Fakultas Peternakan Fakultas Peternakan Fakultas Peternakan
  • Home
  • Profil
    • Profil
      • Fakultas Peternakan IPB
      • Sejarah
      • Visi, Misi, Tujuan & Motto
      • Struktur Organisasi & Tupoksi
      • Pimpinan Fapet
      • Kebijakan Mutu
      • Program Kerja & Renstra
      • Senat Fapet IPB
      • Identitas : Warna Bendera, Yel-yel, Mars Fapet
      • Leaflet Fakultas
      • Daftar Keanggotaan Dosen di Komite Internasional
      • Himpunan Alumni Fapet
      • sitemap
    • Fasilitas
      • Laboratorium
      • Ruang Kuliah
      • Perpustakaan
      • UP3J
      • Auditorium
      • Layanan Kesehatan
      • Fasilitas Penunjang
      • Akses Internet dan Sistem Informasi
    • Dosen & Staf
      • Dosen D-IPTP
      • Dosen D-INTP
      • Bidang Kepakaran Dosen
      • Daftar Keanggotaan Dosen dalam Asosiasi
      • Prestasi Dosen
      • Dosen Outbound
      • Staf Inbound
      • Profil Tenaga Kependidikan
      • Prestasi Tenaga Kependidikan
    • Divisi
      • Produksi Ternak Perah
      • Produksi Ternak Unggas
      • Produksi Ternak Daging Kerja & aneka Ternak
      • Teknologi Hasil Ternak
      • Pemuliaan dan Genetika
      • Teknologi Industri Pakan
      • Nutrisi Ternak Perah
      • Nutrisi Nutrisi Ternak Daging dan Kerja
      • Ilmu & Teknologi Tumbuhan Pakan & Pastura
      • Manufaktur dan Industri Pakan
      • Nutrisi Ternak Unggas
  • Pendidikan
    • Pendidikan Sarjana (S1)
      • Pengertian Umum
      • Teknologi Produksi Ternak
      • Nutrisi dan Teknologi Pakan
      • Teknologi Hasil Ternak
    • Kurikulum S1
      • Pengertian Umum
      • Kurikulum Teknologi Produksi Ternak
      • Kurikulum Nutrisi dan Teknologi Pakan
      • Kurikulum Teknologi Hasil Ternak
      • Kurikulum PPKU
    • Pendidikan Pascasarjana
      • Ilmu Nutrisi dan pakan (S2&S3)
      • Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (S2&S3)
    • Akademik
      • Status Akreditasi
  • Direktori
    • Fapet IPB
      • Inovasi & HAKI
      • Video Highlight
      • Fapet Insight
      • Berita
      • Download Media Promosi
      • POB Layanan Akademik
      • Denah Area IPB
      • Nomor Kontak Darurat
      • Lensa Inspirasi
      • Download Form Pelayanan Akademik
      • Sustainable Deveopment Goals | SDGs
      • FAQs
      • Riset & Kepakaran
    • Publikasi
      • Tropical Animal Science Journal
      • Media Peternakan
      • Jurnal Ilmu Produksi dan Teknologi Hasil Peternakan
      • Bulletin Ilmu Makanan Ternak
      • Buku Karya Staf Fapet IPB
      • AADGC 2014 Proceeding
      • Jurnal Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan
    • Penelitian
      • Tesis Mahasiswa Pascasarjana (S2)
      • Disertasi Mahasiswa Pascasarjana (S3)
      • Skripsi Mahasiswa Sarjana (S1)
    • Kerjasama
      • Kerjasama Dalam Negeri
      • Kerjasama Luar Negeri
    • Seminar
      • ISAI 2012
      • ISAI 2015
      • SNIP 2017
      • ISAI 2018
      • ICARE 2021
      • ICARE 2024
    • PPID Fapet
      • Profil PPID
      • Daftar Informasi Publik
      • Informasi Berkala
      • Informasi Tersedia Setiap Saat
      • Informasi Serta Merta
      • Daftar Peraturan/Keputusan/Kebijakan
      • Laporan Tahunan
      • Program Kegiatan
      • Program Strategis
      • Tata Tertib Kehidupan Kampus
    • More
      • Program Beasiswa
      • Jadwal Kegiatan
      • Testimoni
      • Achievement
  • Kemahasiswaan & Alumni
    • Kemahasiswaan
      • Daftar Kegiatan Outbound Mahasiswa Ke Luar Negeri
      • Program Kreativitas Mahasiswa
      • Daftar mahasiswa Internasional
      • Daftar Kegiatan Kemahasiswaan
      • Daftar Prestasi Mahasiswa
    • Alumni
      • Himpunan Alumni IPB
      • Lowongan Kerja
      • Tracer Alumni
      • Profil Alumni
      • Daftar Alumni Fapet IPB
    • Lembaga Kemahasiswaan
      • Badan Eksekutif Mahasiswa
      • Himaproter
      • Himasiter
      • DPM Fapet IPB
      • Unit Kegiatan Kemahasiswaan (UKM)
    • Beasiswa
    • Daftar Mahasiswa Internasional
  • PPID
  • search
  1. You are here:  
  2. Home
  3. Direktori
  4. Fapet IPB
  5. Fapet Insight

Fapet Insight

Kuliah Jurusan Peternakan di Fapet IPB ? inilah 3 Program Studi Unggul, Biaya, dan Cara Daftarnya

Details
Created: 18 May 2026
Hits: 25

Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University merupakan salah satu kiblat pendidikan peternakan terbaik dan tertua di Indonesia. Sektor peternakan modern saat ini tidak lagi sekadar berbicara tentang "mengarahkan hewan ke padang rumput", melainkan telah bertransformasi menjadi industri berbasis teknologi tinggi, sains, manajemen modern, hingga pilar ketahanan pangan nasional.

Bagi Anda yang tertarik mendalami dunia sains hewan, teknologi pakan, hingga industri pengolahan pangan hewani, Fapet IPB mengasuh 3 Program Studi S1 yang seluruhnya telah terakreditasi "Unggul" oleh BAN-PT serta mendapatkan sertifikasi internasional ASIIN dan AUN-QA. Seluruh kegiatan perkuliahan dilaksanakan di Kampus IPB Dramaga, Bogor.

1. Mengenal 3 Program Studi Unggulan di Fapet IPB

Fapet IPB membagi fokus keilmuannya ke dalam tiga program studi sarjana yang saling melengkapi dari hulu hingga ke hilir:

A. Program Studi Teknologi Produksi Ternak (PS TPT)

Diampu oleh Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP). Menggunakan kurikulum berbasis asas kesejahteraan hewan (animal welfare) serta kelestarian lingkungan dengan beban 144 hingga 160 SKS.

  • Fokus Utama: Manajemen budidaya, pemuliaan (breeding), teknologi produksi unggas & ruminansia, pengelolaan limbah, serta penanganan hasil ternak.
  • Ilmu Penting yang Dipelajari: Ilmu Reproduksi Ternak, Pemuliaan Ternak, Produksi Ternak Potong/Unggas, Inseminasi Buatan, Manajemen Feedlot, dan Ilmu Tilik Ternak.
  • Daya Tampung: 120 Mahasiswa.

B. Program Studi Teknologi Hasil Ternak (PS THT)

Menjadi pelengkap hilir dari rantai industri peternakan yang berfokus pada pasca-panen guna meningkatkan nilai tambah produk hewan.

  • Fokus Utama: Teknik pengolahan pangan (daging, susu, telur, madu), pengolahan hasil ikutan non-pangan (kulit, bulu/wol, tulang), serta kontrol kualitas dan keamanan pangan.
  • Ilmu Penting yang Dipelajari: Mikrobiologi Hasil Ternak, Pangan dan Gizi Hasil Ternak, Ilmu Daging, Teknologi Pengolahan Daging/Susu/Telur, Abatoir (RPH), dan Teknologi Penyamakan Kulit.
  • Daya Tampung: 100 Mahasiswa.
     

C. Program Studi Nutrisi dan Teknologi Pakan (PS NTP)

Diampu oleh Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP). Berfokus mencetak ahli rekayasa nutrisi dan industri pakan skala besar.

  • Fokus Utama: Identifikasi bahan baku pakan tropis berkualitas, formulasi ransum yang efisien dan aman, serta manajemen pabrik pakan (feedmill).
  • Ilmu Penting yang Dipelajari: Ilmu Nutrisi Ternak, Biokimia Nutrisi, Produksi Hijauan Pakan, Teknologi Fermentasi, Enzimologi, dan Fabrikasi Pakan.
  • Daya Tampung: 150 Mahasiswa.
     

2. Kompetensi Lulusan & Prospek Kerja: Sangat Luas!

Seluruh lulusan dari ketiga prodi di Fakultas Peternakan akan dianugerahi gelar Sarjana Peternakan (S.Pt). Berbeda dengan miskonsepsi awam bahwa lulusan peternakan hanya bekerja di kandang tradisional, peta karier alumni Fapet IPB mencakup sektor yang sangat luas:

Sektor Swasta & Korporasi Multinasional

  • Nutritionist / Formulator Staff: Merancang formula pakan di perusahaan feedmill raksasa (PT Charoen Pokphand, PT Japfa Comfeed, Trouw Nutrition, dll).
  • Manajer Lapang & Eksekutif Perusahaan: Meniti karier dari Technical Sales/Service Representative hingga posisi top manajemen di perusahaan kesehatan hewan dan nutrisi (seperti Elanco, Nutricell Pacific, dll).
  • Industri Pengolahan Pangan & R&D: Menjadi staf Research and Development, Quality Control (QC), atau Quality Assurance (QA) di industri olahan susu, daging, dan retail produk peternakan.
  • Perbankan & Finansial: Menjadi Analyst Officer di bank nasional (BRI, Mandiri, dll) khusus untuk menilai kelayakan modal usaha kredit korporasi dan agribisnis.
  • Sektor Pemerintahan & Akademisi

Birokrat & Aparatur Sipil Negara (ASN):

  • Penempatan di Kementerian Pertanian,
  • Dinas Peternakan Daerah,
  • Badan Pangan Nasional,
  • atau Karantina Hewan.

Dosen & Peneliti:

  • Mengembangkan sains peternakan di perguruan tinggi atau Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Wirausaha (Agropreneur)

  • Mendirikan startup peternakan modern,
  • Kemitraan budidaya ternak (sapi, domba, kambing), 
  • Usaha distribusi hewan qurban & aqiqah nusantara (seperti brand iCowindonesia),
  • Hingga bisnis olahan pangan (rendang, susu pasteurisasi, dan agro-edutourism).

 
3. Skema Biaya Kuliah: UKT dan IPI

IPB University menerapkan sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) per semester untuk jalur nasional, serta tambahan Biaya Pengembangan Instituti dan Fasilitas (BPIF) khusus bagi mahasiswa jalur seleksi mandiri.

Berikut estimasi umum biaya kuliah di IPB (disesuaikan dengan kemampuan ekonomi):

Jalur Masuk Komponen Biaya Estimasi Besaran (Rp)
Jalur Nasional (SNBP, SNBT) serta Seleksi Mandiri (SM-IPB)
UKT Golongan 1 s.d 8 Rp 500.000 – Rp 11.000.000+ / semester
(tergantung kemampuan ekonomi)
Tambahan Biaya Khusus Jalur Seleksi Mandiri (SM-IPB) BPIF (Dibayar 1x di awal) Rp 40.500.000 s.d Rp 47.500.000+
(tergantung golongan)

* Penentuan kemampuan ekonomi dan golongan dilakukan oleh IPB berdasarkan data yang diterima

Info lengkap biaya pendidikan --> UKT | BPIF  

4. Jalur Pendaftaran dan Pintu Masuk

Pendaftaran mahasiswa baru untuk ketiga Program Studi di Fapet IPB dilakukan secara terpusat melalui portal resmi http://admisi.ipb.ac.id. Berikut jalur yang bisa Anda tempuh:

1. Jalur Nasional (Reguler)

  • SNBP (Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi): Jalur undangan berdasarkan nilai rapor dan prestasi akademik/non-akademik SMA/MA.
  • SNBT (Seleksi Nasional Berdasarkan Tes): Seleksi nasional menggunakan nilai Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK).

2. Jalur Mandiri & Kerja Sama IPB

  • SM-IPB (Seleksi Mandiri IPB): Menggunakan skor UTBK-SNBT atau mengikuti ujian online resmi yang diselenggarakan mandiri oleh IPB.
  • Jalur Ketua OSIS: Jalur tanpa tes khusus bagi siswa yang pernah menjabat Ketua OSIS di SMA/MA jurusan IPA/Saintek.
  • Jalur PIN (Prestasi Internasional dan Nasional): Jalur khusus bagi siswa pemenang olimpiade sains, olahraga, atau seni minimal tingkat nasional.
  • Jalur BUD (Beasiswa Utusan Daerah): Jalur kerja sama dengan pemerintah daerah atau perusahaan mitra untuk menyekolahkan putra-putri daerah terbaik.

Mengapa Harus Memilih Fapet IPB?

Fapet IPB tidak hanya menawarkan ruang kelas, tetapi juga ekosistem riset yang lengkap melalui laboratorium mutakhir dan laboratorium lapangan (educational farm) langsung di Kampus Dramaga. Ditopang oleh jaringan alumni yang solid dan menguasai berbagai posisi strategis di industri ASEAN, kuliah di Fapet IPB memberikan garansi kompetensi nyata bagi masa depan ketahanan pangan dunia.

Mengulas Superfood Maggot: Terobosan Fapet IPB untuk Pakan Ruminansia dan Pet Food

Details
Created: 18 May 2026
Hits: 18

Isu kemandirian pakan dan tingginya angka mortalitas ternak muda masih menjadi tantangan besar dalam dunia peternakan nasional. Menjawab tantangan tersebut, tim dosen dari Divisi Nutrisi Ternak Pedaging dan Kerja (NTDK), Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP), Fakultas Peternakan IPB University, berhasil menciptakan terobosan mutakhir. Melalui riset panjang sejak tahun 2014, mereka sukses mengembangkan tiga produk pakan inovatif berbasis Black Soldier Fly (BSF) atau maggot.

Ketiga produk inovasi unggulan tersebut adalah BSF-Milk Replacer (susu pengganti), BSF-Starter Complete Feed, dan BSF-Cat Food. Produk-produk ini resmi diperkenalkan dalam ajang Launching Inovasi Unggulan IPB Batch 8 yang diselenggarakan oleh LPPM IPB University di Kampus Dramaga, Bogor.

Mengapa Harus Larva BSF?
Larva BSF yang dipanen dari proses biofermentasi limbah organik dikenal sebagai sumber nutrisi masa depan (superfood) untuk industri pakan. Komoditas ini memiliki profil nutrisi yang sangat menguntungkan:

  • Protein Tinggi: Mencapai 42%
  • Lemak Tinggi: Mencapai 37%
  • Kandungan Asam Laurat Tinggi: Mencapai 40% dari total asam lemak, yang berfungsi alami sebagai agen antimikroba.

Potensi inilah yang diracik oleh tim peneliti Fapet IPB menjadi formula pakan fungsional yang tidak hanya menutrisi, tetapi juga menjaga kesehatan pencernaan ternak.

Bedah Inovasi: 3 Produk Pakan Fungsional Berbasis BSF

1. BSF-Milk Replacer: Solusi Anti-Diare Anak Ternak Pra-Sapih

Salah satu kendala utama peternakan ruminansia kecil (kambing dan domba) adalah angka kematian anak pra-sapih yang menyentuh angka 20%, mayoritas dipicu oleh diare akibat bakteri E. coli.

Digawangi oleh Prof. Dewi Apri Astuti dan Kokom komalasari, S.Pt, M.Si, bekerja sama dengan PT Biocycle Indonesia, formula susu pengganti ini dirancang menyerupai susu induk alami sesuai rekomendasi FAO.

  • Kandungan Nutrisi: Protein 27%, Lemak 20%, Kalium 1,50%, dan Fosfor 0,70%.
  • Keunggulan: Kandungan asam laurat yang tinggi dari minyak BSF terbukti efektif mematikan bakteri E. coli, menjadikannya ramuan alami anti-diare.
  • Status Hukum: Telah terdaftar paten (No. PID201806537) dan meraih penghargaan Karya Inovatif 113. Produk ini siap dikomersialkan secara luas.

Tips Aplikasi Lapang:

Larutkan Milk Replacer dengan air hangat (perbandingan 1:4) menggunakan botol steril. Berikan pada ternak usia 1 minggu sebanyak 6 kali sehari, lalu kurangi bertahap hingga usia 8 minggu (menjelang sapih) menjadi 2 kali sehari. Jumlah konsumsi ideal adalah sekitar 3% bahan kering dari bobot badan ternak.


2. BSF-Starter Complete Feed: Mengawal Program BALIBU

Pindah ke fase lepas sapih, anak domba/kambing sering mengalami stres lingkungan dan pakan yang memicu penurunan bobot badan, terutama saat musim hujan. Tim peneliti yang digawangi Prof. Dewi Apri Astuti, Dr. Didid Diapari, dan Dr. Dilla M. memformulasikan pakan pemula (starter) khusus.

  • Kandungan Nutrisi: Protein 17%, Lemak 7%, TDN (Total Digestible Nutrient) 75%, Kalsium 0,5%, Phospor 0,6%, serta kaya akan asam amino esensial glisin dan metionin.
  • Dampak di Lapangan: Data riset menunjukkan anak domba yang diberi pakan ini mengalami pertumbuhan pesat berkisar 112–120 gram/ekor/hari.
  • Target Strategis: Pertumbuhan ini sangat krusial untuk mendukung program pemerintah dalam penyediaan daging lokal lewat target bobot potong umur 5 bulan (Balibu/Kalibu) sebesar 21 kg. Produk ini kini sedang dalam tahap pengajuan paten.

3. BSF-Cat Food: Substitusi Pakan Hewan Kesayangan Impor

Tidak hanya untuk ternak produktif, Fapet IPB juga melirik potensi besar pasar hewan kesayangan (pet food). Hingga kini, pasar pakan kucing nasional masih didominasi produk impor. Untuk menekan ketergantungan tersebut, Prof. Dewi Apri Astuti dan Dr. Sri Suharti mengembangkan BSF-Cat Food lokal berkualifikasi premium.

  • Kandungan Nutrisi: Protein 25%, Lemak 11%, Serat 5%, serta diperkaya taurin untuk kehalusan bulu kucing dan vitamin-mineral untuk kekuatan tulang.
  • Sinergi Industri: Bekerja sama dengan PT Bahagia Satwa Indonesia (BSI), pakan kucing ini diproduksi secara komersial dengan jaringan pemasaran yang didukung oleh komunitas dokter hewan praktisi di wilayah Jabodetabek.
     

Hilirisasi Nyata: Sinergi Kampus dan Industri

Langkah yang diambil oleh Divisi NTDK Fapet IPB merupakan contoh ideal dari konsep triple helix, di mana hasil riset laboratorium tidak berhenti menjadi draf laporan saja, melainkan berhasil dihilirisasi ke sektor industri.

Melalui kolaborasi bersama mitra strategis seperti PT Biocycle Indonesia dan PT Bahagia Satwa Indonesia, Fapet IPB membuktikan bahwa inovasi berbasis bahan baku lokal mampu berbicara banyak di tingkat nasional. Langkah ini tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi limbah organik melalui BSF, tetapi juga memperkuat kedaulatan pakan dan ketahanan pangan di Indonesia.

Daging Kelinci: Lebih dari Sekadar Hewan Lucu, Inilah "Superfood" yang Kaya Manfaat

Details
Created: 08 May 2026
Hits: 82

Bagi sebagian orang, melihat kelinci mungkin langsung terbayang seekor hewan berbulu yang menggemaskan. Tak heran jika ada rasa "nggak tega" saat harus membayangkannya sebagai hidangan di meja makan. Namun, tahukah kamu? Di balik sosoknya yang imut, kelinci adalah sumber protein luar biasa yang sering kali terlupakan, padahal keunggulan gizinya jauh melampaui daging ternak lainnya.

Halal, Sehat, dan Berkelas Keraguan pertama yang sering muncul biasanya soal hukum mengonsumsinya. Tenang saja, dua pakar dari Fakultas Peternakan IPB University, Dr. Henny Nuraini dan Dr. Muhammad Baihaqi, S.Pt, M.Sc., menegaskan bahwa daging kelinci sepenuhnya halal. Hal ini pun diperkuat oleh Fatwa MUI sejak tahun 1983 yang menetapkan bahwa memakan daging kelinci hukumnya adalah halal dan aman secara syariat.

Setelah urusan keyakinan mantap, mari bicara soal kualitas. Jika kamu mencari daging yang benar-benar sehat, kelinci adalah juaranya. Daging kelinci dikenal sangat lean—artinya sangat sedikit mengandung lemak. Menariknya lagi, kadar proteinnya justru lebih tinggi dibanding daging ternak lain, dengan kandungan Omega-3 yang empat kali lipat lebih banyak daripada daging ayam.

Obat Alami dalam Setiap Gigitan Keistimewaan daging kelinci tidak berhenti di urusan nutrisi makro. Ada manfaat tersembunyi yang jarang diketahui: keberadaan senyawa kitotefin. Senyawa ini, yang banyak ditemukan pada bagian jantung dan hati kelinci, dipercaya memiliki khasiat medis untuk membantu mencegah penyakit asma. Jadi, menyantap daging kelinci bukan sekadar urusan kenyang, tapi juga investasi kesehatan jangka panjang.

Si Multiguna yang Tak Menyisakan Limbah Di mata para ahli peternakan, kelinci adalah ternak masa depan yang sangat produktif. Ia dijuluki sebagai ternak multiguna. Selain dagingnya sebagai pangan berkualitas, kulit bulunya memiliki nilai estetika tinggi untuk industri fesyen seperti tas dan jaket. Bahkan, bagi pecinta tanaman, kotoran kelinci adalah bahan baku pupuk organik yang sangat kaya nutrisi bagi tanah.

Bosan dengan Sate? Coba Ragam Olahan Modern Mungkin selama ini kita hanya mengenal sate kelinci saat berwisata ke daerah pegunungan. Padahal, tekstur dagingnya yang khas sangat fleksibel untuk diolah menjadi berbagai menu kekinian. Bayangkan Nasi Briyani kelinci yang kaya rempah, Kelinci Masak Madu yang manis gurih, Rica Kelinci bagi pecinta pedas, hingga Kelinci Goreng Korea yang sedang tren.

Dengan segala kelebihan dan keistimewaannya, sudah saatnya kita melihat kelinci dengan cara yang berbeda. Bukan lagi sekadar hewan piara yang jauh dari dapur, melainkan pilihan protein premium yang sehat, halal, dan lezat. Jadi, sudah siap mencoba sensasi daging kelinci hari ini?

IPB-D1: "Super Chicken" Lokal yang Siap Guncang Meja Makan Nusantara

Details
Created: 08 May 2026
Hits: 48

Selama ini, pecinta kuliner sering kali dihadapkan pada satu dilema: memilih ayam ras yang cepat tumbuh tapi terasa "biasa saja", atau ayam lokal yang rasanya juara tapi harganya mahal karena pertumbuhannya yang sangat lambat. Namun, dilema itu kini punya solusi cerdas dari Fakultas Peternakan IPB University. Perkenalkan, IPB-D1, sebuah mahakarya genetika yang sedang mengubah peta industri ayam lokal di Indonesia.

Bukan Sekadar Ayam Kampung Biasa
Lahir dari riset panjang sejak tahun 2010 yang dilakukan oleh tim inovator Fakultas Peternakan IPB University yang dipimpin oleh Prof. Cece Sumantri, bersama tim ahli pemuliaan ternak, IPB-D1 adalah ayam komposit hasil persilangan empat darah unggul. Bayangkan kegagahan ayam Pelung, keuletan ayam Sentul, keaslian ayam Kampung, hingga produktivitas dari Parent Stock Cobb. Keempatnya diramu melalui seleksi genetika molekuler hingga generasi kelima. Hasilnya? Sebuah rumpun baru yang secara resmi telah diakui oleh Kementerian Pertanian sejak 2019 sebagai ayam lokal pedaging unggul.

Si Bongsor yang Gesit dan Tangguh
Keunggulan utama IPB-D1 adalah kecepatannya. Jika ayam lokal biasa butuh waktu lama untuk besar, IPB-D1 hanya butuh waktu 10 hingga 12 minggu untuk mencapai bobot 1 hingga 1,8 kilogram. Tidak hanya cepat tumbuh, ayam ini juga dikenal "tahan banting". Ia memiliki kekebalan alami yang lebih kuat terhadap penyakit langganan peternak seperti Newcastle Disease (ND) dan Salmonella. Bagi peternak, ini berarti efisiensi pakan yang lebih baik dan risiko kerugian yang jauh lebih rendah.

Pangan Fungsional : Senjata Melawan Stunting
Keistimewaan IPB-D1 tidak berhenti di kandang. Ketika sampai di meja makan, ia menjelma menjadi pangan fungsional yang menyehatkan. Hasil penelitian menunjukkan dagingnya kaya akan protein (19,1%) dan Omega-3, namun memiliki kadar kolesterol yang relatif rendah.

Uniknya lagi, daging IPB-D1 menyimpan kandungan mineral penting seperti zat besi (Fe) dan Seng (Zn) yang lebih tinggi. Hal ini menjadikannya senjata baru yang sangat potensial untuk mendukung program kesehatan nasional, khususnya dalam mencegah anemia dan menekan angka stunting melalui asupan protein berkualitas.

Misi Besar di Balik Piring Makan Di balik pengembangan IPB-D1, ada misi besar untuk memutus ketergantungan Indonesia terhadap impor bibit ayam ras. Dengan dukungan program RISPRO LPDP, IPB University kini fokus pada komersialisasi skala luas. Mulai dari pengembangan pakan berbahan lokal, penggunaan pengawet alami, hingga memastikan keamanan produk melalui sertifikasi halal dan standar mutu nasional.

IPB-D1 bukan hanya tentang riset di laboratorium, tapi tentang bagaimana sains hadir di wilayah pedesaan untuk menggerakkan ekonomi masyarakat dan memastikan setiap keluarga di Indonesia bisa menikmati daging ayam lokal yang sehat, bergizi, dan tentu saja, membanggakan produk asli dalam negeri.

SheepLight: Menatap Masa Depan Domba Indonesia Tanpa "Prengus" dan Kolesterol

Details
Created: 08 May 2026
Hits: 28

Bagi sebagian orang, sepiring sate domba sering kali datang dengan rasa was-was akan kolesterol tinggi atau aroma "prengus" yang tertinggal di lidah. Namun, persepsi itu kini mulai bergeser. Di tangan Prof. Asep Gunawan, Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, domba-domba di Indonesia sedang mengalami fase "revolusi kualitas" yang jauh lebih sehat dan cerdas.

Melalui riset mendalam, Prof. Asep berhasil menciptakan Domba Premium. Ini bukan sekadar domba biasa; secara genetik, domba-domba ini telah diseleksi untuk menghasilkan daging dengan kadar asam lemak tak jenuh yang tinggi namun rendah kolesterol. Hasilnya? Daging yang lebih empuk, bobot karkas yang lebih mantap, dan yang paling penting: aroma off-odor atau prengus yang selama ini menjadi musuh konsumen, berhasil ditekan seminimal mungkin.

Teknologi dalam Genggaman: SheepLight
Hambatan terbesar dalam dunia peternakan selama ini adalah lambatnya proses seleksi bibit. Biasanya, peternak harus mengirim sampel ke laboratorium dan menunggu berhari-hari untuk mengetahui kualitas ternaknya. Namun, Prof. Asep menjawab tantangan itu dengan menghadirkan SheepLight.

"Prinsipnya sangat sederhana dan handy," jelas Prof. Asep dalam gelaran Pekan Riset dan Inovasi IPB beberapa waktu lalu. SheepLight adalah alat deteksi cepat (kit) berbasis perubahan warna. Hanya butuh waktu 60 menit di lapangan, peternak sudah bisa mengetahui apakah domba mereka masuk kategori premium atau tidak. Teknologi ini seperti membawa kecanggihan laboratorium langsung ke tengah padang rumput.

Dari Sumatera hingga Rote
Inovasi ini tidak hanya "jago kandang" di Bogor. Saat ini, semangat Domba Premium telah menyebar ke delapan Breeding Center yang tersebar di tujuh provinsi. Mulai dari pegunungan di Banjarnegara, tanah Sumatera Utara, hingga pelosok Rote di Nusa Tenggara Timur. Semuanya terpantau secara real-time melalui sistem digital recording yang terintegrasi.

Siap Santap di Mana Saja
Tak hanya berhenti di urusan bibit, inovasi ini sudah sampai ke tahap hilirisasi. Bagi masyarakat modern yang sibuk, daging Domba Premium kini hadir dalam format yang sangat praktis. Mulai dari potongan ready-to-cook yang sudah dibersihkan, hingga rendang kaleng ready-to-eat yang bisa langsung dinikmati tanpa perlu repot di dapur.

Melalui SheepLight dan pengembangan Domba Premium ini, Prof. Asep Gunawan membuktikan bahwa peternakan rakyat bisa naik kelas. Bukan hanya mengejar kuantitas populasi, tapi juga memastikan setiap potong daging yang sampai ke piring masyarakat adalah pangan sehat, berkualitas, dan membanggakan produk asli Nusantara.

Yogurt Rosela : "Superfood" Pink Penakluk Kanker dan Diabetes

Details
Created: 08 May 2026
Hits: 20

Siapa sangka, minuman kekinian berwarna merah cantik ini bukan sekadar pelepas dahaga biasa. Di balik kesegarannya, Yogurt Probiotik Rosela hasil inovasi Guru Besar Fapet IPB University, Prof. Dr. Irma Isnafia Arief, menyimpan "pasukan khusus" yang siap menjaga tubuh dari ancaman penyakit mematikan.

Bakteri Pintar yang "Galak" pada Sel Kanker Bintang utama dalam yogurt ini adalah bakteri asam laktat lokal bernama L. acidophilus IIA-2B4. Jangan terkecoh dengan namanya yang rumit, karena kemampuannya sangat luar biasa. Dalam riset Prof. Irma, bakteri ini terbukti mampu menghambat pertumbuhan sel kanker serviks (sel HeLa) hingga 74,16%!

Bakteri ini bekerja dengan cara mengacaukan metabolisme sel kanker, membuatnya "bingung" dan tidak bisa berfungsi normal. Jadi, sambil menikmati rasa asam-manis rosela yang segar, sebenarnya kita sedang mengirimkan perlindungan ekstra untuk tubuh.

Sahabat Baru Penderita Diabetes
Bagi yang sering khawatir dengan kadar gula darah, yogurt ini bisa jadi solusi cerdas. Inovasi ini memiliki kemampuan menghambat enzim α-glukosidase—si pelaku yang mengubah karbohidrat menjadi glukosa di pencernaan. Dengan dihambatnya enzim ini sebesar 36,7%, penyerapan gula ke dalam darah pun jadi lebih terkendali. Plus, yogurt ini juga ramah bagi jantung karena sifatnya yang antihipertensi dan rendah kolesterol.

Bukan Sekadar Teori, Sudah Siap Dikonsumsi! Inovasi ini tidak hanya berhenti di meja laboratorium. Produk Yogurt Rosela ini:

  • Sudah Berizin: Mengantongi sertifikat MD dari BPOM.
  • Terlindungi: Memiliki paten resmi (ID P00201811136).
  • Praktis & Terjangkau: Tersedia dan diproduksi langsung oleh satuan usaha akademik Fapet IPB.

Kabar baiknya lagi, teknologi probiotik Prof. Irma ini juga merambah ke dunia kuliner lain, yaitu Sosis Fermentasi Probiotik. Jadi, makan sosis kini tak perlu lagi merasa bersalah (guilty pleasure), karena kandungan asam lemak jenuhnya jauh lebih rendah dan aman bagi jantung.

Sudah siap beralih ke cara enak untuk sehat? Yuk, mulai lirik produk-produk fungsional hasil riset kampus sendiri!

More Articles …

  1. Jepretan Minggu ini : Sutrisno - Si paling tango tanpa neko neko
  2. Kenapa Teknologi Hasil Ternak (THT) Bisa Jadi Pilihan Kuliah Anak Muda Zaman Sekarang?
Page 1 of 2
  • Start
  • Prev
  • 1
  • 2
  • Next
  • End

Fapet Insight

  • Daging Kelinci: Lebih dari Sekadar Hewan Lucu, Inilah "Superfood" yang Kaya Manfaat
  • IPB-D1: "Super Chicken" Lokal yang Siap Guncang Meja Makan Nusantara
  • Jepretan Minggu ini : Sutrisno - Si paling tango tanpa neko neko
  • Kenapa Teknologi Hasil Ternak (THT) Bisa Jadi Pilihan Kuliah Anak Muda Zaman Sekarang?
  • Kuliah Jurusan Peternakan di Fapet IPB ? inilah 3 Program Studi Unggul, Biaya, dan Cara Daftarnya
  • Mengulas Superfood Maggot: Terobosan Fapet IPB untuk Pakan Ruminansia dan Pet Food
  • SheepLight: Menatap Masa Depan Domba Indonesia Tanpa "Prengus" dan Kolesterol
  • Yogurt Rosela : "Superfood" Pink Penakluk Kanker dan Diabetes
Kontak kami


Fakultas Peternakan IPB

Address:
Jl. Agatis Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680
Jawa Barat, Indonesia
Phone: 0251-8622841, 8622812
Fax: 0251-8622842
E-mail :  fapet@apps.ipb.ac.id