Produk hasil ternak selama ini dikenal luas sebagai sumber protein hewani berkualitas tinggi. Namun, di balik fungsi pangannya, produk ternak ternyata juga menyimpan potensi besar sebagai sumber senyawa bioaktif untuk mendukung pengembangan terapi penyakit infeksi, termasuk malaria zoonotik.

Potensi tersebut dipaparkan oleh Dr Cahyo Budiman dari Divisi Teknologi Hasil Ternak, Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB University dalam forum ilmiah the 41st World Veterinary Association Congress yang berlangsung di Tokyo International Forum, Jepang. Dalam presentasinya, Dr. Cahyo memaparkan hasil penelitian terbaru mengenai peptida bioaktif yang dihasilkan dari hidrolisat kolagen ayam dan sapi. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa peptida kolagen memiliki kemampuan unik dalam menghambat protein penting yang mendukung kelangsungan hidup parasit malaria zoonotik Plasmodium knowlesi. Menariknya, aktivitas penghambatan tersebut ditemukan pada berbagai fraksi peptida dengan ukuran molekul kecil, mulai dari 3 kDa hingga kurang dari 1 kDa. Ukuran peptida yang relatif kecil dinilai berpotensi memberikan keuntungan dalam proses absorpsi dan interaksi biologis.

“Meskipun penelitian ini masih berada pada tahap in vitro dan data permulaan, hasil awal yang diperoleh cukup menjanjikan untuk terus dikembangkan sebagai kandidat peptida antimalaria zoonotik di masa depan,” ujar Dr. Cahyo.

Menurutnya, keikutsertaan dalam forum internasional tersebut menjadi momentum penting untuk menunjukkan bahwa produk ternak tidak hanya bernilai sebagai komoditas pangan primer, tetapi juga memiliki prospek besar dalam pengembangan produk kesehatan berbasis biomolekul.

Dr. Cahyo menambahkan bahwa kesempatan mengikuti forum internasional tersebut diperoleh melalui dukungan pendanaan dari Direktorat Konektivitas Global IPB University sebagai bagian dari upaya peningkatan jejaring akademik dan eksposur riset IPB di tingkat global. Oleh karena itu, dia berharap bahwa IPB University bisa terus mempertahankan program dukungan tersebuu sebagai pendedahan kepakaran peneliti dan juga upaya untuk membangun dan memperluas jejaring Kerjasama.

41st World Veterinary Association Congress sendiri merupakan salah satu ajang ilmiah paling prestisius di bidang veteriner dunia yang dihadiri lebih dari 4.000 peserta dari berbagai negara. Pada penyelenggaraan tahun 2026, forum ini mendapat kehormatan dengan kehadiran Naruhito bersama Permaisuri Masako Owada.

Selain menghadirkan presentasi ilmiah dan kuliah pakar dari berbagai institusi dunia, kongres ini juga menjadi wadah eksibisi teknologi dan industri veteriner internasional. Berbagai perusahaan dan institusi riset memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperkenalkan inovasi terbaru sekaligus membangun jejaring kerja sama penelitian dan industri.

Tidak hanya itu, sejumlah kegiatan excursion budaya dan wisata ilmiah di sekitar Tokyo turut menjadi daya tarik tersendiri bagi peserta internasional, memperkuat pengalaman pertukaran budaya dan kolaborasi global selama forum berlangsung.

Dalam kesempatan yang sama, Dr. Cahyo juga berhasil membangun jejaring kolaborasi penelitian dengan Prof. Jumpei Uchiyama dari Okayama University, Jepang, untuk pengembangan riset peptida bioaktif yang lebih mendalam di masa mendatang. Bagi Dr Cahyo, partisipasi dalam forum internasional ini bukan sekadar kesempatan mempresentasikan hasil penelitian, tetapi juga menjadi langkah strategis untuk memperluas jejaring kolaborasi global sekaligus memperkenalkan potensi biomolekul asal produk ternak Indonesia ke panggung dunia.