Departemen IPTP

Producing Professionals
in Livestock Industry

Departemen INTP

Better Feed for Better
Animal Product

 

Pascasarjana

Kuliah Pascasarjana ?
Fapet IPB tempat yang tepat

Pendaftaran

Universitas Berkelas Dunia, Berkualitas, dan Terakreditasi Internasional

Riset & Kepakaran

  • Dunia peternakan sapi perah saat ini tengah menghadapi tantangan serius yang kerap luput dari perhatian, yaitu penyakit mastitis. Penyakit ini tidak boleh disepelekan karena tidak hanya berdampak buruk pada kesehatan satwa, melainkan juga memicu kerugian ekonomi yang besar bagi peternak serta menurunkan kualitas produksi susu secara drastis.

    Dosen Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University, Dr. Iyep Komala, membedah secara tuntas mengenai apa itu mastitis, faktor pemicunya, hingga langkah penanganan taktis yang bisa diterapkan oleh peternak rakyat.

    Apa Itu Mastitis dan Apa Saja Cirinya?
    Secara medis, mastitis adalah penyakit peradangan yang terjadi pada jaringan ambing (kelenjar susu) sapi. Penyakit ini umumnya dipicu oleh adanya infeksi bakteri. Ketika sapi perah mulai terjangkit mastitis, mereka akan menunjukkan tanda-tanda ketidaknyamanan yang khas.

    Beberapa ciri utama dan gejala mastitis yang wajib diwaspadai antara lain:

    • Terjadi pembengkakan dan kemerahan pada area ambing sapi.
    • Terjadi perubahan warna serta tekstur pada susu yang dihasilkan.
    • Sapi menunjukkan penurunan nafsu makan akibat rasa tidak nyaman.

    "Jika kondisi ini dibiarkan kronis, bisa menyebabkan kerusakan permanen pada ambing," peringat Dr. Iyep 

    Selain merusak kesehatan sapi, susu yang dihasilkan dari ambing yang terinfeksi dapat mengandung bakteri patogen yang berbahaya jika dikonsumsi oleh manusia.

    Akar Penyebab Mastitis pada Sapi Perah
    Bakteri sebagai aktor utama penyebab mastitis sering kali bersumber dari lingkungan peternakan atau area kandang yang tidak terjaga kebersihannya. Namun, Dr. Iyep menggarisbawahi bahwa manajemen peternakan yang buruk juga turut andil memperparah risiko penularan.

    Faktor penunjang tersebut meliputi:

    • Kondisi stres pada sapi.
    • Kesalahan dalam penanganan ternak serta perlakuan kasar dari peternak.
    • Pola pergantian pakan yang tidak tepat atau mendadak.
    • Kuku sapi yang dibiarkan panjang saat proses pemerahan, sehingga memicu luka fisik pada ambing.

    Panduan Penanganan dan Metode Pengobatan
    Langkah awal pencegahan terbaik yang disarankan adalah dengan konsisten menjaga sanitasi kandang serta menerapkan prinsip-prinsip pemerahan yang baik atau good milking practices. Namun, jika sapi di lapangan sudah telanjur mengidap mastitis, Dr. Iyep memaparkan dua metode pengobatan yang bisa ditempuh:

    1. Metode Antibiotik
    Pengobatan menggunakan antibiotik komersial wajib dilakukan secara hati-hati dan di bawah pengawasan yang tepat. Kesalahan dosis atau durasi dalam penggunaan antibiotik berisiko tinggi menyebabkan munculnya residu antibiotik di dalam susu, sehingga susu tersebut tidak layak konsumsi.

    2. Metode Alami (Herbal Daun Sirih)
    Sebagai alternatif aman yang sangat ramah bagi peternak rakyat, pemanfaatan daun sirih sangat direkomendasikan karena kandungan antiseptik alaminya yang kuat.

    • Ekstrak Daun Sirih: Merupakan pilihan terbaik untuk mengobati infeksi.
    • Air Rebusan Daun Sirih: Jika ekstrak tidak tersedia, peternak bisa merebus daun sirih secara manual untuk digunakan sebagai antiseptik pembersih.

    Senjata Pencegahan: Teknik Teat Dipping
    Setelah proses pemerahan selesai, peternak sangat disarankan untuk melakukan metode teat dipping, yaitu mencelupkan puting susu sapi ke dalam larutan antiseptik. Larutan yang digunakan bisa berupa tingtur yodium maupun air rebusan daun sirih. Langkah sederhana ini terbukti efektif mencegah masuknya bakteri ke dalam saluran puting dan meminimalkan risiko mastitis pasca pemerahan.

    Melalui kombinasi kebersihan kandang, pemerahan yang higienis, serta pemeriksaan kesehatan ambing secara berkala, angka kejadian mastitis di tingkat peternak rakyat dapat ditekan secara signifikan demi menjaga mutu gizi susu masyarakat.

  • Momen idul adha atau Idul fitri identik dengan hidangan lezat seperti gulai, rendang, atau sate. Namun, salah satu masalah yang paling sering dikeluhkan masyarakat adalah aroma amis atau prengus yang tertinggal pada daging. Jika tidak ditangani dengan benar, aroma tak sedap (off-flavor) ini bisa merusak kelezatan masakan saat disantap bersama keluarga.

    Pakar Teknologi Hasil Ternak IPB University, Dr. Tuti Suryati, menjelaskan bahwa bau amis pada daging sebenarnya bukan hal yang terjadi begitu saja. Secara ilmiah, aroma mengganggu ini dipicu oleh dua faktor utama: aktivitas bakteri pembusuk dan oksidasi lemak.

    Berikut adalah rincian penyebab mengapa daging kurban bisa berbau amis dan cara tepat untuk mengatasinya.

    1. Biang Kerok Utama: Aktivitas Bakteri Pembusuk
    Bau amis muncul akibat proses pembusukan protein dan lemak yang dipicu oleh berkembangbiaknya bakteri pada daging yang terkontaminasi.

    “Bakteri seperti Aeromonas, Enterococcus, Acinetobacter, Moraxella, Chromobacterium, hingga Pseudomonas dapat berkembang pada daging yang terkontaminasi,” ungkap Dr. Tuti.

    Kontaminasi bakteri ini biasanya terjadi selama proses penanganan di lapangan, yang bersumber dari:

    • Sisa darah hewan yang tidak keluar dengan sempurna saat disembelih.
    • Peralatan pemotongan (pisau, telenan, alas) yang kurang higienis.
    • Kontaminasi silang dari tangan manusia atau lingkungan tempat pembagian daging.

    2. Oksidasi Lemak yang Dipercepat oleh Air
    Selain bakteri, aroma tak sedap juga dipicu oleh kerusakan lemak (oksidasi). Proses ini terjadi ketika lemak pada daging mengalami hidrolisis, yang dipercepat oleh enzim lipase—baik yang bawaan dari daging itu sendiri maupun yang dihasilkan oleh bakteri kontaminan.

    Hal yang mengejutkan, mencuci daging secara sembarangan justru bisa memperparah bau amis ini. Kehadiran air bebas yang terlalu banyak pada permukaan daging akan meningkatkan kadar air dan mempercepat proses hidrolisis lemak. Akibatnya, oksidasi terjadi lebih cepat dan memicu bau yang tidak sedap.

    Solusi Praktis Mengatasi dan Mencegah Bau Amis
    Untuk memastikan hidangan daging Anda bebas dari aroma amis, Dr. Tuti membagikan beberapa tips pencegahan yang bisa dilakukan di dapur:

    Turunkan pH dengan Bahan Asam
    Anda bisa memanfaatkan bahan asam seperti jeruk nipis, lemon, atau cuka untuk membalur daging. Kandungan asam sitrat dan askorbat pada jeruk nipis cukup efektif untuk menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk. Namun ingat, jangan gunakan secara berlebihan agar tidak mengubah cita rasa asli daging, dan cara ini tidak akan menolong jika kondisi daging memang sudah mulai rusak.

    Maksimalkan Rempah Kaya Antioksidan
    Dibandingkan hanya mengandalkan jeruk nipis, penggunaan bumbu dapur melimpah adalah opsi terbaik. Rempah-rempah kaya akan antioksidan yang efektif memperlambat proses oksidasi lemak sekaligus menyamarkan aroma amis. Pastikan masakan Anda kaya akan bumbu seperti:

    • Bawang merah, bawang putih, dan bawang bombai
    • Merica dan ketumbar
    • Kayu manis, pala, cengkeh, hingga bunga lawang

    Aturan Mencuci dan Menyimpan yang Benar

    • Jika langsung dimasak: Cuci daging dengan air mengalir, lalu pastikan dimasak hingga matang sempurna (suhu internal mencapai 70–80°C atau direbus sekitar 30–60 menit tergantung ukuran potongan) untuk membunuh bakteri.
    • Jika ingin disimpan: Setelah dicuci dengan air mengalir, beri bilasan akhir dengan air matang. Keringkan permukaan daging menggunakan tisu bersih agar tidak ada air bebas yang tertinggal, kemas rapat, dinginkan di kulkas, lalu bekukan di freezer.

    Dengan memahami penyebabnya dan menerapkan penanganan yang higienis sejak awal, kualitas gizi dan aroma segar daging kurban akan tetap terjaga hingga siap dihidangkan di meja makan.

  • Telur asin telah lama menjadi salah satu makanan favorit masyarakat Indonesia. Rasanya yang gurih, teksturnya yang khas, serta daya simpannya yang lebih lama dibandingkan telur segar membuat telur asin banyak dipilih sebagai lauk praktis. Namun, muncul pertanyaan, apakah telur asin masih memiliki kandungan gizi yang baik? Benarkah proses pengasinan menyebabkan nilai gizinya menurun?

    Menurut Prof Ronny, Pakar Genetika Ekologi IPB University, telur asin tetap mengandung berbagai zat gizi penting seperti protein, lemak, vitamin, dan mineral. Namun, proses pengasinan memang menyebabkan beberapa perubahan pada kandungan gizinya.

    "Pengasinan bertujuan memperpanjang masa simpan telur sekaligus memberikan cita rasa yang khas. Akan tetapi, garam yang masuk melalui pori-pori cangkang juga memengaruhi struktur protein dan meningkatkan kadar natrium di dalam telur," jelasnya.

    Kandungan Gizi Telur Asin
    Secara umum, telur asin masih menjadi sumber protein hewani yang baik. Selain protein, telur asin juga mengandung lemak, vitamin A, vitamin D, zat besi, fosfor, serta berbagai mineral yang dibutuhkan tubuh. Kandungan lemaknya relatif tidak banyak berubah selama proses pengasinan.

    Meski demikian, kadar natrium pada telur asin jauh lebih tinggi dibandingkan telur segar karena garam meresap ke dalam telur selama proses pengasinan.

    Apakah Nilai Gizi Telur Asin Menurun?
    Prof Ronny menjelaskan bahwa proses pengasinan dapat menyebabkan denaturasi protein, yaitu perubahan struktur protein akibat paparan garam dalam konsentrasi tinggi. Akibatnya, sebagian fungsi biologis protein menjadi berkurang.

    "Berdasarkan sejumlah penelitian, kandungan protein pada telur asin dapat mengalami penurunan hingga sekitar 30 persen apabila proses pengasinan dilakukan selama tujuh hari dengan konsentrasi garam yang tinggi," ujarnya.

    Selain protein, sebagian vitamin yang larut dalam air, terutama vitamin B kompleks, juga dapat berkurang selama proses pengasinan. Sebaliknya, kandungan lemak relatif tetap stabil.

    Perubahan lainnya terlihat pada tekstur telur. Garam menarik air dari putih telur sehingga kuning telur menjadi lebih padat, berminyak, dan memiliki cita rasa yang lebih gurih.

    Mengapa Telur Asin Lebih Awet?
    Salah satu keunggulan telur asin adalah masa simpannya yang lebih panjang. Menurut Prof Ronny, garam berfungsi sebagai pengawet alami yang mampu menghambat pertumbuhan mikroorganisme penyebab pembusukan.

    "Melalui proses pengasinan, telur dapat bertahan sekitar satu hingga dua bulan apabila disimpan dengan baik. Karena itu, telur asin menjadi pilihan praktis sekaligus memiliki nilai ekonomi yang tinggi di berbagai daerah," jelasnya.

    Cara Meminimalkan Penurunan Gizi
    Agar kualitas gizi telur asin tetap terjaga, proses pengasinan perlu dilakukan secara tepat. Prof Ronny menyarankan penggunaan garam dalam konsentrasi sedang, sekitar 100–150 gram per liter, serta membatasi waktu pengasinan tidak lebih dari 10 hari.

    Selain itu, proses pematangan juga berpengaruh terhadap kualitas telur asin. Penggunaan oven dengan suhu sekitar 90 derajat Celsius dinilai dapat membantu mempertahankan kadar air dan cita rasa. Penambahan rempah seperti daun teh atau jahe juga dapat meningkatkan aroma sekaligus membantu memperpanjang masa simpan.

    Konsumsi Secukupnya
    Meski tetap memiliki kandungan gizi, telur asin sebaiknya dikonsumsi secara bijak. Kandungan natrium yang tinggi membuat makanan ini kurang dianjurkan dikonsumsi setiap hari, terutama oleh penderita hipertensi maupun penyakit jantung.

    "Telur asin tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehat apabila dikonsumsi dalam jumlah yang wajar. Jadikan sebagai variasi lauk dan imbangi dengan makanan bergizi lainnya agar manfaatnya tetap optimal," pungkas Prof Ronny.

  • Tantangan efisiensi dalam industri peternakan nasional kian krusial. Menjawab persoalan tersebut, Guru Besar Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ridla, M.Agr., memaparkan solusi strategis untuk meningkatkan kualitas pakan dan produksi ternak berkelanjutan melalui pemanfaatan bioteknologi pakan.

    Teknologi berbasis enzim dan mikroba fungsional dinilai mampu menjadi jawaban atas tingginya angka kehilangan pakan (feed loss) di Indonesia. Dengan memecah komponen kompleks dalam bahan pakan, teknologi ini secara signifikan meningkatkan efisiensi pemanfaatan nutrien.

    “Pendekatan ini meningkatkan proses cerna pakan, pemenuhan nutrisi, serta mendukung pertumbuhan dan kesehatan ternak secara berkelanjutan,” ujar Prof. Ridla.

    Potensi Finansial: Menghemat Belasan Triliun Rupiah

    Data menunjukkan bahwa produksi pakan nasional pada tahun 2024 mencapai angka yang fantastis, yaitu 18,5 juta ton dengan nilai perputaran ekonomi sebesar Rp148 triliun. Namun, industri ini masih dibayangi oleh kerugian besar akibat kehilangan pakan yang mencapai 20 persen, atau setara dengan Rp29 triliun.

    Bioteknologi hadir sebagai penyelamat efisiensi ekonomi ini. Menurut kalkulasi Prof. Ridla, peningkatan kecernaan sebesar 10 persen saja melalui sentuhan bioteknologi berpotensi menghemat anggaran pakan nasional hingga Rp14,5 triliun.

    Meskipun pabrik pakan komersial (feedmill) skala besar di Indonesia umumnya telah mengadopsi enzim dan probiotik untuk meningkatkan kualitas produk mereka, tantangan besar justru ada di tingkat akar rumput. Pemahaman peternak rakyat/kecil mengenai pemanfaatan enzim, probiotik, prebiotik, proses fermentasi, hingga pengolahan kotoran berbasis bioteknologi dinilai masih sangat terbatas.

    Mengupas Kinerja Enzim dan Probiotik dalam Ransum

    Secara teknis, bioteknologi pakan bekerja secara spesifik melalui beberapa komponen penting:

    1. Multienzim untuk Efisiensi Nutrisi

    Enzim Fitase: Berfungsi mengurai ikatan fitat sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan. Sebagai contoh, pada ayam broiler, penggunaan fitase mampu menurunkan kebutuhan fosfor tersedia dari 0,40% menjadi 0,21%.
    Enzim Protease: Berperan mendongkrak efisiensi pencernaan protein. Suplementasi satu dosis protease pada ransum jagung–bungkil kedelai (SBM) terbukti menaikkan kecernaan protein sebesar 11% dan retensi nitrogen sebesar 4%.
    Enzim Karbohidrase: Mampu mendongkrak energi metabolis pakan sebanyak 100–250 kkal/kg serta meningkatkan kecernaan protein sekitar 5%.

    2. Probiotik (Bakteri Asam Laktat)

    Mikroba fungsional ini bertindak sebagai penjaga benteng pertahanan di saluran pencernaan ternak. Penggunaan bakteri asam laktat secara konsisten terbukti mampu:

    • Memperbaiki struktur histologi usus.
    • Meningkatkan konsumsi pakan dan memacu pertumbuhan bobot badan.
    • Menurunkan nilai Feed Conversion Ratio (FCR) sehingga konversi pakan menjadi daging lebih efisien.

    Menjinakkan Senyawa Antinutrisi

    Salah satu kendala utama penggunaan bahan pakan alternatif lokal adalah tingginya kandungan zat antinutrisi yang dapat mengganggu pencernaan ternak. Melalui penerapan fermentasi dan perlakuan enzimatik, senyawa-senyawa antinutrisi tersebut dapat didegradasi dan diturunkan kadarnya secara signifikan. Hasil akhirnya adalah peningkatan kualitas ransum secara keseluruhan yang lebih aman dan bergizi tinggi bagi ternak.

    Tidak hanya urusan perut ternak, efisiensi nitrogen yang dihasilkan dari penggunaan bioteknologi ini juga berdampak positif pada lingkungan, karena terbukti mampu menurunkan produksi gas amonia yang memicu bau menyengat di area kandang.

    Sudah saatnya edukasi bioteknologi pakan ini digencarkan hingga ke peternak rakyat, demi mewujudkan kedaulatan pangan dan peternakan Indonesia yang berkelanjutan dan jauh lebih menguntungkan.

  • Menulis artikel ilmiah sering kali dianggap sebagai momok berat oleh mahasiswa pascasarjana, terutama ketika dihadapkan pada kewajiban publikasi sebagai syarat kelulusan. Banyak yang terjebak dalam rasa frustrasi karena draf tak kunjung selesai atau terus-menerus ditolak oleh jurnal target.

    Namun, dalam pelatihan teknik penulisan ilmiah yang digelar di Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University, narasumber utama Dr. Eng. Cahyo Budiman, S.Pt., M.Eng. membuka sebuah perspektif baru. Menurutnya, sebuah artikel ilmiah pada dasarnya adalah sebuah cerita (storytelling). Artikel yang sukses bukan sekadar tumpukan data kaku, melainkan sebuah narasi memikat yang alurnya digerakkan secara kuat oleh bukti-bukti empiris. 

    Bagaimana sebenarnya trik membedah draf jurnal agar siap submit dan memikat hati reviewer internasional? Berikut adalah rangkuman kiat cerdas dan teknik praktis yang dikupas tuntas dalam pelatihan tersebut:

  • Lonjakan harga daging ayam di pasaran belakangan ini kerap dipicu oleh satu faktor klasik: melambungnya harga jagung. Sebagai pilar utama yang mengisi hingga setengah dari total formula ransum unggas di seluruh dunia, fluktuasi harga jagung di Indonesia langsung memukul isi dompet para peternak dan konsumen.

    Merespons krisis ini, dosen Fakultas Peternakan IPB University, Dr. Heri Ahmad Sukria, berhasil menciptakan sebuah terobosan mutakhir bernama "Jagung Analog". Inovasi pakan berbasis bahan lokal non-jagung ini dirancang khusus untuk memangkas biaya produksi unggas, yang pada akhirnya diharapkan mampu menstabilkan harga daging ayam di pasar agar lebih bersahabat bagi masyarakat.

    Sains di Balik Jagung Analog: Memanfaatkan Sagu dan Singkong
    Meskipun dinamakan jagung analog, produk ini sama sekali tidak menggunakan butiran jagung asli. Pakan alternatif ini diramu dari kombinasi bahan kaya karbohidrat seperti sagu parut dan singkong, namun diformulasikan agar memiliki nilai zat gizi yang serupa dengan jagung konvensional.

    Guna memastikan kualitas fisika dan kimia pakan ini setara dengan jagung asli, Dr. Heri menerapkan teknik ekstrusi. Metode hydrothermal ini terbukti ampuh memperbaiki sifat fisik serta meningkatkan daya guna (utilitas) bahan pakan saat dicerna oleh unggas.

    Tak hanya mengandalkan sumber energi dari sagu dan singkong, formula jagung analog ini juga diperkaya dengan bahan-bahan padat nutrisi lainnya:

    • Sumber Karbohidrat & Energi: Sagu parut dan singkong berkualitas.
    • Nutrien Mikro & Protein: Bahan tambahan khusus untuk menyeimbangkan gizi.
    • Ekstrak Daun Kelor: Ditambahkan sebagai sumber alami beta-karoten, vitamin, serta mineral mikro.

    Melepas Ketergantungan dan Mengoptimalkan Potensi Lokal
    Berbeda dengan industri peternakan di Amerika atau Eropa yang sudah adaptif menggunakan beragam variasi sumber energi pakan, Indonesia masih terjebak pada ketergantungan tunggal terhadap jagung.

    “Sekitar 50 persen dari pakan unggas bersumber dari jagung. Indonesia belum bisa memenuhi kebutuhan jagung nasional dari produksi dalam negeri dan saat ini sudah tidak boleh impor,” tutur Dr. Heri.

    Kondisi pasokan yang timpang ini mendongkrak harga jagung di tingkat paling rendah menyentuh Rp5.500. Bahkan, di luar musim panen raya atau di wilayah terpencil dan kepulauan, harganya bisa meroket hingga Rp7.000 per kilogram.

    Melihat peta masalah tersebut, Dr. Heri membidik dua komoditas lokal yang selama ini belum dioptimalkan dengan baik:

    1. Sagu Papua yang Melimpah
    Indonesia memiliki harta karun berupa 5 juta hektare lahan tanaman sagu di Papua, yang merepresentasikan sekitar 99 persen dari total luas lahan sagu nasional. Sayangnya, pemanfaatan tanaman ini masih di bawah 5 persen. Sagu dinilai sangat potensial dipanen secara lestari dengan tetap menjaga keseimbangan lingkungan lokal untuk dijadikan pakan sumber energi baru.

    2. Variasi Singkong Unggul IPB
    Singkong yang mudah tumbuh di wilayah seperti Lampung dan Jawa Barat juga menjadi aktor kunci. Guna mengatasi tantangan biaya produksi tinggi, produktivitas singkong minimal harus menyentuh angka 40 ton per hektare agar ekonomis. Target kuantitas ini kini sudah bisa dipenuhi berkat penggunaan varietas singkong unggul besutan IPB University.

    Hasil Uji Coba Lapangan dan Komersialisasi
    Keandalan jagung analog ini bukan sekadar teori di atas kertas. Melalui serangkaian riset ketat di laboratorium dan lapangan, uji coba pada ayam kampung menunjukkan hasil yang menggembirakan: performa pertumbuhan ayam terbukti sama baiknya dengan ayam yang mengonsumsi jagung konvensional.

    Kabar baiknya, pada tahun 2026 ini proyek strategis tersebut telah mengantongi dukungan pendanaan dari Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI. Dana diseminasi ini dialokasikan untuk memperbesar skala produksi dan mempercepat penerapan jagung analog langsung ke tangan peternak rakyat. Setelah proses ekstrusi rampung, uji coba formula ini juga segera diekspansi ke ayam broiler (pedaging) pada tahun ini.

    “Biaya pakan yang lebih murah akan menurunkan harga produksi ayam, sehingga konsumen juga bisa mendapatkan harga yang lebih terjangkau,” tegas Dr. Heri.

    Lewat hilirisasi dan komersialisasi massal yang diharapkan segera terwujud, jagung analog tidak sekadar menjadi alternatif pakan murah dan mudah diproduksi, melainkan menjadi kunci emas dalam membangun kedaulatan serta kemandirian pakan ternak nasional.

  • Bagi sebagian orang, melihat kelinci mungkin langsung terbayang seekor hewan berbulu yang menggemaskan. Tak heran jika ada rasa "nggak tega" saat harus membayangkannya sebagai hidangan di meja makan. Namun, tahukah kamu? Di balik sosoknya yang imut, kelinci adalah sumber protein luar biasa yang sering kali terlupakan, padahal keunggulan gizinya jauh melampaui daging ternak lainnya.

    Halal, Sehat, dan Berkelas Keraguan pertama yang sering muncul biasanya soal hukum mengonsumsinya. Tenang saja, dua pakar dari Fakultas Peternakan IPB University, Dr. Henny Nuraini dan Dr. Muhammad Baihaqi, S.Pt, M.Sc., menegaskan bahwa daging kelinci sepenuhnya halal. Hal ini pun diperkuat oleh Fatwa MUI sejak tahun 1983 yang menetapkan bahwa memakan daging kelinci hukumnya adalah halal dan aman secara syariat.

    Setelah urusan keyakinan mantap, mari bicara soal kualitas. Jika kamu mencari daging yang benar-benar sehat, kelinci adalah juaranya. Daging kelinci dikenal sangat lean—artinya sangat sedikit mengandung lemak. Menariknya lagi, kadar proteinnya justru lebih tinggi dibanding daging ternak lain, dengan kandungan Omega-3 yang empat kali lipat lebih banyak daripada daging ayam.

    Obat Alami dalam Setiap Gigitan Keistimewaan daging kelinci tidak berhenti di urusan nutrisi makro. Ada manfaat tersembunyi yang jarang diketahui: keberadaan senyawa kitotefin. Senyawa ini, yang banyak ditemukan pada bagian jantung dan hati kelinci, dipercaya memiliki khasiat medis untuk membantu mencegah penyakit asma. Jadi, menyantap daging kelinci bukan sekadar urusan kenyang, tapi juga investasi kesehatan jangka panjang.

    Si Multiguna yang Tak Menyisakan Limbah Di mata para ahli peternakan, kelinci adalah ternak masa depan yang sangat produktif. Ia dijuluki sebagai ternak multiguna. Selain dagingnya sebagai pangan berkualitas, kulit bulunya memiliki nilai estetika tinggi untuk industri fesyen seperti tas dan jaket. Bahkan, bagi pecinta tanaman, kotoran kelinci adalah bahan baku pupuk organik yang sangat kaya nutrisi bagi tanah.

    Bosan dengan Sate? Coba Ragam Olahan Modern Mungkin selama ini kita hanya mengenal sate kelinci saat berwisata ke daerah pegunungan. Padahal, tekstur dagingnya yang khas sangat fleksibel untuk diolah menjadi berbagai menu kekinian. Bayangkan Nasi Briyani kelinci yang kaya rempah, Kelinci Masak Madu yang manis gurih, Rica Kelinci bagi pecinta pedas, hingga Kelinci Goreng Korea yang sedang tren.

    Dengan segala kelebihan dan keistimewaannya, sudah saatnya kita melihat kelinci dengan cara yang berbeda. Bukan lagi sekadar hewan piara yang jauh dari dapur, melainkan pilihan protein premium yang sehat, halal, dan lezat. Jadi, sudah siap mencoba sensasi daging kelinci hari ini?

  • Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University terus menghasilkan inovasi yang mendukung pengembangan pertanian dan peternakan berkelanjutan. Salah satunya melalui capaian Paten Granted yang diraih Prof. Dr. Ir. Panca Dewi M.H.K. Karti atas invensi berjudul "Proses Produksi Endomikoriza dengan Teknik Fertigasi Tertutup Sistem Semprot Secara Otomatis."

    Inovasi tersebut merupakan teknologi produksi endomikoriza atau Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF), yaitu jamur yang hidup bersimbiosis dengan akar tanaman dan berperan dalam meningkatkan penyerapan unsur hara, terutama fosfor, meningkatkan efisiensi penggunaan air, serta membantu tanaman bertahan pada kondisi cekaman lingkungan seperti kekeringan maupun lahan dengan tingkat kesuburan rendah. Teknologi ini berpotensi diaplikasikan pada berbagai komoditas, termasuk tanaman pakan, tanaman perkebunan, hortikultura, hingga rehabilitasi lahan.

    Berbeda dengan inovasi yang berfokus pada pengembangan jenis mikroorganisme, paten ini melindungi proses produksi endomikoriza. Teknologi yang dikembangkan mengintegrasikan sistem fertigasi tertutup dengan sistem semprot otomatis, sehingga distribusi larutan nutrisi berlangsung secara efisien, terkontrol, dan berkesinambungan selama proses produksi.

    Pendekatan tersebut mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air dan nutrisi karena larutan yang digunakan dapat bersirkulasi kembali dalam sistem tertutup. Selain itu, sistem otomatis membantu menjaga kondisi produksi tetap stabil, mengurangi risiko kontaminasi, meningkatkan jumlah spora yang dihasilkan, serta menghasilkan inokulum endomikoriza dengan kualitas yang lebih seragam dibandingkan metode konvensional.

    Secara ilmiah, inovasi ini menjawab berbagai tantangan dalam produksi endomikoriza yang selama ini masih bergantung pada penyiraman manual, membutuhkan area produksi yang luas, serta menghasilkan kualitas inokulum yang bervariasi. Melalui sistem fertigasi tertutup berbasis otomatisasi, proses produksi menjadi lebih efisien dan memiliki peluang lebih besar untuk dikembangkan dalam skala industri.

    Bagi bidang peternakan, teknologi ini memiliki nilai strategis karena pemanfaatan endomikoriza dapat meningkatkan produktivitas hijauan pakan melalui peningkatan penyerapan unsur hara dan efisiensi penggunaan air. Dampak lanjutannya adalah berkurangnya ketergantungan terhadap pupuk kimia, meningkatnya produktivitas lahan pakan, serta mendukung penerapan sistem peternakan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

    Pencapaian paten ini mempertegas kontribusi keilmuan Prof. Panca Dewi Karti dalam pengembangan teknologi berbasis sumber daya hayati yang tidak hanya memperkuat inovasi di bidang produksi tanaman pakan, tetapi juga mendukung terwujudnya sistem pertanian dan peternakan yang efisien, produktif, dan berkelanjutan. Melalui inovasi tersebut, Fakultas Peternakan IPB University terus berkontribusi menghasilkan riset yang memberikan manfaat nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus menjawab tantangan pembangunan sektor peternakan di Indonesia.

  • Telur merupakan salah satu sumber protein hewani bergizi tinggi yang paling terjangkau bagi masyarakat. Sayangnya, data Badan Pusat Statistik (BPS) masih menunjukkan ironi: belanja rumah tangga untuk rokok sering kali justru lebih besar ketimbang untuk membeli telur. Padahal, sebutir telur menyimpan manfaat luar biasa sebagai investasi sederhana bagi pertumbuhan anak dan kesehatan keluarga.

    Agar manfaat gizinya optimal, masyarakat tidak hanya perlu rutin mengonsumsinya, tetapi juga harus cerdas dalam memilih dan menyimpannya. Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof. Niken Ulupi, membagikan panduan praktis untuk mengenali telur berkualitas serta cara penanganan yang tepat di rumah.

    Ciri Fisik Telur Segar: Jangan Terkecoh Warna Cangkang
    Banyak mitos beredar bahwa warna cangkang telur menentukan kandungan gizinya. Prof. Niken Ulupi meluruskan anggapan keliru tersebut. Menurutnya, perbedaan warna cangkang (seperti putih atau cokelat) murni dipengaruhi oleh pigmen alami dari induk ayam, bukan kualitas nutrisinya.

  • Selama ini, pecinta kuliner sering kali dihadapkan pada satu dilema: memilih ayam ras yang cepat tumbuh tapi terasa "biasa saja", atau ayam lokal yang rasanya juara tapi harganya mahal karena pertumbuhannya yang sangat lambat. Namun, dilema itu kini punya solusi cerdas dari Fakultas Peternakan IPB University. Perkenalkan, IPB-D1, sebuah mahakarya genetika yang sedang mengubah peta industri ayam lokal di Indonesia.

    Bukan Sekadar Ayam Kampung Biasa
    Lahir dari riset panjang sejak tahun 2010 yang dilakukan oleh tim inovator Fakultas Peternakan IPB University yang dipimpin oleh Prof. Cece Sumantri, bersama tim ahli pemuliaan ternak, IPB-D1 adalah ayam komposit hasil persilangan empat darah unggul. Bayangkan kegagahan ayam Pelung, keuletan ayam Sentul, keaslian ayam Kampung, hingga produktivitas dari Parent Stock Cobb. Keempatnya diramu melalui seleksi genetika molekuler hingga generasi kelima. Hasilnya? Sebuah rumpun baru yang secara resmi telah diakui oleh Kementerian Pertanian sejak 2019 sebagai ayam lokal pedaging unggul.

    Si Bongsor yang Gesit dan Tangguh
    Keunggulan utama IPB-D1 adalah kecepatannya. Jika ayam lokal biasa butuh waktu lama untuk besar, IPB-D1 hanya butuh waktu 10 hingga 12 minggu untuk mencapai bobot 1 hingga 1,8 kilogram. Tidak hanya cepat tumbuh, ayam ini juga dikenal "tahan banting". Ia memiliki kekebalan alami yang lebih kuat terhadap penyakit langganan peternak seperti Newcastle Disease (ND) dan Salmonella. Bagi peternak, ini berarti efisiensi pakan yang lebih baik dan risiko kerugian yang jauh lebih rendah.

    Pangan Fungsional : Senjata Melawan Stunting
    Keistimewaan IPB-D1 tidak berhenti di kandang. Ketika sampai di meja makan, ia menjelma menjadi pangan fungsional yang menyehatkan. Hasil penelitian menunjukkan dagingnya kaya akan protein (19,1%) dan Omega-3, namun memiliki kadar kolesterol yang relatif rendah.

    Uniknya lagi, daging IPB-D1 menyimpan kandungan mineral penting seperti zat besi (Fe) dan Seng (Zn) yang lebih tinggi. Hal ini menjadikannya senjata baru yang sangat potensial untuk mendukung program kesehatan nasional, khususnya dalam mencegah anemia dan menekan angka stunting melalui asupan protein berkualitas.

    Misi Besar di Balik Piring Makan Di balik pengembangan IPB-D1, ada misi besar untuk memutus ketergantungan Indonesia terhadap impor bibit ayam ras. Dengan dukungan program RISPRO LPDP, IPB University kini fokus pada komersialisasi skala luas. Mulai dari pengembangan pakan berbahan lokal, penggunaan pengawet alami, hingga memastikan keamanan produk melalui sertifikasi halal dan standar mutu nasional.

    IPB-D1 bukan hanya tentang riset di laboratorium, tapi tentang bagaimana sains hadir di wilayah pedesaan untuk menggerakkan ekonomi masyarakat dan memastikan setiap keluarga di Indonesia bisa menikmati daging ayam lokal yang sehat, bergizi, dan tentu saja, membanggakan produk asli dalam negeri.

  • Siapa yang tidak pernah merasa jengkel saat mengupas telur rebus? Kulit telur yang menempel kuat hingga membuat putih telurnya ikut terkelupas acak-acakan tentu membuat hasil masakan menjadi tidak estetik lagi.

    Ternyata, fenomena telur rebus yang sulit dikupas ini bukan sekadar masalah keberuntungan, melainkan ada penjelasan ilmiah di baliknya. Dosen Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University, Dr. Zakiah Wulandari dan Prof. Niken Ulupi, membedah faktor penyebab sekaligus membagikan tips praktisnya agar telur rebus Anda mulus sempurna.

    Mengapa Ada Telur yang Susah Dikupas?
    Menurut para pakar Fapet IPB, ada beberapa faktor utama yang memengaruhi tingkat kesulitan saat mengupas telur:

    1. Usia Telur yang Terlalu Baru

    Faktor utama yang paling sering menjadi biang keladi adalah kesegaran telur.

    “Telur yang baru memiliki rongga udara kecil dan membran kulit yang masih terikat kuat, sehingga kulitnya sulit dilepaskan,” jelas Dr. Zakiah.

    Seiring bertambahnya usia simpan telur, rongga udara akan membesar dan ikatan membran ini akan melonggar secara alami.

    2. Kondisi Cangkang dan Durasi Perebusan

    Kondisi fisik cangkang serta cara memasak memegang peranan penting. Telur dengan cangkang yang terlalu tipis atau rapuh sangat rentan rusak. Selain itu, merebus telur terlalu lama atau menggunakan suhu yang terlalu tinggi justru akan memperparah keadaan.

    “Hal ini terjadi karena proses koagulasi putih telur menjadi terlalu keras dan menempel pada cangkang,” imbuh Dr. Zakiah.

    3. Umur Ayam Petelur

    Prof. Niken menerangkan bahwa umur ayam yang mengeluarkan telur tersebut turut menentukan kualitas cangkang dan lapisan telurnya. Ayam terlalu muda (di bawah 18 minggu) belum memiliki sistem tulang yang sempurna untuk membentuk cangkang ideal. Ayam tua (di atas 60 minggu) mengalami penurunan fungsi organ dan metabolisme kalsium. Akibatnya, telur yang dihasilkan berbobot lebih besar namun cangkangnya justru lebih lemah dan rapuh.

    4. Keberadaan Lapisan Kutikula

    Telur memiliki pelindung alami terluar yang disebut lapisan kutikula. Prof. Niken menjelaskan bahwa kutikula ini berfungsi mencegah kontaminasi mikroorganisme. Selain itu, lapisan ini juga mengurangi daya lekat (adhesi) antara cangkang dan putih telur, sehingga sangat membantu memudahkan pengupasan setelah telur matang.

    Tips Praktis Merebus dan Mengupas Telur agar Mulus Sempurna

    Agar tidak perlu emosi lagi di dapur, Prof. Niken membagikan solusi praktis yang bisa langsung Anda praktikkan di rumah:

    • Tambahkan Bahan Khusus saat Merebus: Masukkan sedikit garam atau perasan jeruk nipis ke dalam air rebusan untuk membantu melunakkan cangkang dan mempermudah pemisahan kulit kelak.
    • Kejutkan dengan Air Dingin: Begitu proses merebus selesai, segera angkat telur dan rendam di dalam air dingin. Perubahan suhu yang drastis (efek kejut) akan membuat isi telur sedikit menyusut dan terpisah dari dinding cangkang.
    • Kupas dari Ujung yang Lebar: Saat mulai mengupas, ketuk dan retakkan telur terlebih dahulu pada ujung yang lebih lebar. Di bagian ujung lebar inilah terletak rongga udara telur, sehingga memberikan ruang awal yang ideal untuk mengupas kulit tanpa merusak putih telurnya.

    Dengan memahami sains di balik sebutir telur dan menerapkan tips di atas, menyajikan telur rebus yang bulat, mulus, dan cantik kini bukan lagi hal yang mustahil!

  • Di balik melimpahnya pasokan telur di pasar, masyarakat perlu tahu bahwa tidak semua jenis telur ayam aman dan layak untuk dikonsumsi harian. Guru Besar Ilmu Ternak Unggas IPB University, Prof. Dr. Ir. Niken Ulupi, MS., menegaskan bahwa telur ayam pedaging bibit (telur fertil) sama sekali tidak diperuntukkan bagi konsumsi masyarakat luas dan dilarang keras untuk diperjualbelikan secara bebas di pasar domestik.

    Sifatnya yang sangat ringkih dan cepat rusak menjadi alasan utama di balik larangan tersebut.

    “Telur fertil yang tidak memenuhi syarat untuk ditetaskan tidak boleh dijual di pasar. Kualitasnya rendah, masa simpannya pendek, dan mudah membusuk,” tegas dosen Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB University ini.

    Ayam Petelur Komersial vs Ayam Pedaging Bibit

    Untuk memahami mengapa telur ini dilarang, Prof. Niken menjelaskan adanya perbedaan mendasar dari hulu industri pemeliharaan ayam modern:

    • Telur Konsumsi Komersial: Ini adalah telur yang biasa kita beli sehari-hari. Telur ini dihasilkan oleh industri ayam petelur komersial yang seluruh populasinya hanya diisi oleh ayam betina tanpa pejantan. Hasilnya adalah telur infertil (tanpa pembuahan) yang stabil dan berdaya simpan lama.
    • Telur Ayam Pedaging Bibit (Breeder Broiler): Ayam jenis ini dipelihara khusus di industri pembibitan untuk menghasilkan telur tertunas (telur fertil). Karena indukan betina dikawinkan dengan pejantan, di dalam telur tersebut terkandung embrio hidup yang nantinya dipersiapkan untuk ditetaskan menjadi bibit ayam broiler (pedaging).

    Risiko Kesehatan dan Stabilitas Pasar

    Secara objektif, kandungan gizi makro seperti protein dan asam amino esensial antara kedua jenis telur ini sebenarnya tidak jauh berbeda. Namun, kehadiran embrio di dalam telur fertil membawa risiko biologis yang besar bagi konsumen.

    1. Ancaman Pembusukan Kilat
    Karena mengandung embrio hidup, telur fertil menuntut penanganan super ketat dengan suhu ruangan yang sangat rendah. Jika telur jenis ini nekat dikeluarkan dari industri pembibitan dan dibiarkan terpapar suhu ruang di pasar tradisional, embrio di dalamnya akan mulai berkembang sebagian. Proses perkembangan embrio yang terhenti ini akan langsung memicu pembusukan dini dari dalam telur.

    2. Merusak Harga Pasar
    Selain masalah kelayakan pangan, Prof. Niken juga menggarisbawahi dampak ekonominya. Jika telur-telur sisa dari industri pembibitan (breeder) ini bocor dan dijual murah ke pasar umum, keberadaannya akan merusak tata niaga dan mengganggu stabilitas harga telur konsumsi yang diproduksi oleh para peternak rakyat.

    Sebagai informasi tambahan, siklus hidup ayam pedaging komersial (broiler) sendiri terbilang sangat singkat—hanya dipelihara sekitar lima minggu sebelum dipotong—sehingga ayam broiler di tingkat peternak komersial memang tidak pernah sampai memasuki fase bertelur. Tugas memproduksi telur fertil sepenuhnya berada di tangan lini breeder.

    Tips Membedakan Telur Konsumsi dan Telur Fertil
    Sebagai panduan taktis bagi konsumen di pasar, Prof. Niken menyebutkan bahwa telur konsumsi biasa dan telur fertil sebenarnya dapat dibedakan secara visual melalui pengamatan pada cangkangnya:

    • Warna Kerabang (Kulit Telur): Kedua jenis telur ini umumnya memiliki perbedaan gradasi warna kulit yang cukup konsisten.
    • Bentuk Telur: Telur konsumsi komersial memiliki bentuk proporsional yang khas, berbeda dengan telur afkir dari pembibitan.
    • Penandaan (Marking): Periksa apakah ada kode atau penandaan khusus pada cangkang yang biasa diterapkan di industri pembibitan.

    “Pemahaman ini penting agar masyarakat dapat memilih telur yang aman, bergizi, dan sesuai peruntukannya,” pungkas Prof. Niken.

  • Indonesia memiliki modal yang sangat masif dalam sektor perkebunan, namun di sisi lain masih terseok-seok memenuhi kebutuhan daging sapi domestik. Menjawab tantangan besar ini, Guru Besar Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University, Prof. Dr. Ir. Nahrowi, M.Sc., menyodorkan sebuah konsep pertanian terpadu (integrated farming) yang sangat menjanjikan, yaitu Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit (SISKA).

    Pendekatan ini dinilai menjadi kunci pas untuk melipatgandakan efisiensi pemanfaatan ruang lahan sekaligus menjadi akselerator utama dalam mengejar target swasembada daging nasional secara berkelanjutan.

    Satu Lahan Dua Hasil: Simbiosis Mutualisme Pekebun dan Peternak
    Pada model konvensional, hamparan kebun sawit umumnya hanya dikelola tunggal untuk memanen tandan buah segar. Namun, lewat sentuhan sistem SISKA, optimalisasi lahan bergerak ke tingkat yang jauh lebih produktif. Lahan perkebunan yang sama kini bisa difungsikan ganda sebagai area penggembalaan ternak ruminansia.

    Prof. Nahrowi memaparkan bahwa integrasi ini melahirkan skema saling menguntungkan yang secara drastis memangkas biaya operasional kedua belah pihak:

    • Keuntungan bagi Peternak: Biaya pengadaan pakan dapat ditekan hingga titik terendah. Sapi-sapi tidak lagi bergantung pada pakan komersial mahal karena mereka bisa langsung memanfaatkan rumput dan vegetasi hijau yang tumbuh subur di bawah tegakan pohon sawit.
    • Keuntungan bagi Pekebun: Keberadaan sapi bertindak sebagai "mesin pemotong rumput alami". Sapi yang memakan gulma secara otomatis memangkas anggaran belanja herbisida kimia.

    Tidak berhenti di situ, SISKA juga menjadi solusi ramah lingkungan melalui pengurangan ketergantungan pada pupuk kimiawi. Kotoran dan urine yang dihasilkan oleh kawanan sapi selama merumput akan kembali ke tanah, bertransformasi menjadi pupuk organik berkadar hara tinggi yang menyuburkan tanaman sawit di atasnya.

    Jalan Pintas Menuju Swasembada Sapi Nasional
    Sebagai Kepala Pusat Studi Hewan Tropika (Centras) IPB University, Prof. Nahrowi melihat ada angka matematis yang sangat optimistis jika potensi ini diseriusi secara nasional.

    Saat ini, Indonesia membentang ruang perkebunan sawit hingga mencapai 16,8 juta hektare. Jika komitmen nasional mampu mengonversi saja setengah dari total luas lahan tersebut (sekitar 8,4 juta hektare) menjadi kawasan SISKA, maka daya tampung lahan tersebut diperkirakan mampu mengakomodasi hingga 8,4 juta ekor sapi. Sebuah angka yang lebih dari cukup untuk menyumbang lonjakan produksi daging secara masif demi menyetop keran impor.

    Dari Kalimantan hingga Miniatur Riset di Jonggol
    Sistem ini bukan lagi sekadar cetak biru atau teori di atas meja laboratorium. Keberhasilan konkret di lapangan telah dibuktikan oleh alumni Fapet IPB University, Wahyu Darsono, melalui pengelolaan PT Simbiosis Karya Agroindustri (SISKA Ranch) di Kalimantan Selatan yang telah sukses berjalan lebih dari enam tahun.

    Hingga saat ini, denyut nadi program ini terus berkembang dengan terbentuknya 58 klaster SISKA yang tersebar di wilayah strategis kelapa sawit nasional, meliputi:

    • Kalimantan Selatan
    • Kalimantan Barat
    • Kalimantan Timur
    • Riau

    Sebagai institusi pendidikan yang mengawal inovasi ini, IPB University tengah bersiap melakukan langkah strategis berikutnya. Kampus akan mendirikan sebuah miniatur sistem SISKA yang berlokasi di IPB Jonggol Innovation Valley. Pusat replika ini nantinya akan difungsikan sebagai episentrum pembelajaran, riset terapan, sekaligus tempat pelatihan bagi masyarakat dan pelaku industri yang ingin mengadopsi sistem ini.

    Sinergi dan dukungan regulasi dari berbagai pemangku kebijakan menjadi prasyarat mutlak. Dengan ekspansi yang lebih luas, SISKA berpeluang besar menjadi roda penggerak utama pertanian dan peternakan masa depan yang hijau, efisien, dan mandiri secara pangan

  • Limbah cair hasil pembuatan keju mozzarella (whey), yang selama ini sering dipandang sebagai produk sampingan bernilai rendah, kini berhasil diubah menjadi bahan pengawet alami berpotensi tinggi melalui inovasi yang dikembangkan tim peneliti IPB University yang dipimpin Prof. Dr. Irma Isnafia Arief, S.Pt., M.Si.

    Inovasi tersebut telah didaftarkan sebagai paten granted dengan judul "Bakteriosin dari Whey Hasil Sampingan Produksi Keju Mozzarella dengan Penambahan Gula Tebu". Teknologi ini memanfaatkan whey sebagai media fermentasi untuk menghasilkan bakteriosin, yaitu senyawa antimikroba alami yang diproduksi oleh bakteri asam laktat.

    Berbeda dengan pengawet sintetis, bakteriosin bekerja secara alami dengan menghambat pertumbuhan bakteri penyebab kerusakan pangan maupun bakteri patogen. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan keamanan pangan, tetapi juga mendukung tren industri makanan yang semakin mengutamakan penggunaan bahan alami.

  • Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University kembali melahirkan doktor baru melalui Sidang Terbuka Promosi Doktor Program Studi Ilmu Nutrisi dan Pakan yang diselenggarakan pada Senin (20/7). Pada sidang tersebut, Dimar Sari Wahyuni berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul "Evaluasi Potensi Makroalga sebagai Rumen Modifier pada Pakan Komplit Domba Berdasarkan Pendekatan Teknologi Omik."

    Penelitian ini menawarkan inovasi pemanfaatan berbagai spesies makroalga Indonesia sebagai pakan aditif alami untuk meningkatkan efisiensi fermentasi rumen sekaligus menekan emisi gas metana enterik pada ternak domba. Pendekatan penelitian dilakukan secara komprehensif melalui integrasi teknologi metabolomik dan metagenomik, sehingga tidak hanya mengevaluasi performa fermentasi rumen, tetapi juga mengungkap mekanisme biologis yang mendasari perubahan komunitas mikroba serta metabolit yang dihasilkan.

    Dalam penelitiannya, Dimar mengevaluasi 14 spesies makroalga yang berasal dari berbagai wilayah Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa spesies memiliki kemampuan yang sangat baik dalam menurunkan produksi metana tanpa mengganggu proses fermentasi rumen. Bahkan, Sargassum sp. dan Caulerpa racemosa mampu menurunkan estimasi produksi metana hingga sekitar 71,86 persen pada pengujian in vitro.

    Pada tahap formulasi pakan komplit, suplementasi Gracilaria gigas pada dosis 1 persen bahan kering menghasilkan produksi metana terendah secara konsisten pada berbagai parameter pengukuran. Di sisi lain, suplementasi makroalga juga terbukti meningkatkan sintesis protein mikroba, memperbaiki degradasi bahan pakan, serta memodulasi komposisi mikrobiota rumen tanpa mengganggu kestabilan pH rumen.

    Menurut hasil penelitian tersebut, kekayaan biodiversitas makroalga Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai rumen modifier yang mendukung sistem peternakan ruminansia berkelanjutan. Inovasi ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas ternak sekaligus mendukung upaya mitigasi emisi gas rumah kaca dari sektor peternakan.

    Salah satu kebaruan utama penelitian ini adalah integrasi evaluasi fermentasi rumen secara in vitro dengan teknologi omik, yaitu metabolomik dan metagenomik. Pendekatan tersebut memungkinkan identifikasi metabolit bioaktif, perubahan komunitas mikroba rumen, hingga mekanisme penurunan metana secara lebih komprehensif dibandingkan penelitian konvensional. Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa penelitian lanjutan secara in vivo masih diperlukan untuk memastikan efektivitas serta dosis optimal sebelum teknologi ini diterapkan secara luas di lapangan.

    Disertasi ini dibimbing oleh Prof. Dr. Anuraga Jayanegara, S.Pt., M.Sc. selaku ketua komisi pembimbing, bersama Prof. Dr. Ir. I. Komang Gede Wiryawan dan Prof. Dr. Roni Ridwan, S.Pt., M.Si. sebagai anggota komisi pembimbing. Sidang promosi doktor turut menghadirkan penguji luar komisi, yaitu Prof. Dr. Sri Suharti, S.Pt., M.Si. serta Dr. Ir. RA Yeni Widiawati, Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Hasil penelitian ini diharapkan menjadi landasan ilmiah dalam pengembangan pakan aditif berbasis sumber daya laut Indonesia yang tidak hanya meningkatkan efisiensi produksi ternak ruminansia, tetapi juga mendukung pengembangan sistem peternakan rendah emisi menuju pembangunan peternakan yang berkelanjutan.

  • Saat berbelanja di pasar, konsumen sering kali dihadapkan pada pilihan antara ayam broiler (ras) atau ayam pejantan. Bagi sebagian orang, daging ayam pejantan kerap dinilai lebih liat atau alot jika dibandingkan dengan daging ayam broiler yang terkenal sangat lembut dan cepat empuk saat dimasak.

    Ternyata, perbedaan tekstur ini bukan tanpa alasan. Dosen Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB University, Dr. Tuti Suryati, membedah faktor-faktor biologis yang melandasi perbedaan tersebut serta membagikan trik taktis agar ayam pejantan bisa diolah menjadi hidangan yang empuk dan lezat.

    Akar Masalah: Perbedaan Genetik dan Masa Pelihara

    Faktor paling mendasar yang menentukan tekstur daging kedua jenis ayam ini adalah cetak biru genetiknya sejak awal.

    • Ayam Broiler (Tipe Pedaging): Merupakan hasil dari proses pemuliaan (pembiakan selektif) jangka panjang yang dirancang khusus untuk menghasilkan daging secara cepat dan efisien. Hanya dalam waktu 30 hingga 42 hari (5–6 minggu), ayam broiler sudah mampu mencapai bobot potong optimal dengan karakteristik daging yang sangat empuk.
    • Ayam Pejantan (Tipe Petelur): Ayam ini sebenarnya berasal dari bangsa ayam petelur yang genetiknya dimurnikan demi mengejar produktivitas telur yang tinggi pada ayam betina. Akibatnya, pertumbuhan ayam pejantan tidak seefisien broiler. Mereka membutuhkan waktu pemeliharaan yang jauh lebih lama untuk mencapai ukuran siap potong.

    “Karena dipelihara lebih lama, tekstur daging ayam pejantan menjadi lebih alot, tetapi sisi baiknya adalah kandungan lemaknya relatif lebih rendah dibandingkan ayam broiler,” jelas Dr. Tuti.

    Faktor Biologis: Peran Kolagen dan Aktivitas Fisik

    Secara ilmiah, Dr. Tuti menyebutkan ada dua komparasi biologis yang membuat otot ayam pejantan menjadi lebih keras:

    1. Akumulasi Zat Kolagen

    Kolagen adalah komponen utama penyusun jaringan ikat pada tubuh hewan. Jumlah kolagen ini akan terus meningkat secara alami seiring dengan bertambahnya usia ternak. Karena ayam pejantan disembelih pada umur yang lebih tua daripada broiler, jaringan ikat di dalam dagingnya menjadi lebih banyak dan kuat, sehingga tingkat kealotan dagingnya otomatis meningkat.

    2. Tingkat Aktivitas Fisik

    Karakteristik perilaku juga memengaruhi kualitas daging. Ayam yang bergerak lebih aktif di dalam kandang akan mengalami kontraksi otot yang lebih sering. Aktivitas yang tinggi ini melatih otot ayam menjadi lebih kuat, padat, dan menghasilkan jalinan serat daging yang lebih keras saat dipotong.

    Meskipun lebih liat, daging ayam pejantan justru memiliki segmen pasar tersendiri. Banyak konsumen yang fanatik menyukainya karena teksturnya yang berserat padat, rendah lemak, tidak terlalu lembek, dan cita rasanya dinilai sangat mirip dengan ayam kampung asli.

    Trik Dapur: Cara Mengempukkan Daging Ayam Pejantan

    Anda tidak perlu khawatir daging akan menjadi keras saat dimasak. Kualitas tekstur ayam pejantan dapat diakali secara efektif asalkan menggunakan teknik kuliner yang tepat.

    Berikut adalah rekomendasi metode pengolahan dari Dr. Tuti:

    • Gunakan Teknik Basah (Perebusan): Ayam pejantan sangat ideal dimasak untuk hidangan yang berbasis banyak air atau kuah dalam waktu lama, seperti sop, gulai, atau opor.
    • Lakukan Metode Ungkep: Jika Anda berencana membuat ayam goreng atau ayam bakar, jangan langsung memasaknya dari kondisi mentah. Lakukan proses perebusan pendahuluan bersama bumbu (diungkep) agar serat dagingnya melunak terlebih dahulu.
    • Manfaatkan Alat dan Bahan Alami: Untuk mempercepat keempukan, Anda bisa memanfaatkan tekanan tinggi dari panci presto, atau menggunakan enzim pelunak daging alami dari lumatan buah nanas maupun bungkusan daun pepaya sebelum ayam dimasak.
    • Hindari Memasak Terlalu Kering: Saat menggoreng atau memanggang, pastikan durasinya tidak berlebihan hingga daging kehilangan seluruh cairannya. Proses memasak yang terlalu lama hingga kering justru akan mengunci serat daging menjadi semakin keras dan sulit digigit.
  • Dalam beberapa hari terakhir, media di Australia menyoroti keberangkatan MV Al Kuwait, salah satu kapal pengangkut ternak hidup terbesar di dunia, dari Pelabuhan Darwin menuju Indonesia. Kapal tersebut membawa lebih dari 17.000 ekor sapi untuk memenuhi kebutuhan pasar Indonesia yang terus meningkat.

    Peristiwa ini kembali menunjukkan eratnya hubungan perdagangan ternak antara Indonesia dan Australia. Selama ini, Indonesia menjadi pasar utama ekspor sapi hidup Australia. Pada tahun 2025, Indonesia tercatat mengimpor sekitar 583.418 ekor sapi dengan harga rata-rata sekitar USD4,00 per kilogram bobot hidup.

    Menurut Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof Ronny Rachman Noor, tingginya impor sapi hidup mencerminkan belum tercapainya keseimbangan antara kebutuhan daging nasional dan kapasitas produksi dalam negeri.

    Produksi Lokal Belum Mampu Mengejar Permintaan
    Kebutuhan daging sapi di Indonesia terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk, meningkatnya daya beli masyarakat, serta berkembangnya industri makanan, hotel, restoran, dan katering. Daging sapi juga memiliki nilai budaya yang kuat, terutama pada momen keagamaan seperti Iduladha.

    Di sisi lain, populasi dan produktivitas sapi potong lokal masih terbatas. Bangsa lokal seperti Sapi Bali dan Peranakan Ongole memiliki potensi besar, namun laju pertumbuhannya relatif lebih lambat dibandingkan sapi impor seperti Brahman Cross yang banyak dipasok dari Australia.

    “Kapasitas produksi sapi potong domestik belum cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional, terutama di kota-kota besar. Hal ini terkait dengan produktivitas ternak lokal yang masih rendah dan sistem pemeliharaan yang belum efisien,” jelas Prof Ronny.

    Keterbatasan pakan berkualitas, sempitnya lahan, serta dominasi usaha peternakan rakyat skala kecil menjadi faktor yang membatasi peningkatan produksi. Selain itu, sentra produksi seperti Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, dan Jawa Tengah belum sepenuhnya mampu menjangkau pusat-pusat konsumsi besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan secara efisien.

    Australia Unggul dari Sisi Logistik dan Kualitas
    Australia memiliki sistem ekspor ternak hidup yang sangat terintegrasi. Pelabuhan-pelabuhan utama seperti Darwin, Kimberley, dan Queensland didukung infrastruktur modern serta armada kapal berkapasitas besar seperti MV Al Kuwait, yang mampu mengangkut puluhan ribu ekor ternak dalam satu perjalanan.

    Selain itu, sapi Australia, terutama Brahman Cross, memiliki performa pertumbuhan yang baik dan sangat sesuai untuk sistem penggemukan (feedlot). Hal ini menjadikan sapi impor sebagai pilihan yang kompetitif bagi pelaku industri pengolahan daging di Indonesia.

    Manfaat Impor bagi Pasar Domestik
    Impor sapi hidup memberikan sejumlah manfaat strategis. Pasokan yang stabil membantu menjaga ketersediaan daging di pasar, terutama pada saat permintaan meningkat. Harga sapi impor juga relatif kompetitif, sehingga mendukung industri penggemukan dan menjaga kestabilan harga di tingkat konsumen.

    Hubungan perdagangan ini juga memperkuat kerja sama ekonomi bilateral antara Indonesia dan Australia di sektor peternakan.

    Risiko Ketergantungan yang Perlu Diantisipasi
    Meski bermanfaat, ketergantungan yang tinggi terhadap satu negara pemasok menimbulkan sejumlah risiko. Gangguan geopolitik, perubahan kebijakan perdagangan, wabah penyakit hewan, hingga fluktuasi nilai tukar dapat memengaruhi kelancaran pasokan dan harga.

    Jika diasumsikan bobot rata-rata sapi impor mencapai 300 kilogram per ekor, maka nilai impor Indonesia pada tahun 2025 diperkirakan mencapai sekitar USD700 juta atau setara lebih dari Rp11 triliun. Angka ini menunjukkan besarnya dana yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani dari luar negeri.

    Strategi Menuju Kemandirian Daging Nasional
    Prof Ronny menekankan bahwa pengurangan ketergantungan pada sapi impor harus dilakukan melalui strategi jangka panjang yang terencana.

    Langkah pertama adalah memperkuat program pembibitan dan perbaikan genetik sapi lokal seperti sapi Bali dan Peranakan Ongole agar memiliki produktivitas yang lebih tinggi.

    Langkah kedua adalah mengembangkan sistem penggemukan berbasis pakan lokal, termasuk pemanfaatan jagung, singkong, dan limbah pertanian untuk menekan biaya produksi.

    Selain itu, diversifikasi sumber impor dari negara lain seperti Brasil, India, dan negara-negara Asia Tenggara dapat dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada satu pemasok utama.

    Dari sisi konsumsi, peningkatan pemanfaatan sumber protein hewani lain seperti ayam, kambing, domba, dan ikan juga dapat membantu menyeimbangkan kebutuhan masyarakat.

    Kebijakan pemerintah berupa subsidi bagi peternak, insentif investasi, dan pengaturan kuota impor yang tepat dinilai penting agar peternak lokal tetap memiliki ruang untuk berkembang.

    Menyeimbangkan Kebutuhan dan Kemandirian
    Impor sapi hidup dari Australia masih menjadi bagian penting dalam menjaga pasokan daging nasional. Namun, dalam jangka panjang, Indonesia perlu memperkuat fondasi produksi domestik agar tidak terlalu bergantung pada pasar internasional.

    Dengan dukungan riset, inovasi teknologi, dan kebijakan yang konsisten, Indonesia memiliki peluang besar untuk membangun industri peternakan sapi potong yang lebih produktif, efisien, dan berdaya saing. Kemandirian protein hewani bukan hanya soal mengurangi impor, tetapi juga tentang memastikan ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan.

  • Di pasaran, masyarakat sering menemukan fenomena unik: telur ayam berukuran besar terkadang dijual dengan harga lebih murah dibandingkan telur berukuran kecil. Kondisi ini sering menimbulkan anggapan bahwa telur berukuran kecil memiliki kualitas yang lebih baik. Padahal, perbedaan harga tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh pola konsumsi dan sistem perdagangan telur di masyarakat.

    Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Niken Ulupi, menjelaskan bahwa sebagian besar telur ayam di Indonesia dipasarkan berdasarkan berat, yaitu per kilogram (kg). Dalam sistem penjualan seperti ini, telur berukuran kecil justru lebih diminati karena jumlah butir yang diperoleh konsumen menjadi lebih banyak.

    “Sebagian besar konsumen telur ayam berasal dari kelompok ekonomi menengah ke bawah. Mereka cenderung memilih telur berukuran kecil karena dalam satu kilogram dapat berisi lebih banyak butir dibandingkan telur berukuran besar. Akibatnya, permintaan terhadap telur kecil lebih tinggi sehingga harga jualnya sering kali lebih mahal,” jelasnya.

    Menurut Prof Niken, ukuran telur tidak dapat dijadikan indikator kualitas maupun keamanan pangan. Telur berukuran besar maupun kecil memiliki nilai gizi yang baik selama berasal dari ayam yang sehat, memperoleh pakan berkualitas, dan dipelihara dengan manajemen yang tepat. Selain itu, pengolahan yang benar juga menjadi faktor penting untuk memastikan telur aman dikonsumsi.

    Ia menambahkan bahwa ukuran telur dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain genetik ayam, kualitas dan kecukupan nutrien pakan, sistem pemeliharaan, serta umur ayam petelur. Pada awal masa produksi, ayam umumnya menghasilkan telur berukuran lebih kecil. Seiring bertambahnya umur ayam, ukuran telur yang dihasilkan cenderung meningkat.

    Selain ukuran, warna kerabang telur juga sering menjadi perhatian konsumen. Prof Niken menjelaskan bahwa warna cangkang telur, baik putih maupun cokelat, terutama ditentukan oleh faktor genetik atau strain ayam yang memproduksinya. Ketersediaan pigmen dalam pakan juga dapat memengaruhi intensitas warna kerabang telur.

    “Perbedaan warna kerabang tidak menunjukkan perbedaan kualitas maupun kandungan gizi telur. Faktor utamanya adalah genetik ayam yang menghasilkan telur tersebut,” ujarnya.

    Tips Memilih Telur Berkualitas
    Dalam memilih telur, masyarakat disarankan untuk memperhatikan kondisi fisik kerabang. Telur yang baik umumnya memiliki permukaan cangkang yang halus, warna merata, bersih, tidak retak atau pecah, serta berbentuk oval normal.

    Apabila tersedia alat peneropong telur (candling), konsumen juga dapat memilih telur yang memiliki kantong udara kecil pada bagian ujung tumpulnya. Kantong udara yang kecil umumnya menunjukkan bahwa telur masih relatif segar.

    Prof Niken juga mengingatkan bahwa kualitas telur akan menurun seiring lamanya penyimpanan, terutama jika disimpan pada suhu ruang. Oleh karena itu, memilih telur yang baru diproduksi menjadi salah satu langkah penting untuk memperoleh kualitas terbaik.

    “Telur yang aman dikonsumsi adalah telur yang berasal dari ayam sehat, masih segar, serta diolah dan disajikan dengan cara yang benar dan higienis,” pungkasnya.

  • Isu kemandirian pakan dan tingginya angka mortalitas ternak muda masih menjadi tantangan besar dalam dunia peternakan nasional. Menjawab tantangan tersebut, tim dosen dari Divisi Nutrisi Ternak Pedaging dan Kerja (NTDK), Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP), Fakultas Peternakan IPB University, berhasil menciptakan terobosan mutakhir. Melalui riset panjang sejak tahun 2014, mereka sukses mengembangkan tiga produk pakan inovatif berbasis Black Soldier Fly (BSF) atau maggot.

    Ketiga produk inovasi unggulan tersebut adalah BSF-Milk Replacer (susu pengganti), BSF-Starter Complete Feed, dan BSF-Cat Food. Produk-produk ini resmi diperkenalkan dalam ajang Launching Inovasi Unggulan IPB Batch 8 yang diselenggarakan oleh LPPM IPB University di Kampus Dramaga, Bogor.

    Mengapa Harus Larva BSF?
    Larva BSF yang dipanen dari proses biofermentasi limbah organik dikenal sebagai sumber nutrisi masa depan (superfood) untuk industri pakan. Komoditas ini memiliki profil nutrisi yang sangat menguntungkan:

    • Protein Tinggi: Mencapai 42%
    • Lemak Tinggi: Mencapai 37%
    • Kandungan Asam Laurat Tinggi: Mencapai 40% dari total asam lemak, yang berfungsi alami sebagai agen antimikroba.

    Potensi inilah yang diracik oleh tim peneliti Fapet IPB menjadi formula pakan fungsional yang tidak hanya menutrisi, tetapi juga menjaga kesehatan pencernaan ternak.

    Bedah Inovasi: 3 Produk Pakan Fungsional Berbasis BSF

    1. BSF-Milk Replacer: Solusi Anti-Diare Anak Ternak Pra-Sapih

    Salah satu kendala utama peternakan ruminansia kecil (kambing dan domba) adalah angka kematian anak pra-sapih yang menyentuh angka 20%, mayoritas dipicu oleh diare akibat bakteri E. coli.

    Digawangi oleh Prof. Dewi Apri Astuti dan Kokom komalasari, S.Pt, M.Si, bekerja sama dengan PT Biocycle Indonesia, formula susu pengganti ini dirancang menyerupai susu induk alami sesuai rekomendasi FAO.

    • Kandungan Nutrisi: Protein 27%, Lemak 20%, Kalium 1,50%, dan Fosfor 0,70%.
    • Keunggulan: Kandungan asam laurat yang tinggi dari minyak BSF terbukti efektif mematikan bakteri E. coli, menjadikannya ramuan alami anti-diare.
    • Status Hukum: Telah terdaftar paten (No. PID201806537) dan meraih penghargaan Karya Inovatif 113. Produk ini siap dikomersialkan secara luas.

    Tips Aplikasi Lapang:

    Larutkan Milk Replacer dengan air hangat (perbandingan 1:4) menggunakan botol steril. Berikan pada ternak usia 1 minggu sebanyak 6 kali sehari, lalu kurangi bertahap hingga usia 8 minggu (menjelang sapih) menjadi 2 kali sehari. Jumlah konsumsi ideal adalah sekitar 3% bahan kering dari bobot badan ternak.


    2. BSF-Starter Complete Feed: Mengawal Program BALIBU

    Pindah ke fase lepas sapih, anak domba/kambing sering mengalami stres lingkungan dan pakan yang memicu penurunan bobot badan, terutama saat musim hujan. Tim peneliti yang digawangi Prof. Dewi Apri Astuti, Dr. Didid Diapari, dan Dr. Dilla M. memformulasikan pakan pemula (starter) khusus.

    • Kandungan Nutrisi: Protein 17%, Lemak 7%, TDN (Total Digestible Nutrient) 75%, Kalsium 0,5%, Phospor 0,6%, serta kaya akan asam amino esensial glisin dan metionin.
    • Dampak di Lapangan: Data riset menunjukkan anak domba yang diberi pakan ini mengalami pertumbuhan pesat berkisar 112–120 gram/ekor/hari.
    • Target Strategis: Pertumbuhan ini sangat krusial untuk mendukung program pemerintah dalam penyediaan daging lokal lewat target bobot potong umur 5 bulan (Balibu/Kalibu) sebesar 21 kg. Produk ini kini sedang dalam tahap pengajuan paten.

    3. BSF-Cat Food: Substitusi Pakan Hewan Kesayangan Impor

    Tidak hanya untuk ternak produktif, Fapet IPB juga melirik potensi besar pasar hewan kesayangan (pet food). Hingga kini, pasar pakan kucing nasional masih didominasi produk impor. Untuk menekan ketergantungan tersebut, Prof. Dewi Apri Astuti dan Dr. Sri Suharti mengembangkan BSF-Cat Food lokal berkualifikasi premium.

    • Kandungan Nutrisi: Protein 25%, Lemak 11%, Serat 5%, serta diperkaya taurin untuk kehalusan bulu kucing dan vitamin-mineral untuk kekuatan tulang.
    • Sinergi Industri: Bekerja sama dengan PT Bahagia Satwa Indonesia (BSI), pakan kucing ini diproduksi secara komersial dengan jaringan pemasaran yang didukung oleh komunitas dokter hewan praktisi di wilayah Jabodetabek.
       

    Hilirisasi Nyata: Sinergi Kampus dan Industri

    Langkah yang diambil oleh Divisi NTDK Fapet IPB merupakan contoh ideal dari konsep triple helix, di mana hasil riset laboratorium tidak berhenti menjadi draf laporan saja, melainkan berhasil dihilirisasi ke sektor industri.

    Melalui kolaborasi bersama mitra strategis seperti PT Biocycle Indonesia dan PT Bahagia Satwa Indonesia, Fapet IPB membuktikan bahwa inovasi berbasis bahan baku lokal mampu berbicara banyak di tingkat nasional. Langkah ini tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi limbah organik melalui BSF, tetapi juga memperkuat kedaulatan pakan dan ketahanan pangan di Indonesia.

  • Telur telah lama menjadi salah satu sumber protein hewani andalan yang menjadi pangan pokok masyarakat. Harganya yang terjangkau, kemudahan dalam pengolahan, serta kandungan gizinya yang tinggi membuat komoditas ini sangat digemari. Terlebih saat memasuki momen-momen tertentu seperti bulan Ramadan, tingkat konsumsi telur di tengah masyarakat diprediksi akan mengalami lonjakan yang signifikan.

    Namun, di balik popularitasnya, sebagian masyarakat justru cenderung membatasi atau bahkan menghindari konsumsi telur. Alasan utamanya adalah adanya kekhawatiran bahwa telur dapat mendongkrak kadar kolesterol dalam darah serta memicu risiko penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah).

    Menanggapi dilema tersebut, akademisi sekaligus peneliti teknologi pangan dan hasil ternak dari Fakultas Peternakan IPB University, Dr. Zakiah Wulandari, S.TP, M.Si, memberikan ulasan ilmiah berbasis data nutrisi agar masyarakat tidak salah kaprah.

    Menakar Kadar Kolesterol di Dalam Butiran Telur
    Dr. Zakiah membenarkan bahwa anggapan mengenai kuning telur yang dapat memicu kolesterol jahat bukanlah sekadar mitos, melainkan sebuah fakta biologis.

    “Mengonsumsi kuning telur dapat meningkatkan kolesterol jahat adalah fakta. Pada bagian kuning telur, kandungan kolesterol sebesar lima persen dari total lemak,” jelas Sekretaris Departemen di Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Fapet IPB tersebut.

    Secara rata-rata, satu butir telur mengandung sekitar 186 mg kolesterol. Sementara itu, standar rekomendasi asupan kolesterol harian bagi tubuh manusia berada di kisaran 100 hingga 300 mg per hari. Angka ini menuntut pengelolaan menu yang bijak, sebab sumber kolesterol harian tidak hanya berasal dari telur, melainkan bisa didapatkan dari berbagai pangan hewani lainnya yang dikonsumsi dalam sehari.

    Panduan Porsi Aman: Berapa Butir Telur Per Hari?
    Agar tetap mendapatkan manfaat optimal tanpa mengorbankan kesehatan, Dr. Zakiah membagikan panduan taktis mengenai batasan konsumsi telur harian berdasarkan kondisi tubuh masing-masing individu:

    • Bagi Penderita Penyakit Tertentu: Untuk para penderita diabetes, gangguan kardiovaskular, tekanan darah tinggi (hipertensi), serta orang dengan kondisi hiperkolesterol (asupan kolesterol maksimal 200 mg/hari), disarankan membatasi konsumsi maksimal 2 butir telur per minggu jika dimakan secara utuh bersama kuningnya.
    • Solusi Putih Telur: Porsi konsumsi bagi penderita penyakit tersebut tetap boleh dinaikkan secara aman, asalkan tanpa mengonsumsi bagian kuning telurnya. Bagian putih telur merupakan sumber protein murni tanpa kolesterol jahat yang sangat bermanfaat bagi tubuh.
    • Untuk Orang dalam Kondisi Sehat: Bagi individu yang sehat dan tidak memiliki riwayat komorbid, rekomendasi konsumsi telur utuh lengkap dengan kuningnya adalah 1 butir per hari. Batasan ideal ini dipastikan tidak akan menaikkan risiko serangan penyakit kardiovaskular.

    Kandungan Gizi: Putih Telur vs Kuning Telur
    Sebagai panduan memasak di dapur, konsumen perlu memahami perbedaan karakteristik makronutrisi dan energi yang terkandung di setiap bagian telur (per 100 gram bahan):

    • Karakteristik Putih Telur: Bagian putih telur sangat rendah kalori dan lemak. Per 100 gram putih telur hanya mengandung energi sebesar 45 kkal. Komposisi utamanya didominasi oleh kadar air sebesar 88%, protein 11%, lemak hanya 0,03%, serta karbohidrat sebesar 0,04%.
    • Karakteristik Kuning Telur: Bagian kuning telur jauh lebih padat energi dan lemak. Per 100 gram kuning telur mengandung kalori yang cukup tinggi, yaitu sebesar 353 kkal. Di dalamnya terkandung kadar air 49%, protein 18%, lemak sebesar 29%, dan karbohidrat 0,2%.
    • Karakteristik Telur Utuh (Campuran): Jika putih dan kuning telur dicampur menjadi satu, maka dalam 100 gram telur utuh mengandung energi sebesar 150 kkal. Komposisi gizinya menjadi lebih seimbang, yaitu kadar air 75%, protein 12%, lemak 10%, dan kadar karbohidrat sebesar 2%.

    Melihat perbandingan di atas, putih telur merupakan opsi terbaik bagi mereka yang sedang menjalani program diet rendah kalori dan rendah lemak. Sebaliknya, kuning telur kaya akan kalori, namun menyimpan konsentrasi lemak yang tinggi.

Riset & Kepakaran

Monday, 03 August 2026 15:17

Pendekatan nutrigenomik membuka peluang baru dalam pengembangan ayam lokal unggul Indonesia. Melalui disertasinya yang berjudul "Kajian Nutrigenomik Gen CAPN11 dan FABP4 pada Ayam IPB D1 yang Diberi...

Friday, 24 July 2026 10:10

Telur asin telah lama menjadi salah satu makanan favorit masyarakat Indonesia. Rasanya yang gurih, teksturnya yang khas, serta daya simpannya yang lebih lama dibandingkan telur segar membuat telur...

Monday, 20 July 2026 13:00

Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University kembali melahirkan doktor baru melalui Sidang Terbuka Promosi Doktor Program Studi Ilmu Nutrisi dan Pakan yang diselenggarakan pada Senin (20/7). Pada...

Monday, 20 July 2026 10:20

Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University terus menghasilkan inovasi yang mendukung pengembangan pertanian dan peternakan berkelanjutan. Salah satunya melalui capaian Paten Granted yang diraih...

Fapet Insight

Tuesday, 04 August 2026 11:59

Himpunan Mahasiswa Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (Himaproter) Fakultas Peternakan IPB University melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) menghadirkan...

Friday, 24 July 2026 09:09

Selamat dan sukses kepada dosen penerima program hibah PRIME STeP 2026 Batch 2 – Pengembangan Inovasi 2026

Friday, 17 July 2026 08:58

Selamat dan sukses kepada para wisudawan terbaik Strata 1, Strata 2, dan Strata 3 Fakultas Peternakan IPB. Semoga ilmu yang telah diraih menjadi bekal untuk terus berkarya, berinovasi, dan...

Monday, 13 July 2026 09:56

Selamat dan sukses atas paten granted "Bakteriosin dari Whey Hasil Sampingan Produk Keju Mozarella dengan Penambahan Gula Tebu". Terima kasih atas desikasi, kerj keras, dan kontribusi luar biasa...

Lensa Inspirasi

Dalam dunia industri manufaktur pangan, konsistensi dan keamanan adalah segalanya. Bagi seorang pakar teknologi susu, perjalanan karier bukan sekadar tentang angka produksi, melainkan tentang...

Kapsul Inovasi

Innovator : Dr Iyep Komala, S.Pt, M.Si Dr Mohammad Fayruz, CEO PT Lana Ratifa D-Ruminansia adalah inovasi teknologi berbasis Internet of Things (IoT) yang dirancang khusus untuk memantau mikroklimat...

Achievements

Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Erika Budiarti Laconi , menerima Penghargaan Inovasi Industri 2026 pada kategori Leadership in Research & Innovation Commercialization for Food...

Video Highlight

Ayam IPB D1 adalah hasil inovasi yang dikembangkan Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof. Dr. Cece Sumantri beserta tim, merupakan ayam lokal pedaging unggul dengan pertumbuhan cepat,...