
Fakultas Peternakan IPB University menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “Outlook Perunggasan Indonesia 2026” yang dirangkaikan dengan penyerahan beasiswa dari PT Charoen Pokphand Indonesia melalui Charoen Pokphand Foundation Indonesia (CPFI), pada Kamis (9/4) pukul 09.30–12.00 WIB di Auditorium J.H.H., Fakultas Peternakan IPB.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari industri perunggasan, yaitu Drh. Bambang Sutrasno, serta dihadiri oleh jajaran pimpinan fakultas, dosen, dan ratusan mahasiswa program sarjana (S1), magister (S2), dan doktor (S3).
Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Peternakan IPB University, Prof. Dr. Ir. Idat Galih Permana, M.Sc.Agr, menyampaikan bahwa sektor perunggasan memiliki peran strategis dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani nasional. Ia menekankan bahwa sekitar 60 persen kebutuhan protein masyarakat Indonesia disuplai dari produk unggas, seperti daging ayam broiler dan telur.
“Perunggasan merupakan tulang punggung pemenuhan protein masyarakat. Ketika sektor ini mengalami gangguan, maka konsumsi protein nasional juga berpotensi terdampak,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa meskipun Indonesia telah mencapai swasembada untuk daging ayam dan telur, tantangan ke depan masih cukup besar, mulai dari ketergantungan terhadap impor bahan baku hingga dinamika kebijakan dan pasar.
Lebih lanjut, Dekan Fapet IPB menyoroti peluang peningkatan permintaan produk unggas seiring dengan adanya program pemerintah, yang diperkirakan dapat menambah kebutuhan hingga sekitar 1,1 juta ton per tahun. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara akademisi, industri, dan pemerintah untuk merespons peluang sekaligus tantangan tersebut.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Charoen Pokphand Foundation Indonesia, Andi Magdalena, S.H., M.H., menyampaikan bahwa industri perunggasan saat ini dihadapkan pada berbagai isu strategis, termasuk regulasi dan program penguatan kemandirian sektor peternakan.
Ia menekankan pentingnya peran akademisi dalam memberikan kontribusi melalui riset dan kajian ilmiah. “Kami berharap mahasiswa, khususnya pada jenjang S2 dan S3, dapat turut melakukan penelitian strategis yang dapat menjadi masukan bagi pengembangan industri perunggasan,” ungkapnya.
Menurutnya, sektor perunggasan bukan hanya milik industri, melainkan menjadi tanggung jawab bersama karena berkaitan langsung dengan ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat.
Selanjutnya, Drh. Bambang Sutrasno, selaku Regional Head Sumatera dari PT Charoen Pokphand Indonesia menyampaikan kuliah umum yang dibuka dengan gambaran umum kondisi ekonomi global yang saat ini masih diwarnai berbagai dinamika. Ia menjelaskan bahwa stabilitas ekonomi global dipengaruhi oleh sejumlah faktor utama, seperti kondisi geopolitik antarnegara, fluktuasi harga komoditas, kebijakan moneter di berbagai negara, hingga dampak perubahan iklim yang semakin nyata. Faktor-faktor tersebut, menurutnya, turut memberikan implikasi terhadap sektor peternakan, termasuk industri perunggasan di Indonesia.
Selanjutnya, ia memaparkan highlight kinerja industri pembibitan unggas sepanjang tahun 2025 yang menunjukkan tren positif meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan. Kinerja tersebut menjadi indikator penting dalam melihat kesiapan industri menghadapi tahun berikutnya.
Memasuki pembahasan inti, Drh. Bambang menyampaikan proyeksi *Outlook Perunggasan 2026*. Ia mengungkapkan bahwa target pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan mencapai 5,4% dengan jumlah penduduk sekitar 287,2 juta jiwa. Kondisi ini membuka peluang besar bagi peningkatan konsumsi protein hewani. Konsumsi daging ayam diproyeksikan mencapai 14–15 kg per kapita per tahun, sementara konsumsi telur ayam diperkirakan berada pada kisaran 22–24 kg per kapita per tahun.
Lebih lanjut, ia menyoroti berbagai peluang yang dapat dimanfaatkan, seperti meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya protein hewani dan pertumbuhan populasi. Namun demikian, industri juga dihadapkan pada sejumlah tantangan, antara lain efisiensi produksi, stabilitas harga pakan, serta ketahanan terhadap perubahan iklim dan dinamika pasar global.
Kuliah umum ini dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dimoderatori oleh Prof. Irma Isnafia Arief. Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari mahasiswa terkait strategi industri menghadapi tantangan ke depan. Suasana semakin semarak dengan pembagian souvenir menarik dari pihak Charoen Pokphand yang menambah antusiasme peserta.
Kegiatan ini diharapkan dapat memperkaya wawasan mahasiswa mengenai kondisi aktual dan prospek industri perunggasan, sekaligus mempersiapkan generasi muda untuk berkontribusi dalam pengembangan sektor peternakan nasional.
Pada kesempatan yang sama, CPFI juga menyalurkan beasiswa kepada 28 mahasiswa IPB University, yang terdiri atas 22 mahasiswa Fakultas Peternakan dan 6 mahasiswa Fakultas Pertanian.
Syafri Afriansyah dari PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk, menyampaikan bahwa program beasiswa ini bertujuan untuk membantu meringankan beban biaya pendidikan mahasiswa sekaligus mendorong peningkatan prestasi akademik.“Kami berharap bantuan ini dapat membuat mahasiswa lebih fokus belajar dan terus meningkatkan kapasitas diri. Ke depan, kami juga membuka peluang kerja sama lebih lanjut, termasuk kemungkinan rekrutmen lulusan yang sesuai dengan kebutuhan industri,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa kebutuhan industri saat ini semakin kompleks dan menuntut sumber daya manusia dengan kualifikasi yang lebih tinggi. Oleh karena itu, mahasiswa didorong untuk terus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi serta mengembangkan kompetensi, termasuk dalam menghadapi perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI).
Dekan Fakultas Peternakan IPB University turut menyampaikan apresiasi kepada PT CPI dan CPFI atas kontribusinya dalam mendukung pendidikan tinggi. “Pemberian beasiswa ini merupakan komitmen nyata dalam pengembangan sumber daya manusia dan menjadi berkah bagi mahasiswa kami,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan terjalin sinergi yang semakin kuat antara perguruan tinggi dan industri dalam mendukung pengembangan sektor perunggasan nasional, sekaligus mencetak lulusan yang kompeten dan siap menghadapi tantangan masa depan. (Femmy).