Sosok

Ir. Abdon Nababan, lahir (2 April 1964). Alumni S1 Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB) angkatan 19. Ramon Peraih Magsaysay Award 2017 ini, Memulai pendidikan dasar di SDN Paniaran, Kec. Siborongborong, berlanjut ke SMP RK St. Yosef berasrama di Lintong ni Huta, kemudian melanjutkan pendidikan di SMA RK Budi Mulia di Pematang Siantar, kelas 3 pindah ke SMAN II Jakarta dan lulus 1982. Pada 1987, Ia menamatkan pendidikan jenjang strata satu dari Institut Pertanian Bogor. Sejak mahasiswa telah aktif berorganisasi, di dalam kampus, di luar kampus (PMKRI), kepencinta-alaman (Lawalata IPB) dan menggeluti pendidikan lingkungan hidup bersama Yayasan Indonesia Hijau (YIH).

Selesai Kuliah S1, Abdon Nababan terus mengembangkan gerakan lingkungan hidup di Indonesia dengan bergabung di WALHI sejak 1989, lalu ikut mendirikan dan memimpin Yayasan Sejati, Yayasan dan Perkumpulan Telapak dan Forest Watch Indonesia (FWI). Abdon Nababan juga secara tekun mendalami dan menggeluti bidang pengembangan dan pengelolaan strategis organisasi serta pengorganisasian masyarakat adat.Selama menggeluti bidang tersebut, Abdon Nababan, telah menggalang sinergi antarsesama aktivis Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) dan beragam elemen gerakan sosial untuk melakukan pembelaan hak-hak masyarakat adat.

Upaya itu antara lain diwujudkan dalam bentuk keterlibatannya sebagai Koordinator Komite Pengarah pada Jaringan Pembelaan Hak-Hak Masyarakat Adat (Indonesian NGOs Network for Indigenous Rights Advocacy, JAPHAMA) – suatu koalisi ORNOP yang secara bersama-sama melakukan pembelaan terhadap hak-hak masyarakat adat di tingkat nasional dan internasional.

Read more: Abdon Nababan

"Sarjana peternakan dapat membantu negara dan bangsa dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani yang berkualitas, harga yang terjangkau, aman dan berkelanjutan. Pilihan yang tepat memilih fakultas peternakan IPB, kualitas dosen yang sangat baik, fasilitas yang lengkap untuk menunjang pendidikan dan lulusan yang berkualitas yang dapat bekerja di industri peternakan dan bidang usaha lain yang terkait"
Apriliani Purwanto
(Manager, Asia Key Accounts at Elanco)

Pendidikan : Fapet IPB  

karir :

Director - Elanco Indonesia
(9 tahun)

 
Director, Global Alliances - Asia Pacific
(3 tahun)
 

Manager, Asia Key Accounts at Elanco
– Saat ini,  Jabodetabek, Indonesia

 
 

 

Rahma Novianti Hardi, lahir di Solok, pada tanggal 1 Nopember 1967. Memperoleh Gelar Sarjana Peternakan dari Institut Pertanian Bogor pada tahun 1989. Beliau mengawali kariernya di PT Bank Lippo Tbk dari tahun 1990 sampai dengan 1996 dengan jabatan sebagai Operation Staff, International Banking Group.
      
Kemudian bergabung dengan PT USI - IBM dari tahun 1996 sampai dengan 1999 di Banking and Financial Services. Tahun 1999 beliau pindah ke Citibank NA, bergabung di bagian Global Transaction and Service, Global Corporate & Investment sampai dengan tahun 2010. Kemudian pada tahun 2010 beliau pindah ke PT Bank Mandiri Tbk di Corporate Transaction Banking Sales Group hingga tahun 2013, dan dari tahun 2013 sampai dengan tahun 2015 beliau bergabung di Deutsche Bank Indonesia dengan jabatan terakhir sebagai Global Transaction Banking - TFCMC Head.

Suryopratomo atau Tommy adalah bintang baru jagad industri pers di Indonesia. Tommy dilahirkan di Bandung, pada 12 Mei 1961, anak kedua dari lima bersaudara dan anak lelaki tertua. Ayahnya, mendiang Soeharno Tjokroprawiro, bekas mahasiswa Institut Teknologi Bandung, awalnya seorang guru sekolah menengah di Bandung yang kemudian alih profesi menjadi seorang kontraktor. Ibunya, Siti Sofiah, seorang ibu rumah tangga.

Usai pendidikan menengah atas, Tommy diterima kuliah di Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, dan lulus pada tahun 1983.  Di Fapet inilah Tommy satu saat diajak mengelola majalah mahasiswa. Tapi Tommy agak ogah-ogahan, walaupun lama  kelamaan ia jatuh cinta pada jurnalisme.

Pada tahun 1986, Tommy menyelesaikan studi pasca sarjananya di IPB. Ia punya dua pilihan: menjadi dosen dan kelak melanjutkan studi atau bekerja. Tommy memilih bekerja --sebuah keputusan yang ditentang Tjokroprawiro. Sang ayah menghendaki Tommy melanjutkan studinya hingga S-3. Tommy kemudian mengirimkan empat lamaran pekerjaan, dan hanya Kompas yang memanggilnya.

Read more: Suryopratomo

 

Alumni Departemen INTP telah berkiprah di dunia internasional, salah satunya adalah Akhir Pebriansyah angkatan 44. Alumni kelahiran Tangerang, yang lulus pada tahun 2012 ini, sekarang telah menjadi asisten profesor di Czech University of Life Science Prague, dengan bidang keahlian pertanian, teknologi dan nutrisi.

Kegalauan yang dialami pada masa awal menjalani perkuliahan sarjana perlahan sirna dalam dukungan dan bimbingan dosen di Departemen INTP. Motivasi yang dibangun secara akademik dan spiritual membawa Akhir menjadi salah satu alumni yang menonjol. Akhir berhasil lulus dengan nilai yang cukup baik sehingga mendapatkan rekomendasi untuk melanjutkan kuliah master di Europe-Czech University dengan beasiswa Erasmus Eurasia. Dengan beasiswa ini, Akhir menjalani perkuliahan master di Czech University of Life Sciences Prague, The Czech Republic 2012-2014 .

Kendala bahasa yang sempat membuat Akhir mengulang tiga kali ujian TOEFL untuk mencapai standar Departemen INTP, menjadikan Akhir harus bekerja lebih keras dalam menempuh studi. Terutama pada beberapa bulan awal masa adaptasi. Kini Akhir telah menguasai empat bahasa asing, yaitu bahasa Inggris, Jerman, Arab dan Czech.

Aktivitas yang tinggi dalam menempuh pendidikan doktor dan melakukan kegiatan penelitian membawanya terus berpindah dari satu kota ke kota yang lain. Ilmu pengetahuan dan pengalaman tinggal di Eropa membawa Akhir semakin dekat dengan Islam. Akhir aktif dalam pengajian kota dan membantu sejumlah mualaf untuk lebih mengenal Islam. Akhir saat ini menjadi mahasiswa PhD di Czech University of Life Sciences Prague,The Czech Republic kuliah S3. (intp.fapet.ipb.ac.id)

Setelah Lulus dari Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor pada tahun 1988, Rifda memulai karirnya di perusahaan-perusahaan besar terkemuka dari Indonesia dan dipercayakan untuk menjadi Public Relation dan Marketing Manager & Communication. Mengingat bahwa ia mampu untuk menjalankan bisnis sendiri, pada tahun 1993, Rifda mengambil langkah besar dalam dunia bisnis dan mendirikan perusahaannya di bidang teknik listrik dan pertambangan yang membawanya ke sukses besar. Melalui jaringan yang luas dan pemahamannya yang mendalam mengenai permintaan konsumen terhadap produk-produk,  menjadikan jalan dalam pendirian PT. Puteri Cahaya Kharisma (Performax) pada tahun 2002. Selain dalam bidang bisnis, kegiatan sehari-harinya juga diisi dengan kegiatan sosial dan aktif berorganisasi seperti menjadi pendiri Yayasan Amanah dan Yayasan Peduli Bangsa (YPB)  Rifda juga merupakan anggota dari KADIN , HIPMI , ARDIN , PII , MKI , dan ASPERAPI.

Indra Lahir di Jakarta pada tahun 1959. Menyelesaikan S-1 di Fakultas Peternakan IPB, Bogor tahun 1983 dan memperoleh gelar MBA Finance di University of Denver, Colorado USA tahun 1994.

Indra mengawali karier perbankan-nya di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., pada tahun 1985 dengan beberapa posisi yang pernah dijabat antara lain: Kepala Bisnis Korporasi III (1997-1998), Kepala Bagian Kredit Agribisnis (2000-2001), Group Head Agribisnis Perkebunan (2001-2004), Wakil Kepala Divisi Agribisnis (2004-2005), Wakil Pemimpin Wilayah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., Wilayah Jakarta 1 (2007-2008). Pada tahun 2009, Ia ditugaskan di PT Bank BRI Syariah sebagai Commercial Banking Group Head, dan kemudian diangkat sebagai Direktur PT Bank BRI Syariah pada tanggal 26 Januari 2012 dan mendapat persetujuan Bank Indonesia pada tanggal 11 April 2012 sesuai Surat Keputusan Gubernur Bank Indonesia No. 14/16/GBI/DPbs.

Berbagai pelatihan yang pernah diikutinya antara lain: Developing The First Class Manager Singapore (1989), International Conference on Sustainability of Oil Palm Plantation Agronomic and Environmental Perspective Malaysia (1996), Studi Banding Hortikultura di Malaysia (2003) dan 6th World Islamic Economic Forum Malaysia (2010)

Saat ini Indra Praseno menjabat sebagai Direktur Bisnis dan Ritel BRI Syariah.

Bapak dengan dua anak bernama Syukur Iwantoro ini memang begitu mencintai dunia peternakan. Bahkan, untuk mengimplementasikan ilmu peternakan yang telah dikuasainya, usia kuliah Sarjana Peternakan di Fakultas Peternakan IPB, Syukur memilih bekerja di sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang pembibitan peternakan di wilayah Bogor. Dan entah kebetulan atau tidak, hobi beternak tersebut telah mengantarkan pria kelahiran Situbondo pada 30 Mei 1959 ini menjadi Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan) tahun 2011-2015.

Namun karena terpengaruh ajakan teman sejawatnya untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di Kementerian Pertanian (Kementan), ia kemudian tertarik juga untuk menjadi PNS Kementan karena ia juga memiliki keinginan untuk sekolah kembali dan ingin mengabdikan ilmu bagi dunia peternakan di Tanah Air.

Setelah sekian lama terjun sebagai PNS, Syukur benar-benar makin mencintai pekerjaannya. Dalam bekerja, Syukur menerapkan strategi khusus untuk memuluskan kariernya, salah satunya dengan tampil beda dibanding rekan seangkatannya. Jika PNS lain masuk siang dan pulang siang, Syukur memilih kerja dari pukul 08.00 hingga 17.00 sore sehingga menarik perhatian atasannya.

Read more: Ir. Syukur Iwantoro, MM

Rasa haru sekaligus bangga terasa ketika pembawa acara menyebut nama Susi Sianturi serta nama orangtuanya saat upacara wisuda mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB).

Susi, mahasiswi S-2 IPB, berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan predikat cum laude. Gelar S-2 itu tidak ia peroleh dengan mudah dan main-main.

"Saat S-1, saya kuliah di IPB juga ambil jurusan peternakan. Terus saya nyambung S-2 lagi di IPB," katanya kepada TribunnewsBogor.com, Rabu (23/3/2016).

Ia melanjutkan, saat kuliah S-1 sekitar sembilan tahun lalu, ia harus bersusah payah berjualan pisang goreng. Susi terpaksa berjualan karena orangtuanya yang berada di Tapanuli Utara, Medan, hanya memberinya uang bulanan Rp 300.000.

Setiap subuh selama semester I dan II, ia berjualan pisang goreng di lingkungan asrama putri. Hasilnya lumayan, Rp 30.000 per hari. Uangnya ia gunakan untuk biaya sehari-hari dan membeli perlengkapan kuliah.

Masuk di semester III, ia menjalani usaha kecil-kecilan bersama rekannya. Setiap hari Minggu, ia berjualan perabotan yang diperlukan oleh mahasiswa.

"Jadi, tiap Minggu, saya dan teman saya berjualan sambil buka stan gitu. Hasilnya juga lumayan," katanya.

Read more: Kisah Susi, Lulusan "Cum Laude" IPB, yang Kuliah Sambil Jualan Pisang Goreng

Prof. Dr. Ir. Muladno, MSA dilahirkan di Kediri tanggal 24 Agustus 1961 dan merupakan anak kedua dari tujuh bersaudara hasil perkawinan seorang ayah bernama Basar (almarhum) dan seorang ibu bernama Asyiati. Saat ini tinggal di Bogor bersama seorang istri bernama Sri Sulandari, PhD (peneliti LIPI dan lahir 23 Desember 1961) dan dua anak laki-laki bernama Aussie Andry Venmarchanto (lahir 11 Maret 1990) dan Endyea Mendelian Lecturariseta (lahir 18 November 1997).

Pendidikan dasar dan menengah diselesaikan di SDN Ringinsirah II Kediri, SMPN I Kediri, dan SMAN II Kediri; sedangkan pendidikan tinggi diselesaikan di Fakultas Peternakan UGM Yogyakarta (sarjana, 1985), di University of New England, Armidale, Australia (master of science in agriculture, 1990) dan di University of Sydney, Australia (Doctor of Phylosophi, 1995).

Pascapendidikan formal, memperoleh kesempatan mengikuti program post-doctoral dari Science and Technology Agency of Japan (1995-1996) di National Institute of Animal Industry, Tsukuba, Japan; kemudian dari Society for Agriculture, Forestry and Fisheries (STAFF) Institute (1996-1997) di Tsukuba, Japan; serta dari Japan Society for Promotion of Science (JSPS) tahun 1998 di Nagoya University, Japan; dan terakhir dari Program Kerjasama Indonesia-Australia tentang Specialized Training on Intellectual Property Rights di University of Technology, Sydney, Australia tahun 2000.

Read more: Prof. Dr. Ir. Muladno, MSA

Sektor peternakan terkadang masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat, padahal di sisi lain kebutuhan daging nasional masih belum bisa tercukupi. Impor daging dari luar negeri menunjukkan bahwa bidang peternakan di Indonesia belum cukup mumpuni. Hal ini yang kemudian menggerakkan Budi Susilo Setiawan selaku alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk menggeluti bidang peternakan. Budi Susilo Setiawan adalah seorang sarjana dari Fakultas Peternakan IPB yang lahir di Solo, 14 Desember 1981. Minatnya di bidang wirausaha mendorong Budi dan tiga orang kawannya untuk membangun usaha agribisnis berbasis peternakan domba yang corcern di bagian penggemukkan domba dan kaning. Usaha yang didirikan pada bulan September tahun 2004 ini dinamakan MT Farm yang terletak di Daerah Ciampea, Bogor. Budi berhasil mengelola MT Farm sehingga berhasil menjadi salah satu peternakan yang cukup berkembang dalam usaha penggemukan dan penjualan domba di wilayah Jawa Barat. “Selain usaha penggemukan dan penjulan, MT Farm juga melakukan pembibitan dan pengembangbiakan domba, kambing, dan sapi. Pengelolaan usaha ini menyerap warga sekitar sebagai karyawan,” ujar Budi.

Hal lain yang Budi lakukan sambil menjalankan usahanya ini ialah melakukan pemberdayaan masyarakat dan pengolahan limbah juga kotoran ternak. “Kotoran tersebut diubah menjadi biogas dan pupuk untuk rumput yang nantinya bisa menyalakan api dan genset untuk areal peternakan. Sementara itu, pengelolaan limbah bermanfaat agar masyarakat dapat menggunakan gas yang dihasilkan secara gratis,” tutur Budi. Usaha yang dilakukan Budi ini tak hanya memberikan keuntungan bagi semua pihak yang terlibat secara langsung dalam usaha peternakan MT Farm tapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar dengan berbagai hasil sampingan yang ada. (IPBMag)

Jannes Humuntal Hutasoit atau yang lebih dikenal dengan nama J.H. Hutasoit lahir di Tapanuli Utara, Sumatera Utara pada tanggal 16 September 1925.  Beliau menyelesaikan HIS di Tapanuli pada tahun 1938, kemudian melanjutkan ke MULO, Tarutung pada tahun 1942. Pendidikan SMA ditempuh beliau di Bogor dan selesai pada tahun 1947. Setelah lulus SMA, JH Hutasoit melanjutkan pendidikan tinggi pada Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan UI dan menyelesaikan pendidikan pada tahun 1954. Pada tahun 1956 – 1957, JH Hutasoit mengenyam pendidikan pascasarjana pada University of Florida, Gainsville, Amerika Serikat dalam bidang Animal Nutrition. Pendidikan Doktor diselesaikan oleh beliau pada tahun 1959 di Bogor.

Karir sebagai pendidik dimulai Prof. Dr. drh. JH Hutasoit sejak tahun 1952 sebagai asisten ahli Kl.1. Pada tahun 1953 sebagai asisten ahli dan berturut-turut lector muda, lector dan lector kepala dicapai beliau pada tahun 1956, 1957 dan 1960. Sejak tahun 1961, Prof. Dr. drh. JH Hutasoit menjadi guru besar di FKHPPL-UI. Sejak 1973, beliau sudah mencapai jenjang kepangkatan pegawai negeri tertinggi (IV/e).

Karir manajemen beliau dimulai dengan menjadi Kepala Bagian Ilmu Makanan Ternak di Fakultas Kedokteran Hewan, Peternakan dan Perikanan Laut (FKHPPL) UI. Pada tahun 1961 – 1963, beliau menjabat sebagai Sekretaris FKHPPL. Bersama dengan Dr. Didi Admadilaga, Prof. Dr. Moh. Mansjoer, Drs Suratno, M.Sc., Ir. Gunawan Satari dan Ir. Ahmadi Suharja, Prof. Dr. drh. JH Hutasoit menjadi panitia persiapan Kurikulum Fakultas Peternakan di Indonesia berdasarkan Surat Rektor UI, 10 Juli 1962, No. 743/03. Beliau merupakan salah satu pelopor pendirian Fakultas Peternakan IPB dan menjabat sebagai Dekan Fakultas Peternakan IPB Pertama periode 1963 – 1967. Pada tahun 1966, Prof. Dr. drh. Hutasoit dipercayakan sebagai Ketua Presidium IPB, kemudian beliau menjabat Rektor IPB pada tahun 1967 – 1971.

Read more: Jannes Humuntal Hutasoit, Salah satu pendiri Fapet IPB
Page 1 of 2


Lihat Semua Berita >>