Lahan pascatambang batubara selama ini dikenal memiliki tingkat kesuburan yang rendah akibat kondisi tanah yang masam, minim bahan organik, serta rendahnya aktivitas mikroorganisme. Melalui penelitian disertasinya di Program Studi Ilmu Nutrisi dan Pakan, Sekolah Pascasarjana IPB University, Anton Kuswoyo menunjukkan bahwa lahan terdegradasi tersebut masih memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai sumber produksi hijauan pakan ternak melalui penerapan teknologi pembenah tanah dan pengelolaan hara yang tepat.
Penelitian yang dibimbing oleh Prof. Dr. Ir. Luki Abdullah, M.Sc.Agr., Prof. Dr. Ir. Panca Dewi Manu Hara Karti, M.Si., Prof. (R) Dr. Ir. Soeranto Human, M.Sc., dan Prof. Dr. Ir. Tintin Rostini, S.Pt., M.P., IPM., ASEAN Eng. ini mengembangkan strategi rehabilitasi lahan pascatambang berbasis kombinasi pembenah tanah, pupuk nitrogen, dan fungi mikoriza arbuskula (FMA) untuk meningkatkan produktivitas sorgum sebagai hijauan pakan.
Penelitian dilaksanakan dalam tiga tahapan. Tahap pertama mengevaluasi efektivitas kombinasi asam humat, dolomit, dan kompos dalam memperbaiki karakteristik tanah serta meningkatkan pertumbuhan sorgum varietas Bioguma-2. Tahap kedua mengkaji respons dua varietas sorgum, Samurai-1 dan Samurai-2, terhadap berbagai dosis pupuk urea dan aplikasi FMA pada lahan yang telah diperbaiki. Tahap ketiga menganalisis kualitas nutrien dan kecernaan hijauan sorgum secara in vitro sebagai indikator potensi pemanfaatannya sebagai pakan ternak.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi asam humat, dolomit, dan kompos menjadi perlakuan paling efektif dalam memperbaiki kualitas tanah. Perlakuan tersebut mampu meningkatkan pH tanah hingga mendekati netral, meningkatkan kandungan karbon organik, nitrogen, fosfor, kalium, kapasitas tukar kation (KTK), serta meningkatkan populasi mikroorganisme tanah dan Azotobacter sp. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap peningkatan produktivitas tanaman.
Pada panen pertama, produktivitas sorgum Bioguma-2 mencapai 40,84 ton biomassa segar per hektare dan 13,26 ton biomassa kering per hektare, jauh lebih tinggi dibandingkan lahan tanpa pembenah tanah. Selain menghasilkan biomassa yang tinggi, perlakuan tersebut juga meningkatkan kandungan protein kasar hijauan sehingga berpotensi menghasilkan pakan dengan kualitas nutrisi yang lebih baik.
Penelitian juga menunjukkan bahwa aplikasi FMA bersama pemupukan urea mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman, produksi biomassa, serta efisiensi penyerapan unsur hara pada varietas Samurai. Di antara kedua varietas yang diuji, Samurai-1 menunjukkan kemampuan ratun (regrowth setelah pemotongan) yang lebih baik sehingga dinilai lebih prospektif untuk sistem produksi hijauan berkelanjutan.
Meskipun pemberian FMA dan variasi dosis urea belum memberikan pengaruh nyata terhadap nilai kecernaan bahan kering dan bahan organik secara statistik, hasil fermentasi rumen in vitro menunjukkan kondisi yang mendukung pemanfaatan sorgum sebagai hijauan pakan bagi ternak ruminansia.
Menurut Anton Kuswoyo, hasil penelitian ini memberikan alternatif teknologi rehabilitasi lahan pascatambang yang tidak hanya berorientasi pada pemulihan lingkungan, tetapi juga mampu menghasilkan nilai ekonomi melalui produksi hijauan pakan berkualitas.
"Integrasi pembenah tanah, pemupukan nitrogen, dan fungi mikoriza arbuskula merupakan pendekatan yang efektif untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan pascatambang batubara sebagai sumber hijauan pakan ternak secara berkelanjutan," jelasnya.
Penelitian ini menawarkan pendekatan yang mengintegrasikan aspek rehabilitasi lahan, peningkatan produktivitas tanaman pakan, dan pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan. Hasilnya diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan teknologi reklamasi lahan pascatambang sekaligus mendukung penyediaan hijauan pakan bagi industri peternakan di Indonesia.
Dengan memanfaatkan lahan-lahan marginal yang selama ini kurang produktif, hasil riset ini berpotensi mendukung pembangunan peternakan berkelanjutan sekaligus memperkuat upaya reklamasi lingkungan pascatambang.