Isu kemandirian pakan dan tingginya angka mortalitas ternak muda masih menjadi tantangan besar dalam dunia peternakan nasional. Menjawab tantangan tersebut, tim dosen dari Divisi Nutrisi Ternak Pedaging dan Kerja (NTDK), Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP), Fakultas Peternakan IPB University, berhasil menciptakan terobosan mutakhir. Melalui riset panjang sejak tahun 2014, mereka sukses mengembangkan tiga produk pakan inovatif berbasis Black Soldier Fly (BSF) atau maggot.

Ketiga produk inovasi unggulan tersebut adalah BSF-Milk Replacer (susu pengganti), BSF-Starter Complete Feed, dan BSF-Cat Food. Produk-produk ini resmi diperkenalkan dalam ajang Launching Inovasi Unggulan IPB Batch 8 yang diselenggarakan oleh LPPM IPB University di Kampus Dramaga, Bogor.

Mengapa Harus Larva BSF?
Larva BSF yang dipanen dari proses biofermentasi limbah organik dikenal sebagai sumber nutrisi masa depan (superfood) untuk industri pakan. Komoditas ini memiliki profil nutrisi yang sangat menguntungkan:

  • Protein Tinggi: Mencapai 42%
  • Lemak Tinggi: Mencapai 37%
  • Kandungan Asam Laurat Tinggi: Mencapai 40% dari total asam lemak, yang berfungsi alami sebagai agen antimikroba.

Potensi inilah yang diracik oleh tim peneliti Fapet IPB menjadi formula pakan fungsional yang tidak hanya menutrisi, tetapi juga menjaga kesehatan pencernaan ternak.

Bedah Inovasi: 3 Produk Pakan Fungsional Berbasis BSF

1. BSF-Milk Replacer: Solusi Anti-Diare Anak Ternak Pra-Sapih

Salah satu kendala utama peternakan ruminansia kecil (kambing dan domba) adalah angka kematian anak pra-sapih yang menyentuh angka 20%, mayoritas dipicu oleh diare akibat bakteri E. coli.

Digawangi oleh Prof. Dewi Apri Astuti dan Kokom komalasari, S.Pt, M.Si, bekerja sama dengan PT Biocycle Indonesia, formula susu pengganti ini dirancang menyerupai susu induk alami sesuai rekomendasi FAO.

  • Kandungan Nutrisi: Protein 27%, Lemak 20%, Kalium 1,50%, dan Fosfor 0,70%.
  • Keunggulan: Kandungan asam laurat yang tinggi dari minyak BSF terbukti efektif mematikan bakteri E. coli, menjadikannya ramuan alami anti-diare.
  • Status Hukum: Telah terdaftar paten (No. PID201806537) dan meraih penghargaan Karya Inovatif 113. Produk ini siap dikomersialkan secara luas.

Tips Aplikasi Lapang:

Larutkan Milk Replacer dengan air hangat (perbandingan 1:4) menggunakan botol steril. Berikan pada ternak usia 1 minggu sebanyak 6 kali sehari, lalu kurangi bertahap hingga usia 8 minggu (menjelang sapih) menjadi 2 kali sehari. Jumlah konsumsi ideal adalah sekitar 3% bahan kering dari bobot badan ternak.


2. BSF-Starter Complete Feed: Mengawal Program BALIBU

Pindah ke fase lepas sapih, anak domba/kambing sering mengalami stres lingkungan dan pakan yang memicu penurunan bobot badan, terutama saat musim hujan. Tim peneliti yang digawangi Prof. Dewi Apri Astuti, Dr. Didid Diapari, dan Dr. Dilla M. memformulasikan pakan pemula (starter) khusus.

  • Kandungan Nutrisi: Protein 17%, Lemak 7%, TDN (Total Digestible Nutrient) 75%, Kalsium 0,5%, Phospor 0,6%, serta kaya akan asam amino esensial glisin dan metionin.
  • Dampak di Lapangan: Data riset menunjukkan anak domba yang diberi pakan ini mengalami pertumbuhan pesat berkisar 112–120 gram/ekor/hari.
  • Target Strategis: Pertumbuhan ini sangat krusial untuk mendukung program pemerintah dalam penyediaan daging lokal lewat target bobot potong umur 5 bulan (Balibu/Kalibu) sebesar 21 kg. Produk ini kini sedang dalam tahap pengajuan paten.

3. BSF-Cat Food: Substitusi Pakan Hewan Kesayangan Impor

Tidak hanya untuk ternak produktif, Fapet IPB juga melirik potensi besar pasar hewan kesayangan (pet food). Hingga kini, pasar pakan kucing nasional masih didominasi produk impor. Untuk menekan ketergantungan tersebut, Prof. Dewi Apri Astuti dan Dr. Sri Suharti mengembangkan BSF-Cat Food lokal berkualifikasi premium.

  • Kandungan Nutrisi: Protein 25%, Lemak 11%, Serat 5%, serta diperkaya taurin untuk kehalusan bulu kucing dan vitamin-mineral untuk kekuatan tulang.
  • Sinergi Industri: Bekerja sama dengan PT Bahagia Satwa Indonesia (BSI), pakan kucing ini diproduksi secara komersial dengan jaringan pemasaran yang didukung oleh komunitas dokter hewan praktisi di wilayah Jabodetabek.
     

Hilirisasi Nyata: Sinergi Kampus dan Industri

Langkah yang diambil oleh Divisi NTDK Fapet IPB merupakan contoh ideal dari konsep triple helix, di mana hasil riset laboratorium tidak berhenti menjadi draf laporan saja, melainkan berhasil dihilirisasi ke sektor industri.

Melalui kolaborasi bersama mitra strategis seperti PT Biocycle Indonesia dan PT Bahagia Satwa Indonesia, Fapet IPB membuktikan bahwa inovasi berbasis bahan baku lokal mampu berbicara banyak di tingkat nasional. Langkah ini tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi limbah organik melalui BSF, tetapi juga memperkuat kedaulatan pakan dan ketahanan pangan di Indonesia.