News

Mikroplastik dan nano plastik saat ini sudah menjadi bahaya laten bagi kesehatan manusia semakin nyata. Hal tersebut diungkap Prof Ronny Rachman Noor, Guru Besar IPB University dari Fakultas Peternakan.  Ia menyampaikan hasil penelusuran jejak mikroplastik yang menunjukkan bahwa daging sapi dan daging babi yang beredar di Belanda dan Switzerland telah terkontaminasi mikroplastik. Bahkan jejak mikroplastik susu sudah ditemukan pada produk susu yang beredar di pasaran Switzerland  dan Perancis sejak tahun 2021 lalu.

“Hasil penelitian menunjukkan, setiap tahunnya rata rata orang memakan sekitar 50.000 partikel mikroplastik dan juga dalam jumlah yang sama kita menghirupnya melalui udara yang tercemar,” kata Prof Ronny Rachman Noor.  Pakar Genetikan Ternak ini mengingatkan bahwa Indonesia perlu secara serius menangani masuknya mikroplastik dalam rantai makanan. Menurutnya, upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan cara mengawasi secara ketat penggunaan plastik dalam industri pangan, industri peralatan, industri perikanan dan industri peternakan termasuk  peternakan rakyat.

“Jika masalah ini tidak diantisipasi, maka dalam waktu dekat mikroplastik dan nano plastik  akan menjadi masalah kesehatan yang sangat serius bagi Indonesia,” katanya.  Ia menambahkan, kita tentunya dapat membayangkan bahwa di negara penghasil daging dan susu ini sistem pengawasan dan keamanannya sangat ketat, namun kontaminasi mikroplastik tetap saja terjadi. Tentunya kita juga dapat membayangkan bahwa bahaya laten mikroplastik ini semakin nyata dan meluas di berbagai negara, utamanya di negara berkembang yang pengawasan keamanan pangannya belum seketat Belanda, Switzerland dan Perancis.

Mikroplastik merupakan partikel plastik yang berukuran antara 0.03 sampai dengan 3 millimeter.  Saat ini mikroplastik menjadi salah satu bahan pencemar lingkungan utama yang ditemukan pada tanah, air laut, air tawar dan juga udara. Dengan ukuran yang sangat kecil, baik manusia maupun hewan secara tidak sadar mengkonsumsinya dari makanan yang tercemar mikroplastik.

Hasil penelitian terbaru yang dilakukan di Belanda menunjukkan bahwa mikroplastik sudah ditemukan pada daging sapi dan daging babi yang jika dikonsumsi manusia akan menimbulkan masalah kesehatan yang serius.

Para peneliti dari Vrije Universiteit Amsterdam (VUA) Belanda pada bulan Maret lalu juga telah menemukan jejak mikroplastik dalam darah manusia dan dapat menyebar ke berbagai organ. Mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh manusia berdampak pada kerusakan sel dan dapat menyebabkan timbulnya penyakit yang serius dan  menimbulkan kematian.

Prof Ronny juga membeberkan hasil penelusuran yang dilakukan oleh para peneliti menunjukkan bahwa mikroplastik ini sudah mengkontaminasi susu yang beredar di pasaran di Perancis dan Switzerland sejak tahun 2021 lalu.

Terkontaminasinya produk peternakan seperti susu, daging dan juga kemungkinan besar telur memang tidak mengherankan. Hal ini karena penggunaan bahan dan peralatan berbahan plastik sangat masif digunakan baik di peternakan besar maupun peternakan rakyat. Hal yang sama juga terjadi pada industri perikanan. Sumber kontaminasi mikroplastik utamanya yang berukuran sangat kecil  dapat berasal dari bahan plastik yang digunakan ini yang masuk melalui air minum dan pakan ternak.

“Sayangnya banyak orang yang tidak sadar bahwa kontaminasi mikroplastik ini sudah masuk ke dalam rantai makanan dan akhirnya masuk ke dalam tubuh manusia,” kata Prof Ronny.  Ia menyebut, masalah kontaminasi mikroplastik dan nano plastik  yang sangat luas dan mengancam kesehatan manusia ini perlu diantisipasi dan ditangani  secara serius di Indonesia. Hal ini karena akan berdampak buruk tidak saja pada lingkungan namun juga pada kesehatan masyarakat tanpa disadari banyak orang (ipb.ac.id)

Peneliti IPB University berhasil menemukan formula pakan ternak yang dapat membantu peternak lebih praktis dan menguntungkan dalam usaha ternaknya.  Mereka adalah Prof Luki Abdullah, Prof Panca Dewi Manu Hara Karti, Prof Rudy Priyanto, Dr Adi Hadianto.

Inovasi di bidang peternakan ini diberi nama SORINFER, sebuah formulasi pakan komplit berbahan sorgum dan indigofera. Inovasi ini ibarat menjadi penerang di tengah gulita kian tingginya biaya pakan yang bisa mencapai 60 hingga 70 persen dari total biaya produksi.

Rektor IPB University, Prof Arif Satria ketika meluncurkan produk SORINFER, 29/6 di Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat mengatakan, inovasi SORINFER merupakan produk yang strategis mengingat kebutuhan pakan ruminansia di Indonesia sangat tinggi tetapi ketersediaannya masih terbatas. Bahkan, beberapa peternak masih bergantung pada pakan rumput segar. 

“Pakan ruminansia ini sangat strategis sekali, apalagi konsumsi rumput masih tinggi. Jadi inovasi yang dihasilkan ini, yaitu SORINFER, adalah inovasi yang memadukan teknologi-teknologi untuk meningkatkan kualitas pakan,” kata Prof Arif Satria. Ia akan meminta bantuan para alumni supaya inovasi SORINFER dapat sampai ke masyarakat terutama peternak. Dengan demikian, inovasi IPB University itu dapat dinikmati oleh masyarakat luas. 

Ketua Tim Peneliti, Prof Luki Abdullah mengatakan, “Inovasi ini diharapkan bisa menjadi penentu keberlanjutan usaha peternakan.” Apa yang dikatakan Prof Luki tidaklah berlebihan.  Pasalnya, industri pakan komplit untuk ternak ruminansia di Indonesia masih belum berkembang karena terlalu kompleks dalam penyediaan bahan pakan sumber serat.  “Umumnya hijauan pakan diproduksi secara tradisional dan dalam skala kecil oleh peternak bukan produsen khusus, “ ungkapnya. 

Dengan kondisi seperti ini, sebutnya, beternak menjadi lebih sulit dan tidak efisien, padahal di sisi lain minat beternak masyarakat terutama generasi milenial semakin tinggi, karena keuntungan yang menjanjikan dari bisnis ini. “Perusahaan peternak yang pemiliknya kaum milenial cenderung lebih menyukai cara beternak yang mudah, praktis namun harus menguntungkan, “ jelasnya.

Sebagai upaya menyelesaikan masalah yang dihadapi dunia usaha peternakan yang menuntut peningkatan keuntungan dan kepraktisan beternak,  Tim Peneliti IPB University ini telah merancang SORINFER sebagai produk pakan komplit fermentasi siap saji dalam kemasan berbahan sorgum dan Indigofera. 

“SORINFER adalah produk pakan komplit fermentasi baru yang mulai memasuki pasar. Bahan baku utama adalah Sorgum sebagai sumber energi dan Indigofera sebagai sumber protein. Kombinasi kedua bahan yang disusun dengan proporsi yang pas ditambah bahan aditif pakan (berdasarkan hasil penelitian sejak tahun 2017) menjadikan SORINFER sebagai pakan dengan komposisi nutrien yang seimbang dan memenuhi kebutuhan ternak, “ urainya.

Ia menyebut, SORINFER dengan kandungan bahan kering 53-55 persen, mengandung protein kasar 12-14 persen, TDN 58-60 persen, NDF 49-53 persen, ADF 26-32 persen, energi kotor 3900-4300 Kilo Kalori/kilogram. Dengan komposisi tersebut, ia yakin cukup untuk memenuhi kebutuhan pakan domba, kambing dan sapi. 

Dikatakannya, “Selain itu SORINFER hadir sebagai pakan lengkap yang siap saji yang dapat juga digunakan pada saat paceklik hijauan pada musim kemarau, sehingga beternak menjadi lebih praktis, mudah dan menguntungkan karena kandungan nutrisi pada produk ini dirancang sesuai dengan kebutuhan ternak." Menurutnya SORINFER juga banyak diminati peternak dalam kondisi merebaknya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), karena dapat mencegah penularan dan berjangkitnya penyakit tersebut. Karakteristik SORINFER yang asam dengan pH 3.8-4.0 dan mengandung asam asetat 1-2 persen dapat menyebabkan virus PMK inaktif.

Lebih lanjut dikatakannya, "Penggunaan SORINFER dalam ransum bisa mencapai 5 persen dari bobot badan ternak. Hasil kajian di peternak pemberian SORINFER untuk sapi PO bisa mendapatkan pertambahan bobot badan (PBB) rata-rata 0.8 kilogram/hari, dan mampu memulihkan bobot badan sapi lebih cepat dengan PBB mencapai 1.0 kilogram/hari pada sapi yang baru mengalami transportasi."

Ia menambahkan, berdasarkan testimoni di lapangan, SORINFER disukai ternak. "Sebagian besar ternak yang memulai mengkonsumsi SORINFER akan langsung memakannya. Hal ini disebabkan oleh aroma SORINFER yang wangi seperti aroma tape dan tekstur yang mewakili pakan hijauan berkualitas tinggi perpaduan sorgum dan Indigofera yang dipanen pada waktu yang tepat, sehingga disukai oleh ternak dan memiliki komposisi nutrien serta keseimbangan energi-proteinnya ideal, " tuturnya. Dengan kondisi tersebut, sebutnya, peternak tidak perlu repot-repot untuk mengarit atau mencari hijauan pakan, karena produk ini dapat disimpan hingga satu tahun selama plastik kemasannya tidak bocor, sehingga saat musim kemarau pun akan tetap tersedia bagi ternak.

"Kemasan SORINFER terdiri dari dua jenis, yaitu menggunakan kantong ganda dengan bagian dalam (inner) kedap udara dan air, dan kantong bagian luar yang melindungi kantong bagian dalam, " jelasnya. 

Ia menyampaikan bahwa pada tahun 2020 tim Peneliti IPB University bekerjasama dengan BATAN, PT Santana Manggala Karya dan PT Nufeed telah memulai kegiatan pembuatan lini produksi SORINFER melalui pendanaan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). "Dan  pada tahun 2021 melalui bantuan pendanaan Matching Fund ditambahkan peralatan dan mesin produksi otomatis untuk menghasilkan produk SORINFER dengan kapasitas produksi mencapai 20 ton/hari, " jelasnya.

Pengembangan SORINFER ini dilakukan di Unit Pendidikan dan Penelitian Peternakan Jonggol(UP3J) dalam rangka membangun IPB Innovation Valley di Desa Singasari Kecamatan Jonggol. Ia menyebut, lini produksi ini selain berfungsi untuk menghasilkan SORINFER untuk kepentingan komersial, juga dirancang sebagai cikal bakal Pabrik Pembelajaran (Teaching Factory), sehingga bisa berfungsi sekaligus untuk pembelajaran dan penelitian mahasiswa. 

Ditandaskannya, untuk keberlanjutan produksi, pasokan bahan baku terutama sorgum, Tim Peneliti IPB University melakukan kerjasama kemitraan dengan petani di sekitar UP3J. "Kemitraan ini meliputi bantuan benih, teknik budidaya, bantuan pinjaman pupuk, bantuan pinjaman peralatan untuk pengolahan tanah dan pemasaran biomassa sorgum. Secara rutin petani menjual biomassa sorgum ke UP3J untuk dijadikan bahan baku SORINFER, " jelasnya.

Ia berharap SORINFER ini menjadi solusi permasalahan pakan bagi peternak dan memberikan kesempatan kerja bagi masyarakat perdesaan dalam memasok biomassa sorgum dan Indigofera (ipb.ac.id)