News

  • Prof. Muladno Kembali Aktif di IPB

    Guru Besar Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof.Dr. Muladno kembali aktif mengajar dan meneliti di IPB setelah sebelumnya selama 13 bulan 12 hari (per 1 juni 2015) ditugaskan oleh Presiden RI, Joko Widodo sebagai Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian RI. Dalam jumpa pers atas kembali aktifnya Prof. Muladno di Kampus IPB Baranangsiang Bogor, Senin (18/7), Prof. Muladno memaparkan beberapa kebijakan strategis yang berhasil dilakukan selama menjabat sebagai Dirjen. “Setidaknya hasil ini tidak memalukan IPB,” tegasnya.
     
    Selama 13 bulan menjabat, kebijakan strategis yang berhasil diterapkan dalam dunia peternakan adalah pertama, pembenahan industri dan bisnis-bisnis perunggasan. “Ternak unggas mengalami over suplly, sehingga tugas kami kemarin adalah memimpin perusahaan-perusahaan pembibitan unggas untuk menyeimbangkan jumlah supply demand. Akhirnya lahir peraturan Permentan tentang produksi, peredaran dan pengawasan Day Old Chicken (DOC),” ujarnya.
     
    Kedua, revitalisasi asosiasi. Saat ini ada 84 asosiasi atau perhimpunan di bidang peternakan dan kesehatan hewan. Banyak diantara asosiasi itu yang hanya sekadar kumpul-kumpul saja tanpa ada dokumen legalnya. “Kita dorong supaya asosiasi itu dibenahi, jangan sampai orang gampang buat asosiasi padahal legitimasinya diragukan,” ujarnya.
     
    Ketiga, adanya revisi peraturan menteri yang membuat bisnis sapi lebih kondusif seperti penghapusan biaya pemeriksaan penyakit sebelum sapi itu dikirim dari Australia ke Indonesia.
     
    “Tadinya biayanya itu 220 dollar per ekor. Nah kemarin setelah berkunjung ke Australia cek sana cek sini, akhirnya saya putuskan, setelah diskusi dengan otoritas kesehatan hewan, biayanya menjadi 50 dollar per ekor. Bayangkan kalau kita impor seribu ekor saja sudah berapa milyar yang bisa disimpan. Pencegahannya terlalu mahal dibanding realitasnya. Padahal penyakit tersebut amat sangat langka,” terangnya.
     
    Keempat, aturan impor sapi bakalan tadinya harus 350 kilogram (kg) per ekor. “Ini agak merepotkan karena jika ada sapi bakalan yang beratnya 355 kg maka itu sudah dianggap melanggar. Maka aturannya kemudian diubah menjadi rata-rata 350 kg per bacth,” imbuhnya.
  • Prof. Ronny Noor Jadi Adjunct Professor di Universitas di Australia

    Prof. Ronny Noor yang baru saja menyelesaikan tugasnya sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan selama 4 tahun di Australia mendapat kehormatan diangkat menjadi Adjunct Professor di almamaternya di University of New England (UNE), Armidale (NSW) Australia.

    Berdasarkan surat yang dikeluarkan oleh David Thorsen, Director of Human Resources  UNE, Prof. Ronny Noor akan menjalani peran barunya sebagai Adjunct Professor di School of  Environment and Rural Science, UNE selama 5 tahun mulai tanggal 1 Agustus 2017 disamping tugas utamanya sebagai Guru Besar di Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB). Adjunct Professor adalah seseorang yang diangkat oleh universitas untuk mengajar atau melakukan kegiatan lain bukan sebagai staf tetap, namun memberikan kontribusi secara periodik.

    Dalam keterangan kepada wartawan ABC Australia Plus, Sastra Wijaya, Prof. Ronny Noor menyatakan bahwa hal ini merupakan kehormatan besar bagi dirinya yang telah dipercaya oleh UNE  setelah menyelesaikan studi Master dan Doktornya 21 tahun yang lalu di universitas tersebut. "Disamping itu peran ini dinilai sangat strategis dalam pembangunan pertanian di Indonesia khususnya pembibitan ternak mengingat baik IPB  maupun UNE merupakan universitas universitas terkemuka yang memfokuskan dirinya pada ilmu ilmu pertanian dalam arti luas  yang memiliki reputasi internasional." kata Prof Ronny.

    Proses nominasi sebagai Adjunct Professor ini memerlukan  proses dan waktu yang cukup panjang, setelah sebelumnya UNE menganugerahkan Distinguished Alumni Award kepada Prof. Ronny Noor pada tahun 2016 lalu karena dinilai telah memberikan kontribusi besar dalam membangun kerjasama pendidikan dan penelitian antara Indonesia dan Australia dalam perannya sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan. Disamping itu nominasi ini juga mempertimbangkan rekam jejak prestasi akademis dan penelitian yang telah dibangun oleh Prof. Ronny Noor selama ini  setelah menyelesaikan studinya di University of New England dalam bidang genetika kuantitatif dan genetika ekologi serta pemuliaan ternak. Dalam peran barunya ini Prof. Ronny Noor akan bermitra dengan para staf pengajar di UNE termasuk dengan  Prof. Julius van der Werf  dan Dr Fran Cowley dari School of Environmental and Rural Science dalam  mengembangkan kerjasama pendidikan dan penelitian dalam bidang  genetika, pemuliaan serta sistem pembibitan  ternak tropis.

    Prof. Ronny Noor juga akan melakukan kerjasama pembimbingan mahasiswa kandidat doktor khususnya yang terkait dengan program the ACIAR Indobeef Projects yang saat ini sedang berjalan dalam rangka pengembangan sumberdaya manusia Indonesia di bidang peternakan. Indobeef project merupakan program kerjasama Indonesia dan Australia dalam bidang  pendidikan, penelitian dan pengembangan sumberdaya manusia  untuk pembibitan sapi pedaging di Indonesia.  Disamping itu program ini juga dimaksudkan untuk melakukan peningkatan  value chain peternakan sapi pedaging di Indonesia.

    Professor Ronny Noor akan berperan memfasilitasi kerjasama pendidikan dan pengajaran antara Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan UNE dan juga institusi terkait lainnya dalam mengembangkan petanian di Indonesia. Dalam peran barunya ini Prof. Ronny Noor menyatakan bahwa dirinya sangat optimis dapat mengembangkan kerjasama pendidikan dan penelitian lebih jauh lagi dalam upaya untuk memajukan pertanian Indonesia.

    Dalam bidang keilmuan Prof. Ronny R. Noor yang mendalami bidang Genetika Kuantitatif dan Genetika Ekologi ini selepas menyelesaikan PhD nya dari University of New England pada tahun 1994. Setelah itu melengkapi bidang keilmuannya dengan melakukan kerjasama penelitian dengan mengikuti program post-doctoral dan trainingnya di Jepang, Amerika, Jerman, Swedia, Malaysia serta Thailand. Selama karirnya Prof. Ronny R. Noor yang tercatat pernah menduduki posisi Dekan dan Wakil Kepala bidang penelitian Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada masyarakat Institut Pertanian Bogor (IPB). Dia juga telah membimbing dan meluluskan ratusan mahasiswa baik di di level S1, S2 dan S3.

    Di samping itu kegemarannya menulis telah menghasilkan ratusan judul baik dalam bentuk buku, karya ilmiah dan tulisan ilmiah popular lainnya. Dalam karirnya, Prof. Ronny R. Noor pernah tercatat membantu pengembangan sumberdaya manusia untuk pelestarian sumberdaya ternak di International Livestock Research Institute (ILRI) FAO. (australiaplus.com)

  • Profesor Rudy Priyanto Sebut Sapi Lokal Potensial sebagai Penghasil Daging Premium

    Profesor Rudy Priyanto, Guru Besar IPB University dari Fakultas Peternakan menyebut sapi lokal merupakan sumberdaya ternak penghasil daging yang sangat potensial di Indonesia. Ia menyebut, populasi sapi lokal saat ini tercatat sekitar 17 juta ekor yang terdiri dari berbagai rumpun dengan sapi Bali sebagai populasi tertinggi (33 persen). 

    Dosen IPB University di Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan ini menjelaskan, berdasarkan hasil studi morfometri terhadap berbagai rumpun sapi lokal, menunjukkan adanya keragaman ukuran kerangka tubuh yang menggambarkan perbedaan tipe maturity, performa pertumbuhan dan bobot potong sapi. Ia juga menyebut, studi morfometri juga berhasil mengidentifikasi parameter tubuh yang menjadi penciri sapi tipe pedaging dan sapi tipe pekerja. 

    “Dari kajian ini, sapi lokal perlu dikembangkan menjadi sapi tipe pedaging melalui peningkatan ukuran kerangka dan dimensi tubuh terutama lebar pinggul, lebar dada dan dalam dada,” kata Prof Rudy Priyanto, pakar ternak ruminansia dari IPB University.

    Saat ini, kata Prof Rudy, rumpun sapi lokal yang berkembang di Indonesia masih didominasi oleh sapi berkerangka tubuh kecil hingga sedang. Sapi lokal tersebut merupakan keturunan Bos javanicus, Bos indicus yang merupakan sapi tipe kerja dan hasil persilangan dari kedua jenis sapi tersebut. Prof Rudy menyebut, sapi lokal ini memiliki sifat pertumbuhan dan bobot potong yang relatif rendah sehingga sulit memenuhi kebutuhan daging sapi dalam negeri. 

    Lebih lanjut, Prof Rudy menjelaskan, sapi lokal sulit menghasilkan daging steak premium berdasarkan standar USDA Choice karena sebagian rumpun sapi lokal mengandung darah Bos indicus. Pasalnya, sapi lokal ini menghasilkan daging yang relatif keras. 

    Di antara rumpun sapi lokal, kata Prof Rudy, sapi Bali yang berumur 1,5 sampai 2,5 tahun dapat menghasilkan daging yang memenuhi standar kualitas USDA Choice. Ia menerangkan, sapi Bali juga mampu menghasilkan meat yield yang tinggi dengan keunggulan distribusi pada potongan daging kelas I di bagian punggung terutama striploin dan cuberoll. 

    “Sapi Bali dengan populasi lebih dari lima juta ekor merupakan sapi asli Indonesia yang sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai ternak penghasil daging premium,” kata Prof Rudy. 

    Prof Rudy menerangkan, ternak ini dapat dibudidayakan secara menguntungkan pada berbagai ekosistem yang tersebar di berbagai wilayah sentra produksi sapi di Indonesia. Strategi pengembangan sapi Bali sebagai ternak penghasil daging premium harus terintegrasi dari hulu ke hilir. 

    “Kita perlu mengembangkan sentra breeding farm dan fattening sapi Bali. Kita juga perlu melakukan standarisasi ternak dan daging,” kata Prof Rudy. 

    Tidak hanya itu, pengembangan lainnya yang perlu dilakukan adalah pengembangan branding daging sapi Bali premium serta pengembangan niche market. Prof Rudy juga menekankan bahwa pengembangan ini memerlukan dukungan kebijakan yang berpihak pada usaha produksi sapi Bali sebagai penghasil daging premium dari hulu ke hilir (ipb.ac.id)

  • Program Sarjana Plus Logistik Peternakan

    Program Sarjana Plus Logistik Peternakan

    Program Satu Semester Sertifikat Profesional

     

    Menjamin penyediaan ternak dan produk ternak kepada konsumen secara berkesinambungan, meliputi pasca  panen, pergudangan, transportasi, keamanan dan kualitas produk
    Kompetensi :

    • Mampu mengimplementasikan keahlian di bidang logistik peternakan
    • Mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuan, teknologi, dan sains di bidang logistik peternakan
    • Mampu mengelola dan bekerja dalam tim secara  profesional, untuk menerapkan keputusan strategis di bidang logistik  peternakan

    Kualifikasi :

    • Lulusan S1 (Peternakan, Kedokteran Hewan, Logistik, Transportasi, Ekonomi, Teknik Industri, IKK);
    • Minimal telah mendapatkan Surat Keterangan Lulus (SKL)
    • Fresh graduate atau yang sudah bekerja
    • Individu atau utusan instansi/perusahaan

    More information :

    Sekretariat Program Sarjana Plus
    Fakultas Peternakan IPB, Wing 2 Lantai 4
    (0251) 8622841, Fax. 8622842
    alogistic@apps.ipb.ac.id
    +62 857 1737 0257 (CP: Dewi)

    Check our brochure : Brochure S1 Plus - Logistik Peternakan

  • Program Studi Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan IPB University Undang Peneliti Belanda Bahas Tantangan dan Kebijakan Pertanian

    Program Studi Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP), Fakultas Peternakan IPB University menyelenggarakan kuliah umum dengan mengundang Dagmar Braamhaar, dari Wageningen University, 20/04. Kuliah umum tersebut mengangkat topik mengenai perbandingan tantangan produksi hasil peternakan di negara Belanda dan Kenya.

    Dagmar Braamhaar mengawali pemaparannya dengan realitas pertumbuhan penduduk dunia yang sangat berdampak pada aktivitas penggunaan sumber daya alam. Ia menyebutkan bahwa dengan tingginya pertumbuhan penduduk menyebabkan penggunaan sumber daya telah melampaui batas yang ditargetkan.

    “Isu yang kemudian muncul dari kegiatan produksi dan konsumsi hasil peternakan diantaranya ialah ketahanan pangan, keamanan pangan, kesejahteraan hidup manusia, penurunan daya dukung alam, hingga perubahan iklim. Semua ini saling berkaitan satu dengan yang lain, sehingga kita harus memikirkan bagaimana cara melakukan aktivitas produksi dan konsumsi tanpa mengancam kehidupan anak-cucu kita di masa depan,” ujar Dagmar.

    Berkaitan dengan efisiensi biomassa, Dagmar menjelaskan bahwa biomassa atau energi yang terdapat pada alam jumlahnya terus menyusut seiring ke tingkat trofik yang lebih tinggi. Dari 100 persen energi yang terdapat pada tanaman atau produsen, hanya 10 persen energi yang akan dapat disimpan pada konsumen tingkat 1 atau hewan herbivora untuk dikonsumsi oleh organisme pada tingkat trofik berikutnya.

    “Maka dapat dikatakan bahwa efisiensi energi akan lebih tinggi jika manusia memakan roti gandum dibandingkan memberi berton-ton gandum untuk makan sapi kemudian dagingnya dimakan. Meski begitu, bukan berarti semua manusia harus berhenti memakan daging, karena di sisi lain ketersediaan rumput hijau yang banyak akan jadi sia-sia. Karena hanya hewan yang dapat mengonsumsinya sedangkan manusia tidak bisa,” lanjutnya.

    Dagmar juga memaparkan berbagai aktivitas produksi pangan dari hulu hingga hilir yang berdampak pada perubahan iklim, penurunan biodiversitas, degradasi kualitas air, tanah, dan udara serta penurunan daya dukung lingkungan secara umum. Oleh karena itu, Belanda mengambil langkah untuk mengurangi dampak buruk kegiatan pertanian dengan menerapkan konsep pertanian berkelanjutan. 

    Langkah-langkah yang diambil negara Belanda diantaranya konservasi lahan dengan semangat zero deforestation. Pertanian polikultur yang menggabungkan beberapa jenis tanaman ataupun menggabungkan pertanian dan peternakan dalam satu lahan. 

    Dagmar menyebutkan, Belanda menghimbau petaninya untuk mengkombinasikan dengan tanaman bunga-bungaan serta tanaman berkayu di ladangnya. Hal tersebut akan meningkatkan kembali biodiversitas alam karena lebah akan mendapat sumber pembuatan madu serta burung-burung memiliki tempat untuk bertelur.

    Selain itu, Belanda juga berusaha meningkatkan efisiensi biomassa atau energi dalam proses produksi pangan dengan memaksimalkan produksi makanan pokok dan mengurangi produksi cemilan. Pemerintah Belanda juga mengimbau petaninya agar mengembalikan biomassa atau energi yang terdapat pada limbah kembali ke alam dengan menjadikannya kompos dan makanan ternak.

    Di sisi lain, Kenya merupakan negara yang masih harus berjuang menstabilkan sektor pertaniannya. Negara tersebut berencana untuk mengembangkan penelitian baik dari segi ilmu pengetahuan maupun teknologi pertanian. Kenya juga masih berjuang dengan kondisi alam yang kering, kekeringan yang berterusan masih menjadi momok bagi para petani. Oleh karenanya pemerintah Kenya terus bekerja dalam pengadaan teknologi irigasi terjangkau agar dapat dinikmati oleh petani dari seluruh lapisan kalangan

  • Program Studi Teknologi Produksi Ternak Fakultas Peternakan IPB University Lakukan Praktikum Tematik bagi Mahasiswa

    Progam Studi Teknologi Produksi Ternak (TPT) Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University melaksanakan praktikum tematik bagi mahasiswa. Kegiatan praktikum tematik berlangsung dari 30 Maret sampai 13 April mendatang. Pelaksanaan praktikum tematik ini bekerjasama dengan PT ASputra Perkasa Makmur (ASPM). 

    Dr Idat Galih Permana, Dekan Fapet IPB University mengatakan penyelenggaraan praktikum tematik bertujuan untuk menyiapkan mahasiswa menjadi wirausahawan. Terutama di bidang unggas, ternak potong, ternak perah termasuk juga hewan ataupun satwa harapan. 

    “Praktikum tematik ini merupakan suplemen tambahan untuk mempersiapkan mahasiswa yang sebentar lagi lulus. Sistem kemitraan yang ditawarkan diharapkan bisa menjadi pemicu bagi mahasiswa yang terkendala permodalan, namun ingin meningkatkan produktivitas ternak melalui peningkatan kandang menjadi modern atau closed house,” kata Dr Idat Galih Permana. 

    Sementara, Dr Tuti Suryati, Ketua Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP) IPB University menyampaikan terima kasih bahwa selama kegiatan belajar online, mahasiswa dapat mengikuti pembelajaran dengan baik. Namun demikian, katanya, keilmuan teknologi produksi ternak tidak bisa diselesaikan dengan online. 

    “Jadi mahasiswa harus ke kandang, harus mengenal ternaknya dan harus mengetahui bagaimana menghandle ternak, tidak hanya dibayangkan maupun melihat dari video tetapi harus praktik langsung,” kata Dr Tuti Suryati.

    Dosen IPB University itu juga menyarankan agar mahasiswa dapat meningkatkan kompetensi dan skillnya. Dengan demikian, setelah lulus nanti para mahasiswa dapat menawarkan kompetensinya kepada perusahaan. 

    Melalui praktikum tematik, mahasiswa dikenalkan tentang sistem kandang Paranje. Konsep bisnis Paranje adalah konsep sharing economy antar pelaku bisnisnya. Partisipasi dari para pelaku yang terlibat di ekosistem tersebut berbagi perannya masing-masing. 

    Daru Wiratomo, Production Lead PT ASputra Perkasa Makmur menyampaikan, Paranje menggunakan sistem kandang dengan model terbaru yaitu closed house yang dipinjamkan kepada mitra. Peminjaman dilakukan selama kerjasama berlangsung sehingga mitra tidak terbebani biaya investasi. 

    “Sistem pemeliharaan dipantau dan dipandu dengan aplikasi digital yang merupakan terobosan baru di industri peternakan. Kemitraan ini dilakukan dengan pola bagi hasil, yang pertama kali diimplementasikan di Indonesia dan berbeda dengan sistem kemitraan konvensional,” kata Daru.

    Iyep Komala selaku Ketua Panitia mengatakan, dalam masa pandemi ini, Fapet IPB University lebih banyak melakukan pembenahan di dalam. Dengan demikian, ada kesempatan untuk melakukan kerjasama dan berbagi fasilitas yang ada di kandang. 

    “Selamat buat adik-adik yang mengikuti Praktikum Tematik TPT. Mudah-mudahan kita bisa mendapat banyak manfaat dari kegiatan ini dan kita selalu diberikan kesehatan sehingga kita bisa mengikuti segala kegiatan di kampus dan bisa lebih meningkatkan promosi Paranje,” pungkas Iyep Komala (ipb.ac.id)

  • Program Studi Teknologi Produksi Ternak IPB University Hadirkan Alumni Sukses, Tebar Inspirasi untuk Siswa SMA

    Program Studi Teknologi Produksi Ternak (TPT) Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Pertanian (IPTP) Fakultas Peternakan IPB University menggelar sharing mengasyikan bagi para siswa sekolah menengah atas (SMA) secara daring, 26/02. Acara yang berjudul “Get Your Success with Animal Production Technology” ini digelar untuk mempromosikan Program Studi TPT kepada siswa-siswi SMA yang merupakan calon mahasiswa.

    Ketua Pelaksana, Iyep Komala menyebutkan, acara ini mendatangkan beberapa pembicara keren yang merupakan alumni Departemen IPTP IPB University. Acara ini merupakan diskusi asyik sekaligus berbagi hadiah menarik dengan mengikuti bermacam tantangan. Bahkan, dosen IPB University itu menjelaskan, bagi siswa yang memilih Program Studi TPT berkesempatan mendapatkan hadiah berupa pendaftaran SBMPTN gratis.

    Dekan Fakultas Peternakan IPB University, Dr Idat Galih Permana menyebutkan acara tersebut dapat menjadi pengalaman berharga bagi para siswa. Dengan demikian, dapat meningkatkan semangat para siswa untuk memilih Program Studi TPT sebagai tujuan. Ia pun menyebut, kesuksesan para alumni menjadi gambaran bahwa alumni Fakultas Peternakan IPB University memiliki prospek pekerjaan yang luas. Tidak hanya di sektor industri peternakan, namun para alumni juga memiliki wirausaha peternakan. 

    "Terutama di kondisi pandemi, prospek sektor peternakan cenderung meningkat karena untuk memenuhi kebutuhan makanan bergizi dan menjaga imunitas. Hal ini menunjukkan bahwa sektor peternakan sangat berkembang dan terbuka, sehingga alumni Fakultas Peternakan IPB University tidak perlu khawatir dalam mendapatkan pekerjaan,” ungkapnya.

    Sementara, Wakil Gubernur Sumatera Barat, Dr Audy Joinaldy yang juga sebagai Ketua Himpunan Alumni Fakultas Peternakan "Hanter" IPB University turut menyapa para siswa di tengah kesibukan dan musibah yang dialami Sumatera Barat. Ia mengaku memiliki kesan mendalam selama berkuliah di Departemen IPTP IPB University.

     “Sejak itu saya sadar bahwa pilihan saya sangat tepat untuk berkuliah di Fakultas Peternakan IPB University. Belum lagi prospek sektor peternakan di Indonesia akan terus berkembang karena konsumsi protein hewani akan meningkat seiring pertumbuhan penduduk,” tambahnya.

    Alumnus IPB University dari Departemen IPTP,  Aif Arifin Sidhik juga berkesempatan untuk berbagi kesuksesannya. Saat ini, perusahaannya akan meluncurkan sistem kandang ayam modern dan unik yakni apartemen ayam. 

    Ia memulai usaha dari keluarga yang berkecimpung di industri pakan ternak. Kini ia telah berhasil mengembangkan budidaya ayam modern. Kandang ayam modern tersebut dikontrol secara komputerisasi sehingga jumlah produksinya dapat mencapai dua kali lipat lebih tinggi daripada sistem tradisional.

    Menurutnya, ilmu yang didapatkan selama berkuliah di Departemen IPTP IPB University menjadi modal yang sangat berharga. Terlebih lagi, Fakultas Peternakan mencetak wirausahawan terbanyak di IPB University. Oleh karena itu, kelebihan ini dapat menjadi inspirasi bagi para calon mahasiswa supaya memilih Fakultas Peternakan IPB University.

    “Market sektor peternakan akan semakin berkembang. Potensinya pun ada. Saya harap adik-adik SMA dapat terbuka pandangannya dan tidak lagi memandang kuliah di Fakultas Peternakan tidak bergengsi,” kata Arifin, CEO AS Putra Group.

    Pada kesempatan yang sama, turut diundang Windi Al Zahra PhD, dosen muda IPB University dari Fakultas Peternakan yang saat ini sedang melanjutkan studi di Belanda. Ia menerangkan bahwa menjadi mahasiswa Fakultas Peternakan dapat berkontribusi menekan angka stunting di Indonesia. Hal ini mengingat pentingnya posisi teknologi peternakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi protein hewani. 

    Ia juga mengatakan, berkuliah di Fakultas Pertanian IPB University akan sangat membanggakan. Selain kompetensi dosennya luar biasa, alumninya juga sangat kompak. 

    CEO MT Farm dan peraih Anugerah Young Leader, Budi Susilo Setiawan juga ikut menginspirasi para siswa SMA. 

    Pebisnis ternak domba ini mengatakan, industri peternakan akan jauh lebih efektif dan efisien apabila dikelola oleh alumni Fakultas Peternakan IPB University. Alumnus IPB University itu menjelaskan, prospek kerjanya sangat terbuka, terutama di bidang teknologi produksi ternak. Ia sangat bangga menjadi bagian dari alumni Fakultas Peternakan IPB University. 

    Ia saat ini sedang berusaha untuk dapat membuka pasar di Eropa sehingga nantinya dapat menjadi kebanggaan almamater dan memperkenalkan produk Indonesia di kancah internasional. Produk tersebut adalah rendang domba yang diinisiasi oleh Program Studi TPT IPB University. Ia berharap, ceritanya dapat menjadi inspirasi bagi para calon mahasiswa sehingga tidak ragu untuk memilih Program Studi TPT IPB University sebagai tujuannya (ipb.ac.id)

  • Program Studi THT, satu satunya di Indonesia

    Fakultas Peternakan telah membuka Program Studi strata satu (S1) baru, yaitu Program Studi Teknologi Hasil Ternak (PS-THT). Program Studi ini diasuh oleh Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP), dimana bidang keilmuannya ini meliputi : teknik pengolahan dan rekayasa produk hewan ( makanan : daging , susu telur & madu), pengolahan hasil ikutan ( wol, kulit, tulang, dll ), sifat fungsional dari produk hewani & pengelolaan limbah.

    Program Studi Teknologi Hasil Ternak pada saat ini merupakan satu satunya program studi strata satu (S1) di bidang pengolahan hasil ternak di Indonesia, menjadikan PS-THT menjadi pilihan yang tepat menuju sukses di bidang pengolahan hasil ternak. Pada tahun 2016 ini, PS-THT hanya menerima pendaftaran dari jalur Ujian Talenta mandiri IPB (UTM) dengan daya tampung sebanyak 40 orang mahasiswa.

    Pendaftaran dapat dilakukan secara online melalui alamat  http://admisi.ipb.ac.id/p/single/utm. Syarat peserta adalah : lulusan SMA/MA IPA tahun 2014-2016, sehat jasmani dan rohani. Pendaftaran dapat dilakukan mulai 11 Mei - 9 Juni 2016. Ujian tertulis dengan materi ujian: Biologi, Fisika, matematika, Bahasa Inggris dan Tes Talenta , dilakukan pada tanggal 18 Juni 2016, dan pengumuman kelulusan pada tanggal 29 Juni 2016.

    Pada tahun 2017, Program ini membuka jalur masuk melalui SNMPTN, SMBPTN, UTMI, Beasiswa Unggulan Daerah (BUD), Prestasi Internasional_Nasional, dengan daya tampung 100 orang mahasiswa. untuk mendapatkan informasi mengenai semua jalur masuk tersebut, dapat mengakses alamat http://admisi.ipb.ac.id.

    Untuk mendapatkan informasi yang lebih mendetail, dapat menghubungi Departemen Imu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP), Fakultas Peternakan IPB, Jalan Agatis Kampus IPB Darmaga Bogor,telp. dan fax.  0251-8628379, email departemeniptp@gmail.com dan situs web http://iptp.fapet.ipb.ac.id

  • Promosi Virtual Program Studi di Fakultas Peternakan IPB

    Fakultas Peternakan IPB University mengadakan Promosi Virtual untuk para pelajar SMA/sederajat pada hari Sabtu (6/3). Acara ini bertujuan untuk memperkenalkan Program Studi yang ada di Fakultas Peternakan secara lengkap dan menyeluruh. Lebih dari 100 peserta yang berasal dari berbagai SMA di Indonesia menghadiri Acara promosi virtual ini, yang diakses melalui zoom serta kanal YouTube : Wakil Dekan AK Fapet IPB dengan judul acara "Canvassing Mahasiswa Fakultas Peternakan IPB University".

    Acara ini juga menghadirkan Ir. Audy Joinaldy, SPt, MSc, MM, IPM, ASEAN.Eng - Wakil Gubernur Sumatera Barat dan Frans Marganda Tambunan, S.Pt - Direktur Komersial PT Rajawali Nusantara  Indonesia (Persero) yang membagi kisahnya sebagai alumni Fakultas Peternakan IPB University yang sukses dalam bidangnya masing-masing.

    Dekan Fakultas Peternakan, dalam sambutannya menyampaikan apresiasinya atas kehadiran peserta yang mengikuti acara ini serta memaparkan bahwa pada saat ini Fakultas Peternakan sudah menerapkan Kurikulum K2020 yang mengintegrasikan Merdeka Belajar - Kampus Merdeka dimana mahasiswa diberikan kesempatan untuk mengikuti kegiatan di luar kampus sampai dengan 20 SKS. “Disamping itu, kegiatan kemahasiswaan yang semula hanya merupakan kegiatan ekstra kurikuler telah diintegrasikan ke dalam kegiatan kurikulum sehingga para mahasiswa yang melakukan kegiatan kemahasiswaan dapat mengkalim kegiatan tersebut dalam bentuk SKS” jelasnya.

    Apresiasi juga disampaikan kepada Ir. Audy Joinaldy, SPt, MSc, MM, IPM, ASEAN.Eng - Wakil Gubernur Sumatera Barat dan Frans Marganda Tambunan, S.Pt - Direktur Komersial PT Rajawali Nusantara  Indonesia (Persero) yang telah hadir sebagai bintang tamu acara tersebut untuk membagi kisahnya sebagai alumni Fakultas Peternakan IPB University yang sukses dalam bidangnya masing-masing.

    Pada kesempatan ini, Ir. Audy Joinaldy, SPt, MSc, MM, IPM, ASEAN.Eng, selaku salah satu alumni Fakultas Peternakan IPB membagi pengalaman dan kesan-kesan dari mulai menjadi mahasiswa Fapet yang menurutnya adalah pilihan yang tepat. Audy juga berbagi cerita mengenai para dosen serta rekan-rekannya sesama alumni Fapet yang banyak memberikan kesan baik hingga sedikit bercerita tentang perjalanan karirnya dari mulai jadi pengusaha hingga kini menjabat sebagai Wakil Gubernur Sumatera Barat.

    Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Prof. Irma Isnafia, banyak menjelaskan kepada calon mahasiswa mengenai gambaran perkuliahan di IPB, beliau juga menjawab pertanyaan beberapa peserta terkait program dan kondisi kegiatan belajar mengajar di IPB khususnya di tahun awal kuliah mahasiswa.

    Presentasi mengenai masing-masing program studi yaitu IPTP (Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan), INTP (Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan) dan THT (Teknologi Hasil Ternak) disajikan secara apik dan menarik melalui media video dan presentasi yang disampaikan secara lugas oleh Iyep Komala, S.Pt, M.Si dari  Program Studi IPTP danTHT serta Rika Zahera, S.Pt, M.Si dari Program Studi INTP.

  • Proses Pelayuan untuk Tingkatkan Mutu Daging Sapi

    Untuk meningkatkan kualitas daging sapi, maka sebaiknya setelah proses penyembelihan, dilakukan langkah pelayuan (aging). Hal itu disebabkan sapi yang telah mengalami proses penyembelihan, dagingnya akan mengalami fase rigor mortis, yakni daging akan menjadi lebih keras, kaku dan alot. Jika tidak dilakukan pelayuan dan langsung didistribusikan ke konsumen, akan menyebabkan penurunan kualitas daging tersebut.

    Untuk menghindari atau menghilangkan daging dari fase rigor mortis ini, maka dilakukan upaya pelayuan dimana daging dibiarkan menyelesaikan proses rigornya sendiri dalam penyimpanan. Proses pelayuan tersebut dilakukan dengan penyimpanan daging pada beberapa waktu tertentu dengan tujuan tertentu.

    Umumnya daging dibiaskan dilayukan dalam bentuk karkas maupun setengah karkas. Proses penyimpanan karkas dilakukan pada suhu 0°C – 4°C selama minimal 18 jam untuk menyempurnakan proses biokimia daging yang berupa rigormortis. Manager Produksi PT Cianjur Arta Makmur (Widodo Makmur Group) Mukhlas Agung Hidayat S,Pt mengatakan, rigormortis merupakan proses biokimiawi otot dimana secara umum juga disebut pergantian fase otot menjadi daging. Ia mengatakan hal itu dalam dalam pelatihan online bertema “Penerapan Kesejahteraan Hewan pada Rantai Pasok Sapi Potong” yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan Fakultas Peternakan IPB pada 13-14 Mei 2020.

    Mukhlas memaparkan, dalam proses rigormotis, terjadi penurunan pH akibat proses glikolisis anaerob, menghasilkan asam laktat. pH normal daging setelah pelayuan adalah 5,3-5,7. Terdapat tiga fase rigormotis, yakni fase pre rigor, fase rigormotis, dan fase pasca rigor. Pada fase pre rigor, terjadi fase glikolisis anaerob, yang berlangsung pada waktu 4-8 jam -hingga glikogen habis. Fase ini ditandai dengan masih bergeraknya otot.

    Setelah itu memasuki tahap rigormortis, yang ditandai dengan terjainya kekakuan pada otot, saat energi hasil glikolisis habis dan aktomiosin terkunci. Fase ini terjadi dalam tempo 8-12 jam. Adapun pada fase pasca rigor, merupakan fase dimana enzim katepsin (akibat kondisi asam pH 5,3-5,7) mulai bekerja untuk melunakkan daya ikat jaringan serat daging. Fase ini berlangsung pada jam ke-15 hingga jam ke 20 (livestockreview.com)

  • PROSPEK AGRIBISNIS LEBAH MADU

    Indonesia memiliki kekayaan alam dan potensi besar untuk pengembangan usaha perlebahan. Sebanyak 6 dari 7 spesies lebah madu di dunia ada di Indonesia, dan sebagian sudah dimanfaatkan masyarakat baik untuk panen madu maupun lilin. Dengan luas daratan Indonesia sekitar 200 juta hektar, 40% di antaranya berpotensi menghasilkan pakan lebah (bee forage). "Dari total areal tersebut dapat menghasilkan sekitar 80.000-200.000 ton dalam setahun," kata Guru Besar Fakultas Peternakan IPB Prof Dr Asnath M Fuah dalam sebuah pelatihan tentang Manajemen Produksi dan Logistik Lebah Madu Tropika yang diselenggarakan Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) di Kampus Fakultas Peternakan IPB, Kampus Darmaga Bogor pada 8-9 Oktober 2019.

    Potensi pengembangan bisnis madu di Indonesia sangat prospektif. Asnath memaparkan, jika dibandingkan dengan negara lain, konsumsi madu di Indonesia masih sangat rendah. Konsumsi madu masyarakat Jepang mencapai 200-300 gram/kapita/tahun atau paling tinggi di negara-negara Asia. Di Eropa, terutama Swiss dan Jerman konsumsinya lebih tinggi, yaitu 800-1500 gram/kapita/tahun. "Di Inggris, Amerika Serikat, dan Perancis konsumsi madu bahkan telah mencapai 1000 -1600 gram/kapita/tahun," katanya.

    Bandingkan dengan konsumsi madu di Indonesia yang baru mencapai 10-15 gram/kapita/tahun. Penyebab rendahnya konsumsi madu Indonesia antara lain yakni madu hanya dikonsumsi sebagai suplemen; harga madu asli relatif mahal, daya beli kurang, dan rendahnya pengetahuan tentang madu.

    Potensi besar budidaya ternak lebah juga ditunjukkan oleh data dari Asosiasi Perlebahan Indonesia (API) yang akngka konsumsi madu Indonesia berkisar 7.000 - 15.000 ton per tahun. Padahal, produksi madu lokal Indonesia saat ini baru mencapai 4.000 - 5.000 ton per tahun, yang berarti Indonesia kekurangan produksi madu lokal sebanyak 3.500-11.000 ton/tahun. "Terjadi gap antara suplai dan demand madu," kata Asnath.

    Adapun potensi jenis lebah madu yang prospektif untuk dibudidayakan di Indonesia antara lain yakni lebah hutan Apis dorsata, lebah lokal Apis cerana, lebah impor Apis mellifera, dan lebah lokal Trigona. Prospek bisnis ternak lebah tidak hanya madu saja, namun juga produk ikutan lain bee pollen, royal jelly, propolis, sengat lebah, lilin lebah, ratu lebah, koloni lebah, dan peralatan budidaya lebah.

    Ruang lingkup agribisnis lebah madu juga terbentang luas, mulai dari potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, sarana prasarana, modal usaha, penerapan teknologi panen dan pasca panen, produk hulu-hilir yang dihasilkan, logistik dan supply chainproduk lebah. Potensi besar agribisnis lebah madu ini harus dimanfaatkan secara optmimal sehingga Indonesia diharapkan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat akan madu dan produk ikutannya yang terus meningkat dari tahun ke tahun. (majalahinfovet.com)

  • PT Japfa Foundation Berikan Beasiswa kepada Mahasiswa IPB University

    Melalui kerjasama yang terjalin antara Fakultas Peternakan dan PT Japfa Foundation, (26/10), mahasiswa IPB University mendapatkan beasiswa dan kesempatan magang selama enam bulan. Menurut Yahya Djanggola, Ketua Yayasan Japfa menyampaikan bahwa pemberian beasiswa dan kesempatan magang ini merupakan dukungan terhadap program Merdeka Belajar. 

    “Beasiswa sekaligus program magang yang ini juga akan kami berikan kepada mahasiswa di kampus lainnya di Indonesia. Sementara itu, kerjasama dengan Fakultas Peternakan IPB University sudah kami lakukan sejak tahun 2018. Sudah ada 13 mahasiswa yang  telah berhasil lulus dari program beasiswa ini. Ada 7 mahasiswa yang akan segera lulus dan 14 mahasiswa yang mendapatkan beasiswa selanjutnya,” ujarnya.

    Hal serupa disampaikan oleh Direktur Corporate Affairs PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk, Rachmat Indrajaya. Ia menyampaikan bahwa selain program magang, saat ini Japfa ada program baru yang bernama Bertani untuk Negeri. Program ini merupakan dukungan Japfa Foundation terhadap program pemerintah, sesuai amanah Presiden RI yang menyebutkan bahwa perusahan swasta dapat bekerjasama dengan universitas-universitas di Indonesia.

    “Program magang di Japfa sudah lama dilakukan, hanya saja tidak dilakukan secara terstruktur seperti apa yang akan dilakukan saat ini. Yakni adanya nilai SKS yang diberikan oleh perguruan tinggi,” ujarnya.

    Pada kesempatan ini, Prof Dr Sumiati, Dekan Fakultas Peternakan IPB University mengucapkan terimakasih atas pemberian hibah berupa beasiswa dari PT Japfa Foundation untuk mahasiswa IPB University. Prof Sumiati sangat menyambut baik jika ada program lainnya yang dapat dijadikan suatu kerjasama yang bermanfaat seperti Bertani untuk Negeri atau program magang industri. Ia berharap kerjasama ini dapat terus ditingkatkan dan dapat bermanfaat bagi kedua belah pihak (ipb.ac.id)

  • Rabuan Bersama Fakultas Peternakan IPB

    Fakultas Peternakan IPB, mengadakan rabuan bersama pertama kali dalam masa kepemimpinan dekan baru, Dr. Moh Yamin (24/02/2016). Rabuan adalah istilah yang biasa digunakan di fakultas Peternakan dan unit lain di IPB, dalam kegiatan rapat atau pertemuan yang diadakan pada hari Rabu. Kegiatan rapat tersebut dapat bersifat santai, serius, atau kekeluargaan.

    Rabuan kali ini diikuti oleh seluruh civitas akademika fakultas peternakan IPB, diantaranya staf pengajar, staf kependidikan, dan perwakilan organisasi kemahasiswaan Fapet IPB. Dekan Fakultas peternakan pada kesempatan ini juga memaparkan Program Kerja Dekan tahun 2015-2020, dan memperkenalkan Wakil Dekan baru yang menjabat di Fapet IPB.

    Acara ini juga dilangsungkan sekaligus untuk pisah sambut dekan lama dan baru, foto bersama staf pengajar dan staf kependidikan, dan diakhiri dengan ramah tamah dan makan siang.

     

  • Rambut Hewan Kesayangan Anda Rontok? Mahasiswa IPB University Berikan Solusinya

    Sering mendengar keluhan rontoknya rambut kucing milik temannya, Digsen Afriadi, salah satu mahasiswa IPB University menemukan ide untuk membuat Tinolin, nama brand dagang suplemen pencegah kerontokan rambut pada hewan peliharaan. Ide itu ia dapatkan saat dirinya bersama kedua rekannya, Sihabudin Asnawi dan Zarifa Olivia mendapatkan mata kuliah Inovasi Pengolahan Bulu Domba di Fakultas Peternakan IPB University.

    “Salah satu pengetahuan yang saya dapatkan saat kuliah, bulu domba mengandung senyawa seperti lemak yang dapat menjaga bulu domba tetap halus dan bagus. Lalu saya dan Zarifa pada saat itu berpikir, kenapa tidak kita coba ambil lemaknya dan diberikan kepada pet animal yang mengalami masalah rambut rontok, kering atau pun rusak,” jelas Digsen.

    Senyawa yang dimaksudnya adalah lanolin. Menurut Digsen, sejauh ini pemanfaatan bulu domba masih belum banyak, bahkan ada peternak yang membuang lalu membakarnya. Padahal, lanolin yang terdapat dalam bulu domba dapat menjaga wol, rambut dan kulit domba dalam keadaan baik, sehingga lanolin juga berguna untuk rambut dan juga kulit hewan kesayangan. 

    “Sepengetahuan saya, belum ada produk suplemen untuk hewan peliharaan, baru ada sampo. Penggunaan suplemen ini sangat simpel, hanya perlu mengoleskan Tinolin pada bagian yang ingin kita perbaiki,” ucap Digsen.

    Digsen menegaskan,  semua jenis domba dapat digunakan bulunya menjadi suplemen. Yang terpenting, untuk mendapatkan lanolin yang banyak membutuhkan bulu domba yang segar. Artinya diproses langsung setelah dicukur supaya kandungan lanolinnya tidak hilang. Paling tidak bulu domba yang sudah dicukur tiga hari masih bisa digunakan meskipun akan mendapatkan ekstrak lanolin yang lebih sedikit.
    “Sasaran kita adalah para pemilik hewan peliharaan. Kita menyadari bahwa memelihara hewan peliharaan seperti kucing, kelinci ataupun anjing sangat penting menjaga kesehatan rambut mereka. Harapannya dengan adanya Tinolin ini mampu menjawab dan memberikan solusi masalah kesehatan rambut hewan peliharaan yang rontok, rusak ataupun kering,” ujar Digsen.

    Digsen dan kedua rekannya berharap karyanya yang merupakan Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Penelitian Eksakta (PKM-PE) 2019 ini  akan membawa Tinolin ini ke ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). Digsen dan tim berencana memperkenalkan  produk PKM-PE yang berjudul ‘Tinolin : Suplemen Rambut Kering, Rusak dan Rontok Pada Pet Animal’ ini kepada para pemilik hewan peliharaan sehingga apa yang sudah dilakukannya dapat memberikan manfaat sebagaimana mestinya.  Dalam proses pembuatannya Tinolin ini di bawah bimbingan M Sriduresta Soenarno, SPt, MSc. (ipb.ac.id)

  • Ratusan Dosen IPB University Belajar Teknik Tampil di Depan Kamera Bersama Dubes RI Singapura

    IPB University menggelar workshop Kampus Merdeka bertajuk ”Teknik Tampil di Depan Kamera Bagi Para Pakar” secara daring, (5/12). Kegiatan tersebut menghadirkan Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia di Singapura, Suryopratomo.

    Tomi, begitu sapaan akrab Suryopratomo adalag sosok yang pernah menjabat sebagai Presiden Direktur Metro TV periode 2017-2019. Alumnus IPB University dari Fakultas Peternakan  ini  juga merupakan anggota Majelis Wali Amanat (MWA) IPB University.

    Rektor IPB University, Prof Dr Arif Satria dalam sambutannya menyampaikan bila kegiatan tersebut diadakan dalam rangka capacity building bagi para dosen. Langkah tersebut penting untuk dilakukan secara rutin sebagai pengembangan diri dan penyesuaian diri dengan perkembangan teknologi dan pendidikan.
    Metode pembelajaran yang sedang berlangsung kini bergantung pada kegiatan secara daring melalui berbagai media. Sehingga dosen dihadapkan dengan tantangan tampil di depan kamera sebagai kebutuhan pembelajaran. Kamera dan visual menjadi hal yang penting. Begitu pula dengan ketrampilan  menampilkan informasi dan kajian-kajian yang berkaitan dengan profesi sebagai tenaga pendidik.

    "Media seperti Youtube merupakan salah satu media terbuka yang dapat dimanfaatkan untuk menginspirasi publik melalui berbagai ide. Melalui kegiatan ini, para dosen dapat belajar mengenai berbagai skill tampil di depan kamera. Bukan hanya sekedar teknis, dosen juga dituntut untuk dapat memberikan informasi, penjelasan, dan ilmu yang menginspirasi khalayak umum, " urai Rektor.

    Tomi menyebutkan bila keahliannya di dalam dunia jurnalistik didapatkannya melalui gabungan pengalaman selama Kuliah Kerja Nyata (KKN) dengan ilmu yang didapatkan selama kuliah di IPB University. Pengalamannya menulis laporan harian di kampus membuatnya cerdik dalam menulis sehingga kemudian ia diterima sebagai wartawan di Harian Kompas di awal karirnya sebagai seorang jurnalis.

    “Berbicara di depan publik secara langsung maupun di depan kamera sebenarnya tidak jauh berbeda. Hal yang membedakan hanya jarak antara media dan audiens. Dalam berkomunikasi dengan audiens ada beberapa hal kunci. Hal tersebut yakni kerangka berpikir yang terstruktur rapi dengan tata bahasa dan cara penyampaian yang baik. Penting untuk dicatat karena dapat mencegah terjadinya miskomunikasi,” ujarnya.

    Lebih lanjut Tomi mengatakan, kadang kala rasa gugup kerap muncul ketika hendak tampil di depan publik. Perbedaan antara orang yang berpengalaman dengan amatir adalah caranya mengendalikan rasa gugup tersebut. Kemampuan beradaptasi dengan cepat di suasana yang baru amat dibutuhkan untuk menghindari munculnya rasa ketidakpercayaan diri. Presenter harus mampu mengatasi ketakutan atau rasa gugup tersebut. Tipsnya yakni harus mampu bersikap rileks sehingga tak akan terlalu repot akan hal teknis.

    "Pengendalian diri tersebut penting agar kesan dan pesan yang disampaikan dapat mudah dipahami dan diinternalisasikan oleh audiens. Bila terlalu banyak hal yang dipikirkan, maka esensi pesan yang disampaikan tidak akan sesuai dengan konteks.  Bersikap rileks dan menarik amat penting agar audiens  merasa teryakinkan oleh isi pesan yang disampaikan. Mencontoh dari Steve Jobs, salah satu presenter terbaik yang juga seorang engineer dan ahli pemasaran untuk produk Apple. Ia dapat mudah meyakinkan audiens bahwa produknya berbeda dan penuh kejutan. Hal yang dapat membantu audiens untuk terkesan dan mudah paham adalah penggunaan alat bantú visual yang baik, " urainya.

    Tomi juga memberikan 10 tips sebagai bekal untuk tampil di depan publik atau kamera. Pertama yakni kelebihan mudah berdaptasi dengan suasana baru. Presenter juga harus paham mengenai dimana ia akan berbicara dan bisa membayangkan tindakan dan gerakan yang dilakukan ketika tampil. Ia juga harus mengetahui siapa audiensnya, karena pesan dan gaya penampilan akan berbeda tergantung audiens. Selanjutnya, mengetahui pesan yang disampaikan juga penting, berlatih di depan kaca merupakan salah satu trik untuk membiasakan diri.
    Menjadi diri sendiri dan berusaha rileks juga penting agar mudah mengendalikan pikiran dan materi yang disampaikan sehingga dapat dieskpresikan dengan baik. "Setiap orang memiliki gaya penyampaian yang beragam, sehingga tak perlu meniru orang lain. Setiap orang memiliki gestur khas sebagai salah satu bentuk personal brand, bila rajin dilatih maka dapat meningkatkan kepercayaan diri, " jelasnya.

    Berikutnya menurutnya, presenter harus menyadari bahwa audiens yang hadir berkeinginan untuk melihat kita sukses dalam presentasi. Harapannya audiens tak hanya duduk dan mendengarkan, namun juga memahami pesan dan menginternalisasikannya ke dalam diri sehingga apa yang disampaikan akan bermanfaat baginya.

    “Bukan hanya sekedar kumpulan kata-kata, tetapi sebuah pesan yang membuat orang yang mendengarkan maupun yang membaca mendapatkan energinya dan kemudian menangkap jiwanya. Itulah yang menjadi ukuran keberhasilan ketika kita tampil di depan publik atau ketika kita sedang menulis,” tuturnya.

    Penting pula untuk diingat bahwa pesan yang disampaikan tak hanya harus bersifat menghibur, namun juga informatif. Hal lain yang perlu dicatat bahwa presenter tak perlu terjebak pada beberapa kesalahan kecil dalam penyampaian karena dapat dikoreksi sambil berjalan. Bila terdapat kesalahan dalam pengucapan, hendaknya tidak terlalu banyak meminta maaf untuk menghidari munculnya rasa gugup. Presenter dapat melakukan improvisasi untuk menutupi kesalahan tersebut (ipb.ac.id)

  • Rayakan Ulang Tahun Keenam, Bisnis Alumni Fapet IPB University "Nutricell" Kembali Ekspor Produk Unggulannya

    Nutricell adalah sebuah produsen obat hewan, yang berlokasi di Tangerang Selatan.  Perusahaan ini merupakan produsen obat hewan yang dikendalikan oleh beberapa alumni Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University. Sebut saja, Suaedi Sunanto, alumnus IPB University Angkatan 28 yang menduduki CEO/ Chief Executive Officer  perusahaan. Ia juga menjadi Ketua HANTER Cabang DKI Jakarta. Tidak hanya itu, ada Wira Wisnu Warnadi, alumnus IPB University angkatan 37 yang menduduki Direktur Research dan Development.

    Suaedi Sunanto, menjelaskan, dalam perjalanannya, Nutricell merupakan perusahaan yang menyediakan solusi nutrisi dan kesehatan hewan bagi peternak dan perusahaan pabrik pakan di Indonesia. Bahkan telah menembus pasar manca negara. 

    “Kiprah Nutricell dalam mengembangkan produk ekspor dimulai sejak Tahun 2019, dimana Nutricell melepas produk ekspor perdananya ke Vietnam,” kata Suaedi. 

    Lebih lanjut, kata Suaedi, Nutricell merayakan kesuksesannya menembus pasar Eropa pada Tahun 2020. Saat itu, Nutricell berhasil melayarkan produk herbalnya ke Jerman.  

    Adapun tahun 2021 ini, Nutricell merayakan ulang tahunnya yang ke-6. Dengan slogan The Sixth Nutricell on Nourishing People and Planet, Nutricell merayakannya dengan beberapa kegiatan, antara lain seminar bisnis perunggasan dengan tema The Art and Science in Poultry Industry.

    Seminar yang dibuka oleh Audy Joynaldi, Ketua HANTER Fakultas Peternakan, IPB University ini menghadirkan beberapa pembicara kelas dunia seperti Martijn de Coqc dari MDC Feed Consulting Belanda, Pierre Domps dan Fernando Moreira, Direksi dari ADM Animal Nutrition, dan Fernando, Ketua World Poultry Science Association, Cabang Eropa.  

    Masih dalam rangkaian merayakan ulang tahunnya yang keenam, Nutricell melepas produk ekspornya ke Korea Selatan, 13/9. Produk ekspor tersebut berupa produk suplementasi pakan ruminansia yang dikembangkan oleh putra-putri terbaik Nutricell di bawah kendali Dr Wira Wisnu Wardani.

    Wira Wisnu mengaku, produk ini dapat menjadi tonggak tersendiri bagi Nutrcell dan industri obat hewan nasional. Ia pun menjelaskan, produk suplemen pakan yang berbasis minyak sawit ini, terbukti mampu meningkatkan produksi susu pada ternak perah serta meningkatkan lemak susu.  Hal ini sekaligus membuktikan bahwa perusahaan yang dikendalikan oleh putra-putri Indonesia mampu menembus pasar global.

    Pelepasan produk obat hewan dengan nama Nutrifat Ca-84 sebanyak 28 ton dengan nilai 3,6 milliar rupiah dilakukan oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian RI.

    Bagi civitas academika IPB University, Nutricell bukanlah perusahaan yang asing, karena perusahaan ini juga menjalin kerjasama dengan IPB University dan Fakultas Peternakan IPB University.  Salah satu kerjasama yang dilakukan adalah pengembangan produk dan solusi untuk menurunkan emisi gas dari ternak, khususnya ternak ruminansia.  Solusi yang mengadopsi dari beberapa tenaga ahli Fapet IPB University ini, diterjemahkan dalam aplikasi industri oleh Nutricell. 

    Pasalnya, Nutricell dan Fapet IPB University mempunyai kesamaan nilai untuk menjadikan industri peternakan bermanfaat bagi manusia dan lingkungan.  Hal itulah yang menginspirasi Nutricell dalam membawakan pesan ulang tahunnya yang keenam ini, yaitu Nourishing People and Planet (ipb.ac.id)

  • Rektor IPB Paparkan Tani Center di Depan Ilmuwan Peternakan Indonesia

    Tani Center Institut Pertanian Bogor (IPB) adalah unit baru yang dibangun untuk membantu para petani dalam memecahkan persoalan pertanian dalam arti luas. Tani Center IPB didirikan agar mendekatkan para petani, peternak, pembudaya ikan dan stakeholder lainnya, agar informasi dari IPB dapat terhubung dengan baik dan langsung dirasakan manfaatnya untuk kepentingan dan kesejahteraan para petani secara menyeluruh. Hal ini disampaikan Rektor IPB, Dr. Arif Satria saat memberikan sambutan dalam Seminar Nasional Peternakan Era Industri 4.0 Menuju Peternak Berdaulat dan  Kongres ke-3 HILPI, di IPB International Convention Center (IICC), Bogor (11/1).

    Rektor menegaskan bahwa program Tani Center ini berada di bawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB. “Teknisnya nanti petani, peternak, nelayan perikanan tangkap maupun budidaya dapat datang ke Tani Center IPB untuk mendapatkan informasi serta konsultasi gratis kepada para pakar terkait usaha pertanian yang dijalankannya,” imbuhnya.

    Selain itu, menanggapi konsep peternakan di era revolusi industri 4.0, Dr. Arif mengatakan peternakan 4.0 merupakan konsekuensi dari hadirnya revolusi industri yang menuntut semua pihak untuk menyesuaikan perkembangan peternakan dengan teknologi.

    “Seminar ini sangat penting sekali dalam rangka IPB untuk berkontribusi pada peternak dan masyarakat, karena IPB mempunyai visi untuk menghasilkan technosociopreneur,”ujarnya.

    Dalam seminar yang digelar oleh LPPM IPB dan Himpunan Ilmuwan Peternakan Indonesia (HILPI) ini juga membahas peran Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) dalam melatih masyarakat agar memiliki kemampuan tinggi dalam beternak. Ketua SPR LPPM IPB sekaligus Ketua Umum HILPI, Prof. Muladno menyampaikan bahwa LPPM IPB ingin menularkan konsep SPR IPB ini kepada perguruan tinggi lain.

    “SPR sudah diakui oleh banyak pihak bahwa SPR benar-benar memberikan manfaat pada peternak. Jadi kalau IPB jalan sendiri untuk mengembangkan SPR, itu tidak bagus. Sehingga IPB ingin merangkul seluruh perguruan tinggi yang ada di Indonesia untuk bahu-membahu mengembangkan SPR IPB ini ke peternak di Indonesia, karena jumlah peternak yang ada sekarang jutaan. Jadi intinya, IPB ingin menularkan konsep SPR dengan baik ke semua perguruan tinggi,” tuturnya.

    Ia menambahkan, peternak di era revolusi industri 4.0 harus diajari cara mendata ternakmya dengan baik. Untuk itu, peran SPR sangat membantu bagi peternak. Mereka berhimpun dalam wadah yang satu, managernya juga satu semua dikelola dalam satu data base, sehingga data itu dapat bermanfaat untuk kepentingan semua. “Jadi untuk bisa ke era industri 4.0, semua peternak yang ada harus “berjamaah”  dalam artian peternak harus satu wadah kesatuan yang kelompok dan utuh yaitu SPR,” tandasnya. (ipb.ac.id)

  • Rektor IPB University Resmikan Tefa Sorinfer, Produk Inovasi Pakan Ternak

    IPB University terus berupaya menghadirkan aura industri di kampus melalui kehadiran Teaching Factory. Teranyar, Rektor IPB University, Prof Arif Satria meresmikan Teaching Factory Sorinfer Fakultas Peternakan IPB University di Unit Pendidikan dan Penelitian (UP3) Jonggol, 26/1.

    Bekerja sama dengan PT Santana Manggala Karya, Teaching Factory Sorinfer ini merupakan fasilitas mutakhir untuk praktikum dan penelitian mahasiswa dalam bidang budidaya hingga produksi hijauan pakan secara mekanik dan industri.
    Sorinfer sendiri merupakan produk pakan fermentasi dengan nutrien lengkap dan seimbang. Berbahan sorgum dan indigofera yang juga diperkaya dengan bahan tambahan lainnya. Sehingga sangat bagus untuk kebutuhan nutrisi ternak.

    "Sorinfer merupakan pakan komplit fermentasi yang siap saji. Dengan Sorinfer, memberi pakan menjadi mudah. Peternak tidak perlu lahan luas (untuk mendapatkan rumput hijauan). Cukup dengan sorinfer, kebutuhan nutrisi ternak dapat terpenuhi," ujar Prof Luki Abdullah, Ketua Tim Peneliti.

    Selain komplit, lanjut dia, keunggulan lain Sorinfer dapat disimpan dalam waktu lama. Bahkan mampu bertahan hingga tiga tahun jika kemasan tidak dibuka. Di samping itu, karena proses fermentasi, ternak menjadi sangat suka berkat aroma yang dihasilkan.

    Ia menjelaskan, produksi Sorinfer di tempat ini didukung mesin yang dirancang dengan kapasitas produksi 20 ton per hari. Jika dikalkulasi, dalam sehari, dapat menghasilkan omset 50-75 juta rupiah.
    "Di Indonesia, memang industri completed feed belum banyak. Saya kira ini yang pertama di universitas. Ini merupakan buah karya riset kami sejak 2016 hingga saat ini. Semoga Tefa Sorinfer ini dapat menjadi inspirasi bagi para peneliti dan juga industri," terangnya.

    Sementara itu, Dekan Fakultas Peternakan IPB University, Dr Idat Galih Permana menyampaikan, selain menjadi inspirasi, inovasi Sorinfer ini mampu menjadi solusi permasalahan pakan dalam negeri. Sorinfer sangat membantu para peternak yang tak memiliki lahan yang luas untuk memenuhi kebutuhan pakan.
    "Sorinfer bisa menjadi jawaban permasalahan pakan saat ini. Dimana tidak semua peternak memiliki lahan yang cukup. Tidak semua juga mampu memformulasikan pakan yang berkualitas. Sorinfer adalah jawabannya," ujarnya.

    Rektor IPB University, Prof Arif Satria dalam peresmian itu menyatakan bahwa pembangunan Teaching Factory merupakan program IPB University untuk memfasilitasi pendidikan mahasiswa. Teaching Factory hadir agar mahasiswa dapat hands on terhadap kompetensi yang diperlukan market saat ini.

    “IPB University ingin membangun berbagai Teaching Factory yang terbaik dan paling modern di Indonesia, sehingga dapat memotivasi generasi muda untuk berkiprah di bidang pertanian," ujarnya.

    Menurutnya, Teaching Factory Sorinfer ditujukan sebagai sarana pembelajaran dan penelitian bagi mahasiswa, dosen dan masyarakat. Inovasi ini mendapatkan dana dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi dalam bingkai program Kedai Reka.

    Usai memberikan sambutan, Rektor IPB University menandatangani prasasti peresmian Teaching Factory Sorinfer, pemotongan pita pabrik dan melepaskan truk pengiriman produk Sorinfer ke konsumen.
    Peresmian ini dihadiri oleh sejumlah pimpinan IPB University diantaranya Wakil Rektor bidang Internasionalisasi, Kerjasama dan Hubungan Alumni, Prof Dodik Ridho Nurrochmat, Wakil Rektor bidang Inovasi dan Bisnis, Prof Erika Budiarti Laconi, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Dr Ernan Rustiadi, beserta jajarannya

  • Rektor IPB University: Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) Bisa Jadi Learning Center Peternakan Indonesia

    Rektor IPB University, Prof Arif Satria hadir dalam webinar bedah buku “DNA-Desa” United 30 Tahun Berkarya dari IPB untuk NKRI (24/8). Buku ini menceritakan tentang Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) yang dikembangkan Prof Muladno, Guru Besar IPB University dari Fakultas Peternakan (Fapet).

    “Buku yang ditulis oleh mahasiswa Fapet ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi kalangan muda dalam memajukan peternakan Indonesia. Kontribusi SPR di 12 provinsi sudah dirasakan oleh masyarakat luas. SPR terus istiqomah membangun desa, kita juga ingin logo IPB University ini menjadi semangat baru untuk masyarakat di lapangan. Agar logo IPB University tidak hanya sekedar gambar, tetapi simbol penyemangat untuk para petani, peternak, agar mereka semakin percaya diri,” ujar Prof Arif Satria.

    Menurutnya, SPR yang sudah berjalan sekian tahun ini bisa menjadi tolak ukur inovasi lainnya. Ukuran itulah yang menjadi bahan untuk improve model-model yang bisa dilakukan untuk SPR ini.

    “Infrastruktur laboratorium dan perkebunan di IPB University harus sempurna dan prima dalam mendukung kegiatan akademik. Sekaligus mendukung learning center yang bisa memberikan impact untuk dosen, mahasiswa, lebih-lebih lagi untuk masyarakat,” ujarnya.

    Ia memberi contoh, di Garut misalnya, ada program one village one CEO (OVOC) yang mengontrol perkembangan kandang melalui smartphone. “Ini sudah dilakukan untuk kandang pedet sapi. Artinya kalau kita kembangkan program-program 4.0 maka akan semakin mendorong efisiensi dari peternakan-peternakan yang ada di Indonesia. Termasuk di dalamnya adalah memanfaatkan inovasi-inovasi dari IPB University,” ungkapnya.

    Begitu juga dengan pakan indigofera dicampur sorgum hasil inovasi Dosen Fapet IPB University. Prof Arif mengatakan, hal itu bisa menjadi potensi pasar pakan ternak yang dahsyat. “Para peternak di Indonesia bisa memanfaatkan inovasi dari IPB University mulai dari breeding, pakan, budidaya hingga inovasi kandang. Perancangan kandang ini bisa menggandeng program studi Ilmu Komputer dalam membangun kandang yang smart,” imbuhnya.
     
    Menurutnya, program SPR yang sudah berjalan ini menjadi etalase untuk menunjukkan pada publik bahwa teknologi-teknologi terkini dapat dikuasai oleh IPB University. “Semoga dengan peternak yang semakin solid, dibarengi semangat dan kepercayaan diri yang tinggi, serta dengan komitmen bersama maka kedaulatan pakan menjadi satu mimpi kita,” tandasnya (ipb.ac.id)

  • Rembug Online Strategi Bisnis Industri Pakan dan Peternakan Perunggasan di Masa Pandemi COVID-19

    Pandemi COVID-19 berdampak pada produk pertanian dan pertanian baik di Indonesia maupun global. Produk peternakan dan pertanian saat ini mengalami berbagai kendala seperti harga di tingkat produsen yang turun, distribusi ke konsumen menjadi terhambat, dan naiknya harga di tingkat konsumen.

    Dengan mengamati perkembangan peternakan dalam pandemi COVID-19 saat ini, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan (INTP Fapet) IPB University menggelar Rembug Online dengan tema Strategi Bisnis Industri Pakan dan Peternakan Perunggasan Akibat Pandemi COVID-19. Rembug Online yang digelar pada 22/4 tersebut menghadirkan dua pembicara yaitu Ir Suaedi Sunanto SPt, MBA IPU (CEO at Nutricell Pacific), Ir Audy Joinaldy SPt MSc MM IPB AseanEng (Chariman of Perkasa dan Lintas Agro Group) dan dimoderatori oleh Prof Dr Ir Sumiati MSc (Dekan Fapet IPB University yang juga Kepala Divisi Nutrisi Unggas, Departemen INTP).

    Pada kesempatan ini, Audy Joinaldy memaparkan tentang kondisi peternakan saat ini. Ia menyebutkan trend produksi ternak yang menjelang puncaknya pada masa Ramadhan dan Idul Fitri mengalami pukulan telak karena masyarakat mengalami stagnasi bahkan penurunan struktur kesejahteraan sehingga ada kecenderungan untuk menahan pembelian berbagai produk peternakan.

Tips & Kegiatan Selama WFH