Bertempat di Ruang Sidang Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University, pimpinan Fapet beserta jajarannya menerima kunjungan terkait kerjasama sapi merah putih dengan PT. BLST dan PT. Moosa Genetika Farmindo pada Kamis, 19 Juni 2025. Rombongan diterima oleh Dekan Fapet Prof. Dr. Ir. Idat Galih Permana, Wakil Dekan Bidang Sumberdaya, Kerjasama dan Pengembangan Prof. Dr. Sri Suharti serta Guru Besar Nutrisi Ternak Perah Prof. Despal dan Ahli Persusuan Prof. Dr. Epi Taufik, S.Pt, MVPH, M.Si.

Dekan Fapet IPB Prof. Dr. Ir. Idat Galih Permana, M.Sc.Agr menyampaikan beberapa poin terkait rencana kerjasama yang akan dilaksanakan. “Secara teknis, kita akan melihat lokasi agar lebih memantapkan. Ada pertanyaan terkait pengembangan sapi merah putih, diantaranya adalah kita membutuhkan bibit sapi perah serta informasi lebih lanjut apa yang harus ditindaklanjuti dan rencana pengembangannya. Kami juga ingin ada kelanjutan dari rencana kerjasama ini, bukan hanya ekspo”ungkapnya.

Luhur Budiyarso, Direktur PT Bogor Life Science and Technology (BLST) menegaskan untuk kerjasama ini dilakukan dua tahap yaitu sudah MoU dengan Rektor IPB. “Nantinya kami akan memperkenalkan ke publik sapi yang betul-betul Indonesia, disebut sapi merah putih. Kalau bisa di tanggal 1 September sekalgus orasi di Dies Natalis, dilanjutkan ke kunjungan ke sapi kita”jelasnya. Luhur juga menjelaskan bagaimana tahap ini masuk ke komersial yang lebih serius, dengan menggunakan fasilitas yang dimiliki oleh IPB sampai ke hilirnya untuk produksi dan pemasaran susunya.

CEO Moosa Genetik Drh. Deddy F Kurniawan, M.Vet menyampaikan presentasi sapi merah putih. Project inisiatif peningkatan kualitas genetik sapi perah menuju sapi merah putih oleh PT Moosa Genetika Farmindo, pionir dalam bidang bioteknologi peternakan Indonesia yang didirikan tahun 2016.

“Sapi merah putih adalah brand yang diberikan kepada inovatornya dengan tujuan meningkatkan genetik kualitas sapi perah yang mengusulkan kita membutuhkan sapi perah yang versi Indonesia”jelasnya. Tujuannya antara lain ingin mensuplai susu dalam negeri dengan menciptakan sapi versi indonesia untuk komersial skill di Indonesia yang bisa dikerjakan oleh orang Indonesia untuk mensupport makan bergizi. Selain itu juga menciptakan SDM yang berpengaruh terhadap kurikulum serta menciptakan ekosistemnya.

Hal tersebut disebabkan oleh situasi persusuan nasional saat ini yang produksi susu segar dalam negeri (SSDN) yang rendah rendah namun importasi susu yang tinggi. Oleh karena itu, Moosa menawarkan solusi dengan meningkatkan produktivitas, perbaikan genetik  serta perbaikan manajemen pemeliharaan. “Teknologi 20 tahun terakhir tidak mampu menciptakan performa sapi yang baik, akhir 90an teknologi yang digunakan berbeda. Kami concern pada produktivitas, imunutas, reproduksi” tambah Deddy. 

Setelah berdiskusi dengan para ahli dari Fapet, rombongan dibawa berkunjung ke Laboratorium Lapang untuk meninjau lokasi dan melihat ternak-ternak sapi perah yang ada di Fapet.(Femmy).