Ayam IPB Masuk Radar Kementan untuk Penguatan Pangan Nasional
Di tengah tantangan pemenuhan protein hewani nasional, inovasi ayam lokal unggul dari IPB University mulai mendapat perhatian dari Kementerian Pertanian (Kementan). Ayam IPB dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sumber pangan alternatif yang lebih sehat dan adaptif bagi peternak rakyat.
Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof Cece Sumantri, menyampaikan bahwa komunikasi dengan Kementan telah mengarah pada rencana produksi skala besar. “Saya diminta untuk membuat program untuk menghasilkan 5.000 indukan di akhir tahun,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa IPB University memiliki kesiapan untuk memenuhi target pengadaan indukan yang diminta Kementan, didukung fasilitas penetasan dan jejaring mitra peternak. Kesiapan ini juga ditopang pengembangan sebelumnya melalui Program Unggulan Antar Perguruan Tinggi (PUAPT) dalam pembangunan IPB Poultry Breeding Center sebagai bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan nasional.
Ayam IPB merupakan ayam lokal komposit hasil persilangan empat rumpun, yaitu Pelung disilangkan dengan Sentul dan kampung disilangkan dengan parent stock Cobb. Karena itu, ayam IPB D1 termasuk ayam lokal yang merupakan hasil pemuliaan genetika yang telah dikembangkan sejak 2010. Inovasi ini menghasilkan ayam pedaging dengan pertumbuhan relatif cepat, efisiensi pakan lebih baik, serta kualitas daging yang lebih unggul.
Keunggulan ayam IPB juga terlihat dari performa produksi dan kualitas dagingnya. Pada umur sekitar 10–12 minggu, bobot ayam dapat mencapai lebih dari 1 kilogram dan bahkan hingga sekitar 1,8 kilogram dengan pakan optimal. Selain itu, ayam IPB relatif tahan terhadap beberapa penyakit seperti Newcastle disease (ND) dan salmonella, sehingga lebih adaptif dalam sistem pemeliharaan.
Dari sisi gizi, hasil penelitian yang didukung program LPDP menunjukkan daging ayam IPB mengandung protein tinggi sekitar 19,1 persen, asam amino esensial sekitar 4,58 persen, serta lemak omega-3 sekitar 2,34 persen. Dagingnya juga memiliki kadar kolesterol relatif rendah, yakni sekitar 66,12 mg per 100 gram, serta kaya mineral penting seperti zat besi (Fe) dan seng (Zn), sehingga berpotensi sebagai pangan fungsional yang menyehatkan.
Kolaborasi dan Inovasi Pengembangan
Rencana kolaborasi dengan Kementan difokuskan pada percepatan produksi indukan. Meski demikian, dukungan anggaran pemerintah lebih diarahkan pada operasional seperti pakan dan manajemen pemeliharaan, bukan pembangunan infrastruktur.
Pengembangan ayam IPB juga diperkuat melalui kerja sama dengan berbagai mitra. Di antaranya UMKM UD Citra Lestari Farm di Bekasi yang mengembangkan dari DOC hingga produk olahan dan restoran, Kelompok Peternak Sinar Harapan Farm (SHF) di Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi, serta Plasma Nutfah Unggul Indonesia di Boyolali.
Selain itu, inovasi pakan terus dikembangkan melalui riset internal. Salah satunya penelitian oleh Prof Sumiati dari Fakultas Peternakan IPB University, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP), yang memanfaatkan minyak ikan lemuru untuk meningkatkan kandungan omega-3 pada daging ayam IPB.
Selain penguatan di sektor hulu, ayam IPB juga telah dikembangkan hingga tahap hilirisasi melalui berbagai penelitian pengolahan pangan yang menghasilkan produk olahan siap saji dengan beragam varian. Salah satunya melalui riset yang dilakukan oleh Prof Irma Isnafia Arief, sehingga mampu meningkatkan nilai tambah dan daya saing di pasar.
Dari sisi komersialisasi, ayam IPB telah memiliki branding sebagai ayam premium dengan kualitas daging sehat dan pasar spesifik, seperti rumah sakit. “Ayamnya sudah layak komersial. Kita sudah punya merek dan pasar,” katanya.
Meski pasar mulai terbentuk, pengembangan saat ini masih difokuskan pada produksi bibit. “Sayang kalau bibit dijual untuk dipotong. Harusnya diperbanyak dulu untuk mendukung industri,” ujarnya.
Ia berharap kolaborasi dengan Kementan serta penguatan riset dapat mempercepat pengembangan ayam IPB sebagai solusi strategis dalam meningkatkan kontribusi protein hewani nasional. (Fj)







Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “AI-Powered Innovation, Smart Farming for Broiler Farmers: Optimizing Growth, Welfare, and Profitability through Real-Time Analytics and Automation” pada Rabu, 22 April 2026 di Auditorium JHH Fapet IPB Darmaga, Bogor. Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari industri global yang membahas pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan Internet of Things (IoT) dalam sistem peternakan modern.
Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University terus memperkuat ekosistem smart farming melalui kolaborasi strategis bersama perusahaan agritech Poulta Inc. 










