Dalam beberapa hari terakhir, media di Australia menyoroti keberangkatan MV Al Kuwait, salah satu kapal pengangkut ternak hidup terbesar di dunia, dari Pelabuhan Darwin menuju Indonesia. Kapal tersebut membawa lebih dari 17.000 ekor sapi untuk memenuhi kebutuhan pasar Indonesia yang terus meningkat.
Peristiwa ini kembali menunjukkan eratnya hubungan perdagangan ternak antara Indonesia dan Australia. Selama ini, Indonesia menjadi pasar utama ekspor sapi hidup Australia. Pada tahun 2025, Indonesia tercatat mengimpor sekitar 583.418 ekor sapi dengan harga rata-rata sekitar USD4,00 per kilogram bobot hidup.
Menurut Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof Ronny Rachman Noor, tingginya impor sapi hidup mencerminkan belum tercapainya keseimbangan antara kebutuhan daging nasional dan kapasitas produksi dalam negeri.
Produksi Lokal Belum Mampu Mengejar Permintaan
Kebutuhan daging sapi di Indonesia terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk, meningkatnya daya beli masyarakat, serta berkembangnya industri makanan, hotel, restoran, dan katering. Daging sapi juga memiliki nilai budaya yang kuat, terutama pada momen keagamaan seperti Iduladha.
Di sisi lain, populasi dan produktivitas sapi potong lokal masih terbatas. Bangsa lokal seperti Sapi Bali dan Peranakan Ongole memiliki potensi besar, namun laju pertumbuhannya relatif lebih lambat dibandingkan sapi impor seperti Brahman Cross yang banyak dipasok dari Australia.
“Kapasitas produksi sapi potong domestik belum cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional, terutama di kota-kota besar. Hal ini terkait dengan produktivitas ternak lokal yang masih rendah dan sistem pemeliharaan yang belum efisien,” jelas Prof Ronny.
Keterbatasan pakan berkualitas, sempitnya lahan, serta dominasi usaha peternakan rakyat skala kecil menjadi faktor yang membatasi peningkatan produksi. Selain itu, sentra produksi seperti Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, dan Jawa Tengah belum sepenuhnya mampu menjangkau pusat-pusat konsumsi besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan secara efisien.
Australia Unggul dari Sisi Logistik dan Kualitas
Australia memiliki sistem ekspor ternak hidup yang sangat terintegrasi. Pelabuhan-pelabuhan utama seperti Darwin, Kimberley, dan Queensland didukung infrastruktur modern serta armada kapal berkapasitas besar seperti MV Al Kuwait, yang mampu mengangkut puluhan ribu ekor ternak dalam satu perjalanan.
Selain itu, sapi Australia, terutama Brahman Cross, memiliki performa pertumbuhan yang baik dan sangat sesuai untuk sistem penggemukan (feedlot). Hal ini menjadikan sapi impor sebagai pilihan yang kompetitif bagi pelaku industri pengolahan daging di Indonesia.
Manfaat Impor bagi Pasar Domestik
Impor sapi hidup memberikan sejumlah manfaat strategis. Pasokan yang stabil membantu menjaga ketersediaan daging di pasar, terutama pada saat permintaan meningkat. Harga sapi impor juga relatif kompetitif, sehingga mendukung industri penggemukan dan menjaga kestabilan harga di tingkat konsumen.
Hubungan perdagangan ini juga memperkuat kerja sama ekonomi bilateral antara Indonesia dan Australia di sektor peternakan.
Risiko Ketergantungan yang Perlu Diantisipasi
Meski bermanfaat, ketergantungan yang tinggi terhadap satu negara pemasok menimbulkan sejumlah risiko. Gangguan geopolitik, perubahan kebijakan perdagangan, wabah penyakit hewan, hingga fluktuasi nilai tukar dapat memengaruhi kelancaran pasokan dan harga.
Jika diasumsikan bobot rata-rata sapi impor mencapai 300 kilogram per ekor, maka nilai impor Indonesia pada tahun 2025 diperkirakan mencapai sekitar USD700 juta atau setara lebih dari Rp11 triliun. Angka ini menunjukkan besarnya dana yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani dari luar negeri.
Strategi Menuju Kemandirian Daging Nasional
Prof Ronny menekankan bahwa pengurangan ketergantungan pada sapi impor harus dilakukan melalui strategi jangka panjang yang terencana.
Langkah pertama adalah memperkuat program pembibitan dan perbaikan genetik sapi lokal seperti sapi Bali dan Peranakan Ongole agar memiliki produktivitas yang lebih tinggi.
Langkah kedua adalah mengembangkan sistem penggemukan berbasis pakan lokal, termasuk pemanfaatan jagung, singkong, dan limbah pertanian untuk menekan biaya produksi.
Selain itu, diversifikasi sumber impor dari negara lain seperti Brasil, India, dan negara-negara Asia Tenggara dapat dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada satu pemasok utama.
Dari sisi konsumsi, peningkatan pemanfaatan sumber protein hewani lain seperti ayam, kambing, domba, dan ikan juga dapat membantu menyeimbangkan kebutuhan masyarakat.
Kebijakan pemerintah berupa subsidi bagi peternak, insentif investasi, dan pengaturan kuota impor yang tepat dinilai penting agar peternak lokal tetap memiliki ruang untuk berkembang.
Menyeimbangkan Kebutuhan dan Kemandirian
Impor sapi hidup dari Australia masih menjadi bagian penting dalam menjaga pasokan daging nasional. Namun, dalam jangka panjang, Indonesia perlu memperkuat fondasi produksi domestik agar tidak terlalu bergantung pada pasar internasional.
Dengan dukungan riset, inovasi teknologi, dan kebijakan yang konsisten, Indonesia memiliki peluang besar untuk membangun industri peternakan sapi potong yang lebih produktif, efisien, dan berdaya saing. Kemandirian protein hewani bukan hanya soal mengurangi impor, tetapi juga tentang memastikan ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan.