News

  • Dosen IPB University: BSF Punya Potensi Tinggi untuk Pakan Ternak

    Black soldier fly (BSF) atau dikenal sebagai lalat tentara hitam memiliki manfaat yang banyak baik untuk pangan maupun sebagai pakan. Umumnya, BSF dapat ditemukan dan hidup pada limbah organik seperti limbah pertanian, limbah organik rumah tangga maupun limbah organik dari pasar.

    Dosen IPB University dari Fakultas Peternakan, Prof Dr Dewi Apri Astuti menjelaskan lalat BSF juga dapat dibudidayakan pada media limbah sawit. Limbah sawit yang dimaksud adalah bungkil sawit, pelepah sawit, serat, daun sawit (tanpa lidi), tandan kosong maupun batang sawit.

    “Limbah sawit tentunya dihancurkan terlebih dahulu supaya tidak keras bagi larva lalat BSF. Kadar protein dari limbah sawit ini berkisar antara 2-16 persen, kalau serat kasarnya bisa mencapai 48 persen,” jelas Prof Dewi dalam sebuah Online Training yang diselenggarakan oleh Fakultas Peternakan IPB University bekerjasama dengan Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI).

    Kandungan nutrisi lalat BSF yang tinggi, dapat dimanfaatkan sebagai pakan ayam, puyuh, kambing, ikan udang maupun dibuat sebagai bahan chitosan dan anti bakteri. Ekstrak lalat BSF juga dapat digunakan sebagai alternatif pengganti antibiotic growth promoters (AGPs) pada industri pembesaran ayam. Sementara untuk pakan puyuh, formula pakan BSF dapat meningkatkan performa produksi puyuh mencapai 62 persen.

    “Lalat BSF dapat diekstrak dalam bentuk protein murni dan minyak. Kulit pupa BSF juga dapat diekstrak menjadi chitosan,” tambah Prof Dewi.

    Ekstrak kitin maupun chitosan BSF dapat dimanfaatkan pada berbagai bidang seperti pertanian, pangan, farmasi dan medis, kosmetik, bioteknologi, tekstil, industri kertas maupun sebagai purifikasi air (ipb.ac.id)

  • Dosen IPB University: Prospek Bisnis Cacing Tanah untuk Bahan Baku Obat Sangat Cerah

    Bagi sebagian orang, cacing tanah identik dengan hewan menjijikkan. Namun, faktanya tak sedikit masyarakat yang membudidayakan cacing tanah sebagai mata pencahariannya. Meskipun menjijikkan, ternyata cacing tanah memiliki nilai ekonomi dan dapat dijadikan sebagai bahan baku obat medis.

    Untuk itu, dosen IPB University dari Fakultas Peternakan, Verika Armansyah Mendrofa, SPt, MSi memberikan penjelasan tentang budidaya cacing tanah sebagai pakan ternak dan pangan. Menurutnya, cacing tanah memiliki kadar protein sebesar 64-76 persen. Harga jual cacing tanah lumayan fantastis, satu kilogram cacing tanah dihargai 40 ribu sampai 120 ribu untuk di wilayah Bogor. Tidak hanya cacingnya yang bisa dijual, tetapi produk cacing seperti pupuk cair dan bekas cacing (kascing) juga dapat dijual.

    “Pupuk cair dan kascing sangat bermanfaat untuk kesuburan tanah dan tanaman. Ini merupakan peluang usaha yang menjanjikan,” kata Verika dalam Online Training yang diselenggarakan oleh Fakultas Peternakan IPB University bekerjasama dengan Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) belum lama ini.

    Manfaat cacing tanah, lanjutnya, dapat digunakan sebagai pakan ternak, pangan manusia, obat-obatan, kosmetik, pengolah sampah, pengolah limbah industri, pupuk tanaman dan penyubur lahan pertanian. Sementara, kascing memiliki kandungan N sebesar 1.40 persen, P sebesar 4.33 persen dan K sebesar 1.20 persen. Kandungan ini lebih tinggi daripada kotoran sapi, kuda, kambing maupun kotoran babi.

    Dari sisi medis, cacing tanah mengandung enzim lumbrokinase yang berguna untuk menurunkan tekanan darah, ischemic dan stroke. Cacing tanah juga mengandung enzim peroksidase dan katalase yang berfungsi untuk mengobati penyakit degeneratif seperti diabetes melitus, kolesterol maupun rematik. Tidak hanya itu, cacing tanah juga mengandung enzim ligase dan selulase yang berfungsi untuk melancarkan pencernaan serta enzim arakhidonat sebagai obat antipiretik.

    Sayangnya, manfaat cacing tanah yang banyak ini belum mampu dimanfaatkan secara maksimal di Indonesia. Masyarakat di Indonesia umumnya baru memanfaatkan cacing tanah sebatas sebagai pakan ternak maupun sebagai penyubur tanah dan tanaman.

    Supaya cacing tanah memiliki kualitas dan nilai jual tinggi, Verika menjelaskan tentang teknik budidaya yang baik. Sebelum melakukan budidaya, ia menyarankan supaya lokasi budidaya berada di tempat yang teduh dan lembab. Pemilihan lokasi yang teduh dan lembab dimaksudkan supaya cacing tanah tidak kepanasan dan tidak terendam air secara berlebihan.

    “Sekalipun cacing hidup di dalam tanah, sebenarnya cacing itu tidak suka kalau banyak air apalagi sampai tanahnya tergenang air. Air ini bisa menutup lubang-lubang jalur cacing sehingga cacing tidak nyaman dengan air itu. Kalau bisa tempat budidayanya tidak menyerap air,” jelasnya.

    Untuk pakan atau media hidup, ia menjelaskan, dapat berasal dari limbah rumah tangga, rumah makan, pertanian, peternakan dan bahan organik lainnya. Media hidup cacing disarankan bukan dari bahan yang tajam, berduri, berbulu, asam, pedas, mengandung minyak maupun bahan kimia berbahaya. Sebelum diberikan, media tersebut dianjurkan untuk dicacah terlebih dahulu dan sedikit dilembabkan tetapi tidak sampai basah.

    Bibit cacing tanah dapat diperoleh dengan cara mencari di kebun atau tumpukan sampah atau kotoran ternak maupun membeli dari peternak cacing. Bibit cacing sebaiknya diperoleh dari beberapa tempat dan berbagai ukuran.

    Selama budidaya, disarankan untuk melakukan perawatan dengan cara mengaduk media dua minggu sekali agar aerasi media terjaga. Apabila media telah berubah warna menjadi hitam, media bisa dipecah dan ditambahkan dengan media baru.

    “Jangan lupa senantiasa mengecek kelembaban dan pH media. Kalau media terlalu asam, cacing banyak muncul di permukaan media dan aktif bergerak. Sementara kalau media terlalu basa, cacing akan muncul di permukaan tetapi tidak banyak bergerak, berwarna pucat dan kurus,” jelasnya.

    Kegiatan panen cacing tanah dapat dilakukan apabila media telah matang. Tanda media matang adalah warna menjadi coklat kehitaman, teksturnya gembur seperti tanah, bentuknya sudah berbeda dari media awal dan umumnya pH sekitar 7. Untuk panen media atau vermikompos, disarankan supaya media bersih dari cacing maupun kokonnya. Media tersebut selanjutnya dikeringanginkan agar kering, bila perlu media disaring. (ipb.ac.id)

  • Dosen IPB University: Swasembada Daging Sapi 2026 Masih Mustahil Terwujud

    Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Peternakan (BEM Fapet) IPB University kembali menghadirkan kegiatan Diskusi Kandang dengan tema “Swasembada Daging 2026: Menjadi Nyata atau Hanya Rencana?"  Diskusi yang dilaksanakan pada (4/11) ini menghadirkan Prof Dr Muladno, Guru Besar IPB University dari Fakultas Peternakan.

    Dalam paparannya, Prof Muladno berharap kegiatan tersebut tidak hanya berakhir sebagai diskusi semata namun juga  dapat terwujud aksi nyata yang dapat memberikan kontribusi dan kritisi terhadap program-program pemerintah yang berkaitan dengan swasembada daging.  Ia juga mengatakan pemerintah harus mencermati landasan hukum yang dipakai dalam mencapai swasembada daging.

    Menurutnya, selama ini Indonesia telah mengimpor daging hingga ratusan ribu ton, namun kebutuhan masyarakat masih belum terpenuhi. Sementara, posisi Indonesia saat ini masih jauh dari angan-angan swasembada daging yang ditargetkan terwujud di tahun 2026. Prof Muladno juga menjelaskan, sejak kemerdekaan hingga saat ini, rasio jumlah sapi terhadap jumlah penduduk hanya meningkat 1,05 persen.

    Dengan angka tersebut, ia mengatakan bahwa mustahil apabila Indonesia ingin mencapai swasembada daging di tahun 2026. Lebih lanjut ia menandaskan, swasembada daging yang dikelola oleh peternak lokal di jaman kemerdekaan dinilai lebih baik meskipun tanpa ada campur tangan pemerintah.

    “Kini, peternak lokal sering tidak diperhatikan bahkan di saat kebutuhan pasokan daging meningkat. Pemerintah menggeser potensi perkembangan bisnis daging sapi kepada pihak luar dengan jalan impor sapi dari Australia, bukan pada peternak lokal,” kata Prof Muladno. Ia menilai, pemerintah harus mulai berorientasi pada bisnis dengan penggunaan regulasi yang kondusif sehingga peternak lokal akan merasa nyaman.

    Sementara, Kepala Sub Direktorat Standarisasi Mutu Ternak Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian RI, M Imron turut menanggapi pernyataan Prof Muladno. “Sangat sulit bagi pemerintah untuk menyusun regulasi dari hulu ke hilir yang dapat memuaskan tiap stakeholder. Namun begitu, impian swasembada daging 2026 tetap akan didorong melalui kebijakan pengembangan sapi potong,” katanya.

    Ia menegaskan, dengan grand design pengembangan sapi 2026, pemerintah menargetkan populasi sapi di Indonesia akan mencapai angka 33 juta. Percepatan peningkatan rasio populasi sapi juga didorong dengan program kinerja Sikomandan yang baru-baru ini diluncurkan.

    Selain itu, intervensi terbaru berupa program 1000 Desa Sapi 2020 melalui pemberian indukan dan pengadaan sapi juga dilakukan untuk pengelolaan peternakan yang lebih komersial. Namun demikian, pendekatan kooperatif dengan orientasi keuntungan tersebut belum sempat diketuk palu oleh DPR.  

    Ia juga mengatakan, perlu dukungan rakyat terutama kaum milenial. "Kaum milenial diharapkan mampu membungkus peternakan yang selama ini dikelola secara sederhana di level rakyat yang hanya 2-3 ekor, dengan bungkus-bungkus teknologi yang baru, dengan pemikiran yang sekarang mungkin bisa lebih menarik dan menguntungkan,” jelasnya.

    Di sisi lain, Teguh Boediyana, Ketua Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSI) menegaskan bahwa swasembada daging 2026 sulit untuk diwujudkan. Menurutnya, roadmap yang dibentuk oleh pemerintah tidak masuk akal dan masih berdasarkan pada asumsi dan data-data yang tidak akurat.

    “Program swasembada daging  sapi sejak tahun 2005 hingga saat ini tidak memberikan hasil yang diinginkan. Di tahun 2026, walaupun Indonesia berencana mengimpor indukan hingga  2 juta ekor sapi, dinilai tetap tidak akan mencapai swasembada daging. Pembuatan roadmad seharusnya berangkat dari data populasi dan produksi sapi yang faktual bukan data yang menjerumuskan,” sebutnya (ipb.ac.id)

  • Dosen Mengabdi IPB University Gelar Pencegahan Zoonosis dan Pelatihan Budidaya Ayam Kampung di Sinarsari

    Dalam rangka Stasiun Lapang Agrokreatif (SLAK) program Dosen Mengabdi  tahun 2019, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University mengirimkan dua dosen ke Desa Sinarsari, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, (22/11). Program Dosen Mengabdi merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bagi dosen non Guru Besar dan Dosen Guru Besar. Salah satu tujuan dosen mengabdi adalah mendorong dan memfasilitasi dosen dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

    Sosialisasi dilaksanakan di Kantor Desa Sinarsari dengan dua narasumber yaitu Dr Sri Murtini  dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB University dan Dr Sri Darwati dari Fakultas Peternakan (Fapet). Sosialisasi dihadiri sebanyak 40 peserta dari Desa Sinarsari dan sekitarnya. Peserta yang hadir merupakan tokoh masyarakat, peternak ayam kampung, anggota masyarakat, dan masyarakat umum.

    Dr Sri Murtini menyampaikan tentang pencegahan zoonosis untuk mewujudkan keluarga sehat melalui Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). “Perilaku hidup bersih dan sehat adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan,” tuturnya.

    Salah satu jenis zoonosis yang disampaikan adalah penularan cacing dari hewan ke manusia. Penularan cacing dari hewan ke manusia dapat secara langsung tidak sengaja seperti tertelan telurnya dan melalui media makanan seperti sayuran yang terkontaminasi telur atau larva cacing.

  • Dosen Mengabdi IPB University Tingkatkan Semangat Peternak Kelinci Bogor

    Kegiatan Dosen Mengabdi IPB University kembali hadir menyapa masyarakat. Kali ini, para peternak dan pecinta kelinci dari berbagai wilayah Bogor dan sekitarnya mendapatkan ilmu mengenai budidaya kelinci dari dua orang narasumber yang berasal dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, IPB University. Acara yang digelar oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) dan bertemakan  "ASUH Kelinci Kita" ini digelar di Ruang Sidang Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3), Kampus Baranangsiang, Bogor (14/12).

    Kegiatan bimbingan teknis (bimtek) ini dihadiri oleh 30 peserta yang mayoritas merupakan para peternak kelinci. Hadir sebagai salah satu narasumber, Dr Ir Henny Nuraini, MSi membawakan materi tentang "Sertifikasi Halal pada Industri Peternakan Kelinci" dan "Teknik Pemotongan yang ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal)".

    Dr Henny memaparkan bahwa daging kelinci memiliki banyak keunggulan jika dibandingkan dengan daging dari jenis ternak lain. Daging kelinci memiliki kadar protein lebih tinggi, memiliki kadar lemak, kolesterol dan garam lebih rendah serta mengandung senyawa kitotefin yang disinyalir merupakan obat dari penyakit asma. Namun masyarakat di Indonesia belum begitu awam dengan jenis daging yang satu ini. Salah satu penyebab kurang minatnya masyarakat Indonesia untuk mengkonsumsi daging kelinci adalah terkait dengan status kehalalan dagingnya.

    Pada bimtek ini, para peserta diedukasi mengenai standar penentuan kehalalan suatu makanan, khususnya daging. Selain mengedukasi bagaimana teknik pemotongan kelinci yang benar, konsep ASUH ini sendiri merupakan suatu standar kualitas daging kelinci nantinya.  “Penerapan standar Aman, Sehat, Utuh, dan Halal ini akan semakin membuat masyarakat lebih yakin untuk mengkonsumsi daging kelinci karena kualitasnya akan lebih terjamin,” ujarnya.

    Sementara itu, Dr Ir Komariah, MSi menyampaikan materi terkait "Teknologi Pengawetan dan Penyamakan Kulit". Menurutnya selama ini para peternak kelinci memang lebih memfokuskan untuk menghasilkan produk berupa daging  beserta olahannya. Padahal, kulit dari kelinci pun akan memiliki nilai tambah yang menarik jika dikelola secara tepat. Selain dijadikan bahan dasar pada Industri pembuatan tas, sepatu, ataupun jaket, kulit kelinci yang sedikit baret tampilannya tetap dapat dimanfaatkan untuk diolah menjadi kerupuk kulit atau krecek untuk dikonsumsi. Hal ini pun termasuk ke dalam upaya pengurangan limbah hasil produksi.

    Kegiatan ini pun turut menjadi wadah penyampaian aspirasi para penggiat usaha kelinci terhadap pemerintah. Turut hadir sebagai salah satu partisipan, drh Patriantariksina Randusari, MSi yang berasal dari Dinas Pertanian Kota Bogor. Menurutnya kegiatan seperti ini dapat dijadikan agenda rutin. Dengan adanya kegiatan seperti ini, industri kelinci akan semakin dikenal di kalangan masyarakat luas dan pemerintah.

    “Saya menghimbau agar wacana-wacana bagus yang hadir di sini dapat ditindaklanjuti, khususnya untuk rumah potong kelinci. Semoga peternakan kelinci di Indonesia akan terus berkembang dan maju menjadi sebuah industri yang besar, layaknya industri dari berbagai ternak seperti ayam dan sapi. Dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak agar usaha peternakan kelinci dapat menjadi industri besar,” ujarnya.

    Sementara itu, Ahmad Syahril, salah satu peserta yang berasal dari komunitas Bogor Rabbit Center mengatakan bahwa tanpa adanya dukungan dari pemerintah, peternak seperti mereka akan sulit sekali maju.(ipb.ac.id)

  • Dr Afton Atabany Berikan Pandangan Agar Swasembada Daging 2026 Tercapai

    Dosen Fakultas Peternakan IPB University, Dr Afton Atabany menjadi salah satu narasumber pada Forum Dialog Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), (29/3). Dalam kegiatan yang mengangkat tema “Mahalnya Harga Daging Sapi dan Kerbau, Apa Solusinya?” tersebut, Dr Afton memberikan pandangan terhadap fenomena kenaikan harga daging sapi dan kerbau.  Dalam paparannya, Dr Afton memberikan skenario solusi jangka pendek dan panjang untuk menjadi masukan bagi keputusan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

    “Skenario untuk jangka pendek ialah pertama sapi reconditioning (penambahan biaya), maksudnya datang sapi dan dipelihara untuk pemulihan maka menambah biaya, kedua mengurangi penyusutan daging dalam transportasi (penyusutan bisa mencapai 30 persen) dan lakukan penggemukan di daerah sumber ternak. Terakhir tidak ada transportasi ternak hidup, jadi sapi atau ternak yang dikirim ke kota/konsumen sudah dalam bentuk daging beku. Jadi di sini diperlukan edukasi kepada konsumen khususnya ibu rumah tangga, bahwa daging beku itu sehat,” tuturnya.

    Solusi jangka panjang adalah “Breeding is Leading”. Menurutnya, jika Indonesia tidak mempersiapkan industri pembiakan sapi potong, maka akan selamanya tergantung pasokan daging dari luar negeri. Kekuatan breeding tidak hanya akan memperkokoh industri peternakan tetapi juga memperkuat sektor lainnya.

    Menurutnya, program yang bisa dilakukan dalam breeding  di antaranya agribisnis (pola kemitraan), sistem produksi (teknologi terapan yang proven), pasar (kerjasama supplier), cross breed Sapi Bali atau lokal dengan Sapi Angus, Limmosin dan Simmental, penyediaan pakan (integrasi), dan pasar (kerjasama supplier).

    “Solusi yang dapat dilakukan saat ini, jangka pendek dan jangka panjang, yang pertama menghadapi Idul Fitri, melakukan impor daging beku dari luar negeri atau dalam negeri. Kedua melibatkan pengusaha, koperasi dan asosiasi. Ketiga melakukan breeding sapi lokal atau sapi silangan dengan pola intensifikasi dan ekstensifikasi terintegrasi dengan perkebunan, kehutanan dan pertanian,” lanjutnya.

    Menurutnya Indonesia bisa mencapai swasembada daging pada tahun 2026 jika ada kenaikan (produksi) empat persen per-tahun, dengan populasi sapi sebanyak 37 juta ekor. Hal ini harus diimbangi dengan peningkatan jumlah peternak di Indonesia, salah satu caranya dengan memfasilitasi lulusan peternakan untuk memelihara 100 ekor, juga diberi insentif dan lainnya. Selain itu kelahiran ternak harus mencapai 70 persen dan kematian induk sekitar 30 persen.

    Selain Dr afton, kegiatan ini juga menghadirkan Luluk Nur Hamidah selaku Anggota Komisi IV DPR RI, Joni Liano dari Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (GAPUSPINDO), Harry Warganegara selaku Direktur Utama PT. Berdikari (persero), Ishana Mahes selaku Asosiasi Industri Pengolahan Daging Indonesia (NAMPA) dan Ir Ahmad Hadi selaku Asosiasi Distributor Daging Indonesia (ipb.ac.id)

  • Dr Anuraga Berhasil Kurangi Produktivitas Gas Metan di Bidang Peternakan dengan Memanfaatkan Kayu Akasia

    Pemanasan global membuat suhu bumi semakin meningkat. Kondisi ini  menyebabkan penurunan produktivitas dari sektor pertanian dan peternakan. Jika terus dibiarkan, pemanasan global akan mengancam food security. Namun di sisi lain, sektor peternakan juga ikut menyumbang dalam proses pemanasn global. “Emisi gas rumah kaca sektor pertanian menyumbang 24 persen dari total gas rumah kaca. Sementara itu Gas Metana dari peternakan saja sudah menyumbang sebanyak 16 persen. Peternakan penyumbang nomor dua emisi gas rumah kaca. Akumulasi gas metan terus meningkat secara drastis,” ungkap Dr Anuraga Jayanegara dalam Webinar Potensi Green Bisnis dalam Dunia Peternakan yang diselanggarakan oleh Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Terbuka (10/4).

    Dr Anuraga merupakan Pakar Teknologi Pakan Ternak sekaligus Ketua Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University. Menurutnya isu peternakan yang paling utama adalah produktivitas pangan yang memadai. Kedua adalah kualitas dari produk peternakan. Bukan hanya mencukupi secara kualitas tapi kuantitas.

    “Ketiga adalah isu lingkungan yang berkaitan dengan emisi metan. Isu lingkungan ini yang banyak dibicarakan dan perlu dicari solusinya. Selain menyebabkan global warming, gas metan ini menyebabkan ternak kehilangan energi sebanyak empat sampai 16 persen. Jika proses ini bisa dikurangi maka produktivitas ternak bisa ditingkatkan,” ujarnya.

    Menurutnya, ada tiga tahap penting yang bisa mengurangi produksi gas metana di bidang peternakan. Yakni menurunkan produksi hidrogen. Lalu dicari alternatif pengganti hidrogen. Dan yang terakhir adalah menghambat metanogen sebagai mikroba yang memproduksi gas metana.

    “Mitigasi emisi ini pertama adalah menggunakan zat adaptif alami yaitu polifenol. Zat ini berfungsi sebagai anti mirkoba yang menghambat metanogen. Kami sudah melakukan penelitian dari tahun 2008 hingga sekarang terkait hal ini. Hasilnya adalah gas metan akan berkurang saat pakan dicampurkan dengan polifenol,” ungkap Dr Anuraga.

    Ia menjelaskan bahwa penambahan zat polifenol memberikan efek yang sinergitis. Saat gas metan turun ternyata akan menambah nilai ternak, baik secara kualitas dan kuantitas. Keuntungan pertama adalah berat badan naik sekitar 0,35 kilogram (kg) per ekor per hari. Penggunaan zat polifenol juga menambah keuntungan peternak sebanyak 500 rupiah per kilogram pakan.

    Ekstrak polifenol menambah kualitas produk peternakan. Pengurangan gas metan dapat mengurangi asam lemak jenuh yang berbahaya bagi kesehatan. Daging ternak akan lebih banyak mengandung lemak tidak jenuh yang bagus untuk kesehatan. Kualitas daging yang dihasilkan peternak akan semakin baik dengan inovasi ini.

    Produk inovasi untuk membuat ekstrak polifenol ini tidak sulit untuk diproduksi. Salah satunya  adalah dengan memanfaatkan limbah pengolahan kulit kayu. Limbah ini mengandung polifenol yang tinggi, salah satu yang paling bagus adalah kayu akasia.

    Kayu ini diekstrak dari dari potongan limbah kayu. Caranya dengan direbus dalam suhu tinggi dan diambil airnya. Selanjutnya ditepungkan dan diekstrak sampai siap digunakan  dalam bentuk cair.

    “Kami juga terus berupaya agar inovasi ini bisa sampai di masyarakat. Salah satunya adalah melakukan diseminasi inovasi bekerja sama dengan bebera lembaga industri peternakan. Selain itu kami juga mengikuti kegiatan expo pengenalan inovasi–inovasi teknologi peternakan. Perlu upaya upaya kolaboratif agar inovasi ini bisa terus dikembangkan dan bisa dimplementasikan di masyarakat (ipb.ac.id)

  • Dr Epi Taufik: Ayo Minum Susu Setiap Hari

    Selama ini kita semua mengenal susu sebagai minuman yang sangat menyehatkan karena mengandung sejumlah besar nutrisi yang diperlukan oleh tubuh, seperti vitamin, mineral, protein, lemak, dan karbohidrat.  Susu adalah sekresi kelenjar ambing hewan mamalia atau dalam hal ini lebih spesifik lagi sapi atau ternak perah lain (kambing, unta, kerbau) yang sehat.

    Dr Epi Taufik, SPt, MVPH, MSi, Kepala Divisi Teknologi Hasil Ternak, Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, IPB University uraikan manfaat konsumsi susu dan produk-produk olahannya.

    Secara taksonomi, manusia termasuk dalam kelas mamalia yaitu ditandai dengan adanya produksi susu dari ibu (air susu ibu tentu merupakan susu terbaik untuk bayi karena dapat merangsang pelepasan hormon), kekebalan tubuh, kesehatan mental plus ikatan ibu dan anak. Namun demikian, ketika bayi mulai lepas sapih, kemudian menjadi balita lalu tumbuh dewasa, maka kebutuhan akan susu dapat dipenuhi dari ternak perah.

    "Di antara ternak perah, susu asal sapi perah (termasuk produk-produk olahannya) merupakan yang terbanyak dikonsumsi manusia, diikuti dengan susu kambing, kerbau, domba, unta. Bahkan di beberapa daerah susu keledai, kuda dan rusa juga dikonsumsi oleh manusia," katanya.

    Lantas untuk apa kita masih harus minum susu, termasuk produk-produk olahannya? Dalam konteks pola makan yang beragam dan berimbang yang telah disinggung sebelumnya, di zaman dulu dikenal konsep 4 Sehat 5 Sempurna. Kesempurnaan tadi itu adalah dipenuhi dengan minum susu. Oleh karena itu minum susu adalah seperti meminum suplemen nutrisi cair yang dibutuhkan dalam pola makan yang beragam dan berimbang tadi.

    Para ahli nutrisi pun merekomendasikan untuk meminum susu 1-3 porsi per hari. Satu porsi susu setara dengan sekitar 200 mililiter susu cair. Selain komponen makronutrien seperti protein (kasein dan whey), karbohidrat (gula susu sama dengan laktosa) dan lemak, susu juga mengandung banyak komponen mikronutrien.  Susu dianggap salah satu sumber protein yang terbaik selain telur.  

  • Dr Komariah: Daging Kerbau Perkuat Sistem Kekebalan Tubuh

    Pernahkah Anda mengkonsumsi daging kerbau? Ternyata ada banyak manfaat kesehatan bila anda mengkonsumsi daging kerbau. Daging kerbau kaya akan nutrisi terutama kandungan protein.

    Dr Ir Komariah, MSi, Dosen Divisi Produksi Ternak Daging, Kerja dan Aneka Ternak Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB University ungkap fakta kandungan daging kerbau yang baik untuk kesehatan. Menurutnya daging kerbau mengandung protein tinggi untuk pertumbuhan sel bagi anak-anak dan dewasa, menjaga sistem peredaran darah dan juga dapat meningkatkan massa otot. Selain itu, konsumsi daging kerbau ternyata dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh karena mengandung mineral zink (Zn),” ujarnya.

    Tidak hanya itu, daging kerbau juga mengandung Asam Lemak Linoleat yang dibutuhkan tubuh dan mengandung vitamin B1 dan B12 yang bagus untuk pertumbuhan otak janis dan kesehatan ibu hamil. Untuk itu Dr Komariah menghimbau agar masyarakat jangan sampai melupakan daging kerbau untuk konsumsi protein hewani kita. Nah jika anda berada di daerah penghasil daging kerbau jangan ragu untuk mengkonsumsi daging kerbau. "Mari konsumsi kerbau ternak lokal Indonesia," ucapnya.(ipb.ac.id)

  • Dr. Idat Galih Permana Dekan Baru Fakultas Peternakan IPB

    Dr. Ir. Idat Galih Permana, M.ScAgr  telah resmi dilantik menjadi dekan baru Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, menggantikan pejabat lama Prof Dr. Ir. Sumiati, M.Sc  periode 2021 hingga 2025. Pelantikan dilaksanakan pada hari Jumat, 29-01-2021 WIB di Gedung Andi Hakim Nasution, IPB Darmaga Bogor.

    Dr. Idat lahir di Serang, 6 Mei 1967,  menyelesaikan pendidikan Strata 1 di Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor pada tahun 1990. Pendidikan S2 di Goettingen University, Germany pada tahun 1995 dan S3-nya beliau selesaikan di Universitas yang sama dengan strata S2-nya, pada tahun 2002.  Beliau memiliki keahlian di bidang Nutrisi Ternak.  Dengan keahlian tersebut, beliau memiliki peran penting bagi kemajuan bidang peternakan di Indonesia.

    Beliau juga memiliki banyak  pengalaman pada bidang manajemen perguruan tinggi dan organisasi, diantaranya: Koordinator Program Hibah Kompetitif  Due-Like (2004-2006), Sekretaris Departemen INTP, Fapet IPB (2004-2007),  Ketua Departemen INTP, Fapet IPB  (2007-2011 dan 2011-2013),Direktur Integrasi Data dan Sistem Informasi IPB (2013-2018), Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan  (2020-2021).

    Rencana Program kerja yang akan dijalankan diantaranya adalah Peningkatan Mutu pendidikan berskala internasional melalui penerapan Smart Technology, Peningkatan mutu penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi penguatan inovasi, peningkatan jumlah dan mutu publikasi nasional dan internasional melalui kerjasama dan pengembangan keilmuan lintas disiplin, peningkatan kualitas SDM (dosen dan tendik) dalam penguasaan keahlian baru, Peningkatan pembinaan dan prestasi kemahasiswaan, peningkatam kapasistas dan penguatan manajemen, dan perluasan jejaring kerjasama dan peningkatan peran fakultas di masyarakat.

     Selamat menjalankan tugas Pak Idat, Semoga Amanah…

     

  • Dr. Rudi Afnan Berbagi Tips Tingkatkan Imunitas dengan Konsumsi Protein Hewani

    Virus Corona telah menginfeksi jutaan orang di seluruh dunia. Memperkuat sistem imun tubuh merupakan salah satu cara yang  bisa dilakukan untuk menangkal penularan virus ini. Tidak hanya terhadap COVID-19, sistem imun tubuh yang kuat juga dapat melindungi tubuh dari berbagai penyakit lainnya.

    Untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona, salah satunya adalah dengan melakukan Work From Home (WFH) atau bekerja dari rumah. Supaya mengoptimalkan pencegahan terinfeksi virus COVID-19, tidak hanya upaya dari luar yang perlu dilakukan, upaya dari dalam juga perlu ditingkatkan. Diantaranya dengan konsumsi protein hewani.

    Peneliti di Fakultas Peternakan IPB University, Dr Rudi Afnan, SPt, MSc mengatakan salah satu caranya adalah mengonsumsi berbagai jenis makanan sehat yang meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Kerja sistem imunitas tubuh tergantung pada pola hidup yang dilakukan. Karena itu, asupan makanan penuh protein hewani sangat disarankan. Hal tersebut dilakukan semata-mata untuk membuat kerja imunitas tubuh tetap terjaga dengan baik dan memiliki kerja yang optimal.

    "Konsumsi makanan bergizi yang baik sangat penting dalam membentuk sistem imun tubuh yang kuat. Dengan gizi yang baik, maka sistem kekebalan tubuh akan lebih kuat sehingga bisa memberikan perlindungan ekstra bagi tubuh dari berbagai virus penyakit termasuk virus COVID-19," ungkap Wakil Dekan Bidang Sumberdaya, Pengembangan dan Kerjasama  Fakultas Peternakan IPB University ini.
             
    Menurutnya ada beberapa rekomendasi jenis makanan penunjang kekebalan tubuh yang mengandung gizi tinggi dan bisa meningkatkan kekebalan tubuh. Di antaranya, kandungan protein dari telur ayam dan bebek, susu full cream, daging sapi dan daging ayam.

    "Kandungan gizi yang ada dalam protein hewani tersebut yaitu asam amino esensial, protein, lemak, mineral (kalsium, besi, folat, fosgor, yodium dan selenium). Konsumsi makanan yang kaya akan asupan protein hewani yang cukup, dapat menjaga imunitas tubuh dari virus COVID-19 yang sangat membahayakan kesehatan," ujarnya.

    Dr Rudi menambahkan manfaat protein hewani bagi tubuh adalah dapat meningkatkan daya tanan tubuh, menyediakan asam amino esensial, membangun jaringan tubuh dan pembentukan darah, mendukung kerja sistem syaraf dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan. Mengkonsumsi protein hewani menjadi cara memperkuat sistem imun untuk mencegah virus COVID-19.

    “Pada dasarnya tubuh manusia memiliki sistem imun untuk melawan virus dan bakteri penyebab penyakit. Namun ada hal-hal yang dapat melemahkan sistem imun atau daya tahan tubuh seseorang. Antara lain penuaan, kurang gizi, penyakit, bahkan obat-obatan tertentu. Oleh karena itu, fungsi sistem imun perlu senantiasa dijaga agar daya tahan tubuh kuat diantaranya  dengan konsumsi protein hewani. (ipb.ac.id)

  • Dr. Suryahadi, Membawa Inovasi Langsung ke Tangan Petani

    Dr. Suryahadi merupakan salah satu dosen yang mengabdikan hidupnya meneliti dan mengabdi untuk masyarakat di bidang peternakan. Dr. Suryahadi  merupakan salah satu di Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB) dan juga menjadi nahkoda di Pusat Studi Hewan Tropika (CENTRAS) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB.

    Pria yang akrab dipanggil Bapak Surya  ini meyakini bahwa inovasi hasil penelitian selain untuk pendidikan harus digunakan untuk pengabdian. “Inovasi harus sampai di tangan rakyat. Sivitas perguruan tinggi harus bisa menjalankan Tri DharmaPerguruan Tinggi secara terintegrasi,” ujarnya.

    Sosok kelahiran Mataram ini tumbuh besar di kalangan keluarga pendidik. Karena prestasinya yang baik dari SD hingga SMA, ia diterima di IPB melalui jalur undangan. Selanjutnya ia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi di Perancis, menamatkan jenjang S2 dan S3-nya di Universite des Sciences and Technique,  Perancis.

    “Saya sempat kesulitan mengikuti kuliah awal di IPB, karena banyak materi yang dasarnya tidak didapatkan di SMA. Tapi setelah masuk Fakultas Peternakan, dengan keyakinan dan ketekunan saya bisa mengimbangi yang lain, bahkan mendapat beasiswa ke Perancis,” tuturnya.

    Pada masanya ia adalah lulusan S3 termuda di kalangan dosen IPB. Saat menjadi dosen sekalipun ia aktif membuat inovasi. Beberapa inovasi bahkan masuk dalam 104 Inovasi Indonesia paling prospektif pada tahun 2015. Pada tahun 2000 ia menerima penghargaan Satyalancana Karya Satya 20 Tahun oleh pemerintah Indonesia atas dedikasinya sebagai abdi negara.

    Saat ini ia memimpin Pusat Studi Hewan Tropika (CENTRAS) LPPM IPB. Bersama lembaga ini ia membuat inovasi-inovasi baru di bidang peternakan dan menyebarluaskannya di masyarakat petani. Berbagai inovasi tersebut misalnya Hi-Fer+, Feed Block Suplemen (FBS), Suplemen Kaya Nutrien (SKN), Wafer Komplit Ternak, Palatibility Enhancer, dan masih banyak yang lainya.

    Berbagai inovasi peternakan didifusikan melalui program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan hampir di seluruh daerah  di Indonesia. Tidak jarang ia mengurangi jatah waktu untuk keluarga karena harus berkeliling Indonesia menjalankan program pemberdayaan. Hal ini adalah wujud komitmen beliau untuk membawa inovasi dari IPB kepada masyarakat.

    Dalam mewujudkan misinya, ia mengajak berbagai pihak untuk bekerjasama. Setiap program pemberdayaan selalu melibatkan pemerintah, aparat desa, perusahaan swasta, dan mahasiswa. Sosok ramah ini banyak melibatkan mahasiswanya dalam kegiatan penelitian dan pengabdian. Ia percaya bahwa penting mengajak mahasiswa untuk belajar, karena suatu hari mereka akan menjadi rekannya dalam membangun pertanian Indonesia.(ipb.ac.id)

  • Dr. Yuni Cahya Endrawati Jelaskan Eksotika Sutra untuk Kosmetik

    Manusia telah mengenal sutra sejak 3600 BCE atau abad 36 Sebelum Masehi (SM). Bukti sejarah mencatat bahwa ditemukan sisa peradaban jaman Neolithic dan potongan kain sutra dari sebuah makam di Hemadu, Provinsi Zhejiang, China. Sejarawan juga mencatat, pemanfaatan sutra dengan cara diolah menjadi kain ditemukan sejak abad 27 SM di Qianshanyang, Provinsi Zheijiang.

    “Walaupun sutra alami sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari industri fashion, bahkan sudah merambah pada budaya batik kita, tetapi tidak banyak di antara kita yang menjadi penggemar fanatik sutra, yang mengetahui asal usul serat sutra ini dihasilkan,” ungkap Dr Yuni Cahya Endrawati.

    Dalam upaya  memperkenalkan dan mengembangkan serat sutra alami, dosen IPB University dari Fakultas Peternakan IPB University tersebut telah melakukan berbagai penelitian. Beberapa penelitiannya adalah upaya meningkatkan manfaat serat sutra. Peningkatan ini membuat serat sutra tidak hanya bisa digunakan untuk bahan tekstil, melainkan juga dapat menjadi produk material dan industri kecantikan.

    Dr Yuni pun menerangkan, berdasarkan jenis pakannya, ulat sutra alam secara umum terbagi dalam dua kelompok, yaitu ulat sutra yang pakannya berbasis mulberry dan non mulberry. Ulat sutra yang pakannya mulberry dikenal sebagai mulberry silkworm. Sedangkan ulat sutra yang pakannya selain mulberry dikenal dengan non mulberry silkworm.

    “Contoh dari mulberry silkworm adalah jenis Bombyx mori yang hanya memakan daun murbei. Di Indonesia jenis ulat ini dikenal sebagai ulat sutra murbei. Peran ulat sutra jenis ini sangat vital karena serat sutra yang dihasilkannya berkontribusi sekitar 90 persen dari kebutuhan sutra dunia,” ujarnya.

    Sementara, kelompok non muberry silkworm memiliki banyak ragam. Beberapa di antaranya adalah tasar silkworm, eri silkworm, muga silkworm, fagara silkworm, anaphe silkworm, coan silkworm, mussel silkworm, dan spider silkworm.  Keragaman ulat sutra jenis ini didasarkan pada sumber serat dan tipe seratnya.

    “Jenis ulat sutra non murbei lain yang ingin saya perkenalkan adalah sutra liar Cricula yang  merupakan ulat sutra yang sangat unik kokonnya,” terang Dr Yuni.

    Katanya, Kokon Cricula mempunyai pola pintal serat yang berlubang-lubang dan warnanya emas yang sangat memukau. Keunikan serat dan kokon Cricula ini membuat jenis ulat sutra ini dikenal sebagai  sutra emas.

    Ia pun menerangkan, pola pintal serat ulat jenis ini sangat unik dan berkaitan erat dengan  tingkah laku ulat pada saat membentuk kokon. Dalam pembentukan kokon ini untuk setiap lubang ulat menyusun seratnya dua  sampai tiga lapis serat, dan setiap lapis merupakan untaian ganda dari serat.

    Dalam industri fashion, tidak jarang serat sutra liar ini dipadukan dengan serat sutra murbei untuk menghasilkan kain sutra yang halus nan eksotik. Hal ini tentunya akan menambah nilai jual dan nilai seni dari kain sutra yang dihasilkan.

    “Selain serat sutra, serangga yang unik ini juga menghasilkan protein dan zat aktif yang menjadi tren baru dalam dunia perawatan kecantikan alami. Sebagai contoh, zat aktif yang diekstrak dari kokonnya sangat bermanfaat bagi  peremajaan kulit,” jelas Dr Yuni.

    Berdasarkan hasil penelitian yang telah ia lakukan, protein kokon mengandung material yang berfungsi mirip dengan Natural Moisturizing Factor (NMF) pada kulit manusia.

    Material tersebut merupakan asam amino serin, glisin dan treonin yang sangat baik dan bermanfaat bagi kulit kita. Kelembapan merupakan faktor kunci kesehatan kulit. “Oleh sebab itu protein dan zat aktif yang dikandung kokon sutra dapat  berfungsi sebagai pelembab alami penjaga kesehatan kulit dan meminimalisir permasalahan kulit kita,” jelasnya.

    Lebih lanjut Dr Yuni menerangkan, tidak banyak orang yang mengetahui bahwa hasil ikutan sutra yang berupa pupa dapat digunakan sebagai sumber protein baik bagi manusia maupun ternak.  Pupa mengandung protein kasar sekitar 48-60 persen dan 18 asam amino yang sangat baik untuk kesehatan seperti antioksidan, antiobesitas, antitumor dan yang terbaru sebagai immunoregulator (ipb.ac.id)

  • Duta Besar Indonesia untuk Singapura Ini Bagikan 10 Tips Bicara di Depan Publik

    Dalam upaya meningkatkan soft skill public speaking mahasiswanya, Fakultas Peternakan (Fapet) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fapet IPB University hadirkan Ir Suryopratomo, Duta Besar RI untuk Singapura. Alumni IPB University yang pernah menjabat sebagai Direktur Utama Metro TV (2017-2019) ini mengarahkan mahasiswa agar mulai membiasakan diri berbicara di depan publik.

    “Mulailah mengatasi ketakutan untuk tampil di depan umum. Untuk mengurangi rasa takut tersebut, ada sepuluh tips yang bisa saya bagikan. Yakni know the room, know the audience, know your material, relax, work from your personal brand (try the exercise), realize that people want you to succeed, don’t apologize, concentrate on the message not the medium, turn nervousness into positive energy dan nain experience,” ujarnya dalam Webinar Public Speaking and Communication Skill belum lama ini.

    Menurutnya, orang terbaik yang bisa dijadikan sebagai role model dalam bidang public speaking adalah Steve Jobs. Pikiran dan gagasannya dapat dijadikan jembatan untuk mewujudkan mimpi menjadi nyata. Public speaking yang baik adalah memvisualisasikan informasi yang diberikan ke dalam imajinasi pendengar, serta penggunaan suara perut yang membuat suara yang dikeluarkan menjadi lebih bulat.

    Sementara itu, Muhammad S Mujab, soft skill trainer menyampaikan bahwa public speaking adalah sesuatu hal yang harus di lakukan secara berulang. Beberapa kesalahan yang dilakukan oleh kebanyakan orang ialah kurangnya persiapan, ketakutan akan kesalahan, tidak mengetahui terkait info audiens, fokus kepada penampilan dan kurangnya pengalaman berbicara di depan umum. “Selain itu, persiapan waktu berbicara pun sangat penting untuk memberikan infoemasi secara jelas,” ujarnya (ipb.ac.id)

  • Eggsotist, Pasta Gigi Praktis Karya Mahasiswa Fakultas Peternakan IPB

    Berawal dari kesadaran pentingnya menggosok gigi dan kebutuhan kepraktisan, dua mahasiswa Program Studi Teknologi Hasil Ternak (THT) Fakultas Peternakan (Fapet) IPB angkatan 53, yaitu Ahmad Fauji dan Fiona Salfadila, menggabungkan kedua hal tersebut dengan menciptakan pasta gigi praktis yang langsung dimasukkan ke dalam mulut dan langsung dapat disikat menggunakan sikat gigi. Tanpa harus mengoleskannya pada sikat gigi terlebih dahulu. Pasta gigi yang terbuat dari kerabang atau cangkang telur dengan campuran susu ini dinamakan dengan Eggsotist.

    Menggosok gigi menggunakan Eggsotist dapat mengefisienkan waktu dan tenaga karena saat akan menyikat gigi tidak diperlukan adanya pergerakan membuka dan menutup kemasan pasta gigi, serta tanpa perlu mengoleskan pasta gigi ke sikat gigi. Eggsotist dapat menjadi salah satu solusi dalam permasalahan yang sering dijumpai, yaitu sering kali pasta gigi terjatuh saat kita mengoleskannya gigi ke sikat gigi.

    “Selain praktis dan efisien, Eggsotist juga menyehatkan karena mengandung berbagai bahan hasil peternakan seperti susu dan kerabang telur yang mengandung kalsium tinggi. Eggsotist pun tidak mengandung detergen, sehingga aman digunakan,” terang Fauji.

    Eggsotist telah membawa Fauji dan Fiona berhasil menorehkan prestasinya di kancah nasional. Fauji dan Fiona berhasil meraih Juara Dua dalam lomba  Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Fast Week 2018 yang diselenggarakan oleh Lembaga Kajian Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Andalas, (17-20/10). Kegiatan ini mengambil tema “Optimasi Peran Mahasiswa dalam Membangun Peternakan Berdaya Saing Industri”. “Awalnya memang tidak terlalu yakin menang, karena baru pertama kali mengikuti lomba karya tulis ilmiah, dan ditambah kami mendapat nomor urut pertama untuk presentasi. Selain itu, saingan kami berasal dari universitas ternama lain. Namun kami tetap berusaha untuk menampilkan yang terbaik,”ujar Fauji.

    Untuk kelajutan Eggsotist, Fauji mengatakan bahwa saat ini Eggsotist sedang disempurnakan formulanya. “Kami masih mencari beberapa bahan untuk antibakteri dan bahan yang dapat menghasilkan busa dari peternakan. Agar kelak Eggsotist dapat diproduksi,”tuturnya.(ipb.ac.id)

  • Faculty Day "Meet Cowboy 52"

     

    Faculty Day, kegiatan tahunan Fakultas Peternakan IPB resmi dibuka oleh Dekan Fakultas Peternakan IPB, pada hari Jumat, 2 September 2016.  Acara bertajuk Faculty day "Meet Cowboy 52", pada tahun ini dikhususkan bagi mahasiswa baru Fakultas Peternakan angkatan 52. Acara yang dipusatkan  di Auditorium Fakultas Peternakan ini berlangsung mulai pukul 06:00 - 17:40 WIB, dengan berbagai rangkaian kegiatan yang dilakukan. Kegiatan Meet Cowboy 52 diikuti sekitar 200 orang mahasiswa baru Fakultas Peternakan angkatan 52.

    Tujuan pelaksanaan kegiatan Meet Cowboy 52 ini adalah untuk memperkenalkan berbagai fasilitas serta sistem pendidikan di Fakultas Peternakan kepada mahasiswa baru angkatan 52, juga untuk menumbuhkan kecintaan dan kebanggaan terhadap fakultas dan departemen, meningkatkan rasa kebersamaan serta meningkatkan solidaritas untuk generasi peternakan yang berkualitas.

    Kegiatan Meet Cowboy 52 yang diselenggarakan BEM Fakultas Peternakan IPB ini, terdiri dari serangkaian kegiatan yang menarik diantaranya Perkenalan dosen, sharing alumni, outbond di lab kandang, tour di lab analisis, talkshow dengan mahasiswa berprestasi nasional dan internasional, serta berbagai acara unik dan kreatif lainnya.

    Pada sesi sharing alumni, beberapa pembicara dihadirkan, diantaranya dari Prof. Luki Abdullah dengan topik " membentuk karakter mahasiswa peternakan yang inovatif, aktif, dan prestatif. Selain itu Meet Cowboy menghadirkan Slamet Mulyadi, SP, MP, yang membagikan pengalamannya dalam berwirausaha, dengan topik "Menumbuhkan semangat dan jiwa berwirausaha di bidang peternakan".

    Acara ditutup pada pukul 17:30 WIB, didahului dengan Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan dan pembacaan nominasi.

  • Fakultas Peternakan adakan Pelatihan Character Building and Personal Branding

    Fakultas Peternakan IPB University bersama Himpunan Mahasiswa Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (HIMAPROTER) dan Himpunan Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak (HIMASITER) mengadakan Pelatihan Character Building and Personal Branding2020 melalui zoom meeting (Sabtu  17/10). Kegiatan untuk tahun ini mengusung tema Time to Change Your Life Using Your Skills.Selain memiliki tema yang bagus dan sesuai dengan keadaan mahasiswa millenial, dalam acara ini juga mengundang pembicara yang tidak kalah keren dan hebat. Yaitu terdapat Nadhifah Alliya Tsana seorang podcaster dan penulis buku best sellerNovel “Geez and Ann” yang lebih kerap disapa dengan RintikSedu, Adnan Fatron yang merupakan seorang trainer dan owner of mudainspiratif.co.id,serta Bela Arswendita yang merupakan seorang conten creatorsekaligus announcer of Radio Prambors.Pada pelatihan ini diikuti 380 peserta, yang dimana peserta ini berasal dari luar dan dalam mahasiswa IPB University.

    Peserta pun mengikuti pelatihan ini dengan antusias di setiap sesi setiap pembicara menyampaikan materinya. Di dalam materi yang disampaikan oleh Tsana mengenai bagaimana pentingnya kita selalu membangun dan membentuk karakter diri kita tanpa harus menjadi orang lain, tetapi tetap menjadi diri sendiri. Seperti pesan dari Anan Fatron yaitu tiga langkah hal yang harus dilakukan dalam membentuk karakter diri kita yaitu pertama tentukan karakter yang diinginkan, kedua yaitu miliki lingkungan yang sistematis dan mendukung dan yang ketiga yaitu lakukan berulang sampai menjadi kebiasaan. Sedangkan cara membangun karakter dari Bela yaitu selalu persiapkan diri kita mulai dari membangun skillkomunikasi untuk membangun,memperluas relasi, stay relevant, bicara di depan publik dan bangun brand kamu. Karena di setiap pekerjaan yang akan kita pilih tentunya diperlukan skillkomunikasi yang baik.

    Dengan adanya pelatihan character buildingdan Personal Brandingini diharapkan dapat menumbuhkan karakter dan skillyang baik pada peserta yang mengikuti. Selain itu terdapat rangkaian dari acara ini yaitu terdapat beberapa challengepembuatan video mengenai character buildingdan personal branding.

  • Fakultas Peternakan IPB IPB Gelar Webinar Green Campus Movement

    Fakultas Peternakan IPB University bekerjasama dengan BEM Fakultas Peternakan IPB menyelenggarakan kegiatan Webinar Green Campus Movementpada Minggu, 11 Oktober 2020 via Zoom Meeting.

    Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan memberikan pemahaman dan kesadaran kepada mahasiswa tentang pentingnya menjaga lingkungan terutama kawasan kampus hijau, memberikan kesadaran dalam penerapan kebiasaan-kebiasaan baik yang ramah lingkungan, dan meningkatkan peran aktif mahasiswa dalam mempromosikan dan mengedukasi masyarakat sekitar dalam pengelolaan lingkungan yang lebih baik.

    Sebagai pembicara pertama Dr. Sri Wahyuni selaku Direktur Perusahaan Biogas PT. Swen Inovasi Transfer menyampaikan tema “Peluang usaha generasi muda dalam pemanfaatan limbah (Re-cycle).” Sri Wahyuni menjelaskan peran biogas dalam manfaatkan limbah kotoran ternak sekaligus menghasilkan energi bersih.

    Sementara itu, Miss Earth Indonesia 2019, Chintia Kusuma Rani menyampaikan tema “Meningkatkan peran generasi milenial sebagai agen perubahan dalam upaya penyelamatan lingkungan”. Chintia mengajak para muda milenial untuk bersama-sama bertanggungjawab terhadap keselamatan lingkungan. “Semua itu harus berawal dari hati kita sendiri, jadi mau orang lain bilang apa kita ya tetap pada pendirian kita, sampah itu tanggung jawab kita, bukan orang lain” ujarnya.

    Senada dengan Cinthia, Abdul Ghofar selaku Co-coordinator dari Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) yang menyampakan tema “Green lifestyle sebagai bentuk usaha penyelamatan lingkungan". Perilaku individu yang dilakukan secara konsisten, maka akan menjadi teladan bagi orang lain. Jika individu-individu yang sadar bergabung, maka akan mendorong perubahan.

    Dengan telah diselenggarakannya acara Green campus movementini diharapkan mahasiswa yang mengikuti dapat memahami dan menyebar luaskan tentang gerakan peduli lingkungan agar berdampak lebih luas kedepannya.

  • Fakultas Peternakan IPB University Gelar Workshop Implementasi Problem Based Learning

    Fakultas Peternakan IPB University Gelar Workshop Implementasi Problem Based Learning di Program Studi Sarjana (16/03). Workshop ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu  Direktur Pengembangan Program dan Teknologi Pendidikan Ir. Lien Herlina, M.Sc, Kasubit Pengembangan Pembelajaran, dan Impplementasi PBL masing-masing oleh Prof. Dr. Ir. Yulin Lestari  dari Direktorat Pengembangan Program dan Teknologi Pendidikan serta Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Teknologi Pertanian Dr. Ir. Feri Kusnandar, M.Sc.

    Hadir pula dalam acara tersebut Dekan Fakultas Peternakan Dr. Ir. Idat Galih. Permana, M. Sc.Agr yang dalam sambutannya mengatakan bahwa kita memerlukan sekali pencerahan tentang bagaiman metode pembelajaran PBL. “Setahun ini kita sudah menyusun kurikulum K2020 dan sejak semester awal kemarin kita sudah mengimplementasikan khususnya mulai dari Program PPKU” ujarnya. Lebih lanjut beliau menyampaikan harapannya kepada para dosen dan PLP yang hadir dalam workshop tersebut agar selepas acara ini berlangsung untuk dapat menyiapkan semacam SAP atau RPS dimana nanti ke depan kita sudah bisa mengimplementasikan yang dikawal oleh Prof. Irma Isnafia Arief, S.Pt, M.Si, selaku Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Peternakan IPB University.

    Pemaparan pertama yaitu Konsep Problem Based Learning (PBL) oleh Ir. Lien Herlina, M.Sc  yang secara singkat apa saja yang sudah dipakai di mata kuliah dengan konsep PBL yang sudah berjalan dari semester yang lalu sudah pakai PBL dengan Project Based Learning(PjBL), Case Study, dan sebagainya.  “PBL itu sebetulnya membutuhkan kreativitas, jadi kalau hanya membaca definisi saja saja sama seluruh dunia juga dalam ilmu pendidikan seperti itu” tegasnya.

    Materi selanjutnya yaitu Implementasi PBL masing-masing disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Yulin Lestari yang memberikan beberapa contoh implementasi PBL berupa presentasi kuliah berupa video, beliau juga menjelaskan mengenai waktu, metode,sasaran serta  tujuan yang didapat oleh mahasiswa dari kegiatan tersebut. Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Teknologi Pertanian Dr. Ir. Feri Kusnandar, M.Sc turut memaparkan implementasi PBL dalam mata kuliah dengan studi kasus yang menarik seputar food industry serta menambahkan keunggulan dari implementasi PBL  “Mahasiswa bisa aktif di kelas karena bobot nilai cukup tinggi, bukan hanya mengandalkan nilai dari UTS dan UAS” jelasnya.

    Tindak lanjut implementasi disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Peternakan IPB University Prof. Dr. Irma Isnafia Arief, S.Pt, M.Si dalam workshop yang berlangsung selama lebih dari dua jam ini. “Dalam waktu dekat ini kami akan mengajak Departemen, Komdik untuk memilih dulu mata kuliah yang siap untuk melakukan PBL ini dengan beberapa tahapan” ujarnya sebelum mengakhiri acara.

  • Fakultas Peternakan IPB University Jalin Kerjasama dengan GrainPro Philippines Inc.

    Dalam rangka kolaborasi yang meliputi penelitian, pengajaran dan publikasi, Fakultas Peternakan IPB University tandatangani Memorandum of Agreement (MoA) dengan GrainPro Philippines Inc.  Penandatanganan MoA dilakukan oleh Dekan Fakultas Peternakan Dr. Ir. Idat Galih. Permana, M. Sc.Agr dan Engr. Ma. Theresa A. Enriquez Division Manager for Asia Pacific

    GRAINPRO PHILIPPINES INC.  secara virtual melalui aplikasi zoom meeting pada hari Senin (12/4) kemarin. “GrainPro adalah perusahaan yang bergerak di bidang pasca panen, meliputi penyimpanan komoditas agribisnis seperti biji-bijian, jagung, dedak. Kami ingin membuat perubahan yang besar dari pasca panen pertanian bukan hanya di Asia Tenggara tapi juga di seluruh dunia ” Menurut Doktor Thes Enriquez. Hadir pula dalam acara tersebut perwakilan dari GrainPro Philippines Inc. Allan V. Quintoss, DVM.

    “Ini adalah acara yang penting bagi kita, untuk memperkuat kolaborasi internasional khususnya di bidang penelitian. Kolaborasi ini diprakarsai oleh Prof. Nahrowi yang sedang mengadakan penelitian dan teknologi di industri pabrik pakan” ujar Dekan Fakultas Peternakan IPB Dr. Ir. Idat Galih dalam sambutannya di hadapan para tamu yang hadir pada penandatanganan MoA tersebut.

    Setelah penandatanganan oleh kedua belah pihak, acara dilanjutkan dengan diskusi terkait rencana realisasi kerjasama di bidang Pendidikan, penelitian dan Pengabdian Masyarakar. GrainPro juga bersedia menjadi mitra kerjasama untuk kegiatan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) untuk mahasiswa Fakultas Peternakan IPB dan juga kegiatan “Job Training” untuk para lulusan Fapet IPB.

    Pada kesempatan tersebut, perwakilan GrainPro Allan V. Quintoss, DVM juga menyampaikan presentasi tentang Hermetic Technology : Storage Solutions for Sustainable Feedmill and Livestock Industries.  pemaparan disertai gambaran, tujuan dan data-data serta penjelasan mengenai Hermetic Technology yang dihadirkan melalui video.

    Hadir juga dalam penandatanganan MoA ini Global Technical Manager GrainPro wilayah Asia Pasific Dr. Melanie Blanca-Ocreto serta Technical Support Manager Alnor Limbo, serta Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Prof. Dr. Irma Isnafia Arief, S.Pt, M.Si., Wakil Dekan Bidang Sumberdaya, Kerjasama dan Pengembangan Dr. Sri Suharti, S.Pt., M.Si dan para Kepala Divisi yaitu Prof. Dr. Ir. Nahrowi, M.Sc dan Prof. Dr. Ir. Sumiati, M.Sc dari Fakultas Peternakan IPB University. (Femmy)

Tips & Kegiatan Selama WFH