Departemen IPTP

Producing Professionals
in Livestock Industry

Departemen INTP

Better Feed for Better
Animal Product

 

Pascasarjana

Kuliah Pascasarjana ?
Fapet IPB tempat yang tepat

Pendaftaran

Universitas Berkelas Dunia, Berkualitas, dan Terakreditasi Internasional

Riset & Kepakaran

  • Dunia peternakan sapi perah saat ini tengah menghadapi tantangan serius yang kerap luput dari perhatian, yaitu penyakit mastitis. Penyakit ini tidak boleh disepelekan karena tidak hanya berdampak buruk pada kesehatan satwa, melainkan juga memicu kerugian ekonomi yang besar bagi peternak serta menurunkan kualitas produksi susu secara drastis.

    Dosen Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University, Dr. Iyep Komala, membedah secara tuntas mengenai apa itu mastitis, faktor pemicunya, hingga langkah penanganan taktis yang bisa diterapkan oleh peternak rakyat.

    Apa Itu Mastitis dan Apa Saja Cirinya?
    Secara medis, mastitis adalah penyakit peradangan yang terjadi pada jaringan ambing (kelenjar susu) sapi. Penyakit ini umumnya dipicu oleh adanya infeksi bakteri. Ketika sapi perah mulai terjangkit mastitis, mereka akan menunjukkan tanda-tanda ketidaknyamanan yang khas.

    Beberapa ciri utama dan gejala mastitis yang wajib diwaspadai antara lain:

    • Terjadi pembengkakan dan kemerahan pada area ambing sapi.
    • Terjadi perubahan warna serta tekstur pada susu yang dihasilkan.
    • Sapi menunjukkan penurunan nafsu makan akibat rasa tidak nyaman.

    "Jika kondisi ini dibiarkan kronis, bisa menyebabkan kerusakan permanen pada ambing," peringat Dr. Iyep 

    Selain merusak kesehatan sapi, susu yang dihasilkan dari ambing yang terinfeksi dapat mengandung bakteri patogen yang berbahaya jika dikonsumsi oleh manusia.

    Akar Penyebab Mastitis pada Sapi Perah
    Bakteri sebagai aktor utama penyebab mastitis sering kali bersumber dari lingkungan peternakan atau area kandang yang tidak terjaga kebersihannya. Namun, Dr. Iyep menggarisbawahi bahwa manajemen peternakan yang buruk juga turut andil memperparah risiko penularan.

    Faktor penunjang tersebut meliputi:

    • Kondisi stres pada sapi.
    • Kesalahan dalam penanganan ternak serta perlakuan kasar dari peternak.
    • Pola pergantian pakan yang tidak tepat atau mendadak.
    • Kuku sapi yang dibiarkan panjang saat proses pemerahan, sehingga memicu luka fisik pada ambing.

    Panduan Penanganan dan Metode Pengobatan
    Langkah awal pencegahan terbaik yang disarankan adalah dengan konsisten menjaga sanitasi kandang serta menerapkan prinsip-prinsip pemerahan yang baik atau good milking practices. Namun, jika sapi di lapangan sudah telanjur mengidap mastitis, Dr. Iyep memaparkan dua metode pengobatan yang bisa ditempuh:

    1. Metode Antibiotik
    Pengobatan menggunakan antibiotik komersial wajib dilakukan secara hati-hati dan di bawah pengawasan yang tepat. Kesalahan dosis atau durasi dalam penggunaan antibiotik berisiko tinggi menyebabkan munculnya residu antibiotik di dalam susu, sehingga susu tersebut tidak layak konsumsi.

    2. Metode Alami (Herbal Daun Sirih)
    Sebagai alternatif aman yang sangat ramah bagi peternak rakyat, pemanfaatan daun sirih sangat direkomendasikan karena kandungan antiseptik alaminya yang kuat.

    • Ekstrak Daun Sirih: Merupakan pilihan terbaik untuk mengobati infeksi.
    • Air Rebusan Daun Sirih: Jika ekstrak tidak tersedia, peternak bisa merebus daun sirih secara manual untuk digunakan sebagai antiseptik pembersih.

    Senjata Pencegahan: Teknik Teat Dipping
    Setelah proses pemerahan selesai, peternak sangat disarankan untuk melakukan metode teat dipping, yaitu mencelupkan puting susu sapi ke dalam larutan antiseptik. Larutan yang digunakan bisa berupa tingtur yodium maupun air rebusan daun sirih. Langkah sederhana ini terbukti efektif mencegah masuknya bakteri ke dalam saluran puting dan meminimalkan risiko mastitis pasca pemerahan.

    Melalui kombinasi kebersihan kandang, pemerahan yang higienis, serta pemeriksaan kesehatan ambing secara berkala, angka kejadian mastitis di tingkat peternak rakyat dapat ditekan secara signifikan demi menjaga mutu gizi susu masyarakat.

  • Tantangan efisiensi dalam industri peternakan nasional kian krusial. Menjawab persoalan tersebut, Guru Besar Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ridla, M.Agr., memaparkan solusi strategis untuk meningkatkan kualitas pakan dan produksi ternak berkelanjutan melalui pemanfaatan bioteknologi pakan.

    Teknologi berbasis enzim dan mikroba fungsional dinilai mampu menjadi jawaban atas tingginya angka kehilangan pakan (feed loss) di Indonesia. Dengan memecah komponen kompleks dalam bahan pakan, teknologi ini secara signifikan meningkatkan efisiensi pemanfaatan nutrien.

    “Pendekatan ini meningkatkan proses cerna pakan, pemenuhan nutrisi, serta mendukung pertumbuhan dan kesehatan ternak secara berkelanjutan,” ujar Prof. Ridla.

    Potensi Finansial: Menghemat Belasan Triliun Rupiah

    Data menunjukkan bahwa produksi pakan nasional pada tahun 2024 mencapai angka yang fantastis, yaitu 18,5 juta ton dengan nilai perputaran ekonomi sebesar Rp148 triliun. Namun, industri ini masih dibayangi oleh kerugian besar akibat kehilangan pakan yang mencapai 20 persen, atau setara dengan Rp29 triliun.

    Bioteknologi hadir sebagai penyelamat efisiensi ekonomi ini. Menurut kalkulasi Prof. Ridla, peningkatan kecernaan sebesar 10 persen saja melalui sentuhan bioteknologi berpotensi menghemat anggaran pakan nasional hingga Rp14,5 triliun.

    Meskipun pabrik pakan komersial (feedmill) skala besar di Indonesia umumnya telah mengadopsi enzim dan probiotik untuk meningkatkan kualitas produk mereka, tantangan besar justru ada di tingkat akar rumput. Pemahaman peternak rakyat/kecil mengenai pemanfaatan enzim, probiotik, prebiotik, proses fermentasi, hingga pengolahan kotoran berbasis bioteknologi dinilai masih sangat terbatas.

    Mengupas Kinerja Enzim dan Probiotik dalam Ransum

    Secara teknis, bioteknologi pakan bekerja secara spesifik melalui beberapa komponen penting:

    1. Multienzim untuk Efisiensi Nutrisi

    Enzim Fitase: Berfungsi mengurai ikatan fitat sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan. Sebagai contoh, pada ayam broiler, penggunaan fitase mampu menurunkan kebutuhan fosfor tersedia dari 0,40% menjadi 0,21%.
    Enzim Protease: Berperan mendongkrak efisiensi pencernaan protein. Suplementasi satu dosis protease pada ransum jagung–bungkil kedelai (SBM) terbukti menaikkan kecernaan protein sebesar 11% dan retensi nitrogen sebesar 4%.
    Enzim Karbohidrase: Mampu mendongkrak energi metabolis pakan sebanyak 100–250 kkal/kg serta meningkatkan kecernaan protein sekitar 5%.

    2. Probiotik (Bakteri Asam Laktat)

    Mikroba fungsional ini bertindak sebagai penjaga benteng pertahanan di saluran pencernaan ternak. Penggunaan bakteri asam laktat secara konsisten terbukti mampu:

    • Memperbaiki struktur histologi usus.
    • Meningkatkan konsumsi pakan dan memacu pertumbuhan bobot badan.
    • Menurunkan nilai Feed Conversion Ratio (FCR) sehingga konversi pakan menjadi daging lebih efisien.

    Menjinakkan Senyawa Antinutrisi

    Salah satu kendala utama penggunaan bahan pakan alternatif lokal adalah tingginya kandungan zat antinutrisi yang dapat mengganggu pencernaan ternak. Melalui penerapan fermentasi dan perlakuan enzimatik, senyawa-senyawa antinutrisi tersebut dapat didegradasi dan diturunkan kadarnya secara signifikan. Hasil akhirnya adalah peningkatan kualitas ransum secara keseluruhan yang lebih aman dan bergizi tinggi bagi ternak.

    Tidak hanya urusan perut ternak, efisiensi nitrogen yang dihasilkan dari penggunaan bioteknologi ini juga berdampak positif pada lingkungan, karena terbukti mampu menurunkan produksi gas amonia yang memicu bau menyengat di area kandang.

    Sudah saatnya edukasi bioteknologi pakan ini digencarkan hingga ke peternak rakyat, demi mewujudkan kedaulatan pangan dan peternakan Indonesia yang berkelanjutan dan jauh lebih menguntungkan.

  • Lonjakan harga daging ayam di pasaran belakangan ini kerap dipicu oleh satu faktor klasik: melambungnya harga jagung. Sebagai pilar utama yang mengisi hingga setengah dari total formula ransum unggas di seluruh dunia, fluktuasi harga jagung di Indonesia langsung memukul isi dompet para peternak dan konsumen.

    Merespons krisis ini, dosen Fakultas Peternakan IPB University, Dr. Heri Ahmad Sukria, berhasil menciptakan sebuah terobosan mutakhir bernama "Jagung Analog". Inovasi pakan berbasis bahan lokal non-jagung ini dirancang khusus untuk memangkas biaya produksi unggas, yang pada akhirnya diharapkan mampu menstabilkan harga daging ayam di pasar agar lebih bersahabat bagi masyarakat.

    Sains di Balik Jagung Analog: Memanfaatkan Sagu dan Singkong
    Meskipun dinamakan jagung analog, produk ini sama sekali tidak menggunakan butiran jagung asli. Pakan alternatif ini diramu dari kombinasi bahan kaya karbohidrat seperti sagu parut dan singkong, namun diformulasikan agar memiliki nilai zat gizi yang serupa dengan jagung konvensional.

    Guna memastikan kualitas fisika dan kimia pakan ini setara dengan jagung asli, Dr. Heri menerapkan teknik ekstrusi. Metode hydrothermal ini terbukti ampuh memperbaiki sifat fisik serta meningkatkan daya guna (utilitas) bahan pakan saat dicerna oleh unggas.

    Tak hanya mengandalkan sumber energi dari sagu dan singkong, formula jagung analog ini juga diperkaya dengan bahan-bahan padat nutrisi lainnya:

    • Sumber Karbohidrat & Energi: Sagu parut dan singkong berkualitas.
    • Nutrien Mikro & Protein: Bahan tambahan khusus untuk menyeimbangkan gizi.
    • Ekstrak Daun Kelor: Ditambahkan sebagai sumber alami beta-karoten, vitamin, serta mineral mikro.

    Melepas Ketergantungan dan Mengoptimalkan Potensi Lokal
    Berbeda dengan industri peternakan di Amerika atau Eropa yang sudah adaptif menggunakan beragam variasi sumber energi pakan, Indonesia masih terjebak pada ketergantungan tunggal terhadap jagung.

    “Sekitar 50 persen dari pakan unggas bersumber dari jagung. Indonesia belum bisa memenuhi kebutuhan jagung nasional dari produksi dalam negeri dan saat ini sudah tidak boleh impor,” tutur Dr. Heri.

    Kondisi pasokan yang timpang ini mendongkrak harga jagung di tingkat paling rendah menyentuh Rp5.500. Bahkan, di luar musim panen raya atau di wilayah terpencil dan kepulauan, harganya bisa meroket hingga Rp7.000 per kilogram.

    Melihat peta masalah tersebut, Dr. Heri membidik dua komoditas lokal yang selama ini belum dioptimalkan dengan baik:

    1. Sagu Papua yang Melimpah
    Indonesia memiliki harta karun berupa 5 juta hektare lahan tanaman sagu di Papua, yang merepresentasikan sekitar 99 persen dari total luas lahan sagu nasional. Sayangnya, pemanfaatan tanaman ini masih di bawah 5 persen. Sagu dinilai sangat potensial dipanen secara lestari dengan tetap menjaga keseimbangan lingkungan lokal untuk dijadikan pakan sumber energi baru.

    2. Variasi Singkong Unggul IPB
    Singkong yang mudah tumbuh di wilayah seperti Lampung dan Jawa Barat juga menjadi aktor kunci. Guna mengatasi tantangan biaya produksi tinggi, produktivitas singkong minimal harus menyentuh angka 40 ton per hektare agar ekonomis. Target kuantitas ini kini sudah bisa dipenuhi berkat penggunaan varietas singkong unggul besutan IPB University.

    Hasil Uji Coba Lapangan dan Komersialisasi
    Keandalan jagung analog ini bukan sekadar teori di atas kertas. Melalui serangkaian riset ketat di laboratorium dan lapangan, uji coba pada ayam kampung menunjukkan hasil yang menggembirakan: performa pertumbuhan ayam terbukti sama baiknya dengan ayam yang mengonsumsi jagung konvensional.

    Kabar baiknya, pada tahun 2026 ini proyek strategis tersebut telah mengantongi dukungan pendanaan dari Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI. Dana diseminasi ini dialokasikan untuk memperbesar skala produksi dan mempercepat penerapan jagung analog langsung ke tangan peternak rakyat. Setelah proses ekstrusi rampung, uji coba formula ini juga segera diekspansi ke ayam broiler (pedaging) pada tahun ini.

    “Biaya pakan yang lebih murah akan menurunkan harga produksi ayam, sehingga konsumen juga bisa mendapatkan harga yang lebih terjangkau,” tegas Dr. Heri.

    Lewat hilirisasi dan komersialisasi massal yang diharapkan segera terwujud, jagung analog tidak sekadar menjadi alternatif pakan murah dan mudah diproduksi, melainkan menjadi kunci emas dalam membangun kedaulatan serta kemandirian pakan ternak nasional.

  • Telur merupakan salah satu sumber protein hewani bergizi tinggi yang paling terjangkau bagi masyarakat. Sayangnya, data Badan Pusat Statistik (BPS) masih menunjukkan ironi: belanja rumah tangga untuk rokok sering kali justru lebih besar ketimbang untuk membeli telur. Padahal, sebutir telur menyimpan manfaat luar biasa sebagai investasi sederhana bagi pertumbuhan anak dan kesehatan keluarga.

    Agar manfaat gizinya optimal, masyarakat tidak hanya perlu rutin mengonsumsinya, tetapi juga harus cerdas dalam memilih dan menyimpannya. Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof. Niken Ulupi, membagikan panduan praktis untuk mengenali telur berkualitas serta cara penanganan yang tepat di rumah.

    Ciri Fisik Telur Segar: Jangan Terkecoh Warna Cangkang
    Banyak mitos beredar bahwa warna cangkang telur menentukan kandungan gizinya. Prof. Niken Ulupi meluruskan anggapan keliru tersebut. Menurutnya, perbedaan warna cangkang (seperti putih atau cokelat) murni dipengaruhi oleh pigmen alami dari induk ayam, bukan kualitas nutrisinya.

  • Siapa yang tidak pernah merasa jengkel saat mengupas telur rebus? Kulit telur yang menempel kuat hingga membuat putih telurnya ikut terkelupas acak-acakan tentu membuat hasil masakan menjadi tidak estetik lagi.

    Ternyata, fenomena telur rebus yang sulit dikupas ini bukan sekadar masalah keberuntungan, melainkan ada penjelasan ilmiah di baliknya. Dosen Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University, Dr. Zakiah Wulandari dan Prof. Niken Ulupi, membedah faktor penyebab sekaligus membagikan tips praktisnya agar telur rebus Anda mulus sempurna.

    Mengapa Ada Telur yang Susah Dikupas?
    Menurut para pakar Fapet IPB, ada beberapa faktor utama yang memengaruhi tingkat kesulitan saat mengupas telur:

    1. Usia Telur yang Terlalu Baru

    Faktor utama yang paling sering menjadi biang keladi adalah kesegaran telur.

    “Telur yang baru memiliki rongga udara kecil dan membran kulit yang masih terikat kuat, sehingga kulitnya sulit dilepaskan,” jelas Dr. Zakiah.

    Seiring bertambahnya usia simpan telur, rongga udara akan membesar dan ikatan membran ini akan melonggar secara alami.

    2. Kondisi Cangkang dan Durasi Perebusan

    Kondisi fisik cangkang serta cara memasak memegang peranan penting. Telur dengan cangkang yang terlalu tipis atau rapuh sangat rentan rusak. Selain itu, merebus telur terlalu lama atau menggunakan suhu yang terlalu tinggi justru akan memperparah keadaan.

    “Hal ini terjadi karena proses koagulasi putih telur menjadi terlalu keras dan menempel pada cangkang,” imbuh Dr. Zakiah.

    3. Umur Ayam Petelur

    Prof. Niken menerangkan bahwa umur ayam yang mengeluarkan telur tersebut turut menentukan kualitas cangkang dan lapisan telurnya. Ayam terlalu muda (di bawah 18 minggu) belum memiliki sistem tulang yang sempurna untuk membentuk cangkang ideal. Ayam tua (di atas 60 minggu) mengalami penurunan fungsi organ dan metabolisme kalsium. Akibatnya, telur yang dihasilkan berbobot lebih besar namun cangkangnya justru lebih lemah dan rapuh.

    4. Keberadaan Lapisan Kutikula

    Telur memiliki pelindung alami terluar yang disebut lapisan kutikula. Prof. Niken menjelaskan bahwa kutikula ini berfungsi mencegah kontaminasi mikroorganisme. Selain itu, lapisan ini juga mengurangi daya lekat (adhesi) antara cangkang dan putih telur, sehingga sangat membantu memudahkan pengupasan setelah telur matang.

    Tips Praktis Merebus dan Mengupas Telur agar Mulus Sempurna

    Agar tidak perlu emosi lagi di dapur, Prof. Niken membagikan solusi praktis yang bisa langsung Anda praktikkan di rumah:

    • Tambahkan Bahan Khusus saat Merebus: Masukkan sedikit garam atau perasan jeruk nipis ke dalam air rebusan untuk membantu melunakkan cangkang dan mempermudah pemisahan kulit kelak.
    • Kejutkan dengan Air Dingin: Begitu proses merebus selesai, segera angkat telur dan rendam di dalam air dingin. Perubahan suhu yang drastis (efek kejut) akan membuat isi telur sedikit menyusut dan terpisah dari dinding cangkang.
    • Kupas dari Ujung yang Lebar: Saat mulai mengupas, ketuk dan retakkan telur terlebih dahulu pada ujung yang lebih lebar. Di bagian ujung lebar inilah terletak rongga udara telur, sehingga memberikan ruang awal yang ideal untuk mengupas kulit tanpa merusak putih telurnya.

    Dengan memahami sains di balik sebutir telur dan menerapkan tips di atas, menyajikan telur rebus yang bulat, mulus, dan cantik kini bukan lagi hal yang mustahil!

  • Di balik melimpahnya pasokan telur di pasar, masyarakat perlu tahu bahwa tidak semua jenis telur ayam aman dan layak untuk dikonsumsi harian. Guru Besar Ilmu Ternak Unggas IPB University, Prof. Dr. Ir. Niken Ulupi, MS., menegaskan bahwa telur ayam pedaging bibit (telur fertil) sama sekali tidak diperuntukkan bagi konsumsi masyarakat luas dan dilarang keras untuk diperjualbelikan secara bebas di pasar domestik.

    Sifatnya yang sangat ringkih dan cepat rusak menjadi alasan utama di balik larangan tersebut.

    “Telur fertil yang tidak memenuhi syarat untuk ditetaskan tidak boleh dijual di pasar. Kualitasnya rendah, masa simpannya pendek, dan mudah membusuk,” tegas dosen Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB University ini.

    Ayam Petelur Komersial vs Ayam Pedaging Bibit

    Untuk memahami mengapa telur ini dilarang, Prof. Niken menjelaskan adanya perbedaan mendasar dari hulu industri pemeliharaan ayam modern:

    • Telur Konsumsi Komersial: Ini adalah telur yang biasa kita beli sehari-hari. Telur ini dihasilkan oleh industri ayam petelur komersial yang seluruh populasinya hanya diisi oleh ayam betina tanpa pejantan. Hasilnya adalah telur infertil (tanpa pembuahan) yang stabil dan berdaya simpan lama.
    • Telur Ayam Pedaging Bibit (Breeder Broiler): Ayam jenis ini dipelihara khusus di industri pembibitan untuk menghasilkan telur tertunas (telur fertil). Karena indukan betina dikawinkan dengan pejantan, di dalam telur tersebut terkandung embrio hidup yang nantinya dipersiapkan untuk ditetaskan menjadi bibit ayam broiler (pedaging).

    Risiko Kesehatan dan Stabilitas Pasar

    Secara objektif, kandungan gizi makro seperti protein dan asam amino esensial antara kedua jenis telur ini sebenarnya tidak jauh berbeda. Namun, kehadiran embrio di dalam telur fertil membawa risiko biologis yang besar bagi konsumen.

    1. Ancaman Pembusukan Kilat
    Karena mengandung embrio hidup, telur fertil menuntut penanganan super ketat dengan suhu ruangan yang sangat rendah. Jika telur jenis ini nekat dikeluarkan dari industri pembibitan dan dibiarkan terpapar suhu ruang di pasar tradisional, embrio di dalamnya akan mulai berkembang sebagian. Proses perkembangan embrio yang terhenti ini akan langsung memicu pembusukan dini dari dalam telur.

    2. Merusak Harga Pasar
    Selain masalah kelayakan pangan, Prof. Niken juga menggarisbawahi dampak ekonominya. Jika telur-telur sisa dari industri pembibitan (breeder) ini bocor dan dijual murah ke pasar umum, keberadaannya akan merusak tata niaga dan mengganggu stabilitas harga telur konsumsi yang diproduksi oleh para peternak rakyat.

    Sebagai informasi tambahan, siklus hidup ayam pedaging komersial (broiler) sendiri terbilang sangat singkat—hanya dipelihara sekitar lima minggu sebelum dipotong—sehingga ayam broiler di tingkat peternak komersial memang tidak pernah sampai memasuki fase bertelur. Tugas memproduksi telur fertil sepenuhnya berada di tangan lini breeder.

    Tips Membedakan Telur Konsumsi dan Telur Fertil
    Sebagai panduan taktis bagi konsumen di pasar, Prof. Niken menyebutkan bahwa telur konsumsi biasa dan telur fertil sebenarnya dapat dibedakan secara visual melalui pengamatan pada cangkangnya:

    • Warna Kerabang (Kulit Telur): Kedua jenis telur ini umumnya memiliki perbedaan gradasi warna kulit yang cukup konsisten.
    • Bentuk Telur: Telur konsumsi komersial memiliki bentuk proporsional yang khas, berbeda dengan telur afkir dari pembibitan.
    • Penandaan (Marking): Periksa apakah ada kode atau penandaan khusus pada cangkang yang biasa diterapkan di industri pembibitan.

    “Pemahaman ini penting agar masyarakat dapat memilih telur yang aman, bergizi, dan sesuai peruntukannya,” pungkas Prof. Niken.

  • Indonesia memiliki modal yang sangat masif dalam sektor perkebunan, namun di sisi lain masih terseok-seok memenuhi kebutuhan daging sapi domestik. Menjawab tantangan besar ini, Guru Besar Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University, Prof. Dr. Ir. Nahrowi, M.Sc., menyodorkan sebuah konsep pertanian terpadu (integrated farming) yang sangat menjanjikan, yaitu Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit (SISKA).

    Pendekatan ini dinilai menjadi kunci pas untuk melipatgandakan efisiensi pemanfaatan ruang lahan sekaligus menjadi akselerator utama dalam mengejar target swasembada daging nasional secara berkelanjutan.

    Satu Lahan Dua Hasil: Simbiosis Mutualisme Pekebun dan Peternak
    Pada model konvensional, hamparan kebun sawit umumnya hanya dikelola tunggal untuk memanen tandan buah segar. Namun, lewat sentuhan sistem SISKA, optimalisasi lahan bergerak ke tingkat yang jauh lebih produktif. Lahan perkebunan yang sama kini bisa difungsikan ganda sebagai area penggembalaan ternak ruminansia.

    Prof. Nahrowi memaparkan bahwa integrasi ini melahirkan skema saling menguntungkan yang secara drastis memangkas biaya operasional kedua belah pihak:

    • Keuntungan bagi Peternak: Biaya pengadaan pakan dapat ditekan hingga titik terendah. Sapi-sapi tidak lagi bergantung pada pakan komersial mahal karena mereka bisa langsung memanfaatkan rumput dan vegetasi hijau yang tumbuh subur di bawah tegakan pohon sawit.
    • Keuntungan bagi Pekebun: Keberadaan sapi bertindak sebagai "mesin pemotong rumput alami". Sapi yang memakan gulma secara otomatis memangkas anggaran belanja herbisida kimia.

    Tidak berhenti di situ, SISKA juga menjadi solusi ramah lingkungan melalui pengurangan ketergantungan pada pupuk kimiawi. Kotoran dan urine yang dihasilkan oleh kawanan sapi selama merumput akan kembali ke tanah, bertransformasi menjadi pupuk organik berkadar hara tinggi yang menyuburkan tanaman sawit di atasnya.

    Jalan Pintas Menuju Swasembada Sapi Nasional
    Sebagai Kepala Pusat Studi Hewan Tropika (Centras) IPB University, Prof. Nahrowi melihat ada angka matematis yang sangat optimistis jika potensi ini diseriusi secara nasional.

    Saat ini, Indonesia membentang ruang perkebunan sawit hingga mencapai 16,8 juta hektare. Jika komitmen nasional mampu mengonversi saja setengah dari total luas lahan tersebut (sekitar 8,4 juta hektare) menjadi kawasan SISKA, maka daya tampung lahan tersebut diperkirakan mampu mengakomodasi hingga 8,4 juta ekor sapi. Sebuah angka yang lebih dari cukup untuk menyumbang lonjakan produksi daging secara masif demi menyetop keran impor.

    Dari Kalimantan hingga Miniatur Riset di Jonggol
    Sistem ini bukan lagi sekadar cetak biru atau teori di atas meja laboratorium. Keberhasilan konkret di lapangan telah dibuktikan oleh alumni Fapet IPB University, Wahyu Darsono, melalui pengelolaan PT Simbiosis Karya Agroindustri (SISKA Ranch) di Kalimantan Selatan yang telah sukses berjalan lebih dari enam tahun.

    Hingga saat ini, denyut nadi program ini terus berkembang dengan terbentuknya 58 klaster SISKA yang tersebar di wilayah strategis kelapa sawit nasional, meliputi:

    • Kalimantan Selatan
    • Kalimantan Barat
    • Kalimantan Timur
    • Riau

    Sebagai institusi pendidikan yang mengawal inovasi ini, IPB University tengah bersiap melakukan langkah strategis berikutnya. Kampus akan mendirikan sebuah miniatur sistem SISKA yang berlokasi di IPB Jonggol Innovation Valley. Pusat replika ini nantinya akan difungsikan sebagai episentrum pembelajaran, riset terapan, sekaligus tempat pelatihan bagi masyarakat dan pelaku industri yang ingin mengadopsi sistem ini.

    Sinergi dan dukungan regulasi dari berbagai pemangku kebijakan menjadi prasyarat mutlak. Dengan ekspansi yang lebih luas, SISKA berpeluang besar menjadi roda penggerak utama pertanian dan peternakan masa depan yang hijau, efisien, dan mandiri secara pangan

  • Saat berbelanja di pasar, konsumen sering kali dihadapkan pada pilihan antara ayam broiler (ras) atau ayam pejantan. Bagi sebagian orang, daging ayam pejantan kerap dinilai lebih liat atau alot jika dibandingkan dengan daging ayam broiler yang terkenal sangat lembut dan cepat empuk saat dimasak.

    Ternyata, perbedaan tekstur ini bukan tanpa alasan. Dosen Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB University, Dr. Tuti Suryati, membedah faktor-faktor biologis yang melandasi perbedaan tersebut serta membagikan trik taktis agar ayam pejantan bisa diolah menjadi hidangan yang empuk dan lezat.

    Akar Masalah: Perbedaan Genetik dan Masa Pelihara

    Faktor paling mendasar yang menentukan tekstur daging kedua jenis ayam ini adalah cetak biru genetiknya sejak awal.

    • Ayam Broiler (Tipe Pedaging): Merupakan hasil dari proses pemuliaan (pembiakan selektif) jangka panjang yang dirancang khusus untuk menghasilkan daging secara cepat dan efisien. Hanya dalam waktu 30 hingga 42 hari (5–6 minggu), ayam broiler sudah mampu mencapai bobot potong optimal dengan karakteristik daging yang sangat empuk.
    • Ayam Pejantan (Tipe Petelur): Ayam ini sebenarnya berasal dari bangsa ayam petelur yang genetiknya dimurnikan demi mengejar produktivitas telur yang tinggi pada ayam betina. Akibatnya, pertumbuhan ayam pejantan tidak seefisien broiler. Mereka membutuhkan waktu pemeliharaan yang jauh lebih lama untuk mencapai ukuran siap potong.

    “Karena dipelihara lebih lama, tekstur daging ayam pejantan menjadi lebih alot, tetapi sisi baiknya adalah kandungan lemaknya relatif lebih rendah dibandingkan ayam broiler,” jelas Dr. Tuti.

    Faktor Biologis: Peran Kolagen dan Aktivitas Fisik

    Secara ilmiah, Dr. Tuti menyebutkan ada dua komparasi biologis yang membuat otot ayam pejantan menjadi lebih keras:

    1. Akumulasi Zat Kolagen

    Kolagen adalah komponen utama penyusun jaringan ikat pada tubuh hewan. Jumlah kolagen ini akan terus meningkat secara alami seiring dengan bertambahnya usia ternak. Karena ayam pejantan disembelih pada umur yang lebih tua daripada broiler, jaringan ikat di dalam dagingnya menjadi lebih banyak dan kuat, sehingga tingkat kealotan dagingnya otomatis meningkat.

    2. Tingkat Aktivitas Fisik

    Karakteristik perilaku juga memengaruhi kualitas daging. Ayam yang bergerak lebih aktif di dalam kandang akan mengalami kontraksi otot yang lebih sering. Aktivitas yang tinggi ini melatih otot ayam menjadi lebih kuat, padat, dan menghasilkan jalinan serat daging yang lebih keras saat dipotong.

    Meskipun lebih liat, daging ayam pejantan justru memiliki segmen pasar tersendiri. Banyak konsumen yang fanatik menyukainya karena teksturnya yang berserat padat, rendah lemak, tidak terlalu lembek, dan cita rasanya dinilai sangat mirip dengan ayam kampung asli.

    Trik Dapur: Cara Mengempukkan Daging Ayam Pejantan

    Anda tidak perlu khawatir daging akan menjadi keras saat dimasak. Kualitas tekstur ayam pejantan dapat diakali secara efektif asalkan menggunakan teknik kuliner yang tepat.

    Berikut adalah rekomendasi metode pengolahan dari Dr. Tuti:

    • Gunakan Teknik Basah (Perebusan): Ayam pejantan sangat ideal dimasak untuk hidangan yang berbasis banyak air atau kuah dalam waktu lama, seperti sop, gulai, atau opor.
    • Lakukan Metode Ungkep: Jika Anda berencana membuat ayam goreng atau ayam bakar, jangan langsung memasaknya dari kondisi mentah. Lakukan proses perebusan pendahuluan bersama bumbu (diungkep) agar serat dagingnya melunak terlebih dahulu.
    • Manfaatkan Alat dan Bahan Alami: Untuk mempercepat keempukan, Anda bisa memanfaatkan tekanan tinggi dari panci presto, atau menggunakan enzim pelunak daging alami dari lumatan buah nanas maupun bungkusan daun pepaya sebelum ayam dimasak.
    • Hindari Memasak Terlalu Kering: Saat menggoreng atau memanggang, pastikan durasinya tidak berlebihan hingga daging kehilangan seluruh cairannya. Proses memasak yang terlalu lama hingga kering justru akan mengunci serat daging menjadi semakin keras dan sulit digigit.
  • Dalam beberapa hari terakhir, media di Australia menyoroti keberangkatan MV Al Kuwait, salah satu kapal pengangkut ternak hidup terbesar di dunia, dari Pelabuhan Darwin menuju Indonesia. Kapal tersebut membawa lebih dari 17.000 ekor sapi untuk memenuhi kebutuhan pasar Indonesia yang terus meningkat.

    Peristiwa ini kembali menunjukkan eratnya hubungan perdagangan ternak antara Indonesia dan Australia. Selama ini, Indonesia menjadi pasar utama ekspor sapi hidup Australia. Pada tahun 2025, Indonesia tercatat mengimpor sekitar 583.418 ekor sapi dengan harga rata-rata sekitar USD4,00 per kilogram bobot hidup.

    Menurut Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof Ronny Rachman Noor, tingginya impor sapi hidup mencerminkan belum tercapainya keseimbangan antara kebutuhan daging nasional dan kapasitas produksi dalam negeri.

    Produksi Lokal Belum Mampu Mengejar Permintaan
    Kebutuhan daging sapi di Indonesia terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk, meningkatnya daya beli masyarakat, serta berkembangnya industri makanan, hotel, restoran, dan katering. Daging sapi juga memiliki nilai budaya yang kuat, terutama pada momen keagamaan seperti Iduladha.

    Di sisi lain, populasi dan produktivitas sapi potong lokal masih terbatas. Bangsa lokal seperti Sapi Bali dan Peranakan Ongole memiliki potensi besar, namun laju pertumbuhannya relatif lebih lambat dibandingkan sapi impor seperti Brahman Cross yang banyak dipasok dari Australia.

    “Kapasitas produksi sapi potong domestik belum cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional, terutama di kota-kota besar. Hal ini terkait dengan produktivitas ternak lokal yang masih rendah dan sistem pemeliharaan yang belum efisien,” jelas Prof Ronny.

    Keterbatasan pakan berkualitas, sempitnya lahan, serta dominasi usaha peternakan rakyat skala kecil menjadi faktor yang membatasi peningkatan produksi. Selain itu, sentra produksi seperti Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, dan Jawa Tengah belum sepenuhnya mampu menjangkau pusat-pusat konsumsi besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan secara efisien.

    Australia Unggul dari Sisi Logistik dan Kualitas
    Australia memiliki sistem ekspor ternak hidup yang sangat terintegrasi. Pelabuhan-pelabuhan utama seperti Darwin, Kimberley, dan Queensland didukung infrastruktur modern serta armada kapal berkapasitas besar seperti MV Al Kuwait, yang mampu mengangkut puluhan ribu ekor ternak dalam satu perjalanan.

    Selain itu, sapi Australia, terutama Brahman Cross, memiliki performa pertumbuhan yang baik dan sangat sesuai untuk sistem penggemukan (feedlot). Hal ini menjadikan sapi impor sebagai pilihan yang kompetitif bagi pelaku industri pengolahan daging di Indonesia.

    Manfaat Impor bagi Pasar Domestik
    Impor sapi hidup memberikan sejumlah manfaat strategis. Pasokan yang stabil membantu menjaga ketersediaan daging di pasar, terutama pada saat permintaan meningkat. Harga sapi impor juga relatif kompetitif, sehingga mendukung industri penggemukan dan menjaga kestabilan harga di tingkat konsumen.

    Hubungan perdagangan ini juga memperkuat kerja sama ekonomi bilateral antara Indonesia dan Australia di sektor peternakan.

    Risiko Ketergantungan yang Perlu Diantisipasi
    Meski bermanfaat, ketergantungan yang tinggi terhadap satu negara pemasok menimbulkan sejumlah risiko. Gangguan geopolitik, perubahan kebijakan perdagangan, wabah penyakit hewan, hingga fluktuasi nilai tukar dapat memengaruhi kelancaran pasokan dan harga.

    Jika diasumsikan bobot rata-rata sapi impor mencapai 300 kilogram per ekor, maka nilai impor Indonesia pada tahun 2025 diperkirakan mencapai sekitar USD700 juta atau setara lebih dari Rp11 triliun. Angka ini menunjukkan besarnya dana yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani dari luar negeri.

    Strategi Menuju Kemandirian Daging Nasional
    Prof Ronny menekankan bahwa pengurangan ketergantungan pada sapi impor harus dilakukan melalui strategi jangka panjang yang terencana.

    Langkah pertama adalah memperkuat program pembibitan dan perbaikan genetik sapi lokal seperti sapi Bali dan Peranakan Ongole agar memiliki produktivitas yang lebih tinggi.

    Langkah kedua adalah mengembangkan sistem penggemukan berbasis pakan lokal, termasuk pemanfaatan jagung, singkong, dan limbah pertanian untuk menekan biaya produksi.

    Selain itu, diversifikasi sumber impor dari negara lain seperti Brasil, India, dan negara-negara Asia Tenggara dapat dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada satu pemasok utama.

    Dari sisi konsumsi, peningkatan pemanfaatan sumber protein hewani lain seperti ayam, kambing, domba, dan ikan juga dapat membantu menyeimbangkan kebutuhan masyarakat.

    Kebijakan pemerintah berupa subsidi bagi peternak, insentif investasi, dan pengaturan kuota impor yang tepat dinilai penting agar peternak lokal tetap memiliki ruang untuk berkembang.

    Menyeimbangkan Kebutuhan dan Kemandirian
    Impor sapi hidup dari Australia masih menjadi bagian penting dalam menjaga pasokan daging nasional. Namun, dalam jangka panjang, Indonesia perlu memperkuat fondasi produksi domestik agar tidak terlalu bergantung pada pasar internasional.

    Dengan dukungan riset, inovasi teknologi, dan kebijakan yang konsisten, Indonesia memiliki peluang besar untuk membangun industri peternakan sapi potong yang lebih produktif, efisien, dan berdaya saing. Kemandirian protein hewani bukan hanya soal mengurangi impor, tetapi juga tentang memastikan ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan.

  • Telur telah lama menjadi salah satu sumber protein hewani andalan yang menjadi pangan pokok masyarakat. Harganya yang terjangkau, kemudahan dalam pengolahan, serta kandungan gizinya yang tinggi membuat komoditas ini sangat digemari. Terlebih saat memasuki momen-momen tertentu seperti bulan Ramadan, tingkat konsumsi telur di tengah masyarakat diprediksi akan mengalami lonjakan yang signifikan.

    Namun, di balik popularitasnya, sebagian masyarakat justru cenderung membatasi atau bahkan menghindari konsumsi telur. Alasan utamanya adalah adanya kekhawatiran bahwa telur dapat mendongkrak kadar kolesterol dalam darah serta memicu risiko penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah).

    Menanggapi dilema tersebut, akademisi sekaligus peneliti teknologi pangan dan hasil ternak dari Fakultas Peternakan IPB University, Dr. Zakiah Wulandari, S.TP, M.Si, memberikan ulasan ilmiah berbasis data nutrisi agar masyarakat tidak salah kaprah.

    Menakar Kadar Kolesterol di Dalam Butiran Telur
    Dr. Zakiah membenarkan bahwa anggapan mengenai kuning telur yang dapat memicu kolesterol jahat bukanlah sekadar mitos, melainkan sebuah fakta biologis.

    “Mengonsumsi kuning telur dapat meningkatkan kolesterol jahat adalah fakta. Pada bagian kuning telur, kandungan kolesterol sebesar lima persen dari total lemak,” jelas Sekretaris Departemen di Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Fapet IPB tersebut.

    Secara rata-rata, satu butir telur mengandung sekitar 186 mg kolesterol. Sementara itu, standar rekomendasi asupan kolesterol harian bagi tubuh manusia berada di kisaran 100 hingga 300 mg per hari. Angka ini menuntut pengelolaan menu yang bijak, sebab sumber kolesterol harian tidak hanya berasal dari telur, melainkan bisa didapatkan dari berbagai pangan hewani lainnya yang dikonsumsi dalam sehari.

    Panduan Porsi Aman: Berapa Butir Telur Per Hari?
    Agar tetap mendapatkan manfaat optimal tanpa mengorbankan kesehatan, Dr. Zakiah membagikan panduan taktis mengenai batasan konsumsi telur harian berdasarkan kondisi tubuh masing-masing individu:

    • Bagi Penderita Penyakit Tertentu: Untuk para penderita diabetes, gangguan kardiovaskular, tekanan darah tinggi (hipertensi), serta orang dengan kondisi hiperkolesterol (asupan kolesterol maksimal 200 mg/hari), disarankan membatasi konsumsi maksimal 2 butir telur per minggu jika dimakan secara utuh bersama kuningnya.
    • Solusi Putih Telur: Porsi konsumsi bagi penderita penyakit tersebut tetap boleh dinaikkan secara aman, asalkan tanpa mengonsumsi bagian kuning telurnya. Bagian putih telur merupakan sumber protein murni tanpa kolesterol jahat yang sangat bermanfaat bagi tubuh.
    • Untuk Orang dalam Kondisi Sehat: Bagi individu yang sehat dan tidak memiliki riwayat komorbid, rekomendasi konsumsi telur utuh lengkap dengan kuningnya adalah 1 butir per hari. Batasan ideal ini dipastikan tidak akan menaikkan risiko serangan penyakit kardiovaskular.

    Kandungan Gizi: Putih Telur vs Kuning Telur
    Sebagai panduan memasak di dapur, konsumen perlu memahami perbedaan karakteristik makronutrisi dan energi yang terkandung di setiap bagian telur (per 100 gram bahan):

    • Karakteristik Putih Telur: Bagian putih telur sangat rendah kalori dan lemak. Per 100 gram putih telur hanya mengandung energi sebesar 45 kkal. Komposisi utamanya didominasi oleh kadar air sebesar 88%, protein 11%, lemak hanya 0,03%, serta karbohidrat sebesar 0,04%.
    • Karakteristik Kuning Telur: Bagian kuning telur jauh lebih padat energi dan lemak. Per 100 gram kuning telur mengandung kalori yang cukup tinggi, yaitu sebesar 353 kkal. Di dalamnya terkandung kadar air 49%, protein 18%, lemak sebesar 29%, dan karbohidrat 0,2%.
    • Karakteristik Telur Utuh (Campuran): Jika putih dan kuning telur dicampur menjadi satu, maka dalam 100 gram telur utuh mengandung energi sebesar 150 kkal. Komposisi gizinya menjadi lebih seimbang, yaitu kadar air 75%, protein 12%, lemak 10%, dan kadar karbohidrat sebesar 2%.

    Melihat perbandingan di atas, putih telur merupakan opsi terbaik bagi mereka yang sedang menjalani program diet rendah kalori dan rendah lemak. Sebaliknya, kuning telur kaya akan kalori, namun menyimpan konsentrasi lemak yang tinggi.

  • Fluktuasi harga bahan baku pakan belakangan ini kian mencekik para pelaku usaha peternakan. Menghadapi tantangan berat yang mendera dunia peternakan nasional ini, Guru Besar Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ridla, M.Agr., turun tangan dengan memaparkan lima strategi antimahal yang wajib diterapkan oleh para peternak.

    Langkah taktis ini dinilai sangat krusial, mengingat pakan memakan porsi terbesar—hingga mencapai 70-80 persen—dari total biaya produksi usaha peternakan. Jika salah urus, alih-alih untung, peternak justru bisa buntung.

    Lantas, apa saja 5 jurus jitu dari pakar nutrisi pakan Fapet IPB University ini untuk menghempas badai harga pakan? Yuk, simak ulasannya!

    1. Jangan Cuma Bergantung pada Satu Menu (Diversifikasi Bahan Lokal)
    Prof. Ridla menegaskan bahwa ketergantungan pada bahan baku impor seperti soybean meal (SBM) harus segera dikurangi. Solusinya? Peternak harus mulai melirik potensi lokal. Pemanfaatan limbah agroindustri di sekitar wilayah peternakan bisa menjadi alternatif cerdas untuk memangkas biaya tanpa menurunkan kualitas gizi ternak.

    2. Sentuhan Bioteknologi: Sulap Bahan Murah Jadi Pakan Mewah!
    Siapa bilang bahan pakan murah tidak punya kualitas? Dengan sentuhan bioteknologi pakan—seperti fermentasi, penambahan enzim, probiotik, hingga kultur mikroba—bahan pakan dengan harga miring bisa ditingkatkan daya cernanya.

    "Teknologi ini mampu meningkatkan kecernaan, menaikkan nilai nutrisi bahan pakan murah, serta mengurangi pemborosan pakan," jelas Prof. Ridla.

    3. Least-Cost Formulation: Formula Fleksibel, Dompet Tetap Tebal
    Peternak zaman now harus adaptif. Prof. Ridla mendorong penerapan formulasi pakan fleksibel berbasis perangkat lunak (software) sederhana. Ketika harga satu bahan baku melonjak, peternak bisa langsung beralih ke bahan alternatif lain yang bernutrisi setara. Dengan trik ini, keseimbangan energi, protein, dan asam amino ternak tetap terjaga ketat meski badai harga melanda.

    4. Senjata Pamungkas: Dirikan Feed Center Desa, Potong Biaya Hingga 25%!
    Bergerak sendiri-sendiri sudah bukan zamannya lagi. Strategi keempat yang ditawarkan adalah produksi pakan mandiri skala kelompok melalui pendirian feed center atau unit penggilingan bersama di tingkat desa/koperasi. Langkah gotong royong ini terbukti ampuh menurunkan biaya pakan secara signifikan sebesar 10–25 persen berkat sistem pembelian bahan baku skala besar (bulk buy).

    5. Zero Waste Management: Stop Buang-Buang Pakan!
    Jurus terakhir namun tak kalah penting adalah efisiensi manajemen di dalam kandang. Prof. Ridla menekankan pentingnya menekan angka feed waste (pakan tercecer), memastikan pencampuran pakan benar-benar homogen, dan menyesuaikan porsi pakan dengan fase pertumbuhan ternak.

    "Strategi ini mampu menjaga efisiensi konsumsi pakan meskipun harga bahan baku meningkat," tegasnya menutup pemaparan.

    Melalui penerapan kombinasi lima strategi dari Fapet IPB University ini, fluktuasi harga global bukan lagi jadi momok menakutkan, melainkan peluang bagi peternak lokal untuk bangkit dan lebih mandiri.

  • Industri persusuan nasional saat ini tengah menghadapi tantangan berat. Dengan populasi sapi perah yang berkisar di angka 485 ribu ekor, produksi susu domestik dinilai masih stagnan. Imbasnya, lebih dari 80 persen kebutuhan bahan baku susu untuk industri di Indonesia terpaksa harus dipenuhi melalui keran impor.

    Melihat urgensi tersebut, Guru Besar sekaligus Dekan Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University, Prof. Dr. Ir. Idat Galih Permana, M.Sc., menawarkan solusi konkret melalui pendekatan rekayasa nutrisi presisi. Penerapan metode ini terbukti ilmiah mampu meningkatkan produksi susu sekitar 15 persen sekaligus memperbaiki kualitas kandungannya, terutama pada kadar protein susu.

    “Rata-rata produksi sapi Friesian Holstein (FH) di Indonesia hanya 12–14 liter per ekor per hari, padahal potensi genetiknya bisa mencapai 20–25 liter. Jadi masalah utamanya bukan sekadar jumlah sapi, melainkan produktivitasnya,” jelas Prof. Idat dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University.

     

     

    Akar Masalah: Kualitas Pakan Tropis dan Defisit Nutrien

    Rendahnya produktivitas sapi perah di Indonesia erat kaitannya dengan karakteristik pakan di daerah tropis. Pakan hijauan yang tersedia umumnya tinggi serat kasar namun rendah protein, ditambah lagi dengan adanya faktor cekaman panas (heat stress) yang membuat sapi rentan kekurangan nutrien.

    Kondisi lapangan menunjukkan fakta yang cukup memprihatinkan. Berdasarkan survei di Pulau Jawa, hampir 90 persen sapi perah tidak mendapatkan asupan energi, protein, maupun mineral yang cukup.

    Padahal di sisi lain, konsumsi susu masyarakat Indonesia masih sangat tertinggal jauh dibanding negara-negara tetangga. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat konsumsi susu nasional baru menyentuh 16,5 liter per kapita per tahun. Angka ini kalah telak dari Thailand (33 liter), Malaysia (50 liter), apalagi negara maju yang sudah menembus lebih dari 100 liter per tahun.

    3 Strategi Utama Rekayasa Nutrisi Presisi

    Guna menghentikan ketergantungan impor dan meningkatkan ketahanan pangan hewani, Prof. Idat Galih Permana merumuskan tiga strategi rekayasa pakan yang berfokus pada efisiensi pemanfaatan nutrisi:

    1. Sinkronisasi Nutrien dalam Rumen

    Strategi ini dilakukan dengan cara menyeimbangkan ketersediaan nitrogen (dari protein) dengan energi non-fiber karbohidrat. Keseimbangan yang pas akan merangsang mikroba rumen untuk bekerja secara optimal dalam menghasilkan protein mikroba berkualitas tinggi bagi sapi.

    2. Proteksi Protein (Rumen Undegradable Protein / RUP)

    Agar protein berkualitas tinggi tidak habis terdegradasi atau hancur di dalam rumen sebelum diserap tubuh, maka diperlukan langkah perlindungan (proteksi). Metode proteksi ini dapat diaplikasikan melalui:

    • Pemanasan terkontrol.
    • Perlakuan kimia.
    • Pemanfaatan zat tanin alami.

    Melalui proteksi ini, nitrogen tidak akan terbuang sia-sia sebagai gas buangan, melainkan dapat melaju langsung untuk diserap secara maksimal di usus halus sebagai Rumen Undegradable Protein (RUP).

    3. Suplementasi Presisi

    Langkah ini diwujudkan lewat pemberian paket nutrisi lengkap yang diformulasikan secara teliti. Formulasi wajib mempertimbangkan keseimbangan antara komponen protein, karbohidrat, serta pemenuhan mineral penting seperti sulfur.

    Mengoptimalkan Potensi Bahan Pakan Lokal

    Kunci keberhasilan dari implementasi rekayasa nutrisi presisi ini terletak pada kecerdasan peternak dalam mengombinasikan bahan pakan lokal. Salah satu contoh hijauan lokal potensial yang disorot adalah tanaman legum seperti Indigofera.

    Indigofera dikenal memiliki kandungan protein yang sangat tinggi. Namun, protein pada legum ini memiliki sifat alami yang cepat terdegradasi di dalam rumen. Oleh karena itu, diperlukan teknik kombinasi dengan bahan pakan lain agar pemanfaatan proteinnya menjadi jauh lebih optimal dan efisien bagi produksi susu.

    “Jika diterapkan secara luas, strategi ini dapat meningkatkan produktivitas sapi perah di daerah tropis hingga sekitar 15 persen, mengurangi ketergantungan impor, dan menjadi tonggak kemandirian industri persusuan nasional,” pungkas Prof. Idat.

  • IPB University terus mendorong inovasi untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof Sri Suharti, memperkenalkan strategi pengembangan ternak ruminansia pedaging berkelanjutan melalui integrasi rekayasa nutrisi berbasis mikroba dan fitogenik aditif (phytogenic additives).

    Strategi ini dirancang untuk menjawab tiga tantangan utama peternakan ruminansia di Indonesia, yaitu rendahnya produktivitas ternak, kualitas daging yang belum optimal, serta tingginya emisi gas metan yang berdampak terhadap lingkungan.

    Menurut data Badan Pusat Statistik, Indonesia masih mengalami defisit suplai daging sapi dan kerbau. Pada tahun 2024, kekurangan pasokan mencapai 263,42 ribu ton. Kondisi tersebut mendorong pemerintah untuk terus melakukan impor sapi pedaging dan daging kerbau.

    “Padahal Indonesia memiliki populasi kambing dan domba yang cukup besar, tetapi belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai sumber utama daging nasional,” ujar Prof Sri dalam Konferensi Pers Pra Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University.

    Produktivitas Rendah dan Emisi Metan Tinggi
    Prof. Sri menjelaskan bahwa salah satu persoalan utama peternakan sapi lokal adalah pertumbuhan yang masih relatif lambat. Pertambahan bobot badan harian sapi lokal hanya berkisar 0,4–0,8 kilogram per ekor per hari, terutama karena pakan yang digunakan didominasi limbah pertanian dengan kandungan serat tinggi dan kualitas nutrisi terbatas.

    Sebagai perbandingan, sapi impor seperti Brahman Cross dapat mencapai pertambahan bobot badan hingga 1,2 kilogram per hari.

    Selain itu, ternak ruminansia juga menghasilkan gas metan dari proses fermentasi di rumen. Emisi ini tidak hanya berkontribusi terhadap perubahan iklim, tetapi juga menunjukkan hilangnya sebagian energi pakan yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan ternak.

    Tiga Strategi Utama
    Untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut, Prof Sri menawarkan tiga strategi utama.

    1. Pengembangan Probiotik Mikroba Selulitik Lokal

    Strategi pertama adalah memanfaatkan mikroba lokal yang berasal dari herbivora endemik Indonesia serta ternak lokal seperti Sapi Madura dan kerbau. Mikroba ini mampu meningkatkan kecernaan serat dari limbah pertanian.

    Salah satu mikroba potensial adalah Enterococcus faecium. Penggunaan probiotik ini terbukti meningkatkan populasi bakteri rumen, produksi asam lemak volatil (VFA), dan pertambahan bobot badan harian sapi Madura hingga 49 persen, dari 0,43 menjadi 0,64 kilogram per hari.

    Agar tetap stabil selama penyimpanan, probiotik dikembangkan menggunakan teknologi enkapsulasi yang dapat mempertahankan viabilitas mikroba hingga 28 hari pada suhu ruang.

    2. Pemanfaatan Fitogenik Aditif

    Strategi kedua adalah penggunaan bahan tambahan pakan alami dari tumbuhan seperti Lerak, Kelor, dan Lamtoro. Tanaman-tanaman tersebut mengandung senyawa aktif seperti saponin dan tanin yang mampu menekan produksi gas metan.

    Ekstrak lerak diketahui dapat mengurangi emisi metan hingga 11 persen dengan menghambat populasi protozoa di dalam rumen.

    Untuk memudahkan aplikasi di tingkat peternak, bahan fitogenik ini diformulasikan dalam bentuk herbal mineral block yang praktis dan mudah diberikan kepada ternak.

    3. Proteksi Asam Lemak Tidak Jenuh

    Strategi ketiga bertujuan meningkatkan kualitas daging melalui proteksi asam lemak tidak jenuh menggunakan sabun kalsium dari Minyak kedelai dan Flaxseed.

    Teknologi ini mempertahankan kandungan asam lemak esensial seperti asam linoleat sehingga menghasilkan daging yang lebih sehat, dengan kandungan lemak tidak jenuh yang lebih tinggi dan nilai ekonomi yang lebih baik.

    Solusi Menyeluruh untuk Peternakan Masa Depan
    Menurut Prof. Sri, integrasi ketiga teknologi tersebut menjadi solusi komprehensif bagi pengembangan peternakan ruminansia pedaging di Indonesia.

    “Dengan memanfaatkan mikroba lokal, bahan alami dari tanaman, dan teknologi proteksi nutrien, kita dapat meningkatkan produktivitas ternak, menghasilkan daging yang lebih sehat, sekaligus menurunkan dampak lingkungan,” ujarnya.

    Inovasi ini diharapkan mampu mempercepat swasembada daging nasional, mengurangi ketergantungan impor, serta meningkatkan daya saing produk peternakan Indonesia di pasar domestik maupun internasional.

  • IPB University terus mendorong inovasi untuk meningkatkan daya saing industri peternakan nasional. Guru Besar Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University, Prof Despal, mengusulkan penerapan teknologi presisi sebagai solusi strategis untuk pengembangan sapi perah di wilayah tropis, termasuk Indonesia.

    Menurut Prof Despal, di era digital saat ini, teknologi presisi menjadi kunci untuk meningkatkan efisiensi produksi susu, kesehatan ternak, serta keberlanjutan usaha peternakan sapi perah.

    “Teknologi presisi dapat meningkatkan efisiensi penggunaan nutrien, mengatasi heat stress, mengelola hijauan secara lebih akurat, dan menjaga keseimbangan energi ternak,” jelasnya dalam Konferensi Pers Pra Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University yang diselenggarakan secara daring.

    Menjawab Tantangan Peternakan Sapi Perah Tropis
    Peternakan sapi perah di daerah tropis menghadapi berbagai tantangan, mulai dari suhu dan kelembapan tinggi, keterbatasan hijauan berkualitas, hingga gangguan reproduksi dan tingginya risiko penyakit. Kondisi ini dapat menurunkan produksi susu dan efisiensi usaha peternakan.

    Teknologi presisi hadir sebagai pendekatan modern yang memanfaatkan sensor, perangkat otomatis, dan analisis data untuk memantau kondisi ternak secara real time dan mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat.

    “Dengan teknologi presisi, pemberian pakan, suplemen, dan penanganan kesehatan ternak dapat dilakukan sesuai kebutuhan masing-masing individu sapi,” ujar Prof Despal.

    Dari Robot Pemerah hingga Sensor Pintar
    Prof Despal menjelaskan bahwa teknologi presisi di bidang sapi perah telah berkembang dari perangkat sederhana hingga sistem yang sangat canggih.

    Salah satu contoh teknologi mutakhir adalah automated robotic milking system, yaitu robot pemerah susu yang dapat memerah sapi secara otomatis dengan tingkat akurasi tinggi.

    Sementara itu, teknologi yang lebih sederhana juga telah banyak dimanfaatkan, seperti alat pembersih lantai kandang, sensor pendeteksi birahi berbasis kamera inframerah, serta perangkat pemantauan aktivitas ternak.

    Berbagai teknologi lain yang mendukung pengelolaan hijauan dan nutrisi antara lain:

    • Remote sensing dan imaging,
    • Precision irrigation system,
    • Near-infrared spectroscopy (NIRS),
    • Handheld forage tester,
    • Peralatan panen modern,
    • Sistem analitik data dan manajemen.

    Teknologi tersebut membantu peternak dalam mengukur produksi hijauan, menilai kualitas pakan, dan menentukan waktu panen yang optimal.

    Nutrisi Presisi untuk Keseimbangan Energi
    Salah satu aspek penting dalam produksi susu adalah keseimbangan energi ternak, terutama pada masa laktasi awal. Untuk mendukung hal tersebut, Prof Despal menekankan pentingnya formulasi ransum presisi yang disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi masing-masing sapi.

    Pemantauan kondisi tubuh (body condition score atau BCS) dapat dilakukan menggunakan teknologi 3D body scanning yang dipadukan dengan computer vision. Dengan teknologi ini, perubahan kondisi tubuh dapat terdeteksi secara objektif dan cepat.

    Selain itu, sistem precision feeding memungkinkan pemberian pakan dan suplemen secara individual, sehingga nutrien yang diberikan benar-benar sesuai kebutuhan ternak.

    Mendukung Reproduksi dan Kesehatan Ternak
    Teknologi presisi juga berperan penting dalam meningkatkan performa reproduksi. Sensor seperti rumen bolus, wearable activity trackers, dan rumination monitor dapat memantau konsumsi pakan, aktivitas, suhu tubuh, serta perilaku ternak.

    Informasi tersebut membantu peternak mendeteksi birahi secara lebih akurat, mencegah gangguan metabolik, dan memastikan nutrisi yang cukup untuk mendukung kebuntingan.

    Di bidang kesehatan, teknologi presisi memungkinkan deteksi dini penyakit sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat.

    Sudah Diterapkan di Indonesia
    Menurut Prof Despal, teknologi presisi bukan sekadar konsep, tetapi telah diterapkan di sejumlah peternakan di Indonesia. Salah satu contohnya adalah Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) Lembang, Bandung.

    Selain itu, beberapa koperasi peternak telah menggunakan milkotester untuk menguji kualitas susu secara cepat dan akurat.

    Masa Depan Industri Susu Nasional
    Penerapan teknologi presisi membuka peluang besar bagi pengembangan industri sapi perah tropis yang lebih efisien, modern, dan berkelanjutan. Dengan dukungan inovasi digital, peternak dapat meningkatkan produktivitas, memperbaiki kualitas susu, serta menekan biaya produksi.

    “Teknologi presisi akan menjadi fondasi penting dalam pengembangan sapi perah tropis di masa depan,” tegas Prof Despal.

    Melalui penerapan teknologi ini, Indonesia diharapkan dapat meningkatkan produksi susu nasional, memperkuat daya saing peternak lokal, dan mengurangi ketergantungan pada impor produk susu.

  • Dalam industri peternakan modern, baik komoditas ayam ras petelur (layer) maupun ayam ras pedaging (broiler), optimalisasi efisiensi pakan memegang peranan yang sangat krusial. Guna mencapai produktivitas yang maksimal, pemenuhan nutrisi makro saja tidak lagi cukup. Diperlukan strategi khusus melalui pemanfaatan feed additive (zat aditif pakan).

    Dosen Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP), Fakultas Peternakan IPB University, Dr. Widya Hermana, menguraikan secara komprehensif mengenai urgensi, klasifikasi, serta dampak strategis dari penggunaan feed additive demi mendongkrak performa, kesehatan, dan kualitas produk akhir unggas.

    Apakah Itu Feed Additive?
    Feed additive atau zat aditif pakan adalah bahan tambahan yang dimasukkan ke dalam pakan ternak. Bahan ini diberikan dengan tujuan khusus di luar nutrisi utama untuk meningkatkan performa keseluruhan, memelihara kesehatan, memacu produktivitas, serta menaikkan kualitas produk yang dihasilkan oleh ayam.

    Manfaat Feed Additive bagi Peternakan Ayam
    Secara umum, Dr. Widya Hermana menekankan bahwa intervensi feed additive sangat diperlukan oleh para peternak saat ini. Beberapa manfaat esensialnya meliputi:

    • Meningkatkan Palatabilitas: Membantu meningkatkan tingkat kesukaan atau nafsu makan ayam terhadap pakan yang disajikan.
    • Meningkatkan Kecernaan Nutrien: Membantu mengoptimalkan proses pencernaan sehingga sari-sari makanan lebih mudah diserap oleh tubuh.
    • Sebagai Pengawet dan Antijamur: Menjaga kualitas pakan agar tahan lama dan terhindar dari kerusakan akibat jamur.
      Penghambat Mikroorganisme Patogen: Berfungsi menekan pertumbuhan bakteri merugikan di dalam saluran pencernaan ayam.

    Jenis-Jenis Feed Additive yang Dapat Digunakan
    Dosen IPB University tersebut menjelaskan bahwa zat aditif pakan dapat dikategorikan ke dalam beberapa jenis utama:

    • Probiotik Merupakan mikroorganisme hidup menguntungkan yang sengaja ditambahkan ke dalam pakan untuk menjaga keseimbangan flora di dalam saluran pencernaan ayam.
    • Prebiotik Merupakan bahan makanan khusus yang tidak terserap, yang berfungsi sebagai sumber pakan atau nutrisi bagi mikroorganisme baik tersebut agar dapat berkembang biak dengan optimal.
    • Sinbiotik Merupakan gabungan strategis antara probiotik dan prebiotik. Menurut Dr. Widya, jenis sinbiotik ini mampu memberikan hasil yang jauh lebih baik daripada hanya memberikan probiotik atau prebiotik secara terpisah. Hal ini dikarenakan di dalam sinbiotik sudah tersedia mikroorganisme sekaligus makanan yang dibutuhkan untuk perkembangannya.
    • Enzim Bahan aditif yang jumlah penambahannya dapat disesuaikan dengan tujuan spesifik peternak, khususnya mengenai jenis nutrien apa yang ingin dicerna secara lebih cepat oleh tubuh ayam.
    • Herbal (Fitobiotik) Zat aditif alami yang berasal dari tumbuh-tumbuhan rimpang maupun dedaunan kaya manfaat, seperti daun sirsak, daun salam, dan daun binahong.
    • Vitamin dan Mineral Sediaan esensial yang diberikan dalam bentuk langsung dari produsen farmasi untuk melengkapi kebutuhan mikro ayam.

    Bagaimana Efeknya Terhadap Ayam?
    Pemberian feed additive secara tepat memberikan efek fisiologis yang nyata pada ayam:

    1. Peningkatan Produksi Telur dan Bobot Karkas
    Sebagai contoh nyata, penambahan probiotik jenis Lactobacillus sp pada pakan ayam petelur terbukti memberikan dampak positif berupa peningkatan produksi telur. Selain pada ayam petelur, penggunaan aditif ini juga berkontribusi pada peningkatan bobot karkas ayam.

    2. Menjaga Perkembangan Normal dan Mencegah Defisiensi
    Penambahan vitamin dan mineral mutlak harus ada di dalam formulasi pakan. Hal ini dikarenakan tubuh unggas tidak dapat mensintesis atau memproduksi vitamin sendiri. Padahal, peran vitamin sangat esensial untuk mendukung perkembangan jaringan tubuh yang normal, menjaga kesehatan, menunjang pertumbuhan, serta memenuhi kebutuhan hidup pokok ayam.

    Apabila vitamin tidak tersedia di dalam pakan atau gagal diserap (diabsorpsi) oleh tubuh ternak, maka unggas akan mengalami defisiensi vitamin. Efek dari defisiensi ini dapat mengganggu seluruh siklus hidup dan kesehatan ayam secara drastis.

    Pemanfaatan feed additive merupakan langkah strategis yang tidak boleh diabaikan dalam manajemen peternakan unggas modern. Dengan pemilihan jenis aditif yang tepat—baik itu sinbiotik, enzim, herbal, maupun vitamin—peternak dapat memastikan ayam tumbuh dengan sehat, performa produksi optimal, dan kualitas produk yang dihasilkan memuaskan.

  • Selama ini sekam padi dianggap sebagai alas kandang terbaik untuk ayam broiler di Indonesia. Namun, sebuah riset doktoral terbaru dari IPB University membuktikan bahwa slat plastik bukan hanya mampu menggantikan sekam padi, tetapi juga memberikan keuntungan  bagi peternak.

    Penelitian yang dilakukan oleh Daryatmo dalam disertasinya berjudul "Analisis Kualitas Udara, Status Fisiologis dan Animal Welfare serta Produktivitas Ayam Broiler pada Closed House dengan Alas Slat dan Litter menunjukkan bahwa penggunaan slat plastik pada kandang modern (closed house) mampu meningkatkan produktivitas ayam sekaligus memperbaiki kesejahteraan ternak.

    Dalam sidang Promosi Doktor pada hari Selasa, 5 Mei 2025 tersebut, Salah satu temuan paling menarik adalah bahwa kandang dengan slat plastik menghasilkan konsentrasi debu yang jauh lebih rendah dibanding kandang dengan litter sekam padi. Udara kandang yang lebih bersih berpotensi menciptakan lingkungan pemeliharaan yang lebih nyaman bagi ayam maupun pekerja kandang.

  • Banyak orang sering kali mengira kelinci dan marmut adalah hewan yang berkerabat sangat dekat karena sama-sama berbulu, menggemaskan, dan populer dijadikan sebagai hewan peliharaan di rumah.

    Namun, anggapan tersebut diluruskan oleh pakar dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan IPB University, Dr. Muhamad Baihaqi, yang menegaskan bahwa secara taksonomi keduanya justru berasal dari ordo yang sama sekali berbeda.

    Kelinci secara ilmiah dikelompokkan ke dalam ordo Lagomorpha, sementara marmut atau yang sering dikenal sebagai guinea pig tergolong ke dalam ordo Rodentia atau hewan pengerat.

    Jika diperhatikan secara saksama, perbedaan fisik dan anatomi di antara kedua hewan ini sangatlah mencolok. Kelinci umumnya memiliki postur tubuh yang jauh lebih besar dan ramping, ditopang oleh sepasang kaki belakang yang panjang untuk melompat, telinga tegak yang panjang, serta ekor kecil berbulu. Sebaliknya, marmut tampil dengan perawakan yang cenderung lebih pendek, gempal, atau gemuk, didukung kaki-kaki yang pendek, telinga kecil berbentuk bulat, serta hampir tidak memiliki ekor sama sekali.

    Dari sisi anatomi bagian dalam, perbedaan paling spesifik dan mendasar terletak pada struktur giginya, di mana kelinci memiliki sepasang gigi seri tambahan yang terletak tepat di belakang gigi seri utamanya, sebuah karakteristik unik yang tidak akan pernah ditemukan pada anatomi mulut marmut.

    Selain bentuk luar, asal-usul geografis dan perilaku alami keduanya di alam liar juga berseberangan. Kelinci merupakan hewan asli yang berasal dari wilayah Eropa dan Afrika Utara, di mana mereka memiliki kebiasaan alami hidup dan berlindung di dalam liang-liang bawah tanah. Di sisi lain, marmut merupakan hewan yang berasal dari kawasan dataran tinggi atau Pegunungan Andes di Amerika Selatan, yang secara alami menghabiskan seluruh aktivitas hidupnya di atas permukaan tanah.

    Meskipun kedua jenis hewan ini sama-sama tergolong sebagai herbivora murni dengan sistem pencernaan hindgut fermenter, kelinci memiliki tingkat efisiensi yang lebih tinggi dalam mencerna serat makanan karena didukung oleh ukuran sekum yang lebih besar serta adanya perilaku coprophagy, yaitu kebiasaan memakan kembali kotoran lunak mereka untuk menyerap sisa nutrisi yang belum tercerna optimal.

    Perbedaan yang tidak kalah kontras juga terlihat dari aspek biologis reproduksinya. Kelinci dikenal sebagai hewan yang sangat produktif karena memiliki sistem induced ovulator, yang berarti proses ovulasi atau pelepasan sel telur pada induk betina baru akan terjadi setelah adanya proses perkawinan. Ditambah dengan masa kebuntingan yang relatif singkat yaitu hanya berkisar antara 28 hingga 32 hari, seekor induk kelinci mampu melahirkan anak dalam jumlah yang fantastis hingga mencapai 12 ekor dalam satu kali masa melahirkan.

    Kondisi ini sangat berbeda dengan marmut yang membutuhkan masa kebuntingan jauh lebih panjang, yakni mencapai 59 hingga 72 hari, namun dengan produktivitas yang jauh lebih sedikit karena biasanya hanya melahirkan antara 2 sampai 4 ekor anak saja.

    Beralih ke aspek pemanfaatan dan nilai konsumsi, daging dari kedua hewan ini sebenarnya sama-sama dapat dikonsumsi dan statusnya dinyatakan halal bagi umat Muslim. Mengenai hal ini, Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa halal resmi untuk konsumsi daging kelinci, dan mayoritas ulama pun juga memperbolehkan konsumsi daging marmut.

    Jika ditinjau dari kandungan gizinya, daging kelinci menawarkan kualitas nutrisi yang sangat prima karena karakteristiknya yang tinggi akan kandungan protein, namun sangat rendah lemak serta rendah kolesterol, menjadikannya pilihan sumber protein hewani yang sehat.

    Sementara itu, daging marmut juga diketahui memiliki kandungan gizi yang tinggi protein, meskipun dari segi kuantitas hasil dagingnya tentu lebih sedikit karena ukuran tubuh marmut yang jauh lebih kecil dibandingkan kelinci. Di Indonesia sendiri, potensi ekonomi kelinci saat ini dinilai jauh lebih besar dan menjanjikan karena industrinya sudah berkembang pesat baik sebagai sumber daging komersial maupun sebagai kelinci hias, sedangkan marmut sejauh ini masih lebih umum terbatas dipelihara sebagai hewan kesayangan saja.

  • Daging merupakan salah satu komoditas pangan asal ternak yang menjadi sumber protein hewani bermutu tinggi bagi masyarakat. Di pasar tradisional maupun swalayan, kita kerap dihadapkan pada berbagai pilihan daging, mulai dari sapi, kerbau, kambing, hingga domba. Namun, setiap jenis daging ini rupanya memiliki karakteristik yang sangat unik, mulai dari cita rasa, tekstur, aroma, hingga kualitas fisiknya.

    Dosen Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB University, Dr. Henny Nuraini, mengungkapkan bahwa atribut fisik dan nutrien pada daging tidak muncul begitu saja.

    “Perbedaan fisik dan nutrien daging bisa dipengaruhi oleh jenis hewan, umur, jenis kelamin, pakan, penanganan sebelum dan sesudah pemotongan, aktivitas otot, metode pemasakan, dan reaksi kimia yang terjadi,” urai Dr. Henny.

    Bagi konsumen yang ingin menyajikan hidangan terbaik di meja makan, berikut adalah panduan lengkap dari pakar Fapet IPB untuk mengenali karakteristik fisik di antara keempat jenis daging tersebut:

    1. Warna Daging: Ditentukan oleh Kandungan Pigmen

    Kunci utama perbedaan warna pada daging segar terletak pada konsentrasi pigmen bernama myoglobin. Semakin tinggi kadar myoglobin pada otot hewan, maka warna dagingnya akan semakin pekat atau intens.

    Saat terpapar udara (oksigen), myoglobin bereaksi menjadi oksimioglobin yang menghasilkan warna merah cerah. Namun, setelah beberapa jam disembelih atau jika dalam kondisi tertutup, warnanya dapat bergeser menjadi merah kecokelatan (metmyoglobin).

    Berikut adalah peta warna spesifik untuk masing-masing komoditas daging:

    • Daging Sapi: Memiliki karakteristik warna merah cerah yang khas (bright cherry red) pada kondisi segar.
    • Daging Kerbau: Menampilkan warna merah yang cenderung agak gelap dibandingkan daging sapi.
    • Daging Domba: Berwarna merah terang hingga merah bata (light red to brick red).
    • Daging Kambing: Karakter warnanya mirip dengan domba, yaitu berwarna merah muda, namun visualnya tidak secerah daging sapi.

    Tips Cek Kesegaran di Pasar: Guna menguji tingkat kesegaran daging, sayat sedikit permukaan daging lalu amati bagian dalamnya. Paparan udara segar akan memancing munculnya warna merah cerah yang menandakan daging masih dalam kondisi baik.

    2. Tekstur Daging: Indikator Keempukan

    Tekstur menggambarkan bagaimana kondisi permukaan daging saat dilihat, disentuh, digigit, dan dirasakan di dalam mulut. Atribut ini memegang peranan krusial terhadap kualitas hidangan karena menjadi indikator langsung dari tingkat kekenyalan serta keempukan serabut otot.

    Secara umum, tekstur kasar menandakan daging yang liat atau keras, sedangkan tekstur halus mengindikasikan keempukan. Kehadiran jaringan ikat serta sebaran lemak (marbling) di antara serabut otot juga ikut mendongkrak kelembutan daging.

    • Daging Sapi: Memiliki serat daging berukuran sedang, berstruktur renggang, dan bersifat tidak kaku.
    • Daging Kerbau: Serat ototnya cenderung lebih kasar serta padat. Serat yang kasar ini biasanya mengindikasikan daging berasal dari ternak berumur tua sehingga kurang empuk. Menariknya, jika daging berasal dari kerbau yang masih muda, tingkat keempukannya tidak kalah saing dengan daging sapi.
    • Daging Kambing & Domba: Kedua jenis daging ini memiliki ukuran serat yang jauh lebih kecil dan halus daripada daging sapi, sehingga umumnya bertekstur lebih empuk.

    3. Aroma Daging: Sentuhan Senyawa Volatile

    Setiap jenis ternak menghasilkan senyawa mudah menguap (volatile) yang unik, sehingga menciptakan aroma khas tersendiri, baik dalam kondisi mentah maupun setelah melewati proses pematangan atau pemasakan.

    Aroma ini dipengaruhi oleh jenis hewan, kadar lemak yang terkandung di dalamnya, penggunaan bumbu, serta potensi kontaminasi mikroorganisme. Daging segar yang berkualitas seharusnya tidak mengeluarkan bau amis yang menyengat atau bau anyir/tengik yang menandakan adanya kerusakan akibat jamur dan bakteri.

    • Daging Sapi: Memiliki aroma lembut, netral, dan sangat mudah diterima oleh lidah mayoritas masyarakat.
    • Daging Kerbau: Aromanya setingkat lebih tajam dibandingkan daging sapi.
    • Daging Kambing: Terkenal memiliki aroma khas atau bau "prengus" yang sangat kuat, terutama jika daging berasal dari kambing jantan atau ternak yang sudah berumur tua.
    • Daging Domba: Memiliki kemiripan aroma dengan daging kambing, namun level ketajamannya jauh lebih rendah atau tidak terlalu menyengat.

    Tips Penanganan Daging di Dapur Rumah

    Sebagai bahan pangan, daging merupakan sumber protein hewani yang sangat bermutu tinggi karena kaya zat gizi dan mudah dicerna oleh tubuh manusia. Namun, karena keunggulan nutrisinya ini, daging bersifat sangat mudah rusak (perishable food) dan rawan menjadi media pertumbuhan mikroba patogen jika dibiarkan terlalu lama di suhu ruang.

    Oleh sebab itu, Dr. Henny mengingatkan masyarakat untuk menjaga ketat higiene penanganan daging setelah dibeli dari pasar:

    • Hindari Kontaminasi Silang: Pastikan pisau, talenan, dan wadah penampung dalam kondisi bersih. Pisahkan alat pemotong daging mentah dengan bahan pangan siap saji lainnya.
    • Segera Olah atau Distribusikan: Jangan membiarkan daging segar berada di suhu ruang terlalu lama tanpa penanganan.
    • Manfaatkan Pembekuan: Jika daging tidak langsung dimasak pada hari yang sama, segera simpan daging di dalam kulkas (pendingin) atau bekukan di dalam freezer untuk mengunci kualitas gizi serta memperpanjang masa simpannya.
  • Di beberapa wilayah di Indonesia, kerbau kerap menjadi pilihan utama sebagai hewan kurban selain kambing atau domba. Selain karena faktor tradisi di daerah tertentu, harganya yang relatif lebih terjangkau dibandingkan daging sapi membuat sebagian masyarakat menjatuhkan pilihan pada hewan ini.

    Sayangnya, daging kerbau sering kali dihindari karena adanya anggapan bahwa teksturnya keras, sulit diolah, memiliki aroma yang tajam, serta kalah prestisius dibandingkan daging sapi. Padahal, jika diolah dengan metode yang benar, daging kerbau bisa menjadi alternatif sumber protein hewani yang sangat lezat, sehat, dan ekonomis.

    Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof. Dr. Irma Isnafia Arief, membagikan sejumlah teknik sederhana namun efektif yang bisa diterapkan masyarakat agar masakan daging kerbau menjadi empuk dan menggugah selera.

    Mengapa Daging Kerbau Terasa Keras?
    Menurut Prof. Irma, daging kerbau secara alami memang memiliki karakteristik serat dan struktur yang berbeda. "Daging kerbau memiliki tekstur lebih keras dibandingkan daging sapi, sehingga memerlukan perlakuan khusus agar hasilnya empuk dan enak disantap," jelasnya. Kegagalan dalam mengolah umumnya terjadi karena masyarakat menyamakannya dengan cara memasak daging sapi.

    Langkah Rahasia Mengolah Daging Kerbau agar Empuk dan Lembut
    Untuk mendapatkan tekstur yang pas dan tidak alot, berikut adalah beberapa teknik yang direkomendasikan oleh Prof. Irma:

    1. Potong Melintang Serat
    Langkah paling awal dimulai dari cara memotong. Pastikan Anda memotong daging dengan arah melintang serat. Teknik dasar ini akan memutus rantai serat daging yang kuat, sehingga memudahkan proses pemasakan sekaligus membantu daging menjadi jauh lebih lembut saat dikunyah.

    2. Lakukan Pengempukan Fisik (Dipukul)
    Sebelum dibumbui, jangan ragu untuk memukul-mukul daging kerbau terlebih dahulu. Banyak orang mengabaikan hal ini, padahal teknik mekanis sederhana seperti memukul daging sangat berpengaruh besar terhadap hasil akhir tekstur daging agar tidak sulit dikunyah.

    3. Manfaatkan Enzim Pelunak Alami
    Anda bisa memanfaatkan buah-buahan atau dedaunan di sekitar rumah yang mengandung enzim pelunak serat daging alami, contohnya daun pepaya dan nanas.

    • Daun Pepaya: Bungkus daging kerbau di dalam daun pepaya selama kurang lebih 10 menit.
    • Buah Nanas: Campur dan aduk daging bersama irisan nanas selama 5–10 menit.
      Catatan Penting: Jangan merendam atau membungkus daging terlalu lama agar strukturnya tidak hancur.

    4. Marinasi dengan Bumbu untuk Mengurangi Aroma Khas
    Daging kerbau memiliki aroma khas yang cenderung lebih tajam. Untuk menyiasatinya, rendamlah daging dalam campuran bumbu dapur seperti jahe, serai, daun jeruk, dan air jeruk nipis. Kombinasi bumbu ini efektif menekan aroma tajam sekaligus membantu meningkatkan kelembutan daging.

    5. Terapkan Metode Memasak Perlahan (Slow Cooking)
    Salah satu kesalahan fatal yang sering dilakukan adalah memasak daging kerbau menggunakan api besar karena ingin cepat matang. “Ini justru membuat daging cepat kering dan keras,” tutur Prof. Irma.

    Oleh karena itu, gunakan metode memasak perlahan (slow cooking) dengan api kecil, atau manfaatkan teknologi dapur seperti panci presto untuk melunakkan daging secara optimal tanpa merusak kandungan gizinya.

    Mengubah Persepsi, Meningkatkan Konsumsi
    Rendahnya popularitas daging kerbau di masyarakat perkotaan umumnya dipicu oleh kurangnya edukasi mengenai cara penanganan pasca-panen yang tepat. Distribusinya yang tidak seluas daging sapi serta adanya gengsi budaya (prestise) membuat bahan pangan berkualitas ini sering dikesampingkan.

    Melalui edukasi dan tips praktis ini, diharapkan masyarakat tidak lagi ragu untuk mengonsumsi atau memilih kerbau sebagai hewan kurban maupun hidangan harian. Saat kita menguasai teknik pengolahannya, daging kerbau akan menjelma menjadi sajian yang tidak kalah berkelas, empuk, dan tentunya ramah di kantong.

  • Belakangan ini, media sosial sempat diramaikan oleh berbagai kasus viral mengenai hewan ternak yang tertangkap kamera sedang mengonsumsi makanan konsumsi manusia, mulai dari nasi hingga nugget. Fenomena unik ini tentu memancing pertanyaan besar: apakah aman bagi kesehatan organ pencernaan hewan ternak tersebut?

    Dosen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP), Fakultas Peternakan IPB University, Dr. Muhammad Baihaqi, memberikan penjelasan ilmiah terkait batas aman dan risiko di balik fenomena ini.

    Beda Sistem Pencernaan: Monogastrik vs Poligastrik
    Dr. Baihaqi menjelaskan bahwa pada dasarnya, domba termasuk kelompok hewan ruminansia yang memiliki anatomi serta sistem pencernaan yang sangat kontras dengan manusia.

    • Manusia (Monogastric): Hanya memiliki satu lambung/perut untuk mencerna makanan.
    • Domba (Polygastric): Memiliki struktur "empat" perut. Karakteristik inilah yang mengategorikan domba sebagai hewan herbivora, karena mereka dianugerahi kemampuan biologis untuk mencerna serat kasar yang tidak bisa dihancurkan oleh sistem pencernaan manusia.

    Proses pencernaan serat kasar pada domba dilakukan melalui mekanisme fermentasi di dalam perutnya. Oleh sebab itu, secara kodrat biologis, domba membutuhkan jenis pakan yang berbeda dari manusia, yakni rumput dan aneka tumbuhan hijau lainnya.

    Batas Aman dan Risiko Penyakit Acidosis
    Meski memiliki sistem pencernaan yang berbeda, beberapa jenis makanan manusia sebenarnya bisa saja tertelan oleh domba, dengan catatan jumlahnya sangat sedikit. Secara umum, jika makanan tersebut aman bagi manusia, maka tidak akan langsung menjadi racun yang berbahaya bagi domba.

    Namun, peternak atau masyarakat tidak boleh sembarangan. Karena lambung domba membutuhkan proses fermentasi, porsi terbesar dari pakannya harus tetap didominasi oleh rumput atau tumbuhan.

    “Jika domba diberikan pakan yang mengandung gula, lemak atau protein yang tinggi tetapi rendah serat, maka bisa menyebabkan permasalahan saluran pencernaannya, misalnya acidosis,” peringat Dr. Baihaqi.

    Oleh karena itu, porsi makanan manusia tidak boleh sampai menggeser posisi rumput sebagai pakan utama.

    Ancaman Racun dari Makanan Berjamur
    Hal lain yang wajib diwaspadai adalah kondisi kelayakan makanan tersebut. Memberikan sisa makanan manusia yang sudah rusak atau berjamur sangat berbahaya bagi keselamatan ternak.

    Sebagai contoh, kontaminasi jenis jamur tertentu pada komoditas jagung dapat memproduksi racun berbahaya bernama aflatoxin yang bisa memicu keracunan fatal pada domba.

    "Selama pemberian makanan manusia dalam jumlah yang sedikit dan domba tetap makan rumput dalam jumlah yang banyak serta makanan tersebut tidak terkontaminasi dengan mikroba berbahaya, maka hal tersebut tidak terlalu menjadi masalah," pungkas Dr. Baihaqi. 

Riset & Kepakaran

Wednesday, 20 May 2026 13:39

Di beberapa wilayah di Indonesia, kerbau kerap menjadi pilihan utama sebagai hewan kurban selain kambing atau domba. Selain karena faktor tradisi di daerah tertentu, harganya yang relatif lebih...

Wednesday, 20 May 2026 12:39

Dalam industri peternakan modern, baik komoditas ayam ras petelur (layer) maupun ayam ras pedaging (broiler), optimalisasi efisiensi pakan memegang peranan yang sangat krusial. Guna mencapai...

Wednesday, 20 May 2026 11:30

IPB University terus mendorong inovasi untuk meningkatkan daya saing industri peternakan nasional. Guru Besar Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University, Prof Despal, mengusulkan penerapan teknologi...

Wednesday, 20 May 2026 11:22

Dalam beberapa hari terakhir, media di Australia menyoroti keberangkatan MV Al Kuwait, salah satu kapal pengangkut ternak hidup terbesar di dunia, dari Pelabuhan Darwin menuju Indonesia. Kapal...

Events

 

Lensa Inspirasi

Dalam dunia industri manufaktur pangan, konsistensi dan keamanan adalah segalanya. Bagi seorang pakar teknologi susu, perjalanan karier bukan sekadar tentang angka produksi, melainkan tentang...

Kapsul Inovasi

Innovator : Dr Iyep Komala, S.Pt, M.Si Dr Mohammad Fayruz, CEO PT Lana Ratifa D-Ruminansia adalah inovasi teknologi berbasis Internet of Things (IoT) yang dirancang khusus untuk memantau mikroklimat...

Video Highlight

Ayam IPB D1 adalah hasil inovasi yang dikembangkan Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof. Dr. Cece Sumantri beserta tim, merupakan ayam lokal pedaging unggul dengan pertumbuhan cepat,...