Departemen IPTP

Producing Professionals
in Livestock Industry

Departemen INTP

Better Feed for Better
Animal Product

 

Pascasarjana

Kuliah Pascasarjana ?
Fapet IPB tempat yang tepat

Pendaftaran

Universitas Berkelas Dunia, Berkualitas, dan Terakreditasi Internasional

Fapet Insight

  • Bagi sebagian orang, melihat kelinci mungkin langsung terbayang seekor hewan berbulu yang menggemaskan. Tak heran jika ada rasa "nggak tega" saat harus membayangkannya sebagai hidangan di meja makan. Namun, tahukah kamu? Di balik sosoknya yang imut, kelinci adalah sumber protein luar biasa yang sering kali terlupakan, padahal keunggulan gizinya jauh melampaui daging ternak lainnya.

    Halal, Sehat, dan Berkelas Keraguan pertama yang sering muncul biasanya soal hukum mengonsumsinya. Tenang saja, dua pakar dari Fakultas Peternakan IPB University, Dr. Henny Nuraini dan Dr. Muhammad Baihaqi, S.Pt, M.Sc., menegaskan bahwa daging kelinci sepenuhnya halal. Hal ini pun diperkuat oleh Fatwa MUI sejak tahun 1983 yang menetapkan bahwa memakan daging kelinci hukumnya adalah halal dan aman secara syariat.

    Setelah urusan keyakinan mantap, mari bicara soal kualitas. Jika kamu mencari daging yang benar-benar sehat, kelinci adalah juaranya. Daging kelinci dikenal sangat lean—artinya sangat sedikit mengandung lemak. Menariknya lagi, kadar proteinnya justru lebih tinggi dibanding daging ternak lain, dengan kandungan Omega-3 yang empat kali lipat lebih banyak daripada daging ayam.

    Obat Alami dalam Setiap Gigitan Keistimewaan daging kelinci tidak berhenti di urusan nutrisi makro. Ada manfaat tersembunyi yang jarang diketahui: keberadaan senyawa kitotefin. Senyawa ini, yang banyak ditemukan pada bagian jantung dan hati kelinci, dipercaya memiliki khasiat medis untuk membantu mencegah penyakit asma. Jadi, menyantap daging kelinci bukan sekadar urusan kenyang, tapi juga investasi kesehatan jangka panjang.

    Si Multiguna yang Tak Menyisakan Limbah Di mata para ahli peternakan, kelinci adalah ternak masa depan yang sangat produktif. Ia dijuluki sebagai ternak multiguna. Selain dagingnya sebagai pangan berkualitas, kulit bulunya memiliki nilai estetika tinggi untuk industri fesyen seperti tas dan jaket. Bahkan, bagi pecinta tanaman, kotoran kelinci adalah bahan baku pupuk organik yang sangat kaya nutrisi bagi tanah.

    Bosan dengan Sate? Coba Ragam Olahan Modern Mungkin selama ini kita hanya mengenal sate kelinci saat berwisata ke daerah pegunungan. Padahal, tekstur dagingnya yang khas sangat fleksibel untuk diolah menjadi berbagai menu kekinian. Bayangkan Nasi Briyani kelinci yang kaya rempah, Kelinci Masak Madu yang manis gurih, Rica Kelinci bagi pecinta pedas, hingga Kelinci Goreng Korea yang sedang tren.

    Dengan segala kelebihan dan keistimewaannya, sudah saatnya kita melihat kelinci dengan cara yang berbeda. Bukan lagi sekadar hewan piara yang jauh dari dapur, melainkan pilihan protein premium yang sehat, halal, dan lezat. Jadi, sudah siap mencoba sensasi daging kelinci hari ini?

  • Selama ini, pecinta kuliner sering kali dihadapkan pada satu dilema: memilih ayam ras yang cepat tumbuh tapi terasa "biasa saja", atau ayam lokal yang rasanya juara tapi harganya mahal karena pertumbuhannya yang sangat lambat. Namun, dilema itu kini punya solusi cerdas dari Fakultas Peternakan IPB University. Perkenalkan, IPB-D1, sebuah mahakarya genetika yang sedang mengubah peta industri ayam lokal di Indonesia.

    Bukan Sekadar Ayam Kampung Biasa
    Lahir dari riset panjang sejak tahun 2010 yang dilakukan oleh tim inovator Fakultas Peternakan IPB University yang dipimpin oleh Prof. Cece Sumantri, bersama tim ahli pemuliaan ternak, IPB-D1 adalah ayam komposit hasil persilangan empat darah unggul. Bayangkan kegagahan ayam Pelung, keuletan ayam Sentul, keaslian ayam Kampung, hingga produktivitas dari Parent Stock Cobb. Keempatnya diramu melalui seleksi genetika molekuler hingga generasi kelima. Hasilnya? Sebuah rumpun baru yang secara resmi telah diakui oleh Kementerian Pertanian sejak 2019 sebagai ayam lokal pedaging unggul.

    Si Bongsor yang Gesit dan Tangguh
    Keunggulan utama IPB-D1 adalah kecepatannya. Jika ayam lokal biasa butuh waktu lama untuk besar, IPB-D1 hanya butuh waktu 10 hingga 12 minggu untuk mencapai bobot 1 hingga 1,8 kilogram. Tidak hanya cepat tumbuh, ayam ini juga dikenal "tahan banting". Ia memiliki kekebalan alami yang lebih kuat terhadap penyakit langganan peternak seperti Newcastle Disease (ND) dan Salmonella. Bagi peternak, ini berarti efisiensi pakan yang lebih baik dan risiko kerugian yang jauh lebih rendah.

    Pangan Fungsional : Senjata Melawan Stunting
    Keistimewaan IPB-D1 tidak berhenti di kandang. Ketika sampai di meja makan, ia menjelma menjadi pangan fungsional yang menyehatkan. Hasil penelitian menunjukkan dagingnya kaya akan protein (19,1%) dan Omega-3, namun memiliki kadar kolesterol yang relatif rendah.

    Uniknya lagi, daging IPB-D1 menyimpan kandungan mineral penting seperti zat besi (Fe) dan Seng (Zn) yang lebih tinggi. Hal ini menjadikannya senjata baru yang sangat potensial untuk mendukung program kesehatan nasional, khususnya dalam mencegah anemia dan menekan angka stunting melalui asupan protein berkualitas.

    Misi Besar di Balik Piring Makan Di balik pengembangan IPB-D1, ada misi besar untuk memutus ketergantungan Indonesia terhadap impor bibit ayam ras. Dengan dukungan program RISPRO LPDP, IPB University kini fokus pada komersialisasi skala luas. Mulai dari pengembangan pakan berbahan lokal, penggunaan pengawet alami, hingga memastikan keamanan produk melalui sertifikasi halal dan standar mutu nasional.

    IPB-D1 bukan hanya tentang riset di laboratorium, tapi tentang bagaimana sains hadir di wilayah pedesaan untuk menggerakkan ekonomi masyarakat dan memastikan setiap keluarga di Indonesia bisa menikmati daging ayam lokal yang sehat, bergizi, dan tentu saja, membanggakan produk asli dalam negeri.

Events

 

Lensa Inspirasi

Dalam dunia industri manufaktur pangan, konsistensi dan keamanan adalah segalanya. Bagi seorang pakar teknologi susu, perjalanan karier bukan sekadar tentang angka produksi, melainkan tentang...

Kapsul Inovasi

Innovator : Dr Iyep Komala, S.Pt, M.Si Dr Mohammad Fayruz, CEO PT Lana Ratifa D-Ruminansia adalah inovasi teknologi berbasis Internet of Things (IoT) yang dirancang khusus untuk memantau mikroklimat...