Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof Anuraga Jayanegara (42 tahun), meraih Habibie Prize 2025, penghargaan bergengsi yang diberikan kepada ilmuwan Indonesia atas kontribusi luar biasa dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sosok Profesor muda ini mengaku tak menyangka ketika namanya diumumkan sebagai penerima penghargaan yang kerap disebut sebagai “Nobelnya Indonesia” tersebut. “Saya sendiri tidak tahu prosesnya. Tiba-tiba dihubungi dan diberi kabar dapat Habibie Prize. Awalnya saya kira itu hoaks,” ujarnya sambil tersenyum.

Habibie Prize 2025 merupakan hasil kolaborasi antara Habibie Center dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan dukungan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).  Proses seleksi dan penilaian melibatkan berbagai institusi nasional maupun internasional, termasuk para peneliti dari luar negeri.

“Saya juga tidak tahu indikatornya apa, tapi mungkin karena riset saya berkesinambungan sejak S2 dulu sampai sekarang. Mungkin itu yang diakui,” ungkap sosok yang saat ini menjabat sebagai Direktur Kajian Strategis dan Reputasi Akadermik IPB University ini.

Prof Anuraga mengurai, penelitiannya selama ini berfokus pada ilmu dan teknologi pakan, khususnya rekayasa pakan ternak untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK). Topik ini telah ia tekuni sejak masa studinya di Jerman dan Swiss, dan terus ia kembangkan selama lebih dari 15 tahun terakhir.

“Kami merekayasa pakan agar ternak tetap produktif, tetapi menghasilkan emisi metan yang lebih rendah. Jadi kontribusinya bukan hanya untuk sektor peternakan, tapi juga untuk mitigasi perubahan iklim,” jelasnya.

Dalam penelitiannya, Prof Anuraga banyak memanfaatkan senyawa alami dari tanaman, seperti polifenol dan tanin—komponen yang juga terdapat pada teh dan dikenal memiliki manfaat bagi kesehatan.

“Komponen sepat pada teh itu tanin. Nah, senyawa aktif itu yang kami manfaatkan dalam pakan ternak untuk menekan emisi metan,” tambahnya.

Baginya, IPB University memberikan dukungan luar biasa melalui ekosistem riset yang kondusif. “IPB sangat suportif, terutama dari sisi lingkungan dan fasilitasi. Tim bekerja seperti man-to-man marking, mendampingi dosen dari pengusulan proposal sampai perolehan hibah,” ujarnya