News

Jagung merupakan komponen utama dalam industri pakan. Komposisi jagung pada pakan unggas mencapai 50-55 persen. Kebutuhan jagung untuk pakan seharusnya dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri. Pada kenyataannya, pabrik pakan kesulitan mendapatkan jagung yang sesuai kriteria pakan unggas dan ada indikasi terjadinya penguasaan jagung pada simpul tertentu di rantai pasok. Hal ini terungkap pada Focus Group Discussion (FGD) dengan tema "Peran Sistem Logistik Jagung dalam Penyediaan Bahan Baku Pakan Nasional”. Rabu (14/11) di Ruang Sidang Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB), Kampus IPB Dramaga, Bogor. Kegiatan ini berlangsung berkat kerjasama Fapet IPB dengan Forum Logistik Perternakan Indonesia (FLPI).

Chairman FLPI, Prof. Luki Abdullah mengatakan semakin panjang jalur yang dilalui (pada rantai pasok jagung) maka harga semakin tinggi. Diperlukan solusi bagaimana jagung dari petani dapat dengan mudah sampai kepada konsumen akhir.

“Kegiatan ini untuk memformulasikan solusi pemecahan masalah sistem logistik jagung yang dapat diterapkan. Tujuannya untuk mencapai standar ketersediaan stok dan kualitas jagung lokal sebagai bahan baku pakan nasional dan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia mengenai  sistem logistik jagung nasional sebagai bahan baku pakan,” katanya.

Sementara itu, Dr. Edy Hartulistiyoso salah satu pakar yang hadir dari Departemen Teknik Mesin dan Biosistem Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) memaparkan mengenai “Model Logistik Jagung sebagai Bahan Baku Pakan Nasional”. Dr. Edy memaparkan mengenai penataan sistem distribusi dan logistik dari sentra produksi ke sentra pabrik pakan. Menurutnya Badan Urusan Logistik (Bulog) berperan membeli jagung langsung di tingkat petani.

“Mendapatkan pakan yang tepat, pada waktu yang tepat dengan jumlah dan kondisi yang tepat dengan biaya yang terjangkau akan memberikan nilai tambah bagi semua pihak. Semua ini akan mendorong tercapainya harga pakan yang bersaing, berkualitas, mudah diperoleh dan berkelanjutan,” ujarnya.

Menurutnya, sistem logistik pakan harus berawal dari model atau sistem dan skala usaha peternakan yang efisien (ekstensif dan intensif) yang didasari pemetaan potensi sumber pakan, kesesuaian ekologis, kesesuaian kapasitas tampung wilayah dan kesesuaian kebijakan pemerintah.

Dr. Edy menegaskan industri pakan menginginkan agar ada perbaikan infrastruktur, pembiayaan petani, pola kemitraan dan lainnya dalam memudahkan mereka menyerap jagung dari petani. Harapannya mereka adalah jagung mudah tersedia dari petani dan dikembangkan di areal luas untuk kebutuhan pakan unggas.

Pakar lainnya, Dr. Sahara, Ketua Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB menyampaikan mengenai perspektif makro ekonomi dalam logistik pasokan jagung. Logistik pasokan pakan dalam hal ini jagung harus menjamin penyediaan ternak dan produk ternak kepada konsumen secara berkesinambungan, meliputi pasca panen, pergudangan, transportasi, keamanan dan kualitas produk. Untuk itu pengolahan logistik pakan harus bersifat holistik di semua sistem maupun sub sistemnya.

“Selain sistem logistik darat, tol laut merupakan sistem  pengangkutan logistik kelautan yang bisa menghubungkan pelabuhan-pelabuhan besar yang ada di nusantara. Ini akan memperlancar distribusi barang hingga ke pelosok,” terangnya.

Lebih lanjut Dr. Sahara mengurai, kebutuhan jagung yang terus meningkat dan masih tingginya ketergantungan pada impor, dikhawatirkan akan mematikan industri pakan yang berbasis jagung karena berkurangnya pasokan bahan baku. Oleh karena itu sektor hilirisasi jagung perlu didorong agar terus tumbuh. Kebijakan pemerintah, baik dalam hal pengembangan kelembagaan pertanian, penyuluhan dan aplikasi teknologi hilirisasi, dukungan sistem infrastrukstur atau transportasi, permodalan usaha kecil menengah dan regulasi memiliki peran yang penting terhadap proses hilirisasi pasokan pakan.

Hadir juga sebagai narasumber yaitu Maxdeyul Sola dari Sekjen Dewan Jagung Nasional dan drh.Sudirman (Board of Advisor Gabungan Perusahaan Makanan Ternak/GPMT) - (ipb.ac.id)

Laeli Komalasari, SP, M.Si, Pranata Laboratorium Pendidikan asal Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) berhasil menjadi Juara II dalam ajang Pemilihan Pranata Laboratorium Pendidikan Berprestasi Nasional. Inovasinya yang berjudul "Mesin Tetes Inovasi Pendukung Efektivitas Kinerja Akademik di Laboratorium" ini sangat membantu peneliti melakukan risetnya.

“Kejadian listrik padam di Bogor belakangan lebih sering terjadi dan sulit diprediksi. Kejadian tersebut menjadi kendala dalam pelaksanaan kegiatan penetasan telur unggas (secara artifisal). Adanya gangguan listrik berdampak pada perkembangan embrio yang tidak sempurna,  telur gagal menetas dan akhirnya mengganggu proses penelitian,” ujarnya.

Laeli membuat mesin tetas yang cocok untuk mengatasi permasalahan tersebut. Mesin tetas buatannya memiliki kapasitas 100 dan 200 butir telur. Sumber energi yang digunakan berasal dari listrik PLN dengan mengombinasikan power inverter yang mempunyai fungsi dapat mengkonversikan tegangan 12 volt DC menjadi tegangan 220 volt AC dengan aki sebagai cadangan energi.

“Dengan demikian, pada saat listrik padam, secara otomatis sumber panas dalam mesin didapatkan dari alat inverter yang bersumber dari aki. Mesin tetas didesain khusus sehingga telur dapat diposisikan secara vertikal dengan kantung udara berada di atas. Keadaan ini membuat  respirasi embrio berjalan optimal. Posisi telur horisontal menyebabkan penyebaran panas tidak merata sehingga perkembangan embrio tidak sempurna. Untuk itu desain mesin ini memposisikan telur secara vertikal,” terangnya.

Menurutnya, kelebihan inovasi ini adalah sudah teruji dan sudah diimplementasikan serta telah meluluskan banyak sarjana, magister serta menghasilkan publikasi ilmiah.

Selain menjadi Juara II Pranata Laboratorium Pendidikan Berprestasi Nasional 2018, Laeli juga pernah mendapatkan penghargaan sebagai The Second Winner in Scientific Paper Award pada Jurnal Nasional Terakreditasi (Media Peternakan).

Laeli merupakan salah satu dari 49 peserta yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Setelah lolos seleksi pada bulan September, Laeli berhasil masuk dalam 10 finalis yang diundang ke Jakarta selama empat hari untuk dilakukan pemilihan peringkat 1, 2, dan 3.

“Saya merasa sangat beruntung karena support mengalir deras dari berbagai pihak termasuk suaminya tercinta (Melzuardi), Staf  Divisi Unggas terutama Dr. Niken Ulupi, Ketua Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP) Fakultas Peternakan IPB,  Dr. Irma Isnafia Arief, warga Departemen IPTP, khususnya Prof. Dr. Ir. Cece Sumantri dan Dr. Ir. Lucia Cyrilla, Pemimpin Fakultas Peternakan (Dekan dan Wakil Dekan) Tim Direktorat Sumberdaya Manusia IPB, Tim Coaching dan Tim Biro Komunikasi IPB,” ujarnya. (ipb.ac.id)