Ia menambahkan, saat ini pemerintah Australia dengan menggandeng pihak industri memang berusaha sekuat mungkin untuk mencegah wabah PMK ini masuk ke Australia. Yakni dengan cara bekerja sama dengan negara di wilayah penyebaran PMK utamanya di wilayah ASEAN untuk menanggulangi penyebaran virus PMK ini.

    “Strategi pertahanan lain yang diterapkan oleh Australia adalah memperkuat biosekuriti di wilayah perbatasan untuk menahan masuknya virus PMK ini,” ujarnya.  Menurut Prof Ronny, disamping itu Australia memiliki perencanaan yang sangat baik untuk mengatasi dan menanggulanginya jika virus PMK ini masuk ke Australia. Sehingga dengan waktu singkat dapat dieliminasi.
    Menurut Kementerian Pertanian Australia, imbuhnya, peluang terjadi wabah PKM meningkat dalam lima tahun ke depan yaitu dari 9 persen menjadi 11,6 persen.

    “Jika terdeteksi ada ternak terjangkit virus PMK, maka langkah pertama untuk menghentikan penyebaran virus PMK ini yang paling efektif adalah memusnahkan ternak yang terjangkit virus ini dan menutup wilayah yang terjangkit virus,” ujar Prof Ronny. Langkah selanjutnya, imbuhnya, yang umum dilakukan untuk mengendalikan wabah ini adalah mengisolasi tempat terjangkit virus ini dengan radius 3 kilometer.

    “Jadi dapat dibayangkan bahwa jika prosedur penanggulangan wabah PMK ini dilakukan, maka akan berdampak serius pada perekonomian Australia. Tidak saja akibat pemusnahan ternak namun juga dampak ekonomi penutupan wilayah,” ujar Prof Ronny. Menurutnya, jika wabah ini masuk ke Australia maka sudah dapat dipastikan akan menurunkan produksi daging dan susu yang tentunya akan mengganggu ekspor daging dan susu Australia.

    “Jika hal ini terjadi maka diprediksi Australia tidak saja kehilangan devisa dari ekspornya yang sangat besar, namun juga harga daging dan susu dalam negeri Australia akan meningkat,” ujar Prof Ronny. Sebagai gambaran, 70 persen produksi daging Australia diekspor, bahkan untuk daging domba  (mutton) persentasenya mencapai 95 persen.

    “Jadi tidak heran jika pemerintah Australia berkomitmen mengguyurkan bantuan jutaan dolar kepada pemerintah Indonesia dan juga negara lain untuk membantu mencegah penyebaran wabah PMK lebih luas lagi melalui program vaksinasi,” ujar Prof Ronny.

    Menurut Prof Ronny, Australia memang tidak melakukan vaksinasi terhadap ternaknya karena secara aturan laboratorium pengembang vaksin hidup tidak diperkenankan ada di Australia. Karena berisiko sangat tinggi bocor dan menyebar di Australia yang telah bebas dari PKM selama 150 tahun.  Oleh sebab itu, Australia walaupun memiliki, stok vaksinnya tidak disimpan di Australia namun disimpan di Inggris.

    Australia juga bekerja sama dengan Thailand untuk mengembangkan vaksin PMK ini. "Australia kini dalam keadaan waspada dan telah mempersiapkan skenario terburuk jika wabah PMK ini akhirnya masuk juga ke Australia setelah negara ini bebas dari penyakit PMK selama 150 tahun,” ujar Prof Ronny (ipb.ac.id)

  • Prof Ronny R Noor: Dunia Memasuki Era Teknologi Pengatur Jenis Kelamin Ternak

    Jenis kelamin dalam industri peternakan merupakan salah satu faktor yang  sangat menentukan keberhasilan suatu usaha peternakan. Di dalam dunia peternakan, umumnya ternak betina menghasilkan produk yang kini banyak dibutuhkan (seperti susu dan telur). 

    Sedangkan ternak jantan berperan dalam penentuan mutu genetik anak-anaknya. Khusus untuk ternak pedaging seperti sapi, kerbau, domba dan kambing.

    Menurut Prof Ronny Rachman Noor, Guru Besar Fakultas Peternakan, IPB University, ternak jantan memang memiliki badan yang lebih besar dan pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan ternak betina. Namun ternak jantan memakan biaya produksi (pemeliharaan) yang lebih mahal karena tidak beranak.

    “Oleh sebab itu, keberhasilan suatu usaha peternakan akan sangat ditentukan oleh proporsi ternak dengan jenis kelamin jantan dan betina yang optimal,” ujarnya.

    Menurutnya, pada industri unggas, biasanya Day Old Chicks (DOC) jantan yang baru menetas dimusnahkan karena tidak memiliki nilai ekonomis yang tinggi jika dipelihara lebih lanjut. "Jadi dapat dibayangkan berapa ratusan milyar anak ayam jantan yang dimusnakan setiap tahunnya,” lanjut Prof Ronny. 

    Prof Ronny menjelaskan bahwa riset para pakar genetika ternak saat ini mulai mengarah pada cara mengatur jenis kelamin anak untuk tujuan tertentu. Misalnya hanya dihasilkan keturunan dengan jenis kelamin betina saja. Pemikiran ini memang mendapatkan dukungan dari berbagai pihak termasuk penyayang binatang karena jika hal ini memungkinkan, maka tidak perlu lagi anak ayam jantan dimusnahkan. Pola pemikiran seperti ini tidak saja hanya berlaku pada industri perunggasan, namun juga pada industri persusuan dan industri ternak lainnya.
    “Dengan adanya perkembangan genetika molekuler yang disebut dengan pengeditan gen (gene editing) atau yang dikenal dengan CRISPR-Cas9, kini memungkinkan untuk memastikan jenis kelamin ternak yang akan dihasilkan. Apakah semuanya akan betina saja atau sebaliknya jantan saja,” kata Prof. Ronny.

    Pada sebagian besar ternak mamalia, penentuan jenis kelamin ditentukan oleh keberadaan kromosom seks X dan Y. Seekor ternak betina akan memiliki sepasang kromosom seks X (XX), sedangkan ternak jantan memiliki satu  kromosom X dan satu kromosom Y (XY).

    “Dengan mengkombinasikan pengetahuan penentuan jenis kelamin ini dan teknik pengeditan gen, kini  para peneliti genetika ternak telah berhasil menghasilkan embrio tikus yang mengandung molekul editing gen yang telah dinonaktifkan. Sehingga dalam perkembangan embrio lebih lanjut, jenis kelamin tertentu dapat dibuat,” paparnya lagi.

    Prof Ronny menjelaskan bahwa inaktivasi gen yang akan berkembang menjadi jenis kelamin tertentu ini dilakukan dengan cara menyisipkan molekul editing gen yang sudah diedit serta mengintegrasikannya ke kromosom X dan Y pejantannya. Separuh molekul gen yang telah dinonaktifkan ini selanjutnya dintegrasikan ke kromosom X induk betina dan separuhnya lagi ke kromosom Y induk jantan. Ketika terjadi pembuahan, separuh molekul editing gen inaktif yang ada di kromosom Y bergabung dengan yang ada di kromosom X. Dan akan menghasilkan embrio dengan kombinasi kromosom seks XY.

    Menurutnya, dalam keadaan normal, embrio dengan kromosom XY ini akan berkembang menjadi indvidu jantan. Namun karena adanya penggabungan molekul editing gen sebelumnya, maka perkembangan embrio selanjutnya akan terhambat dan tidak berkembang menjadi individu. Namun sebaliknya, jika embrio ini betina (mengandung kromosom XX), tidak memiliki molekul editing gen dari induk jantan, maka embrionya terus berkembang menjadi individu betina.

    “Jadi, dengan teknologi terbaru ini, kita akan dapat menentukan jenis kelamin anak yang dihasilkan secara pasti,” jelas Prof Ronny.
    Lebih lanjut lagi, Prof Ronny mengatakan bahwa saat ini, para peneliti genetika ternak sedang berlomba untuk mengembangkan teknologi ini untuk berbagai jenis ternak. Ini karena teknologi yang akan diterapkan dalam penentuan jenis kelamin ini akan berbeda untuk jenis ternak yang berbeda.

    “Salah satu Lembaga penelitian yang tahapan penelitian sudah sangat maju dalam pengeditan gen pada ternak adalah Roslin Institute di Edinburgh. Lembaga penelitian ini dulu di era tahun 1990 an juga terkenal dengan terobosan kloning sel somatik yang menghasilkan domba Dolly,” paparnya.

    Menurut Prof Ronny, teknologi pengeditan gen memang masih menimbulkan pro dan kontra di berbagai negara karena masih dianggap sebagai rekayasa genetik. Namun, negara-negara yang kini sudah setuju dengan pengembangan teknologi ini untuk ternak, beranggapan bahwa teknologi pengeditan gen bukanlah rekayasa genetik karena meniru proses alami gennya itu sendiri.

    “Ke depan, teknologi gen editing ini tentunya akan semakin maju yang memungkinkan diterapkannya secara luas dalam industri peternakan. Tujuannya untuk meningkatkan produksi daging, susu dan telur yang sangat dibutuhkan oleh dunia sebagai pangan lengkap yang berguna bagi pertumbuhan dan kesehatan manusia,” tutupnya (ipb.ac.id)

  • Prof Ronny R Noor: Ini Eranya Peternakan Ramah Lingkungan


    Peternakan merupakan industri strategis dalam mendukung ketersediaan protein hewani yang sangat bermanfaat bagi pertumbuhan, perkembangan dan kesehatan manusia. Namun peternakan sering dituding sebagai salah satu sektor yang berperan dalam mendegradasi lingkungan terutama dalam menghasilkan gas metana, komponen utama dalam emisi gas rumah kaca (greenhouse gases).

    Menanggapi permasalahan lingkungan ini Prof Ronny Rachman Noor, Guru Besar IPB University dari Fakultas Peternakan menyatakan, “Memang benar hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 100 tahun terakhir ini, dampak metana dalam pemanasan global 25 kali lebih besar dibandingkan  dengan CO2 atau karbondioksida”.  

    Dikatakannya, di dunia, sektor peternakan berkontribusi sekitar 14,5 persen dari total emisi gas rumah kaca tahunan yang dihasilkan dari aktivitas manusia.
    Prof Ronny selanjutnya menjelaskan bahwa ternak ruminansia (sapi, kerbau, domba dan kambing) menghasilkan gas metana dari aktivitas mikroba primitif yang dinamakan archaea yang ada di saluran pencernaan.  Bakteri ini dapat hidup dengan memanfaatkan hidrogen dan CO2 yang dihasilkan dari proses pencernaan pakan.

    “Sayangnya proses pemanfaatan hidrogen dan CO2 oleh bakteri ini menghasilkan gas metana yang biasanya dikeluarkan oleh ternak melalui mulut, pernafasan, kentut  dan mekanisme pengeluaran gas lainnya,” imbuhnya.

    Namun menurut Prof Ronny dalam kurun waktu 25 tahun terakhir ini teknologi peternakan mulai diarahkan untuk menanggulangi pencemaran udara dan juga lingkungan.
    Sebagai contoh penelitian di bidang nutrisi ternak telah menghasilkan teknologi tepat guna yang berdampak sangat besar bagi pengurangan gas metana yang dihasilkan.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian suplemen sebanyak 0,25-0,50 persen rumput laut merah jenis Asparagopsis taxiformis (tumbuh di sekitar pantai Australia) dari kebutuhan pakan harian sapi mengurangi secara drastis gas metan yang dihasilkan sebanyak  50 -74 persen dalam masa 147 hari pemberian suplemen pakan ini.
    “Para pakar nutrisi juga membuktikan bahwa pemberian rumput laut merah ini tidak saja mengurangi gas metana secara drastis namun juga meningkatkan konversi pakan sapi sehingga sapi mengalami peningkatan peningkatan pertambahan bobot badan hariannya,” lanjut Prof Ronny Rachman Noor.

    Prof Ronny menjelaskan lebih lanjut, menurut pakar teknologi lingkungan dan pakar nutrisi, temuan yang tampak sederhana ini memberikan harapan besar bagi upaya dunia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca secara drastic. Karena jika diterapkan pada industri peternakan maka dampaknya dapat  disetarakan dengan meniadakan 100 juta mobil yang ada di dunia saat ini dalam hal emisi gas yang dihasilkannya.

    Hasil penelitian pakar nutrisi juga menunjukkan bahwa Asparagopsis taxiformis mengandung bromoform yang berfungsi memutus rangkaian proses akhir pembentukan gas metana sehingga menghalangi terbentuknya gas metana.

    Penemuan ini tentunya membuka lebar peluang pembuatan pakan berbasis suplemen rumput laut terutama pada industri penggemukan sapi di feedlot dimana pemberikan pakannya disediakan setiap harinya tanpa digembalakan.

    “Dari hasil analisa berbagai hasil penelitian disimpulkan bahwa jenis sapi yang berbeda menghasilkan gas metana yang relatif hampir sama.

    Tampaknya pengurangan gas metana dari industri peternakan ini akan lebih efektif jika didekati melalui inovasi teknologi pakan dibandingkan dengan teknologi pembibitan alami untuk menghasilkan jenis sapi yang menghasilkan gas metan yang lebih rendah,” ujar Prof Ronny.

    Ke depan menurutnya, ditemukannya teknologi tepat guna yang berdampak besar pada pengurangan emisi gas rumah kaca ini akan menjadikan industri peternakan lebih ramah lingkungan (ipb.ac.id)

  • Prof Ronny R Noor: Membuat Tulisan Ilmiah Popular itu Mudah dan Kaya Manfaat

    Guru Besar IPB University di bidang genetika ekologi dan genetika kuantitatif pada Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP), Fakultas Peternakan ini memang gemar menulis. Sebagai seorang pendidik dan peneliti, disamping tugas utamanya menghasilkan publikasi ilmiah di berbagai jurnal bereputasi internasional, Prof Ronny Rachman Noor juga menghasilkan banyak sekali tulisan ilmiah popular.

    Sebagai contoh, sampai saat ini Prof Ronny telah menghasilkan 1.194 tulisan yang dimuat di Kompasiana dalam bidang lingkungan, sosial, budaya dan pendidikan. Tulisan-tulisannya telah dibaca oleh umum sebanyak hampir 2 juta kali.

    “Mempublikasikan hasil penelitian merupakan salah satu cara untuk menyebarkan hasil karya yang bermanfaat kepada masyarakat dan kalangan seprofesi,” ujarnya.
    Namun menurut Prof Ronny pada kenyataannya banyak sekali karya ilmiah yang dipublikasikan yang hanya dibaca oleh segelintir orang saja, pada umumnya dari kalangan yang berkecimpung dalam bidang yang sama.
    Daya sebar tulisan ilmiah yang terbatas seperti ini membuat upaya yang telah dicurahkan dalam bentuk penelitian ini akhirnya berujung pada publikasi yang kurang mendatangkan manfaat yang maksimal bagi masyarakat.

    “Kendala utamanya adalah tingkat pengetahuan dan bahasa yang digunakan dalam tulisan ilmiah tersebut sering kali sulit dimengerti oleh masyarakat awam,” ujarnya.

    Menurut Prof Ronny Noor tulisan ilmiah popular dapat dijadikan wahana bagi pendidik maupun peneliti dalam menyebarkan ide dan pemikirannya kepada masyarakat. Disamping itu, menulis tulisan ilmiah popular dapat menumbuhkan budaya menulis bagi penulisnya.

    “Tulisan ilmiah popular karakteristiknya memang berbeda dengan tulisan bebas yang berupa opini penulis.  Sebuah tulisan ilmiah dituntut dapat menyajikan berbagai fakta ilmiah dan argumentasi yang ditulis juga harus dibangun dari fakta ilmiah bukan atas dasar pendapat bebas penulisnya,” ujar Prof Ronny.

    Ketika ditanya kiat-kiat untuk menghasilkan tulisan ilmiah popular, Prof Ronny Rachman Noor menjelaskan bahwa tulisan ilmiah popular yang baik tentunya harus dimulai dengan pemilihan topik yang terkait dengan perkembangan terkini dan juga sesuai dengan selera pembacanya.
    Di samping itu tulisan ilmiah popular harus ditulis dengan topik yang menyangkut kepentingan orang banyak ataupun pemecahan masalah yang sedang dihadapi oleh masyarakat. Dan juga menyangkut permasalahan yang masih menjadi tanda tanya masyarakat ataupun terkait dengan masalah yang masih menjadi kontroversi di masyarakat.

    “Jadi sebenarnya sebuah tulisan ilmiah dapat saja mengundang jumlah pembaca yang sangat banyak jika topiknya terkait dengan kebutuhan dan pemecahan masalah yang sedang dihadapi masyarakat,” ujarnya.
    Menurut Prof Ronny Rachman Noor tulisan ilmiah yang baik tentunya bermula dari pembuatan judul yang menarik pembacanya, sehingga penulisnya harus menyadari bahwa judul tulisan ilmiah populer walaupun inti isinya sama, tidak dapat dibuat seperti judul tulisan ilmiah yang dipublikasikan di jurnal ilmiah karena akan terlalu kaku dan susah dimengerti oleh pembaca.

    Di samping itu, menurutnya penulis tulisan ilmiah harus dibekali oleh pengetahuan yang terkait dengan topik yang ditulisnya dan memiliki kemampuan untuk menelusuri berbagai sumber tulisan ilmiah yang terkait dengan topik yang sedang ditulisnya.
    “Kekuatan utama sebuat tulisan ilmiah populer adalah keterbaruannya. Oleh sebab itu penulisnya harus memiliki kemampuan untuk mengumpulkan bahan-bahan tulisan ilmiah dari berbagai sumber untuk selanjutnya diramu dan diulas secara ilmiah dengan bahasa yang sederhana,” ujar Prof Ronny.

    Beberapa sumber informasi ilmiah umum yang sangat mendukung tulisan ilmiah yang terkait dengan permasalahan yang sedang dihadapi masyarakat yang menjadi menu bacaan rutin Prof Ronny setiap harinya antara lain Science Daily, Science Direct, Popular Science, ABC Sciece, BBC Science, CNN Science dan lain-lain.
    Menurut Prof Ronny Noor dari sumber umum inilah penulis dapat menelusuri lagi sumber utamanya  untuk mencari fakta ilmiah yang lebih detail lagi.

    Dengan mengumpulkan berbagai berita dan temuan ilmiah yang sedang menjadi topik pembicaraan hangat di dunia, penulis dapat mensintesanya dan meramunya serta menambahkan dengan berbagai argumentasi ilmiah yang akan menghasilkan sebuah tulisan ilmiah yang sesuai dengan selera pembacanya.

    Menurut Prof Ronny, sebuah tulisan ilmiah popular yang baik, paling tidak harus memenuhi tiga syarat. Yaitu mengulas isu dan topik terkini yang sedang hangat di masyarakat, menyajikan kumpulan fakta ilmiah yang terkait dengan berbagai permasalahan yang sedang dihadapi oleh masyarakat serta menyajikan analisa penulis dengan bahasa yang menarik dan sederhanya yang berujung pada solusi dan aplikasi yang ditawarkan oleh penulisnya.

    “Menulis tulisan ilmiah di media cetak memang seringkali menjadi pilihan penulisnya, namun keterbatasan ruang dan kepentingan media cetak dengan penulis sering kali berbeda.  Oleh sebab itu tidak jarang tulisan ilmiah yang menurut penulisnya sangat bagus sekalipun sering ditolak oleh redaktur untuk dimuat di media cetaknya dengan alasan keterbatasan ruang,” ujarnya.

    Dalam situasi seperti inilah penulis dapat memilih wahana lain seperti website, blog ataupun wahana lainnya yang tentunya dapat mengisi gap dalam menyalurkan hobi menulisnya untuk tulisan ilmiah popular yang bermutu.

    Prof Ronny menyatakan bahwa tulisan ilmiah popular yang bagus akan bersifat long lasting artinya materi kebenaran tulisan tersebut akan bertahan sangat lama dan akan menjadi acuan banyak pihak sebagai sumber kebenaran materi yang telah dibuktikan secara ilmiah melalui berbagai penelitian dan pengujian.

    “Jadi tidak heran jika saat ini tulisan ilmiah popular juga dijadikan acuan penulisan ilmiah untuk berbagai keperluan seperti publikasi di jurnal ilmiah, skripsi, tesis dan disertasi,” ujarnya (ipb.ac.id)

  • Prof Ronny Rachman Noor Berikan Pesan Agar Berhati-hati Soal Fenomena Penularan COVID-19 ke Hewan

    Prof Ronny Rachman Noor, Guru Besar IPB University, Geneticist dan Pemerhati Pendidikan dan Kebudayaan menyebutkan COVID-19 mulai menulari hewan.  Ia mengamati bahwa sampai saat ini para ilmuwan mengatakan tidak ada bukti bahwa hewan memainkan peran penting dalam menyebarkan penyakit kepada manusia. "Namun data di lapangan menunjukkan bahwa telah terjadi penularan COVID-19 pada berbagai spesies di seluruh dunia seperti anjing, kucing, kera dan cempelai (mink), " jelasnya.

    Kasus penularan COVID-19 pada kucing dan anjing telah dilaporkan di beberapa negara. Kasus pertama positif COVID-19 di dunia pada anjing dilaporkan terjadi di Hongkong, sedangkan kasus pertama kucing yang dites positif terjadi di Inggris pada bulan Juli 2020 lalu.

    Kasus pertama yang terjadi di Amerika terjadi pada seekor harimau di Kebun Binatang Bronx di New York. Belakangan dinyatakan bahwa delapan gorila di Kebun Binatang San Diego di California positif COVID-19. Diduga hewan tersebut sakit setelah terpapar oleh penjaga kebun binatang yang terinfeksi COVID-19.

    “Masalah yang lebih serius terjadi pada cempelai (mink) yang merupakan hewan semi akuatik yang dibudidayakan untuk diambil bulunya. Beberapa negara telah melaporkan infeksi pada mink dan dalam beberapa kasus sangat parah dan mengalami kematian,” ujarnya.

    Angka penularan terbesar pada mink terjadi di Denmark yang menyebabkan negara ini mengambil keputusan untuk memusnahkan jutaan hewan dan menutup industri peternakan mink ini sepenuhnya hingga tahun 2022.

    Hal yang paling mengkhawatirkan menurut Prof Ronny adalah adanya bukti  bahwa cempelai telah menularkan virus yang telah bermutasi kembali ke manusia.  Dari berbagai kasus yang telah dilaporkan penularan ini diduga terjadi dari manusia ke hewan peliharaan, namun jika di kemudian hari terjadi penularan kembali dari hewan ke manusia dengan varian virus hasil mutasi maka pandemi korona ini akan semakin sulit untuk dikendalikan.

    Penularan virus COVID-19, yang bukan tidak mungkin akan meluas ini, juga memberikan sinyal lampu merah bagi hewan-hewan langka seperti gorilla dan hewan langka lainnya, karena dapat menjadikan hewan yang sudah bertatus langka ini akan semakin langka.

    “Para ahli juga khawatir bahwa, jika virus menyebar luas di antara hewan, virus varian baru hasil mutasi dapat muncul. Secara teori, varian ini diprediksi resisten terhadap vaksin yang saat ini sedang diluncurkan di seluruh dunia,” terangnya.

    Pertanyaan terbesar yang muncul adalah apakah perlu dikembangkan vaksin khusus untuk hewan agar rantai penularan ini tidak semakin panjang dan dapat segera diputus?

    Kekhawatiran akan terjadi penularan kembali dari hewan ke manusia dengan virus yang telah mengalami mutasi memunculkan pemikiran diperlukannya vaksin COVIDd-19 khusus untuk hewan.

    Hal ini menurutnya diperlukan tidak saja untuk memutus rantai penularan antar manusia ke hewan dan antara hewan, namun juga mengantisipasi penularan balik dari hewan ke manusia. Perlu diketahui bahwa virus yang telah mengalami mutasi pada hewan jika menular kembali pada manusia diperkirakan daya tularnya akan lebih cepat dan lebih berbahaya.

    “Rusia tercatat sebagai negeri pertama di dunia yang berhasil mengembangkan dan memproduksi vaksin COVID-19 khusus untuk hewan dan telah disetujui penggunaannya bulan ini. Vaksin yang diproduksi Rusia ini dinamakan Carnivak-Cov yang dapat digunakan pada anjing, kucing, mink, rubah serta hewan lainnya,” tuturnya.

    Hasil uji klinis vaksin ini telah dilakukan pada bulan Oktober tahun lalu dan menghasilkan antibodi 100 persen pada semua hewan yang divaksin. Jenis vaksin khusus untuk hewan juga telah dikembangkan oleh perusahaan farmasi Amerika, Zoetis, sejak tahun lalu. Vaksin yang dihasilkan dinilai aman dan efektif pada kucing dan anjing. Vaksin ini juga telah diujicobakan pada gorilla.

    Hasil ujicoba pada Orangutan dan Bonobo tidak menimbulkan reaksi negatif dan akan segera diuji antibodinya. Dengan adanya penularan dan penyebaran COVID-19 pada hewan ini ke depan diperkirakan disamping pengembangan vaksin untuk manusia juga akan dikembangkan secara luas vaksin khusus untuk hewan.

    Apa yang harus kita lakukan?  “Sebagaimana yang terjadi kasus pada manusia, sambil menunggu pengembangan vaksin khusus untuk hewan, maka protokol kesehatan juga harus diterapkan jika kita berdekatan dengan hewan. Hal tersebut diperlukan untuk mengurangi penularan baik dari manusia hewan peliharaan dan hewan liar ataupun penularan sebaliknya dari hewan ke manusia,” terangnya.

    Apabila situasinya memungkinkan, anjing peliharaan dapat saja diberi kesempatan untuk keluar ke taman rumah.  “Jika kita memiliki anjing yang sudah terbiasa keluar rumah dan perlu diajak jalan-jalan di sekitar rumah, maka sebaiknya agar tidak terlalu banyak keluar rumah. Jika keluar rumag, maka waktunya disesuaikan dengan jadwal olahraga kita dengan tetap menjaga jarak dengan orang lain sesuai dengan protokol kesehatan yaitu minimal dua meter,” imbuhnya.

    Namun sebaliknya untuk kucing, sebaiknya dikurung di dalam ruangan saja. Sesekali jika memiliki kesempatan kucing dapat keluar rumah sebentar dan usahakan kucing kita tidak berinteraksi dengan kucing lainnya.

    “Di samping itu kita juga harus secara rutin membersihkan tempat makanan dan minuman setiap hari, demikian juga dengan tempat kotorannya. Saat membersihkan peralatan ini gunakan masker dan cuci tangan dengan menggunakan sabun yang mengandung disinfektan setelah selesai mencuci. Hal lain yang juga harus diperhatikan adalah jika kita sedang sakit lakukan pembatasan kontak dengan hewan peliharaan kita,” tambahnya (ipb.ac.id)

  • Prof Ronny Rachman Noor Jelaskan Uniknya Ayam Leher Gundul

    Prof Ronny Rachman Noor, pakar genetika dan pemuliaan ternak dari IPB University memberikan penjelasan tentang uniknya ayam leher gundul. Ia menyebut, keberadaan ayam leher gundul ini memang cukup jarang. Hal ini karena umumnya dipengaruhi oleh  persepsi negatif masyarakat terhadap ayam ini sehingga jumlah ayam leher gundul sangat sedikit.

    Dosen IPB University itu menerangkan, orang awam kalau melihat ayam leher gundul, langsung berpikir bahwa ayam tersebut sakit dan membuat takut.

    “Masyarakat perlu mengetahui bahwa tidak ada kaitannya sama sekali antara ayam leher gundul dan penyakit. Tidak tumbuhnya bulu di leher dan juga terkadang di bagian tubuh merupakan fenomena genetik yang terkait dengan mutasi gen,” ujar Prof Ronny.

    Prof Ronny melanjutkan, daging dan telur ayam leher gundul memiliki karakter normal seperti ayam pada umumnya. Ia juga menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu  khawatir untuk mengkonsumsinya. Bahkan, katanya, disamping memiliki ketahanan terhadap panas,  ayam gundul ini memiliki keunggulan seperti pertambahan bobot badan dan produksi telurnya lebih tinggi dibandingkan dengan ayam pada umumnya.

    Terkait dengan fenomena tidak tumbuhnya bulu di bagian leher dan di bagian tubuh lainnya, Prof Ronny Rachman Noor menjelaskan bahwa berdasarkan hasil penelitian para pakar genetik terungkap bahwa fenomena ini disebabkan oleh mutasi gen.

    "Tidak tumbuhnya bulu di leher dan di sebagian tubuh ayam ternyata disebabkan oleh mutasi gen yang dikenal sebagai naked neck mutation (Na). Mutasi gen Na ini terjadi karena adanya penyisipan basa sepanjang 180 pasang basa yang terintegrasi dengan gen yang mengkode protein yang dinamakan GDF7 (Growth Differentiation Factor 7) yang panjang  260 pasang basa,” ujarnya.

    Guru Besar IPB University itu menjelaskan, mutasi genetik inilah yang  menyebabkan produksi berlebihan molekul penghambat tumbuhnya bulu. Molekul gen tersebut dikenal dengan BMP12. Dengan demikian, memunculkan fenomena tidak tumbuhnya bulu di bagian leher dan bagian tubuh lainnya.

    Terkait asal usulnya, Prof Ronny menjelaskan bahwa keberadaan ayam leher gundul ini berdasarkan catatan tertulis yang pernah ada, mulai dikenal pada 200 BC. Berdasarkan catatan tersebut, ayam leher gundul dipelihara untuk keperluan daging dan telurnya.

    Prof Ronny melanjutkan, mutasi gen yang menghasilkan ayam leher gundul diperkirakan terjadi ratusan tahun lalu. Mutasi gen tersebut terjadi pada ayam yang dipelihara di wilayah Rumania utara. Ia juga menyebut, ayam gundul ini kemudian dikembangkan di Belanda, Inggris dan Amerika.

    “Hasil persilangan ayam-ayam leher gundul  dengan ayam asli Asia menghasilkan ayam gundul yang ada saat ini, yang pertumbuhan bobot badannya sangat cepat mencapai dua kali lipat jika dibandingkan dengan ayam lokal Asia,” ujar Prof Ronny.

    Menurut Prof Ronny, dengan tidak tumbuhnya bulu di bagian leher dan bagian tubuh lainnya, ayam ini memiliki  kemampuan yang lebih baik dalam mengeluarkan panas tubuhnya. “Pada lingkungan yang panas dan lembab, ayam leher gundul memiliki keuntungan lebih dapat bertahan terhadap fluktuasi suhu lingkungan sehingga bisanya pertumbuhan akan lebih cepat jika dibandingkan dengan ayam yang tidak memiliki kemampuan fisiologis dan genetis seperti ayam biasa,” ujarnya.

    Ia melanjutkan, ayam leher gundul ini sangat cocok untuk dipelihara dan dikembangkan  di wilayah yang suhu dan kelembabannya tinggi. Cara pemeliharaan dan pemberian pakan ayam leher gundul juga tidak ada bedanya dengan pemeliharaan ayam lokal pada umumnya.

    Biasanya, kata Prof Ronny, pembudidaya perlu menyiapkan kandang untuk tempat bersarang dan lahan agar ayam dapat berkeliaran secara alami untuk mencari pakan tambahannya.

    Menurutnya ayam leher gundul masih memiliki sifat mengeram sehingga tidak memerlukan mesin tetas.  “Mengingat kemampuan untuk bertahan di wilayah panas dan lembab, ayam gundul sangat cocok untuk dibudidayakan dan dikembangkan di Indonesia, karena disamping daya tahannya terhadap panas yang sangat baik, ayam ini tumbuh lebih cepat,” ujarnya

  • Prof Ronny Rachman Noor Ungkap Fenomena Satwa dan Tumbuhan Liar yang Kini Berada di Ambang Kepunahan

    Kelangkaan hewan dan tumbuhan secara global akibat aktivitas pertanian menurut hasil laporan terbaru The Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) sudah berada di tahap yang mengkhawatirkan. Demi memenuhi kebutuhan pangan dan kebutuhan lainnya, deforestasi semakin tidak terkendali dan terjadi penurunan kualitas lingkungan yang semakin memburuk.

    Dampak eksploitasi sumberdaya alam yang tidak berkelanjutan merupakan faktor utama yang mendorong cepatnya laju kepunahan ini. Berdasarkan laporan, disebutkan bahwa saat ini satu dari lima orang di seluruh dunia masih sangat bergantung pada sekitar 50.000 spesies hewan liar, tumbuhan dan jamur untuk makanan, obat-obatan,kosmetik, pariwisata, bahan bakar, pendapatan dan tujuan lainnya.

    Belum lagi perburuan liar akibat maraknya perdagangan satwa liar setiap tahunnya yang kini mencapai nilai US$ 23 milyar. Perubahan iklim dan peningkatan permintaan satwa dan tumbuhan liar yang semakin tinggi akan mendorong lebih banyak spesies menuju kepunahan.

    “Kita tentunya dapat membayangkan jika hewan dan tumbuhan yang dibutuhkan manusia ini sebagian besar punah, tentunya akan berdampak langsung pada kehidupan manusia karena mengancam keamanan pangan dunia,” ujar Prof Ronny Rachman Noor, Guru Besar IPB University dari Fakultas Peternakan, 11/7.

    Sayangnya dalam praktiknya, lanjutnya, pola penangkapan ikan, perburuan dan penebangan hutan ini dilakukan dengan cara tidak berkelanjutan sehingga mengancam keberadaan hewan dan tumbuhan tersebut.  Menurutnya, eksploitasi alam secara masif ini mengakibatkan sekitar 35 persen ikan liar ditangkap secara berlebihan. Hal yang sama terjadi pada spesies hewan dan pohon. Sekitar 1.300 jenis hewan dan 10 persen pohon liar kini terancam punah. Para pakar konservasi memperkirakan bahwa dalam beberapa puluh tahun mendatang, sekitar satu juta jenis tumbuhan dan hewan dapat saja punah.

    “Oleh sebab itu, upaya untuk memperlambat laju kepunahan ini harus ditekankan pada pola penangkapan ikan, perburuan hewan, dan penebangan yang berkelanjutan. Sehingga pemanfaatan sumberdaya alam ini tidak menyebabkan terganggunya keseimbangan alam,” tambahnya.  Ia menambahkan, hasil pertemuan 139 negara di Bonn, Jerman beberapa waktu yang lalu sebagai bagian dari kegiatan IPBES menyimpulkan bahwa pemanfaatan spesies liar secara berkelanjutan sangat penting bagi manusia dan alam. Perlu disusun rencana aksi agar aktivitas manusia dalam mata pencahariannya dilakukan secara lebih berkelanjutan tanpa merusak keanekaragaman hayati dan ketahanan pangan.

    “Rencana aksi ini juga menjelaskan pentingnya penegakan hukum bagi pelaku penangkapan ikan ilegal dan perdagangan satwa liar. Maka dari itu, diperlukan pula pengelolaan dan sertifikasi hutan yang lebih baik untuk menjaga kelestarian satwa liar dan flora,” jelasnya.
    Menurutnya, peran masyarakat adat selama ratusan tahun dalam menjaga dan memanfaatkan sumberdaya alam ini menjadi kunci penting dalam menekan laju kepunahan satwa dan flora. Oleh sebab itu, pemerintah perlu memberikan pengakuan atas hak-hak masyarakat adat atas penjagaan lahan dan hutan.

    “Pengendalian eksploitasi sumberdaya alam harus segera dilakukan agar mampu mengantisipasi peningkatan permintaan akan produk yang semakin meningkat, perubahan iklim yang semakin memburuk, kemajuan teknologi yang menyebabkan metode perburuan dan penangkapan ikan yang semakin canggih,” terangnya.

    Kajian global yang dilakukan oleh IPBES 2019 membuka mata masyarakat dunia akan fenomena kepunahan ini.  “Kajian lanjutan di Montreal, Kanada akhir tahun ini diharapkan juga dapat membuahkan kebijakan yang mampu mendorong pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan dalam upaya menekan laju hilangnya keanekaragaman hayati,” tandasnya

  • Prof Ronny Rachman Noor Ungkap Semakin Nyatanya Bahaya Laten Mikroplastik dan Nanoplastik Bagi Kesehatan

    Mikroplastik dan nano plastik saat ini sudah menjadi bahaya laten bagi kesehatan manusia semakin nyata. Hal tersebut diungkap Prof Ronny Rachman Noor, Guru Besar IPB University dari Fakultas Peternakan.  Ia menyampaikan hasil penelusuran jejak mikroplastik yang menunjukkan bahwa daging sapi dan daging babi yang beredar di Belanda dan Switzerland telah terkontaminasi mikroplastik. Bahkan jejak mikroplastik susu sudah ditemukan pada produk susu yang beredar di pasaran Switzerland  dan Perancis sejak tahun 2021 lalu.

    “Hasil penelitian menunjukkan, setiap tahunnya rata rata orang memakan sekitar 50.000 partikel mikroplastik dan juga dalam jumlah yang sama kita menghirupnya melalui udara yang tercemar,” kata Prof Ronny Rachman Noor.  Pakar Genetikan Ternak ini mengingatkan bahwa Indonesia perlu secara serius menangani masuknya mikroplastik dalam rantai makanan. Menurutnya, upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan cara mengawasi secara ketat penggunaan plastik dalam industri pangan, industri peralatan, industri perikanan dan industri peternakan termasuk  peternakan rakyat.

    “Jika masalah ini tidak diantisipasi, maka dalam waktu dekat mikroplastik dan nano plastik  akan menjadi masalah kesehatan yang sangat serius bagi Indonesia,” katanya.  Ia menambahkan, kita tentunya dapat membayangkan bahwa di negara penghasil daging dan susu ini sistem pengawasan dan keamanannya sangat ketat, namun kontaminasi mikroplastik tetap saja terjadi. Tentunya kita juga dapat membayangkan bahwa bahaya laten mikroplastik ini semakin nyata dan meluas di berbagai negara, utamanya di negara berkembang yang pengawasan keamanan pangannya belum seketat Belanda, Switzerland dan Perancis.

    Mikroplastik merupakan partikel plastik yang berukuran antara 0.03 sampai dengan 3 millimeter.  Saat ini mikroplastik menjadi salah satu bahan pencemar lingkungan utama yang ditemukan pada tanah, air laut, air tawar dan juga udara. Dengan ukuran yang sangat kecil, baik manusia maupun hewan secara tidak sadar mengkonsumsinya dari makanan yang tercemar mikroplastik.

    Hasil penelitian terbaru yang dilakukan di Belanda menunjukkan bahwa mikroplastik sudah ditemukan pada daging sapi dan daging babi yang jika dikonsumsi manusia akan menimbulkan masalah kesehatan yang serius.

    Para peneliti dari Vrije Universiteit Amsterdam (VUA) Belanda pada bulan Maret lalu juga telah menemukan jejak mikroplastik dalam darah manusia dan dapat menyebar ke berbagai organ. Mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh manusia berdampak pada kerusakan sel dan dapat menyebabkan timbulnya penyakit yang serius dan  menimbulkan kematian.

    Prof Ronny juga membeberkan hasil penelusuran yang dilakukan oleh para peneliti menunjukkan bahwa mikroplastik ini sudah mengkontaminasi susu yang beredar di pasaran di Perancis dan Switzerland sejak tahun 2021 lalu.

    Terkontaminasinya produk peternakan seperti susu, daging dan juga kemungkinan besar telur memang tidak mengherankan. Hal ini karena penggunaan bahan dan peralatan berbahan plastik sangat masif digunakan baik di peternakan besar maupun peternakan rakyat. Hal yang sama juga terjadi pada industri perikanan. Sumber kontaminasi mikroplastik utamanya yang berukuran sangat kecil  dapat berasal dari bahan plastik yang digunakan ini yang masuk melalui air minum dan pakan ternak.

    “Sayangnya banyak orang yang tidak sadar bahwa kontaminasi mikroplastik ini sudah masuk ke dalam rantai makanan dan akhirnya masuk ke dalam tubuh manusia,” kata Prof Ronny.  Ia menyebut, masalah kontaminasi mikroplastik dan nano plastik  yang sangat luas dan mengancam kesehatan manusia ini perlu diantisipasi dan ditangani  secara serius di Indonesia. Hal ini karena akan berdampak buruk tidak saja pada lingkungan namun juga pada kesehatan masyarakat tanpa disadari banyak orang (ipb.ac.id)

  • Prof Ronny Rachman Noor: Biodiversitas Global Menurun Drastis, Dunia Perlu Bertindak Cepat

    Laporan World Wide Fund for Nature (WWF) terbaru yang dirilis minggu lalu menyebutkan bahwa sejak tahun 1970 lalu terjadi penurunan jumlah spesies yang ada di bumi ini sebesar 69 persen.  Prof Ronny Rachman Noor, pakar Genetika Ekologi IPB University menyebutkan bahwa jika laju penurunan ini dibiarkan maka dunia akan kehilangan biodiversitas global untuk selamanya. Dan hal ini akan berdampak langsung pada kesehatan bumi yang kita huni ini.

    “Biodiversitas kawasan tropis yang merupakan sumber keanekaragaman hayati paling tinggi juga tidak luput dari fenomena ini. Yakni mengalami penurunan populasi spesies satwa liar yang sangat mengkhawatirkan,” ujar Prof Ronny.

    Menurutnya, salah satu penyebab utama penurunan biodiversitas satwa liar adalah perubahan iklim global. Sebagai contoh, anomali curah hujan tinggi, banjir, tanah longsor serta kekeringan telah melanda Indonesia dalam kurun waktu 20 tahun terakhir ini.
    Ia melanjutkan, contoh lain dampak perubahan iklim global yang menghancurkan adalah gelombang panas dan kebakaran hutan melanda kawasan Eropa akhir-akhir ini. Hal ini tercatat merupakan dampak cuaca ekstrim yang terburuk dalam 15 tahun terakhir ini.

    “Ironisnya dalam situasi kritis seperti ini penebangan hutan di hutan paru-paru dunia di Amazon Brazil dan di kawasan Asia masih terus berlangsung sampai saat ini. Bahkan mencapai rekor tertinggi selama enam tahun terakhir ini,” ujar Prof Ronny.

    Lebih lanjut Prof Ronny menjelaskan bahwa tren penurunan kualitas lingkungan menurut laporan WWF semakin meluas. Populasi satwa liar seperti mamalia, burung, amfibi, reptil, dan ikan semuanya menyusut secara drastis dengan laju penurunan mencapai 69 persen.

    “Dunia tidak dapat menganggap sepele kejadian penurunan populasi satwa liar ini karena berdampak langsung bagi kehidupan delapan milyar penduduk bumi. Karena sebagian besar kehidupan kita tergantung pada satwa liar ini. Sendi-sendi kehidupan penduduk bumi seperti stabilitas sosial, kesejahteraan dan kesehatan penduduk bumi akan terdampak langsung perubahan iklim global ini,” ujar Prof Ronny.

    Menurutnya WWF memprediksi bahwa penurunan keanekaragaman satwa liar ini akan berdampak langsung pada penurunan aset alam yang akan merugikan dunia. Setidaknya sebesar US $406 miliar per tahun, bahkan tren kerugian ini diperkirakan akan semakin meningkat pada tahun 2050 mendatang. Sehingga jika tidak dilakukan langkah yang drastis kerugian ini akan mencapai US $9 triliun.
    Laporan terbaru WWF ini menurut Prof Ronny sangat mengejutkan dunia karena laju penurunan keanekaragaman satwa liar ini mencapai tingkat yang belum pernah terbayang sebelumnya. Tingkat persentasenya sudah mencapai titik kritis.

    Prof Ronny menyebut laporan ini juga menunjukkan bahwa dunia selama ini abai melakukan upaya untuk menurunkan laju kemusnahan satwa liar ini.

    “Sebanyak 120 pimpinan dunia pada pertemuan COP 26 PBB di Glasgow tahun lalu memang telah menunjukkan komitmennya dalam mengurangi pemanasan global. Mereka sepakat untuk mengambil langkah demi mengurangi laju perubahan iklim global, namun di lapangan perusakan  lingkungan masih terus berlangsung,” ujar Prof Ronny.
     
    Ia menjelaskan, jika upaya dunia gagal dalam membatasi pemanasan global yaitu 1.5  derajat celcius, maka menurut WWF kawasan Amazon dan Afrika akan kehilangan 50 persen dan 75 persen keanekaragaman satwa liarnya.

    Menurut Prof Ronny upaya untuk mengurangi laju penurunan keanekaragaman hayati dunia ini tidak mudah karena menyangkut biaya yang besar. “Negara miskin dan negeri berkembang tidak akan berperan besar dalam mengurangi laju penurunan keanekaragaman satwa liar ini jika tidak dibantu negara maju dari segi finansial,” imbuhnya.

    Sudah menjadi rahasia umum, katanya, jika kebiasaan konsumsi negara-negara kaya selama ratusan tahun terakhir ini memiliki andil yang sangat besar dalam hilangnya sumberdaya alam dunia di berbagai belahan dunia.  “Oleh sebab itu tentunya negara maju memiliki kewajiban moral untuk membantu negara miskin dan negara berkembang melestarikan keanakeragaman hayati ini,” tutur Prof Ronny.

    Menurut Prof Ronny, dalam mengatasi krisis alam yang sangat luas ini, tentunya tidak ada pilihan lain selain menerapkan konsep ekonomi hijau. Sebuah konsep yang berkelanjutan dalam memanfaatkan dan mengelola sumberdaya alam dan jasa alam seperti udara dan air bersih yang akan memberikan insentif bagi negara-negara berkembang yang telah berupaya untuk menjaga alamnya untuk kepentingan dunia.

    “Teknologi dan ilmu pengetahuan yang ada saat ini telah terbukti dapat menyelamatkan spesies hewan dan tumbuhan yang hampir punah asalkan disertai dengan upaya keras dan niat serta tekad dunia yang kuat,” ujar Prof Ronny

  • Prof Ronny Rachman Noor: Misteri Kerbau Belang Toraja Berhasil Diungkap

    Konservasi ternak lokal sangat erat hubungannya dengan budaya setempat yang sudah mengakar selama ratusan bahkan ribuan tahun lamanya. Prof Ronny Rachman Noor, Guru Besar Pemuliaan dan Genetika, Fakultas Peternakan IPB University mencontohkan keberadaan kerbau belang di Tana Toraja sangat penting bagi masyarakat setempat. Ini karena terkait dengan budaya dan kepercayaan setempat yang diwariskan secara turun menurun.

    Menurut Prof Ronny, terkonsentrasinya populasi kerbau belang di Tana Toraja dalam jumlah yang cukup banyak memang sangat unik dan tidak ditemui di belahan dunia manapun. “Bagi masyarakat Toraja, kerbau tidak saja melambangkan kesejahteraan pemiliknya namun juga merupakan bagian penting dalam upacara Rambu Solo. Ritual acara pemakaman yang telah  mengakar di budaya masyarakat Toraja,” ujarnya.

    Dalam ritual ini, lanjutnya, kerbau dipercaya merupakan kekuatan dan wahana arwah untuk mencapai nirwana. Semakin banyak kerbau yang dikorbankan dalam ritual pemakaman ini maka dipercaya akan semakin baik kehidupan mendiang di alam baka.  “Oleh sebab itu harga seekor kerbau belang berkisar antara ratusan juta sampai 1 miliar rupiah dan sangat tergantung pada pola warna kerbau belang ini,” ujarnya.

    Menurut Prof Ronny, kerbau belang yang ada di Tana Toraja memiliki pola warna yang berbeda-beda dan masing-masing memiliki nama sendiri. Salah satu pola warna yang paling penting dan berharga adalah yang dinamakan Tedong Bonga Saleko.  “Kerbau belang yang masuk kategori Tedong Bonga Saleko memiliki warna dasar hitam dengan corak warna putih dengan ciri khas pola tertentu. Jarangnya kemunculan kerbau belang dengan pola warna ini membuat harga seekor Tedong Bonga Saleko dapat mencapai 1 milyar rupiah,” ujarnya.

    Menurutnya, misteri munculnya pola warna yang sangat khas pada kerbau belang ini memang sudah lama menarik perhatian ilmuwan untuk menguak rahasia ini. Namun salah satu faktor yang membuat penelitian ini tidak dapat dilakukan dengan secara mendalam adalah karena pemilik kerbau belang ini umumnya tidak memperbolehkan kerbaunya menjadi objek penelitian.  “Bagi pemiliknya, kerbau belang ini memang diperlakukan dengan sangat istimewa dan tidak boleh sembarang orang menyentuh kerbaunya,” ujar Prof Ronny.

    Dalam rangka melestarikan keberadaan sumberdaya genetik ternak lokal yang sangat unik ini tim peneliti gabungan dari Fakultas Peternakan dan Fakultas Kedokteran Hewan IPB University, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Swedish Agriculture University (Swedia) dan Uppsala University (Swedia) telah melakukan upaya untuk menguak rahasia di balik uniknya pola warna kerbau belang ini.
    Menurut Prof Ronny, penelitian ini dinilai sangat strategis dan penting, mengingat di lapangan keberadaan kerbau belang ini terancam punah karena tingkat mortalitas embrio dan anak yang tinggi, tingkat kesuburannya juga rendah dan belum diketahuinya mekanisme penyebab munculnya pola belang dan pola pewarisannya.

    “Setelah melakukan kesepakatan dengan tetua dan masyarakat adat, tim peneliti ini diijinkan untuk mengambil sperma kerbau belang yang telah dikorbankan dalam upacara dan diambil dari saluran epididymis. Walaupun kerbau sudah mati, sperma masih dapat hidup dan bertahan di saluran epididymis selama beberapa saat,” ujar Prof Ronny.

    Peluang inilah yang dimanfaatkan oleh peneliti untuk mengambil materi genetiknya untuk selanjutnya dianalisa runutan basa gennya untuk mengetahui basis genetik apa sebenarnya yang menyebabkan kerbau ini memiliki pola warna yang sangat khas.  Dalam penjelasannya Prof Ronny mengatakan, “Sperma ini selanjutnya dibekukan dengan menggunakan nitrogen cair sebelum dianalisa lebih lanjut. Disamping itu, karena jumlah sperma kerbau belang ini relatif sedikit maka tim peneliti juga mengembangkan dan menggunakan teknik Intra Cytoplasmic Sperm Injection. Sehingga jumlah sperma yang sangat sedikit ini dapat digunakan dengan baik untuk melakukan inseminasi buatan,” ujarnya.

    Menurutnya, dengan menggunakan teknologi ini hanya diperlukan satu sperma yang viable untuk membuahi sel telur sehingga dapat menghasilkan embrio. Selanjutnya dengan menggunakan teknik embrio transfer, embrio ini ditanamkan pada dinding uterus kerbau betina lain.  

    Prof Ronny menjelaskan bahwa penggunaan teknik ini memungkinkan kerbau belang dapat diperbanyak populasi dan juga dijaga kelestariannya.  Disamping itu, embrio kerbau belang beku ini dapat disimpan dalam waktu cukup lama sebelum digunakan untuk embrio transfer.

    “Selanjutnya kami melakukan analisis DNA untuk mengetahui mekanisme genetik pemunculan pola belang ini. Analisis DNA yang dilakukan difokuskan pada  gen microphthalmia-associated transcription factor (MITF) yang secara umum mengatur kemunculan warna totol totol (spotted) pada kerbau rawa Asia (Bubalus bubalis carabanensis),” ujar Prof Ronny.

    Dalam mendeteksi terjadinya mutasi di gen ini, imbuhnya, semua ekson MITF serta daerah intron serta pengapitnya diteliti dengan seksama. Disamping itu, dianalisa juga MITF cDNA mewakili jaringan kulit dan iris kerbau belang, kerbau biasa (normal) dan kerbau albino dirunut DNA-nya untuk mendeteksi mutasi dan membandingkannya.

    Menurut Prof Ronny, hasil penelurusan DNA kerbau belang ini menunjukkan bahwa kemunculan pola belang ini disebabkan karena adanya mutasi DNA di gen MITF.  “Ada dua mutasi independen yang dinamakan loss-of-function mutations yang terjadi yaitu premature stop codon (c.328C>T, p.Arg110*) dan donor splice-site mutation (c.840+2T>A, p.Glu281_Leu282Ins8). Kedua mutasi DNA inilah yang menyebabkan kerbau Toraja memiliki pola warna belang,” ujar Prof Ronny.

    Keberhasilan tim peneliti mengidentifikasi dan menguak rahasia di balik munculnya pola belang pada kerbau Toraja ini tentunya sangat penting dalam upaya melestarikan keberadaan kerbau belang yang dianggap sakral dan sudah mengakar pada budaya masyarakat setempat.  “Ke depan, embrio kerbau belang yang memiliki mutasi sangat spesifik ini dapat dikembangkan untuk memperbanyak populasi kerbau belang jika pada suatu saat nanti kerbau belang Toraja statusnya langka dan hampir punah,” ujar Prof Ronny.

    Menurut Prof Ronny, dengan diketahuinya penyebab dan mekanisme kemunculan warna belang pada kerbau Toraja ini maka keberadaan kerbau belang yang merupakan salah satu plasma nutfah khas Indonesia ini dapat dilestarikan dengan menggunakan pendekatan budaya dan teknologi modern

  • Prof Ronny Rahman Noor: Jenis Kelamin Makhluk Hidup Ditentukan Banyak Faktor

    Prof Ronny Rahman Noor, Guru Besar Fakultas Peternakan IPB Universuty memberikan penjelasan tentang penentuan jenis kelamin pada makhluk hidup. Ia menerangkan bahwa ada banyak faktor yang menentukan jenis kelamin makhluk hidup. Ia juga mengklaim bahwa teori Aristoteles tidak sepenuhnya salah. 

    "Pengaruh suhu yang dijelaskan oleh Aristoteles dalam penentuan jenis kelamin memang tidak sepenuhnya salah. Hal ini karena, setelah ilmu pengetahuan tentang kromosom dan penentuan jenis kelamin berkembang, ternyata memang ada jenis mahluk hidup seperi reptil yang jenis kelamin anaknya ditentukan oleh suhu sarangnya," ungkap pakar genetika IPB University ini.

    Lebih lanjut ia menjelaskan, penentuan jenis kelamin pada berbagai makhluk hidup memang bermacam macam. Namun, salah satu yang paling umum adalah keberadaan dan peran kromosom sex. 

    “Pada umumnya setiap makhluk hidup, baik baik jantan maupun betina memiliki jumlah kromosom yang sama. Perbedaan kromosom yang dimiliki oleh individu jantan dan betina ada pada sepasang krosomom sex saja,” tambahnya.

    Ia mencontohkan, jumlah kromosom pada manusia baik laki-laki maupun perempuan sebanyak 46 krosomon yang saling berpasangan. Dengan demikian, terdapat 23 pasang kromosom setiap individu. Kejelasan tentang peran kromosom sex sebagai penentu jenis kelamin dan mekanismenya mulai terungkap di era tahun 1900-an. 

    "Penentuan jenis kelamin pada berbagai makhluk hidup memang bermacam macam, namun salah satu yang paling umum adalah keberadaan dan peran kromosom sex. Pada umumnya setiap makluk hidup baik yang berjenis kelamin jantan atau betina memiliki jumlah kromosom yang sama. Perbedaan kromosom yang dimiliki oleh individu jantan dan betina ada pada sepasang krosomom sex saja," jelasnya (ipb.ac.id)

  • Prof Ronny Rahman Noor: Teknologi Pengenalan Suara Berbasis AI Penentu Keberhasilan Budidaya Ayam Masa Depan

    Di era tahun 1990-an, studi tentang pengenalan jenis suara ayam sudah secara intensif dilakukan. Hal ini diungkapkan oleh Prof Ronny Rahman Noor, Ahli Genetika Ternak IPB University. Dalam tulisannya yang diterima Humas IPB University, 30/6, Prof Ronny menerangkan peran Artificial Intelligent (AI) atau kecerdasan buatan dalam mendorong produktivitas ternak dengan optimal. 
     
    "Saya masih ingat ketika mengunjungi salah satu lembaga penelitian di Jerman pada era 1990-an. Ada kelompok peneliti yang memfokuskan topik penelitiannya untuk menganalisa suara ayam. Tujuannya untuk mengidentifikasi jenis suara ayam yang dapat menggambarkan apakah ayam tersebut sedang dalam keadaan senang, gelisah atau dalam keadaan stress," ujarnya.
     
    Walaupun di era tersebut perkembangan teknologi masih terbatas, tambahnya, namun peneliti sudah berhasil membedakan perbedaan jenis suara ayam yang ditempatkan pada kondisi yang berbeda.  "Dalam pemeliharaan ayam yang dilakukan secara intensif, manajemen pemeliharaan ayam memegang peran dalam menentukan keberhasilan produksinya. Artinya jika manajemen pemeliharaan baik, maka dapat diharapkan produktivitas ayamnya juga tinggi," ungkap Prof Ronny. 
     
    Menurutnya, salah satu jenis suara ayam yang berhasil diidentifikasi adalah suara jenis panggilan darurat (distress call) yang dapat dijadikan indikator bahwa ayam tersebut sedang stres.  Prof Ronny menjelaskan, "Jika nantinya hasil analisa suara ini menunjukkan adanya suara jenis panggilan darurat yang frekuensi di luar batas normal, maka akan menjadi tanda bagi peternak bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam kandang dan harus segera diperbaiki agar produktivitas ayam yang dipeliharanya tidak terganggu". 
     
    Namun begitu, Prof Ronny menegaskan bahwa keberadaan teknologi pengenalan suara berbasis kecerdasan buatan ini memang tidak dimaksudkan mengganti tugas manusia sepenuhnya dalam budidaya ayam modern.  "Peran manusia dalam melakukan inspeksi harian dalam budidaya ayam masih sangat vital. Paling tidak keberadaan teknologi pengenalan suara ini dapat membantu meringankan tugas peternak dan meningkatkan penghasilannya," tutupnya (ipb.ac.id)

  • Prof Sumiati: Telur Itik Fungsional Tingkatkan Imun Tubuh

    Pada kondisi pandemi Covid-19saat ini, imun tubuh harus kuat. Salah satu solusi dan yang paling utama adalah mengkonsumsi makanan yang dapat mendukung atau meningkatkan  imunitas tubuh. Telur itik fungsional merupakan salah satu pangan yang sangat baik dikonsumsi untuk meningkatkan imunitas tubuh.  

    "Telur itik fungsional adalah telur yang telah didesain melalui rekayasa nutrien pakan untuk menghasilkan telur dengan kandungan nutrien/zat nutrisi tertentu lebih tinggi atau lebih rendah dari telur asalnya.  Hal ini bertujuan untuk mendukung kebutuhan konsumen akan zat gizi yang diperlukan untuk hidup sehat, yang dimulai dari imun yang kuat," kata Prof Dr Sumiati dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Rabu (6/5).

    Prof Sumiati adalah dosen Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP) yang juga Dekan Fakultas Peternakan IPB Universitysebagai peneliti itik fungsional.  Ia menyebutkan, telur itik ini tinggi antioksidan, tinggi vitamin A, tinggi asam lemak omega 3 dan rendah kolesterol. “Selain itu, yang paling utama adalah telur itik ini mengandung protein dan asam asam amino esensial berkualitas tinggi,” ujarnya.  

    Kandungan nutrien telur itik fungsionaladalah 12,81 persen protein,  13,77 persen lemak, 5,10 persen omega 3 dari total asam lemak, 10,18 persen omega 6 dari total asam lemak, rasio omega 3 : omega 6 adalah 1:3. Kandungan vitamin A sebesar 1675 IU per 100 gram telur, mengandung 7,63 miligram kolesterol per gram kuning telur (lebih rendah dari telur itik pada umumnya). “Di samping itu, telur itik ini juga mengandung banyak vitamin dan mineral yang sangat diperlukan tubuh,” tuturnya.

    Kenapa telur itik fungsional dapat meningkatkan imun tubuh? Menurut Prof Sumiati,  protein dan asam amino sangat diperlukan untuk pertumbuhan jaringan dan memperbaiki sel-sel yang rusak dalam tubuh, pengaturan imun tubuh, bahan pembuat enzim, bahan pembuat hormon. Berbagai jenis protein dalam telur berfungsi sebagai antimikroba, anti bakteri pathogen dalam saluran pencernaan, sehingga memperkuat imunitas tubuh. Ada beberapa jenis protein yang dikandung telur (lysozyme, cystatin, ovomucin, ovotransferrin), selain berfungsi sebagai anti bakteri, juga sebagai anti virus.  

    "Kedua, manfaat asam lemak omega 3 di antaranya adalah untuk meringankan gejala depresi, mencegah kerusakan otak seperti demensia pada lansia, untuk perkembangan otak pada anak-anak, meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL) untuk mencegah plak pada pembuluh darah," ujarnya.

    Prof Sumiati menambahkan bahwa kandungan vitamin A yang tinggi dalam telur itik fungsional sangat diperlukan untuk menjaga fungsi penglihatan, memperkuat sistem imun, menjaga kesehatan tulang. “Dan masih banyak lagi manfaat zat nutrisi yang ada dalam telur itik untuk meningkatkan imunitas tubuh,” tuturnya. (republika.co.id)

  • Prof Sumiati: Telur Itik Fungsional Tingkatkan Imun Tubuh Di Kala Pandemi COVID-19

    Pada kondisi pandemi COVID-19 saat ini, imun tubuh harus kuat. Salah satu solusi dan yang paling utama adalah mengkonsumsi makanan yang dapat mendukung atau meningkatkan  imunitas tubuh. Telur itik fungsional merupakan salah satu pangan yang sangat baik dikonsumsi untuk meningkatkan imunitas tubuh.  

    "Telur itik fungsional adalah telur yang telah didesain melalui rekayasa nutrien pakan untuk menghasilkan telur dengan kandungan nutrien/zat nutrisi tertentu lebih tinggi atau lebih rendah dari telur asalnya.  Hal ini bertujuan untuk mendukung kebutuhan konsumen akan zat gizi yang diperlukan untuk hidup sehat, yang dimulai dari imun yang kuat," kata Prof Dr Sumiati, dosen Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP) yang juga Dekan Fakultas Peternakan IPB University sebagai peneliti itik fungsional.  

    Telur itik ini tinggi antioksidan, tinggi vitamin A, tinggi asam lemak omega 3 dan rendah kolesterol. Selain itu, yang paling utama adalah telur itik ini mengandung protein dan asam asam amino esensial berkualitas tinggi.  

    Kandungan nutrien telur itik fungsional adalah 12,81 persen protein,  13,77 persen lemak, 5,10 persen omega 3 dari total asam lemak, 10,18 persen omega 6 dari total asam lemak, rasio omega 3 : omega 6 adalah 1:3. Kandungan vitamin A sebesar 1675 IU per 100 gram telur, mengandung 7,63 miligram kolesterol per gram kuning telur (lebih rendah dari telur itik pada umumnya). Di samping itu, telur itik ini juga mengandung banyak vitamin dan mineral yang sangat diperlukan tubuh.

    Kenapa telur itik fungsional dapat meningkatkan imun tubuh? Menurutnya protein dan asam amino sangat diperlukan untuk pertumbuhan jaringan dan memperbaiki sel-sel yang rusak dalam tubuh, pengaturan imun tubuh, bahan pembuat enzim, bahan pembuat hormon. Berbagai jenis protein dalam telur berfungsi sebagai antimikroba, anti bakteri pathogen dalam saluran pencernaan, sehingga memperkuat imunitas tubuh. Ada beberapa jenis protein yang dikandung telur (lysozyme, cystatin, ovomucin, ovotransferrin), selain berfungsi sebagai anti bakteri, juga sebagai anti virus.  

    "Kedua, manfaat asam lemak omega 3 diantaranya adalah untuk meringankan gejala depresi, mencegah kerusakan otak seperti demensia pada lansia, untuk perkembangan otak pada anak-anak, meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL) untuk mencegah plak pada pembuluh darah," ujarnya.

    Prof Sumiati menambahkan bahwa kandungan vitamin A yang tinggi dalam telur itik fungsional sangat diperlukan untuk menjaga fungsi penglihatan, memperkuat sistem imun, menjaga kesehatan tulang. Dan masih banyak lagi manfaat zat nutrisi yang ada dalam telur itik untuk meningkatkan imunitas tubuh (ipb.ac.id)

  • Prof Yuli Retnani: Pemanfaatan Pengolahan Pakan Jadi Tumpuan Konsumsi Masa Depan

    Guru Besar IPB University di bidang Ilmu Pakan, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan, Prof Dr Yuli Retnani mengatakan bahwa produk utama pertanian (main product) biasanya dikonsumsi oleh manusia. Adapun produk sampingan (by product) dan  limbah (waste product) biasanya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Namun, dengan berkembangnya berbagai teknik pengolahan dan adanya tuntutan untuk memenuhi kebutuhan manusia, banyak sumber bahan baku pakan yang berasal dari pertanian, yang merupakan by product, dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Hal ini menyebabkan sumber bahan baku pakan ternak sulit didapatkan. 

    Selain persaingan dengan kebutuhan untuk konsumsi manusia, menurutnya kebutuhan lahan untuk kegiatan non pertanian cenderung mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan karena terjadinya peningkatan jumlah penduduk dan berkembangnya struktur perekonomian. Keadaan tersebut berdampak pula dengan semakin sempitnya lahan hijauan untuk peternakan. Pada saat ini hampir 70 persen peternak tidak memiliki lahan hijauan yang cukup. Padahal pakan yang berkualitas sangat menunjang terhadap produk peternakan yang dihasilkan. Di samping itu produk peternakan sangat dibutuhkan sebagai penyokong kebutuhan protein hewani.

    "Salah satu cara untuk meningkatkan imunitas adalah dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi seimbang dengan asupan pangan asal hewan yang aman, sehat dan halal. Pemenuhan kebutuhan hewani tersebut dapat berupa daging, susu dan telur. Saat ini, produk peternakan yang dihasilkan belum memenuhi standar, baik dari segi kuantitas dan kualitas. Salah satu penyebabnya adalah ketersediaan pakan untuk ternak belum mencukupi dalam berbagai aspek. Sehingga harus dipikirkan bagaimana cara pemenuhan pakan tersebut, disamping dengan kondisi lahan hijauan yang semakin lama akan semakin tergerus dengan lahan industrialisasi,” ujarnya. 

    Salah satu cara untuk mengatasi kondisi ini adalah dengan pengolahan pakan yang efektif dan efisien. Karena pada masa yang akan datang pakan akan menjadi tumpuan untuk menghasilkan produk ternak yang berkualitas. Mengapa pengolahan pakan sangat penting? 

    Prof Yuli mengurai, hasil pertanian sangat melimpah di saat musim panen, tetapi hasil pertanian tersebut mempunyai karakteristik mudah busuk, voluminous, dan musiman, sehingga diperlukan proses pengolahan. Pengolahan pakan dilakukan untuk memanfaatkan sumber daya bahan baku yang melimpah, tidak berdayaguna, terbuang, menjadi pakan yang dapat dimanfaatkan oleh ternak.  

    "Daging, susu dan telor sebagai sumber pangan utama harus tersedia sepanjang tahun dengan kualitas yang baik agar ketahanan pangan hewani terjaga, sehingga pakan harus tersedia sepanjang musim dan berkualitas. Pandemi COVID-19 ini mempunyai dampak pada berbagai sektor ekonomi, juga adanya peningkatan jumlah tenaga kerja yang di PHK, tetapi kebutuhan ekonomi keluarga harus tetap terpenuhi. Ketahanan pangan suatu keluarga yang terdampak pandemi COVID-19 ataupun resesi ekonomi tidak boleh dibiarkan terganggu. Sehingga kegiatan kreatif untuk mempertahankan ketahanan pangan keluarga harus ditingkatkan, salah satunya adalah kemampuan menyediakan protein hewani untuk kebutuhan keluarga dengan cara kreatif, bahkan apabila memungkinkan menjadi sumber income baru bagi sebuah keluarga," tuturnya.

    Prof Yuli menjelaskan, penyediaan protein hewani yang kreatif, dapat dilakukan oleh keluarga dengan memelihara ternak atau ikan yang dapat cepat menghasilkan produk, membutuhkan lahan yang kecil, berbiaya murah, dan mampu memenuhi kebutuhan konsumsi makan sehari-hari. Kegiatan kreatif tersebut bisa didapatkan dengan membuat ketahanan pangan keluarga yang berasal dari pemeliharaan ayam dan ikan lele. Ternak atau ikan yang dipelihara sendiri dengan pemberian pakan yang berasal dari pengolahan pakan sederhana dan bahan baku yang baik akan menghasilkan protein hewani lebih berkualitas.

    "Pengolahan pakan  dapat dilakukan dengan berbagai cara, dimulai dari pengolahan fisik, kimia dan biologi. Pengolahan pakan dapat ditujukan untuk menjaga ketahanan pangan di sepanjang musim ataupun pada saat bencana dengan cara mengolah bahan baku melimpah saat panen, mengolahnya, dan menyimpan sebagai stock cadangan di musim kemarau, bencana maupun musim paceklik. Pengolahan pakan juga dapat dilakukan sesuai tujuan tertentu, misalnya untuk menghasilkan daging berkualitas, telor omega, susu berkalsium tinggi, ayam organik, dan daging rendah kolesterol dan produk berkualitas lainnya," ujarnya.

    Pengolahan pakan di masa depan akan menjadi tumpuan harapan bahwa ketersediaan stok pakan akan terjamin, sehingga produk ternak yang dikonsumsi manusia pun menjadi tersedia dan tercapai ketahanan pangan yang berkelanjutan (ipb.ac.id)

  • Prof. Dr. Asep Sudarman: Pemberian Gaplek dan Daun Singkong Fermentasi Mampu Tingkatkan Bobot Badan Ternak

    Strategi pengembangan peternakan di Indonesia sebaiknya diarahkan ke perbanyakan populasi ternak karena peningkatan produktivitas per individu ternak akan sulit untuk dicapai. Hal ini disampaikan Prof Dr Asep Sudarman, Guru Besar IPB University bidang Ilmu Nutrisi Ternak, Fakultas Peternakan dalam Konferensi Pers Pra Orasi Ilmiah Guru Besar, (5/11).

    Dalam paparannya yang berjudul Pengembangan Industri Peternakan Nasional melalui Strategi Nutrisi yang Tepat dengan Menciptakan Ketahanan Pakan Berkualitas, Prof Asep mengungkapkan bahwa pemberian pakan kepada ternak ruminansia secara tradisional yaitu hanya diberi jerami padi dan rumput sepuasnya, ternyata tidak menunjukkan adanya pertambahan bobot badan pada ternak tersebut.

    “Berdasarkan riset kami, kerbau yang dipelihara secara tradisional, diberi jerami padi dan rumput sepuasnya, setelah dua minggu pemeliharaan menunjukkan bahwa bobot badannya tidak mengalami kenaikan. Sebaliknya, kerbau yang diberi tambahan konsentrat berupa 50 persen gaplek dan 50 persen daun indigofera sebanyak satu kilogram per ekor per hari, menghasilkan kenaikan bobot badan sebesar 732 gram per ekor per hari yang juga ditandai dengan terkoreksinya status nutrisi kerbau. Pemberian daun singkong hasil fermentasi kepada domba sebanyak 20 persen juga menghasilkan produksi yang setara dengan domba yang diberi 20 persen konsentrat, " jelas dosen IPB University yang akan melakukan Orasi Ilmiah Guru Besar pada Sabtu (7/11) ini.

    Ketidakcukupan nutrisi pada ternak karena terbatasnya ketersediaan dan pemberian pakan berkualitas tinggi, menurutnya dapat menghambat program pengembangan peternakan nasional. Ini yang menyebabkan beberapa program pengembangan peternakan yang kurang berhasil.  

    Menurutnya, Amerika dan Brazil berhasil mengembangkan industri peternakannya karena mereka memiliki sediaan pakan yang melimpah. Amerika dengan Corn Belt-nya memiliki kawasan luas penghasil jagung dan kedelai dengan luas tanam masing-masing 36,1 juta hektar. Sedangkan keberhasilan Brazil adalah dengan mengonversi hutan Amazon menjadi lahan jagung, kedelai dan peternakan. Brazil memiliki luas panen jagung 19,5 juta hektar dan kedelai mencapai 38,6 juta hektar.

    “Pola pikir lama yang menyatakan ada persaingan antara kebutuhan pangan untuk manusia dan kebutuhan pakan untuk ternak, harus segera ditinggalkan. Perlu diciptakan pola pikir baru bahwa penyediaan pakan ternak berkualitas baik dan kebutuhan manusia bukanlah suatu persaingan. Keduanya harus diproduksi secara simultan dengan jumlah berlimpah melalui perluasan area tanam secara signifikan, khususnya di daerah-daerah dengan kepadatan penduduk yang rendah,” ujarnya.

    Membangun ketahanan pakan berkualitas tinggi adalah keharusan guna mewujudkan pengembangan industri peternakan yang berkelanjutan dan tangguh secara nasional maupun global. Keberhasilan Amerika Serikat dan Brazil dalam mengembangkan industri peternakannya perlu menjadi bahan pembelajaran untuk ditiru oleh kita.

    Selain itu, produk ternak merupakan sumber protein berkualitas tinggi yang berguna untuk mendukung terciptanya sumberdaya manusia nasional berkualitas, guna menghadapi era persaingan global.  

    “Produk ternak juga bernilai ekonomis tinggi. Di Jepang misalnya, harga satu porsi steak Wagyu bisa mencapai lebih dari dua juta rupiah. Oleh karena itu, peternakan adalah sektor yang dapat diandalkan untuk menjadi penggerak roda pembangunan ekonomi nasional,” imbuhnya (ipb.ac.id)

  • Prof. Dr. Dewi Apri Astuti Bagikan Strategi Menjaga Kestabilan Harga Daging di Indonesia

    Akhir pekan ketiga di bulan Januari 2021, para pedagang daging sapi di pasar Jabodetabek memutuskan untuk mogok berjualan. Aksi tersebut tentu akan berdampak pada langkanya ketersediaan daging sapi baik untuk konsumsi rumah tangga maupun rumah makan serta menurunnya penjualan komoditas lain karena sepinya pengunjung pasar.

    Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof Dr Dewi Apri Astuti menguraikan beberapa penyebab yang menjadi dasar terjadinya kenaikan harga daging sapi yang membuat para pedagang daging sapi mogok berjualan.
    “Sebetulnya masalah harga daging yang melonjak sampai pedagang di Jabodetabek mogok merupakan rangkaian panjang yang berkaitan dengan supply dan demand daging sapi hingga model peternakan Indonesia,” ujarnya.

    Ketua Divisi Nutrisi Ternak Daging dan Kerja, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, IPB University tersebut menyampaikan bahwa sentra produksi daging sapi lokasinya sedikit berjauhan dengan konsumen yang tinggi di sekitar Jabodetabek. Daging sapi diproduksi dalam jumlah yang tinggi di wilayah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Sumatera Utara, Lampung, Sulawesi Selatan dan Bali.

    Sedangkan mayoritas konsumen daging sapi berada di wilayah Jabodetabek sehingga membutuhkan biaya yang cukup tinggi untuk mendatangkan daging sapi dan bakalan dari daerah-daerah tersebut ke wilayah Jabodetabek. Kondisi tersebut mengakibatkan wilayah Jabodetabek sangat bergantung pada impor dari Australia, baik daging beku maupun bakalan yang telah dilakukan penggemukan di wilayah sekitar Jawa Barat, atau mendatangkan dari provinsi lain yang tentunya membutuhkan biaya yang tidak murah.

    “Kendala kedua adalah produksi daging sapi di Indonesia tidak mampu menutupi kebutuhan konsumsi. Di tahun 2020, Indonesia sudah memproduksi 422 ribu ton. Namun kita masih harus melakukan impor sebanyak 290 ribu ton ditambah dengan 123 ribu ekor bakalan yang setara 413 ribu ton daging,” tambahnya.

    Untuk memenuhi kebutuhan daging sapi yang jauh di atas kemampuan produksi, Indonesia mengandalkan impor dari negara tetangga seperti Australia. Ketergantungan pada negara tersebutlah yang menjadi faktor eksternal melambungnya harga sapi di pasaran.

    “Seperti yang kita tahu, Australia beberapa tahun terakhir mengalami kekeringan yang menyebabkan kebakaran hutan yang cukup parah. Sehingga banyak padang gembala sapi yang rusak dan menyebabkan populasi sapi menurun,” imbuhnya.

    Faktor eksternal kedua adalah adanya pesaing lain yang menjadi konsumen Australia yakni negara China dan Vietnam, yang mana keduanya menawarkan harga beli yang lebih tinggi. Kedua negara tersebut mengimpor sapi untuk dilakukan penggemukan dalam negeri sebagai upaya swasembada daging sapi di negara masing-masing.

    “Dengan stok produk yang menurun akibat bencana dan demand yang meningkat karena adanya tambahan pesaing maka otomatis harga melambung,” jelasnya.

    Untuk itu, setidaknya ada empat strategi yang dapat diusahakan untuk mencegah terjadinya kenaikan daging sapi yang tidak terkendali di masa depan. Pertama dengan mendorong serta mendukung para peternak untuk memproduksi daging sapi dan bakalan dengan kualitas yang baik melalui pelatihan dan pendampingan dari mulai pembibitan, reproduksi, hingga pemeliharaan kesehatan.

    “Saya pernah ke padang gembala di Darwin, Australia. Ternyata kondisinya sama dengan yang kita miliki di NTT, NTB, dan Sulawesi Selatan. Entah itu sapi lokal atau persilangan, kita punya potensi yang besar untuk memperbanyak produksi daging sapi,” tandasnya.

    Kedua, Indonesia tidak boleh lagi bergantung hanya pada satu negara. Ketergantungan pada satu negara membuat bargaining position kita menjadi lebih rendah. Negara yang mungkin bisa dicoba untuk memasok sapi adalah Meksiko dan Brazil.

    “Ketiga, kita harus memainkan regulasi secara tegas. Terkait pemotongan sapi betina produktif misalnya. Datanya tidak bisa kita temukan, namun di lapangan banyak terjadi dalam jumlah yang besar. Padahal sapi betina produktif ini adalah bibit yang dapat kita andalkan dalam upaya swasembada daging sapi,” ujarnya.

    Terakhir, adalah melakukan diversifikasi daging. Di Indonesia, daging lain yang biasa dimakan selain daging sapi adalah daging domba, kambing, ayam, serta kelinci. Untuk masyarakat yang boleh mengonsumsi daging babi pun bisa mulai meragamkan penggunaan daging babi dalam sajian kuliner. Bahkan saat ini sudah mulai dikenalkan daging rusa untuk dijadikan sumber daging merah

  • Prof. Luki Abdullah Raih Penghargaan Dosen berprestasi Nasional

    Dosen Fakultas Peternakan IPB kembali mengukir prestasi di tingkat nasional, yaitu Prof. Luki Abdullah, yang berhasil meraih penghargaan peringkat kedua dalam kategori Dosen berprestasi tingkat nasional.  Bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-88, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi memberikan penghargaan kepada insan pendidik dan tenaga kependidikan berprestasi. Penghargaan tersebut diberikan pada acara Anugerah Pendidik dan Tenaga Kependidikan Berprestasi Tingkat Nasional 2016 yg diselenggarakan pada jumat (28/10) di Bandung, Jawa Barat.

    Gelaran ini merupakan gelaran ke–14 Diktendik berprestasi tingkat nasional yg diselenggarakan tiap tahun sejak tahun 2004 silam. “Pemberian penghargaan ini diharapkan mampu mendorong dosen dan tenaga kependidikan untuk berprestasi dan lebih produktif sehingga tercapainya tujuan pengembangan sistem pendidikan tinggi khususnya dan pembangunan sosial pada umumnya,” ujar Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemristekdikti Ali Ghufron Mukti. Lebih lanjut Ali Ghufton Mukti mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan agar setiap perguruan tinggi (PT) tergerak untuk memiliki sistem penghargaan yang terprogram bagi dosen dan tenaga kependidikan, meningkatkan motivasi untuk bekerja lebih keras dan lebih cerdas dalam pelaksanaan tridharma perguruan tinggi, dan menumbuhkan kebanggaan di kalangan dosen dan tenaga kependidikan terhadap profesinya.

    Jumlah peserta seleksi pendidik dan tenaga kependidikan berprestasi 2016, tercatat sebanyak 266 orang dengan rincian, kategori administrasi akademik berprestasi 36 orang, kategori dosen berprestasi 63 orang, kategori kepala program studi berprestasi 48 orang, kategori laboran berprestasi 44 orang, kategori pengelola keuangan berprestasi 36 orang, dan kategori pustakawan berprestasi 38 orang.

    Dari kategori-kategori tersebut, IPB berhasil meraih tiga penghargaan, yaitu pada kategori Dosen berprestasi (Prof. Luki Abdullah), Kepala Program Studi Berprestasi (Dr. Iman Rusmana), dan Laboran berprestasi (Esti Prihantini).

    Selamat bagi para penerima penghargaan Diktekdik berprestasi tingkat nasional tahun 2016. Semoga capaian yg diraih mampu menjadi pelecut untuk selalu bekerja keras dan berinovasi dalam mewujudkan pendidikan tinggi yang berkualitas di Indonesia tercinta.

Tips & Kegiatan Selama WFH