Bogor – Konsumsi susu masyarakat Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan negara tetangga. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 mencatat, rata-rata konsumsi susu nasional baru 16,5 liter per kapita per tahun. Angka ini sedikit naik dari 16,27 liter pada 2022, namun masih jauh di bawah Thailand (33 liter), Malaysia (50 liter), apalagi negara maju yang melampaui 100 liter per kapita per tahun.

Hal itu disampaikan Prof. Dr. Idat Galih Permana, M.Sc.Agr., Guru Besar sekaligus Dekan Fakultas Peternakan IPB, dalam Orasi Ilmiah Guru Besar di Auditorium Andi Hakim Nasoetion, IPB, Sabtu (30/8/2025). Ia menekankan bahwa rendahnya konsumsi susu menjadi tantangan serius dalam pemenuhan gizi masyarakat.

Permintaan Naik, Produksi Stagnan

Prof. Idat menjelaskan, kebutuhan susu nasional diproyeksikan melonjak tajam seiring pertumbuhan penduduk, peningkatan pendapatan, serta kesadaran gizi. Dari sekitar 4,4 juta ton saat ini, konsumsi bisa tembus 5,5 juta ton pada 2030, bahkan berpotensi mencapai 8,9 juta ton dengan adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah.

Namun, produksi dalam negeri belum mampu mengimbangi. Populasi sapi perah Indonesia pada 2024 hanya sekitar 485 ribu ekor, atau satu ekor sapi untuk 470 penduduk. Produksi susu stagnan di kisaran 485 ribu ton per tahun, sehingga lebih dari 80 persen kebutuhan industri masih bergantung pada impor dari Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.

“Ketergantungan pada impor membuat industri persusuan kita rentan terhadap fluktuasi harga global, nilai tukar rupiah, hingga gangguan pasokan internasional,” ujarnya.

Rekayasa Nutrisi Presisi, Kunci Kemandirian Susu Nasional

Prof. Idat menambahkan, persoalan lain yang dihadapi adalah sapi perah di Indonesia umumnya masih kekurangan nutrien, terutama protein dan mineral, sehingga produktivitasnya belum optimal. Kondisi ini menuntut adanya strategi baru dalam pengelolaan pakan dan gizi ternak.

Sebagai solusinya, Prof. Idat menegaskan perlunya terobosan melalui rekayasa nutrisi presisi. Menurutnya, pendekatan ini merupakan kunci peningkatan efisiensi nitrogen sekaligus produktivitas ternak perah tropis. Rekayasa nutrisi presisi dilakukan dengan mengoptimalkan keragaman bahan pakan tropis, menyinkronkan RDP, NFC, dan sulfur dalam ransum, meningkatkan fraksi RUP melalui teknologi proteksi, serta menerapkan formulasi pakan secara terpadu agar hasilnya lebih efisien dan berkelanjutan.

“Rekayasa nutrisi presisi adalah solusi nyata untuk meningkatkan efisiensi pakan, memperbaiki kualitas susu, dan mengurangi ketergantungan impor. Dengan langkah ini, kita bisa memperkuat kemandirian susu nasional,” tegas Prof. Idat.