Pakar Nutrisi Fapet IPB University Tegaskan Formulasi Pakan yang Tepat Jadi Kunci Utama Performa dan Kesehatan Unggas
Keberhasilan pemeliharaan ternak unggas—baik pedaging, petelur, maupun unggas hias—sangat ditentukan oleh manajemen pakan yang diterapkan. Dosen Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP), Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University, Dr. Widya Hermana, S.Pt, M.Si, menekankan pentingnya pemberian pakan yang disesuaikan dengan kebutuhan fisiologis serta fase umur ternak, alih-alih hanya berfokus pada kuantitas atau efisiensi harga semata.
Dalam wawancara bersama OenggasTV, Dr. Widya menjelaskan bahwa setiap tahapan usia unggas memiliki kebutuhan nutrisi yang berbeda. Energi dan protein memegang peranan sebagai komponen utama ransum, yang harus diimbangi secara proporsional dengan kecukupan lemak, serat kasar, vitamin, dan mineral.
“Setiap jenis dan fase pertumbuhan ternak memiliki standar kebutuhan nutrisi yang spesifik. Kebutuhan tersebut harus disesuaikan dengan status fisiologis dan target produksi yang ingin dicapai,” terangnya.
Dampak Kecukupan Protein dan Manajemen Vitamin yang Bijak
Lebih lanjut, Dr. Widya menyoroti pentingnya pemenuhan protein, khususnya pada fase pertumbuhan (ayam muda). Kekurangan asupan protein pada periode ini dapat memicu keterlambatan laju pertumbuhan (stunting) dan memperpanjang masa pemeliharaan hingga panen pada ayam pedaging.
Terkait penggunaan suplemen, beliau mengimbau para peternak untuk lebih bijak dalam memberikan vitamin tambahan. Pakan komersial yang telah diformulasikan secara komplit oleh produsen pakan umumnya sudah memenuhi standar kebutuhan harian ternak, sehingga pemberian suplemen setiap hari sering kali tidak diperlukan.
“Jika pakan sudah diformulasikan sesuai standar kebutuhan ternak, pemberian vitamin tambahan setiap hari sebenarnya tidak perlu. Hindari pemberian secara berlebihan dan selalu ikuti dosis yang tertera pada kemasan,” jelas pakar nutrisi unggas tersebut.
Beliau juga mengingatkan perbedaan sifat vitamin: vitamin larut lemak (A, D, E, K) dapat menumpuk dalam jaringan tubuh jika diberikan berlebih, sedangkan vitamin larut air (B dan C) akan dibuang melalui ekskresi.
Peran Nutrisi pada Unggas Hias: Dari Bulu hingga Performa Suara
Bagi para penghobi dan peternak unggas hias, kecukupan nutrisi—terutama profil asam amino penyusun protein—menjadi fondasi utama dalam pembentukan kualitas bulu, kecerahan warna, hingga kualitas suara unggas.
“Jika ingin unggas hias tampil maksimal, fondasi utamanya terletak pada kualitas pakan dasar, bukan sekadar mengandalkan warna atau suplemen tambahan,” tegas Dr. Widya.
Mengakhiri pemaparannya, beliau mengajak para peternak pemula untuk terus meningkatkan literasi manajemen pemeliharaan dengan belajar dari peternak berpengalaman serta merujuk pada literatur ilmiah, jurnal, dan majalah peternakan terpercaya agar aplikasi pakan di lapangan dapat dilakukan secara akurat dan efisien.
Menjaga agar sapi perah tetap sehat dan menghasilkan banyak susu bukanlah hal yang mudah. Terutama saat masa laktasi, kebutuhan energi sapi sangat tinggi. Jika kekurangan energi, sapi biasanya akan kurus dan produksi susunya anjlok.
Mengonsumsi ayam kampung selama ini sering dianggap lebih sehat dibandingkan ayam broiler. Selain teksturnya yang lebih padat, ayam kampung juga kerap dipandang lebih alami karena umumnya dipelihara dengan sistem umbaran. Lantas, apa yang membedakan keduanya jika dilihat dari kandungan gizi?