Guru Besar IPB, Prof. Muladno : Saat ini Ada 30 SPR di Indonesia
Sekolah Peternak Rakyat (SPR) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB) menggelar launching Sekretariat SPR LPPM IPB yang bertempat di Fakultas Peternakan Wing XII, Kampus IPB Dramaga, Bogor. (2/10). Sekretariat ini menjadi tempat yang memudahkan para stakeholder terkait di bidang peternakan untuk datang berkomunikasi atau interaksi membicarakan soal ternak.
Ketua SPR LPPM IPB, Prof. Dr. Muladno dalam laporannya menyampaikan bahwa SPR didirikan pada tahun 2013 oleh LPPM IPB. Akan tetapi gagasan SPR terbentuk pada tanggal 19 September 2012 dan diterima dunia internasional tanggal 19 September 2018.
Tujuan dibentuknya SPR adalah untuk memberi ilmu pengetahuan kepada peternak berskala kecil tentang berbagai aspek teknis peternakan dan nonteknis. SPR adalah perusahaan peternakan yang dikelola secara kolektif dalam satu manajemen (satu manajer) dalam rangka meningkatkan daya saing usahanya melalui pendampingan, pengawalan, aplikasi teknologi dan informasi, serta transfer ilmu pengetahuan untuk meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan peternak.
“SPR mengalami perkembangan yang luar biasa di berbagai daerah. Ini merupakan hal yang menggembirakan karena peternak merasa mendapatkan perhatian besar dalam pembangunan peternakan secara nasional. Hingga saat ini SPR yang diinisiasi secara institusional oleh LPPM IPB bertambah satu lagi di Kecamatan Pelepat Ilir Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi yang bernama SPR Kuamang Abadi. Maka sekarang SPR LPPM IPB berjumlah 30 di seluruh Indonesia,” tuturnya.Ia menambahkan SPR semakin menunjukkan eksistensinya di wilayah yang sudah menerapkan program ini. SPR sangat membantu petani kecil untuk mengembangkan ternaknya menjadi lebih menguntungkan.
Prof. Muladno berharap agar semua perguruan tinggi di Indonesia yang mempunyai program studi peternakan bisa mengembangkan SPR, sehingga peternak seluruh Indonesia dapat di dampingi dosen dan mahasiswa dari perguruan tinggi terdekat tidak harus dengan IPB. Dengan demikian, perguruan tinggi setempat dapat terlibat langsung sekaligus sebagai ikon pembangunan peternakan dalam program SPR.
“Lunching sekretariat ini menjadi media atau tempat untuk dapat berkomunikasi atau interaksi langsung dengan para peternak. Contohnya yang mempunyai masalah ternak dapat berkonsultasi dan menemukan jawaban langsung dari ahlinya,” tambahnya.
Kepala LPPM IPB, Dr. Aji Hermawan mengatakan sangat bangga sekali dengan keberadaan SPR. Keberadaan perguruan tinggi akan menjadi bermakna kalau dapat memberikan kontribusi sebesar-besarnya kepada masyarakat. Ini adalah tugas yang diemban oleh LPPM IPB untuk mendiseminasikan inovasi dan hasil-hasil riset para peneliti dan dosen IPB untuk sampai ke masyarakat dan memberikan manfaat atau impact sebesar-besarnya kepada masyarakat.
“Kalau diamati salah satu program yang memberikan dampak besar kepada masyarakat adalah SPR LPPM IPB. Program SPR merupakan sebuah pola bagaimana berusaha membumikan teknologi yang ada di perguruan tinggi untuk kepentingan masyarakat, sehingga dapat membangun kemandirian peternakan di daerah. Jadi SPR dapat memberikan akses yang besar bagi peternak di Indonesia seperti akses informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta penguatan kendali produksi dan pasca produksi ternak,” katanya.
Ia menambahkan, melalui program tersebut diharapkan pengembangan SPR di Indonesia akan menjadi lebih cepat dengan konsep kerjasama berbagi peran dan tanggungjawab antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, swasta dan para peternak yang ada di daerah. SPR ke depan tidak hanya akan memberikan dampak pada level nasional tetapi akan merambah ke level internasional.
Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Peternakan (Fapet) IPB, Prof. Dr. Ir. Sumiati, M.Sc sangat mendukung penuh SPR LPPM IPB ini, karena SPR sangat membantu peternak kecil yang ada di daerah-daerah untuk maju dan memberikan kesejahteraan. Prof. Sumiati berharap SPR LPPM IPB terus maju dan berkembang lebih baik dan terus berbagi kebaikan untuk peternak yang ada di Indonesia. (ipb.ac.id)
Dalam rangka Memastikan kesesuaian Sistem Manajemen Mutu Organisasi serta Memastikan Sistem Manajemen Mutu Organisasi sesuai dengan persyaratan ISO 9001:2015, Fakultas Peternakan IPB kembali mendapatkan audit eksternal dari SUCOFINDO (Visitasi Renewal Audit ISO 9001: 2015) terhadap pelaksanaan pelayanan akademik di Fakultas Peternakan IPB (27-28 September 2018). Bertindak selaku auditor adalah Bapak Holys dan Bapak Arbi Azka Wildan, yang didampingi oleh tim dari Fakultas Peternakan IPB. Dimulai pada tahun 2017, Fakultas Peternakan mengembangkan cakupan penerapan ISO dalam pelayanan akademik sampai ke tingkat departemen. Dua Departemen tersebut adalah Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan dan Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan.