Ketahanan pakan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan usaha peternakan. Seiring meningkatnya kebutuhan pakan nasional, pemanfaatan sumber daya lokal menjadi salah satu upaya yang dapat dikembangkan untuk menyediakan bahan pakan yang beragam, bernutrisi, dan berkelanjutan.
Hal tersebut menjadi salah satu bahasan dalam seminar “Implementasi Pengembangan Formulasi Pakan dengan Pemanfaatan Bahan Pakan Lokal” yang diselenggarakan oleh Direktorat Pakan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia, dalam rangkaian ILDEX 2026 di ICE BSD, Tangerang, Banten, Kamis (17/9/2026).
Dua pakar pakan dari Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University yang juga merupakan Tim Ahli Pakan Kementerian Pertanian, Prof. Nahrowi dan Prof. Luki Abdullah, menyampaikan potensi berbagai sumber bahan pakan lokal untuk mendukung kebutuhan pakan nasional.
Kebutuhan Pakan Nasional Terus Meningkat
Prof. Nahrowi, Guru Besar Fapet IPB University, menyampaikan bahwa kebutuhan pakan nasional terus mengalami peningkatan. Kebutuhan pakan yang mencapai sekitar 18,41 juta ton pada 2024 diperkirakan meningkat menjadi 20,35 juta ton pada 2026 dan diproyeksikan mencapai 31,6 juta ton pada 2035.
Menurut Prof. Nahrowi, Indonesia memiliki sumber daya biomassa lokal yang melimpah. Tantangannya adalah bagaimana mengolah biomassa tersebut menjadi sumber nutrien yang tersedia, konsisten, dan sesuai dengan kebutuhan industri pakan.
“Indonesia sebenarnya memiliki sumber daya biomassa lokal yang melimpah, tetapi tantangan utamanya adalah mengolah biomassa tersebut menjadi nutrien yang tersedia, konsisten, dan sesuai dengan kebutuhan industri pakan,” kata Prof. Nahrowi.
Ia menjelaskan, pengembangan bahan baku lokal dapat dilakukan melalui berbagai sumber yang saling melengkapi. Koro, misalnya, dapat dikembangkan sebagai sumber protein nabati. Sementara itu, palm kernel meal (PKM) dapat ditingkatkan nilai nutrisinya melalui pengolahan.
Sumber lainnya adalah maggot atau black soldier fly (BSF) yang dapat dimanfaatkan untuk mengolah bahan organik sekaligus menghasilkan sumber protein alternatif untuk pakan.
Indigofera, Lebih dari Sekadar Hijauan
Potensi sumber protein lokal juga disampaikan Prof. Luki Abdullah, Guru Besar Fapet IPB University sekaligus Tim Ahli Pakan Kementerian Pertanian.
Prof. Luki menyoroti Indigofera yang dinilai memiliki potensi lebih luas daripada sekadar hijauan pakan. Tanaman tersebut dapat dikembangkan menjadi bahan baku pakan dengan nilai nutrisi tinggi dan menjadi salah satu sumber protein lokal.
“Indigofera tidak lagi dipandang sekadar sebagai hijauan pakan, tetapi sebagai sumber protein lokal yang dapat diolah menjadi bahan pakan bernilai tinggi,” ujar Prof. Luki.
Menurutnya, konsep more than forage mendorong Indigofera untuk dikembangkan secara lebih luas, mulai dari budidaya, pengolahan, hingga hilirisasi sebagai bagian dari industri pakan lokal.
Pengembangan bahan pakan lokal tersebut tidak terlepas dari pentingnya teknologi pengolahan. Pengolahan yang tepat dapat mempertahankan kualitas hijauan, meningkatkan bahan kering, memperpanjang masa simpan, serta memudahkan penanganan bahan pakan.
Selain itu, teknologi pengolahan memungkinkan dilakukan pengayaan nutrisi sesuai dengan kebutuhan ternak. Dengan demikian, bahan pakan lokal tidak hanya tersedia sebagai sumber biomassa, tetapi dapat dikembangkan menjadi bahan baku yang memiliki nilai nutrisi dan nilai ekonomi lebih tinggi.
Pemanfaatan koro, PKM, maggot atau BSF, serta Indigofera menunjukkan bahwa sumber nutrisi untuk pakan dapat dikembangkan dari berbagai potensi lokal. Diversifikasi tersebut menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat ketersediaan bahan pakan sekaligus mendukung pembangunan industri pakan yang lebih berkelanjutan.