News

Tim pelaksana Program Peningkatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Himpunan Mahasiswa Nutrisi & Makanan Ternak (HIMASITER) Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP) IPB University mengadakan pelatihan pembuatan mayonaise untuk penggiat UMKM Udikpreneur. Kegiatan ini dilakukan pada (18/9) di Rumah Udikpreneur Desa Situ Udik, Cibungbulang, Bogor.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Peningkatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) yang diemban HIMASITER dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) untuk melakukan pembinaan. Tujuannya dari pelatihan ini dilakukan yaitu untuk menjawab keresahan yang dirasakan ibu-ibu Udikpreneur yang terbebani dengan harga beli mayonaise jadi di pasaran yang relatif mahal sehingga berdampak pada harga produk olahan yang mereka jual. Pada pelatihan tersebut, salah satu anggota tim PPKO HIMASITER mempraktikkan cara pembuatan mayonaise dengan bahan-bahan dan peralatan yang mudah didapat. Bahan dasar yang digunakan adalah telur, minyak goreng, garam, dan cuka. Sedangkan alat yang digunakan yaitu hand blander dan wadah untuk tempat mengaduk.

Pembuatan mayonaise ini sangat mudah dan juga rasa yang dihasilkan dapat disesuaikan dengan menambahkan bahan tambahan seperti gula, susu kental manis, jeruk nipis, penyedap rasa, atau yang lainnya sesuai dengan keinginan masing-masing. Setelah itu, para anggota Udikpreneur mencoba membuat sendiri mayonaise seperti yang telah dicontohkan dengan menambahkan bahan yang mereka inginkan seperti gula dan jeruk nipis hingga menemukan komposisi yang sesuai dengan rasa yang mereka inginkan.

"Melalui kegiatan ini, HIMASITER ingin para anggota Udikpreneur dapat menerapkan ilmu dari pelatihan pembuatan mayonaise ini kedepannya. Dengan membuat mayonaise sendiri, mereka dapat menghemat biaya produksi dan menambah keuntungan dari harga jual produk olahan yang mereka hasilkan," ujar Ketua PPK Ormawa HIMASITER, Jidan Ramadani.

“Dengan adanya pelatihan ini sangat membantu sekali ya, sekarang jadi bisa buat mayonaise sendiri, bisa tambahin bahan-bahan sesuai mau kita sendiri juga. Untuk ibu-ibu lain yang nggak pakai mayonaise di produk mereka juga bisa bikin mayonaise buat makanan sehari-hari buat keluarganya. Jadi pelatihan ini sangat membantu, terima kasih” ungkap Eni, salah satu anggota Udikpreneur yang mengikuti kegiatan tersebut. (Annisa’ Fadhilatul Ummah)

Sejumlah mahasiswa IPB University berhasil membuat inovasi bernama Spartac. Sebuah Smart Apartement yang digunakan sebagai tempat pemeliharaan cacing. Inovasi ini berawal dari penumpukan kotoran sapi yang terjadi di sekitar peternakan. 

Inovasi Spartac dibuat melalui Program Kreativitas Mahasiswa Penerapan Iptek (PKM-PI) IPB University dan dibimbing oleh dosen pendamping Verika Armansyah Mendrofa, SPt, MSi. Tim ini diketuai oleh Albert Setya Purcahya dari mahasiswa Fakultas Peternakan dan didampingi oleh empat anggota yaitu Agustin Marlili Artika,Salma Nur Aeni, Restina Kutyaningrum dan Achmad David. 

Berdasarkan penelitian yang ada, satu ekor sapi dapat menghasilkan limbah berupa feses lebih kurang lima kilogram setiap harinya. Dengan demikian, penumpukan kotoran pada kawasan peternakan sering terjadi. 

Albert Setya Purcahya, selaku ketua tim menerangkan, dirinya bersama empat temannya menggagas inovasi Spartac. Ia menjelaskan, Spartac atau Strategi Pengolahan Kotoran Sapi Berbasis Smart Apartment dibuat secara bertingkat yang dapat dibongkar pasang (knock down) dan setiap rak dapat ditarik seperti konsep lemari laci.

Dikatakannya, konsep ini bertujuan untuk memudahkan mitra dalam pemeliharaan dan efisiensi tempat produksi di sekitar kawasan peternakan. Selain itu, apartment ini dibuat dengan semua sisi tertutup dan terdapat sirkulasi udara pada beberapa sisi. 

“Konsep ini dilakukan karena dalam pemeliharaan cacing membutuhkan tempat yang lembab dan tidak terlalu terang. Masing masing tingkat dilengkapi dengan sensor suhu dan kelembaban lampu kipas dan sprinkle,” kata Albert. 

Mahasiswa IPB University itu menjelaskan sistem pengaturan suhu dan kelembaban secara otomatis ini ditentukan oleh suhu dan kelembaban media. Menurutnya, apabila kelembaban media sudah mencapai batas minimum, maka sistem akan mengirimkan sinyal ke pompa dan air pun akan dialiri melalui sprinkle.

“Jika kelembaban media sudah sesuai, maka pompa akan berhenti secara otomatis begitu juga dengan suhu. Sistem ini tentu akan membantu permasalah yang dialami mitra selama ini,” tambah Albert, mahasiswa IPB University dari Fakultas Peternakan.

Ia mengaku, alat ini sudah diimplementasikan pada mitra yaitu pada kelompok peternak di Kawasan Usaha Peternakan Bogor. Salah satu peternak, Uci menyebutkan alat ini sangat membantu dan sesuai dengan kebutuhan serta mengatasi permasalah yang selama ini terjadi (ipb.ac.id)