News

  • Dosen IPB Kembangkan Pakan Ternak Dari Limbah

    Guru Besar IPB Prof Yuli Retnani, MSc mengembangkan inovasi pakan yang bersumber dari limbah sayuran di pasar untuk meningkatkan produktivitas ternak, khususnya di perkotaan, daerah rawan pakan dan bencana.

    "Produk pakan yang dihasilkan dari pengolahan pakan bisa berbentuk mash, pellet, crumble, biskuit dan wafer," kata Yuli di Bogor, Jawa Barat, Sabtu.

    Dikatakannya, inovasi ini telah dikembangkannya sejak 2009. Dengan adanya teknologi pengolahan pakan yang awet, mudah, murah dan tersedia sepanjang musim diharapkan peternakan di Indonesia dapat tumbuh produktif, tanpa bergantung pada ketersediaan rumput dan hijauan pada musim paceklik, terutama di daerah rawan pakan dan bencana serta daerah perkotaan yang ketersediaan lahan terbatas.

    Dijelaskannya, inovasi pakan terdiri atas wafer pakan dan wafer suplemen pakan. Wafer pakan sebagai pengganti hijauan sedangkan wafer suplemen pakan sebagai suplemen dengan tujuan khusus seperti untuk meningkatkan bobot badan atau untuk menurunkan mortalitas.

    "Pembuatan wafer limbah sayuran pasar dilakukan dengan memanfaatkan limbah sayuran terbuang," katanya.

    Menurutnya, salah satu limbah yang banyak terdapat di sekitar lingkungan masyarakat adalah limbah sayuran pasar. Limbah sayuran setiap minggu semakin bertambah dan sulit untuk mencari pembuangan sampah.

  • Guru Besar IPB : Kesejahteraan Hewan Ternak Menentukan Kualitas Daging

    Kesejahteraan hewan akan terpenuhi bila hak-hak hewan (animal rights) minimal dapat terpenuhi. Terdapat lima prinsip dari kesejahteraan hewan, yaitu bebas rasa lapar dan haus, bebas dari rasa tidak nyaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari rasa takut dan stres dan yang terakhir bebas untuk mengekspresikan tingkah laku alamiah. Ketika hewan telah memenuhi prinsip tersebut maka dapat dikatakan bahwa hewan dapat memperoleh kesejahteraannya. Tidak hanya pada hewan biasa, pada hewan ternak pun perlu diperhatikan kesejahteraanya. Terutama hewan-hewan ternak yang menjadi salah satu instrumen dalam sebuah pengetahuan, baik hewan ternak untuk praktikum maupun penelitian.
     
    Guru Besar Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP) Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Dewi Apri Astuti, mengatakan perlu ada petunjuk atau buku panduan bagi pemeliharaan serta pengarahan dalam perlakuan hewan ternak. Menurutnya, perlakuan yang buruk dapat menurunkan kualitas produk daging bahkan dapat terjadi kematian akibat hewan yang stres. Terdapat beberapa poin yang perlu diperhatikan selama terdapatnya penggunaan hewan ternak baik sebagai riset maupun praktikum. Pertama, perlu dibuatnya fasilitas (kandang, tempat makan dan minum) yang baik, aman, nyaman dan cukup luas untuk hewan ternak. 
     
    Selain itu juga diperlukannya lingkungan yang baik seperti hijauan pakan dimana para hewan dapat keluar dari kandang mereka dan melakukan gerak badan (exercise). Kedua, perlu diperhatikan pakan dan air minum. Jumlah dan jenis pakan perlu diperhatikan baik setelah terlaksananya penelitian maupun sebelum peneltian, sehingga hewan dapat tetap hidup. Ketiga, perawatan saat dilakukannya kegiatan penelitian dan praktikum. Para peneliti yang melakukan hal tersebut perlu didampingi oleh ahli perawatan hewan, sehingga menghindari terjadinya kecelakaan akibat hewan merasa tidak nyaman dan tersakiti. Keempat, yang sangat perlu diperhatikan yakni proses memindahkan hewan ternak dari satu tempat ke tempat lain. Perlu transportasi yang memadai dimana hewan dapat merasa nyaman selama perjalanan. Karena saat ini di jalan-jalan masih banyak dapat kita jumpai hewan-hewan yang diangkut dengan transportasi dengan tidak memperhatikan kenyamanan hewan tersebut, yang pada jangka panjangnya dapat mempengaruhi kesehatan dari hewan ternak tersebut dan bahkan dapat menyebabkan kematian. Kelima, pengkayaan (enrichment). Semua jenis hewan memiliki jenis pengkayaan yang berbeda satu sama lainnya, contohnya seperti hewan unggas tidak akan tahan angin kencang saat masih kecil sehingga perlu kandang yang lebih hangat. 
     
    Setiap hewan memiliki ciri khas khusus sehingga perlu mengetahui apa saja jenis pengkayaan bagi hewan tertentu yang nantinya akan digunakan sebagai riset maupun praktikum. Poin yang terakhir yaitu sirkulasi angin yang baik diperlukan bagi hewan. Terutama bagi hewan-hewan ruminansia (seperti sapi dan kambing) yang dapat menghasilkan gas-gas amonia yang tinggi. Selain itu perlu mengetahui sifat dari hewan ternak tersebut, apakah mereka senang bergerombol atau soliter (sendiri), agar tidak menyebabkan hewan menjadi stres karena kesepian.
    IPB memiliki komisi kesejahteraan hewan yang bernama Komisi Etik Hewan (KEH) yang diketuai oleh drh. Ni Wayan Kurniani Karja, MP, Ph.D, terdiri dari beberapa anggota yang di dalamnya terdapat beberapa ahli, baik ahli dalam perawatan hewan maupun ahli hewan ternak, ujar Prof. Dewi.
     
    Ke depan, diharapkan terdapat sebuah panduan bagi para mahasiswa dan peneliti untuk menjadi sebuah acuan dalam pemeliharaan hewan ternak sebagai hewan penelitian maupun praktikum. Dengan demikian penelitian dapat berjalan dengan baik dengan memberikan kebutuhan dasar yang utama bagi hewan ternak.(megapolitan.antaranews.com)
  • Hasil Penelitian: Campurkan Tanin Pada Pakan Ternak Kurangi Emisi Gas Metana

    Hasil penelitian Dosen Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor Anuraga Jayanegara menunjukkan, manipulasi pakan ternak dapat mengurangi emisi gas metana (CH4). Ia mengatakan, manipulasi pakan dengan mencampurkan tanin pakan adalah salah satu cara mitigasi untuk mengatasi perubahan iklim yang disebabkan efek gas rumah kaca. "Gas metana dari ternak ruminansia juga menjadi salah satu penyebab efek gas rumah kaca," kata Anuraga seperti dikutip dari laman Republika, Senin, (09/05).

    Menurutnya, ternak ruminansia seperti sapi, kerbau, kambing dan domba turut berperan dalam peningkatan emisi gas rumah kaca di atmosfer.  Tipikal emisi gas rumah kaca berasal dari kontribusi ruminansia berdampak pada pemanasan global. Gas metana dihasilkan selama proses fermentasi pakan berserat di dalam rumen dan dikeluarkan ke lingkungan melalui ekskresi. Akibatnya lingkungan semakin tercemar karena meningkatnya gas metana di udara.

    "Hasil penelitian membuktikan pemanfaatan bahan pakan lokal yang mengandung tanin sebagai alternatif penurunan produksi gas metana," tutur Kepala Sub Bidang Pengembangan Karir Mahasiswa Direktorat Pengembangan Karir dan Hubungan Alumni IPB ini. Tanin, lanjutnya, adalah senyawa metabolit sekunder tanaman atau pilfenol yang banyak terdapat pada hiajuan pakan ternak, bersifat antinutrisi dan dapat menyebabkan keracunan apabila dikonsumsi ternak secara berlebihan. "Tanin dapat mengurangi produk gas metana saat proses pencernaan berlangsung, karena dapat menghambat pertumbuhan bakteri metanogen yang memproduksi gas metana," katanya. Ia mengatakan, jenis tanaman yang banyak mengandung tanin misalnya tanaman leguminosa atau kacang-kacangan. Caranya dengan mengekstrak tanaman tersebut, lalu diambil taninnya dan dijadikan pakan adiktif. Ia menambahkan, ada dua cara mengetahui penurunan kandungan gas metana yang dihasilkan ternak ruminansia, yakni melalui pengukuran gas metana dari hasil pertukaran gas yang terjadi saat ternak ruminansia dimasukkan ke dalam respiratory chamber. "Dan cara kedua melalui simulasi in vitro yakni dengan mensimulasikan rumen rumenansia kemudian dimasukkan pakan yang mengandung tanin dan cairan rumen, lalu diukur produksi gas yang terjadi," kata pengajar berprestasi dari Fakultas Peternakan IPB ini. (alumniipb.org)

  • IPB Gelar Kontes Ayam Pelung

    Kontes Ayam Pelung merupakan salah satu rangkaian dari Festival Ayam Pelung Nasional (FAPN) yang diselenggarakan  Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (IPB).  Kontes ini berlangsung pada hari Minggu (17/9) bertempat di Lapang Rektorat Kampus IPB Dramaga. Sehari sebelumnya digelar Talkshow Keindahan Ayam Lokal Indonesia dan Kontes Judjing Ayam Pelung untuk mahasiswa.

    ''Kontes Judjing Ayam Pelung ini diperuntukkan bagi mahasiswa dengan tujuan untuk melatih bagaimana caranya menilai ayam pelung,'' tegas Bimo Prayogo, Ketua Pelaksana FAPN IPB. Kriteria penilaian ayam pelung ini diantaranya : penampilan atau performa, bobot, dan suara.

    Kontes ayam pelung yang merupakan kegiatan tahunan ini diikuti sekitar 120 kontestan dari seluruh wilayah di Indonesia.

    ''Dari Lampung kami mengikutsertakan lima kontestan sebagai ajang silaturahim dengan teman-teman sesama penggemar ayam pelung dan supaya tahu juga perkembangan ayam pelung di Indonesia,'' ujar Abu Musa, Ketua Pelungers Lampung saat ditanya terkait motivasinya mengikuti acara tersebut.

    Kontes ini memperebutkan tiga piala diantaranya Piala Menteri Pertanian untuk Juara Umum, Piala Rektor IPB untuk Juara Satu dan Piala Dekan Fakultas Peternakan IPB untuk Juara Kedua.

    Selain kontes, kegiatan tersebut juga dimeriahkan dengan lomba fotografi dan pameran ayam ekor panjang (megapolitan.antaranews.com)

  • Pakar: Konsentrat hijau solusi kurangi pakan impor

    Bogor, (Antaranews Bogor) - Guru Besar Fakultas Peternakan IPB Prof Luki Abdullah mengemukakan konsentrat hijau sebagai pakan padat nutrisi berbahan baku utama tanaman Indigofere zollingeriana kini dapat menjadi solusi mengurangi ketergantungan pada produk impor.

     "Konsentrat hijau merupakan pakan padat nutrisi dengan kandungan serat kasar kurang dari 18 persen yang bahan bakunya berasal dari hijauan pakan," kata Prof Luki kepada wartawan dalam acara "coffee morning" rencana Pengukuhan Guru Besar IPB di Kampus Dramaga Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat.

    Prof Luki menjelaskan, konsentrat hijau dalam ransum berfungsi untuk mengoreksi kekurangan nutrisi yang tidak didapatkan dari bahan lain.

    "Salah satu legum prospektif di Indonesia yang bisa dikembangkan sebagai bahan konsentrat hijau adalah indigofera zollingeriana. Indogofera ini telah diamati sejak tahun 2008," kata Prof Luki.
  • 17/3/2016 | Studium Generale : Ronald Knust Gaichen dari STOAS Vilentum University

    Studium Generale oleh Ronald Knust Gaichen dari STOAS Vilentum University

    Tema : "How to design and improvement of written exams"

    Hari, Tanggal : Kamis, 17 Maret 2016

    Waktu : 10.00 - 12.00 WIB 

    Tempat : Ruang Sidang Fakultas Peternakan IPB Lantai 3 Wing 2

  • Alumni Fapet IPB Raih Ramon Magsaysay Award 2017

    Ir. Abdon Nababan, alumni Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB) angkatan 19 berhasil meraih penghargaan bergengsi tingkat Asia. Pria yang saat kuliah aktif dalam kegiatan Lawalata (pencinta alam) ini meraih Ramon Magsaysay Award 2017 untuk kategori Community Leadership dari seluruh Asia.

    Ramon Magsaysay Foundation  merupakan penghargaan untuk kepemimpinan yang menginspirasi dan membawa perubahan. Beberapa nama yang pernah mendapat penghargaan ini adalah Dalai Lama ke-14 pada 1959, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada 1993, dan Syafi’i Ma’arif (PP Muhammadiyah) pada 2008.

    Menurut pihak Ramon Magsaysay Award, Abdon merupakan seorang pemimpin yang membawa perubahan. Keberanian dan advokasinya menjadi suara dan wajah bagi masyarakat adat di Indonesia.

    Abdon merupakan pemimpin perjuangan Masyarakat Adat di Nusantara (AMAN) bahkan sebelum era reformasi. Acara lima-tahunan Kongres Masyarakat Adat Nusantara menunjuknya sebagai Sekretaris Jenderal AMAN, di dua periode berturut-turut, yaitu 2007-2012 dan 2012-2017. Kini Abdon duduk di Dewan AMAN Nasional 2017-2022 mewakili Region Sumatera.

    Dalam periode kepemimpinannya, kerja AMAN telah berkontribusi positif terhadap perjuangan hak-hak masyarakat adat di negara ini. Beberapa diantaranya adalah Putusan Mahkamah Konstitusi No. 35/PUU-X/2012 tentang Hutan Adat, Pencantuman Peta Wilayah Adat sebagai Peta Tematik oleh Badan Informasi Geospasial, dan Inkuiri Nasional oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia tentang pelanggaran hak-hak masyarakat adat di kawasan hutan. AMAN pun secara aktif mendorong dan memfasilitasi Rancangan Undang-Undang Masyarakat Adat (RUU MA). RUU ini kini ada di Program Legislasi Nasional DPR RI untuk 2017.

    Masih di periode kepemimpinannya, AMAN memastikan pencantuman enam poin terkait masyarakat adat di dalam visi dan misi Presiden Joko Widodo (dikenal sebagai NAWACITA). Hasil paling nyata adalah penyerahan Surat Keputusan Pengakuan Hutan Adat kepada sembilan masyarakat adat oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara pada akhir Desember 2016.

    Penghargaan tahunan ini diberikan oleh Ramon Magsaysay Foundation, yang berbasis di Filipina. Acara penyerahan tahun ini dijadwalkan pada 31 Agustus di Manila. Penghargaan Nobel Asia ini diumumkan resmi pada Kamis, 27 Juli 2017.(ipb.ac.id)

  • Audit Eksternal ISO 9001:2008 oleh Sucofindo

    Pada tanggal 25 - 26 Februari 2016, SUCOFINDO melakukan audit (Surveillance Audit Sertifikasi ISO 9001: 2008)  terhadap pelaksanaan pelayanan akademik di Fakultas Peternakan IPB. Bertindak selaku auditor adalah Bapak Firman Suryalaga, yang didampingi oleh tim dari Fakultas Peternakan IPB. Audit oleh SUCOFINDO ini secara rutin dilakukan setiap tahunnya. Adapun tujuan audit eksternal kali  ini adalah untuk Memastikan kesesuaian Sistem Manajemen Mutu Organisasi serta Memastikan Sistem Manajemen Mutu Organisasi sesuai dengan persyaratan ISO 9001:2008 dengan pelaksanaan kegiatan pada ruang lingkup yang ditetapkan, yaitu pelayanan akademik.

    Audit eksternal yang berlangsung selama dua hari tersebut, diawali dengan Rapat Pembukaan pada Hari Kamis, 25 Februari, pukul 9.30 pagi, yang dilanjutkan dengan pemeriksaan kesesuaian pelaksanaan kegiatan pelayanan dengan POB yang telah dituliskan dalam dokumen ISO di Bidang Management Representative, dan kemudian dilakukan audit di bidang layanan akademik. Pada hari Kedua, Jumat, 26 Februari 2016, kegiatan audit dilanjutkan dengan pemeriksaan dokumen bidang Tata Usaha dan infrastruktur/maintenance.

    Dari  bidang-bidang  yang diperiksa kesesuaiannya, masih ditemukan adanya kekurangan-kekurangan, pencapaian target yang tidak tercapai, dan beberapa kekurangan lain. Semua menjadi masukan dan koreksi yang sangat berharga bagi Fakultas Peternakan, untuk dapat diperbaiki di masa mendatang, demi terlaksananya pelayanan akademik yang berkualitas. Setelah seluruh rangkaian kegiatan audit eksternal ini selesai, maka pada sore harinya sekitar pukul 15.00 dilakukan penutupan oleh Dekan Fakultas Peternakan. Atas pelaksanaan kegiatan audit ini, kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Firman Suryalaga selaku auditor, serta kepada SUCOFINDO.

    Semoga kita dapat terus bersinergi demi kemajuan Fakultas Peternakan IPB, masyarakat, dan bangsa Indonesia.

  • BEM-D menyelenggarakan Kajian Peternakan Indonesia

    Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Peternakan IPB (BEM-D) menyelenggarakan acara : KPI -  Kajian Peternakan Indonesia,  pada hari Sabtu, 27 Mei 2017. Acara yang diselenggarakan di Auditorium JHH Fapet IPB tersebut menghadirkan narasumber : menghadirkan Ir. H. Suswono, MMA (Menteri Pertanian RI ke-26), Drh. Nanang Purus Subendro selaku peternak sapi potong Lampung, dan Prof. Dr. M. Firdaus, S.P, M.Si selaku pengamat ekonomi.

    KPI "Kajian Peternakan Indonesia" dengan  tema "Mengupas Impor Daging Kerbau dan Mengawal Harga Daging Sapi Menjelang Bulan Ramadhan" merupakan program kerja dari BEM-D yang bertujuan untuk mengkaji secara lebih dalam tentang keadaan peternakan di Indonesia.  Kajian yang dimoderatori oleh   Tri Wahyudi (Wakil Ketua BEM-D Fapet IPB 2015/2016) menghasilkan  beberapa poin penting diantaranya :

    1. Perlu dilakukan sensus populasi ternak khususnya ruminansia secara tepat dan akurat.
    2. Kesadaran politik rakyat harus ditingkatkan.
    3. Impor diperbolehkan hanya untuk memenuhi kekurangan daging dalam negeri
    4. Penentuan harga impor sebaiknya diberikan juga subsidi
    5. Untuk mencapai swasembada harus tersedia populasi ternak melalui peningkatan jumlah indukan.
    6. Untuk meningkatkan daya beli rakyat, peran pemerintah sangat diperlukan misalnya membuka lapangan pekerjaan dan mensejahterakan rakyat
    7. Usaha feedlot dalam negeri yang hanya mengandalkan bahan pakan dalam negeri sulit untuk berkembang
    8. Peternak tidak menikmati kenaikan harga daging saat menjelang lebaran
    9. Kenaikan harga daging mungkin untuk menutupi kerugian harga bahan-bahan lain yang tidak laku saat menjelang lebaran
    10. Harga daging saat ini, sudah mendapat subsidi dari peternak
    11. Impor daging kerbau dari India akan merugikan peternakan rakyat
    12. Kebijakan pemerintah untuk peternakan sebaiknya berkelanjutan
    13. Kebijakan pemerintah saat ini seperti berkebalikan, pada siwab bertujuan untuk swasembada daging (meningkatkan populasi ternak dan jumlah peternak) sedangkan kebijakan yang satunya adalah mengimpor daging kerbau dari India.
    14. Kebijakan pemerintah harus sinergi dengan produsen dan konsumen.

    Dengan adanya kajian tersebut diharapkan dapat menjadi  input positif bagi kondisi peternakan di Indonesia. (Sumber BEM-D Fapet)

  • Berdayakan Pemuda Pertanian, Mahasiswa IPB Terpilih sebagai Delegasi

    Sebagai perwakilan Jawa Barat, Sugih membawa projek sosial yang berjudul Agreeneration (Agriculture Generation) bersama komunitas Bogor Youth Impact untuk menciptakan generasi pertanian masa depan melalui pendidikan pertanian. Selain itu, Agreeneration juga membuat konsep urban farming dalam satu RW yang dikelola bersama untuk mengurangi angka pengangguran pada usia muda dalam memanfaatkan potensi lokal daerahnya. Agreeneration juga bertujuan untuk mempersiapkan pemuda tingkat RW dalam bonus demografi yang akan datang. Proyek ini berhasil menjadi proyek terpilih dalam pendanaan dan mentorship dari Kedutaan Besar Amerika di Jakarta pada acara Youth For Sustainable Development Small Grants Competition. (ipb.ac.id)

  • Bina Desa Mahasiswa Fapet IPB

    Dalam rangka mempererat hubungan civitas akademika, khususnya Fakultas Peternakan, dan umumnya Institut Pertanian Bogor dengan masyarakat, Biro Pengabdian Masyarakat Himpunan Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak 2015/2016 Institut Pertanian Bogor (HIMASITER) mengadakan program BINA DESA, di Desa Situ Udik Kecamatan Cibungbulang Bogor, tanggal 2 Oktober 2016, pukul 12:00 s/d selesai.

    Dalam kegiatan tersebut dilakukan beberapa kegiatan diantaranya: pemaparan materi oleh Pristian Yuliana S Pt, M Si tentang Pengembangan Pakan Berbasis Sumber Daya Lokal Usaha Peternakan Domba di Indonesia dengan Dukungan Teknologi, dan Penyemaian benih indigofera yang dijelaskan oleh Rini Yuniarty. Mahasiswa INTP Angkatan 52 mempraktekkan pelatihan pembuatan silase & amoniasi yang dipandu oleh Gede Made. Pada kegiatan itu juga dilakukan penanaman bibit Indigofera yang dipandu oleh Syahril Abdullah. Selain itu juga, HIMASITER membagikan benih Indigofera kepada masyarakat.

    Program Bina Desa merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat. Tujuan dari Bina Desa adalah membangun dan mempererat hubungan civitas akademika dengan masyarakat. Lewat program itu, diharapkan mahasiswa dapat membantu warga desa untuk mengembangkan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang ada.

  • Buat Disain Methane Detector Digital, Sofyan Wakili IPB di Tingkat Nasional

    Dengan membuat disain methane detector dari bentuk sirkuit menjadi digital, Sofyan, S.S, Manajer Teknis Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (IPB) berhasil mewakili IPB dalam Lomba Akademisi Berprestasi Tingkat Nasional Kategori Pranata Laboran. “Karya saya tersebut sudah didaftarkan di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual. Peluang terbuka bagi saya dapat menjual alat ini jauh lebih murah dibandingkan dengan membeli dalam bentuk utuh, dan sudah ada peneliti dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Loka Penelitian Kambing Potong Kementerian Pertanian, Propinsi Sumatera Utara yang memesan alat methanedetector ini apabila sudah dikomersialisasikan,” ungkap Sofyan.

    Keunggulan methane detector ini diantaranya: disain lebih praktis dan sederhana sehingga dapat dibawa ke lapangan, metode analisis lebih sederhana, waktu analisis lebih cepat, pemakaian bahan kimia lebih hemat, pengoperasian alat lebih mudah dipahami, akurasi data analisis lebih valid, pelayanan pengabdian masyarakat lebih efektif  dan efisien serta biaya pembelian lebih murah.

    Selain disain methane detector, Sofyan juga membuat inovasi berupa alat-alat laboratorium dari alat-alat yang sederhana yang dipakai ibu rumah tangga sehari-hari di dapur seperti hotplate biasa. Alat-alat tersebut sangat menunjang pelaksanaan praktikum agar  lebih efektif dan efesien. Terlebih jumlah alat-alat laboratorium terbatas tidak sebanding dengan jumlah kelompok praktikum mahasiswa. Alat ini sangat penting pada proses destruksi protein untuk mengetahui kadar protein bahan pakan yakni memanaskan sampel. Kekurangan hotplate biasa ini  adalah proses pemanasannya agak lama. “Namun saya mensiasatinya dengan menambahkan katalisator agar proses destruksi proteinnya cepat. Penggunaan hotplate ini masih mengikuti kaidah ilmiah,” jelas  Mahasiswa S2 Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan  Lingkungan  (PSL) IPB ini.

    Sofyan bersama teman-temanya juga membuat Heater Extractor Apparatus yakni alat analisis kadar serat kasar, kalsium dan fosfor. “Laboratorium kami hanya memiliki enam buah, itu pun sudah berusia tua dan  tidak cukup untuk keperluan praktikum mahasiswa. Saya coba disain alat ini dan meminta bengkel mesin biasa untuk membuatnya dua buah lagi. Hasilnya, Heater Extractor Apparatus sederhana, murah dan buatan lokal,” urai Pranata Laboratorium Pendidikan Berprestasi II Tingkat Fakultas tahun 2014 ini.  Sementara Heater Extractor Apparatus yang ada buatan impor, proses pengadaannya pun membutuhkan waktu lama seperti tender dan belum tentu disetujui. Sedangkan buatan bengkel ini biayanya murah dan pengadaannya cepat. Biaya pembuatannya diambil dari biaya operasional laboratorium. Alat-alat tersebut sudah lulus uji profisiensi atau uji banding dengan 38 laboratorium lain di Indonesia oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Uji profisiensi bertujuan untuk menguji kualitas atau mutu hasil uji suatu laboratorium dengan menggunakan Z-score. (ris - ipbmag)

  • Buka Puasa Bersama Anak Soleh

    himasiterfoto:himasiterHimpunan Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan IPB,  mengadakan acara "Ramadhan Ceria - Buka Bersama Anak Soleh", bersama murid-murid TPA di Gunung Handeuleum, Desa Situ Udik, Cibungbulang, pada hari Sabtu, 18 Juni 2016, pukul 14.30 WIB - Selesai.

    Acara diawali dengan pembukaan dan dilanjutkan dengan perlombaan (hafalan surah pendek, adzan, dan kaligrafi). Sekitar 100 orang murid TPA memeriahkan acara yang diadakan untuk mengisi waktu datangnya berbuka puasa.

    Acara buka puasa ini diselenggarakan oleh Biro Pengabdian Masyarakat, Himpunan Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak 2015/2016, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor

  • Calon Rektor IPB Prof Luki Abdullah, Impor Daging Hancurkan Kultur Peternak

    Inilah bakal calon rektor (BCR) yang berbicara jauh di luar kotak norma lembaga IPB saat ini. Adalah Profesor Luki Abdullah, guru besar Fakultas Peternakan IPB, memiliki pandangannya sangat jauh ke depan. ”Ia ingin membawa ke luar IPB dari keterkurungannya,” kata Hazairin Sitepu yang menghabiskan waktu lebih dari dua jam untuk berdiskusi dengan Profesor Luki. Berikut rangkumannya, disajikan secara tanya-jawab.

    HS: Bagaimana Anda melihat pertanian dari sektor peternakan?

    LA : Saya melihat peternakan adalah satu sektor yang sangat menarik. Ada lebih dari Rp 400 triliiun omsetnya di Indonesia. Cukup besar.. Dan ini terus meningkat. Artinya bahwa animo masyarakat maupun pengusaha masuk dunia peternakan ini tinggi, walaupun sebenarnya investasi dari luar masih rendah. Sejumlah Rp 400 triliun itu sirkulasi omset per tahun. APBN kita saja Rp 2000 triliun. Berarti omset sektor peternakan itu setara dengan 20% APBN. Jadi cukup besar. Karena itu, ini menjadi sangat seksi. Hanya persoalannya, besarnya seperti itu belum menunjukan profil sebenarnya dari masyarakat industri peternakan Indonesia.

    Pada dasarnya saya melihat dua hal. Pada satu sisi petani kita ini adalah peternak yang masih tradisional. Tidak mengandalkan peternakan itu sebagai aktivitas bisnis. Baru sebatas sebagai saving. Tetapi itu bisa menjadi buffer kehidupan mereka tanpa harus menyusahkan pemerintah. Ketika ingin menyekolahkan anak, mereka menjual sapi. Itu lah yang terjadi secara tradisional.

    Pada sisi lain, industri juga mulai berkembang. Sektor swasta dan investasi di bidang peternakan saat ini juga meningkat.

    Saya ingat tiga tahun yang lalu, itu masih sekitar 8% an di sapi, kalau di unggas sudah relatif tinggi. Sapi sekarang menggeliat makin meningkat. Dengan begitu saya berpikir positif: kita menghadapi dua sisi gap. Satu sisi percepatan investasi ini akan berkembang dengan bagus, pada sisi lain akan ada ketertinggalan masyarakat yang jumlahnya besar.

    Angkanya sekitar 70% populasi peternakan sapi itu ada di masyarakat, 30% industri. Artinya, kalau industri itu sudah menerapkan SOP, menerapkan precise farming, dan lain sebagainya, dari kacamata saya, sebenarnya PR besar IPB adalah bagaimana mentransformasi peternakan atau pertanian Indonesia itu ke arah pertanian atau peternakan yang lebih modern.

  • Dendeng Sapi Formula Bumbu Kaya Antioksidan Ala IPB

    Dendeng adalah salah satu produk olahan daging yang sangat digemari oleh banyak masyarakat di Indonesia. Dendeng sapi menurut Standard Nasional Indonesia (SNI) adalah produk makanan berbentuk lempengan yang terbuat dari irisan  daging sapi segar yang berasal dari sapi sehat yang telah diberi bumbu dan dikeringkan.
     
    Penambahan bumbu bernuansa rempah khas Indonesia dan proses pembuatan dendeng mampu meningkatkan cita rasa dan aroma dari produk dendeng yang dibuat.
     
    Empat orang pakar dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP) Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB) yang terdiri dari Tuti Suryati, Irma Isnafia Arief, Zakiah Wulandari dan Devi Murtini melakukan penelitian terhadap dendeng sapi. 
     
    Berdasarkan penelitian sebelumnya dihasilkan dendeng yang masih mengandung bakteri patogen E. coli dan S. aureus sehingga diperlukan perbaikan proses pengolahan.
     
    Penelitian tersebut bertujuan untuk memperbaiki proses pengolahan dengan menerapkan prosedur operasional baku (POB) pada produksi dendeng serta menguji mutu mikrobiologis, fisikokimia, dan sensori dendeng yang dihasilkan. 
     
    Perlakuan dalam percobaan ini ialah menggunakan dua lama waktu penggorengan yang berbeda, yaitu: 1,5 menit dan 2 menit yang dibandingkan dengan dendeng mentah sebagai kontrol.
     
    Penerapan POB pada produksi dendeng yang dilakukan tim ini menghasilkan mutu fisikokimia (rendemen, kadar air, aktivitas air, dan pH) yang konsisten baik. Proses produksi yang dilakukan menggunakan POB mampu menurunkan jumlah bakteri E. coli dan S.aureus secara nyata. 
     
    Penggorengan selama 2 menit mampu menurunkan jumlah bakteri E. coli dan S. aureus hingga pada taraf tidak terdeteksi. Penggorengan juga nyata mampu menurunkan kadar MDA, dan tidak ada perbedaan kadar MDA antara lama penggorengan 1,5 dengan 2 menit.
     
    Peningkatan lama penggorengan dari 1,5 menit menjadi 2 menit mampu meningkatkan mutu mikrobiologis dan akivitas antioksidan dendeng tanpa mempengaruhi mutu sensori. 
     
    Para peneliti ini menyimpulkan bahwa produksi dendeng dengan menggunakan POB yang ditetapkan dan lama penggorengan 2 menit pada penelitian ini berhasil meningkatkan mutu mikrobiologis, dengan mutu fisikokimia dan sensori yang baik.(megapolitan.antaranews.com)
  • Disnak dan IPB Tandatangani MoU

    Dinas  Peternakan (Disnak) Kaltim dan  Institut Pertanian Bogor (IPB) menandatangani Memorandum Understanding (MoU) program kerjasama pengembangan ternak khususnya ternak ruminansia besar (sapi dan kerbau) dan pengembangan hijauan pakan ternak berkualitas.

    Penandatangan kerjasama MoU dilakukan di  IPB  Selasa (10/2).Ir  Dadang Sudarya mewakili  Disnak Kaltim, sementara Dekan Fakultas Peternakan  Prof.Dr. Ir. Luki Abdullah mewakli  Rektor  IPB, menandatangi  MoU tersebut.

    Kadis  peternakan, Ir Dadang Sudarya di dampingi Kepala Bidang Budidaya dan Perbibitan I Gusti Made Jaya Adhi menjelaskan, dalam kerjasama itu diharapkan IPB bisa mengirimkan tenaga ahlinya unt mendampingi pelaksanaan program Integrasi Ternak dengan tanaman dan pemanfaatan lahan ex tambang.

    Melalui APBN-P 2015 Kalimantan Timur direncanakan memperoleh pengembangan ternak Sapi Brahman Cross Impor sebanyak 10.000 ekor untuk 200 Kelompok Tani yang akan dibagikan untk 8 Kabupaten.

    Dalam  APBN Murni 2015 Kalimantan Timur memperoleh kegiatan pengembangan padang pengembalaan di lahan pasca tambang. Kegiatan ini untuk 2 Kabupaten yaitu Paser100 Ha dan Kutai Kartanegara 80 Ha dengan dana masing-masing 3 M.

    Fokus kegiatannya adalah pembuatan padang pengembalaan dan penanaman hijauan berkualitas, pembuatan pagar, sumur bor, embung, tandon air dan pengadaan ternak sebanyak 66 ekor. Khusus untuk Kabupaten Kutai Kartanegara menjadi Satker Mandir.sup. (Sumber Dinas Peternakan Kaltim)

  • Dosen Fapet IPB INTP Raih Penghargaan pada International Conference on Tropical Animal Science and Production

    Dua orang Dosen Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan meraih prestasi internasional di akhir bulan Juli 2016. Kedua dosen berprestasi tersebut adalah Prof.Dr.Ir. Yuli Retnani, MSc dan Prof.Dr.Ir. Sumiati, MSc, yang  meraih prestasi The Best Oral Presentation dalam Tropical Animal Science and Production (TASP 2016) pada 26-29 Juli 2016 di Bangkok Thailand.

    Tropical Animal Scence and Production dihadiri peserta dari berbagai negara diantaranya Malaysia, Thailand, Tiongkok, Netherland, Vietnam, Iran, Turki dan Jepang. Dari sekitar 150 peserta yang berpartisipasi dalam seminar ini, dua orang dosen INTP berhasil mengharumkan nama IPB dan Indonesia. Pada kesempatan ini, Departemen INTP mengirimkan empat orang dosen, yaitu Prof. Yuli Retnani, Prof. Sumiati, Prof. Nahrowi dan Dr. Asep Sudarman

    Tim dosen INTP memiliki perhatian khusus pada produk lokal, baik bahan pakan maupun jenis ternak yang dikembangkan. Dalam kesempatan ini, Prof. Yuli mengetengahkan materi berjudul “By Feeding Wafer Feed Supplement Stimulates Performance of Local Calves”. Sedangkan Prof. Sumiati membawakan presentasi berjudul "Performance and Production of Functional Duck's Egg Fed" dan "Diet Containing Indigofera Zollingeriana Leaves Meal and Lemuru Fish Oil". Prof. Nahrowi memaparkan “Performance of Laying Hens on Silage Juice Addition” dan Dr. Asep Sudarman menyampaikan “Feed Additive of Betel Leaves Meal (Piper beile I)Use on Ruminants as One of Methane Mitigation Efforts”. (intp.fapet.ipb.ac.id)

  • Dr. Suryahadi, Membawa Inovasi Langsung ke Tangan Petani

    Dr. Suryahadi merupakan salah satu dosen yang mengabdikan hidupnya meneliti dan mengabdi untuk masyarakat di bidang peternakan. Dr. Suryahadi  merupakan salah satu di Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB) dan juga menjadi nahkoda di Pusat Studi Hewan Tropika (CENTRAS) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB.

    Pria yang akrab dipanggil Bapak Surya  ini meyakini bahwa inovasi hasil penelitian selain untuk pendidikan harus digunakan untuk pengabdian. “Inovasi harus sampai di tangan rakyat. Sivitas perguruan tinggi harus bisa menjalankan Tri DharmaPerguruan Tinggi secara terintegrasi,” ujarnya.

    Sosok kelahiran Mataram ini tumbuh besar di kalangan keluarga pendidik. Karena prestasinya yang baik dari SD hingga SMA, ia diterima di IPB melalui jalur undangan. Selanjutnya ia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi di Perancis, menamatkan jenjang S2 dan S3-nya di Universite des Sciences and Technique,  Perancis.

    “Saya sempat kesulitan mengikuti kuliah awal di IPB, karena banyak materi yang dasarnya tidak didapatkan di SMA. Tapi setelah masuk Fakultas Peternakan, dengan keyakinan dan ketekunan saya bisa mengimbangi yang lain, bahkan mendapat beasiswa ke Perancis,” tuturnya.

    Pada masanya ia adalah lulusan S3 termuda di kalangan dosen IPB. Saat menjadi dosen sekalipun ia aktif membuat inovasi. Beberapa inovasi bahkan masuk dalam 104 Inovasi Indonesia paling prospektif pada tahun 2015. Pada tahun 2000 ia menerima penghargaan Satyalancana Karya Satya 20 Tahun oleh pemerintah Indonesia atas dedikasinya sebagai abdi negara.

    Saat ini ia memimpin Pusat Studi Hewan Tropika (CENTRAS) LPPM IPB. Bersama lembaga ini ia membuat inovasi-inovasi baru di bidang peternakan dan menyebarluaskannya di masyarakat petani. Berbagai inovasi tersebut misalnya Hi-Fer+, Feed Block Suplemen (FBS), Suplemen Kaya Nutrien (SKN), Wafer Komplit Ternak, Palatibility Enhancer, dan masih banyak yang lainya.

    Berbagai inovasi peternakan didifusikan melalui program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan hampir di seluruh daerah  di Indonesia. Tidak jarang ia mengurangi jatah waktu untuk keluarga karena harus berkeliling Indonesia menjalankan program pemberdayaan. Hal ini adalah wujud komitmen beliau untuk membawa inovasi dari IPB kepada masyarakat.

    Dalam mewujudkan misinya, ia mengajak berbagai pihak untuk bekerjasama. Setiap program pemberdayaan selalu melibatkan pemerintah, aparat desa, perusahaan swasta, dan mahasiswa. Sosok ramah ini banyak melibatkan mahasiswanya dalam kegiatan penelitian dan pengabdian. Ia percaya bahwa penting mengajak mahasiswa untuk belajar, karena suatu hari mereka akan menjadi rekannya dalam membangun pertanian Indonesia.(ipb.ac.id)

  • Faculty Day "Meet Cowboy 52"

     

    Faculty Day, kegiatan tahunan Fakultas Peternakan IPB resmi dibuka oleh Dekan Fakultas Peternakan IPB, pada hari Jumat, 2 September 2016.  Acara bertajuk Faculty day "Meet Cowboy 52", pada tahun ini dikhususkan bagi mahasiswa baru Fakultas Peternakan angkatan 52. Acara yang dipusatkan  di Auditorium Fakultas Peternakan ini berlangsung mulai pukul 06:00 - 17:40 WIB, dengan berbagai rangkaian kegiatan yang dilakukan. Kegiatan Meet Cowboy 52 diikuti sekitar 200 orang mahasiswa baru Fakultas Peternakan angkatan 52.

    Tujuan pelaksanaan kegiatan Meet Cowboy 52 ini adalah untuk memperkenalkan berbagai fasilitas serta sistem pendidikan di Fakultas Peternakan kepada mahasiswa baru angkatan 52, juga untuk menumbuhkan kecintaan dan kebanggaan terhadap fakultas dan departemen, meningkatkan rasa kebersamaan serta meningkatkan solidaritas untuk generasi peternakan yang berkualitas.

    Kegiatan Meet Cowboy 52 yang diselenggarakan BEM Fakultas Peternakan IPB ini, terdiri dari serangkaian kegiatan yang menarik diantaranya Perkenalan dosen, sharing alumni, outbond di lab kandang, tour di lab analisis, talkshow dengan mahasiswa berprestasi nasional dan internasional, serta berbagai acara unik dan kreatif lainnya.

    Pada sesi sharing alumni, beberapa pembicara dihadirkan, diantaranya dari Prof. Luki Abdullah dengan topik " membentuk karakter mahasiswa peternakan yang inovatif, aktif, dan prestatif. Selain itu Meet Cowboy menghadirkan Slamet Mulyadi, SP, MP, yang membagikan pengalamannya dalam berwirausaha, dengan topik "Menumbuhkan semangat dan jiwa berwirausaha di bidang peternakan".

    Acara ditutup pada pukul 17:30 WIB, didahului dengan Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan dan pembacaan nominasi.

  • Fakultas Peternakan ramaikan Open House IPB 2015

    Open house IPB kembali digelar dengan mengundang siswa SMA Se-Jabodetabek-Suci (Sukabumi Cianjur)  di Graha Widya Wisuda (GWW). Kegiatan ini merupakan acara yang setiap tahunnya digelar oleh Bagian Humas dan Promosi IPB dalam rangka promosi dan sosialisasi berbagai fakultas yang ada di IPB.

Page 1 of 5