Lonjakan harga daging ayam di pasaran belakangan ini kerap dipicu oleh satu faktor klasik: melambungnya harga jagung. Sebagai pilar utama yang mengisi hingga setengah dari total formula ransum unggas di seluruh dunia, fluktuasi harga jagung di Indonesia langsung memukul isi dompet para peternak dan konsumen.

Merespons krisis ini, dosen Fakultas Peternakan IPB University, Dr. Heri Ahmad Sukria, berhasil menciptakan sebuah terobosan mutakhir bernama "Jagung Analog". Inovasi pakan berbasis bahan lokal non-jagung ini dirancang khusus untuk memangkas biaya produksi unggas, yang pada akhirnya diharapkan mampu menstabilkan harga daging ayam di pasar agar lebih bersahabat bagi masyarakat.

Sains di Balik Jagung Analog: Memanfaatkan Sagu dan Singkong
Meskipun dinamakan jagung analog, produk ini sama sekali tidak menggunakan butiran jagung asli. Pakan alternatif ini diramu dari kombinasi bahan kaya karbohidrat seperti sagu parut dan singkong, namun diformulasikan agar memiliki nilai zat gizi yang serupa dengan jagung konvensional.

Guna memastikan kualitas fisika dan kimia pakan ini setara dengan jagung asli, Dr. Heri menerapkan teknik ekstrusi. Metode hydrothermal ini terbukti ampuh memperbaiki sifat fisik serta meningkatkan daya guna (utilitas) bahan pakan saat dicerna oleh unggas.

Tak hanya mengandalkan sumber energi dari sagu dan singkong, formula jagung analog ini juga diperkaya dengan bahan-bahan padat nutrisi lainnya:

  • Sumber Karbohidrat & Energi: Sagu parut dan singkong berkualitas.
  • Nutrien Mikro & Protein: Bahan tambahan khusus untuk menyeimbangkan gizi.
  • Ekstrak Daun Kelor: Ditambahkan sebagai sumber alami beta-karoten, vitamin, serta mineral mikro.

Melepas Ketergantungan dan Mengoptimalkan Potensi Lokal
Berbeda dengan industri peternakan di Amerika atau Eropa yang sudah adaptif menggunakan beragam variasi sumber energi pakan, Indonesia masih terjebak pada ketergantungan tunggal terhadap jagung.

“Sekitar 50 persen dari pakan unggas bersumber dari jagung. Indonesia belum bisa memenuhi kebutuhan jagung nasional dari produksi dalam negeri dan saat ini sudah tidak boleh impor,” tutur Dr. Heri.

Kondisi pasokan yang timpang ini mendongkrak harga jagung di tingkat paling rendah menyentuh Rp5.500. Bahkan, di luar musim panen raya atau di wilayah terpencil dan kepulauan, harganya bisa meroket hingga Rp7.000 per kilogram.

Melihat peta masalah tersebut, Dr. Heri membidik dua komoditas lokal yang selama ini belum dioptimalkan dengan baik:

1. Sagu Papua yang Melimpah
Indonesia memiliki harta karun berupa 5 juta hektare lahan tanaman sagu di Papua, yang merepresentasikan sekitar 99 persen dari total luas lahan sagu nasional. Sayangnya, pemanfaatan tanaman ini masih di bawah 5 persen. Sagu dinilai sangat potensial dipanen secara lestari dengan tetap menjaga keseimbangan lingkungan lokal untuk dijadikan pakan sumber energi baru.

2. Variasi Singkong Unggul IPB
Singkong yang mudah tumbuh di wilayah seperti Lampung dan Jawa Barat juga menjadi aktor kunci. Guna mengatasi tantangan biaya produksi tinggi, produktivitas singkong minimal harus menyentuh angka 40 ton per hektare agar ekonomis. Target kuantitas ini kini sudah bisa dipenuhi berkat penggunaan varietas singkong unggul besutan IPB University.

Hasil Uji Coba Lapangan dan Komersialisasi
Keandalan jagung analog ini bukan sekadar teori di atas kertas. Melalui serangkaian riset ketat di laboratorium dan lapangan, uji coba pada ayam kampung menunjukkan hasil yang menggembirakan: performa pertumbuhan ayam terbukti sama baiknya dengan ayam yang mengonsumsi jagung konvensional.

Kabar baiknya, pada tahun 2026 ini proyek strategis tersebut telah mengantongi dukungan pendanaan dari Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI. Dana diseminasi ini dialokasikan untuk memperbesar skala produksi dan mempercepat penerapan jagung analog langsung ke tangan peternak rakyat. Setelah proses ekstrusi rampung, uji coba formula ini juga segera diekspansi ke ayam broiler (pedaging) pada tahun ini.

“Biaya pakan yang lebih murah akan menurunkan harga produksi ayam, sehingga konsumen juga bisa mendapatkan harga yang lebih terjangkau,” tegas Dr. Heri.

Lewat hilirisasi dan komersialisasi massal yang diharapkan segera terwujud, jagung analog tidak sekadar menjadi alternatif pakan murah dan mudah diproduksi, melainkan menjadi kunci emas dalam membangun kedaulatan serta kemandirian pakan ternak nasional.


Riset & Kepakaran