IPB University melalui Fakultas Peternakan (Fapet) kembali menunjukkan kontribusinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan di bidang peternakan. Pajri Anwar dari Program Studi Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan menghadirkan inovasi riset berbasis bioteknologi melalui kajian proteomik sperma sebagai penentu biomarker molekuler kualitas semen sapi pesisir, dalam Ujian Terbuka Sidang Promosi Doktor  yang digelar pada Selasa, 28 April 2026, pukul 09.00 WIB hingga selesai, bertempat di Ruang Sidang Fakultas Peternakan.

Sidang Promosi dipimpin oleh Dekan Fakultas Peternakan IPB University Prof. Dr. Ir. Idat Galih Permana, M.Sc.Agr. Pajri Anwar menjalani ujian di bawah bimbingan komisi pembimbing yang diketuai oleh Prof. Dr. agr. Asep Gunawan, S.Pt., M.Sc, dengan anggota Prof. Dr. Ir. Cece Sumantri, M.Sc dan Prof. Dr. Dra. R. Iis Arifiantini, M.Si. Adapun penguji luar komisi yang turut hadir adalah Prof. drh. Ni Wayan Kurniani Karja, M.P., Ph.D dan Dr. Ir. Pebra Heriansyah, S.P., M.P. Kegiatan ini juga dihadiri oleh keluarga, kerabat, serta puluhan mahasiswa pascasarjana Fakultas Peternakan yang turut menyaksikan jalannya kegiatan dengan penuh antusias.

Penelitian ini menjadi langkah penting dalam upaya meningkatkan mutu genetik ternak lokal Indonesia, khususnya sapi pesisir yang dikenal memiliki daya adaptasi tinggi dan nilai strategis bagi peternak. Melalui pendekatan proteomik, Pajri Anwar mengkaji profil protein sperma untuk mengidentifikasi penanda biologis yang berperan dalam fungsi reproduksi dan potensi kesuburan pejantan.

Dalam penelitiannya, sebanyak 12 ekor sapi pesisir jantan berumur kurang dari 2 hingga 4 tahun digunakan sebagai objek penelitian. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kualitas semen segar bervariasi antar individu, dengan rata-rata motilitas total mencapai 84,77% dan motilitas progresif sebesar 74,81%. Temuan ini mengindikasikan bahwa sebagian pejantan memiliki kapasitas fertilitas yang baik. Menariknya, tiga individu pejantan berumur di bawah dua tahun menunjukkan performa kualitas semen yang relatif lebih unggul, sementara pejantan berumur empat tahun memiliki kualitas semen paling optimal dibandingkan seluruh sampel yang dianalisis.

Dari sisi molekuler, analisis protein menggunakan metode 1D SDS-PAGE berhasil mengidentifikasi 14 pita protein sperma dan 12 pita protein pada plasma semen dengan rentang berat molekul yang bervariasi. Analisis lanjutan melalui pendekatan proteomik berbasis LC-MS/MS mengungkap total 334 protein yang terekspresi dalam sperma sapi pesisir. Dua protein utama yang teridentifikasi, yaitu ZPBP dan SPACA3, diketahui memiliki peran penting dalam proses fertilisasi, khususnya pada mekanisme reaksi akrosom. Selain itu, sebagian besar protein yang ditemukan berkaitan dengan aktivitas seluler, proses metabolisme, serta fungsi molekuler seperti aktivitas katalitik, pengikatan, dan perlindungan terhadap stres oksidatif.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa profil protein sperma memiliki potensi besar sebagai biomarker molekuler dalam menentukan kualitas semen dan tingkat kesuburan pejantan. Temuan ini diharapkan dapat mendukung pengembangan program seleksi pejantan unggul berbasis molekuler, sekaligus menjadi langkah strategis dalam pelestarian dan peningkatan mutu genetik sapi pesisir sebagai salah satu plasma nutfah lokal Indonesia. Sebagai tindak lanjut, penelitian ini merekomendasikan perlunya validasi lanjutan terhadap protein reproduksi seperti SPACA3 dan ZPBP dengan jumlah sampel yang lebih besar, guna memastikan peran biologisnya secara lebih komprehensif dalam proses fertilisasi. (Femmy)


Riset & Kepakaran