Transportasi merupakan tahapan penting dalam rantai pasok sapi potong, namun juga menjadi salah satu faktor yang dapat memicu stres pada ternak. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kesejahteraan hewan, tetapi juga berpengaruh terhadap performa produksi dan kerugian ekonomi. Berangkat dari persoalan tersebut, Edit Lesa Aditia dalam disertasinya di Pascasarjana Fakultas Peternakan IPB University, mengkaji strategi mitigasi stres transportasi pada sapi lokal melalui pendekatan yang mengintegrasikan aspek performa produksi, respons fisiologis, dan metabolit darah.

Disertasi tersebut berjudul "Mitigasi Stres Pasca Transportasi pada Sapi Lokal: Kajian Terintegrasi Performa Produksi, Respons Fisiologis, dan Metabolit Darah" ini dibimbing oleh Prof. Dr. Rudy Priyanto, Prof. Dr. Luki Abdullah, Dr. Panca Dewi MHKS, dan Prof. Dr. Wasmen Manalu.

Penelitian diawali dengan pemetaan kondisi transportasi sapi di Indonesia melalui survei terhadap 42 pengemudi yang mengangkut sekitar 500 ekor sapi pada berbagai rute, baik dalam pulau maupun antarpulau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik transportasi sapi di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan dalam aspek kesejahteraan hewan. Belum tersedianya standar operasional yang sesuai dengan kondisi tropis Indonesia, terbatasnya pemahaman pengemudi terhadap prinsip kesejahteraan hewan, serta tingginya kepadatan ternak selama pengangkutan menjadi faktor yang berpotensi meningkatkan tingkat stres pada ternak.

Penelitian juga menemukan bahwa penyusutan bobot badan meningkat seiring bertambahnya jarak tempuh. Pada transportasi jarak dekat, penyusutan bobot badan rata-rata mencapai 2,49 persen dengan waktu pemulihan sekitar 10–12 hari. Sementara itu, pada transportasi jarak jauh penyusutan bobot badan meningkat hingga 17,09 persen dengan waktu pemulihan sekitar 25–30 hari.

Pada tahap berikutnya, penelitian mengevaluasi respons 16 ekor sapi jantan, terdiri atas delapan sapi Peranakan Ongole (PO) dan delapan sapi Silangan Lokal (SL), yang menjalani transportasi sejauh sekitar 102 kilometer selama 6 jam 35 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transportasi berdurasi singkat tetap memicu respons stres fisiologis pada kedua bangsa sapi.

Perubahan tersebut ditandai dengan penurunan kadar glukosa darah dan nilai packed cell volume (PCV) setelah transportasi, serta peningkatan rasio neutrofil terhadap limfosit (N:L). Analisis lebih lanjut memperlihatkan adanya hubungan yang signifikan antara parameter fisiologis dan hematologis dengan performa produksi. Beberapa parameter, seperti frekuensi respirasi dan parameter hematologi tertentu, bahkan berpotensi menjadi indikator dalam memprediksi penurunan performa dan kerugian ekonomi akibat stres transportasi.

Penelitian ini juga menguji penggunaan pakan komplet Sorinfer sebagai bagian dari proses rekondisi pascatransportasi. Hasilnya menunjukkan bahwa pakan tersebut mampu mendukung proses pemulihan sapi lokal setelah transportasi. Meski demikian, selama periode penggemukan singkat, performa yang dihasilkan masih lebih rendah dibandingkan penggunaan konsentrat komersial.

Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa kedua bangsa sapi memerlukan waktu sekitar 10 hari untuk kembali ke bobot badan sebelum transportasi. Namun, sapi PO memperlihatkan performa rekondisi yang lebih baik dibandingkan sapi Silangan Lokal, ditunjukkan oleh bobot akhir, pertambahan bobot badan harian, dan konsumsi pakan yang lebih tinggi selama masa pemulihan.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, Edit Lesa Aditia merekomendasikan perlunya peningkatan manajemen transportasi ternak melalui penyusunan standar operasional yang sesuai dengan kondisi Indonesia, pengaturan kepadatan ternak di dalam kendaraan, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta pengaturan waktu pengiriman untuk mengurangi cekaman panas. Penelitian juga mendorong pengembangan biomarker stres yang lebih sensitif, seperti kortisol, enzim antioksidan, dan Heat Shock Protein 70, guna memperkuat sistem pemantauan kesejahteraan ternak selama transportasi.

Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar ilmiah dalam penyusunan kebijakan dan praktik transportasi ternak yang lebih memperhatikan kesejahteraan hewan, sekaligus mendukung peningkatan produktivitas sapi lokal dan efisiensi industri peternakan nasional.


Riset & Kepakaran