News

Telur ayam ras bisa terkontaminasi kuman sejak di perut induknya. Kalau induknya terpapar salmonella plorum, ayam akan sakit dan mati. Tapi kalau salmonella enteritis, ayam tidak sakit tapi kuman bisa bersarang di organ reproduksi, menempel di kuning serta putih telur dan terbawa saat telur keluar dari tubuh ayam.

“Beda dengan ayam kampung (ayam lokal dan ayam asli Indonesia). Dia mempunyai kemampuan mengeliminasi kuman (khususnya salmonella) karena sel imunnya luar biasa, sehingga tidak pernah ada temuan salmonela di telur ayam kampung sehingga telur ayam kampung aman dikonsumsi dalam kondisi mentah,” ujar Prof Dr Ir Niken Ulupi, Guru Besar Tetap Fakultas Peternakan, IPB University saat Konferensi Pers Pra Orasi di Kampus Baranangsiang, Bogor (21/11).

Karena antibodi dari induk ditransfer ke telur maka telur ayam kampung akan selalu clear dari salmonella yang bersifat zoonosis. Sementara pada ayam ras, meskipun diberi pakan yang bagus tapi antibodi di dalam darahnya sedikit sehingga tidak mampu mengatasi serangan kuman dari luar.
“Bahkan ada prevalensi telur ayam ras terkena salmonela 3,12 persen. Kalau ada 100 telur maka ada telur yang terpapar salmonela. Kalau direbus tidak matang maka bisa mengakibatkan diare (ringan), tipes (sedang) atau parahnya mati. Kalau ada orang kena tipes, jarang yang curiga kalau penyebabnya bisa dari telur,” ujarnya.

Menurutnya, hasil penelitian menunjukkan bahwa ayam asli dan ayam lokal Indonesia memiliki kemampuan hidup pada suhu tinggi di daerah tropis, dengan pakan marjinal atau berkualitas rendah dan lingkungan tidak higienis serta biaya pemeliharaannya yang lebih murah. Ayam tersebut tetap hidup dan tetap mengalami peningkatan populasi meskipun tidak tinggi.

Secara genetik, gen HSP-70 (yang mengontrol kemampuan beradaptasi pada lingkungan panas), gen pengontrol penyakit yakni gen TLR4 (yang mengontrol ketahanan tubuh terhadap penyakit infeksi bakteri) dan gen Mx (yang mengontrol ketahanan tubuh terhadap infeksi virus) serta gen SCD yang mengontrol perlemakan daging, dapat berekspresi lebih tinggi pada ayam asli dan ayam lokal Indonesia daripada ayam ras.

“Dengan demikian, ayam asli dan ayam lokal Indonesia memiliki keunggulan tahan lingkungan panas, tahan penyakit infeksi bakteri dan virus. Daging ayam kampung memiliki lemak intramuskuler lebih tinggi dengan cita rasa yang khas namun lebih sehat. Ini karena kandungan kolesterol dan malonaldehidenya lebih rendah daripada daging yang dihasilkan ayam ras,” tambahnya.

Namun keunggulan ini harus diikuti dengan peningkatan laju pertumbuhan ayam asli dan ayam lokal. Agar dapat berperan sebagai penghasil daging, ayam-ayam asli ini dapat disilangkan dengan parent stock pedaging, sehingga kecepatan pertumbuhannya meningkat.
“Inilah yang dilakukan Prof Cece Sumantri, Guru Besar Tetap Fakultas Peternakan IPB University. Ayam lokal IPB D1, rumpun baru hasil rintisan Prof Cece dan tim ini dapat dipanen di usia 12 minggu dengan bobot hidup menyamai ayam broiler umur 5 minggu (1,5 kilogram peer ekor). Ayam IPB D1 ini sudah mendapatkan SK dari Kementerian Pertanian dengan nomor 693/Kpts/PK.230/M/9/2019,” terangnya. 

Prof Niken menambahkan bahwa pengembangan ayam asli dan ayam lokal ini perlu ditangani secara industri. Industri atau perguruan tinggi atau lembaga penelitian dapat berperan sebagai breeder untuk menyediakan bibit berkualitas. Selain itu, diperlukan juga regulasi yang menjamin perlindungan terhadap semua pihak yang terlibat (ipb.ac.id)

Profesi butcher di Indonesia belum banyak jumlahnya. Di RPH ada banyak jagal tetapi mereka belum bisa dikatakan sebagai butcher. Pemerintah Indonesia saat ini sedang menggalakkan berbagai pelatihan dan sertifikasi profesi butcher untuk melahirkan butcher-butcher baru yang kompeten dan bersertifikat.

Atas hal itu, Kementerian Pertanian telah menyusun Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) sektor Pertanian untuk bidang Pemotongan Daging (Butcher). Penyusunan SKKNI bidang Pemotongan Daging (Butcher) bertujuan untuk memberikan acuan baku tentang kriteria standar kompetensi kerja tenaga ahli Pemotong Daging berdasarkan topografi karkas (Butcher) bagi para pemangku kepentingan (stakeholders) dalam rangka mewujudkan Butcher yang profesional dan kompeten.

”Kompetensi Kerja mempunyai arti sebagai kemampuan kerja seseorang yang dapat terobservasi, serta mencakup atas pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja seseorang dalam menyelesaikan suatu fungsi dan tugas atau pekerjaan sesuai dengan persyaratan pekerjaan yang ditetapkan," kata Staf Pengajar Fakultas Peternakan IPB Dr Ir Henny Nuraini, MSi dalam Pelatihan Butcher dan Sertifikasi Kompetensi bidang pemotongan daging (butcher) level yunior (SKKNI) yang berlangsung pada tanggal 18- 22 November dan 25- 27 November 2019 di Fakultas Peternakan IPB. Acara yang dilaksanakan dengan berkolaborasi dengan BBPKH Cinaragara tersebut dimulai dengan beberapa materi penting, antara lain tentang penerapan K3, jaminana keamanan dan mutu produk serta higiene, dan kemudian dilanjutkan dengan materi dan praktek mengoperasikan pisau dan kebijakan mutu dari tim BBPKH.

Henny menjelaskan, berdasarkan peta fungsi, jabatan Butcher diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) level yaitu Junior, Senior, Master. Masing-masing level tersebut mempunyai keterampilan dengan kompetensi berbeda yang sifatnya berjenjang dan harus lulus uji kompetensi pada level sebelumnya.

Dengan adanya para butcher yang tersertifikasi, maka dapat dihasilkan tenaga-tenaga butcher profesional yang berkompeten, sehingga dapat memiliki daya saing yang tinggi dengan tenaga asing -yang diharapkan peluang kerja untuk profesi Butcher profesional di Indonesia dapat diisi oleh SDM dalam negeri. (majalahinfovet.com)

Pisau merupakan alat untuk memotong suatu benda, yang terdiri dari dua bagian utama, yakni bilah pisau dan gagang atau pegangan pisau. Pisau-pisau yang khas untuk memotong atau memproses daging haruslah merupakan pisau yang bermutu tinggi yang mempunyai kekerasan bilah melebihi HRC 53 ke atas.

"Seorang butcher wajib untuk memiliki pisau bermutu tinggi. Pisau-pisau yang bermutu tinggi tidak murah, tetapi dapat tahan seumur hidup, dan pisau-pisau tersebut berharga untuk diinvestasikan,” kata Elies Lasmini, S.Pt,M.Si, Widyaiswara Ahli Madya Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, Kementerian Pertanian RI dalam Pelatihan Butcher dan Sertifikasi Kompetensi bidang pemotongan daging (butcher) level yunior (SKKNI) yang berlangsung pada 18-22 November dan 25- 27 November 2019 di Fakultas Peternakan IPB Bogor. Pelatihan diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) IPB bekerjasama dengan BBPKH Cinaragara.

Karena pisau merupakan senjata penting bagi seorang butcher, maka perawatan rutin pisau mutlak harus dilakukan. Elies menandaskan, pada dasarnya perawatan dan pemeliharaan pisau meliputi pencucian atau sanitasi, dan pengasahan pisau untuk mempertahankan ketajamannya.

Lebih jauh Elies memberi beberapa saran perawatan pisau, yakni setelah dipakai, pisau harus dibersihkan, dikeringkan, dan kemudian dilapisi pelumas untuk selanjutnya disimpan di tempat kering. Demikian juga jika sudah dipegang blade-nya juga harus dibersihkan, karena garam dari keringat dapat menyebabkan pisau berkarat. “Cuci segera pisau setelah digunakan untuk memotong bahan yang mengandung asam. Hal ini bertujuan untuk menjaga wana pisau agar tidak cepat berubah dan berkarat,” kata Elies.

Pisau juga jangan digunakan untuk mengorek-ngorek bara api, karena bisa mengakibatkan proses tempering atau penurunan dari kekerasan baja pisau, sehingga mudah tumpul. Demikian juga dengan penggunaannya, harus tepat sesuai dengan jenis dan fungsinya. Misalnya pisau tebat untuk menebas, pisau skinner untuk menguliti atau mengupas -tidak untuk dibacokkan ke tulang. “Jadi, gunakan pisau sesuai dengan bentuk, ukuran, ketebalan serta sudut ketajaman pisaunya,” kata Elies sembari menambahkan, jika pisau tidak dipakai dalam jangka waktu lama, setelah dicuci dan dilap kering, oleskan minyak goreng pada pisau tipis-tipis saja, kemudian lap dengan tisu.

Pada saat disimpan, sebaiknya pisau dibungkus dengan kertas tisu, dan sebelum menggunakan pisau yang telah lama disimpan, bersihkan dulu dengan lap bersih untuk menghindari kontaminasi bakteri dari pisau (livestockreview.com)

Daging adalah otot yang telah mengalami konversi menjadi daging, merupakan bagian dari karkas sapi yang sehat, disembelih secara halal dan benar serta lazim, aman dan layak dikonsumsi oleh manusia. Sebagai salah satu bahan makanan bernilai gizi tinggi baik bagi manusia maupun mikroorganisme, daging menjadi bahan makanan yang mudah rusak, sehingga untuk dapat memperpanjang umur simpang daging, harus diterapkan sistem rantai dingin selama produksi, penyimpanan dan transportasi/distribusi daging dan produk olahannya. Hal itu dimaksudkan, untuk mencegah atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme dan menghambat aktivitas enzim pada daging.

Sistem rantai dingin dapat dilakukan dengan penyimpanan dingin dan penyimpanan beku. “Ruang pendinginan merupakan tempat untuk menyimpan atau mendinginkan pangan segar dengan suhu antara 0°C hingga dengan -1°C dan kelembaban 90–95%. Adapun ruang pembekuan merupakan tempat penyimpanan pangan beku dengan suhu dengan suhu antara -18°C sampai -25°C dan kelembaban 95 – 98%,” kata Elies Lasmini, S.Pt,M.Si, Widyaiswara Ahli Madya Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, Kementerian Pertanian RI dalam Pelatihan Butcher dan Sertifikasi Kompetensi bidang pemotongan daging (butcher) level yunior (SKKNI) yang diselenggarakan oleh FLPI IPB dan BBPKH Cinaragara, dan berlangsung pada 18-22 November dan 25- 27 November 2019 di Fakultas Peternakan IPB Bogor.

Dalam penyimpanan dingin daging sapi, Elies memberi petunjuk praktis tata cara penangannya, yakni daging segar yang tidak akan digunakan lagi dibungkus menggunakan plastik film, yang berfungsi agar permukaan daging tidak keras karena temperatur yang rendah. Setelah itu, masuk ke dalam refrigerator atau chiller, dan ditempatkan pada bagian yang paling dingin. Prinsip first in first out (FIFO) harus diterapkan, sehingga penulisan tanggal daging masuk harus ada.

Sedangkan untuk persyaratan memperoleh daging beku yang baik, Elies memaparkan, daging segar harus berasal dari ternak yang sehat, pengeluaran darah pada saat pemotongan harus sesempurna mungkin, periode pelayuan harus dibatasi, karkas atau daging dibungkus mengunakan material yang berkualitas baik, dan temperatur pembekuan setidak-tidaknya -18ºC atau lebih rendah. (kulinologi.co.id)

 

Fakultas Peternakan, IPB University mengadakan acara Lokakakarya ke 1 Kurikulum K2020 Program Sarjana. Lokakarya diadakan pada tanggal 20 November 2019 tersebut diselenggarakan di ruang sidang Fakultas Peternakan IPB. Acara tersebut dihadiri oleh Plt Dekan Fakultas Pertanian, Wakil Dekan, Kepala dan Sekretaris Departemen serta guru besar dan dosen dari  Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Serta dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan.