Dunia peternakan sapi perah saat ini tengah menghadapi tantangan serius yang kerap luput dari perhatian, yaitu penyakit mastitis. Penyakit ini tidak boleh disepelekan karena tidak hanya berdampak buruk pada kesehatan satwa, melainkan juga memicu kerugian ekonomi yang besar bagi peternak serta menurunkan kualitas produksi susu secara drastis.

Dosen Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University, Dr. Iyep Komala, membedah secara tuntas mengenai apa itu mastitis, faktor pemicunya, hingga langkah penanganan taktis yang bisa diterapkan oleh peternak rakyat.

Apa Itu Mastitis dan Apa Saja Cirinya?
Secara medis, mastitis adalah penyakit peradangan yang terjadi pada jaringan ambing (kelenjar susu) sapi. Penyakit ini umumnya dipicu oleh adanya infeksi bakteri. Ketika sapi perah mulai terjangkit mastitis, mereka akan menunjukkan tanda-tanda ketidaknyamanan yang khas.

Beberapa ciri utama dan gejala mastitis yang wajib diwaspadai antara lain:

  • Terjadi pembengkakan dan kemerahan pada area ambing sapi.
  • Terjadi perubahan warna serta tekstur pada susu yang dihasilkan.
  • Sapi menunjukkan penurunan nafsu makan akibat rasa tidak nyaman.

"Jika kondisi ini dibiarkan kronis, bisa menyebabkan kerusakan permanen pada ambing," peringat Dr. Iyep 

Selain merusak kesehatan sapi, susu yang dihasilkan dari ambing yang terinfeksi dapat mengandung bakteri patogen yang berbahaya jika dikonsumsi oleh manusia.

Akar Penyebab Mastitis pada Sapi Perah
Bakteri sebagai aktor utama penyebab mastitis sering kali bersumber dari lingkungan peternakan atau area kandang yang tidak terjaga kebersihannya. Namun, Dr. Iyep menggarisbawahi bahwa manajemen peternakan yang buruk juga turut andil memperparah risiko penularan.

Faktor penunjang tersebut meliputi:

  • Kondisi stres pada sapi.
  • Kesalahan dalam penanganan ternak serta perlakuan kasar dari peternak.
  • Pola pergantian pakan yang tidak tepat atau mendadak.
  • Kuku sapi yang dibiarkan panjang saat proses pemerahan, sehingga memicu luka fisik pada ambing.

Panduan Penanganan dan Metode Pengobatan
Langkah awal pencegahan terbaik yang disarankan adalah dengan konsisten menjaga sanitasi kandang serta menerapkan prinsip-prinsip pemerahan yang baik atau good milking practices. Namun, jika sapi di lapangan sudah telanjur mengidap mastitis, Dr. Iyep memaparkan dua metode pengobatan yang bisa ditempuh:

1. Metode Antibiotik
Pengobatan menggunakan antibiotik komersial wajib dilakukan secara hati-hati dan di bawah pengawasan yang tepat. Kesalahan dosis atau durasi dalam penggunaan antibiotik berisiko tinggi menyebabkan munculnya residu antibiotik di dalam susu, sehingga susu tersebut tidak layak konsumsi.

2. Metode Alami (Herbal Daun Sirih)
Sebagai alternatif aman yang sangat ramah bagi peternak rakyat, pemanfaatan daun sirih sangat direkomendasikan karena kandungan antiseptik alaminya yang kuat.

  • Ekstrak Daun Sirih: Merupakan pilihan terbaik untuk mengobati infeksi.
  • Air Rebusan Daun Sirih: Jika ekstrak tidak tersedia, peternak bisa merebus daun sirih secara manual untuk digunakan sebagai antiseptik pembersih.

Senjata Pencegahan: Teknik Teat Dipping
Setelah proses pemerahan selesai, peternak sangat disarankan untuk melakukan metode teat dipping, yaitu mencelupkan puting susu sapi ke dalam larutan antiseptik. Larutan yang digunakan bisa berupa tingtur yodium maupun air rebusan daun sirih. Langkah sederhana ini terbukti efektif mencegah masuknya bakteri ke dalam saluran puting dan meminimalkan risiko mastitis pasca pemerahan.

Melalui kombinasi kebersihan kandang, pemerahan yang higienis, serta pemeriksaan kesehatan ambing secara berkala, angka kejadian mastitis di tingkat peternak rakyat dapat ditekan secara signifikan demi menjaga mutu gizi susu masyarakat.


Riset & Kepakaran