Belakangan ini, media sosial sempat diramaikan oleh berbagai kasus viral mengenai hewan ternak yang tertangkap kamera sedang mengonsumsi makanan konsumsi manusia, mulai dari nasi hingga nugget. Fenomena unik ini tentu memancing pertanyaan besar: apakah aman bagi kesehatan organ pencernaan hewan ternak tersebut?
Dosen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP), Fakultas Peternakan IPB University, Dr. Muhammad Baihaqi, memberikan penjelasan ilmiah terkait batas aman dan risiko di balik fenomena ini.
Beda Sistem Pencernaan: Monogastrik vs Poligastrik
Dr. Baihaqi menjelaskan bahwa pada dasarnya, domba termasuk kelompok hewan ruminansia yang memiliki anatomi serta sistem pencernaan yang sangat kontras dengan manusia.
- Manusia (Monogastric): Hanya memiliki satu lambung/perut untuk mencerna makanan.
- Domba (Polygastric): Memiliki struktur "empat" perut. Karakteristik inilah yang mengategorikan domba sebagai hewan herbivora, karena mereka dianugerahi kemampuan biologis untuk mencerna serat kasar yang tidak bisa dihancurkan oleh sistem pencernaan manusia.
Proses pencernaan serat kasar pada domba dilakukan melalui mekanisme fermentasi di dalam perutnya. Oleh sebab itu, secara kodrat biologis, domba membutuhkan jenis pakan yang berbeda dari manusia, yakni rumput dan aneka tumbuhan hijau lainnya.
Batas Aman dan Risiko Penyakit Acidosis
Meski memiliki sistem pencernaan yang berbeda, beberapa jenis makanan manusia sebenarnya bisa saja tertelan oleh domba, dengan catatan jumlahnya sangat sedikit. Secara umum, jika makanan tersebut aman bagi manusia, maka tidak akan langsung menjadi racun yang berbahaya bagi domba.
Namun, peternak atau masyarakat tidak boleh sembarangan. Karena lambung domba membutuhkan proses fermentasi, porsi terbesar dari pakannya harus tetap didominasi oleh rumput atau tumbuhan.
“Jika domba diberikan pakan yang mengandung gula, lemak atau protein yang tinggi tetapi rendah serat, maka bisa menyebabkan permasalahan saluran pencernaannya, misalnya acidosis,” peringat Dr. Baihaqi.
Oleh karena itu, porsi makanan manusia tidak boleh sampai menggeser posisi rumput sebagai pakan utama.
Ancaman Racun dari Makanan Berjamur
Hal lain yang wajib diwaspadai adalah kondisi kelayakan makanan tersebut. Memberikan sisa makanan manusia yang sudah rusak atau berjamur sangat berbahaya bagi keselamatan ternak.
Sebagai contoh, kontaminasi jenis jamur tertentu pada komoditas jagung dapat memproduksi racun berbahaya bernama aflatoxin yang bisa memicu keracunan fatal pada domba.
"Selama pemberian makanan manusia dalam jumlah yang sedikit dan domba tetap makan rumput dalam jumlah yang banyak serta makanan tersebut tidak terkontaminasi dengan mikroba berbahaya, maka hal tersebut tidak terlalu menjadi masalah," pungkas Dr. Baihaqi.