Fapet IPB Dorong Smart Farming Berbasis AI untuk Tingkatkan Produktivitas Peternakan Broiler
Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “AI-Powered Innovation, Smart Farming for Broiler Farmers: Optimizing Growth, Welfare, and Profitability through Real-Time Analytics and Automation” pada Rabu, 22 April 2026 di Auditorium JHH Fapet IPB Darmaga, Bogor. Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari industri global yang membahas pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan Internet of Things (IoT) dalam sistem peternakan modern.
Kegiatan ini dihadiri oleh hampir 200 peserta yang terdiri dari mahasiswa sarjana maupun pascasarjana Fapet. Prof. Dr. Asep Gunawan, S.Pt, M.Sc, Wakil Dekan Bidang Sumberdaya, Kerjasama dan Pengembangan Fapet turut hadir memandu kuliah umum sebagai moderator.
Dekan Fapet IPB University, Prof. Dr. Ir. Idat Galih Permana, M.Sc.Agr., dalam sambutannya menegaskan bahwa transformasi teknologi menjadi kunci dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas sektor peternakan. Menurutnya, adopsi teknologi seperti IoT memungkinkan pemantauan kondisi peternakan secara real-time, pengambilan keputusan berbasis data, serta peningkatan kesejahteraan ternak dan keberlanjutan usaha.
“Penerapan teknologi bukan lagi sekadar pilihan, tetapi telah menjadi kebutuhan dalam sistem peternakan modern. Melalui kolaborasi dengan industri, kami berharap mahasiswa dapat memperoleh wawasan dan kesiapan menghadapi perkembangan sektor peternakan yang semakin dinamis,” ujarnya.
Selanjutnya, Dr. Muhammad Asfar Rahi sebagai dosen tamu memaparkan materi bertajuk "AI-Powered Innovation in Modern Broiler Farming". Dr. Asfar merupakan dokter hewan yang berpengalaman di industri perunggasan, khususnya dalam pengelolaan peternakan ayam broiler dan analisis performa produksi. Dengan latar belakang tersebut, ia banyak terlibat dalam evaluasi kinerja peternakan di berbagai negara melalui sistem berbasis data dan teknologi digital.
Dalam pemaparannya, Dr. Asfar menjelaskan arsitektur sistem platform berbasis AI yang bekerja secara terintegrasi melalui empat tahapan utama, yaitu pengumpulan data melalui sensor dan kamera, pemrosesan berbasis cloud, analisis kecerdasan untuk mendeteksi penyimpangan, serta tindakan berupa rekomendasi dan koreksi secara real-time.
“Teknologi ini memungkinkan peternak tidak hanya memantau kondisi kandang, tetapi juga mendapatkan analisis, prediksi, dan rekomendasi tindakan secara cepat dan akurat,” jelasnya.
Sementara itu, Faizan Rashid, yang menjabat sebagai Lead Regional Business Development Poulta Inc untuk kawasan Asia-Pasifik dan Oseania, menjelaskan bagaimana teknologi AI mampu mengubah data mentah menjadi dasar pengambilan keputusan. Ia memimpin strategi pengembangan bisnis regional, mengelola kemitraan pertumbuhan, serta mendorong pengembangan teknologi pemantauan peternakan berbasis AI (computer vision dan IoT).
Faizan menekankan konsep “from raw data to decisions” sebagai inti smart farming, di mana sistem mampu mendeteksi tren tersembunyi, mengidentifikasi anomali sejak dini, serta memahami hubungan antara kondisi lingkungan dan performa ternak.
“AI tidak hanya memberi tahu apa yang terjadi, tetapi juga mengapa hal itu terjadi dan apa yang harus dilakukan. Bahkan, sistem dapat memprediksi potensi masalah sebelum benar-benar terjadi,” ungkapnya.
Ia juga menjelaskan bagaimana sistem Poulta mengintegrasikan berbagai parameter, mulai dari peningkatan CO₂, penurunan aktivitas ayam, hingga turunnya konsumsi pakan, yang kemudian dianalisis sebagai indikator potensi kegagalan pertumbuhan.
Pada kesempatan yang sama, Chutaemil Marom, DVM, atau yang akrab disapa Emil, selaku Direktur PT Addeasy International Indonesia, menyoroti pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri dalam implementasi teknologi.
Menurutnya, penerapan AI dan IoT dalam peternakan memberikan efisiensi signifikan, terutama dalam pengelolaan farm berskala besar. “Dengan teknologi ini, pemantauan kandang tidak harus dilakukan secara langsung setiap saat. Peternak dapat mengakses kondisi secara real-time, sehingga waktu dapat dimanfaatkan untuk aktivitas yang lebih produktif,” jelasnya.
Emil juga mengapresiasi peran Fapet IPB sebagai mitra strategis dalam pengembangan teknologi peternakan modern. Ia menambahkan bahwa ke depan, teknologi serupa juga akan dikembangkan untuk sektor ruminansia, termasuk pemantauan kesehatan, reproduksi, dan kondisi lingkungan ternak.
Sebagai penutup, Dekan Fapet IPB University kembali menegaskan bahwa implementasi sistem berbasis AI pada kandang broiler closed house yang dikembangkan bersama mitra industri merupakan salah satu inovasi penting di Indonesia.
“Perbedaan utama teknologi ini dibandingkan sistem monitoring konvensional adalah kemampuannya dalam menganalisis data, memberikan rekomendasi, hingga memproyeksikan produktivitas. Ini menjadi peluang besar untuk meningkatkan performa peternakan nasional,” ungkapnya.
Ia juga mendorong mahasiswa untuk tidak takut terhadap perkembangan AI, melainkan menjadikannya sebagai alat bantu dalam meningkatkan kualitas pengambilan keputusan. “Teknologi ini tidak menggantikan manusia, tetapi membantu meningkatkan kecepatan dan akurasi dalam pengambilan keputusan,” pungkasnya. (Femmy).
Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University terus memperkuat ekosistem smart farming melalui kolaborasi strategis bersama perusahaan agritech Poulta Inc.