Kyoto, Jepang — Senin pagi, 28 April 2026. Angin bertiup pelan menyusuri jalanan kota tua itu, sementara sinar matahari pagi menembus sela-sela pepohonan rindang yang menaungi kawasan sekitar Kyoto University. Sakura memang telah lama gugur, tetapi jejak musim semi masih terasa kuat dalam warna hijau dedaunan yang mulai memenuhi kampus legendaris tersebut. 

Sesaat setelah keluar dari Stasiun JR Kyoto, Prof. Irma Isnafia Arief dan Dr. Cahyo Budiman menarik napas lega. Perjalanan pagi dari Osaka menuju Kyoto dengan gerbong kereta yang padat akhirnya terbayar oleh suasana kota yang tenang dan menenangkan. Bagi dua dosen dari Divisi Teknologi Hasil Ternak (THT), Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB University tersebut, cuaca Kyoto yang sejuk tentu terasa berbeda dibandingkan ritme panas dan hujan tropis Bogor yang akrab bagi keseharian mereka. 

Namun perjalanan kali ini bukan sekadar kunjungan akademik biasa. Ada misi ilmiah yang lebih besar dibawa keduanya: memperkuat jejaring kolaborasi internasional dalam pengembangan peptida bioaktif berbasis produk ternak Indonesia.

Selama beberapa tahun terakhir, kedua peneliti tersebut memang aktif mengembangkan riset biomolekul pangan, mulai dari peptida antihipertensi, antioksidan, antidiabetes, hingga antimikroba dari protein hewani lokal. Kini, langkah riset itu mulai bergerak menuju jejaring global yang lebih luas.

Tujuan utama pagi itu adalah Graduate School of Agriculture, Kyoto University. Di sana, mereka dijadwalkan bertemu dengan Prof. Masahiro Miyashita, seorang pakar kimia peptida yang dikenal luas dalam bidang sintesis dan karakterisasi peptida bioaktif.

Memasuki area kampus Kyoto University, suasana klasik khas Jepang langsung terasa. Bangunan-bangunan tua berpadu harmonis dengan fasilitas riset modern. Mahasiswa berjalan santai membawa buku dan laptop di bawah rindangnya pepohonan, memperlihatkan denyut kehidupan akademik salah satu universitas terbaik dunia.

Gedung Graduate School of Agriculture tampak sederhana dan bersahaja. Tidak ada gapura besar ataupun kesan megah yang berlebihan. Justru nuansa hangat dan terbuka begitu terasa, seolah menyambut siapa pun yang datang untuk mencari ilmu.

“N-306.”

Tulisan sederhana di depan pintu laboratorium itu menjadi penanda tujuan mereka pagi itu: laboratorium Prof. Miyashita.

Sebenarnya, ini bukan pertemuan pertama. Pada September 2025 lalu, Dr. Cahyo pernah mengunjungi laboratorium tersebut untuk membuka komunikasi awal kolaborasi. Pertemuan April 2026 ini menjadi langkah lanjutan yang lebih serius sebagai bagian dari komitmen kerja sama riset di bawah skema International Research Network (IRN) IPB University, yang diketuai Dr Cahyo. 

Pertemuan berlangsung hangat. Di ruang diskusi yang dipenuhi jurnal ilmiah, buku-buku, dan aroma teh hangat khas Jepang, pembicaraan mengalir dari obrolan ringan tentang perjalanan dan cuaca menuju diskusi ilmiah yang semakin mendalam.

Dr. Cahyo memaparkan perkembangan terbaru proyek kolaborasi mereka. Pendekatan rational design dan molecular docking telah berhasil digunakan untuk merancang kandidat peptida secara in silico, sebelum dilanjutkan ke tahap sintesis dan karakterisasi laboratorium.

Di sisi lain, Prof. Irma turut menjajaki peluang pengembangan lebih lanjut terhadap peptida dari produk fermentasi hasil riset-risetnya yang menunjukkan aktivitas fungsional menjanjikan.

Prof. Miyashita menyambut antusias perkembangan tersebut. Sebagai ahli dalam kimia peptida, ia menyampaikan komitmennya untuk mendukung berbagai analisis lanjutan dan kemungkinan kolaborasi yang lebih luas ke depan.

Diskusi juga berkembang ke berbagai arah: peluang pertukaran peneliti, pengembangan publikasi bersama, hingga rencana kunjungan Prof. Miyashita ke Indonesia. Bahkan, pembicaraan turut menyinggung pengembangan jurnal ilmiah Departemen IPTP, Jurnal Ilmu Produksi dan Teknologi Hasil Peternakan (JIPTHP), yang saat ini tengah dalam proses pengajuan indeksasi Scopus. Sebagai anggota editorial board jurnal tersebut, Prof. Miyashita memberikan berbagai masukan konstruktif sekaligus menyatakan komitmennya untuk terus mendukung pengembangan jurnal ilmiah dari IPB itu. 

Tanpa terasa, teh hangat di meja mulai mendingin. Uapnya menghilang perlahan, seolah tenggelam dalam ramainya topik pembicaraan mereka pagi itu. Hampir dua jam berlalu sebelum mereka sadar waktu tak lagi mengizinkan diskusi berlanjut lebih lama.

Sebelum berpisah, Prof. Miyashita mengajak kedua dosen IPB tersebut berkeliling laboratoriumnya. Ruangan laboratorium tampak padat, dipenuhi instrumen canggih dan aktivitas riset yang berjalan cepat. Beberapa perangkat penting untuk analisis peptida diperlihatkan secara singkat, mulai dari peptide synthesizer, LC-MS/MS, hingga berbagai instrumen high-end lainnya yang menjadi tulang punggung riset peptida modern. 

Bagi tim dari IPB, kunjungan tersebut membuka perspektif baru bahwa riset produk ternak tidak lagi hanya berhenti pada aspek nutrisi dasar. Lebih jauh dari itu, protein dan kolagen ternak Indonesia memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi biomolekul bernilai tinggi yang relevan bagi kesehatan global.

“Indonesia memiliki sumber daya ternak yang sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana kita mampu mengubah potensi tersebut menjadi produk berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi dengan nilai tambah global,” ungkap Prof Irma, yang juga merangkap Kepala Divisi THT.

Menjelang siang, ketika matahari Kyoto mulai terasa lebih hangat, kedua peneliti itu meninggalkan kampus dengan semangat baru. Di balik jalanan tenang dan angin lembut musim semi Kyoto pagi itu, tersimpan harapan besar bahwa suatu hari nanti, peptida bioaktif dari produk ternak Indonesia dapat memberi kontribusi nyata bagi dunia kesehatan melalui kolaborasi ilmu pengetahuan lintas negara.