Departemen IPTP

Producing Professionals
in Livestock Industry

Departemen INTP

Better Feed for Better
Animal Product

 

Pascasarjana

Kuliah Pascasarjana ?
Fapet IPB tempat yang tepat

Pendaftaran

Universitas Berkelas Dunia, Berkualitas, dan Terakreditasi Internasional

Riset & Kepakaran

  • Dunia peternakan sapi perah saat ini tengah menghadapi tantangan serius yang kerap luput dari perhatian, yaitu penyakit mastitis. Penyakit ini tidak boleh disepelekan karena tidak hanya berdampak buruk pada kesehatan satwa, melainkan juga memicu kerugian ekonomi yang besar bagi peternak serta menurunkan kualitas produksi susu secara drastis.

    Dosen Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University, Dr. Iyep Komala, membedah secara tuntas mengenai apa itu mastitis, faktor pemicunya, hingga langkah penanganan taktis yang bisa diterapkan oleh peternak rakyat.

    Apa Itu Mastitis dan Apa Saja Cirinya?
    Secara medis, mastitis adalah penyakit peradangan yang terjadi pada jaringan ambing (kelenjar susu) sapi. Penyakit ini umumnya dipicu oleh adanya infeksi bakteri. Ketika sapi perah mulai terjangkit mastitis, mereka akan menunjukkan tanda-tanda ketidaknyamanan yang khas.

    Beberapa ciri utama dan gejala mastitis yang wajib diwaspadai antara lain:

    • Terjadi pembengkakan dan kemerahan pada area ambing sapi.
    • Terjadi perubahan warna serta tekstur pada susu yang dihasilkan.
    • Sapi menunjukkan penurunan nafsu makan akibat rasa tidak nyaman.

    "Jika kondisi ini dibiarkan kronis, bisa menyebabkan kerusakan permanen pada ambing," peringat Dr. Iyep 

    Selain merusak kesehatan sapi, susu yang dihasilkan dari ambing yang terinfeksi dapat mengandung bakteri patogen yang berbahaya jika dikonsumsi oleh manusia.

    Akar Penyebab Mastitis pada Sapi Perah
    Bakteri sebagai aktor utama penyebab mastitis sering kali bersumber dari lingkungan peternakan atau area kandang yang tidak terjaga kebersihannya. Namun, Dr. Iyep menggarisbawahi bahwa manajemen peternakan yang buruk juga turut andil memperparah risiko penularan.

    Faktor penunjang tersebut meliputi:

    • Kondisi stres pada sapi.
    • Kesalahan dalam penanganan ternak serta perlakuan kasar dari peternak.
    • Pola pergantian pakan yang tidak tepat atau mendadak.
    • Kuku sapi yang dibiarkan panjang saat proses pemerahan, sehingga memicu luka fisik pada ambing.

    Panduan Penanganan dan Metode Pengobatan
    Langkah awal pencegahan terbaik yang disarankan adalah dengan konsisten menjaga sanitasi kandang serta menerapkan prinsip-prinsip pemerahan yang baik atau good milking practices. Namun, jika sapi di lapangan sudah telanjur mengidap mastitis, Dr. Iyep memaparkan dua metode pengobatan yang bisa ditempuh:

    1. Metode Antibiotik
    Pengobatan menggunakan antibiotik komersial wajib dilakukan secara hati-hati dan di bawah pengawasan yang tepat. Kesalahan dosis atau durasi dalam penggunaan antibiotik berisiko tinggi menyebabkan munculnya residu antibiotik di dalam susu, sehingga susu tersebut tidak layak konsumsi.

    2. Metode Alami (Herbal Daun Sirih)
    Sebagai alternatif aman yang sangat ramah bagi peternak rakyat, pemanfaatan daun sirih sangat direkomendasikan karena kandungan antiseptik alaminya yang kuat.

    • Ekstrak Daun Sirih: Merupakan pilihan terbaik untuk mengobati infeksi.
    • Air Rebusan Daun Sirih: Jika ekstrak tidak tersedia, peternak bisa merebus daun sirih secara manual untuk digunakan sebagai antiseptik pembersih.

    Senjata Pencegahan: Teknik Teat Dipping
    Setelah proses pemerahan selesai, peternak sangat disarankan untuk melakukan metode teat dipping, yaitu mencelupkan puting susu sapi ke dalam larutan antiseptik. Larutan yang digunakan bisa berupa tingtur yodium maupun air rebusan daun sirih. Langkah sederhana ini terbukti efektif mencegah masuknya bakteri ke dalam saluran puting dan meminimalkan risiko mastitis pasca pemerahan.

    Melalui kombinasi kebersihan kandang, pemerahan yang higienis, serta pemeriksaan kesehatan ambing secara berkala, angka kejadian mastitis di tingkat peternak rakyat dapat ditekan secara signifikan demi menjaga mutu gizi susu masyarakat.

  • Momen idul adha atau Idul fitri identik dengan hidangan lezat seperti gulai, rendang, atau sate. Namun, salah satu masalah yang paling sering dikeluhkan masyarakat adalah aroma amis atau prengus yang tertinggal pada daging. Jika tidak ditangani dengan benar, aroma tak sedap (off-flavor) ini bisa merusak kelezatan masakan saat disantap bersama keluarga.

    Pakar Teknologi Hasil Ternak IPB University, Dr. Tuti Suryati, menjelaskan bahwa bau amis pada daging sebenarnya bukan hal yang terjadi begitu saja. Secara ilmiah, aroma mengganggu ini dipicu oleh dua faktor utama: aktivitas bakteri pembusuk dan oksidasi lemak.

    Berikut adalah rincian penyebab mengapa daging kurban bisa berbau amis dan cara tepat untuk mengatasinya.

    1. Biang Kerok Utama: Aktivitas Bakteri Pembusuk
    Bau amis muncul akibat proses pembusukan protein dan lemak yang dipicu oleh berkembangbiaknya bakteri pada daging yang terkontaminasi.

    “Bakteri seperti Aeromonas, Enterococcus, Acinetobacter, Moraxella, Chromobacterium, hingga Pseudomonas dapat berkembang pada daging yang terkontaminasi,” ungkap Dr. Tuti.

    Kontaminasi bakteri ini biasanya terjadi selama proses penanganan di lapangan, yang bersumber dari:

    • Sisa darah hewan yang tidak keluar dengan sempurna saat disembelih.
    • Peralatan pemotongan (pisau, telenan, alas) yang kurang higienis.
    • Kontaminasi silang dari tangan manusia atau lingkungan tempat pembagian daging.

    2. Oksidasi Lemak yang Dipercepat oleh Air
    Selain bakteri, aroma tak sedap juga dipicu oleh kerusakan lemak (oksidasi). Proses ini terjadi ketika lemak pada daging mengalami hidrolisis, yang dipercepat oleh enzim lipase—baik yang bawaan dari daging itu sendiri maupun yang dihasilkan oleh bakteri kontaminan.

    Hal yang mengejutkan, mencuci daging secara sembarangan justru bisa memperparah bau amis ini. Kehadiran air bebas yang terlalu banyak pada permukaan daging akan meningkatkan kadar air dan mempercepat proses hidrolisis lemak. Akibatnya, oksidasi terjadi lebih cepat dan memicu bau yang tidak sedap.

    Solusi Praktis Mengatasi dan Mencegah Bau Amis
    Untuk memastikan hidangan daging Anda bebas dari aroma amis, Dr. Tuti membagikan beberapa tips pencegahan yang bisa dilakukan di dapur:

    Turunkan pH dengan Bahan Asam
    Anda bisa memanfaatkan bahan asam seperti jeruk nipis, lemon, atau cuka untuk membalur daging. Kandungan asam sitrat dan askorbat pada jeruk nipis cukup efektif untuk menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk. Namun ingat, jangan gunakan secara berlebihan agar tidak mengubah cita rasa asli daging, dan cara ini tidak akan menolong jika kondisi daging memang sudah mulai rusak.

    Maksimalkan Rempah Kaya Antioksidan
    Dibandingkan hanya mengandalkan jeruk nipis, penggunaan bumbu dapur melimpah adalah opsi terbaik. Rempah-rempah kaya akan antioksidan yang efektif memperlambat proses oksidasi lemak sekaligus menyamarkan aroma amis. Pastikan masakan Anda kaya akan bumbu seperti:

    • Bawang merah, bawang putih, dan bawang bombai
    • Merica dan ketumbar
    • Kayu manis, pala, cengkeh, hingga bunga lawang

    Aturan Mencuci dan Menyimpan yang Benar

    • Jika langsung dimasak: Cuci daging dengan air mengalir, lalu pastikan dimasak hingga matang sempurna (suhu internal mencapai 70–80°C atau direbus sekitar 30–60 menit tergantung ukuran potongan) untuk membunuh bakteri.
    • Jika ingin disimpan: Setelah dicuci dengan air mengalir, beri bilasan akhir dengan air matang. Keringkan permukaan daging menggunakan tisu bersih agar tidak ada air bebas yang tertinggal, kemas rapat, dinginkan di kulkas, lalu bekukan di freezer.

    Dengan memahami penyebabnya dan menerapkan penanganan yang higienis sejak awal, kualitas gizi dan aroma segar daging kurban akan tetap terjaga hingga siap dihidangkan di meja makan.

  • Telur asin telah lama menjadi salah satu makanan favorit masyarakat Indonesia. Rasanya yang gurih, teksturnya yang khas, serta daya simpannya yang lebih lama dibandingkan telur segar membuat telur asin banyak dipilih sebagai lauk praktis. Namun, muncul pertanyaan, apakah telur asin masih memiliki kandungan gizi yang baik? Benarkah proses pengasinan menyebabkan nilai gizinya menurun?

    Menurut Prof Ronny, Pakar Genetika Ekologi IPB University, telur asin tetap mengandung berbagai zat gizi penting seperti protein, lemak, vitamin, dan mineral. Namun, proses pengasinan memang menyebabkan beberapa perubahan pada kandungan gizinya.

    "Pengasinan bertujuan memperpanjang masa simpan telur sekaligus memberikan cita rasa yang khas. Akan tetapi, garam yang masuk melalui pori-pori cangkang juga memengaruhi struktur protein dan meningkatkan kadar natrium di dalam telur," jelasnya.

    Kandungan Gizi Telur Asin
    Secara umum, telur asin masih menjadi sumber protein hewani yang baik. Selain protein, telur asin juga mengandung lemak, vitamin A, vitamin D, zat besi, fosfor, serta berbagai mineral yang dibutuhkan tubuh. Kandungan lemaknya relatif tidak banyak berubah selama proses pengasinan.

    Meski demikian, kadar natrium pada telur asin jauh lebih tinggi dibandingkan telur segar karena garam meresap ke dalam telur selama proses pengasinan.

    Apakah Nilai Gizi Telur Asin Menurun?
    Prof Ronny menjelaskan bahwa proses pengasinan dapat menyebabkan denaturasi protein, yaitu perubahan struktur protein akibat paparan garam dalam konsentrasi tinggi. Akibatnya, sebagian fungsi biologis protein menjadi berkurang.

    "Berdasarkan sejumlah penelitian, kandungan protein pada telur asin dapat mengalami penurunan hingga sekitar 30 persen apabila proses pengasinan dilakukan selama tujuh hari dengan konsentrasi garam yang tinggi," ujarnya.

    Selain protein, sebagian vitamin yang larut dalam air, terutama vitamin B kompleks, juga dapat berkurang selama proses pengasinan. Sebaliknya, kandungan lemak relatif tetap stabil.

    Perubahan lainnya terlihat pada tekstur telur. Garam menarik air dari putih telur sehingga kuning telur menjadi lebih padat, berminyak, dan memiliki cita rasa yang lebih gurih.

    Mengapa Telur Asin Lebih Awet?
    Salah satu keunggulan telur asin adalah masa simpannya yang lebih panjang. Menurut Prof Ronny, garam berfungsi sebagai pengawet alami yang mampu menghambat pertumbuhan mikroorganisme penyebab pembusukan.

    "Melalui proses pengasinan, telur dapat bertahan sekitar satu hingga dua bulan apabila disimpan dengan baik. Karena itu, telur asin menjadi pilihan praktis sekaligus memiliki nilai ekonomi yang tinggi di berbagai daerah," jelasnya.

    Cara Meminimalkan Penurunan Gizi
    Agar kualitas gizi telur asin tetap terjaga, proses pengasinan perlu dilakukan secara tepat. Prof Ronny menyarankan penggunaan garam dalam konsentrasi sedang, sekitar 100–150 gram per liter, serta membatasi waktu pengasinan tidak lebih dari 10 hari.

    Selain itu, proses pematangan juga berpengaruh terhadap kualitas telur asin. Penggunaan oven dengan suhu sekitar 90 derajat Celsius dinilai dapat membantu mempertahankan kadar air dan cita rasa. Penambahan rempah seperti daun teh atau jahe juga dapat meningkatkan aroma sekaligus membantu memperpanjang masa simpan.

    Konsumsi Secukupnya
    Meski tetap memiliki kandungan gizi, telur asin sebaiknya dikonsumsi secara bijak. Kandungan natrium yang tinggi membuat makanan ini kurang dianjurkan dikonsumsi setiap hari, terutama oleh penderita hipertensi maupun penyakit jantung.

    "Telur asin tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehat apabila dikonsumsi dalam jumlah yang wajar. Jadikan sebagai variasi lauk dan imbangi dengan makanan bergizi lainnya agar manfaatnya tetap optimal," pungkas Prof Ronny.

  • Mengonsumsi ayam kampung selama ini sering dianggap lebih sehat dibandingkan ayam broiler. Selain teksturnya yang lebih padat, ayam kampung juga kerap dipandang lebih alami karena umumnya dipelihara dengan sistem umbaran. Lantas, apa yang membedakan keduanya jika dilihat dari kandungan gizi? 

    Shabrina Dyah Wibawanti, SPt, MSi, dosen Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB University, menjelaskan bahwa perbedaan yang paling konsisten antara ayam kampung dan broiler justru terdapat pada kandungan lemaknya. 

    Ayam broiler cenderung memiliki kadar lemak lebih tinggi karena dipelihara dengan tujuan pertumbuhan cepat dan didukung pakan berenergi tinggi.

    “Perbedaan kandungan lemak antara kedua jenis ayam ini merupakan hasil gabungan dari faktor genetik, formulasi pakan, tingkat aktivitas, dan umur panen,” jelas Shabrina.

    Berbeda dengan broiler, ayam kampung umumnya dipelihara lebih lama dengan sistem umbaran atau free range. Ayam yang lebih banyak bergerak menggunakan energi lebih besar untuk aktivitas fisiknya sehingga cenderung tidak menyimpan lemak sebanyak ayam yang dipelihara secara intensif.

    Mana yang Proteinnya Lebih Tinggi?

    Shabrina menekankan bahwa ayam kampung tidak otomatis lebih unggul dalam seluruh aspek gizi. Dari sisi protein, kandungan keduanya relatif tidak jauh berbeda. 

    “Ayam kampung memang dapat memiliki kandungan protein sedikit lebih tinggi, tetapi perbedaannya relatif kecil dan hasil penelitian bervariasi, sehingga secara praktis keduanya dapat dianggap setara sebagai sumber protein”, jelasnya.

    Anggapan ayam kampung lebih sehat juga berkaitan dengan tekstur dagingnya yang lebih padat. Menurut Shabrina, tekstur tersebut lebih dipengaruhi oleh struktur serat otot dan usia panen, sehingga tidak dapat digunakan sebagai ukuran langsung bahwa daging tersebut memiliki kandungan gizi lebih tinggi.

    Shabrina menuturkan, usia panen ayam kampung yang lebih tua membuat ikatan silang kolagen pada dagingnya semakin kuat dibandingkan broiler, sehingga teksturnya terasa lebih padat dan kenyal.

    Sementara itu, kandungan vitamin, mineral, serta profil asam lemak omega-3 seperti DHA lebih banyak dipengaruhi oleh pakan yang dikonsumsi selama pemeliharaan.

    Bagian Ayam dan Cara Pengolahan Ikut Berpengaruh

    Shabrina mengatakan, konsumen sebaiknya tidak hanya melihat jenis ayam ketika memilih makanan. Bagian ayam dan cara pengolahan juga berpengaruh terhadap kandungan gizi yang dikonsumsi.

    Dada ayam broiler tanpa kulit dapat memiliki kandungan lemak lebih rendah dibandingkan paha ayam kampung dengan kulit. Begitu pula ayam yang digoreng dapat memiliki kandungan lemak lebih tinggi akibat penggunaan minyak.

    “Penentuan pilihan ayam berdasarkan kandungan gizi tidak dapat semata-mata didasarkan pada jenis ayam, melainkan perlu mempertimbangkan faktor lainnya,” ungkapnya.

    Dengan demikian, Shabrina menyimpulkan, ayam kampung maupun broiler memiliki karakteristik masing-masing. Jika ingin membatasi asupan lemak, pilih bagian yang rendah lemak seperti dada tanpa kulit dan olah tanpa digoreng, baik dari ayam kampung maupun broiler. 

    Pada akhirnya, pilihan makanan tetap perlu mempertimbangkan bagian ayam serta metode pengolahannya agar sesuai dengan kebutuhan gizi masing-masing.

  • Tantangan efisiensi dalam industri peternakan nasional kian krusial. Menjawab persoalan tersebut, Guru Besar Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ridla, M.Agr., memaparkan solusi strategis untuk meningkatkan kualitas pakan dan produksi ternak berkelanjutan melalui pemanfaatan bioteknologi pakan.

    Teknologi berbasis enzim dan mikroba fungsional dinilai mampu menjadi jawaban atas tingginya angka kehilangan pakan (feed loss) di Indonesia. Dengan memecah komponen kompleks dalam bahan pakan, teknologi ini secara signifikan meningkatkan efisiensi pemanfaatan nutrien.

    “Pendekatan ini meningkatkan proses cerna pakan, pemenuhan nutrisi, serta mendukung pertumbuhan dan kesehatan ternak secara berkelanjutan,” ujar Prof. Ridla.

    Potensi Finansial: Menghemat Belasan Triliun Rupiah

    Data menunjukkan bahwa produksi pakan nasional pada tahun 2024 mencapai angka yang fantastis, yaitu 18,5 juta ton dengan nilai perputaran ekonomi sebesar Rp148 triliun. Namun, industri ini masih dibayangi oleh kerugian besar akibat kehilangan pakan yang mencapai 20 persen, atau setara dengan Rp29 triliun.

    Bioteknologi hadir sebagai penyelamat efisiensi ekonomi ini. Menurut kalkulasi Prof. Ridla, peningkatan kecernaan sebesar 10 persen saja melalui sentuhan bioteknologi berpotensi menghemat anggaran pakan nasional hingga Rp14,5 triliun.

    Meskipun pabrik pakan komersial (feedmill) skala besar di Indonesia umumnya telah mengadopsi enzim dan probiotik untuk meningkatkan kualitas produk mereka, tantangan besar justru ada di tingkat akar rumput. Pemahaman peternak rakyat/kecil mengenai pemanfaatan enzim, probiotik, prebiotik, proses fermentasi, hingga pengolahan kotoran berbasis bioteknologi dinilai masih sangat terbatas.

    Mengupas Kinerja Enzim dan Probiotik dalam Ransum

    Secara teknis, bioteknologi pakan bekerja secara spesifik melalui beberapa komponen penting:

    1. Multienzim untuk Efisiensi Nutrisi

    Enzim Fitase: Berfungsi mengurai ikatan fitat sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan. Sebagai contoh, pada ayam broiler, penggunaan fitase mampu menurunkan kebutuhan fosfor tersedia dari 0,40% menjadi 0,21%.
    Enzim Protease: Berperan mendongkrak efisiensi pencernaan protein. Suplementasi satu dosis protease pada ransum jagung–bungkil kedelai (SBM) terbukti menaikkan kecernaan protein sebesar 11% dan retensi nitrogen sebesar 4%.
    Enzim Karbohidrase: Mampu mendongkrak energi metabolis pakan sebanyak 100–250 kkal/kg serta meningkatkan kecernaan protein sekitar 5%.

    2. Probiotik (Bakteri Asam Laktat)

    Mikroba fungsional ini bertindak sebagai penjaga benteng pertahanan di saluran pencernaan ternak. Penggunaan bakteri asam laktat secara konsisten terbukti mampu:

    • Memperbaiki struktur histologi usus.
    • Meningkatkan konsumsi pakan dan memacu pertumbuhan bobot badan.
    • Menurunkan nilai Feed Conversion Ratio (FCR) sehingga konversi pakan menjadi daging lebih efisien.

    Menjinakkan Senyawa Antinutrisi

    Salah satu kendala utama penggunaan bahan pakan alternatif lokal adalah tingginya kandungan zat antinutrisi yang dapat mengganggu pencernaan ternak. Melalui penerapan fermentasi dan perlakuan enzimatik, senyawa-senyawa antinutrisi tersebut dapat didegradasi dan diturunkan kadarnya secara signifikan. Hasil akhirnya adalah peningkatan kualitas ransum secara keseluruhan yang lebih aman dan bergizi tinggi bagi ternak.

    Tidak hanya urusan perut ternak, efisiensi nitrogen yang dihasilkan dari penggunaan bioteknologi ini juga berdampak positif pada lingkungan, karena terbukti mampu menurunkan produksi gas amonia yang memicu bau menyengat di area kandang.

    Sudah saatnya edukasi bioteknologi pakan ini digencarkan hingga ke peternak rakyat, demi mewujudkan kedaulatan pangan dan peternakan Indonesia yang berkelanjutan dan jauh lebih menguntungkan.

  • Upaya meningkatkan pemanfaatan bahan pakan lokal sebagai alternatif jagung menjadi fokus penelitian Sazli Tutur Risyahadi, dari Program Doktor Ilmu Nutrisi dan Pakan (INP), Pascasarjana Fapet IPB. Melalui disertasinya berjudul “Optimasi Teknik Ekstrusi Bungkil Inti Sawit dan Umbi Singkong sebagai Bahan Baku Industri Pakan Unggas”, Sazli mengembangkan teknologi pengolahan campuran bungkil inti sawit (BIS) dan singkong atau “biskong” untuk meningkatkan nilai nutrisinya dan potensinya sebagai bahan pakan unggas.

    Sidang Promosi Doktor dilaksanakan pada Kamis, 13 Agustus 2026 di Ruang Sidang Fakultas Peternakan IPB Dramaga. Penelitian ini dibimbing oleh Prof. Dr. Ir. Yuli Retnani, M.Sc., Prof. Dr. Anuraga Jayanegara, S.Pt., M.Sc., Dr. Ir. Heri Ahmad Sukria, M.Sc.Agr., dan Prof. Dr. Ir. Sumiati, M.Sc.

    Menjawab Tantangan Bahan Baku Pakan

    Pakan merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi unggas, sementara jagung menjadi salah satu bahan dengan proporsi terbesar dalam formulasi pakan. Harga jagung yang berfluktuasi dan sebagian pasokannya masih berasal dari impor mendorong perlunya alternatif bahan baku lokal yang mampu mengurangi ketergantungan terhadap jagung tanpa menurunkan performa ayam.

    BIS memiliki keunggulan dari sisi ketersediaan dan kontinuitas pasokan karena merupakan hasil samping industri minyak sawit serta memiliki kandungan protein kasar yang relatif tinggi. Namun, BIS memiliki energi metabolis rendah dan kandungan polisakarida nonpati yang tinggi. Sementara itu, singkong memiliki energi metabolis tinggi, tetapi memiliki keterbatasan berupa kandungan HCN, protein yang rendah, serta karakteristik pati yang berbeda dengan jagung.

    Teknologi ekstrusi digunakan dalam penelitian ini untuk mengatasi keterbatasan tersebut. Berbeda dengan fermentasi yang membutuhkan waktu lebih panjang dan proses pengeringan tambahan, ekstrusi berpotensi dilakukan lebih cepat dan efisien untuk pengolahan bahan pakan.

    Menggabungkan Meta-Analisis, Bibliometrik, dan Eksperimen

    Penelitian Sazli tidak hanya menguji bahan biskong secara eksperimental, tetapi juga diawali dengan kajian meta-analisis dan bibliometrik. Pendekatan tersebut digunakan untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai perkembangan penelitian pakan terekstrusi pada unggas sekaligus mengidentifikasi celah penelitian.

    Hasil bibliometrik terhadap publikasi tahun 1968–2025 menunjukkan terdapat 346 manuskrip dari 121 jurnal terkait pakan ekstrusi pada unggas. Pemetaan penelitian menghasilkan lima kluster utama, yaitu performa broiler, performa ayam petelur, kecernaan, kualitas daging, dan bahan pakan alternatif. Salah satu celah riset yang ditemukan adalah belum adanya kajian yang menghubungkan teknologi ekstrusi BIS dan singkong sebagai bahan pengganti jagung.

    Sementara itu, meta-analisis menunjukkan bahwa secara umum penggunaan pakan terekstrusi tidak menurunkan kualitas daging dan telur. Pada ayam petelur, ekstrusi berpengaruh positif terhadap beberapa indikator performa, termasuk penurunan rasio konversi pakan. Pada kualitas daging broiler, parameter seperti SFA, MUFA, PUFA, TBARS, total lipid, dan drip loss tidak menunjukkan perbedaan signifikan antara pakan terekstrusi dan non-ekstrusi.

    Suhu 88°C dan Kadar Air 25% Menjadi Kondisi Optimum

    Tahap utama penelitian dilakukan dengan mengoptimasi proses ekstrusi campuran BIS dan singkong menggunakan Response Surface Methodology (RSM). Rentang yang diuji meliputi suhu 80–100°C dan kadar air 25–50%.

    Hasil optimasi menunjukkan kondisi optimum proses ekstrusi biskong berada pada suhu 88°C dengan kadar air 25%. Pada kondisi tersebut, proses ekstrusi mampu meningkatkan nilai energi metabolis biskong dibandingkan bahan yang tidak diekstrusi.

    Nilai energi metabolis semu (EMS) biskong terekstrusi mencapai 3.070 ± 213 kkal/kg, meningkat dibandingkan biskong yang tidak terekstrusi sebesar 2.635 ± 202 kkal/kg. Nilai tersebut semakin mendekati energi metabolis jagung yang mencapai sekitar 3.300 ± 219 kkal/kg.

    Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa proses ekstrusi dapat memperbaiki kualitas biskong sebagai bahan pakan. Proses ini antara lain membantu mengubah komponen polisakarida nonpati menjadi bentuk yang lebih sederhana serta mengubah struktur pati singkong sehingga lebih mudah dicerna.

    Penggantian Energi Jagung hingga 20 Persen

    Potensi biskong terekstrusi kemudian diuji pada ayam broiler dengan membandingkannya terhadap jagung serta biskong yang tidak diekstrusi. Pengujian dilakukan selama lima minggu dengan level penggantian energi jagung sebesar 10% dan 20%.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada level penggantian 10%, performa ayam yang memperoleh biskong terekstrusi dan tidak terekstrusi tidak berbeda nyata. Namun, pada level 20% penggantian energi jagung, biskong terekstrusi menghasilkan performa yang lebih baik.

    Biskong terekstrusi menghasilkan nilai feed conversion ratio (FCR) sebesar 1,58 ± 0,03, lebih rendah dibandingkan jagung sebesar 1,67 ± 0,06 dan biskong tidak terekstrusi sebesar 1,76 ± 0,111. Pada level penggantian energi 20%, biskong terekstrusi juga menghasilkan bobot badan yang paling tinggi secara signifikan dibandingkan perlakuan lainnya.

    Temuan tersebut memperkuat potensi biskong terekstrusi sebagai bahan pakan lokal yang dapat menggantikan sebagian energi dari jagung. Disertasi ini bahkan menunjukkan peluang untuk mengkaji penggunaan biskong pada tingkat penggantian yang lebih tinggi pada penelitian selanjutnya.

    Kontribusi bagi Industri Pakan Berbasis Bahan Lokal

    Penelitian ini menghasilkan tiga kebaruan utama, yaitu memperoleh informasi agregat mengenai pengaruh ekstrusi terhadap kualitas pakan dan performa unggas, mendapatkan teknik optimasi proses ekstrusi BIS dan singkong, serta menghasilkan formula pakan broiler yang mengandung BIS dan singkong terekstrusi sebagai pengganti energi jagung.

    Hasil penelitian diharapkan dapat mendorong peningkatan pemanfaatan bahan pakan lokal, khususnya BIS dan singkong, sehingga berpotensi membantu memitigasi dampak kenaikan harga jagung dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor. Selain itu, hasil penelitian dapat menjadi referensi bagi pengembangan teknologi ekstrusi bahan pakan lokal serta bahan pertimbangan bagi industri pakan dan pemerintah dalam implementasi teknologi tersebut.

    Sazli menyarankan penelitian lanjutan untuk mengkaji pengaruh pakan ekstrusi terhadap parameter kesehatan ternak, mengoptimalkan faktor lain seperti kecepatan screw dan formula bahan, serta menguji penggunaan ekstruder ulir ganda. Penelitian berikutnya juga perlu mengevaluasi peningkatan level biskong sebagai pengganti energi jagung dalam pakan.

    Melalui penelitian ini, teknologi ekstrusi tidak hanya ditempatkan sebagai teknologi pengolahan pakan, tetapi juga sebagai pendekatan untuk meningkatkan nilai guna bahan baku lokal dan memperkuat peluang substitusi sebagian bahan pakan konvensional dalam industri pakan unggas.

  • Menulis artikel ilmiah sering kali dianggap sebagai momok berat oleh mahasiswa pascasarjana, terutama ketika dihadapkan pada kewajiban publikasi sebagai syarat kelulusan. Banyak yang terjebak dalam rasa frustrasi karena draf tak kunjung selesai atau terus-menerus ditolak oleh jurnal target.

    Namun, dalam pelatihan teknik penulisan ilmiah yang digelar di Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University, narasumber utama Dr. Eng. Cahyo Budiman, S.Pt., M.Eng. membuka sebuah perspektif baru. Menurutnya, sebuah artikel ilmiah pada dasarnya adalah sebuah cerita (storytelling). Artikel yang sukses bukan sekadar tumpukan data kaku, melainkan sebuah narasi memikat yang alurnya digerakkan secara kuat oleh bukti-bukti empiris. 

    Bagaimana sebenarnya trik membedah draf jurnal agar siap submit dan memikat hati reviewer internasional? Berikut adalah rangkuman kiat cerdas dan teknik praktis yang dikupas tuntas dalam pelatihan tersebut:

  • Lonjakan harga daging ayam di pasaran belakangan ini kerap dipicu oleh satu faktor klasik: melambungnya harga jagung. Sebagai pilar utama yang mengisi hingga setengah dari total formula ransum unggas di seluruh dunia, fluktuasi harga jagung di Indonesia langsung memukul isi dompet para peternak dan konsumen.

    Merespons krisis ini, dosen Fakultas Peternakan IPB University, Dr. Heri Ahmad Sukria, berhasil menciptakan sebuah terobosan mutakhir bernama "Jagung Analog". Inovasi pakan berbasis bahan lokal non-jagung ini dirancang khusus untuk memangkas biaya produksi unggas, yang pada akhirnya diharapkan mampu menstabilkan harga daging ayam di pasar agar lebih bersahabat bagi masyarakat.

    Sains di Balik Jagung Analog: Memanfaatkan Sagu dan Singkong
    Meskipun dinamakan jagung analog, produk ini sama sekali tidak menggunakan butiran jagung asli. Pakan alternatif ini diramu dari kombinasi bahan kaya karbohidrat seperti sagu parut dan singkong, namun diformulasikan agar memiliki nilai zat gizi yang serupa dengan jagung konvensional.

    Guna memastikan kualitas fisika dan kimia pakan ini setara dengan jagung asli, Dr. Heri menerapkan teknik ekstrusi. Metode hydrothermal ini terbukti ampuh memperbaiki sifat fisik serta meningkatkan daya guna (utilitas) bahan pakan saat dicerna oleh unggas.

    Tak hanya mengandalkan sumber energi dari sagu dan singkong, formula jagung analog ini juga diperkaya dengan bahan-bahan padat nutrisi lainnya:

    • Sumber Karbohidrat & Energi: Sagu parut dan singkong berkualitas.
    • Nutrien Mikro & Protein: Bahan tambahan khusus untuk menyeimbangkan gizi.
    • Ekstrak Daun Kelor: Ditambahkan sebagai sumber alami beta-karoten, vitamin, serta mineral mikro.

    Melepas Ketergantungan dan Mengoptimalkan Potensi Lokal
    Berbeda dengan industri peternakan di Amerika atau Eropa yang sudah adaptif menggunakan beragam variasi sumber energi pakan, Indonesia masih terjebak pada ketergantungan tunggal terhadap jagung.

    “Sekitar 50 persen dari pakan unggas bersumber dari jagung. Indonesia belum bisa memenuhi kebutuhan jagung nasional dari produksi dalam negeri dan saat ini sudah tidak boleh impor,” tutur Dr. Heri.

    Kondisi pasokan yang timpang ini mendongkrak harga jagung di tingkat paling rendah menyentuh Rp5.500. Bahkan, di luar musim panen raya atau di wilayah terpencil dan kepulauan, harganya bisa meroket hingga Rp7.000 per kilogram.

    Melihat peta masalah tersebut, Dr. Heri membidik dua komoditas lokal yang selama ini belum dioptimalkan dengan baik:

    1. Sagu Papua yang Melimpah
    Indonesia memiliki harta karun berupa 5 juta hektare lahan tanaman sagu di Papua, yang merepresentasikan sekitar 99 persen dari total luas lahan sagu nasional. Sayangnya, pemanfaatan tanaman ini masih di bawah 5 persen. Sagu dinilai sangat potensial dipanen secara lestari dengan tetap menjaga keseimbangan lingkungan lokal untuk dijadikan pakan sumber energi baru.

    2. Variasi Singkong Unggul IPB
    Singkong yang mudah tumbuh di wilayah seperti Lampung dan Jawa Barat juga menjadi aktor kunci. Guna mengatasi tantangan biaya produksi tinggi, produktivitas singkong minimal harus menyentuh angka 40 ton per hektare agar ekonomis. Target kuantitas ini kini sudah bisa dipenuhi berkat penggunaan varietas singkong unggul besutan IPB University.

    Hasil Uji Coba Lapangan dan Komersialisasi
    Keandalan jagung analog ini bukan sekadar teori di atas kertas. Melalui serangkaian riset ketat di laboratorium dan lapangan, uji coba pada ayam kampung menunjukkan hasil yang menggembirakan: performa pertumbuhan ayam terbukti sama baiknya dengan ayam yang mengonsumsi jagung konvensional.

    Kabar baiknya, pada tahun 2026 ini proyek strategis tersebut telah mengantongi dukungan pendanaan dari Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI. Dana diseminasi ini dialokasikan untuk memperbesar skala produksi dan mempercepat penerapan jagung analog langsung ke tangan peternak rakyat. Setelah proses ekstrusi rampung, uji coba formula ini juga segera diekspansi ke ayam broiler (pedaging) pada tahun ini.

    “Biaya pakan yang lebih murah akan menurunkan harga produksi ayam, sehingga konsumen juga bisa mendapatkan harga yang lebih terjangkau,” tegas Dr. Heri.

    Lewat hilirisasi dan komersialisasi massal yang diharapkan segera terwujud, jagung analog tidak sekadar menjadi alternatif pakan murah dan mudah diproduksi, melainkan menjadi kunci emas dalam membangun kedaulatan serta kemandirian pakan ternak nasional.

  • Bagi sebagian orang, melihat kelinci mungkin langsung terbayang seekor hewan berbulu yang menggemaskan. Tak heran jika ada rasa "nggak tega" saat harus membayangkannya sebagai hidangan di meja makan. Namun, tahukah kamu? Di balik sosoknya yang imut, kelinci adalah sumber protein luar biasa yang sering kali terlupakan, padahal keunggulan gizinya jauh melampaui daging ternak lainnya.

    Halal, Sehat, dan Berkelas Keraguan pertama yang sering muncul biasanya soal hukum mengonsumsinya. Tenang saja, dua pakar dari Fakultas Peternakan IPB University, Dr. Henny Nuraini dan Dr. Muhammad Baihaqi, S.Pt, M.Sc., menegaskan bahwa daging kelinci sepenuhnya halal. Hal ini pun diperkuat oleh Fatwa MUI sejak tahun 1983 yang menetapkan bahwa memakan daging kelinci hukumnya adalah halal dan aman secara syariat.

    Setelah urusan keyakinan mantap, mari bicara soal kualitas. Jika kamu mencari daging yang benar-benar sehat, kelinci adalah juaranya. Daging kelinci dikenal sangat lean—artinya sangat sedikit mengandung lemak. Menariknya lagi, kadar proteinnya justru lebih tinggi dibanding daging ternak lain, dengan kandungan Omega-3 yang empat kali lipat lebih banyak daripada daging ayam.

    Obat Alami dalam Setiap Gigitan Keistimewaan daging kelinci tidak berhenti di urusan nutrisi makro. Ada manfaat tersembunyi yang jarang diketahui: keberadaan senyawa kitotefin. Senyawa ini, yang banyak ditemukan pada bagian jantung dan hati kelinci, dipercaya memiliki khasiat medis untuk membantu mencegah penyakit asma. Jadi, menyantap daging kelinci bukan sekadar urusan kenyang, tapi juga investasi kesehatan jangka panjang.

    Si Multiguna yang Tak Menyisakan Limbah Di mata para ahli peternakan, kelinci adalah ternak masa depan yang sangat produktif. Ia dijuluki sebagai ternak multiguna. Selain dagingnya sebagai pangan berkualitas, kulit bulunya memiliki nilai estetika tinggi untuk industri fesyen seperti tas dan jaket. Bahkan, bagi pecinta tanaman, kotoran kelinci adalah bahan baku pupuk organik yang sangat kaya nutrisi bagi tanah.

    Bosan dengan Sate? Coba Ragam Olahan Modern Mungkin selama ini kita hanya mengenal sate kelinci saat berwisata ke daerah pegunungan. Padahal, tekstur dagingnya yang khas sangat fleksibel untuk diolah menjadi berbagai menu kekinian. Bayangkan Nasi Briyani kelinci yang kaya rempah, Kelinci Masak Madu yang manis gurih, Rica Kelinci bagi pecinta pedas, hingga Kelinci Goreng Korea yang sedang tren.

    Dengan segala kelebihan dan keistimewaannya, sudah saatnya kita melihat kelinci dengan cara yang berbeda. Bukan lagi sekadar hewan piara yang jauh dari dapur, melainkan pilihan protein premium yang sehat, halal, dan lezat. Jadi, sudah siap mencoba sensasi daging kelinci hari ini?

  • Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University terus menghasilkan inovasi yang mendukung pengembangan pertanian dan peternakan berkelanjutan. Salah satunya melalui capaian Paten Granted yang diraih Prof. Dr. Ir. Panca Dewi M.H.K. Karti atas invensi berjudul "Proses Produksi Endomikoriza dengan Teknik Fertigasi Tertutup Sistem Semprot Secara Otomatis."

    Inovasi tersebut merupakan teknologi produksi endomikoriza atau Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF), yaitu jamur yang hidup bersimbiosis dengan akar tanaman dan berperan dalam meningkatkan penyerapan unsur hara, terutama fosfor, meningkatkan efisiensi penggunaan air, serta membantu tanaman bertahan pada kondisi cekaman lingkungan seperti kekeringan maupun lahan dengan tingkat kesuburan rendah. Teknologi ini berpotensi diaplikasikan pada berbagai komoditas, termasuk tanaman pakan, tanaman perkebunan, hortikultura, hingga rehabilitasi lahan.

    Berbeda dengan inovasi yang berfokus pada pengembangan jenis mikroorganisme, paten ini melindungi proses produksi endomikoriza. Teknologi yang dikembangkan mengintegrasikan sistem fertigasi tertutup dengan sistem semprot otomatis, sehingga distribusi larutan nutrisi berlangsung secara efisien, terkontrol, dan berkesinambungan selama proses produksi.

    Pendekatan tersebut mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air dan nutrisi karena larutan yang digunakan dapat bersirkulasi kembali dalam sistem tertutup. Selain itu, sistem otomatis membantu menjaga kondisi produksi tetap stabil, mengurangi risiko kontaminasi, meningkatkan jumlah spora yang dihasilkan, serta menghasilkan inokulum endomikoriza dengan kualitas yang lebih seragam dibandingkan metode konvensional.

    Secara ilmiah, inovasi ini menjawab berbagai tantangan dalam produksi endomikoriza yang selama ini masih bergantung pada penyiraman manual, membutuhkan area produksi yang luas, serta menghasilkan kualitas inokulum yang bervariasi. Melalui sistem fertigasi tertutup berbasis otomatisasi, proses produksi menjadi lebih efisien dan memiliki peluang lebih besar untuk dikembangkan dalam skala industri.

    Bagi bidang peternakan, teknologi ini memiliki nilai strategis karena pemanfaatan endomikoriza dapat meningkatkan produktivitas hijauan pakan melalui peningkatan penyerapan unsur hara dan efisiensi penggunaan air. Dampak lanjutannya adalah berkurangnya ketergantungan terhadap pupuk kimia, meningkatnya produktivitas lahan pakan, serta mendukung penerapan sistem peternakan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

    Pencapaian paten ini mempertegas kontribusi keilmuan Prof. Panca Dewi Karti dalam pengembangan teknologi berbasis sumber daya hayati yang tidak hanya memperkuat inovasi di bidang produksi tanaman pakan, tetapi juga mendukung terwujudnya sistem pertanian dan peternakan yang efisien, produktif, dan berkelanjutan. Melalui inovasi tersebut, Fakultas Peternakan IPB University terus berkontribusi menghasilkan riset yang memberikan manfaat nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus menjawab tantangan pembangunan sektor peternakan di Indonesia.

  • Menjaga agar sapi perah tetap sehat dan menghasilkan banyak susu bukanlah hal yang mudah. Terutama saat masa laktasi, kebutuhan energi sapi sangat tinggi. Jika kekurangan energi, sapi biasanya akan kurus dan produksi susunya anjlok.

    Melihat tantangan ini, Rika Zahera, mahasiswi Program Studi Ilmu Nutrisi dan Pakan Sekolah Pascasarjana IPB University, berhasil menemukan solusi cerdas dalam disertasi doktornya: memanfaatkan limbah pabrik minyak kelapa untuk dijadikan suplemen penambah energi bagi sapi perah.

    Sidang promosi doktor ini dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Dewi Apri Astuti, MS, didampingi Sekretaris Prof. Dr. Irma Isnafia Arief, S.Pt, M.Si. Penelitian ini dibimbing oleh pakar-pakar nutrisi ternak terkemuka, yakni Prof. Dr. Despal, S.Pt, M.Sc.Agr, Prof. Dr. Ir. Idat Galih Permana, M.Sc.Agr, dan Prof. Satoshi Koike, Ph.D.

    Limbah Kelapa yang "Disulap" Menjadi Aman untuk Sapi

    Bahan yang digunakan adalah Coconut Fatty Acid Distillate (CFAD)—yakni limbah sisa penyulingan minyak kelapa yang sebenarnya kaya akan energi dan asam lemak rantai menengah.

    Masalahnya, jika limbah ini langsung diberikan begitu saja ke sapi dalam bentuk mentah, sifat aslinya justru bisa merusak pencernaan dan mengganggu kuman baik di dalam perut (rumen) sapi.

    Oleh karena itu, Rika merancang teknologi "baju pelindung" dengan mengubah limbah tersebut menjadi "sabun kalsium". Lewat serangkaian uji laboratorium yang canggih, terungkap bahwa penggunaan kalsium klorida (CaCl2) dengan takaran yang pas (rasio 2.5) adalah metode terbaik untuk membungkus asam lemak tersebut agar aman masuk ke dalam perut sapi tanpa merusak sistem pencernaannya.

    Terbukti Tingkatkan Kualitas Susu dan Bikin Sapi Lebih Sehat

    Setelah diuji melalui tahap laboratorium hingga diuji langsung ke 18 ekor sapi perah milik peternak rakyat di KPBS Pangalengan, hasilnya terbukti sangat memuaskan:

    • Pakan Lebih Terserap Baik:  Penambahan 2% suplemen CFAD terproteksi di dalam pakan membuat pencernaan protein dan lemak pada sapi meningkat drastis.
    • Susu Lebih Melimpah dan Tidak Cepat Surut: Sapi yang diberi suplemen ini mampu menghasilkan puncak produksi susu hingga 13,40 kg per hari, dengan penurunan produksi yang paling minim serta masa laktasi (produktivitas susu) yang bertahan lebih lama (persistensi hingga 95,30%).
    • Kesehatan Tubuh Terjaga: Hasil cek darah (metabolomik) membuktikan bahwa penambahan suplemen ini membantu metabolisme tubuh sapi menjadi lebih bugar tanpa menimbulkan efek samping negatif pada kesehatannya.

    Harapan ke Depan untuk Peternak Rakyat

    Inovasi ini membuktikan bahwa limbah samping industri kelapa nasional dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi yang ramah kantong peternak. Dengan dosis yang tepat - yakni 2% dari pakan - peternak sapi perah kini memiliki alternatif suplemen energi lokal yang efektif untuk mendongkrak produktivitas dan kesejahteraan usaha ternak mereka.

  • Telur merupakan salah satu sumber protein hewani bergizi tinggi yang paling terjangkau bagi masyarakat. Sayangnya, data Badan Pusat Statistik (BPS) masih menunjukkan ironi: belanja rumah tangga untuk rokok sering kali justru lebih besar ketimbang untuk membeli telur. Padahal, sebutir telur menyimpan manfaat luar biasa sebagai investasi sederhana bagi pertumbuhan anak dan kesehatan keluarga.

    Agar manfaat gizinya optimal, masyarakat tidak hanya perlu rutin mengonsumsinya, tetapi juga harus cerdas dalam memilih dan menyimpannya. Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof. Niken Ulupi, membagikan panduan praktis untuk mengenali telur berkualitas serta cara penanganan yang tepat di rumah.

    Ciri Fisik Telur Segar: Jangan Terkecoh Warna Cangkang
    Banyak mitos beredar bahwa warna cangkang telur menentukan kandungan gizinya. Prof. Niken Ulupi meluruskan anggapan keliru tersebut. Menurutnya, perbedaan warna cangkang (seperti putih atau cokelat) murni dipengaruhi oleh pigmen alami dari induk ayam, bukan kualitas nutrisinya.

  • Selama ini, pecinta kuliner sering kali dihadapkan pada satu dilema: memilih ayam ras yang cepat tumbuh tapi terasa "biasa saja", atau ayam lokal yang rasanya juara tapi harganya mahal karena pertumbuhannya yang sangat lambat. Namun, dilema itu kini punya solusi cerdas dari Fakultas Peternakan IPB University. Perkenalkan, IPB-D1, sebuah mahakarya genetika yang sedang mengubah peta industri ayam lokal di Indonesia.

    Bukan Sekadar Ayam Kampung Biasa
    Lahir dari riset panjang sejak tahun 2010 yang dilakukan oleh tim inovator Fakultas Peternakan IPB University yang dipimpin oleh Prof. Cece Sumantri, bersama tim ahli pemuliaan ternak, IPB-D1 adalah ayam komposit hasil persilangan empat darah unggul. Bayangkan kegagahan ayam Pelung, keuletan ayam Sentul, keaslian ayam Kampung, hingga produktivitas dari Parent Stock Cobb. Keempatnya diramu melalui seleksi genetika molekuler hingga generasi kelima. Hasilnya? Sebuah rumpun baru yang secara resmi telah diakui oleh Kementerian Pertanian sejak 2019 sebagai ayam lokal pedaging unggul.

    Si Bongsor yang Gesit dan Tangguh
    Keunggulan utama IPB-D1 adalah kecepatannya. Jika ayam lokal biasa butuh waktu lama untuk besar, IPB-D1 hanya butuh waktu 10 hingga 12 minggu untuk mencapai bobot 1 hingga 1,8 kilogram. Tidak hanya cepat tumbuh, ayam ini juga dikenal "tahan banting". Ia memiliki kekebalan alami yang lebih kuat terhadap penyakit langganan peternak seperti Newcastle Disease (ND) dan Salmonella. Bagi peternak, ini berarti efisiensi pakan yang lebih baik dan risiko kerugian yang jauh lebih rendah.

    Pangan Fungsional : Senjata Melawan Stunting
    Keistimewaan IPB-D1 tidak berhenti di kandang. Ketika sampai di meja makan, ia menjelma menjadi pangan fungsional yang menyehatkan. Hasil penelitian menunjukkan dagingnya kaya akan protein (19,1%) dan Omega-3, namun memiliki kadar kolesterol yang relatif rendah.

    Uniknya lagi, daging IPB-D1 menyimpan kandungan mineral penting seperti zat besi (Fe) dan Seng (Zn) yang lebih tinggi. Hal ini menjadikannya senjata baru yang sangat potensial untuk mendukung program kesehatan nasional, khususnya dalam mencegah anemia dan menekan angka stunting melalui asupan protein berkualitas.

    Misi Besar di Balik Piring Makan Di balik pengembangan IPB-D1, ada misi besar untuk memutus ketergantungan Indonesia terhadap impor bibit ayam ras. Dengan dukungan program RISPRO LPDP, IPB University kini fokus pada komersialisasi skala luas. Mulai dari pengembangan pakan berbahan lokal, penggunaan pengawet alami, hingga memastikan keamanan produk melalui sertifikasi halal dan standar mutu nasional.

    IPB-D1 bukan hanya tentang riset di laboratorium, tapi tentang bagaimana sains hadir di wilayah pedesaan untuk menggerakkan ekonomi masyarakat dan memastikan setiap keluarga di Indonesia bisa menikmati daging ayam lokal yang sehat, bergizi, dan tentu saja, membanggakan produk asli dalam negeri.

  • Siapa yang tidak pernah merasa jengkel saat mengupas telur rebus? Kulit telur yang menempel kuat hingga membuat putih telurnya ikut terkelupas acak-acakan tentu membuat hasil masakan menjadi tidak estetik lagi.

    Ternyata, fenomena telur rebus yang sulit dikupas ini bukan sekadar masalah keberuntungan, melainkan ada penjelasan ilmiah di baliknya. Dosen Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University, Dr. Zakiah Wulandari dan Prof. Niken Ulupi, membedah faktor penyebab sekaligus membagikan tips praktisnya agar telur rebus Anda mulus sempurna.

    Mengapa Ada Telur yang Susah Dikupas?
    Menurut para pakar Fapet IPB, ada beberapa faktor utama yang memengaruhi tingkat kesulitan saat mengupas telur:

    1. Usia Telur yang Terlalu Baru

    Faktor utama yang paling sering menjadi biang keladi adalah kesegaran telur.

    “Telur yang baru memiliki rongga udara kecil dan membran kulit yang masih terikat kuat, sehingga kulitnya sulit dilepaskan,” jelas Dr. Zakiah.

    Seiring bertambahnya usia simpan telur, rongga udara akan membesar dan ikatan membran ini akan melonggar secara alami.

    2. Kondisi Cangkang dan Durasi Perebusan

    Kondisi fisik cangkang serta cara memasak memegang peranan penting. Telur dengan cangkang yang terlalu tipis atau rapuh sangat rentan rusak. Selain itu, merebus telur terlalu lama atau menggunakan suhu yang terlalu tinggi justru akan memperparah keadaan.

    “Hal ini terjadi karena proses koagulasi putih telur menjadi terlalu keras dan menempel pada cangkang,” imbuh Dr. Zakiah.

    3. Umur Ayam Petelur

    Prof. Niken menerangkan bahwa umur ayam yang mengeluarkan telur tersebut turut menentukan kualitas cangkang dan lapisan telurnya. Ayam terlalu muda (di bawah 18 minggu) belum memiliki sistem tulang yang sempurna untuk membentuk cangkang ideal. Ayam tua (di atas 60 minggu) mengalami penurunan fungsi organ dan metabolisme kalsium. Akibatnya, telur yang dihasilkan berbobot lebih besar namun cangkangnya justru lebih lemah dan rapuh.

    4. Keberadaan Lapisan Kutikula

    Telur memiliki pelindung alami terluar yang disebut lapisan kutikula. Prof. Niken menjelaskan bahwa kutikula ini berfungsi mencegah kontaminasi mikroorganisme. Selain itu, lapisan ini juga mengurangi daya lekat (adhesi) antara cangkang dan putih telur, sehingga sangat membantu memudahkan pengupasan setelah telur matang.

    Tips Praktis Merebus dan Mengupas Telur agar Mulus Sempurna

    Agar tidak perlu emosi lagi di dapur, Prof. Niken membagikan solusi praktis yang bisa langsung Anda praktikkan di rumah:

    • Tambahkan Bahan Khusus saat Merebus: Masukkan sedikit garam atau perasan jeruk nipis ke dalam air rebusan untuk membantu melunakkan cangkang dan mempermudah pemisahan kulit kelak.
    • Kejutkan dengan Air Dingin: Begitu proses merebus selesai, segera angkat telur dan rendam di dalam air dingin. Perubahan suhu yang drastis (efek kejut) akan membuat isi telur sedikit menyusut dan terpisah dari dinding cangkang.
    • Kupas dari Ujung yang Lebar: Saat mulai mengupas, ketuk dan retakkan telur terlebih dahulu pada ujung yang lebih lebar. Di bagian ujung lebar inilah terletak rongga udara telur, sehingga memberikan ruang awal yang ideal untuk mengupas kulit tanpa merusak putih telurnya.

    Dengan memahami sains di balik sebutir telur dan menerapkan tips di atas, menyajikan telur rebus yang bulat, mulus, dan cantik kini bukan lagi hal yang mustahil!

  • Di balik melimpahnya pasokan telur di pasar, masyarakat perlu tahu bahwa tidak semua jenis telur ayam aman dan layak untuk dikonsumsi harian. Guru Besar Ilmu Ternak Unggas IPB University, Prof. Dr. Ir. Niken Ulupi, MS., menegaskan bahwa telur ayam pedaging bibit (telur fertil) sama sekali tidak diperuntukkan bagi konsumsi masyarakat luas dan dilarang keras untuk diperjualbelikan secara bebas di pasar domestik.

    Sifatnya yang sangat ringkih dan cepat rusak menjadi alasan utama di balik larangan tersebut.

    “Telur fertil yang tidak memenuhi syarat untuk ditetaskan tidak boleh dijual di pasar. Kualitasnya rendah, masa simpannya pendek, dan mudah membusuk,” tegas dosen Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB University ini.

    Ayam Petelur Komersial vs Ayam Pedaging Bibit

    Untuk memahami mengapa telur ini dilarang, Prof. Niken menjelaskan adanya perbedaan mendasar dari hulu industri pemeliharaan ayam modern:

    • Telur Konsumsi Komersial: Ini adalah telur yang biasa kita beli sehari-hari. Telur ini dihasilkan oleh industri ayam petelur komersial yang seluruh populasinya hanya diisi oleh ayam betina tanpa pejantan. Hasilnya adalah telur infertil (tanpa pembuahan) yang stabil dan berdaya simpan lama.
    • Telur Ayam Pedaging Bibit (Breeder Broiler): Ayam jenis ini dipelihara khusus di industri pembibitan untuk menghasilkan telur tertunas (telur fertil). Karena indukan betina dikawinkan dengan pejantan, di dalam telur tersebut terkandung embrio hidup yang nantinya dipersiapkan untuk ditetaskan menjadi bibit ayam broiler (pedaging).

    Risiko Kesehatan dan Stabilitas Pasar

    Secara objektif, kandungan gizi makro seperti protein dan asam amino esensial antara kedua jenis telur ini sebenarnya tidak jauh berbeda. Namun, kehadiran embrio di dalam telur fertil membawa risiko biologis yang besar bagi konsumen.

    1. Ancaman Pembusukan Kilat
    Karena mengandung embrio hidup, telur fertil menuntut penanganan super ketat dengan suhu ruangan yang sangat rendah. Jika telur jenis ini nekat dikeluarkan dari industri pembibitan dan dibiarkan terpapar suhu ruang di pasar tradisional, embrio di dalamnya akan mulai berkembang sebagian. Proses perkembangan embrio yang terhenti ini akan langsung memicu pembusukan dini dari dalam telur.

    2. Merusak Harga Pasar
    Selain masalah kelayakan pangan, Prof. Niken juga menggarisbawahi dampak ekonominya. Jika telur-telur sisa dari industri pembibitan (breeder) ini bocor dan dijual murah ke pasar umum, keberadaannya akan merusak tata niaga dan mengganggu stabilitas harga telur konsumsi yang diproduksi oleh para peternak rakyat.

    Sebagai informasi tambahan, siklus hidup ayam pedaging komersial (broiler) sendiri terbilang sangat singkat—hanya dipelihara sekitar lima minggu sebelum dipotong—sehingga ayam broiler di tingkat peternak komersial memang tidak pernah sampai memasuki fase bertelur. Tugas memproduksi telur fertil sepenuhnya berada di tangan lini breeder.

    Tips Membedakan Telur Konsumsi dan Telur Fertil
    Sebagai panduan taktis bagi konsumen di pasar, Prof. Niken menyebutkan bahwa telur konsumsi biasa dan telur fertil sebenarnya dapat dibedakan secara visual melalui pengamatan pada cangkangnya:

    • Warna Kerabang (Kulit Telur): Kedua jenis telur ini umumnya memiliki perbedaan gradasi warna kulit yang cukup konsisten.
    • Bentuk Telur: Telur konsumsi komersial memiliki bentuk proporsional yang khas, berbeda dengan telur afkir dari pembibitan.
    • Penandaan (Marking): Periksa apakah ada kode atau penandaan khusus pada cangkang yang biasa diterapkan di industri pembibitan.

    “Pemahaman ini penting agar masyarakat dapat memilih telur yang aman, bergizi, dan sesuai peruntukannya,” pungkas Prof. Niken.

  • Indonesia memiliki modal yang sangat masif dalam sektor perkebunan, namun di sisi lain masih terseok-seok memenuhi kebutuhan daging sapi domestik. Menjawab tantangan besar ini, Guru Besar Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University, Prof. Dr. Ir. Nahrowi, M.Sc., menyodorkan sebuah konsep pertanian terpadu (integrated farming) yang sangat menjanjikan, yaitu Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit (SISKA).

    Pendekatan ini dinilai menjadi kunci pas untuk melipatgandakan efisiensi pemanfaatan ruang lahan sekaligus menjadi akselerator utama dalam mengejar target swasembada daging nasional secara berkelanjutan.

    Satu Lahan Dua Hasil: Simbiosis Mutualisme Pekebun dan Peternak
    Pada model konvensional, hamparan kebun sawit umumnya hanya dikelola tunggal untuk memanen tandan buah segar. Namun, lewat sentuhan sistem SISKA, optimalisasi lahan bergerak ke tingkat yang jauh lebih produktif. Lahan perkebunan yang sama kini bisa difungsikan ganda sebagai area penggembalaan ternak ruminansia.

    Prof. Nahrowi memaparkan bahwa integrasi ini melahirkan skema saling menguntungkan yang secara drastis memangkas biaya operasional kedua belah pihak:

    • Keuntungan bagi Peternak: Biaya pengadaan pakan dapat ditekan hingga titik terendah. Sapi-sapi tidak lagi bergantung pada pakan komersial mahal karena mereka bisa langsung memanfaatkan rumput dan vegetasi hijau yang tumbuh subur di bawah tegakan pohon sawit.
    • Keuntungan bagi Pekebun: Keberadaan sapi bertindak sebagai "mesin pemotong rumput alami". Sapi yang memakan gulma secara otomatis memangkas anggaran belanja herbisida kimia.

    Tidak berhenti di situ, SISKA juga menjadi solusi ramah lingkungan melalui pengurangan ketergantungan pada pupuk kimiawi. Kotoran dan urine yang dihasilkan oleh kawanan sapi selama merumput akan kembali ke tanah, bertransformasi menjadi pupuk organik berkadar hara tinggi yang menyuburkan tanaman sawit di atasnya.

    Jalan Pintas Menuju Swasembada Sapi Nasional
    Sebagai Kepala Pusat Studi Hewan Tropika (Centras) IPB University, Prof. Nahrowi melihat ada angka matematis yang sangat optimistis jika potensi ini diseriusi secara nasional.

    Saat ini, Indonesia membentang ruang perkebunan sawit hingga mencapai 16,8 juta hektare. Jika komitmen nasional mampu mengonversi saja setengah dari total luas lahan tersebut (sekitar 8,4 juta hektare) menjadi kawasan SISKA, maka daya tampung lahan tersebut diperkirakan mampu mengakomodasi hingga 8,4 juta ekor sapi. Sebuah angka yang lebih dari cukup untuk menyumbang lonjakan produksi daging secara masif demi menyetop keran impor.

    Dari Kalimantan hingga Miniatur Riset di Jonggol
    Sistem ini bukan lagi sekadar cetak biru atau teori di atas meja laboratorium. Keberhasilan konkret di lapangan telah dibuktikan oleh alumni Fapet IPB University, Wahyu Darsono, melalui pengelolaan PT Simbiosis Karya Agroindustri (SISKA Ranch) di Kalimantan Selatan yang telah sukses berjalan lebih dari enam tahun.

    Hingga saat ini, denyut nadi program ini terus berkembang dengan terbentuknya 58 klaster SISKA yang tersebar di wilayah strategis kelapa sawit nasional, meliputi:

    • Kalimantan Selatan
    • Kalimantan Barat
    • Kalimantan Timur
    • Riau

    Sebagai institusi pendidikan yang mengawal inovasi ini, IPB University tengah bersiap melakukan langkah strategis berikutnya. Kampus akan mendirikan sebuah miniatur sistem SISKA yang berlokasi di IPB Jonggol Innovation Valley. Pusat replika ini nantinya akan difungsikan sebagai episentrum pembelajaran, riset terapan, sekaligus tempat pelatihan bagi masyarakat dan pelaku industri yang ingin mengadopsi sistem ini.

    Sinergi dan dukungan regulasi dari berbagai pemangku kebijakan menjadi prasyarat mutlak. Dengan ekspansi yang lebih luas, SISKA berpeluang besar menjadi roda penggerak utama pertanian dan peternakan masa depan yang hijau, efisien, dan mandiri secara pangan

  • Limbah cair hasil pembuatan keju mozzarella (whey), yang selama ini sering dipandang sebagai produk sampingan bernilai rendah, kini berhasil diubah menjadi bahan pengawet alami berpotensi tinggi melalui inovasi yang dikembangkan tim peneliti IPB University yang dipimpin Prof. Dr. Irma Isnafia Arief, S.Pt., M.Si.

    Inovasi tersebut telah didaftarkan sebagai paten granted dengan judul "Bakteriosin dari Whey Hasil Sampingan Produksi Keju Mozzarella dengan Penambahan Gula Tebu". Teknologi ini memanfaatkan whey sebagai media fermentasi untuk menghasilkan bakteriosin, yaitu senyawa antimikroba alami yang diproduksi oleh bakteri asam laktat.

    Berbeda dengan pengawet sintetis, bakteriosin bekerja secara alami dengan menghambat pertumbuhan bakteri penyebab kerusakan pangan maupun bakteri patogen. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan keamanan pangan, tetapi juga mendukung tren industri makanan yang semakin mengutamakan penggunaan bahan alami.

  • Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University kembali melahirkan doktor baru melalui Sidang Terbuka Promosi Doktor Program Studi Ilmu Nutrisi dan Pakan yang diselenggarakan pada Senin (20/7). Pada sidang tersebut, Dimar Sari Wahyuni berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul "Evaluasi Potensi Makroalga sebagai Rumen Modifier pada Pakan Komplit Domba Berdasarkan Pendekatan Teknologi Omik."

    Penelitian ini menawarkan inovasi pemanfaatan berbagai spesies makroalga Indonesia sebagai pakan aditif alami untuk meningkatkan efisiensi fermentasi rumen sekaligus menekan emisi gas metana enterik pada ternak domba. Pendekatan penelitian dilakukan secara komprehensif melalui integrasi teknologi metabolomik dan metagenomik, sehingga tidak hanya mengevaluasi performa fermentasi rumen, tetapi juga mengungkap mekanisme biologis yang mendasari perubahan komunitas mikroba serta metabolit yang dihasilkan.

    Dalam penelitiannya, Dimar mengevaluasi 14 spesies makroalga yang berasal dari berbagai wilayah Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa spesies memiliki kemampuan yang sangat baik dalam menurunkan produksi metana tanpa mengganggu proses fermentasi rumen. Bahkan, Sargassum sp. dan Caulerpa racemosa mampu menurunkan estimasi produksi metana hingga sekitar 71,86 persen pada pengujian in vitro.

    Pada tahap formulasi pakan komplit, suplementasi Gracilaria gigas pada dosis 1 persen bahan kering menghasilkan produksi metana terendah secara konsisten pada berbagai parameter pengukuran. Di sisi lain, suplementasi makroalga juga terbukti meningkatkan sintesis protein mikroba, memperbaiki degradasi bahan pakan, serta memodulasi komposisi mikrobiota rumen tanpa mengganggu kestabilan pH rumen.

    Menurut hasil penelitian tersebut, kekayaan biodiversitas makroalga Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai rumen modifier yang mendukung sistem peternakan ruminansia berkelanjutan. Inovasi ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas ternak sekaligus mendukung upaya mitigasi emisi gas rumah kaca dari sektor peternakan.

    Salah satu kebaruan utama penelitian ini adalah integrasi evaluasi fermentasi rumen secara in vitro dengan teknologi omik, yaitu metabolomik dan metagenomik. Pendekatan tersebut memungkinkan identifikasi metabolit bioaktif, perubahan komunitas mikroba rumen, hingga mekanisme penurunan metana secara lebih komprehensif dibandingkan penelitian konvensional. Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa penelitian lanjutan secara in vivo masih diperlukan untuk memastikan efektivitas serta dosis optimal sebelum teknologi ini diterapkan secara luas di lapangan.

    Disertasi ini dibimbing oleh Prof. Dr. Anuraga Jayanegara, S.Pt., M.Sc. selaku ketua komisi pembimbing, bersama Prof. Dr. Ir. I. Komang Gede Wiryawan dan Prof. Dr. Roni Ridwan, S.Pt., M.Si. sebagai anggota komisi pembimbing. Sidang promosi doktor turut menghadirkan penguji luar komisi, yaitu Prof. Dr. Sri Suharti, S.Pt., M.Si. serta Dr. Ir. RA Yeni Widiawati, Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Hasil penelitian ini diharapkan menjadi landasan ilmiah dalam pengembangan pakan aditif berbasis sumber daya laut Indonesia yang tidak hanya meningkatkan efisiensi produksi ternak ruminansia, tetapi juga mendukung pengembangan sistem peternakan rendah emisi menuju pembangunan peternakan yang berkelanjutan.

  • Saat berbelanja di pasar, konsumen sering kali dihadapkan pada pilihan antara ayam broiler (ras) atau ayam pejantan. Bagi sebagian orang, daging ayam pejantan kerap dinilai lebih liat atau alot jika dibandingkan dengan daging ayam broiler yang terkenal sangat lembut dan cepat empuk saat dimasak.

    Ternyata, perbedaan tekstur ini bukan tanpa alasan. Dosen Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB University, Dr. Tuti Suryati, membedah faktor-faktor biologis yang melandasi perbedaan tersebut serta membagikan trik taktis agar ayam pejantan bisa diolah menjadi hidangan yang empuk dan lezat.

    Akar Masalah: Perbedaan Genetik dan Masa Pelihara

    Faktor paling mendasar yang menentukan tekstur daging kedua jenis ayam ini adalah cetak biru genetiknya sejak awal.

    • Ayam Broiler (Tipe Pedaging): Merupakan hasil dari proses pemuliaan (pembiakan selektif) jangka panjang yang dirancang khusus untuk menghasilkan daging secara cepat dan efisien. Hanya dalam waktu 30 hingga 42 hari (5–6 minggu), ayam broiler sudah mampu mencapai bobot potong optimal dengan karakteristik daging yang sangat empuk.
    • Ayam Pejantan (Tipe Petelur): Ayam ini sebenarnya berasal dari bangsa ayam petelur yang genetiknya dimurnikan demi mengejar produktivitas telur yang tinggi pada ayam betina. Akibatnya, pertumbuhan ayam pejantan tidak seefisien broiler. Mereka membutuhkan waktu pemeliharaan yang jauh lebih lama untuk mencapai ukuran siap potong.

    “Karena dipelihara lebih lama, tekstur daging ayam pejantan menjadi lebih alot, tetapi sisi baiknya adalah kandungan lemaknya relatif lebih rendah dibandingkan ayam broiler,” jelas Dr. Tuti.

    Faktor Biologis: Peran Kolagen dan Aktivitas Fisik

    Secara ilmiah, Dr. Tuti menyebutkan ada dua komparasi biologis yang membuat otot ayam pejantan menjadi lebih keras:

    1. Akumulasi Zat Kolagen

    Kolagen adalah komponen utama penyusun jaringan ikat pada tubuh hewan. Jumlah kolagen ini akan terus meningkat secara alami seiring dengan bertambahnya usia ternak. Karena ayam pejantan disembelih pada umur yang lebih tua daripada broiler, jaringan ikat di dalam dagingnya menjadi lebih banyak dan kuat, sehingga tingkat kealotan dagingnya otomatis meningkat.

    2. Tingkat Aktivitas Fisik

    Karakteristik perilaku juga memengaruhi kualitas daging. Ayam yang bergerak lebih aktif di dalam kandang akan mengalami kontraksi otot yang lebih sering. Aktivitas yang tinggi ini melatih otot ayam menjadi lebih kuat, padat, dan menghasilkan jalinan serat daging yang lebih keras saat dipotong.

    Meskipun lebih liat, daging ayam pejantan justru memiliki segmen pasar tersendiri. Banyak konsumen yang fanatik menyukainya karena teksturnya yang berserat padat, rendah lemak, tidak terlalu lembek, dan cita rasanya dinilai sangat mirip dengan ayam kampung asli.

    Trik Dapur: Cara Mengempukkan Daging Ayam Pejantan

    Anda tidak perlu khawatir daging akan menjadi keras saat dimasak. Kualitas tekstur ayam pejantan dapat diakali secara efektif asalkan menggunakan teknik kuliner yang tepat.

    Berikut adalah rekomendasi metode pengolahan dari Dr. Tuti:

    • Gunakan Teknik Basah (Perebusan): Ayam pejantan sangat ideal dimasak untuk hidangan yang berbasis banyak air atau kuah dalam waktu lama, seperti sop, gulai, atau opor.
    • Lakukan Metode Ungkep: Jika Anda berencana membuat ayam goreng atau ayam bakar, jangan langsung memasaknya dari kondisi mentah. Lakukan proses perebusan pendahuluan bersama bumbu (diungkep) agar serat dagingnya melunak terlebih dahulu.
    • Manfaatkan Alat dan Bahan Alami: Untuk mempercepat keempukan, Anda bisa memanfaatkan tekanan tinggi dari panci presto, atau menggunakan enzim pelunak daging alami dari lumatan buah nanas maupun bungkusan daun pepaya sebelum ayam dimasak.
    • Hindari Memasak Terlalu Kering: Saat menggoreng atau memanggang, pastikan durasinya tidak berlebihan hingga daging kehilangan seluruh cairannya. Proses memasak yang terlalu lama hingga kering justru akan mengunci serat daging menjadi semakin keras dan sulit digigit.
  • Dalam beberapa hari terakhir, media di Australia menyoroti keberangkatan MV Al Kuwait, salah satu kapal pengangkut ternak hidup terbesar di dunia, dari Pelabuhan Darwin menuju Indonesia. Kapal tersebut membawa lebih dari 17.000 ekor sapi untuk memenuhi kebutuhan pasar Indonesia yang terus meningkat.

    Peristiwa ini kembali menunjukkan eratnya hubungan perdagangan ternak antara Indonesia dan Australia. Selama ini, Indonesia menjadi pasar utama ekspor sapi hidup Australia. Pada tahun 2025, Indonesia tercatat mengimpor sekitar 583.418 ekor sapi dengan harga rata-rata sekitar USD4,00 per kilogram bobot hidup.

    Menurut Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof Ronny Rachman Noor, tingginya impor sapi hidup mencerminkan belum tercapainya keseimbangan antara kebutuhan daging nasional dan kapasitas produksi dalam negeri.

    Produksi Lokal Belum Mampu Mengejar Permintaan
    Kebutuhan daging sapi di Indonesia terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk, meningkatnya daya beli masyarakat, serta berkembangnya industri makanan, hotel, restoran, dan katering. Daging sapi juga memiliki nilai budaya yang kuat, terutama pada momen keagamaan seperti Iduladha.

    Di sisi lain, populasi dan produktivitas sapi potong lokal masih terbatas. Bangsa lokal seperti Sapi Bali dan Peranakan Ongole memiliki potensi besar, namun laju pertumbuhannya relatif lebih lambat dibandingkan sapi impor seperti Brahman Cross yang banyak dipasok dari Australia.

    “Kapasitas produksi sapi potong domestik belum cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional, terutama di kota-kota besar. Hal ini terkait dengan produktivitas ternak lokal yang masih rendah dan sistem pemeliharaan yang belum efisien,” jelas Prof Ronny.

    Keterbatasan pakan berkualitas, sempitnya lahan, serta dominasi usaha peternakan rakyat skala kecil menjadi faktor yang membatasi peningkatan produksi. Selain itu, sentra produksi seperti Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, dan Jawa Tengah belum sepenuhnya mampu menjangkau pusat-pusat konsumsi besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan secara efisien.

    Australia Unggul dari Sisi Logistik dan Kualitas
    Australia memiliki sistem ekspor ternak hidup yang sangat terintegrasi. Pelabuhan-pelabuhan utama seperti Darwin, Kimberley, dan Queensland didukung infrastruktur modern serta armada kapal berkapasitas besar seperti MV Al Kuwait, yang mampu mengangkut puluhan ribu ekor ternak dalam satu perjalanan.

    Selain itu, sapi Australia, terutama Brahman Cross, memiliki performa pertumbuhan yang baik dan sangat sesuai untuk sistem penggemukan (feedlot). Hal ini menjadikan sapi impor sebagai pilihan yang kompetitif bagi pelaku industri pengolahan daging di Indonesia.

    Manfaat Impor bagi Pasar Domestik
    Impor sapi hidup memberikan sejumlah manfaat strategis. Pasokan yang stabil membantu menjaga ketersediaan daging di pasar, terutama pada saat permintaan meningkat. Harga sapi impor juga relatif kompetitif, sehingga mendukung industri penggemukan dan menjaga kestabilan harga di tingkat konsumen.

    Hubungan perdagangan ini juga memperkuat kerja sama ekonomi bilateral antara Indonesia dan Australia di sektor peternakan.

    Risiko Ketergantungan yang Perlu Diantisipasi
    Meski bermanfaat, ketergantungan yang tinggi terhadap satu negara pemasok menimbulkan sejumlah risiko. Gangguan geopolitik, perubahan kebijakan perdagangan, wabah penyakit hewan, hingga fluktuasi nilai tukar dapat memengaruhi kelancaran pasokan dan harga.

    Jika diasumsikan bobot rata-rata sapi impor mencapai 300 kilogram per ekor, maka nilai impor Indonesia pada tahun 2025 diperkirakan mencapai sekitar USD700 juta atau setara lebih dari Rp11 triliun. Angka ini menunjukkan besarnya dana yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani dari luar negeri.

    Strategi Menuju Kemandirian Daging Nasional
    Prof Ronny menekankan bahwa pengurangan ketergantungan pada sapi impor harus dilakukan melalui strategi jangka panjang yang terencana.

    Langkah pertama adalah memperkuat program pembibitan dan perbaikan genetik sapi lokal seperti sapi Bali dan Peranakan Ongole agar memiliki produktivitas yang lebih tinggi.

    Langkah kedua adalah mengembangkan sistem penggemukan berbasis pakan lokal, termasuk pemanfaatan jagung, singkong, dan limbah pertanian untuk menekan biaya produksi.

    Selain itu, diversifikasi sumber impor dari negara lain seperti Brasil, India, dan negara-negara Asia Tenggara dapat dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada satu pemasok utama.

    Dari sisi konsumsi, peningkatan pemanfaatan sumber protein hewani lain seperti ayam, kambing, domba, dan ikan juga dapat membantu menyeimbangkan kebutuhan masyarakat.

    Kebijakan pemerintah berupa subsidi bagi peternak, insentif investasi, dan pengaturan kuota impor yang tepat dinilai penting agar peternak lokal tetap memiliki ruang untuk berkembang.

    Menyeimbangkan Kebutuhan dan Kemandirian
    Impor sapi hidup dari Australia masih menjadi bagian penting dalam menjaga pasokan daging nasional. Namun, dalam jangka panjang, Indonesia perlu memperkuat fondasi produksi domestik agar tidak terlalu bergantung pada pasar internasional.

    Dengan dukungan riset, inovasi teknologi, dan kebijakan yang konsisten, Indonesia memiliki peluang besar untuk membangun industri peternakan sapi potong yang lebih produktif, efisien, dan berdaya saing. Kemandirian protein hewani bukan hanya soal mengurangi impor, tetapi juga tentang memastikan ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan.

Riset & Kepakaran

Friday, 23 October 2026 09:46

Keberhasilan pemeliharaan ternak unggas—baik pedaging, petelur, maupun unggas hias—sangat ditentukan oleh manajemen pakan yang diterapkan. Dosen Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP),...

Friday, 23 October 2026 09:11

Menjaga agar sapi perah tetap sehat dan menghasilkan banyak susu bukanlah hal yang mudah. Terutama saat masa laktasi, kebutuhan energi sapi sangat tinggi. Jika kekurangan energi, sapi biasanya akan...

Friday, 16 October 2026 10:01

Mengonsumsi ayam kampung selama ini sering dianggap lebih sehat dibandingkan ayam broiler. Selain teksturnya yang lebih padat, ayam kampung juga kerap dipandang lebih alami karena umumnya dipelihara...

Thursday, 10 September 2026 08:36

Pengembangan peternakan kerbau rakyat di Kabupaten Kerinci perlu mempertimbangkan karakteristik agroekosistem tempat ternak dipelihara. Hal tersebut menjadi temuan penting dalam penelitian Neko...

Fapet Insight

Tuesday, 27 October 2026 11:37

Selamat dan Sukses atas pelantikan Prof nahrowi, sebagai Kepala Pusat Studi Hewan Tropika, Lembaga Riset Internasional Pangan, Gizi, Kesehatan dan Halal IPB University

Tuesday, 27 October 2026 11:32

Selamat dan Sukses kepada Diki Agustiawan dan Taufan Muhammad Rizki, sebagai Duta IPB University Batch 12 Terpilih

Tuesday, 20 October 2026 14:57

Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fapet IPB menyelenggarakan Dialog Dekan KM FAPET IPB di Student Hall, Fapet IPB University (19/10). Kegiatan ini...

Friday, 16 October 2026 08:31

Program Studi Doktor (S3) Ilmu Nutrisi dan Pakan (INP), Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University menerima kunjungan Tim Asesor dari Lembaga Akreditasi...

Lensa Inspirasi

Dalam dunia industri manufaktur pangan, konsistensi dan keamanan adalah segalanya. Bagi seorang pakar teknologi susu, perjalanan karier bukan sekadar tentang angka produksi, melainkan tentang...

Kapsul Inovasi

Innovator : Dr Iyep Komala, S.Pt, M.Si Dr Mohammad Fayruz, CEO PT Lana Ratifa D-Ruminansia adalah inovasi teknologi berbasis Internet of Things (IoT) yang dirancang khusus untuk memantau mikroklimat...

Achievements

Selamat dan Sukses kepada Himaproter atas capaiannya meraih Penghargaan Terbaik 2, kategori Tim Pelaksana : Perubahan Masyarakat Terbaik, dalam Abdidaya Ormawa 2026

Video Highlight

Ayam IPB D1 adalah hasil inovasi yang dikembangkan Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof. Dr. Cece Sumantri beserta tim, merupakan ayam lokal pedaging unggul dengan pertumbuhan cepat,...